Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Epilog ~
.
.
.
"Sakura!"
Sekali lagi aku mendengar suara teriakan Sasuke. Sampai kapan dia akan meneriakkan namaku?
Membuka mataku perlahan, memejamkan sejenaknya dan kembali membukanya. Rasanya bahu kiri dan pinggang kiriku sangat sakit. Aku akhirnya melihat wajah Sasuke lagi. Dia tampak baik-baik saja.
Apa aku selamat? Saat itu, aku berada di area paling berbahaya. Aku melihat semua anak-anak itu mengarahkan handgun mereka ke arahku.
Setengah tubuhku di perban, sebuah infus pada pergelanganku. Aku sedang berada di kamar inap rumah sakit.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku dengan suaraku yang begitu serak.
"Kau hanya mendapat dua tembakan, selebihanya-" Sasuke menggantungkan ucapannya.
"Apa? Katakan saja." Ucapku, penasaran. Aku ingin tahu apa yang terjadi saat kesadaranku menghilang.
"Pemuda yang bersamamu menahan semua tembakan itu dengan tubuhnya. Tidak ada cara lain, para kesatuan khusus itu menembaki anak-anak kecil itu. untung saja kau tidak melihatnya, pemandangannya sangat buruk. Anak-anak kecil itu semuanya mati." Jelas Sasuke.
Seven? Dia melidungiku? Jadi rasa berat itu dan darah yang aku rasakan itu, bukan dariku sepenuhnya. Seven melindungiku dengan tubuhnya. Aku tidak percaya ini.
"Lalu dimana mayatnya?" Tanyaku.
"Dia sudah di makamkan dengan layak, bersama dengan anak-anak kecil itu dan juga profesor yang di nyatakan tewas. Bahkan setelah mereka mengopsi mayatnya. Semua sudah berakhir Sakura." Ucap Sasuke.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku cukup sedih mengetahui hal ini, Seven pergi begitu saja. Aku belum sempat meminta maaf padanya.
Sasuke mengatakan jika aku tidak sadarkan diri selama tiga hari setelah penyerangan itu.
"Jika tidak keberatan, apa aku bisa memeriksa dokter Sakura?" Ucap sebuah suara dari arah pintu. Menoleh, itu adalah dokter Sai.
"Silahkan. Aku akan keluar." Ucap Sasuke. Tidak biasanya dia akan bersikap lebih dewasa seperti ini.
Sasuke keluar dari kamarku, dia menatap sejenak dokter Sai, aku harap dia tidak memukul dokter Sai. Sasuke akhirnya keluar dan menutup pintu.
"Akhirnya kau sadar dokter Sakura." Ucap dokter Sai, dia berjalan dengan cepat ke arahku. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
"Bahu dan pinggangku sangat sakit." Ucapku.
"Pemuda itu membawamu ke rumah sakit, kami segera mengoperasimu untuk mengeluarkan peluru-peluru di tubuhmu. Aku sempat terkejut, ada lagi seorang pemuda yang sangat mirip dengannya, namun nyawanya tidak tertolong lagi. Mungkin sekitar 30 butir peluru bersarang di tubuhnya, saat di bawa pun dia sudah tidak bernyawa." Ucap dokter Sai padaku.
Aku menceritakan siapa pemuda yang mirip Sasuke itu, aku juga menceritakan sedikit tentang penelitian profesor Orochimaro, mengkloning anak-anak dan menjadikan mereka senjata, namun keadaan itu sudah berakhir. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.
Dalam masa pemulihanku, aku menerima banyak kunjungan, kabar terbaru yang aku dengar, dokter Tsunade tidak lagi menjadi kepala direktur rumah sakit, dia di tangkap akibat bersekongkol dengan profesor Orochimaru dan sempat menyembunyikannya untuk menghilangkan jejak. Dalam kesaksian dokter Tsunade, dia bekerja sama dengan profesor akibat bujukannya, dia akan mendapatkan seseorang yang sangat di cintainya walaupun hanya sebuah kloning. Mendengarnya membuatku tidak habis pikir akan tindakan dokter Tsunade. Aku yang bekerja pada profesor memilih berhenti setelah mengetahui yang sebenarnya.
Detektif Kakashi datang bersama istrinya yang cantik dan juga detektif Yamato, mereka bahkan membawa kepala kesatuan khusus, Sarutobi. Pria itu memberiku sebuah ucapan kebanggan walaupun aku melakukan hal yang gegabah. Aku mengakuai kesalahanku itu, aku juga kehilangan Seven akibat mengikuti rencananya.
Selain itu, aku bertemu dengan Suigetsu yang cerewet seperti biasanya, dia membawa teman-temannya, bukan, melainkan anak-anak yang kabur bersama mereka. Dari pada itu, aku kembali melihat One. Aku pikir mereka adalah musuh.
"One yang membebaskan kami, dia sengaja kembali pada profesor." Jelas Sasuke padaku.
Jadi dia sedikit berakting saat di lab yang tidak terlihat itu. Selain One, Fifty juga ikut mengambil peran kebohongan, dia harus kembali ke Lab itu hanya untuk menunjukkan lab itu pada Sasuke dan lainnya. Selama ini mereka berusaha bekerja sama walaupun harus mengkhianati teman mereka sendiri.
"Maaf sudah memukulmu, dokter." Ucap One atau Kimimaro padaku.
"Aku sudah melupakannya." Ucapku.
Mereka semua masih mengenaliku sebagai dokter pendamping Sasuke. Mereka juga menceritakan bagaimana kabur dari lab pertama, semuanya di ceritakan begitu saja, menurut mereka tidak perlu ada yang tutupi lagi, tidak akan yang ada mencari mereka hanya karena membeberkan segalanya. Mereka pun menjadi saksi untuk semua hal yang sudah terjadi, kabar terburuknya.
"Kami mendapat hukuman membantu kesatuan khusus polisi." Ucap Jugo, pemuda yang terlihat lebih besar dari mereka.
Akibat kesaksian dan semua hal sudah terbongkar, mereka seharusnya di hukum akibat kasus pembunuhan para dokter dan staf yang berada di lab, pak Sarutobi punya pemikiran lain, beliau memanfaatkan kekuatan mereka untuk bergabung pada kesatuan khusus, hanya ada dua pilihan, mereka menjalani hukuman seumur hidup di penjara atau membantu kesatuan khusus, mereka pun masih mendapat pengawasan ketat jika saja mereka membuat masalah.
"Jadi apa kalian menerima hukuman itu?" Tanyaku.
"Ya, mau bagaimana lagi? Kami juga sudah bosan bersembunyi, mereka menjamin kehidupan kami. Lagi pula semuanya sudah di bunuh, ah tidak, masih tinggal satu dokter lagi." Ucap Suigetsu dan menatapku.
"Sasuke akan membunuhmu lebih dulu." Ucap gadis berkode 50. Ino.
Sasuke juga sempat menatap tajam pada Suigetsu.
"Aku tidak berniat membunuh pacar sahabatku. Aku akan pulang lebih awal. Cepat sembuh dokter." Ucap Suigetsu dan keluar dari kamarku.
Mereka pun pamit satu persatu padaku.
"Aku akan minta maaf lagi sudah berbohong padamu, dokter. Aku tidak mungkin pacaran dengan Seven, dia bukan tipeku." Ucap gadis yang bernama Tayuya dengan kode 003.
Dia mengingatkanku lagi dengan kejadian itu, aku sampai terpuruk untuk masalah perasaan. Aku sangat konyol saat itu.
"Aku harap kita bertemu lagi, dokter." Ucapnya dan beranjak pergi.
Sekarang hanya tinggal Aku dan Sasuke.
"Mereka anak-anak yang ramah dan baik." Ucapku.
"Uhm, mereka hanya di kendalikan dan sekarang memiliki tujuan masing-masing, mereka punya orang tua asuh mereka." Jelas Sasuke padaku.
"Kau akan menjadi kesatuan khusus, itu berita yang baik. Aku senang kehidupan kalian akan semakin baik."
"Itu merepotkan, kami harus latihan bersama mereka selama satu tahun."
"Apa? Kalian akan menetap di markas selama setahun?"
"Ya, tapi markas yang berada di kota lain."
Membelai lembut pipi pemuda ini.
"Tidak masalah, lakukan hukumanmu dengan baik."
"Aku akan sering mengirim pesan padamu."
"Kapan kau akan pergi?"
"Besok. Aku sengaja membawa mereka untuk berbicara denganmu, aku ingin semuanya jelas, kau juga perlu tahu segalanya."
Terlalu cepat, Sasuke akan segera meninggalkanku lagi. Hari ini dia sengaja membawa mereka untuk berbicara denganku, mereka pun memiliki karakter berbeda-beda saat berbicara, aku tidak perlu lagi menyebutkan kode mereka, mereka memiliki nama mereka sendiri. Mereka juga sudah mengaku tentang hilangnya satu persatu dokter dan staf yang pernah mengawasi mereka, seperti ucapan Suigetsu, termasuk aku, aku juga seharusnya menjadi target mereka, namun itu tidak terjadi, bagi Sasuke, targetnya adalah dokter yang menggantikanku saat itu, aku hanya mendapat keberuntungan untuk hidup.
Memeluk Sasuke.
"Pergilah. Aku akan menunggumu dengan sabar, kau sudah semakin dewasa, Sasuke." Ucapku.
"Kau pikir aku anak kecil? Aku sudah menjadi seorang pria." Ucapnya. Dia membalas pelukanku.
Setahun lagi.
Setahun lagi kami akan bertemu, aku akan menunggu dan akan menantikan hari-hari bahagia bersama kami.
.
.
.
.
.
Hari-hari berlalu, aku sembuh dengan berbagai bekas di tubuh, hasil tembakan itu membuat bekas yang cukup mencolok. Aku kembali bekerja di rumah sakit dengan direktur baru, aku kembali bertemu dokter Sai, kami akrab sebagai teman, dia mulai mengubah sikapnya, bukan untukku lagi, tapi untuk wanita yang mulai bersamanya, nasehatku ternyata berhasil, dia akan berusaha menjadi pria yang baik.
Masih beberapa bulan lagi hingga Sasuke kembali dari masa pelatihannya. Satu tahun itu bukan waktu yang sedikit, awalnya aku merasa baik-baik saja, lama kelamaan aku mulai merasa kesepian. Kami sempat tidak bersama dalam waktu yang cukup lama, sekarang ini lebih lama lagi.
Aku membeli apartemen baru, apartemen yang lebih luas jika saja Sasuke kembali. Aku ingin memulai hidup baru dan lebih baik bersamanya.
Sekarang semua sudah menjadi lebih tenang. Tidak ada yang perlu di aku takutkan lagi.
Membeli seikat bunga, Sasuke memberitahukan tempat dimana Seven di makamkan, aku tidak sendirian, detektif Yamato datang bersamaku, dia juga ingin berbicara denganku, memberitahukan kabar terbaru mereka yang di latih.
"Mereka benar-benar cocok untuk pasukan kesatuan khusus, nilai rata-rata mereka setiap tes melebih pasukan baru yang sedang di latih bersama mereka." Jelas detektif Yamato padaku.
Menaruh seikat bunga itu di sebuah makam bertuliskan Seven dan berdoa untuknya. Aku hanya belum sempat menemui Seven.
"Sejak kecil mereka mendapat latihan yang berat, hingga dewasa, kemampuan mereka semakin terasah. Aku rasa keputusan pak Sarutobi sangat tepat, lebih baik membuat mereka membantu kalian dari pada menjadi musuh, mereka akan sulit di tangani." Ucapku.
"Kelebihan mereka seperti anak dengan kemampuan khusus yang tidak wajar."
"Profesor Orochimaru berkali-kali melakukan percobaan pada mereka, kekuatan yang tidak wajar, kecepatan yang tidak wajar, dan juga kepintaran yang tidak wajar, semuanya terus di asah, namun hasilnya, tidak semua anak mendapatkan semua kekuatan itu, masing mereka memiliki keahlian yang berbeda-beda. Jika mereka bersama, mereka lengkap menjadi senjata yang sangat kuat. Sebenarnya tujuan profesor sudah berhasil, pasukan yang diinginkan adalah hasil seleksi dari anak-anak yang bertahan, tapi mereka kabur dari lab, pola pikir mereka berkembang, profesor tidak berhasil mengendalikan mereka."
"Profesor hanya ingin sebuah pengakuan dari pemerintah, dia ingin mendapat tempatnya sendiri, semakin ke sini tujuannya berubah dan menginginkan segalanya, sekarang perjalanan panjang profesor Orochimaru harus berakhir akibat ulahnya sendiri."
Aku sempat menatap makam yang tidak jauh dari Seven, itu adalah makan profesor Orochimaru. Disini terbaring anak-anak yang mati saat penyerangan itu, mereka tidak menulis nama, mereka menuliskan kode yang terdapat di tubuh anak-anak itu. Aku juga menaruh satu persatu bunga di setiap makam mereka, setidaknya mereka sudah tenang, tidak perlu tersiksa mendapat segala percobaan dan mendengar segala perintah profesor.
Kunjunganku sudah selesai, detektif Yamato begitu baik mengantarku ke tempat ini dan berbicara padaku. Aku senang mendengar mereka baik-baik saja dan mau mendengarkan perintah pak Sarutobi yang melatih mereka secara langsung, pak tua yang masih begitu bersemangat di usianya yang semakin tua.
.
.
.
.
.
[Setahun berlalu.]
Aku tidak percaya menunggu setahun itu sangat membosankan, Aku sudah katakan pada Sasuke jika aku akan sabar, namun itu hanya ucapan saja, aku tidak bisa menunggunya selama itu! Tapi aku terus mendapat pesan dari Sasuke, dia tidak menghubungimu, dia hanya bisa mengirim pesan setiap hari.
Bukannya mengatakan kabarnya, dia menanyai kabarku setiap hari. Dia ingin tahu jika aku baik-baik saja. Aku sangat ingin tahu keadaannya, tapi dia tidak akan membalasnya, dia mengirim pesan sekali saja. Apa di sana susah signal atau mereka mendapat batasan untuk sebuah pengiriman pesan.
Hari ini, seharusnya Sasuke sudah kembali. Ini sudah setahun masa pelatihan mereka, katanya mereka akan mendapat posisi masing-masing, setelahnya mereka akan di pulangkan, jika mereka di butuhkan, mereka harus kembali ke markas.
Aku ingin mempersiapkan segalanya, Aku juga sudah mengatakan pada Yamato jika Sasuke kembali, katakan alamat baruku. Aku tidak menempati apartemen lama. Aku sudah menjualnya.
Hingga malam tiba.
Aku juga sudah selesai bekerja, Sasuke tidak kunjung pulang. Apa mereka belum selesai? Mungkin saja kepulangan mereka di undur. Sebaiknya istirahat. Akan sia-sia jika menunggunya.
.
.
.
Pagi harinya.
Seseorang memelukku. Segera membuka mataku, apa ada orang aneh tiba-tiba masuk ke kamarku?
Tatapanku membulat. Aku bahkan menjauh darinya. Kembali memeluk pemuda itu.
"Kau mengagetkanku!" Panikku.
"Biarkan aku tidur. Aku pulang jam 3 pagi." Ucapnya.
Segara bangun dan membangunkannya juga.
"Kenapa tidak katakan padaku? Tunggu, bagaimana kau bisa masuk!"
"Aku kesatuan khusus, aku bahkan bisa membuka brangkas denga satu petikan jari." Ucapnya seakan tengah menyombongkan diri.
Lihatlah, setelah setahun tidak bertemu dengannya, dia benar-benar terlihat seperti pria dewasa.
"Dimana pelukan selamat datangnya?" Ucapnya, sasuke masih berbaring, sementara aku, aku hanya duduk di atas ranjang dan menatap perubahan darinya.
"Katakan sesuatu, aku belum memaafkanmu, kau masuk begitu saja ke rumahku. Kau tidak merusak pintuku 'kan?" Tanyaku, memastikan.
"Tidak. Kunci rumahmu aman, passwordnya cukup mudah." Ucapnya.
Aku menaruh kode 007 pada password apartemenku. Aku ingin selalu mengingatnya, mengingat anak kecil yang ku temui pertama kali di lab pulau Kiri, kami bertemu kembali ketika dia mulai beranjak remaja. Aku pikir dia datang untuk membunuhku. Pemuda yang perlahan-lahan menaruh perasaan terhadapku. Mengingat setiap hal yang terjadi pada kami, dari hal terburuk hingga hal terindah yang pernah dia hadirkan untukku. Hingga menunggunya kembali, menjadi pria yang lebih dewasa setelah pelatihan itu.
"Baiklah. Aku pulang." Ucapnya. Masih meminta pelukan dariku.
Berbaring dan memeluknya. Aku sangat-sangat merindukannya. Aku merasakan pelukan mengerat darinya, menerima kecupan hangat darinya.
"Apa mulai sekarang kita bisa hidup tenang?" Tanyaku.
"Hn. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu. Sekarang jadilah dokter terhebat sesuai jalanmu sendiri." Ucapnya. Dia selalu mengatakan hal itu padaku.
"Ya. Aku percaya padamu, aku percayakan keselamatanku padamu. Aku juga akan mengikuti arah tujuanku sendiri."
"Apa dokter pria itu masih mengganggumu?" Sasuke menyinggung dokter Sai.
"Tidak. Dia sudah punya pasangan. Kami ini teman baik."
"Aku selalu khawatir, apalagi kalian bekerja di tempat yang sama, kenapa tidak bekerja di rumah sakit lain?"
"Aku merasa lebih nyaman di sana."
"Kau dokter hebat. Kau bisa di tempatkan dimana saja."
"Kau baru saja mengatakan aku harus mengikuti jalanku sendiri. Aku sudah melakukannya."
"Aku hanya tidak tenang saja."
"Selama setahun ini aku hanya memikirkanmu. Aku tidak bisa memikirkan pria lain. Kau tidak percaya? Aku sangat mencintaimu." Ucapkku. Aku sedikit malu mengakuinya. Tapi itu benar, aku sangat mencintainya. Selama tidak bertemu dengannya rasa cintaku semakin membesar padanya.
"Hey dokter. Bagaimana jika kita menikah?"
"Itu ide yang bagus." Ucapku, tersenyum lebar mendengar ucapannya itu.
"Tapi setelah aku tidur." Ucapnya dan tertidur sambil memelukku.
Selamat datang kembali Sasuke.
.
.
TAMAT
.
.
Akhirnya penantian yang panjang, fic ini kelar. tidak bisa berucap apa-apa lagi. mungkin mau terima kasih saja jika masih sempat baca ini.
tamatnya sampai di sini saja. emang ceritanya kebanyakan berputar-putar, belok, bengkok dan sebagainya, author sampai lupa ini alurnya kayak gimana pas mau lanjutin *malu*
author sudah berniat menyelesaikan fic yang TBC perlahan-lahan dan akan memulai cerita baru. cerita action bagi author cukup sulit, apalagi menggambarkan adegan perkelahian dan sebagainya, semoga terbayangkan dia kepala kalian.
typo masih menjadi musuh seperti biasa, author juga udah edit setiap kali mengulang baca setiap chapter.
ini Happy ending yaa. jangan minta sequel, nanti author tabok kalian, hehehe.
sekali lagi, terima kasih. untuk support dan review-review para reader, kalian yang terbaik *jempol*
salam hangat.
Sasuke Fans. (Ama)
