Title : Tears in the Thorn
Author : Elle Riyuu
Main Cast : Chanbaek
Genre : Romance, hurt/comfort
Rate : M
Summary : Dia selalu sendirian lalu mereka mengambilnya untuk memanfaatkan dan menyakitinya, ia tidak lebih dari sebuah boneka. Hingga cinta datang dan ia terlalu canggung untuk menghadapinya. Karena pria yang berada dalam lingkaran cintanya tidak jauh berbeda dari mereka.
.
.
[CHAPTER 38]
.
.
.
Sudah lebih dari sebulan Chanyeol hidup terpisah dengan istri dan anaknya. Ia tidak sakit, tidak juga terluka. Intinya ia tidak ceroboh dalam menjalani kehidupannya yang kini berisi kesedihan. Ia menjaga dirinya semampu yang ia bisa. Ia memakan makanan sehat yang Minseok masak untuknya, ia juga menjaga waktu istirahatnya meski beberapa kali harus mengonsumsi obat tidur yang ia dapat berkat resep Yixing.
Ia terlihat tenang, sangat tenang. Bahkan lebih tenang dibanding ia yang dulu, ia tidak pernah setenang ini sebelumnya. Tapi Jongdae tahu bahwa ketenangan itu adalah bentuk lain dari kesedihannya. Chanyeol benar-benar sedih, merana karena kekasih hatinya yang memilih untuk pergi. Ia tidak terbiasa untuk menangis karena ia tidak pernah diajarkan untuk itu. Terlebih perasaan itu adalah perasaan asing yang baru kali ini ia rasakan. Ia tidak kesal dengan itu, hanya saja belum terbiasa dengan tumbuhnya sesuatu perasaan manusiawi di dalam sanubarinya. Hingga kini ia menyadari jika ia juga memiliki hati manusia, bukan seorang iblis yang selama ini selalu diyakininya. Menyadari pula jika ternyata menjadi manusia lebih sulit dan melelahkan dibandingkan menjadi iblis yang kejam dan tanpa perasaan.
Ia mengedarkan pandangannya di sekitar kamar ia dan Baekhyun. Kamar itu terasa dingin sekarang karena tanpa kehangatan Baekhyun. Tempat itu seperti membeku, sama seperti memorinya yang membeku pada kenangan yang sama. Kecantikan Baekhyun, keindahan dan keanggunannya selalu terbayang di pelupuk mata hitam bulat itu. Baekhyun dengan pakaian serba putih pada hari pernikahan mereka selalu muncul di padang bunga daisy dalam tidurnya. Jika saja itu adalah mimpi indah, tapi nyatanya itu adalah mimpi buruk bagi Chanyeol yang sedang belajar bersabar. Mimpi itu seakan memaksanya untuk menyeret istrinya pulang untuk menghabiskan sisa hidup bersama. Itu adalah hal yang egois, Chanyeol mengerti itu. Oleh karena itu ia menahan dirinya, menyebabkannya terlalu was-was untuk memejamkan mata. Nyatanya ia tidak hanya merindukan pelukan dan harum tubuh istrinya, tapi juga tengah mencoba menjadi lebih baik. Ia malu jika kelak Baekhyun memilih untuk kembali dan malah menemukan ia yang masih sama busuknya, bertolak belakang dengan Baekhyun yang indah dan mekar.
Chanyeol rindu, ia ingin berteriak pada dunia kalau ia rindu setengah mati. Tapi paras Baekhyun yang memohon padanya hari itu memaksanya untuk menahan diri. Ia bahkan terlalu takut untuk mengunjungi istrinya dan memandangnya dari kejauhan. Beberapa kali Jongdae datang padanya untuk membawa belasan lembar foto Baekhyun dan Jiwon guna sekedar ia lihat untuk meredakan sedikit rasa rindu. Jongdae juga selalu memberitahunya tentang perkembangan Jiwon yang sekarang sudah mulai aktif berbicara dan melafalkan frasa yang tidak jelas. Chanyeol selalu tersenyum karena itu, api kerinduan di matanya berubah menjadi api kesenduan yang membuat Jongdae jadi merasa serba salah.
Sebenarnya Chanyeol tidak pernah memerintah Jongdae untuk memantau Baekhyun dan Jiwon, hanya saja melihat Chanyeol yang hidup seperti boneka tanpa jiwa membuat Jongdae merasa sedih. Chanyeol selalu bekerja, perusahaan Byun dan Park berkembang dengan sangat baik. Tapi ia bekerja semata-mata hanya untuk membunuh waktu dan melakukan kewajibannya demi kebahagiaan Baekhyun dan Jiwon yang bahkan kini tidak bisa ia dengar bunyi tawanya. Hanya membayangkan mereka hidup sejahtera karena kerja kerasnya nampaknya cukup membuat Chanyeol mampu menyeret tubuhnya untuk bekerja dari pagi hari hingga larut malam.
Suara ketukan pintu menyadarkan Chanyeol dari lamunannya. Ia sedikit berteriak saat mempersilakan seseorang yang mengetuk untuk membuka pintu. Lalu ia mendapatkan Minseok di sana, berdiri dengan senyum manis di bibirnya.
"Sekarang sudah memasuki waktu makan malam. Bagaimana jika kita makan bersama? Aku sudah memasakkan makanan kesukaan Baekhyun sebagai menu utama malam ini." Suara itu mengalun lembut sekali, sebuah ketenangan yang Minseok miliki untuk menghiburnya. Jika bukan karena submisif ini, mungkin Chanyeol akan lebih terpuruk.
Chanyeol tersenyum lalu mengangguk pada ucapan itu. Makanan kesukaan Baekhyun, sesuatu yang Minseok perkenalkan padanya. Makanan yang disebut kesukaan karena itu adalah masakan kakaknya. Minseok memasak itu dan berhasil menghibur Chanyeol, mengobati sedikit rasa rindunya dengan rasa favorit indra pengecap dari orang yang dicintainya.
.
.
.
Di malam berikutnya, bulan sudah sangat tinggi dan Chanyeol masih bekerja di ruang kerjanya. Sebenarnya ia merasa cukup putus asa karena tidak bisa memejamkan mata di malam sebelumnya. Ia ingin meminum obat tidurnya, tapi ia menghentikan dirinya sendiri karena mimpi tentang Baekhyun terasa semakin nyata. Chanyeol hanya takut kalau saja luka hatinya semakin menjadi lebih daripada ini.
Chanyeol menghela napasnya, sebuah kebiasaan baru yang muncul karena ia yang memang tengah belajar mengalah dan bersabar. Chanyeol sebenarmya sedikit bangga dengan dirinya sendiri karena ia tidak bersikap agresif pada Minseok yang mengantar senampan penuh makanan untuk ia makan. Ia masih tersenyum meski tampak lelah dan berhasil menyuarakan terima kasih dengan suaranya yang serak.
Chanyeol sedikit menegakkan tubuhnya saat pintu ruangan diketuk. Ia tahu siapa yang datang sehingga ia langsung mempersilakan orang itu untuk masuk. Seseorang itu datang atas keinginannya yang tidak ia suarakan dengan jelas hingga ia terlihat masuk dengan sikap tubuh yang sedikit canggung.
"Taeyong, aku kira kau menolak untuk datang." Chanyeol menyapa submisif itu dan membawanya duduk pada sebuah sofa panjang di sana. Ia kira Taeyong tidak sudi datang menemui dominan arogan sepertinya.
"Jika yang memintaku datang adalah pemilik modal dari sumber penghasilanku, bagaimana aku bisa menolak? Hanya lakukan apapun yang ingin kau lakukan padaku dengan cepat." Taeyong menyahut dengan sedikit enggan. Jika Chanyeol ingin tidur dengannya, maka lakukan dengan segera. Taeyong ingin cepat pulang dan segera mencari cara untuk menyampaikan maafnya pada seorang submisif cantik yang telah ia anggap sahabat.
"Kau berpikir berlebihan. Aku hanya ingin mengajakmu berbincang." Chanyeol sempat terkekeh karena jawaban Taeyong sebelumnya.
"Hanya berbincang?" Taeyong terlihat mengangkat alis dengan terkejut, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Tapi Chanyeol rasa itu hal wajar karena pasti sangat mengejutkan saat seorang bajingan sepertinya nampak berubah menjadi malaikat dengan cepat.
"Ya, hanya berbincang. Kau tahu? Sepertinya aku merindukan Baekhyun. Aku kesulitan tidur beberapa malam karena memimpikannya. Yixing sudah memberikanku resep obat tidur tapi aku tidak selalu mengonsumsinya karena mimpi itu." Chanyeol menjelaskan dengan lebih jelas untuk mendapatkan Taeyong yang tiba-tiba tersenyum sangat lembut.
"Bukan sepertinya lagi, Chayeol. Kau memang sedang sangat merindukannya. Aku tidak menyangka kau dapat berubah sebanyak ini." Taeyong terkekeh kecil, merasa sedikit tidak percaya dengan perubahan besar yang pria itu lakukan.
"Aku juga tidak menyangka dapat berubah sebanyak ini. Aku bahkan tidak pernah menyadari jika aku mulai berubah. Aku tidak merubah diriku sendiri, Taeyong. Baekhyun yang merubahku." Chanyeol juga ikut terkekeh.
"Kau benar. Bahkan saat dulu kita saling mencintai, aku malah membuatmu memburuk. Oleh karena itu aku tidak menyangka kau memintaku ke sini untuk sekedar berbincang. Kukira kau ingin aku melayanimu karena mungkin saja kau menahan dirimu selama Baekhyun pergi." Taeyong merasa lebih nyaman dengan keadaan ini hingga sekarang ia tampak lebih santai.
"Untuk aku yang dulu, kau mengatakan hal yang benar. Tapi tidak untuk aku yang sekarang, kurasa aku tidak lagi begitu. Baekhyun mengajarkan padaku bahwa masa lalu adalah apa yang membentuk aku yang sekarang. Kau adalah masa laluku, seseorang yang pernah menjadi poros kehidupanku. Kau adalah orang yang memberikan kebahagiaan mencintai dan kesakitan patah hati untuk pertama kalinya, kau adalah cinta pertamaku. Akan menjadi begitu buruk untukmu melayaniku yang merupakan mantan kekasihmu, apalagi aku sudah memiliki seorang istri. Betapa buruknya kau akan terlihat jika aku masih menyentuhmu dengan statusku. Kau seseorang yang berarti untukku." Chanyeol berbicara dengan tenang. Ia tersenyum lembut dengan tangan yang mengelus pundak Taeyong saat melihat submisif itu seperti akan menangis.
"Aku tidak menyangka kau akan berbicara seperti itu. Tapi memikirkan kau pernah menyentuhku setelah hubungan kita berakhir membuatku sedikit sakit hati. Selama ini aku mengabaikannya karena nyatanya aku adalah seorang pelacur. Namun kata-katamu sekarang menyadarkanku bahwa aku juga seorang manusia. Aku pernah membuat orang lain bertahan hidup karena membayangkan untuk hidup bahagia bersamaku. Masa lalu kita adalah salah satu masa terindah, terima kasih telah menyadarkanku kalau aku juga pantas dihargai." Taeyong benar-benar menangis setelah itu.
Chanyeol segera memeluknya karena tubuh kurus itu terlihat begitu menyedihkan. Sekarang ia sadar kalau Taeyong menjual tubuhnya dengan hati yang selalu tertusuk duri. Tapi hanya demi bertahan hidup ia rela melakukannya. Jika saja Chanyeol sedikit lebih baik di masa lalu, maka ia pasti memilih bentuk bisnis lain untuk mantan kekasihnya itu.
Taeyong menarik tubuhnya setelah tangisnya mereda. Ia sempat terkekeh sebentar untuk menertawai dirinya yang tiba-tiba berubah cengeng. Ia kira pengalaman hidupnya selama ini akan membuatnya lebih kuat. Tapi ternyata hatinya masih memiliki sisi rapuh, rapuh karena kepedulian orang lain. Rapuh karena simpati orang lain yang rela mengecap sedikit sepatunya yang berduri.
"Kau mengacaukan riasanku. Aku malah menangis karenamu sekarang." Taeyong terdengar marah dengan main-main, tinjunya mendarat ringan di bahu Chanyeol yang kokoh. Sedangkan Chanyeol menyahut itu dengan tawa, tahu bahwa Taeyong telah merasa cukup baik.
"Baiklah. Maafkan aku." Chanyeol menyahut di sela suara tawanya yang renyah.
"Sudahlah, bukankah kau katakan kau ingin berbicara? Bicaralah, aku akan mendengarkanmu." Taeyong mengusap wajah penuh air matanya perlahan, berusaha benar untuk tidak merusak riasannya. Kemudian ia duduk dengan tubuh yang tegap, terlihat siap dibawa arus percakapan Chanyeol.
"Aku tidak membicarakan hal yang berat. Jadi kuharap kau akan bersantai." Chanyeol mengatakannya untuk mencairkan suasana, ia tidak ingin jika nanti Taeyong malah ikut terbebani.
"Aku sedang bersantai. Bicara saja." Taeyong berhasil meyakinkannya kalau pembicaraannya tidak akan membebani pihak lain.
"Aku hanya ingin menanyakan kabar Baekhyun dan Jiwon. Aku sudah berpisah lama dari mereka dan kini merasa sangat rindu. Meski beberapa kali Jongdae memberikanku foto mereka, rasa rindu itu tetap tidak hilang." Chanyeol memulai pembicaraannya tanpa basa basi.
"Jelas rasa itu tidak akan menghilang hanya karena beberapa lembar foto. Kau harus menemui mereka, setidaknya memantau dari kejuhan. Rasa itu mungkin saja membunuhmu secara perlahan." Taeyong mencoba memberi saran dengan perlahan.
"Aku lebih memilih mati daripada menemui untuk menyeretnya pulang. Meski aku sudah banyak berubah, aku bisa saja masih bajingan yang sama. Manusia tidak pernah berubah terlalu cepat. Iblis yang dibesarkan bersamaku sudah mengakar kuat, tidak mungkin semudah itu aku mematikan keberadaannya." Chanyeol menjelaskan ketidakmungkinan saran Taeyong dengan perlahan. Ia berada di posisi tidak bisa memilih selain menyiksa diri sendiri dengan harus memilih pilihan yang paling menyakitkan.
"Ah, kau ada benarnya. Itu serba salah untuk menjadi dirimu. Jika kau ingin tahu kabar mereka, mereka baik-baik saja." Taeyong menenangkannya, tahu kalau Chanyeol sangat gundah di balik ketenangannya.
"Benarkah? Aku lega jika mereka hidup dengan baik. Bagaimana kebutuhan mereka? Apakah terpenuhi? Ah… Sepertinya aku ingin bekerja lebih keras untuk membuat mereka bahagia." Suara rendah pria dominan itu terdengar ceria, hanya mendengar bahwa istri dan anaknya baik-baik saja sudah membuatnya bahagia.
"Kau tenang saja, semua kebutuhan mereka terpenuhi. Baekhyun selalu di rumah dan ia mengembangkan kegemaran memasaknya, ia selalu memasak makanan enak dan sehat untukku dan Jiiwon. Ia sudah terlihat lebih lepas dan menikmati kegiatannya. Itu juga karenamu yang selalu menyediakan fasilitas untuknya meskipun kau jauh."
"Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya. Mereka baik-baik saja tanpaku." Hati Chanyeol sedikit tercubit saat mendengar bahwa mereka dapat baik-baik saja tanpanya. Sedangkan ia sekarang sekarat menahan kesakitan di hatinya yang semakin menjadi, merubahnya menjadi kepingan lebih kecil.
"Tidak selalu, Chanyeol. Ia hanya pandai untuk menutupinya karena terbiasa hidup tanpa meminta dan mengharapkan sesuatu. Ia juga merindukanmu, tapi menahan diri sudah menjadi sifat yang tertanam padanya. Ia ahli bersabar dikala ia juga sebenarnya merindu." Taeyong berujar dengan senyum pemakluman di bibirnya. Ia sedikit tahu dengan bagaimana Baekhyun karena sebenarnya mereka hampir memiliki kepribadian yang sama. Hanya saja Baekhyun tidak sekotor dirinya yang membuka kaki untuk banyak pria dominan meski ia terpaksa.
"Kupikir kau memiliki ikatan pertemanan tersendiri dengannya. Baekhyun tidak mudah ditebak, bahkan untukku yang merupakan suaminya. Aku membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui pemikirannya karena ia begitu pendiam. Aku bahkan memerlukan waktu hingga Jiwon hadir. Sedangkan kau hanya perlu beberapa bulan untuk mengenal atau bahkan mengetahui pikirannya." Chanyeol sedikit terkekeh di sela-sela perkataannya.
"Ia memang merindukanmu. Tidak jarang saat hari telah larut ia pergi ke dapur untuk memakan bolu coklat dari bakery yang biasa kau beli saat ia hamil. Ia juga sering membuat menu masakan yang adalah makanan kesukaanmu. Beberapa kali aku melihatnya termenung dan tidak fokus. Tidak hanya Baekhyun, Jiwon juga merindukanmu." Itu hanyalah sedikit hal yang submisif itu tahu saat ia tidak bekerja. Saat ia bekerja, mungkin saja Baekhyun juga menangis.
"Jiwon hanya seorang bayi. Bagaimana kau tahu kalau ia merindukanku?" Chanyeol hampir terkekeh. Jika Taeyong mengatakan itu hanya untuk menghiburnya, selamat, ia berhasil. Candaan itu benar-benar terdengar lucu.
"Aku tidak mencoba melucu, aku berbicara yang sebenarnya. Jiwon demam tepat 3 hari setelah kau mengantar mereka ke tempatku. Aku dan Baekhyun sangat panik saat itu karena tangisannya sangat keras, tapi Baekhyun mendapatkan sebuah ide yang aku tidak tahu darimana ia mendapatkannya. Ia mengambil jas milikmu lalu menggulungnya di tubuh Jiwon. Tidak lama setelah itu tangisan Jiwon berhenti dan kami bisa membawanya ke dokter dengan lebih tenang. Tidakkah kau pikir Jiwon merindukanmu hingga demam seperti itu? Bau tubuhmu dari jas yang kau kenakan diartikannya sebagai sebuah pelukan dari ayahnya." Penjelasan itu memasuki hati Chanyeol perlahan, menyembuhkan luka yang tadi berdarah deras.
"Aku juga merindukkannya. Ia putraku yang tampan dan pintar." Senyum haru muncul di bibir tipis Chanyeol. Ia tahu Taeyong tidak berbohong karena ia ingat betul perihal jas itu. Ia yang memberikannya pada Baekhyun saat pagi ia mengantar mereka ke rumah Taeyong. Saat itu ia berencana langsung bekerja setelah mengantarkan mereka. Tapi Baekhyun yang kedinginan karena kecerobohan dalam memilih pakaian membuat Chanyeol memberikan jasnya dan memilih mengenakan jas cadangan yang memang berada di kantornya.
"Kau tahu, Chanyeol? Jas itu bahkan tidak Baekhyun cuci sampai sekarang, terletak di atas tempat tidurnya. Ia menghirup bau tubuhmu yang samar setiap saat ia hendak tidur ataupun terbangun. Perasaan rindumu itu tidak sepihak. Berhenti meragukan kepulangan mereka, mereka akan kembali padamu dengan perasaan yang baru. Perasaan menerima kau sebagai takdir hidup dan melupakan kemarahan serta dendam." Kini Taeyong sangat lega saat dominan itu mempercayai ucapannya, pasalnya ia mengira Chanyeol akan menganggap itu omong kosong.
"Aku akan bertahan, rasa rindu ini akan menjadi kekuatan untukku. Terima kasih, Taeyong, karena telah menjadi jembatan di antara kami berdua." Jika bukan karena Taeyong ia mungkin saja menyerah untuk bertahan.
"Tidak masalah, kita adalah teman. Oh iya, Baekhyun membuat banyak cookies jadi aku membawanya sedikit ke sini. Ingin aku buatkan segelas teh untuk menikmatinya?" Taeyong menawarkan sesuatu yang sebenarnya hanya untuk mencairkan suasana yang memberat. Selain itu cookies buatan Baekhyun adalah yang terbaik.
"Silakan, jika aku tidak merepotkanmu." Taeyong sempat tertegun pada sahutan Chanyeol sebelum akhirnya tersenyum dengan manis. Ternyata Chanyeol telah berubah sebanyak ini. Ia berhasil mengalahkan egonya sendiri, membangunkan hati nuraninya. Taeyong yakin kalau Chanyeol akan terus berubah menjadi lebih baik, menjadi lebih manusia.
Itulah rupanya cara kerja alam semesta, dicintai dan mencintai tetap selalu akan merubah seseorang. Entah membuatnya menjadi lebih baik atau malah sebaliknya. Cinta membawa pada cahaya atau kegelapan, sepertinya cinta adalah perasaan terdalam yang mampu mengubah orang lain untuk berubah menjadi bukan dirinya sendiri.
.
.
.
Baekhyun tampak mengerutkan keningnya dengan wajah penuh permintaan maaf. Sekarang ia berada di rumah seorang teman Taeyong untuk menginap. Taeyong mengatakan padanya bahwa seorang pelanggan memanggilnya tiba-tiba sehingga ia harus bekerja. Sedangkan Baekhyun ia titipkan kepada seorang teman agar ia merasa tenang saat bekerja. Baekhyun sempat menolak, tapi Taeyong terlalu keras kepala untuk ia sanggah. Taeyong mengatakan kalau ia ingin Baekhyun di tempat yang aman, terlebih temannya memang sudah beberapa kali menampung Baekhyun karena permintaan Taeyong.
"Maaf jika aku mengganggumu saat malam sudah mulai larut." Baekhyun meraih secangkair teh yang orang itu berikan, bermaksud berbincang sedikit bersama teh dan cookies yang Baekhyun bawa. Jiwon sudah ia tidurkan di kamar tempat ia biasa menginap.
"Tidak masalah. Lagipula Youngho tidak pulang malam ini, kehadiranmu dan Jiwon membuatku tidak kesepian. Terlebih kau adalah teman baik Taeyong. Teman baik sahabatku juga akan menjadi teman baikku." Seseorang itu menyahut dengan ramah. Namanya adalah Ten, seorang submisif berdarah Thailand tapi berkewarganegaraan Korea. Seorang sahabat sekaligus sekretaris Taeyong dalam pekerjaan.
"Kukira Youngho akan pulang malam ini sehingga aku khawatir akan mengganggu waktu kalian. Taeyong mengatakan padaku kalau kekasihmu sangat sibuk hingga jarang pulang. Jadi aku berpikir kalau waktu bersama kalian pasti sangat jarang." Baekhyun berbicara dengan nyaman. Ia mulai banyak berbicara sekarang, tanda bahwa bebannya sudah lebih terasa ringan.
"Tidak juga, terkadang aku bahkan tidak tahu kemana ia pergi atau dengan siapa ia menghabiskan waktu. Rumah ini adalah miliknya, itu salah satu alasan kenapa ia pulang selain karena kekasihnya ia tinggalkan sendiri. Aku tidak pernah keberatan dengan siapa ia menghabiskan malam karena ia senang kebebasan. Hanya saja saat ia memilih pulang, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuknya." Ten juga mmenyahut dengan nyaman, sedikit mengabaikan Baekhyun yang terlihat terkejut.
"Tunggu. Kenapa aku menangkap maksud dari perkataanmu sebagai hal negatif? Apa maksudmu Youngho tidak mencintaimu?" Baekhyun terdengar sangat terkejut sampai suaranya hampir seperti berteriak.
"Tidak, sepertinya kau salah memahaminya. Youngho mencintaiku, aku sangat tahu itu. Tidak ada hal yang membuatnya menghapus perasaannya padaku karena nyatanya hanya aku pilihannya selama ini. Kau tahu? Tidak ada yang bisa tidur di sampingnya dalam kamarnya di rumah ini selain aku." Ten menjelaskan dengan kekehan kecil. Ia baru menyadari kalau kata-katanya memang bisa menghasilkan penafsiran ganda.
"Lalu? Kau yang tidak mencintainya? Memberikan kebebasan semacam itu pada kekasihmu tentu bukan hal yang mudah. Aku masih bisa memaklumi jika dalam hubungan itu ada yang memegang peran penguasa. Tapi kalian seimbang, jadi itu tidak akan terjadi jika salah satu dari kalian tidak mencintai." Baekhyun tahu, ia mungkin terdengar sedikit lancang. Tapi pembiacaraan mereka akan selalu berat seperti ini jika mereka bertemu.
"Tidak, aku sangat mencintainya. Tidak ada yang bisa membuatku berhenti menjual diri dan bekerja hanya sebagai sekretaris yang membantu Taeyong jika saja itu bukan karena seseorang yang aku cintai. Tapi ada alasan lain yang membuatku bisa membiarkannya tidur atau bahkan menanam benih di tubuh orang lain." Penjelasan Ten tetap tidak terdengar jelas dan malah menimbulkan kebingungan yang lain.
"Menanam benih di tubuh orang lain?" Baekhyun sangat kebingungan sekarang. Karena jika itu ia, ia pasti tidak akan bisa merelakan Chanyeol memiliki darah daging yang dilahirkan orang lain selain dirinya. Meski ia tidak akan mengatakannya karena dalam pernikahan mereka, Chanyeol adalah seseorang yang Baekhyun anggap penguasa.
"Ya, kau mungkin tidak tahu kondisiku. Aku sudah tidak memiliki hal yang akan membuatku mengandung karena pekerjaanku." Perkataan itu kembali membuat Baekhyun terkejut sedangkan Ten hanya memandangnya dengan tatapan sendu.
"Maksudmu…" Baekhyun terdengar ragu, sebuah perkiraan mengerikan muncul di kepalanya.
"Ya, aku kehilangan rahimku karena ulah kasar seorang pelanggan. Aku harus mengangkat rahimku karena ia terlalu kasar dalam berhubungan badan. Mulai saat itu Youngho memintaku untuk menjadi kekasihnya dan membawaku tinggal bersamanya. Ia adalah salah satu pelangganku dulu dan jatuh cinta padaku. Awalnya aku tidak mencintainya tapi ia menerimaku dengan hati yang besar meski tubuhku terdapat bekas luka dan tidak bisa mengandung. Youngho sangat menyukai anak-anak, oleh karena itu aku merasa mampu untuk membiarkannya menanam benih di dalam tubuh orang lain." Mata bening itu kini terlihat berkaca-kaca. Baekhyun tahu Ten juga tersakiti karena fakta itu.
"Bagaimana bisa orang itu tega membuatmu kehilangan sesuatu yang sangat berharga? Itu hal yang sangat mengerikan." Baekhyun mendekat untuk mengusap punggung Ten yang terlihat ringkih. Di balik sifatnya yang ceria dan tegas, Ten ternyata memiliki masa lalu yang sangat menyedihkan.
"Ia bisa karena ia tidak waras. Aku selalu membencinya dan berharap untuk tidak lagi bertemu dengannya. Tapi semesta selalu membuat kami bertemu karena orang itu pernah menjadi orang terdekatmu. Berhati-hatilah, Baekhyun. Ia pernah menjadi kekasihmu, orang itu adalah Kim Jongin." Ten menyebut nama itu dengan pahit. Ia harus menyebutnya agar Baekhyun dapat berhati-hati.
"Jongin? Bagaimana bisa?" Sekarang Baekhyun menjadi linglung. Jongin adalah salah satu orang terbaik yang pernah ia temui.
"Ia bisa. Orang itu adalah seseorang yang mengerikan, orang yang membenci suamimu. Kau tahu? Saat dulu Taeyong menjalin hubungan dengan Chanyeol, ia melakukan hal mengerikan untuk mengambil Taeyong menjadi miliknya. Ia mengancam Chanyeol bahwa ia akan membunuh ibu Taeyong jika tidak memberikan Taeyong padanya. Saat Chanyeol menolak, ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Ia yang mengkandaskan hubungan keduanya hingga Taeyong harus hidup dengan hal menjijikkan seperti sekarang. Tapi ia tahu Chanyeol saat itu masih mencintai Taeyong hingga ia berusaha keras untuk bisa tidur dengan Teayong. Aku pada akhirnya menawarkan diri untuk melindungi Taeyong hingga harus kehilangan rahimku. Ia mengerikan, Baekhyun. Kau harus berhati-hati karena ia menjalin hubungan denganmu juga karena rasa irinya pada Chanyeol." Ten berbicara dengan api kemarahan di matanya. Ia bertekad untuk tidak lagi mengningat perihal itu. Tapi demi Baekhyun, ia rela sekali lagi menorehkan luka pada hatinya sendiri.
"Aku tidak menyangka kalau ia bisa melakukan itu. Saat ia menjalin hubungan denganku, aku kira ia benar-benar mencintaiku." Baekhyun merasa bodoh karena pernah mencintai pria itu. Mau bagaimanapun, ia juga merasa sakit hati karena pria itu ternyata tidak mencintainya dengan tulus. Semua gambar memori kebahagiaan mereka kini musnah menjadi mimpi buruk.
"Ia dulu ingin membuatmu menjadi miliknya karena ia tahu kalau kau akan dijodohkan dengan Chanyeol. Ia ingin mengotorimu agar Chanyeol mendapatkan seorang submisif yang sudah pernah ia nikmati." Lega, Ten merasa lega sekali karena telah menyampaikan sebuah kebenaran yang selama ini tidak ada yang menyuarakannya.
"Jangan katakan bahwa kecelakaan Chanyeol saat itu juga karena ulahnya." Napas Baekhyun terdengar memburu. Jika hal itu benar, maka bisa dikatakan kalau ia yang pergi dari sisi Chanyeol seperti sekarang juga merupakan rencana Jongin.
"Taeyong mengatakan padaku kalau kecelakaannya sangat parah dan itu pasti bukan karena keceroborah suamimu. Taeyong sempat bertanya pada suamimu mengenai siapa yang ia temui hingga harus meninggalkanmu yang tengah tertidur karena pengaruh obat. Jawabannya tidak terlalu mengejutkan karena sudah diperkirakan meski itu masih membuat kami merasa benar-benar takut. Jongin yang melakukan hal itu untuk membunuhnya dan membuat kau juga Jiwon yang masih berada di dalam kandungan kehilangan Chanyeol. Ia ingin memiliki apapun yang Chanyeol miliki." Ten menjadi semakin lugas dan itu mengejutkan Baekhyun.
Baekhyun memucat dan napasnya memburu. Itu berarti perkiraannya bisa saja benar. Dalang dari semua kejadian mengerikan selama ini adalah Jongin dan ia sengaja memisahkan mereka untuk melakukan hal yang selalu menjadi tujuannya. Ia pasti berencana menyakiti Chanyeol dan membunuhnya. Baekhyun merasa bodoh karena ini bahkan telah lebih dari sebulan sejak mereka berpisah. Rencana Jongin mungkin saja telah semakin matang. Ia pasti telah siap melakukan aksinya. Sedangkan Baekhyun baru saja tersadar dan belum juga mulai melakukan sesuatu.
.
.
.
Cahaya bintang terlihat redup saat ditatap dari taman belakang yang berisi bunga-bunga yang ditanam seorang submisif cantik belakangan hari saat ia masih mengandung. Udara mendinging dan suara menyepi. Hari telah berubah semakin larut tapi Chanyeol masih terjaga. Taeyong telah tidur di kamar tamu selepas mereka berbincang sedangkan ia kembali pada rasa gundahnya. Ia tidak membiarkan submisif itu pulang sendiri saat jalanan sudah sangat sunyi.
Rasa rindu pada Baekhyun semakin tidak tidak tertahankan sedangkan ia masih harus bertahan pada kesunyian yang sama demi meluluskan diri dari ujian kesabaran yang ia buat sendiri. Baekhyun selalu pandai bersabar, maka ia juga harus bisa. Memiliki cinta seorang malaikat membuatnya harus merubah diri walau terasa menyakitkan.
"Baekhyun, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu. Tidakkah kau juga merasakan hal yang sama?" tangan Chanyeol terangkat untuk mencengkram dadanya sendiri. Ia telah sekarat karena rindu yang mulai berkarat. Jika saja ia lebih cepat dalam mengambil keputusan. Jika saja ia lebih berani dalam menyampaikan kebenarannya. Jika saja, jika serta jika lain yang membuatnya semakin menyalahkan diri karena kepergian sang kekasih.
Rasa rindu teramat dalam ini seperti akan merenggut kewarasannya. Oh Tuhan, jika iblis sepertinya boleh memohon. Maka ia memohon jika saat waktu memaksa mereka untu berpisah, ia ingin ia lebih dahulu terambil dari dunia ini. Ia berjanji untuk membuat istrinya bersumpah di hadapannya untuk ingin hidup lebih lama. Ia ingin istrinya bersedia melantunkan sebuah serenade terindah saat napasnya mulai memutus. Mengantarkan jiwanya pada kedamaian dengan serenade berisi puisi perpisahan yang bahagia. Karena jika istrinya yang lebih dulu terenggut, ia mungkin akan memilih untuk memutuskan napasnya di detik yang sama. Hatinya sendiri bersaksi bahwa melepaskan kepergian orang paling dikasihi adalah siksaan terbesar yang semesta berikan.
Deg!
Chanyeol tersadar saat lingkungannya tampak gelap. Ia mendengar kegaduhan di sekitarnya, tapi ia tidak tahu kemana ia harus melangkah. Ini terlalu gelap hingga mau tidak mau ia berubah panik. Hatinya masih terluka dan menghadapi kegemparan yang mungkin terjadi pasti akan membuatnya kewalahan.
"Hmp!" Tapi belum selesai rasa terkejut menghampirinya, ia harus terkejut lagi saat sebuah kain menghalangi jalur napasnya. Bau ini, Chanyeol kenal bau ini. Ini adalah bau kloroform, orang yang membekapnya ingin membuatnya tidak sadar.
Chanyeol sempat memberontak tapi pada akhirnya tetap melemah karena orang itu sangat keras kepala membekapnya sampai menekan keras hidung dan mulutnya. Padangannya mulai berbayang di tengah rasa kesal yang muncul karena kebodohannya sendiri. Astaga, bagaimana bisa ia dikalahkan oleh trik murahan?
.
TBC/END?
.
.
Akhirnya update juga. Konflik baru nih, gimana? Tenang aja, mungkin ini adalah konflik terakhir. Kita sudah menuju akhir nih, gimana perasaan kalian? Ditunggu komentar kalian tentang chapter ini di review~
Big thanks for:
reall any l bbaekhyunfans l cheni l ByunB04 l baekh910 l freakiness l shinwava l Guest217 l chanchanb l Agustusan (Guest) Selamat datang, selamat membaca. Semoga makin suka ya~ makasih lho udah baca marathon. Matanya baik-baik aja kan? XD l sehuniewife l tiffanydmitrius10 l oh sabeth l dooremi l beenthrough l Lusiii61
Makasih banyak buat support dan review kalian. Aku gak mengira masih lumayan banyak yang review. FFN sepertinya mulai banyak kehilangan pembaca, makanya aku pikir yang review mungkin dikit banget. Tapi ternyata masih banyak, makasih. Oh iya, buat yang nge-doa-in aku cepet wisuda, makasih ya. Sekarang aku lagi menunggu yudisium nih, makanya jadi lama update chapter 38 ini karena sibuk banget ngurus persyaratannya. Maafin ya dan jangan lupa review lagi, ILY~
.
Last, you reviewing and I writing~
