Kedua mata Emerald itu menatap sendu dua buah batu nisan yang tertancap di atas tanah, beberapa tahun telah dilewatinya tanpa kedua orang tuanya. Nozomi mengingat kembali bagaimana dia harus terus berpindah-pindah bersama keduanya, sampai pada akhirnya dia bersekolah di sebuah sekolah menengah serta bertemu dengan para sahabatnya.

Serta seorang lelaki yang saat ini menjadi pendamping hidupnya.

Dia beruntung mendapatkan lelaki yang menicntainya, dia sendiri mencintai lelaki tersebut. Dia sungguh bersyukur Naruto menjadi suaminya, pria itu sungguh menghargainya sebagai seorang Istri.

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ditinggal mereka berdua."

Nozomi menoleh kebelakang, ia melihat sosok Ibu mertuanya itu berjalan mendekati dirinya. "Okaasan?"

"Kebetulan aku berjalan disekitar kuil, dan melihatmu disini." Wanita paruh baya itu tersenyum menatap menantunya itu. "Setelah ditinggal Minato, aku berpikir akan menjadi wanita yang kesepian. Tapi... Kalian mempersilahkan aku tinggal disini, rasa kesepianku terobati oleh kalian berdua."

"Kami tak keberatan jika Okaasan tinggal, lagipula tak mungkin jika Okaasan menjalankan kedai sendirian di Konoha."

Kushina tertawa kecil. "Ya, aku tak mungkin memasak sebanyak itu untuk para pelanggan." Kushina pun terus berjalan mendekati Nozomi, dia berdiri disebelah wanita itu sambil tersenyum menatap dua buah batu nisan di depannya. "Minato selalu memasakkan sesuatu untukku ketika aku marah ataupun bersedih akan suatu hal, dia sangat tahu cara menenangkan diriku, sangat tahu. Lalu Naruto, bocah itu akan memasakkan ramen untukku jika Ayahnya sedang pergi berbelanja, ramen adalah salah satu makanan kesukaanku." Kushina mengambil jeda saat menjelaskaj tentang Suami dan Anaknya. "Mereka berdua adalah lelaki yang sangat kucintai, melebihi diriku sendiri. Beruntung kau mendapatkan Naruto, sayang. Bocah itu akan mencintai Istrinya melebihi dirinya sendiri."

"..."

"Aku beruntung mendapatkan Menantu cantik dan Anggun sepertimu, Nozomi."

"... Terima kasih...Okaasan..."

"Okaasan yang seharusnya berterima kasih, jika tidak ada dirimu, dia akan menjadi Bujangan lapuk." Sebuah tawa mengakhiri perkataan Kushina.

Nozomi sendiri tersenyum geli mendengarnya. "Dia kan sudah punya Istri."

"Ya, istri yang cantik sepertimu." Kushina pun berbalik. "Mari kita kembali, mereka pasti menunggu kita." Nozomi mengangguk, lalu berjalan bersama Kushina untuk kembali ke rumah mereka.

...

..

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Love Live by Kimino Sakurako