Pagi ini sangat cerah. Cuaca yang sangat baik sehingga membuat suasana benar-benar menyenangkan.
Si cucu sulung keluarga Choi tengah memperhatikan area sekelilingnya.
Balon berwarna-warni, pita yang menjuntai, gantungan beraneka bentuk, juga bunga-bunga menjadi penghias panggung dan auditorium acara kelulusan St. Carat Elementary School of Seoul ini.
Choi Eunwoo lulus di sekolah dasar ini di umurnya yang ke 12 tahun.
Sebenarnya bukan ia saja di antara Diamond line yang lulus dari sekolah ini. Ada Jaemin, Serim, dan juga Geonhak.
Apa yang membedakan Eunwoo dengan Diamond Line yang lain?
Perbedaan kecil namun kadang membuat Eunwoo bersedih.
Sederhananya hanya ia yang appa dan eommanya tidak hadir untuk berada di sisinya.
Kadang Eunwoo heran kenapa appa dan eommanya adalah sosok super sibuk padahal jika melihat Seokmin ajushi yang sama-sama pemimpin perusahaan seperti appanya saja masih bisa hadir di kelulusan Jaemin.
Bukan hanya sekali ini saja.
Appa dan eommanya benar-benar orang sibuk dan bahkan melewatkan pertemuan orang tua berkali-kali hingga yang menggantikan mereka adalah harabeoji dan halmeoni.
Auditorium tempat acara kelulusan ini mulai dipenuhi dengan banyak orang. Acara belum dimulai dan sebagian orang memang masih memilih untuk bercengkrama di area luar auditorium.
Eunwoo mendapatkan tempat duduk di depan dengan bangku di sisi kanan-kirinya yang masih kosong.
Di kursi baris pertama ini diduduki oleh Junhwi-Myeongho beserta Serim, Chan dengan Geonhak, serta Jisoo dengan Jaemin. Seokmin sendiri berada di deretan kursi VIP bersama para petinggi lainnya.
Dengan helaan nafas kecil ia berdiri dan memilih berjalan keluar. Mungkin menunggu di taman belakang akan menyenangkan.
"Mau kemana, Eunwoo-ya?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh Jisoo yang duduk di dua bangku di kiri Eunwoo.
"Ke taman belakang, imo." Jawab Eunwoo seadanya lalu berlalu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eunwoo duduk di bangku pinggir kolam ikan berukuran raksasa yang ada di taman belakang sekolahnya.
Bocah 12 tahun ini sangat menyukai suasana yang tenang dan taman belakang ini benar-benar cocok untuknya. Suasana disini sangat asri dan sepi, tentu saja karena kerumunan terpusat di area auditorium.
Dengan hati yang berat, pikirannya melayang ke kejadian yang baru saja terjadi kemarin.
-o0o-
Di perpustakaan yang ada di mansion Choi, Eunwoo terlihat sibuk membolak-balik buku yang ia pegang.
Eunwoo sedang membaca buku mengenai astronomi dengan serius.
Oh iya, ia tidak sendiri.
Di hadapannya kini ada Dongju, dongsaeng kesayangannya yang sibuk membaca novel anak-anak.
Aura yang berada di sekitar Eunwoo dan Dongju sebenarnya adalah aura yang berat. Mereka biasa untuk diam namun suasana memang sangat tidak enak saat ini.
Sejujurnya mereka sudah berada di perpustakaan ini semenjak kemarin. Dan sebenarnya juga, kedua bersaudara ini sedang menjalani sebuah metode perenungan kesalahan di perpustakaan.
Ting.
Pintu automatis itu terbuka menampilkan sosok kepala pelayan yang tersenyum dan memberi hormat kepada mereka.
"Tuan muda, halmeoni memanggil tuan muda ke ruang keluarga."
Eunwoo mengangguk lalu menutup bukunya begitu pula Dongju yang kini meletakan novelnya ke tempat semula.
Dongju mengenggam jemari Eunwoo dengan erat. Eunwoo tentu paham bahwa dongsaengnya ini terlihat ketakutan walau wajahnya benar-benar datar.
Mereka akhirnya turun ke lantai bawah dan menuju ke ruang keluarga.
Di ruang keluarga sudah terlihat halmeoni mereka yang duduk di sofa sambil tersenyum tipis ke arah mereka.
Keduanya akhirnya ikut duduk di sofa bersama dengan Kihyun. Eunwoo berada di kanan Kihyun sedangkan Dongju di sisi kiri Kihyun.
Kihyun kini mengusap surai kedua cucunya dengan lembut.
"Bagaimana? Sudah merenungkan sesuatu?"Tanya Kihyun.
Eunwoo dan Dongju sama-sama menunduk.
Kemarin malam telah terjadi sebuah kejadian yang membuat Eunwoo dan Dongju berakhir di perpustakaan.
Mereka berdebat dengan Jeonghan mengenai kesibukan Seungcheol dan Jeonghan di ruang keluarga ini.
Ah, Eunwoo dan Dongju tidak ingin mengingat hal itu.
Banyak hal yang terjadi di ruang keluarga ini. Jika melihat ke sekitar, guci dari China yang ditutupi debu berlian sudah tidak ada di tempatnya lagi.
Karpet bulu domba yang menghiasi lantai sudah berubah menjadi karpet lainnya.
Di ruang keluarga inilah ucapan berintonasi tinggi terdengar memekakan telinga.
"Kenapa appa eomma selalu sibuk? Kenapa?"
"Dongju cuma mau dipeluk saat tidur, cuma mau diantar ke sekolah, cuma mau bahagia, eomma..."
"Eunwoo-ya, Dongju-ya... Dengarkan eomma dulu-"
"Aku sakit, eomma. Sangat sakit. Ulang tahun Dongju malah appa lupakan. Di hari ulang tahunku malah kalian berdua yang tak hadir. Dan besok, di kelulusanku, appa dan eomma juga tidak bisa hadir? Yang benar saja."
Eunwoo selalu tak bisa protes karena ia paham seberapa penting posisi yang appa dan eommanya tempati.
Dongju, si dongsaeng savage yang Eunwoo miliki, suka sekali merengek karena merindukan sang appa dan eomma. Bagaimana pun, dongsaengnya itu memang memiliki pemikiran khas remaja baru.
Memang Eunwoo juga termasuk remaja baru namun pemikirannya jauh lebih dewasa dari umurnya.
Bukankah Quattuor Coronam memang kebanyakan memiliki pemikiran yang jauh dari umur mereka?
Namun kini ia sudah terlalu lama menyimpan segala kesedihan yang ia rasakan.
Yang memicu kejadian ini adalah ketika mereka mendengar Jeonghan dan Seungcheol berbicara lewat telepon mengenai pekerjaan di saat Eunwoo dan Dongju memamerkan karya tangan mereka.
"Sebegitu perlu uangkah kita sampai appa dan eomma kerja, kerja, dan kerja? Hiks... "
Dongju menangis.
Ia terlalu sedih karena ia merasa seperti tak memiliki orang tua.
Jeonghan yang melihat Dongju menangis langsung panik. Ia mendekat ke arah Dongju namun Dongju menghempas tangan Jeonghan.
Hempasan itu membuat tangan Jeonghan menyenggol guci dan menyebabkan guci itu jatuh dan pecah.
Membuat karpet basah dan pecahannya terhempas ke segala penjuru.
Nafas Eunwoo dan Dongju memburu. Ditambah air mata dan isakan yang Dongju keluarkan membuat suasana menjadi sangat berat.
Anak 11 dan 12 tahun itu terus mengeluarkan isi hati mereka.
Sudah tak terhitung berapa kali Eunwoo dan Dongju saling bergantian berbicara.
"Bahkan setiap minggu, para imo dan samchon bisa berkumpul di rumah ini. Tapi kenapa appa dan eomma tidak?"
"Setiap kegiatan yang berhubungan dengan orang tua, yang ngewakilin malah halmeoni atau harabeoji. Apa hyung dan Dongju tidak punya orang tua?"
Kacau.
Suasana benar-benar kacau.
Untuk pertama kalinya sosok pendiam Eunwoo berucap penuh dengan emosi.
Untuk pertama kalinya sosok manis Dongju berucap dengan intonasi tinggi.
Untuk pertama kalinya kedua anak itu menumpahkan kekecewaan mereka.
Untuk pertama kalinya sosok Jeonghan meneteskan air mata di depan kedua buah hatinya.
Dan untuk pertama kalinya, Kihyun menunjukan ekspresi murka luar biasa saat ia baru sampai di mansion.
Kembali ke ketiga sosok yang duduk di sofa itu, Eunwoo dan Dongju menghela nafas mereka.
"Sudah halmeoni. Rasa kecewaku itu wajar tapi aku paham bahwa caraku untuk mengungkapkannya salah." Ucap Eunwoo.
Ne, Kihyun adalah sosok yang memberi mereka hukuman untuk merenung di perpustakaan semalaman penuh.
Jangan khawatirkan kebutuhan mereka, karena perpustakaan itu bagaikan sebuah apartemen dengan banyak buku.
Walau ujung-ujungnya Eunwoo dan Dongju hanya berbaring di swing porch sambil bertukar pikiran semalaman.
"Dongju ingin minta maaf ke eomma. Dongju salah." Ucap Dongju yang masih menunduk.
"Nanti oke. Bagaimana kalau kita sekarang pergi buat persiapan Eunwoo besok sekalian jalan-jalan?" Ucap Kihyun.
Eunwoo mengangguk lalu ia menarik pipi Dongju agar dongsaengnya bisa untuk tidak sedih lagi.
Setidaknya ke boutique milik imo Myeongho dan imo Wonwoo serta berjalan-jalan akan membuat suasana hati Eunwoo dan Dongju membaik.
Nyatanya walau sang halmeoni mengatakan 'nanti', Jeonghan dan Seungcheol tidak menampakan batang hidungnya sampai detik ini.
Eunwoo dan Dongju tidak berani bertanya lebih karena Kihyun juga terlihat tidak ingin membicarakan hal tersebut. Sehingga kedua bersaudara itu hanya bisa menjalani malam seperti biasanya.
-o0o-
Dengan pandangan yang melayang Eunwoo menghela nafasnya pelan. Suasana tenang di kolam ini sedikit membuat suasana hatinya membaik.
"Eunwoo!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jeonghan berlari kencang dari parkir basement ke area depan auditorium. Wajahnya terlihat panik dan tolong jangan tanyakan penampilan Jeonghan saat ini yang berantakan.
Rambut Jeonghan yang sudah memanjang hingga punggung diikat satu. Ia menggunakan celana stretch hitam, kaos v-neck putih, dan boot berwarna coklat.
Noda di pipi dan beberapa bagian tubuhnya memang tidak bisa menutupi kecantikannya namun itu membuatnya dilihat oleh orang-orang.
Ia memang terlihat berantakan.
Namja cantik itu memilih diam di depan auditorium yang mana sebagian orang terlihat sudah mulai memasuki auditorium.
Dengan panik Jeonghan mengotak-atik handphonenya dan mencari kontak Eunwoo.
Sedetik kemudian Jeonghan sadar bahwa Eunwoo dan seluruh Diamond Line tidak diperkenankan membawa handphone mereka sendiri sampai mereka lulus sekolah dasar.
"Jisoo, kau tahu dimana Eunwoo?" Tanya Jeonghan ketika sambungan teleponnya ke Jisoo terjawab.
Jeonghan langsung menutup sambungannya lalu kembali berlari menembus kerumunan. Bahkan orang-orang yang ingin menyapanya tidak diacuhkan olehnya.
Langkah kaki Jeonghan membawanya ke bagaian taman belakang.
Ah, itu anak sulungnya sedang terdiam sambil menatap hampa ke arah kolam.
"Eunwoo!"
Panggilan yang menyerempet teriakan itu membuat Eunwoo menolehkan kepalanya.
"Eomma?"
Eunwoo mengucapkan kata itu dengan pelan. Ia seperti siap untuk kecewa jika bukan sang eomma yang memanggilnya.
Grep...
Sebuah pelukan erat diterima Eunwoo.
"Eomma?" Ucap Eunwoo sekali lagi.
"Eunwoo-ya, maafkan eomma ne. Di perjalanan tadi ban mobil eomma pecah jadi eomma harus menggantinya dulu. Maafkan eomma, chagiya..."
Eunwoo terpaku di tempat. Ia terlalu bahagia sang eomma muncul di hadapannya hingga ia tak bisa berkata-kata.
Namun otak jeniusnya bekerja dengan cepat.
Jeonghan memiliki jadwal yang luar biasa padat. Tentu saja Eunwoo tahu. Maka ketika sosok malaikat itu hadir dengan kepanikannya, Eunwoo mengerti bahwa ia sangat berharga untuk Jeonghan.
Jeonghan bisa saja menelepon para Shoot Out atau bengkel langganan Quattuor Coronam. Tapi ia memilih membongkar bannya sendiri tanpa mau menunggu lagi.
Itu sudah membuktikan seberapa paniknya Jeonghan karena telat untuk mendampingi Eunwoo.
Eunwoo tersenyum tipis sebagai balasan namun ekspresinya sedikit menggelap kala melihat mata Jeonghan yang sedikit bengkak.
Ah, eommanya pasti sangat tersakiti.
"Eomma, ikut denganku." Ucap Eunwoo pelan.
Dengan genggaman tangan yang erat, Eunwoo menuntun Jeonghan ke ruang loker.
Mereka sampai di depan pintu loker yang bertuliskan Choi Eunwoo disana. Dengan tak melepaskan genggaman tangannya, Eunwoo membuka pintu itu dengan tangan kirinya.
"Eomma... Mungkin ini tidak seberapa, tapi aku memilihnya sendiri."
Mungkin tidak dengan senyuman dan tawa khas anak kecil. Juga bukan dengan tatapan polos dan ceria. Eunwoo hanya menatap Jeonghan dengan wajah datar dan mata beningnya yang Jeonghan ketahui penuh akan makna.
"Eomma, selamat ulang tahun. Aku mencintai eomma."
Tinggi Eunwoo di umurnnya saat ini sudah mencapai 155 cm. Itulah yang membuat ia dapat dengan mundah mengecup dahi Jeonghan.
Jeonghan memejamkan matanya kala ia menerima ciuman Eunwoo di dahinya.
"Dan mianhamnida... Aku melakukan kesalahan fatal dua hari lalu." Ucap Eunwoo.
Jeonghan tersenyum kecil lalu kini ialah yang mencium dahi Eunwoo.
"Eomma mengerti. Gomawo, Eunwoo-ya..." Ucap Jeonghan sambil memeluk Eunwoo.
Jeonghan menerima kotak cantik berwarna putih dengan pita peach itu.
"Kau ingin eomma membukanya sekarang?" Tanya Jeonghan.
Eunwoo mengangguk singkat sambil tetap menatap eommanya.
Jeonghan membuka tutup kotak itu dan tersenyum, membuat wajah cantiknya berseri.
Terdapat sebuah turtle neck berwarna putih dengan blazer berwarna peach dan juga sepasang boots berwarna putih. Ketika Jeonghan menyentuh sepasang atasan itu, ia dapat merasakan kelembutan bahannya.
"Eomma gunakan sekarang?"
"Kuharap begitu..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jeonghan mengenggam jemari Eunwoo dengan erat. Mereka berjalan bersama masuk ke dalam auditorium.
Kedua pembawa acara sudah terlihat membuka acara walau mereka harus pasrah keberadaan mereka terabaikan oleh kedatangan Jeonghan dan Eunwoo.
Bagaimana mungkin kedua sosok itu tidak menarik perhatian?
"Itu Choi Eunwoo dan Moon Eos Jeonghan. Kalau kau tak tahu, Eunwoo itu calon penerus RED Corporation."
"Wah, Nyonya Besar Choi muncul."
"Cantiknya..."
"Penerus RED Corporation sangat tampan."
"Wowww..."
Jeonghan dan Eunwoo dapat mendengar bisik-bisik tetangga dengan jelas memenuhi auditorium.
Siapa yang tidak terpesona dengan aura yang kedua orang itu miliki? Apalagi dengan Jeonghan yang memilih menggerai rambut panjangnya, membuat kecantikannya meningkat to the next level.
Sepasang ibu dan anak itu dapat melihat para Quattuor Coronam yang menatap mereka sambil tersenyum.
"Kau terlambat, Jeonghanie." Ucap Jisoo kala Jeonghan sudah duduk di sampingnya.
"Mian. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tak terlambat."
"Seungcheol hyung tak bisa hadir?"
Jeonghan melirik ke arah Eunwoo untuk memastikan ekspresi seperti apa yang dikeluarkan anak sulungnya.
Setipis apa pun ekspresi Eunwoo, Jeonghan dapat mengetahuinya bahkan jika Eunwoo hanya diam tak bersuara. Tentu saja karena ia adalah ibunya.
Jeonghan menggeleng ke arah Jisoo menyatakan bahwa Seungcheol tak bisa hadir.
Jisoo yang mengerti hanya mengangguk lalu kembali mendengarkan cuap-cuap MC di atas panggung.
Genggaman tangan Jeonghan mengerat ke Eunwoo. Sang anak yang menyadarinya menatap Jeonghan lalu tersenyum tipis.
Itu senyuman yang mengartikan bahwa Eunwoo mengerti akan kondisi appanya.
Acara berlanjut.
Kini Seokmin selaku pemilik yayasan St. Carat sudah maju ke mimbar untuk memberikan kalimat sambutan.
Sambutannya tidak lama karena tentu saja Seokmin paham bahwa anak-anak akan cepat bosan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari kepala sekolah St. Carat Elementary School of Seoul ini.
"Wuooo..."
"Wah..."
"Bukankah itu?"
"Wow..."
Keributan mulai terdengar dari arah belakang yang semakin lama malah semakin besar.
Mau tidak mau, Jeonghan dan Eunwoo beserta Quattuor Coronam yang lain juga menengok ke belakang.
Tahu ekspresi apa yang ditunjukan oleh sepasang ibu dan anak itu?
Tatapan tidak percaya lah yang ditunjukan oleh mereka berdua.
Pemimpin RED Corporation.
Suami dari Moon Eos Jeonghan.
Ayah dari Choi Eunwoo dan Choi Dongju.
Namja tampan itu berjalan dengan aura gagah nan penuh wibawa. Dengan suit dark grey yang sangat pas di badan tegapnya juga rambutnya yang ditata ke belakang menampilkan jidatnya, siapa yang dapat menolak sosok Choi Seungcheol itu.
Yang lebih membuat Jeonghan dan Eunwoo kaget bahwa Seungcheol mengandeng Donju di tangan kanannya.
Dongju terlihat tersenyum cerah dengan kemeja biru muda bercorak lucu.
Kepala sekolah yang ada di atas sana mencoba melanjutkan sambutannya walau seluruh hadirin terfokuskan ke sosok gagah itu.
"Appa?" Ucap Eunwoo kala Seungcheol sudah sampai ke tempat duduknya dan duduk di kursi sebelah kanan Eunwoo.
Dongju sendiri langsung duduk di pangkuan Jeonghan sambil memeluk eommanya itu dengan erat.
Jeonghan bisa mendengar bisikan permohonan maaf Dongju yang masih memeluknya.
Seungcheol mencium puncak kepala Eunwoo sambil tersenyum. Tak tahukah senyumannya itu membuat suasana auditorium menjadi panas.
"Kau datang, Seungcheolie..." Ucap Jeonghan.
Seungcheol mengangguk sambil mengelus surai Jeonghan yang ada di kiri Eunwoo.
"Aku meminta appa untuk menggantikanku di rapat." Kata Seungcheol.
Di otak Eunwoo sekarang terpikirkan satu alur. Seungcheol telat padahal haraboejinya sudah bisa menggantikan.
Melihat sekelebat ekspresi berpikir di wajah Eunwoo membuat Jeonghan terseyum.
"Rapat dengan siapa?" Tanya Jeonghan.
"Aku sudah berusaha untuk tidak menjelaskan lebih lagi, aigoo. Cluenya 'Ratu'. Tak usah dibahas oke, ayo fokus ke depan." Kata Seungcheol.
Eunwoo diam-diam tersenyum kecil kala kedua tangannya digenggam oleh Jeonghan dan Seungcheol. Ini adalah momen yang sangat ia idam-idamkan dan Eunwoo mendapatkannya saat ini.
Apalagi ditemani Dongju membuat Eunwoo merasa sebuah kehangatan keluarga.
"... Mari kita dengarkan sambutan dari lulusan terbaik St. Carat Elementary School of Seoul tahun ini! Dengan nomer siswa 171306, Choi Eunwoo..."
Seluruh auditorium menyambut meriah atas pencapaian seorang Choi Eunwoo. Tepuk tangan bergemuruh dan siulan berkumandang.
Eunwoo menatap kedua orang tuanya sambil tersenyum kecil. Pandangan Jeonghan dan Seungcheol ke dirinya pun penuh dengan rasa bangga dan sayang.
Pandangan Eunwoo jatuh ke dongsaengnya yang bertepuk tangan heboh sambil tersenyum lebar.
Ahh... Ia bahagia sekali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Anak kita sudah sebesar itu sekarang, Jeonghanie." Ucap Seungcheol sambil merangkul pundak Jeonghan.
Mereka berdiam diri di taman belakang mansion di malam hari ini.
Eunwoo dan Dongju tentu saja sudah tidur karena jam telah menunjukan pukul 23.00.
Pasangan ini tengah merayakan ulang tahun Jeonghan hanya berdua di taman belakang dengan acara makan malam romantis yang mereka lanjutkan dengan bincang-bincang kecil di pinggir kolam.
Dari pagi tadi, Jeonghan dan Seungcheol belum melepas pakaian mereka. Karena setelah acara kelulusan Eunwoo ada perayaan bersama Quattuor Coronam dan mereka baru sampai di mansion pukul sembilan malam.
"Aku sudah berusaha mengejar segala pekerjaanku walau akhirnya aku tetap telat datang." Ucap Seungcheol.
Jeonghan tersenyum lalu menepuk pundak Seungcheol.
"Kau sudah berusaha keras. Gomawo..." Kata Jeonghan.
"Ingat pembicaraan kita kemarin? Yang kau mengatakan bahwa seperti tak mengenal Eunwoo dan Dongju?"
Sebuah anggukan kecil Jeonghan berikan.
"Jeonghanie... Eunwoo dan Dongju yang kau lihat tempo hari bukannya tidak kau kenal. Namun itu adalah sisi mereka yang bagaikan bom waktu. Sepertinya aku juga terlalu sibuk, ne."
Setelah Kihyun membuat Eunwoo dan Dongju memasuki perpustakaan, Jeonghan langsung pergi menemui Seungcheol di kantor.
Ia menangis kencang meluapkan kesedihannya, meluapkan kekecewaannya terhadap dirinya sendiri. Jeonghan merasa ia telah gagal menjadi orang tua.
Ketika tangis itu berhenti, ia tertidur karena kelelahan di ranjang yang ada di ruang kerja Seungcheol.
Keesokan paginya, Jeonghan masih dalam suasana hati yang buruk. Dengan air mata yang mengalir Jeonghan menceritakan apa yang terjadi.
Dari perbincangan selama berjam-jam itu akhirnya Seungcheol memutuskan bahwa Jeonghan tidak boleh lagi turun langsung untuk urusan Angelus Café ataupun dunia belakang RED Corporation.
Karena itulah seharian penuh Jeonghan mengurus segala sesuatu yang dapat membantu situasi dan kondisinya.
Hal itu jugalah yang menyebabkan Jeonghan telat ke acara kelulusan Eunwoo.
"Aku selalu berpikir bahwa asalkan kebutuhan Eunwoo dan Dongju terpenuhi maka semuanya baik-baik saja. Tapi ternyata keberadaan kita di samping merekalah yang utama. Aku akan mencoba untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi."
"Ne. Aku juga akan berusaha lebih keras, Seungcheolie. Karena mereka anugrah yang luar biasa untukku."
Seungcheol tersenyum kecil sambil membawa wajah Jeonghan mendekat ke arahnya. Sebuah ciuman lembut dirasakan oleh bibir Jeonghan.
Setelah tautan terputus, Seungcheol dan Jeonghan sama-sama tersenyum. Mereka saling mengagumi ciptaan Tuhan yang ada di hadapan mereka.
Menjadi orang tua tidaklah mudah. Mereka harus tetap belajar untuk menjadi lebih baik untuk anak-anak mereka. Harus tetap menganalisa dan menjadi rumah untuk berpulang bagi sang buah hati.
"Selamat ulang tahun, yeobo. Saranghae..."
"Gomawo Seungcheol. Untuk segalanya..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Damanic's Talk
Ini sebenarnya terinspirasi dari kisah temenku sendiri. Tapi kisah itu adalah versi belum nemu penyelesaiannya.
Btw, harusnya part ini di up kemarin kan, cuma aku lupa :v Maapkan hahahaha...
Udah gini doang talk nya. See u guys~
