Drabble: Daichi dan Shoyo

Daichi menatap bocah jingga itu. Badan kecilnya lengket dan beberapa bagian tubuhnya cokelat berdaki ada jua yang memar dan lebam. Entah kapan terakhir kali bocah ini mandi, pikir Daichi. Mata cokelat itu sayu dan ia memeluk lututnya sendiri dengan ketakutan. Diduga Daichi bocah itu baru berumur empat atau lima tahun.

Detektif muda itu berjongkok, tepat di depan si jingga yang tubuh telanjangnga gemetaran karena dingin dan ia menatap arah lain. "Kau tidak apa-apa?"

Tak ada jawaban. Bibir bocah itu kering dan terluka. Ada warna ungu di rahang dan pelipisnya. Matanya, dilihat Daichi dari dekat, begitu cekung dan serupa ikan mati. Daichi mengulurkan tangannya, mencoba meraih kepala jingga itu dan mengelusnya sebelum bocah itu tersentak ketakutan dan membelalak terkejut. Sikapnya berubah waspada, tangannya terangkat menutupi kepalanya, gesture melindungi tubuhnya dari berbagai hal tak terduga yang menyakiti. Mendadak hati Daichi tercubit, perih.

"Tidak apa-apa. Kau aman sekarang, oke?"

Mata cokelat yang tadinya terpejam dengan ketakutan itu memberanikan diri mengintip kala tak diterimanya apa yang ia takuti. Daichi memberikan senyuman tipis dan mengulurkan tangannya, "Paman adalah polisi. Tahu polisi? Yang menangkap orang jahat."

Tak ada jawaban. Tangan kurus yang semula menutupi kepalanya itu perlahan-lahan turun meski tak menghilangkan kewaspadaan.

"Sawamura." Daichi menoleh pada Kuroo yang datang padanya. Pemuda itu menggeleng dan katanya, "Buronan berhasil kabur. Tapi ada banyak kokain dan bukti kuat lain yang tertinggal di dapur."

Kuroo dilihat Daichi tercenung menatap si jingga yang membeku di sudut kamar mandi. Bisiknya, "Anak itu-"

"Anak pelaku, kuduga. Dia sudah ada di sini sejak tadi."

Kuroo terdiam. Matanya mengawasi, "Lebih baik dia diperiksa. Tinggal di rumah seperti ini bukan tidak mungkin dia diberi makan narkoba jua oleh orang tuanya."

"Aku yang akan mengurusnya." Daichi berkata lembut. Dia tersenyum tipis pada si jingga. "Paman boleh tahu namamu?"

Kini tatap itu bingung melihat Daichi. Untuk kali pertama detektif itu mendengar suara kecil, lemah, dan bergetar itu saat si bocah berkata, "Nama?"

"Bagaimana kau dipanggil."

Si jingga menoleh pada Kuroo yang kini meninggalkan mereka berdua kembali. Mata cokelatnya lama dan sayu menatap Daichi sebelum dia menjawab, "Bangsat."

Daichi terdiam. Senyumannya tak ada tapi tangannya pelan-pelan mendekati kepala berambut jingga itu. Mengelusnya pelan dan lembut. "Kalau begitu, namamu adalah Shoyo. Sekarang kau dipanggil Shoyo. Jika ada yang bertanya namamu, kau beritahu bahwa namamu Shoyo."

Si jingga terdiam. Kehangatan asing itu terasa aneh baginya. Terlebih ketika tahu ada seseorang yang memberikan sesuatu yang bisa si jingga klaim sebagai miliknya seorang. Sebuah nama. Shoyo. Suatu keistimewaan yang sewajarnya dimiliki orang lain, tapi tidak dengannya sebelum kali ini. Keistimewaan yang terasa mewah. Sebuah nama untuk dirinya sendiri.

Si jingga tiba-tiba menangis. Kencang dan nyaring. Tidak seperti tangisannya di masa lalu yang selalu dia lakukan diam-diam agar botol bir tak melayang ke kepalanya. Tangisan itu bukan kesedihan, tapi haru yang menjalar di sekujur tubuhnya kala Daichi memeluknya dan mengangkatnya dengan kehangatan seorang ayah yang tak pernah dirasanya.

.

.

.

"Aku ingin mengadopsinya." Daichi tersenyum tipis. Dibuangnya puntung rokok yang sudah habis apinya ke asbak. "Koshi juga setuju dan aku tahu dia sangat menyayangi Shoyo."

"Tidak tidak tidak, Sawamura-kun. Aku dan Akaashi yang duluan berencana mengadopsi Shoyo. Kau jangan ikut-ikut." Bokuto melotot pada rekan kerjanya itu. Mata emasnya tajam menusuk mata cokelat si hitam yang tak mau kalah.

"Oh ya, Bokuto? Aku yang bertemu dengan Shoyo pertama kali dan aku yang menyelamatkannya, kau ingat? Aku lebih berhak menjadi orang tua Shoyo. Lagipula, kau itu jiwanya belum dewasa belum pantas menjadi orang tua."

"Apa katamu? Aku dan Akaashi sudah menikah dua tahun dan aku sudah lebih dari siap untuk menjadi seorang ayah, tahu!"

Kuroo menatap dua kawannya yang mulai berdebat sengit dalam diam sebelum dicoleknya kekasihnya-si polisi lalu lintas, Tsukishima Kei-dan berbisik, "Kita akan buat anak sendiri, ya? Tidak perlu mengadopsi anak."

Tatap itu malas ke arah si hitam jabrik. "Kau lupa bahwa kau itu gay dan kau senggama di lubang dubur siapapun takkan membuatmu memiliki anak kandung, Tuan Yang Tidak Bisa Ereksi Di Vagina."