disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.
Kadang-kadang Chi bermimpi dalam tidurnya. Di beberapa kali kesempatan, sosok familier muncul, memberinya kehangatan yang seolah menjerat Chi dalam dunia mimpi. Bahkan di beberapa mimpi bersama figur itu, ada dua rupa yang mirip dengan Ann dan Telly, tidur bersama dengan dirinya terhimpit di tengah-tengah.
Sayang sekali, ketika terbangun, Chi nyaris tidak mengingat apa pun dari sekian lama durasi tidurnya. Terlebih lagi jika Chi langsung dihadapkan makanan dan susu dari pasangan suami-istri Yamada, ataupun diajak bermain oleh putra kecil mereka yang bernama Youhei. Chi baru akan mengingatnya kembali saat dia tidur dan mendapatkan mimpi yang sama, itu pun tidak sesempurna yang sebelumnya, kemudian terlupa lagi begitu sadar.
Begitu terus, berulang-ulang, hingga Chi mulai melupakan sosok yang selalu memberikan kenyamanan untuknya dengan menjilati punggung kecilnya. Yang pada awalnya Chi terus menyebutnya dengan sebuah panggilan, selanjutnya berangsur-angsur terdengar samar, hingga akhirnya Chi tahu dia membuka mulutnya untuk memanggil sosok itu, tetapi Chi tidak tahu dan tidak mendengar apa yang dikatakannya. Di dunia mimpi itu, pergerakannya sama sekali tak bisa dikontrol.
Chi tidak mengingat apa pun, setidaknya sampai pada detik ini.
Youhei bersama kedua orangtuanya datang ke taman bermain. Chi yang sedang mengikuti pertemuan—pesta—terpaksa pamit dengan Kuroino. Anak kucing itu berlari mencapai Youhei yang telah berjongkok, mengulurkan kedua tangannya menyambut Chi.
Di saat itulah Chi melihat sosok itu lagi, bersama seseorang yang terlihat mirip dengan Okaa-san-nya. Chi memandang lekat sosok yang kali ini muncul di hadapannya sendiri, bukan dalam bunga tidurnya seperti biasa. Di sisi lain, para manusia—yang terdiri dari tiga anggota Yamada dan seorang wanita—saling berbicara satu sama lain. Suara mereka tetap terdengar meski Chi tidak memahaminya, fokusnya sekarang terarah pada sosok yang perlahan mulai mendekat.
Pada akhirnya, Chi mampu mengucapkan satu kata itu, satu nama panggilan yang sudah lama terbenam dalam ingatannya, terlupakan.
"Mama ...!"
Setelahnya, Chi menangis.
"Ah, kita pernah bertemu di rumah sakit hewan, benar bukan?" tanya si perempuan paruh baya. Gesturnya ramah sekali. "Kita bertemu lagi."
"Miwa-san, inilah wanita yang pernah kuceritakan saat aku membawa Chi ke rumah sakit hewan," tutur Kento memperjelas identitas. Dia pun membungkuk sopan setelahnya. "Terima kasih untuk tempo hari waktu itu."
"Sama-sama—"
Tangisan Chi menginterupsi. Kucing dewasa yang menghampirinya tak bosan-bosannya mengusap wajah Chi dengan lidahnya. Chi seperti menemukan kembali sesuatu yang sangat berharga. Chi mengingatnya sekarang!
"Maafkan aku. Mungkin kucingku berpikir kucing Anda adalah anaknya, Sarah." Sang wanita tersenyum tidak enak. "Beberapa waktu lalu, dia pernah kehilangan salah satu dari tiga anaknya dan selalu bersedih sampai sekarang. Meski kami bertemu banyak anak kucing yang mirip dengan anaknya, Mary tidak pernah seperti ini."
"Sebenarnya, kami memelihara Chi karena menemukannya tersesat di sebuah taman," ungkap Kento. "Jadi, mungkin saja ... mungkin saja ...—"
"Otou-san," panggil Youhei menyela. "Otou-san, apakah kucing itu adalah mamanya Chi?"
Sebagai orang yang sangat menyayangi dan sudah berbagi suka-duka dengan Chi, Kento sangat sulit menerima dugaan yang baru saja disebutkan Youhei. Miwa sendiri hanya diam sambil memeluk Youhei dari belakang, memberi tatapan sedih ke arah Chi dan Mary, si kucing dewasa.
"Ya, kucing itu adalah mama Chi, Youhei," jawab Miwa pada akhirnya.
Kento buru-buru menyela, "Tapi, Miwa-san—!"
"Kento-kun, aku adalah seorang ibu. Mungkin kasusnya berbeda, tapi aku bisa merasakannya," terang Miwa. "Terpisah dengan anak itu sangat menyakitkan. Bisa bertemu lagi adalah sebuah keajaiban yang menggembirakan."
"Kau benar, Miwa-san." Kento mengangguk paham. Semakin lama melihat Chi bersama ibunya, Kento merasa semakin iba. Hatinya seperti dipecut cemeti berkali-kali kemudian dicabik-cabik—perih. "Chi, aku senang kau bisa bertemu dengan ibumu lagi."
Youhei menyahut dengan suara bergetar, "Apa itu berarti ... Chi tidak akan tinggal dengan kita lagi?"
Hening menjemput.
Ann dan Telly berlari menuju mama mereka begitu melihatnya datang. Ada Cocchi yang juga mengikuti dari belakang. Mereka berhenti melangkah—kira-kira berjarak lima langkah kaki anak kucing—begitu melihat Chi yang diperlakukan penuh sayang.
"Mama? Chi?" panggil Ann. "Mama dan Chi kenapa menangis?"
"Ann, Telly." Chi masih menggosokkan bagian kepalanya pada bagian tengkuk Mary. "Mungkin kalian tidak mengingatnya, tapi dulu kalian memiliki satu saudara perempuan yang menghilang."
"S-Saudara perempuan?" Telly menyambut pertanyaan mamanya dengan nada gelagapan. "Um. Tentu kami ingat!"
"Sarah ...," lirih Ann sedih.
"Tunggu!" Cocchi menginterupsi. "Kalau begitu, Chi—"
"Jadi sekarang namanya Chi?" Mary menjilati puncak kepala Chi untuk yang kesekian kalinya. "Dia Sarah. Mama yakin itu."
"Chi ... Sarah?" Ann dan Telly saling melempar tatapan satu sama lain. Kebahagiaan jelas meledak di antara mereka. "Sarah!"
Ann dan Telly menerjang Chi. Keempatnya berbagi pelukan yang hangat bersama. Cocchi membuang muka, pura-pura tidak menyaksikan. Sebenarnya, Cocchi berusaha menahan air matanya yang ingin tumpah.
Inikah sosok Mama yang sering Ann dan Telly bicarakan? Inikah sosok Mama yang hangat dan terlihat bercahaya? Inikah sosok Mama yang sangat mencintai teman-temannya? Inikah sosok Mama ... yang tidak dia miliki?
Kenapa rasanya sakit dan bahagia di saat yang sama? Kenapa Cocchi teringat sesuatu yang menyakitkan? Kenapa ingatannya membawa Cocchi pada masa lalu, di sebuah kotak yang dingin, di mana hanya ada dia bersama adik laki-lakinya yang kini sudah memiliki keluarga baru yang baik, sementara dia masih dan harus berjuang sendirian menghadapi alam yang kejam, menghindari cambukan manusia dan juga realita yang pahit?
Cocchi menunduk, kemudian beralih memandang ketiga temannya bersama ibu mereka. Mungkin ... dia memang tidak memiliki keluarga.
"Chi senang bertemu dengan Mama. Chi senang sekali. Huk huk," isak Chi yang kini dikelilingi Mary bersama Ann dan juga Telly. "Chi ingat sekarang. Chi pernah mencari Mama dan rumah. Chi tidak menemukan Mama dan rumah. Chi lupa dengan Mama dan rumah. Chi ... Chi ... huk huk huk …."
"Sejak awal, kami merasa seperti sudah mengenalmu!" seru Ann. "Aku ... aku tidak menyangka ... ini benar-benar Sarah!"
"Ini Sarah! Ini Sarah!" raung Telly.
"Mama tak tahu kalau Mama bisa bertemu denganmu lagi, Sarah. Mama tak tahu ... kita bisa berkumpul lagi seperti sekarang." Mary membelai kepala ketiga anaknya bergantian dengan salah satu telapak kaki depannya. Lembut dan manis. Sementara itu, satu telapak kakinya yang lain melambai ke arah Cocchi. "Kamu, kemarilah."
Cocchi mengerjap bingung. Meski dia kelabakan, namun Cocchi tetap datang mendekat. "A-Aku?"
"Dia Cocchi," ujar Chi memperkenalkan Cocchi. "Dia teman baik Chi!"
"Ya, Cocchi teman baik kami!" seru dua saudara Chi kompak.
Mary pun mengelus kepala Cocchi sama seperti yang dia lakukan pada Chi, Ann, dan Telly. "Terima kasih sudah menjadi teman baik anak-anakku, Cocchi. Aku tahu, kamu akan tumbuh menjadi kucing yang baik dan hebat."
Cocchi bereaksi salah tingkah. "K-Keh! Te-Tentu saja!"
"Apa kamu hidup sendirian, Cocchi?" Karena Cocchi tidak menjawab, Mary memilih menjelaskan alasannya bertanya seperti itu. "Kalau kamu mau, kamu bisa memanggilku Mama. Aku sendiri tidak keberatan."
"Ma-Mama?" Cocchi mengangguk patah-patah. "Ji-Jika boleh ... baiklah ... um …."
Dengan semangat menggebu-gebu, Telly berjalan ke arah Cocchi dan beradu pipi dengannya. Chi dan Ann ikut mendekat dan tersenyum lebar.
"Bersaudara dengan Cocchi!" Chi berseru. "Chi bertemu Mama lagi! Senangnyaaaa!"
Siapa yang menyangka, keputusan Ann dan Telly untuk mengikuti pesta berkedok pertemuan para kucing di taman malam ini, benar-benar mempertemukan mereka yang telah lama terpisah, sekaligus esensi persaudaraan yang nyaris menghilang?
tamat
~himmedelweiss 30/08/2020
