Title : Tears in the Thorn
Author : Elle Riyuu
Main Cast : Chanbaek
Genre : Romance, hurt/comfort
Rate : M
Summary : Dia selalu sendirian lalu mereka mengambilnya untuk memanfaatkan dan menyakitinya, ia tidak lebih dari sebuah boneka. Hingga cinta datang dan ia terlalu canggung untuk menghadapinya. Karena pria yang berada dalam lingkaran cintanya tidak jauh berbeda dari mereka.
*
*
[CHAPTER 39]
*
*
*
Angin berhembus dengan lembut membelai kulit wajahnya. Suasana ini bukan suasana yang asing. Kesunyian ini bukan bentuk dari sebuah ketenangan. Tempat ini, tempat terindah yang paling ia takuti. Tempat yang paling ia hindari, padang bunga daisy.
"Oh, tidak." Chanyeol menggumam dalam keputusasaan. Ia tidak ingin ini, mimpi buruk yang indah ini.
Chanyeol mencoba berjalan, berlari menyusuri bunga-bunga yang tidak pernah tampak mati itu. Tidak ada jalan keluar, ia hanya kembali ketempat itu lagi dan lagi. Sekeras apapun ia mencoba, ia akan kembali menginjak tanah yang sama.
"Tidak pernah ada jalan keluar." Chanyeol kembali menggumam. Sebenarnya ia sadar kalau ini hanyalah mimpi yang telah terbiasa bertamu saat malam menyapa, harusnya ia terbiasa.
Mimpi ini adalah sebuah tali penghubung rasa rindunya pada sang kekasih. Mimpi yang muncul sejak saat pertama ia merefleksikan jiwa istrinya yang penuh kebaikan. Dulu mimpi ini yang membuatnya kuat dan terbangun, namun kali ini mimpi ini membuatnya melemah. Tapi pikirannya terintrupsi saat ia mendengar gesekan kasar bunga-bunga daisy di belakang tubuhnya. Itu bukan karena tiupan angin. Bunyi itu terlalu kasar dan Chanyeol tahu apa yang terjadi jika ia segera membalikkan tubuhnya, mungkin Baekhyun berdiri di sana dengan senyuman yang paling ia rindukan.
"Chanyeol." Benar, itu suara istrinya. Chanyeol reflek memutar tubuhnya meski ia sebenarnya enggan. Hanya saja wadah perasaannya sudah berisi rindu yang menggenang hingga ia bergerak secara naluriah untuk memandang wajah yang setiap saat mengusik arus kehidupannya.
Chanyeol terdiam dengan mata yang memandang istrinya lekat. Baekhyun terlihat berkali lipat lebih cantik dibanding mimpinya yang lain. Mungkin karena Chanyeol yang selalu berusaha untuk tidak lagi membiarkan mimpi yang sama bertandang padanya. Ia selalu mencegahnya meski tidak memiliki waktu tidur yang cukup adalah resiko yang ia terima. Kewarasannya mulai terganggu dan fisiknya juga melemah, tapi ia selalu menahannya untuk menjadi pria versi terbaik untuk istrinya.
"Baekhyun." Chanyeol menggumamkan nama istrinya. Ia seperti tidak memercayai apa yang matanya sendiri lihat. Ia menyebut perasaannya dengan rindu yang mendalam meski ia tahu kalau perasaan itu bernama merana.
Baekhyun yang cantik, ia yang tersenyum terlihat selalu menggoda Chanyeol untuk disentuh. Chanyeol tahu ia tidak boleh memanjakan diri dengan menikmatinya, tapi ia yang bodoh pasti akan melakukannya. Ia tidak pandai dengan segala sesuatu yang seperti menolak kehadiran istrinya.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" Suara lembut itu menanyai kabarnya, seraya dengan tubuhnya yang juga mendekat.
"Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat, aku baik." Sedangkan Chanyeol berusaha menjawab sebaik mungkin. Sebenarnya ia hampir berkata jujur bahwa ia tidak baik karena tanpa sisi satu sama lain. Tapi ia tidak ingin menyalahkan semua pilihan Baekhyun saat itu.
"Aku merasa lega saat kau baik-baik saja tanpa diriku." Sahutan yang Baekhyun berikan langsung hati Chanyeol bantah dengan mentah. Ia tidak baik-baik saja, nyatanya ia meradang tanpa merasakan napas Baekhyun di permukaan kulitnya.
Sunyi mengambang di udara, hanya bunyi desiran gesekan bunga daisy yang terdengar. Chanyeol tengah berperang dengan batinnya, menahan dirinya sendiri untuk berkata dengan jujur. Bagaimana bisa ia baik-baik saja? Sementara hatinya berkarat karena rindu yang selalu menggenang.
"Aku merindukanmu." Akhirnya ia memilih untuk jujur. Suara itu mengalun dalam bisik karena ia tidak memiliki keberanian lebih untuk berbicara. Cukup dengan kekuatan itu, ia sudah tahu kalau Baekhyun telah mendengar semua yang ia katakan.
"Kau merindukanku begitu banyak? Kau terlihat menderita saat mengatakan itu." Senyum yang Baekhyun berikan menyiratkan makna yang tidak Chanyeol pahami.
"Begitu banyak, begitu dalam sampai terasa menyakitkan." Tapi Chanyeol mengatakan yang sejujurnya, ia tidak lagi mampu untuk menahannya. Biarlah sekali ini saja Baekhyun melihat ia yang melemah.
"Aku juga merindukanmu, sangat." Baekhyun memberikan sahutan yang tidak begitu Chanyeol kira. Terlebih Baekhyun meraihnya dan memberikan sebuah pelukan. Chanyeol tidak pernah menyangka kalau mimpi yang paling ia takuti dapat memberikan ketenangan seperti ini. Kini ia menyadari kalau bukan hanya dirinya yang sekarat karena merindu, ia tidak merasakan penderitaan yang sepihak.
"Lalu kenapa kau meninggalkanku?" Chanyeol bertanya dengan suara tanpa tututan. Ia hanya sekedar bertanya dengan indra penciuman yang sibuk menyesap harum tubuh orang yang dicintainya.
"Terkadang kita memerlukan waktu untuk mengambil peran dalam panggung takdir kehidupan kita. Kau dan aku memiliki jam pasir yang perlu jeda untuk kembali mengalir. Kita tidak bisa egois mempertahankan cinta ini sementara kita tertatih untuk mengikhlaskan karena luka yang masih menganga. Hatimu dan hatiku juga perlu waktu untuk pulih, biarkan mereka beristirahat untuk nanti kembali berjuang mengarungi gelombang kisah cinta yang penuh pasang surut. Setelah itu aku dan kau akan kembali siap untuk sekali lagi menjadi kita." Baekhyun mengucapkan untaian kalimat itu dengan ketenangan. Sementara Chanyeol dikejutkan karena bunyi kata-kata indah yang terdengar seperti lirik lagu paling romantis.
"Aku dan kau yang sekali lagi menjadi kita. Aku menyukai kata-kata itu, aku akan menunggu hingga kau sendiri meminta pulang." Pria dengan suara berat itu juga menyahut dengan bunyi yang romantis.
"Pulangku adalah kau, oleh karena itu bersabarlah. Jika aku merasa telah cukup siap, aku akan pulang. Aku akan kembali menggantungkan bintang harapanku padamu dan akan kugenggang bintang harapanmu di tanganku. Aku akan kembali, tidak akan lama lagi." Baekhyun menarik tubuhnya menjauh lalu menatap Chanyeol dengan penuh cinta. Ia menarik tengkuk Chanyeol mendekat lalu mencium sebentar pipinya. Pria manis itu tersenyum kembali pada Chanyeol yang membalasnya dengan senyum tak kalah indah lalu berbalik untuk berjalan menjauh.
Chanyeol tidak menahan pergerakan istrinya. Kata-kata yang istrinya sampaikan telah membuatnya lebih tenang untuk menunggu sedikit lebih lama. Tugasnya hanya menunggu dan melapangkan hatinya untuk menjadi seorang yang lebih baik. Baekhyun mengatakan tidak lama lagi mereka akan bertemu, maka Chanyeol memilih untuk percaya. Baekhyun adalah orang terjujur yang pernah Chanyeol temui, maka tidak lama lagi rasa merindu dari orang pengecut ini akan berlabuh di dermaganya.
.
.
.
Tubuh dominan itu terlihat lemas bersandar pada sebuah kursi di ruangan yang kumuh. Ia terikat oleh seutas tali tambang yang kasar. Posisi tubuhnya terlihat benar-benar tidak nyaman. Sementara orang-orang di sana hanya memandangnya dan menunjukkan wajah yang tenang.
"Seberapa banyak dosis obat bius yang kau berikan?" Seseorang yang terlihat sebagai seorang dominan bertanya pada seorang submisif di sana. Nada suaranya mulai terdengar tidak sabar.
"Bukan aku yang memberikannya, aku meminta dokter pribadiku. Kenapa kau tidak bersabar sedikit?" Submisif itu menyahut dengan kesal.
"Kyungsoo, aku ke sini tidak untuk membuang banyak waktu. Jika aku tahu akan jadi sebegini terlambat, aku akan menunda untuk datang lebih dulu." Tapi sang dominan menyahut tidak kalah kesal. Ia memiliki banyak hal yang ingin ia jadikan pencapaian hingga menunggu seperti ini benar-benar terasa tidak berguna.
"Lalu apa? Bukankah ini adalah apa yang juga kau tunggu, Kai? Kau ingin melihat dia menjadi tidak berdaya tapi menolak saat aku menunjukkannya padamu. Kau perlu waktu lebih dari seumur hidupmu untuk melihatnya tidak berdaya hingga kehilangan kesadaran di depan wajahmu seperti ini." Kyungsoo akhirnya mengatakan kalimat itu dengan kesan kesal yang tidak terdengar sekental tadi. Jika Jongin ingin melihat sisi Chanyeol yang lemah seperti ini maka ia harus tinggal.
Jongin terdiam saat perkataan Kyungsoo terserap di pikirannya dan berhasil membuatnya merasa setengah setuju. Ia akan membayar lebih mahal dari ini untuk melihat ketidakberdayaan Chanyeol jika ia tidak datang. Ia tidak berbicara mengenai uang, tapi mengenai kesempatan yang tepat. Ia akui Kyungsoo cukup hebat dalam menentukan waktu untuk menggerakkan pionnya. Ia cerdas dengan membiarkan pria itu lengah dan terlalu terbuai oleh ketenangan. Hingga saat ia menemukan kesempatan, ia menyerang tanpa ampun. Jongin mulai berpikir kalau Kyungsoo adalah submisif yang mengerikan dan ia rasa ia menyukai sisi kejam submisif itu. Tidak banyak submisif yang berani mengambil sikap sejauh itu, hanya Kyungsoo submisif pertama yang ia temui dengan sikap itu.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya? Kurasa kau tidak hanya ingin menunjukkan sisi lemahnya padaku. Kau memiliki rencana yang lebih dari itu." Untuk saat ini Jongin akan mencoba membiarkan submisif itu menjalankan apa yang ia rencanakan selama itu tidak merugikan dirinya.
"Mempermalukannya? Membunuh sisa-sisa dari kesombongannya." Amarah dari dendam tertahan memancar dari mata bulat itu. Ia pendendam yang bergerak penuh keanggunan.
"Bukankah kau mencintainya?" Jongin mencoba bertanya, kalau saja ia menjadi goyah. Kyungsoo boleh saja tampak kuat, tapi ia masih seorang submisif.
"Cinta yang menggigit tuan yang membesarkannya harus menerima hukuman. Ia memanfaatkan cinta yang aku berikan padanya lalu membuangku saat ia mendapatkan orang yang bahkan lebih buruk dariku. Ia tidak hanya mengkhianatiku, tapi juga merendahkanku. Ia pantas mendapatkan balasan dari tingkah cerobohnya sendiri." Seperti yang diharapkan dari seorang putra submisif Do, cinta tidak melemahkannya. Jika cinta yang ia besarkan menggigitnya, ia siap membunuh cinta itu bersama sisa harga diri orang yang dicintainya.
"Kau lebih dari 'sekedar seorang submisif' seperti yang selalu orang-orang katakan. Tidak ada yang bisa menghapus kekejian dan dendam dari darah Do yang mengalir padamu." Jongin berkata penuh kepuasan, memberikan pujian yang tidak biasa ia berikan pada seorang submisif.
"Setidaknya identitas terburuk dari Do membuatku tetap disegani meskipun aku seorang submisif. Hanya saja dominan Park ini berani bermain-main denganku. Aku membawamu ikut serta karena aku tahu rasa dendam pada Park ini juga mengalir di darahmu." Kyungsoo terlihat tenang meskipun membicarakan tentang pandangan buruk orang-orang terhadap keluarganya.
"Kau benar. Aku selalu memiliki rasa dengki padanya yang mendapatkan hal-hal yang selalu ia inginkan. Ia tidak pantas mendapatkannya, seseorang sepertinya seharusnya menderita. Aku selalu berusaha untuk merebut apapun yang ia miliki, merusak kehidupannya dan membunuhnya dengan perlahan." Jongin menyahut lalu terkekeh kecil. Kepalanya mulai terisi dengan gambaran-gambaran menyedihkan Chanyeol yang memohon padanya di sisa napas terakhirnya.
"Aku berencana mempermalukannya, melecehkannya di hadapan istrinya." Kyungsoo juga ikut tertawa, terdengar puas. Meski sedikit rasa sakit mencubit hatinya, tapi ia malah membuat rasa itu sebagai cambuk untuk terus melanjutkan apa yang sudah ia mulai.
"Kau mengundang Baekhyun kemari? Apa yang akan kau lakukan?" Jongin berujar tidak percaya.
"Ya, agar ia melihat bagaimana pria yang ia cintai dilecehkan di depan wajahnya. Aku akan melihatnya menangis tidak berdaya hingga aku menyelesaikan semuanya. Lalu ia akan mati dengan sendirinya karena tanggungan dari rasa cinta yang menjijikkan. Ia lemah sehingga konsep mencintai sampai mati akan benar-benar menancap di dalam dirinya. Oleh karena itu membunuhnya tidak akan terlalu sulit." Nada suara dalam kalimat-kalimat itu terdengar ringan, seakan ia tidak sedang membicarakan tentang rencana kehancuran hidup orang lain.
"Kyungsoo, kau benar-benar tidak tertebak. Kau submisif yang mengerikan." Jongin menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. Tapi percaya atau tidak, ia merasa senang.
Mendapatkan dua tujuan dengan sebuah strategi adalah tujuan mereka. Menghancurkan kehidupan orang lain adalah kesenangan bagi mereka. Karena mereka berbeda, mereka terdiri dari jiwa-jiwa yang kelam. Mereka terlihat tenang namun memiliki bayangan tergelap yang akan menenggelamkan siapa saja yang meremehkan mereka dalam kegelapan.
.
.
.
Tubuh dominan yang terikat itu kini nampak mulai bergerak. Matanya terbuka perlahan dan manik hitamnya menggambarkan kebingungan. Keningnya yang berkerut semakin menggambarkan apa yang ia rasakan.
"Kyungsoo?" Ia menggumam nama itu dengan bisikan. Kepalanya masih terasa pening, tapi ia dapat melihat Kyungsoo dengan cukup jelas.
"Akhirnya kau bangun, Phoenix. Kau memerlukan waktu lama untuk bangun, itu seperti bukan dirimu." Suara Kyungsoo terdengar mencemooh.
Mata Chanyeol melebar mendengar panggilan Kyungsoo padanya. Kyungsoo memanggil nama jalannya dan itu adalah tanda yang tidak baik. Chanyeol mencoba menggerakkan tubuhnya dan menemukan bahwa ia terikat erat di kursi. Ia segera mengedarkan pandangannya ke ruangan kumuh itu hingga ia melihat seseorang lagi yang berdiri cukup dekat dengannya.
"Kai. Kenapa kau ada di sini?" Chanyeol bertanya dengan nada ketidakpercayaan. Ini gila dan menjadi lebih gila lagi karena ia merasa tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
"Menurutmu? Kyungsoo yang mengundangku, kenapa tidak kau tanyakan saja padanya?" Jongin terkekeh saat menemukan Chanyeol yang terlihat lemas dan tidak berdaya.
"Apa yang kalian rencanakan? Aku peringatkan, jangan main-main denganku. Lepaskan ikatan menyebalkan ini!" Chanyeol berteriak dengan suara yang serak. Ia menjadi lemah sekarang, entah apa yang mereka lakukan pada tubuhnya.
"Kau masih bisa memerintah di saat keadaanmu seperti itu? Kau masih Phoenix yang, sangat arogan." Kyungsoo mencemooh, Chanyeol masih seorang dominan arogan yang sama.
"Apa yang kau inginkan dariku? Sudah kukatakan kalau kita selesai, kita tidak lagi memiliki keterkaitan apapun pada satu sama lain. Seharusnya itu sudah cukup jelas untukmu." Kata-kata itu menyulut api kemarahan dalam hati Kyungsoo.
"Tentu semua sudah jelas. Tapi kau juga pasti tahu bahwa kau tidak dapat bermain-main dengan seorang Do meskipun aku hanya seorang submisif. Walaupun kau adalah seorang Phoenix, kau tidak mendapatkan pengecualian. Jika kau merendahkanku, kau akan merasakan akibatnya." Kyungsoo mengatakan itu di tengah sengalan napasnya, ia tengah membiarkan dirinya ditenggelamkan oleh api kemarahan.
"Apa maksudmu?" Perkataan Kyungsoo terdengar seperti racauan bagi Chanyeol. Jika ia berbicara mengenai hubungan mereka, Chanyeol rasa ia sudah menyampaikan maksudnya dengan cukup baik. ia tidak pernah merendahkan Kyungsoo seperti yang submisif itu katakan. Tapi jika Kyungsoo berbicara mengenai dirinya yang dahulu diusir dengan paksa dari kediaman Chanyeol, itu murni karena kesalahannya sendiri.
"Kau memang dominan yang berengsek, membawamu ke sini adalah pilihan yang tepat. Kau harus tahu bagaimana rasanya dipermalukan." Submisif itu berjalan selangkah mendekati Chanyeol lalu melirik Jongin yang sedari tadi hanya memandang keduanya.
"Kita mulai sekarang? Sepertinya kalian telah selesai berbincang-bincang." Jongin bertanya pada Kyungsoo, memastikan maksud yang ia tangkap dari gertur dan wajah itu.
"Kita mulai sekarang. Lakukan apa yang aku minta sebelumnya." Kyungsoo berkata dengan nada suara yang dingin.
Beberapa pengawal di sana berjalan mendekati Chanyeol yang terlihat kebingungan. Chanyeol meronta saat merasakan kulitnya dicengkram erat begitu tali-tali di tubuhnya dilepaskan. Ia berencana untuk melepaskan diri, tapi efek obat bius masih membuat ia cukup lemas. Ia berhasil diikat dengan cara yang berbeda setelah itu. Sedangkan Kyungsoo hanya diam saat melihat Chanyeol mulai berteriak frustasi. Ia memang mencintai Chanyeol, namun ia tidak bisa diam saat rasa sakit menggigit hatinya.
"Apa yang kau rencanakan? Apa yang ingin kau lakukan padaku?!" Chanyeol berteriak marah lalu mencoba memberontak.
BUG!
"Sialan!" Chanyeol berteriak marah pada Jongin yang tiba-tiba memukulnya. Ia benar-benar marah pada mereka serta tubuhnya yang terasa seperti bukan tubuhhnya sendiri.
"Kau hanya perlu diam dan nikmati apa yang kami berikan padamu. Saatnya kau yang kalah, Phoenix. Saatnya kau yang merasakan dipermalukan. Saatnya kau yang merasakan perasaan tidak berdaya." Jongin tertawa setelah itu, merasa puas melihat ketidakmampuan Chanyeol membalas pukulannya.
"Hentikan ini sekarang juga! Kau pikir apa yang akan kau lakukan padaku yang seorang Phoenix? Jangan main-main denganku!" Napas Chanyeol tersengal, bohong jika ia tidak merasa sedikitpun perasaan terancam.
"Melecehkanmu, mempermalukanmu. Tentu saja aku akan menghancurkanmu, Phoenix. Anggap saja ini adalah ajang penghapusan dosamu sebelum aku membuatmu menghadapi kematian. Di kesempatan terakhir ini, aku akan menjadi malaikat pencabut nyawamu dan Kyungsoo adalah malaikat tercantik yang akan kau lihat di akhir hayatmu. Masih belum terlambat bagimu untuk menyenangkan orang lain." Jongin tertawa puas setelah itu. Ia merasa superior saat ini. Ia berbicara pada seorang Phoenix seperti seorang tuan pada budaknya.
"Tidak akan pernah, aku memilih orang yang lebih baik untuk menjadi malaikatku. Tidak kau, tidak juga Kyungsoo. Tidak kalian berdua, Kai." Chanyeol menjawab dengan penuh keyakinan. Malaikat yang diberikan padanya hingga akhir hayat adalah istrinya. Malaikat tercantik yang akan menjadi alasan kematiannya suatu saat nanti.
"Kau masih banyak bicara di saat kau tidak berdaya. Mulutmu sebesar kesombonganmu." Jongin kembali mencemooh.
"Kyungsoo, bagaimana jika kau mulai saja? Aku akan menjadi benteng pelindungmu, hanya lakukan apa yang perlu kau lakukan. Aku minta permalukan ia hingga ia menyadari kalau ia hanya seekor semut saat ini." Jongin mundur perlahan lalu duduk pada sebuah kursi yang pengawalnya letakkan tidak jauh dari sana.
Kyungsoo mendekati Chanyeol dengan langkah yang ringan sedangkan Chanyeol memandangnya dengan sanksi. Meskipun mereka pernah menjadi sepasang kekasih, Kyungsoo masih terasa seperti orang asing. Kyungsoo memiliki sisi tak tersentuh yang tidak pernah bisa dipahami siapapun. Ia memiliki sebuah pola pikir yang berbeda dari kebanyakan submisif. Jika sebelumnya Chanyeol mengatakan kalau Baekhyun memiliki pemikiran tak tertebak, maka Kyungsoo juga sama. Letak perbedaannya hanya terletak pada kemurnian hati keduanya. Baekhyun penuh dengan kesucian sedangkan Kyungsoo memenuhinya dengan kegelapan.
"Aku sudah mencintaimu dengan seluruh hatiku, tapi kau mengkhianantiku. Aku menyerahkan pilihanku padamu, tapi kau meninggalkanku. Apa kau pikir aku baik-baik saja? Setelah semua yang kau lakukan padaku, apa kau pikir aku hidup tenang tanpa sentuhanmu?" Jari-jari mungil itu menyentuh wajah Chanyeol dengan cara yang sensual.
"Melihat tawamu bersama orang lain yang bukan diriku membuat hatiku meradang kesakitan. Tapi aku menahan semuanya demi menunggu saat yang tepat, menunggu saat ini tiba. Aku tidak lemah, tapi tidak juga kuat jika itu berhadapan denganmu. Aku tidak bisa tanpamu, sedangkan hatimu memang tidak pernah singgah padaku. Oleh karena itu, malam ini untuk sekali seumur hidupku aku ingin membalaskan dendam dengan sesuatu yang dahulu kau dan aku cintai. Kau mungkin tidak menyukainya lagi sekarang, maka aku akan membuatmu menyukainya karena yang melakukannya adalah aku." Kyungsoo melanjutkan perkataannya. Matanya yang awalnya dipenuhi kesedihan tiba-tiba berubah penuh gairah.
"Jangan katakan kau akan melakukan itu! Hentikan, Kyungsoo, aku tidak ingin melakukan itu denganmu lagi! Terlebih dengan orang-orang di sini, aku tidak akan pernah melakukannya!" Chanyeol berteriak menolak dengan murka. Sudah cukup di masa lalu ia melakukan itu hingga melukai Baekhyun, ia tidak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama.
PLAK!
Wajah Chanyeol terpaling dengan sangat keras dan pipinya terlihat memerah. Chanyeol merasakan kebas di sisi wajahnya, tapi ia sudah terbiasa hingga ia mampu untuk kembali memandang Kyungsoo dengan tajam. Kyungsoo telah bertingkah semakin jauh dan tubuhnya malah menjadi sialan karena tidak dapat digerakkan.
"Kau tidak di dalam posisi dapat menolak! Kau tidak berhak menatapku dengan tatapan itu! Kau tengah diadili karena menyakitiku!" Kyungsoo berteriak dengan sangat marah, sekali lagi ia bergerak memukul wajah Chanyeol dengan sekuat tenaga.
"Kau gila!" Chanyeol balas berteriak, mengabaikan rasa amis darah di sudut bibirnya. Kyungsoo sudah benar-benar gila hingga ia menjambak rambut Chayeol dan memagut bibir terluka itu dengan kasar. Ciumannya terasa berantakan.
Kyungsoo menggerakkan tangannya menuju zipper celana Chanyeol dengan bibir yang masih sibuk menghisap bibir Chanyeol yang terasa amis darah. Chanyeol menyadari pergerakkan itu dan mencoba menghentikannya, namun tubuhnya yang terikat tidak mampu melakukan perlawanan apapun. Hingga Kyungsoo berhasil melepaskan penutup terakhirnya, ia tahu kalau ini akan menjadi salah satu malam yang merekam kenangan yang paling ia benci.
"Aku yang akan memberikanmu kenikmatan malam ini. Kau hanya perlu duduk diam seperti ini. Aku akan memberitahumu bahwa tubuhmu masih menjadi milikku." Kyungsoo tersenyum dengan tangan yang telah meraba kebanggaan pria dominan itu.
"Sudah kukatakan padamu kalau kita tidak memiliki hubungan apapun lagi. Bukankah itu sudah cukup jelas?" Chanyeol kembali mencoba memberontak. Chanyeol tidak menyetujui sentuhan ini, apalagi menyukainya. Hanya saja reaksi tubuhnya malah menunjukkan respon yang menguntungkan Kyungsoo.
"Aku hampir memukulmu sekali lagi. Tapi karena tubuhmu bereaksi dengan baik, aku anggap kau tidak pernah mengatakan apapun." Kyungsoo mengatakan itu dengan wajah cerah, mengabaikan Chanyeol yang menunjukkan ekspresi berbeda.
Chanyeol menggemeretakkan giginya, menahan amarah yang lebih kepada dirinya sendiri. Tidak seharusnya ia menunjukkan reaksi menjijikkan itu. Ia masih bajingan yang sama rupanya, ia masih Park Chanyeol yang berengsek. Seharusnya ia telah berubah banyak sebelum Baekhyun kembali. Seharusnya ia berhenti menjadi seorang pengkhianat. Chanyeol terus menyalahkan dirinya dan merasakan kubangan rasa itu kembali memenuhinya. Ia tidak menyukai rasa menyakitkan itu, terlebih kali ini muncul bersama rasa marah pada dirinya sendiri. Ia merasa ia tidak berguna.
Ia hanya tidak tahu bahwa itu bukan salahnya, Kyungsoo hanya terlalu pintar untuk pantas disebut sebagai submisif yang licik. Kyungsoo hanya memanfaatkan fenomena alami tubuh dominan. Dominan memiliki alat vital yang sensitif yang akan bereaksi terhadap sentuhan dan gesekan. Terlebih jika mereka sedang cemas atau ketakutan.
"Ssh…" Chanyeol meringis saat merasa ia semakin sensitif. Gerakan tangan Kyungsoo sangat lihai, terlebih submisif itu turun dan menatap kebanggaan Chanyeol dengan lekat.
"Apa kau mulai merasakannya? Kau mulai menikmati sentuhanku. Terus seperti ini dan kau akan mendapatkan surgamu. Aku tahu kau telah menahan diri begitu lama, sejak istrimu meninggalkanmu. Oleh karena itu nikmatilah apa yang aku beri-"
"Kukira kau tidak bisa bertingkah memalukan. Tapi rupanya kau lebih buruk daripada aku yang memang seorang pelacur. Murahan sekali melakukan itu dengan tanpa persetujuan." Suara seseorang mengintrupsi perkataan dan aksi Kyungsoo.
Itu Taeyong yang masuk bersama Yifan, Jongdae, Kun, Joonmyeon dan Baekhyun. Sebenarnya Yifan, Jongdae dan Kun sudah meminta para submisif seperti mereka untuk tinggal. Tapi mereka berakhir berada di tempat itu karena Baekhyun ingin ikut, membuat Taeyong dan Joonmyeon ingin menemaninya.
"Pelacur sialan! Bagaimana kau bisa berada di sini?" Kyungsoo berteriak marah. Rencananya ia hanya mengundang Baekhyun, tapi pelacur sialan ini malah ikut.
"Aku tidak hanya pintar untuk menjajakan tubuhku, tapi juga menggunakan otakku. Itu yang disebut dengan pelacur yang cerdas. Tidak murahan yang memperkosa seorang dominan." Taeyong menjawab dengan kesombongan di nada bicaranya. Ia murka, ia tidak terima seorang teman dekat sekaligus suami sahabatnya diperlakukan sebegitu rendah.
Sebenarnya tidak hanya Taeyong yang merasa amarah membakarnya, terlebih lagi Baekhyun. Ia tidak hanya marah, tapi sangat marah. Hanya saja mereka terpaku karena terkejut akan kondisi Chanyeol saat ini. Dominan itu terlihat buruk dengan kondisi terikat dan kebanggaan yang menegak. Ia terlihat sangat malu karena istri dan orang-orang terdekatnya melihatnya di saat ia berada dalam kondisi paling memalukan di seumur hidupnya.
"Kai, lepaskan dia." Yifan memerintah dengan nada suara datar. Ia tengah menahan diri untuk tidak bertindak gegabah.
"Tidak semudah itu, Kris. Aku belum cukup mempermalukannya. Kau tahu betapa ingin aku mempermalukan seorang Phoenix." Jongin menanggapi itu dengan terlalu tenang, terlihat benar kalau ia menikmati permainan ini.
"Sepertinya kau lupa kau bermain dengan siapa. Kau harus mencoba mengingat lagi siapa lawanmu." Yifan mulai kehabisan kesabaran. Chanyeol dalam kondisi memalukan dan ia benar-benar ingin menyelamatkan wajah sahabatnya itu.
"Aku tidak pernah lupa dengan siapa aku bermain. Aku bermain dengan Phoenix, sahabat Kris. Dua orang pecundang yang pantas menjilat sepatuku." Jongin benar-benar kehilangan rasa takut. Ia menyiram minyak tanah pada api kemarahan yang muncul di hati Yifan.
"Sialan kau, Keparat!" Yifan terlihat murka dan pergerakannya cukup mengejutkan orang-orang di sana. Ia berteriak bersamaan dengan tangannya yang bergerak mengacungkan senjata api.
"Kris!" Joonmyeon berujar reflek. Ia pikir Yifan harus lebih bisa menahan diri.
"Kendalikan emosimu! Apa yang kau pikirkan?" Joonmyeon bergerak menyentuh bahu Yifan, bermaksud memberinya sedikit ketenangan. Ia tidak pernah mengira Yifan akan seperti ini karena Yifan biasanya dapat mengambil sikap yang lebih baik.
"Mundur atau kau akan terluka." Yifan memerintahnya dalam bisikkan. Ia tidak sedikitpun menurunkan moncong senjatanya.
"Tapi-"
"Mundur, Suho!" Nama panggilan itu, nama yang akan muncul jika Yifan merasa dirinya sangat berharga. Yifan serius, ia benar-benar serius mengundang perang.
Joonmyeon menghela napasnya lalu mundur dengan perlahan. Ia tidak memiliki pilihan lain selain itu. Yifan akan menjadi sangat keras kepala jika ia benar-benar marah, sehingga ia terpaksa mundur. Sedangkan Jongdae dan Kun melangkah maju melindungi Taeyong dan Baekhyun yang kini berada di belakang mereka.
"Baiklah, jika itu yang kau mau. Ayo kita bermain." Jongin tersenyum meremehkan lalu ikut mengangkat senjatanya yang kemudian diikuti orang-orang di sana. Kyungsoo segera melangkah ke belakangnya untuk mencari perlindungan.
DOR!
Sebuah peluru dilepaskan dan itu mengagetkan orang-orang di sana karena ditembakkan ke arah Chanyeol. Tapi yang tidak mereka tahu adalah Yifan sebenarnya menembak seutas tali yang meliliti tubuh Chanyeol untuk memutuskannya. Chanyeol bergerak cepat melepaskan lilitan di tubuhnya sementara kekacauan terjadi. Ia masih lemas, tapi melihat Baekhyun berdiri di sana membuatnya ingin melindungi istrinya itu. Chanyeol segera membenahi dirinya lalu menangkap lemparan senjata api dari Yifan.
"Ack!" Teriakan Jongin tiba-tiba terdengar setelah Chanyeol melepaskan dua peluru pertamanya. Rupanya ia menembak pergelangan tangan dan paha dalam Jongin, mematikan pergerakkannya.
Chanyeol mengambil keputusan seakan ia tidak memikirkan resiko apa yang harus ia hadapi saat ia menyerang di lokasi musu. Padahal ia bukan tidak menyadari, ia hanya menyampaikan rasa kesalnya karena Jongin mempermalukan ia di depan istrinya sekaligus meletakkan istrinya di tengah bahaya. Baekhyun berada di tempat baku tembak terjadi tanpa adanya banyak perlindungan.
Chanyeol segera berlari menuju tempat Baekhyun berada, bermaksud untuk melindunginya. Tapi ia berubah tertatih setelah bunyi tembakan terakhir berbunyi. Seseorang menembakkan peluru di pundaknya dan sekarang peluru itu tertanam di sana. Chanyeol menoleh dengan putus-putus untuk menemukan Kyungsoo yang menembaknya kemudian lari secepat mungkin dari tempat itu dengan wajah yang marah.
"Submisif itu memiliki keberanian yang tidak biasa. Aku bisa saja mengejar lalu membunuhnya. Tapi aku tahu kalian tidak menyukai itu. Biar bagaimanapun ia masih seorang submisif, seseorang yang memiliki golongan yang sama dengan seseorang yang melahirkanku." Yifan menghela napas kesal setelahnya. Ia menujukan perkataan itu pada Joonmyeon, Baekhyun dan Taeyong. Ia memang Kris sekarang, tapi dengan tiga submisif itu di dekatnya, ia tidak boleh mengambil keputusan sembarangan.
"Musuh sudah mulai mundur. Kurasa Kai meminta mereka mundur untuk segera mengantarnya ke rumah sakit. Ia masih seorang pengecut dengan mulut yang besar. Sambut suamimu, Baekhyun. Ia terlihat kewalahan hanya untuk dapat mendekatimu. Ia hanya perlu kau sebagai istri untuk memeluknya." Yifan kembali berbaicara, kali ini pada Baekhyun agar ia segera meraih Chanyeol yang sangat tertatih.
Chanyeol sudah sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat dan penuh keringat, matanya tidak lagi terlihat fokus. Darah mengucur di seluruh tubuhnya, tapi ia masih menarik tubuhnya mendekati Baekhyun.
"Chanyeol." Baekhyun memeluk tubuh suaminya tepat setelah mereka menjadi sangat dekat. Sekian lama tidak bertemu, kenapa mereka harus kembali bertemu di keadaan seperti ini?
"Aku- akh!" Chanyeol merintih tepat setelah ia baru saja mencoba untuk berbicara. Tubuhnya sudah terlalu sakit meski hanya melakukan hal kecil.
"Tidak, tidak usah berbicara. Kita akan ke rumah sakit. Aku mohon bertahanlah." Baekhyun mulai menangis, ia hampir saja memanggil Yifan jika tidak melihat gelengan lemah dan senyum kecil Chanyeol padanya. Ia tahu ia tidak bisa melarang apapun yang ingin Chanyeol bicarakan.
"Aku tidak berharap kau melihatku di keadaan paling memalukanku seperti ini. Kita telah lama berpisah tapi aku menyambutmu dengan sisi terlemahku. Maafkan aku, Istriku. Kuharap kau masih sudi mencintaiku. Aku mencintaimu." Suara Chanyeol kian melemah, hanya saja ia masih memaksakan diri untuk berbicara. Ia hanya merasa bahwa ia tidak akan memiliki waktu lain untuk menyampaikan rasa cintanya.
Napas Chanyeol mulai terdengar pendek saat ia mencoba mengangkat tangan untuk menghapus air mata Baekhyun yang semakin deras. Tapi pada akhirnya ia tidak sanggup, jari berdarahnya hanya mampu menggores merah panjang pada pipi Baekhyun dan matanya akhirnya menutup rapat. Ia melewatkan sahutan kata cinta yang Baekhyun sampaikan di tengah tangisnya yang semakin histeris.
.
TBC/END?
.
.
Okay, akhir bulan lagi nih update-nya, maafin ya :') Aku lama banget update karena kebetulan lagi ada tryout uji kompetensi profesi yang berarti akan ada uji kompetensi di bulan depan. Jadi maafin lagi kalo ntar aku update akhir bulan lagi.
Oh iya, sebenarnya aku bikin ide agak sensitif ya di Chapter ini. Itu, ide yang buat aku bikin Chanyeol menjadi korban di sini. Aku cuma mau pembaca aku mengedukasi diri bersama yaitu semua laki-laki (terlepas dari apapun orientasi seksualnya) dapat menjadi korban pelecehan seksual oleh gender dan orientasi seksual apapun juga. Jika ada pelecehan maupun kekerasan seksual yang tanpa persetujuan kedua belah pihak (consent), itu berarti tindak pemaksaan/pemerkosaan. Jangan pernah menyalahkan korban dan jika itu laki-laki jangan pernah menganggap ia menikmati walapun bagian vitalnya bereaksi. Seperti yang sudah aku bilang di chapter ini, bagian vital laki-laki itu bisa bereaksi karena sentuhan dan perasaan takut serta cemas.
Udah itu aja, sih, daripada aku ngetik lebih panjang lagi. Semoga bisa membantu kita mengedukasi diri bersama. Stay safe and healthy, stay happy~
Big thanks for:
chanbaekyoongloey l Prisna Jeon l shinwava l cheni l ByunB04 l oh sabeth l chanchanb l tiffanydmitrius10 l dooremi l reall any l Nitha Gaemgyu l Agustusan (Guest) l Light. Byun l Novitta (Guest) l beenthrough l shuniewife l ChanBaek09 l Park LouisYeol
Pada penasaran siapa dalang dari penculikan Chanyeol. Pasti udah pada nyangka deh kalo Kai yang nyulik. Tapi nyangka gak ending chapter ini kayak gini? Semoga enggak, ya, biar makin penasaran sama update Chapter 40. Wah, gak terasa udah mau 40 Chapter aja. Makasih ya buat support dan doa-doa baik kalian. Aku senang dapat pembaca seperti kalian. Jangan lupa review lagi di Chapter 39 ini~ Luv ya~
.
Last, you reviewing and I writing~
