Naruto punya Masashi Kishimoto
Goblin Slayer punya Kumo Kagyu
Highschool DxD punya Ichei Ishibumi
Crossover dengan beberapa anime atau game, yang mungkin kalian kenal dan pernah mainkan.
All Character OOC
Chapter 24
Cermin masa lalu diantara mereka
Opening: Atashi ga Tonari ni Iru Uchi ni by Chiai Fujikawa [ED Tate No. Yuha 2]
Saat matahari sudah meninggalakan peraduannya dan malam mulai menutupi langit, serta bintang-bintang dan dua bulan mulai memunculkan cahaya kecilnya. Di sinilah dia berada, seorang pria dengan rambut pirang dan bermata biru shapire. Mengenakan armor murahan serta jangan lupakan gada yang sedia di punggung, duduk dihadapannya adalah rekan yang selama ini menemani perjalanannya yaitu Warrior Priestess. Beberapa orang tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan atau diskusikan, sebab mereka memiliki urusan sendiri.
"Apa kau sudah selesai dengan urusannya?"
Sebuah anggukan dia dapatkan dari Warrior Priestess disertai jawaban.
"Ah, aku sudah selesai dengan urusanku, dan kau?"
"Aku juga sudah."
Dia langsung menyerobot seperti biasanya, Warrior Priestess tidak terganggu akan sikapnya itu yang seakan-akan mengintrogerasi. Bahkan dia sudah sedikit maklum, akan bagaimana karakter pemuda yang ada di depannya.
Tempat mereka berada adalah kedai makan desa ini, mereka bermaksud untuk menikmati santapan sebelum beristirahat karena perjalanan esoknya menuju kota Air yang memakan waktu tengah hari. Bisa saja mereka berangkat malam ini namun, memperhitungkan bagaimana mereka baru saja memburu Rat. Hal itu tidak jadi dilakukan supaya mereka bisa sampai sana dengan selamat, karena tubuh mereka butuh istirahat.
Bepergian dengan kondisi tubuh yang penat merupakan langkah awal untuk menggali lubang kematian, selain tidak membawa perlengkapan petualang saat pergi dari rumah.
"Aku sangat senang akhirnya [Pilgrimage Questku] berakhir, dan akan mendapat kehormatan memikul nama 'Maiden' semua ini berkat bantuanmu yang telah membantuku."
Rat Slayer mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan oleh Warrrior Priestess, meski dia tidak tahu kata-kata apa yang harus diucapkan untuk menjawab apa yang sedang dilontarkan oleh Warrior Priestess. Setelah terus berpikir tentang itu, akhirnya dia mempunyai kata yang menurutnya tepat untuk disampaikan pada lawan bicaranya.
"Semua yang telah kita lalui selama ini merupakan hasil upayamu untuk menyenangkan hati Dewi yang kau sembah, jika nantinya kau menjadi [Maiden] ingatlah untuk selalu membantu mereka yang membutuhkan bantuan."
Amat jarang baginya mendengar Rat Slayer bicara seperti itu dan hal tersebut mengundang sebuah senyum di wajahnya. Lalu dia teringat akan tekadnya tadi sore, dan segera mengeluarkan sebuah gelang tali berwarna warni. Tangannya segera menyodorkan benda itu pada Rat Slayer seraya berkata.
"Tolong terimalah sebagai hadiah dariku, semoga dengan ini kau selalu mendapat keberuntungan!"
Naruto menatap benda yang disodorkan kepadanya, dan kini dia melihat wajah Warrior Priestess yang tersenyum lembut kala menyerahkan itu. Entah sebuah sihir atau halusinasi, kini dia menatap di depannya seakan itu bukannya Warrior Priestess melainkan kakak perempuannya yaitu Naruko Uzumaki. Pikirannya pun bernostalgia, saat dirinya masih kecil sedang bermain dengan adiknya Menma.
Ketika itu kakak perempuanya memanggil mereka, sebab sudah hampir malam dan mereka keasyikn main sehingga lupa waktu. Memang wajah kakaknya cemberut sebentar, kemudian tersenyum simpul dan dia berjongkok dihadapan mereka dan menatapnya lekat dengan kelembutan.
"Kalau kalian main jangan lupa waktu, desa kita amat banyak monster berkeliaran dan kita harus kembali sebelum gelap. Nah ini kakak buatkan sesuatu untuk kalian."
Tepat ketika dia mengatakan itu tangannya menyerahkan dua gelang warna-warni kepada mereka, Naruto menatap gelang itu cukup lama, sedangkan Menma sudah memasang di tangan kirinya. Naruko yang menyadari sikap adiknya yang pendiam, segera mengenakan gelang itu di kanan kanannya seraya berkata.
"Benda ini tampak pas syukurlah! Semoga benda ini bisa membuatmu beruntung Naruto."
Kembali dari lamunannya, dia bergumam.
"Ne ... Nee-chan!"
Warror Priestess yang mendengar suara itu keluar dari mulut Rat Slayer, segera menyadari kalau ini mengingatkan tentang kakak perempuannya yang sudah meninggal. Dia juga sebenarnya ingin tahu lebih banyak, tentang keluarga dari Rat Slyer jadi dia mulai meneguhkan
'Aku tidak boleh mengacaukannya, aku harus menggali sesuatu.'
"Aku rasa benda ini pas di tanganmu, kuharap keberuntungan selalu menyertaimu."
Manik shapire itu bergetar diiringi sinar lembut memancar darinya, ketika mendengar apa yang diucapkan Warrior Priestess. Entah bagaimana Rat Slayer tertegun, sebab selalu timbul kenangan tentang kakak perempuannya di beberapa peristiwa saat berinteraksi dengan Warror Priestess.
'Kenapa kau selalu membuatku teringat kakak perempuanku, setiap kali itu terjadi sesuatu di dalam hatiku merasa tidak senang dengan apa yang akan terjadi esok.'
Warrior Priestess mendapatkannya mata itu begitu lembut bergetar, saat dia selesai mengucapkan hal itu pada Rat Slayer. Kini dia merasakan ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh lawan bicaranya namun entah apa itu, namun jelas dia merasa kalau itu adalah sebuah perasaan takut.
"Beristirahatlah, esok adalah waktu yang panjang. Kuharap kau bisa tidur nyenyak dan menyiapkan mental untuk penganugerahan gelar Maiden."
Dia mengatakan itu seraya memejamkan mata dan mengangkat tubuh untuk meninggalkan Warrior Piestess, ada rasa kurang puas saat dia melihat Rat Slayer selalu memutuskan pembicaraan ketika itu mengingatkan tentang masa lalunya. Dan kali ini, dia tidak akan menyesalinya lagi.
"Seperti apa sifat kakak perempuanmu itu?"
Kaki yang hendak melangkah keluar itu tertahan dan tubuh Rat Slayer berhenti, ada jeda cukup panjang sebelum dia memutar tubuhnya untuk menatap Warrior Priestess. Kini mata itu lembut menatapnya dan ada sebuah senyum simpul yang menghias wajah datar itu. Entah bagaimana, sesuatu di dalam dada Warrior Priestess bergetar lebih cepat saat melihatnya.
'Dia ter-tersenyum, ini momen langka. Dewi Freya ku harap kau tahan ini lebih lama.'
Dan sepertinya, apa yang diharapkan akan menjadi kenyataan karena dalam sikapnya itu Naruto langsung bicara.
"Dia bernama Naruko Uzumaki, dia adalah gadis periang, cerdas, senang membantu dan paling sayang pada semua keluarga. Aku sangat menyayanginya lebih dari siapapun melebihi rasa sayangku pada Ibu dan Ayahku serta adiku Menma. Pernah kuberpikir untuk cepat dewasa dan segera menikahinya, agar tidak ada seorang pun yang memilikinya. Aku begitu egois, sehingga takut dia akan menelantarkanku begitu saja."
Sebuah simpul tanpa sadar terlukis di wajah Warrior Priestss, saat mendengar apa yang diucapkan Naruto. Dia tidak menyangka, jika orang di depannya ini adalah seorang Incest akut yang begitu mencintai kakak perempuannya.
'Tidak kusangka rasa cintanya begitu besar, bahkan dia sudah berpikir akan menikahinya. Benar-benar sulit dipercaya, tapi tunggu dulu?'
"Kau memiliki adik juga?"
Naruto mengangguk untuk mengkonfirmasi, lalu dia juga menambahkan.
"Aku adalah anak kedua dari pasangan Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina."
Otak Warrior Priestess bergerak liar, kala mendengar nama marga yang baru diucapkan oleh Naruto. Sebab dia pernah membaca dalam buku Densetsu no Yusha, bahwa ada seseorang dulu berasal dari klan Uzumaki. Mengadakan kontrak dengan Mesengger of Death God, untuk menghentikan sebuah invasi dari Empire Legions.
"Kau bermarga dari sebuah klan Legendaris, mengapa keadaanmu sekarang begini?"
"Legendaris atau apapun itu, mereka para Daun yang menari dalam cahaya penuh warna warni, melupakan bahwa kebutuhan utama mereka ditopang oleh sebuah Akar yang berdiam dalam tempat yang gelap, dingin, dan busuk. Karena itulah, aku tidak suka dengan mereka yang menjelekkan seseorang. Hanya karena kesalahan dari pendahulu mereka di masa lalu, apa lagi mereka tidak tahu kebenarannya."
Sebuah kehangatan yang terpancar dari wajahnya kini berubah datar kembali dan itu membuat Warrior Priestess merutuki diri, karena membuat mood orang di depannya hilang. Tapi dia masih bimbang, dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Rat Slayer.
'Aku masih ragu apakah dia membenci klannya atau orang yang mencemooh klannya, kenapa kau selalu mengungkapkannya begitu aneh sih.'
Meski dalam kebimbangan, dia cukup bersyukur karena telah melihat sisi lain Rat Slayer sangat lama. Sebab dia menyadari ini adalah kali terakhir, melihat pemuda pirang bermata saphire itu menunjukkan kehangatan di wajahnya.
Saat obrolan mereka akan berakhir, beberapa langkah terdengar mendekat dan mereka segera melihat ke arah sumber suara. Mereka terdiri dari 6 orang, lebih tepatnya 6 orang Night Elf. Saat mereka mengamati dengan baik, mereka menyadai bahwa salah satu dari 6 Night Elf itu mereka kenali.
"Sai Stormrage!"
Warriror Priestess adalah orang pertama yang menyebutkan nama dari pemimpin party itu, dan segera saja dia bediri. Tangan Sai melambai kepada mereka berdua, kelima rekan atau lebih tepat bawahannya tampak senyum lesu. Namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena ketika kemari, sebuah benda berharga milik raja muda itu telah dikorbankan.
Jadi mereka sudah memutuskan meski tidak menginginkan akan berusaha semaksimal mungkin, untuk mengikuti apa yang akan diperintahkan oleh Sai Stromrage. Namun mereka sangat penasaran dengan kedua orang yang ada dihadapan sang Raja. Tampak seakan begitu akrab, bahkan memanggil raja mereka tanpa hormat.
"Manusia jaga bicaramu dihadapan Raja kami!"
Adalah sang Warrior yang segera lepas kendali, saat melihat raja mereka seakan diremehkan oleh kedua petualang di depannya. Sedangkan Sai Stormrage sweatdrop saat mendengar bawahannya berkata seperti itu, pada salah satu rekan yang akan menuntunnya pada seseorang yang mengetahui dimana letak Nyggrasil berada.
Segera dia berbalik dan memasang senyum seperti biasanya, namun sang Warrior dan rekan yang lain bisa merasakan sebuah aura hitam yang menguar dari tubuhnya. Meskipun wajah dari sang raja muda itu, menampakaan senyuman lembut. Dan mereka semua menelan liur berat, bahkan sang Warrior meneteskan keringat begitu banyak kala melihat senyum itu. Seakan, dia mendengar raja muda itu berkata dalam kepalanya.
'Bisakah kau bersikap lebih sopan, pada orang yang ingin kutemui.'
"A-aku bercanda tadi itu, aku hanya ingin menyapa dengan cara kami para Warrior ahah ahahaaha-"
Warrior Prietess yang tadi sempat terkejut saat dibentak oleh sang Warrior, segera menanggapi ucapan Warriot tersebut begitu Sai Stromrage membalikan badan. Dia entah bagaimana merasakan hal aneh, begitu melihat perubahan dari sikap sang Warrior. Namun, dia bisa menangkap sebuah mata minta tolong dari sang Warrior itu saat menatapnya. Jadi Warrior Priestess berusaha membantu sebisanya.
"Y-ya, aku mengeti. Beberapa Warrior dari Order kami juga, suka memberikan candaan seperti itu tenang saja."
"Nah benarkan, syukurlah kau mengerti, Nona!"
Berbeda dengan apa yang dilakukan Warrior Priestess, sikap Naruto malah menatap tajam dan berkata dingin.
"Apa begini caramu mendidik rakyatmu, Tuan muda Sai!" ucap Rat Slayer.
Sang Warrior yang mendengar ucapan itu keluar dari mulut pemuda berambut pirang dan mengenakan armor murahan itu, segera menyergah tanpa tahu kalau orang itulah yang ingin ditemani perjalannya oleh Sai Stromrage. Bahkan teman-temannya juga terpancing, saat Naruto mengkritik tentang sikap mereka yang menisbahkan kalau itu adalah hasil didikannya.
"Kami sedang bicara dengan Rat Slayer, kau sebagai pendampingnya sebaiknya diam!" ucap Warrior.
"Iya benar, kami hanya punya urusan dengan Rat Slayer. Kau yang tidak tahu apa-apa sebaiknya diam saja!" ucap Mage.
"Adalah lebih baik bagimu, untuk menutup mulut saat kau tidak ditanya!" ucap Healer.
"Bicara tentang kesopanan tapi sendirinya tidak so-" ucap Scout.
"DIAMLAH KALIAN!" bentak Sai
Kelima orang tersebut membeku, saat mendengar sang Raja muda mementak keras. Sebenarnya kesalahan dia juga yang tidak menjelaskan ciri-ciri Rat Slayer pada mereka, sehingga keadaannya jadi begini. Karena itu dia mengambil langkah untuk menyuruh mereka diam, sebelum sesuatu yang lebih memalukan terjadi.
Bawahannya masih menahan napas menunggu apa yang akan diucapkan oleh Raja mereka, dalam hati mereka bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh sang Raja setelah menyuruh mereka diam dengan tegas seperti itu. Raja muda Sai menarik napas dalam untuk selanjutnya berkata pelan.
"Kalian ini hampir membuatku malu, orang yang kita cari adalah dia. Pria berambut pirang dan berarmor murahan itulah yang bernama Rat Slayer."
Kelima orang itu kini berubah pucat pasi karena menyergah Rat Slayer itu sendiri, malahan menganggap dia hanya pendamping karena pakaiannya yang lusuh, sedangkan Warrior Pristess mereka anggap Rat Slayer.
"Ka-kami minta maaf padamu Rat Slayer!" ucap Warrior
"Sungguh benar apa yang diucapkannya, itu karena kami tidak mengenalmu!" ucap Monk.
"Adalah sebuah kesalah terbesar kami yang tidak bertanya terlebih dahulu siapa kalian!" ucap Healer
"Kami mohon maaf sebesar-besarnya!" ucap Mage
"Mohon terima maaf kami!" ucap Scout
Ketika mereka mengucapkan itu secara bergantian, serempak mereka menundukkan kepala tanda benar-benar menyesal. Sai yang melihat semua kejadian itu dalam hati tersimpul, karena bawahannya bisa dengan cepat meminta maaf atas kesalahannya. Beberapa orang yang memperhatikan interaksi mereka, tampak diam saja tidak peduli
Dan kini giliran Sai Stormrage yang membalikan badan, menatap Naruto dan Lenneth sambil berkata.
"Aku juga bersalah tidak mengatakan detail tentang kalian sebab terburu-buru, kumohon maafkan kesalahan mereka Rat Slayer! Nona Pendeta!"
Warrior Priestess segera melirik ke arah Rat Slayer seakan ingin tahu apa reaksi yang ditunjukan olehnya, setelah diperlakukan seperti itu dan ingin tahu apa yang akan dibalas oleh pemuda itu. Entah dia akan balas memaki, menghujat, atau marah kepada mereka. Pikiran itu terus menari dikepala Warrior Priestess. Lalu pria itu tampak mengembuskan napas pelan.
"Seorang raja yang sombong dan angkuh hanya akan didiamkan ketika dia diperlakukan tidak sopan, mungkin pengawalnya akan membela sekali dua kali namun setelah itu mereka benar-benar akan meninggalkan dan tidak membantu sama sekali."
Rat Slayer menjeda kalimatnya beberapa lama, itu membuat kelima orang yang menunduk mengangkat kembali kepala mereka. Untuk tahu apa yang akan diucapkan selanjutnya oleh orang yang memiliki julukan Rat Slayer itu, kemudian Naruto melanjutkan apa yang ditunda olehnya.
" Namun Raja yang memerintah dengan Keadilan dan Kebijaksanaan, jangankan dihina melihat raja mereka diperlakukan tidak sopan saja akan membuat rakyat atau bawahannya tidak senang. Bahkan menarik pedang bila itu diperlukan, demi menjaga kehormatan raja mereka. Koreksilah bila ucapanku salah lalu Raja muda Sai, aku tarik ucapanku tadi apa itu cukup untuk kalian."
Semuanya terdiam saat Naruto selesai mengatakan kalimat tersebut, kelima pengawal Sai memahami dengan baik apa yang baru diucapkan Naruto dan itu mengundang senyum di wajah mereka seraya mengangguk. Sedangkan Sai amat puas, saat dirinya dikatakan sebagai raja yang bijaksana dan mencoba merendah.
"Aku tidak sebijaksana itu Rat Slayer, kurasa kau berlebihan."
"Um!"
Kini Warrior Priestess yang memandang Rat Slayer tidak percaya, saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. Karena memiliki persamaan, dengan yang diucapkan pemimpin partynya yaitu Sang Captain.
"Menjadi pemimpin yang keras dan sombong hanya membuat bawahanku menghormati dari luarnya saja, bila keadaan mendesak mereka akan membantu sekali dua kali lalu pergi dan tidak akan peduli. Aku tidak ingin seperti itu, aku ingin mejadi pemimpin yang bisa berbuat adil dan bijaksana agar mereka menghormati luar dan dalam. Sehingga tidak saja keadaan darurat, namun saat melihatku diperlakukan tidak sopan saja mereka akan marah. Bahkan menarik pedang jika itu diperlukan, untuk mendapatkan kehormatanku kembali."
'Bagaimana bisa kau mengucapkan kata yang hampir mirip sepertinya Rat Slayer, kenapa kau selalu mengingatkanku akan dia sehingga membuatku takut menatap hari esok.'
Dan setelah monolog itu dia benar-benar bimbang akan pilihannya, untuk meraih gelar [Maiden]
And Cut
Yo Jinchurik Shukaku Back dengan Chapter baru, gimana dengan perkembangan yang aku buat apakah bikin boring atau bikin kesel, tapi jujurnya aku gak pandai buat bikin scene romance. Lalu hubungan mereka, aku bangun karena mereka melihat orang yang dikasihi pada masa lalu. Satu sama lain.
Kemudian hanya ada satu guliran terakhir sebelum akhirnya perasaan mereka terjalin, dan dimana itu bakal terjadi masih rahasia ya. Gak banyak yang bisa aku jelaskan, semoga chapter ini bisa membuat kalian terhibur. Setelah menunggu selama seminggu, dan kedepan Arc darknya dimulai kuharap kalian selalu menanti dengan sabar kelanjutan kisah ini.
Tambahan dikit, Jika kalian ingin berdonasi silakan kirim saja menggunakan aplikasi gopay ke nomor 089523076375 atas nama Tessar, ini hanya sebagai rasa support kalian kepada penulis.
Semua donasi kalian diterima berapa pun itu, asalkan kalian ikhlas dalam memberikannya dan tidak terbebani. Semoga dengan itu Tuhan memberi kalian Rezeki yang lebih banyak.
Terima kasih bagi kalian yang sudah berdonasi ;)
