Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[Blossom In The Winter ]

( Chapter 24 )

.

.

.

Aku sudah mendaftar online untuk SMA tujuanku, tinggal menunggu hasil seleksi. Guru wali kelasku memberiku sedikit bantuan dengan memberi kisi-kisi ujian dari SMA Q. Besok adalah ujian akhir. Aku juga sudah belajar dengan keras, kepalaku sampai sakit dan bawah mataku lebih hitam. Belajar keras itu juga membutuhkan tenaga dan pikiran.

"Kau tidak mengatakan SMA mana yang menjadi tujuanmu." Tanya Ino.

Aku tidak sempat berbicara padanya, bukannya aku mulai tidak percaya pada Ino. Aku masih percaya jika Ino adalah sahabat terbaikku.

"Aku akan mengatakannya jika aku lulus seleksi. Masuk disana juga cukup sulit."

"Aku sampai bingung menentukan SMA mana, aku ingin kita satu sekolah lagi. Wali kelas saja tidak ingin mengatakannya padaku.

"Hehehehe, itu rahasia."

"Aku ingin minta maaf."

"Minta maaf?"

"Ya, seharusnya ketika kau dalam masalah, aku bisa sedikit membantumu."

"Tidak. Jangan lakukan itu, jika kau ikut terlibat, ini akan semakin rumit. Mereka yang punya masalah denganku."

"Mereka hanya iri padamu seperti apa yang aku katakan sebelumnya."

"Kau benar. Lalu aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Ino."

"Apa? Katakan saja?"

Aku belum pernah membahasnya dengan Ino, aku terus memikirkan jika ini bukan sebuah masalah. Mereka hanya berusaha membuat kami menjadi musuh, mereka ingin kami memutuskan tali persahabatan ini.

"Aku marah karena mereka menuduhmu sebagai pelakunya, mereka terus mengatakan jika kau yang membeberkan keadaanku dengan Sasuke, bahkan statusku sebagai anak angkat. Kau tahu, semua itu aku hanya ceritakan padamu."

Ino terdiam.

Aku harap ini tidak benar. Aku terus percaya pada Ino.

"Mereka mengatakan seperti itu padamu?" Ucapnya, namun tatapan Ino berbeda. Dia sedikit kurang nyaman padaku.

"Ya, kami jadi berkelahi. Aku berusaha membelamu."

Ino kembali terdiam. Dia tidak berbicara selancar tadi. Katakan Ino jika kau menyembunyikan sesuatu dariku. Hubungan pertemanan ini bukan waktu yang sebentar, aku sudah berusaha membangun hubungan dengan murid lainnya, tapi mereka sulit menerima kenyataan yang terjadi padaku, mereka jadi menaruh kebencian padaku. Padahal aku tidak pernah membenci mereka.

"Aku butuh waktu untuk menjelaskannya. Aku rasa ada kesalahpahaman." Ucapnya.

Aku mulai curiga. Ino dekat denganku bukan karena sebuah tujuan 'kan? Selama ini aku hanya percaya padanya.

"Kau bisa memikirkannya terlebih dahulu, tenang saja, aku bukan pendendam. Lagi pula kita harus fokus untuk ujian besok." Ucapku.

"Ah, kau benar." Lagi-lagi Ino menampakkan ekspresi yang tidak nyaman padaku.

Aku sungguh penasaran. Apa yang sudah terjadi padanya?"

.

.

.

.

.

Ujian akhir sekolah, di mulai.

Aku selalu berharap, nilaiku akan bagus. Aku sempat membuat masalah, sekolah sampai memanggil ayah Fugaku dan ibu Mikoto, itu rekor terbaru anak dari seorang Uchiha. Aku tidak ingin membuat masalah lagi dan kembali mencoreng keluarga Uchiha yang begitu di pandang.

Selama tiga hari aku memfokuskan segala apa yang sudah aku pelajari beberapa minggu lalu sebelum ujian di mulai, kak Itachi juga kadang membantuku. Aku tidak mungkin meminta bantuan Sasuke, aku tidak bisa fokus jika bersamanya, sedangkan kak Izuna, dia tipe pengajar yang buruk. Aku tidak bisa meminta bantuannya.

Tanpa terasa, ujian itu berakhir, ini belum berakhr, aku akan ujian seleksi lagi di SMA Q, otakku akan semakin bekerja keras lagi.

Berbaring di ranjangku, aku ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiran ini, aku jadi sering begadang dan sulit tidur, memikirkan bagaimana soal ujian besok? Apa aku bisa menjawabnya semua? Semuanya terus berputar-putar di kepala hingga membuatku tidak tidur hingga jam 2 pagi. Aku sering menemui kak Izuna di ruang tengah, dia sibuk dengan laptopnya.

Semuanya bukan orang yang santai, kak Izuna juga sibuk dengan pekerjaannya, aku pikir karena kak Itachi adalah direkturnya, mereka akan santai-santai, namun pekerjaan mereka cukup banyak.

"Apa aku juga bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan Niichan?" Tanyaku.

"Tidak. Jangan bekerja padanya, bekerjalah di perusahaan ibu." Ucap kak Izuna.

Lucunya, kak Izuna pun tidak merekomendasikan perusahaan milik kak Itachi.

"Kenapa? Aku jadi sering bertemu kalian." Ucapku.

"Dia bos yang buruk, pekerjaannya selalu banyak, selalu saja memberi pekerjaan dadakan, aku dan Sasuke jadi kesulitan."

"Aku bisa menanganinya." Tegasku.

"Jika kau bekerja pada ibu, kau akan mendapat perlakuan khusus."

"Aku tidak menginginkannya. Semua pegawai ibu pasti akan menatap risih padaku, untuk apa aku bekerja di kantor ibu jika mendapat perlakuan khusus? Lebih baik aku tinggal di rumah saja."

"Jika mereka melakukan hal itu. Aku akan datang ke kantor ibu dan mencolok mata mereka satu persatu, memberi mereka peringatan jika tidak ada yang boleh risih pada adik bungsuku." Ucap kak Izuna.

Apa dia sedang bercanda? Aku sampai tidak tahu jika itu sebuah candaa atau bukan, semua kakak-kakakku jika bercanda tetap memasang wajah tegas mereka, semuanya jadi terdengar seperti mereka benar-benar akan melakukannya.

"Bagaimana jika aku bekerja di perusahaan ayah?"

"Tidak-tidak. Ayah akan mempekerjaanmu dengan setengah hidup. Aku pernah magang di tempat ayah, salah sedikit saja, ayah akan mengomel padaku."

"Itu lebih menantang, aku jadi punya pengalaman kerja yang baik."

"Dengarkan, kau adalah si bungsu Uchiha. Jangan melakukan sesuatu yang sulit selama kami masih bisa memberimu jaminan hidup. Tetaplah menjadi seorang putri di keluarga ini, itu akan membuat kami lebih tenang."

"Bagaimana jika kalian menikah nanti? Kalian akan pergi dariku."

"Jangan memikirkan hal itu. Kami akan tetap bersamamu, Sakura."

Kak Izuna punya pola pikir yang berbeda, dia lebih cepat mengambil kesimpulan yang tidak ingin membuatku menjadi banyak pikiran. Dia ingin semuanya terkendali dan aku akan tetap menjadi seorang putri bagi mereka.

"Bagaimana jika aku yang menikah?" Tanyaku.

"Pria itu harus melangkahi kami terlebih dahulu." Ucap kak Izuna dengan mata membaranya itu.

Berbeda dengan kak Izuna, dia tidak pernah beranggapan akan hubunganku dengan Sasuke, dia selalu menepis jika kami tidak akan pernah memiliki sebuah hubungan selama aku masih menjadi adik mereka.

Aku jadi sering menikmati pembicaraan ringanku ini dengan kak Izuna di kalah sulit untuk tidur.

Terbangun dari tidurku, aku jadi mengingat semua pembicaraanku dengan kak Izuna.

Tringg..~ sebuah email masuk ke dalam ponselku.

Calon murid dengan nama Uchiha Sakura, kami nyatakan LULUS

Wow! Aku lulus! Lulus!

Aku tidak percaya ini, SMA yang cukup sulit untuk masuk, akhirnya memberiku jawaban. Aku harus bersiap untuk babak selanjutnya. Ujian masuk SMA Q. Rasanya mendebarkan, aku sangat senang akan kelulusan ini, walaupun ada rasa bersalah jika aku benar-benar di terima di SMA ini.

.

.

.

.

.

Hari kelulusan SMP.

Aku tidak mendapat peringkat pertama, tapi peringkat tiga besar, sudah termasuk yang terbaik. Kami mendengarkan sedikit pidato dari kepala sekolah dan wali murid dengan peringkat pertama.

"Aku hanya mendapat peringkat ketiga." Ucapku.

Sejujurnya aku sedikit malu. Apalagi mereka semua datang ke acara kelulusanku.

"Tiga tidak masalah, itu juga bagus." Ucap kak Itachi.

"Kau akan mendapatkan lebih baik saat SMA." Ucap kak Izuna.

"Lain kali kau akan mendapat peringkat pertama jika tidak fokus pada cemilanmu." Ucap Sasuke. Hanya dia yang memberi pernyataan yang berbeda.

"Kenapa kau menyalahkan cemilanku?" Protes kak Itachi.

"Kakak terlalu memberi banyak gula padanya. Mereka terlalu manis." Balas Sasuke.

"Hey, jangan bertengkar di acara kelulusan Sakura." Tegur kak Izuna.

Biasanya kak Itachi yang akan mengatakan hal itu, kali ini, kak Izuna yang mengatakannya dan melerai pertengkaran kecil ini.

Aku menjadi sorotan dengan kehadiran ketiga kakakku ini, tidak banyak murid yang ingin menghampiriku dan memberi selamat, hanya Ino saja yang berani, lagi pula dia sudah cukup mengenal kakak-kakakku, mungkin mereka masih beranggapan jika aku gadis yang buruk, bahkan memiliki hubungan dengan salah satu kakakku, itu rumor yang sulit di hentikan, aku hanya berharap tidak sampai ke telinga ayah dan ibuku.

Lagi pula, SMA Q sangat jauh, aku yakin murid-murid yang ada di sini tidak akan sampai ke sana dan kembali menyebar rumor itu.

.

.

TBC

.

.


author update cukup banyak, mau cepat di kelarin juga. maaf yaa akhir-akhir jarang update... semoga tetap betah untuk baca.

mungkin update yang ini dulu. kalau fic "My Bodyguard" sabar yaa..

author mau berterima kasih karena sering dapat review untuk di ingatakan, terima kasih...~

mungkin next chapter author kerja sampai tamat aja, soalnya fic ini juga udah cukup lama nggak update2. jadi bakalan update banyak chapter lagi, biar kalian nggak bosan nunggu lagi. XD

see you next chapter!