"Sial!"
Jihoon berdiri dari duduknya. Ia menghempaskan kursinya begitu saja.
Dengan pergerakan cepat ia mengetik barisan code pada layar-layar monitor di depannya yang menunjukan warna merah.
Myeongho yang berada di samping Jihoon juga terlihat fokus pada keyboardnya.
Oh, Myeongho hanya datang akhir-akhir ini ke markas Alligator karena diminta Jihoon.
Sebulan ini banyak sekali black mafia yang menargetkan Alligator. Jihoon jelas terkena dampaknya. Ia sampai meminta bantuan Myeongho untuk mengcover beberapa hal.
Tanda berkedip merah mulai muncul membuat Jihoon menggeram kesal.
Tangannya dengan lincah menari, berpindah dari satu keyboard ke keyboard lain.
"Lapisan terakhir aman." Ucap Myeongho.
Jihoon tak menjawab. Dirinya terlalu fokus untuk membunuh virus-virus maksiat yang menyerang.
Sedikit lagi maka lapisan pertahanan pertama hingga ketujuh akan aman.
Zzing…
Jihoon merasakan telinganya berdengung. Namun ia masih mengetik beberapa code.
Sial, pandangan mata Jihoon mulai memudar.
Sedikit lagi.
Tap.
Jihoon menekan tombol enter yang membuat pertahanan Alligator kembali berdiri kokoh.
Warna merah tanda peringatan sudah menghilang dari layar monitor. Namun bersamaan dengan itu, tubuh Jihoon linglung dan kehilangan tenanganya.
Jika saja Myeongho tidak tanggap, tubuh mungil itu akan berbenturan dengan lantai yang keras. Walau dengan perut yang sudah membesar karena kehamilan, Myeongho masih sanggup untuk memapah Jihoon.
Ne, Jihoon, Myeongho, dan Jisoo sama-sama tengah mengandung. Dengan Jisoo di kehamilan kedua yang berjalan 8 bulan, Myeongho yang juga di kehamilan kedua yang memasuki usia kandungan 5 bulan, dan Jihoon yang hari ini tepat memasuki usia kandungan 3 bulan.
"Hyung!"
Hansol yang ada di ruang utama langsung muncul melalui salah satu monitor.
"Lagi?"
Myeongho hanya mengangguk sambil meringis.
"Aku sudah menghubungi Soonyoung hyung. Teen akan mengantar ke rumah sakit."
Bersamaan dengan kalimat terakhir Hansol, sosok Teen masuk ke ruang kendali ini dan membawa tubuh Jihoon yang pingsan ke luar.
Meninggalkan Hansol dan Myeongho yang terhubunga melalui monitor.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku akan jaga diri lebi-"
"Jeon Jihoon! Kumohon dengarkan suamimu ini."
Suara dan nada Soonyoung tidaklah keras. Namun untaian kalimat yang keluar dari sosok itu penuh dengan penekanan.
Jika orang-orang melihat bahwa Jihoon adalah yang mendominasi di hubungan mereka, kalian salah.
Ketika mereka hanya berdua, Soonyoung adalah yang dominan. Namun yang ditunjukan olehnya ke khalayak ramai adalah sosoknya yang bisa dikatakan budak cinta Jihoon.
Jihoon terdiam kala mengerti Soonyoung sedang dalam mode tidak bisa dibantah.
Diamnya Jihoon membuat Soonyoung paham bahwa Jihoon kini mendengarkannya.
"Aku tak peduli jika kau melupakan hari jadi pernikahan kita. Yang aku pedulikan adalah kondisimu dan anak kita yang ada di perutmu! Ini sudah kelima kali kau berada di rumah sakit dan aku sudah terlalu lelah memintamu untuk keluar dari Alligator."
Ucapan itu terdengar bersamaan dengan wajah serius Soonyoung yang mengerikan.
Jihoon yang duduk di ranjang kamar mereka tetap terdiam.
"Hansol sudah memintamu untuk keluar. Kau berjanji untuk mengurus dirimu dengan baik jika kau tetap berada di Alligator. Tapi kau lihat kondisimu sekarang bagaimana?"
Soonyoung menghela nafasnya kasar.
Menjadi seorang Jihoon tidaklah mudah. Kau adalah satu-satunya orang yang tahu segala sesuatu mengenai database mafia besar Alligator yang bahkan leadernya saja tidak tahu.
Serangan cyber yang terjadi akhir-akhir ini membuat Jihoon bekerja terlalu keras. Pikiran dan tubuhnya kelelahan namun ia tak menyadari itu.
Ia bisa saja bangun di tengah malam atau subuh hari untuk melawan serangan besar yang terjadi dan harus segera dituntaskan.
Ia bisa juga terjaga semalaman tanpa tidur berkat virus atau pembobolan yang mafia lain lakukan.
Hingga akhirnya ia pingsan berkali-kali.
Hal ini terjadi selama sebulan penuh. Jika saja Jihoon tidak mengandung, Soonyoung tidak akan semurka ini.
Saat Jihoon pingsan untuk pertama kalinya, Soonyoung sudah meminta dirinya untuk berhenti yang didukung oleh Hansol. Namun Jihoon menolak.
Saat Jihoon pingsan untuk kedua, ketiga, dan keempat kalinya, Soonyoung terus menerus memohon pada Jihoon untuk berhenti. Dan Jihoon tetap menolak.
Namun ketika Jihoon jatuh tak sadarkan diri untuk kelima kalinya, kesabaran Soonyoung sudah habis dan amarahnya berada di puncak.
Hari ini adalah hari jadi pernikahan mereka yang pertama. Di antara Serenity Line, mereka berdua adalah yang paling terakhir untuk menikah.
Jihoon berada di kondisi gawat tadi karena serangan beruntun yang terjadi dari kemarin. Sehingga ia benar-benar terfokuskan ke perlindungan sistem Alligator, melupakan hari jadinya.
Ia yang berada di bawah tekanan masih sempat menekan tombol pertahanan terakhir sebelum dirinya jatuh pingsan.
Soonyoung sejujurnya panik luar biasa namun entah kenapa ia terlihat lebih diam dari biasanya. Dan terjawab sudah ketika Soonyoung dan Jihoon sampai di rumah setelah Jihoon bisa dipulangkan dari rumah sakit.
Kamar Hyunjin yang belum genap setahun ada di sebelah kamar mereka. Maka dari itu sebelum masuk ke kamarnya, Soonyoung meminta pada Wonwoo untuk mengajak Hyunjin tidur bersama karena takut kalau suara perdebatan yang terjadi akan menganggu tidur sang keponakan.
"Apa kau menunggu anak kita gugur baru kau akan berhenti?"
Deg.
Ucapan Soonyoung bagaikan sebuah belati tajam yang menusuk tepat di dada Jihoon.
Ia yang sedari tadi menunduk kini menatap ke perutnya yang belum terlalu membesar.
"Ia memang tidak seberharga itu dibandingkan kehidupan banyak orang yang ada di bawah naungan Alligator. Namun ia sebuah bukti cinta kita, Ji. Kalau aku bisa menggantikan posisimu untuk hamil, aku bersedia. Dibanding ia harus diduakan oleh ibunya sendiri."
Ucapan Soonyoung masih tidak berintonasi tinggi. Masih datar namun dengan penekanan di setiap kata.
Tes…
Air mata Jihoon perlahan jatuh dari pelupuk matanya.
"Soon…" Lirih Jihoon sambil menatap Soonyoung.
Helaan nafas muncul lagi dari Soonyoung.
Sosok yang masih mengenakan jas kerjanya itu mendekat ke arah Jihoon lalu memeluknya dengan erat.
Jihoon mengalungkan tangannya di leher Soonyoung dan menyembunyikan wajahnya di pundak sang suami.
Isakan tak terdengar dari Jihoon namun Soonyoung dapat merasakan pundaknya yang basah.
Soonyoung memejamkan matanya sambil menepuk surai dan punggung Jihoon. Memberikan Jihoon dan dirinya sendiri ketenangan.
Sejujurnya Soonyoung merasakan sakit yang luar biasa kala mengatakan kalimat kejam seperti tadi. Namun jika tidak seperti itu, sosok keras kepala yang merupakan pasangan hidupnya ini tak akan mengerti.
Pelukan itu masih berlangsung dengan tubuh Jihoon yang mulai tenang. Setidaknya getaran hebat beberapa menit lalu sudah tidak terasa.
"Aku akan keluar." Ucapan itu keluar dari Jihoon yang masih menyembunyikan wajahnya di pundak Soonyoung.
Soonyoung menghela nafasnya lega karena Jihoon akhirnya mendengarkannya. Soonyoung yakin saat Jihoon menangis, ia memikirkan banyak sekali hal di dalam otaknya. Memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi hingga akhirnya Jihoon mengambil satu keputusan.
Jihoon menegakan tubuhnya. Wajahnya basah dengan jejak sisa air mata. Sosok berhati baja itu akhirnya menangis juga.
Dengan telaten Soonyoung menghapus air mata Jihoon lalu ia menangkup kedua pipi namja itu.
"Mianhe. Ucapanku benar-benar keterlaluan." Kata Soonyoung.
"Aku juga minta maaf… karena aku terlalu keras kepala…"
Mereka kembali berpelukan erat. Saling melontarkan maaf dan mencari ketenangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siang hari ini sangat terik.
Soonyoung sampai di mansion Kwon dan memarkirkan mobilnya tepat di kanopi. Ia malas jika parkir di garasi padahal ia tak akan lama berada di mansion.
Sosok dengan jas santai berwarna hitam itu berjalan memasuki mansion.
Tak ada seorang pun yang terlihat sejauh ini.
Ah, Soonyoung tahu dimana Jihoon dan bayinya berada saat ini.
Langkah kaki Soonyoung membawanya ke sebuah ruangan di lantai dua. Ruangan ini berada di antara ruang bermain anak dan ruang baca.
Kala membuka pintunya langsung terlihat pahatan sosok Jihoon yang membelakangi Soonyoung.
Namun posisi Jihoon membuat Soonyoung tak bisa berkata-kata saat ini.
Jihoon duduk di meja kerjanya dengan dua buah layar monitor dan satu keyboard. Sebuah earphone terpasang di telinganya yang posisinya sengaja digeser sedikit agar ia tetap bisa mendengarkan kondisi di luar. Tangan kanannya memegang mouse yang bergantian menuju keyboard sedangkan tangan kiri Jihoon menggendong sesosok bayi mungil yang tertidur pulas.
Beberapa hari setelah Jihoon memutuskan keluar dari Alligator, ia menemukan sebuah minat baru yaitu producing music.
Dipadukan dengan bakat yang ternyata ia miliki, Jihoon sudah berada di jajaran producer kebanggaan Monteen Entertainment hanya dalam dua bulan ia mulai memproduksi lagu.
Soonyoung tidak bisa menolak karena bagi Jihoon producing music malah membuat Jihoon bahagia dan tingkat stressnya menjadi 0.
Semenjak itu juga Soonyoung membangun sebuah studio untuk Jihoon. Lengkap dengan piranti yang dibutuhkan Jihoon yang bahkan ada sofa yang biasa dijadikan tempat rapat antara producer dari Monteen Stage.
Ibu muda itu kini terlihat menikmati alunan musik yang keluar dari earphonenya. Senandung kecil keluar dari bibir mungilnya.
Oh, sosok itu belum sadar akan kehadiran Soonyoung.
"Enn… hiks… oeee…."
Jisung, yang baru berumur 10 bulan itu terbangun dan mulai menangis.
Jihoon langsung melepas earphonenya dan menimang-nimang Jisung di kedua tangannya.
"Aigoo, uri Jisungie lapar eoh? Ayo saatnya makan siang." Ucap Jihoon sambil mengusapkan hidungnya ke pipi anaknya.
Ketika Jihoon berbalik, ia mendapati Soonyoung yang tersenyum.
"Soon? Kenapa pulang?" Tanya Jihoon.
"Istirahat makan siang. Tapi aku ingin makan di rumah, jadinya aku pulang." Jawab Soonyoung.
Mereka berjalan menuju dapur bersamaan dengan Soonyoung yang bercanda dengan Jisung. Ia mencoba menghibur anaknya yang kelaparan itu untuk lebih tenang setidaknya.
Jisung tidak lagi menangis kencang, ia hanya mengeluarkan isakan-isakan kecil kini.
Sesampainya di area meja makan, Jihoon langsung menyerahkan Jisung ke gendongan Soonyoung selagi Jihoon mempersiapkan makanan Jisung di dapur.
"Kau benar-benar memprioritaskan Jisung, ne…" Ucap Soonyoung.
Meja makan dan dapur masih berada di satu lokasi yang sama, sehingga memudahkan kegiatan para penghuni rumah ini.
Terlebih mansion Kwon hanya mengerjakan asisten rumah tangga pada jam 10 pagi sampai 4 sore saja. Sehingga urusan memasak sarapan dan makan malam adalah tugas Jihoon dan Wonwoo.
Jihoon yang mendengar ucapan sang suami segera melirik Soonyoung sekilas lalu mendengus.
"Ada yang menamparku dengan keras. Jika aku tidak tersadar juga, mungkin aku akan dibunuh." Ucap Jihoon dengan santai.
Soonyoung tertawa kecil mendengar penuturan Jihoon. Tak mungkin ia membunuh orang yang dicintainya ini bukan?
Tak lama, Soonyoung menerima semangkuk nasi tim dan segelas air dari Jihoon.
"Nah, baby Jisungie… Ayo makan siang…."
Soonyoung mulai menyuapi Jisung dengan perlahan.
Jihoon sendiri kembali mempersiapkan makanan untuk Soonyoung. Jelas tadi ia bilang kalau ini jam makan siang bukan?
Di meja makan sudah tersedia beberapa lauk dan sayur yang dimasak oleh asisten rumah tangga. Ada bulgogi, kimchi jjigae, japchae, dan juga tangsuyuk.
Jihoon mengeset makanan-makanan itu di piring-piring kecil. Tidak lupa semangkuk nasi dan side dish juga ia tata. Set makanan itu lalu dibawanya untuk duduk dan diletakan di hadapannya sendiri.
Kondisi saat ini cukup lucu jika dilihat.
Soonyoung sedang menyuapi Jisung dengan telaten dimana Soonyoung sendiri juga tengah disuapi oleh Jihoon.
Adegan suap-menyuapi ini terlihat ribet dan lucu jika dilihat.
"Kenapa Soonyoung tidak makan sendiri dan Jihoon yang menyuapi Jisung?" Ucap Wonwoo yang memasuki area meja makan.
Nah, ini contoh orang yang melihat adegan suap-menyuapi keluarga itu cukup ribet.
"Sudah lakukan urusanmu, hyung." Jawab Jihoon yang kini menyuapi Soonyoung dengan satu potong daging.
Sosok kecil Hyunjin berjalan mengikuti Wonwoo tapi ia berbelok untuk mendekat ke Soonyoung yang memberi makan Jisung.
"Samchon, menu makan baby Jisung apa?" Tanya Hyunjin.
"Hari ini Jisung makan nasi sama ikan. Hyunjin udah makan?" Tanya Soonyoung balik.
Bocah itu menggeleng lalu berlari menuju Wonwoo.
"Eomma, mau makan ikan juga. Biar bareng sama Jisung."
Wonwoo yang tengah menyiapkan lauk yang ada di meja makan ssebagai menu makanan Hyunjin kini menatap Soonyoung dengan kesal yang terselubung.
'Kenapa jujur, Soon?'
'Ya mana aku tahu, Won.'
Kira-kira itu adalah pesan yang terkirim lewat tatapan mata kedua sohib itu.
Akhirnya Wonwoo mengalah dan memberikan menu yang diminta sang anak bungsu walau itu artinya ia harus memanggang ikan salmon terlebih dahulu.
Mereka kini berada di meja makan.
Hyunjin tengah asik melahap makanannya dibantu Wonwoo sesekali. Sedangkan Soonyoung dan Jihoon masih melakukan agenda mereka seperti tadi.
"Tadi di boutique, Myeongho cerita kalau Junhwi akhirnya sukses merubah lokasi database Alligator." Kata Wonwoo.
"Wow, secepat itu?" Ucap Soonyoung.
Jihoon mengangguk mengerti.
Ketika ia diangkat menjadi secret keeper Alligator, ia juga harus memindahkan database Alligator dan itu membutuhkan dua tahun dua bulan lamanya.
Yeah, posisi Jihoon telah digantikan oleh Junhwi.
"Benar-benar cepat. Sepertinya Alligator sudah berada di tangan yang tepat." Kata Jihoon.
Wonwoo mengangguk sebagai balasan.
Akhirnya suapan terakhir memasuki mulut Soonyoung.
Oh ternyata makanan Jisung juga sudah habis.
Setelah membereskan sisa piring, Jihoon kembali menggendong Jisung yang terlihat kekenyangan.
"Aku balik ke kantor dulu Won. Sampai jumpa lagi, Hyunjinie."
"Bye samchon. Hati-hati neee…" Balas Hyunjin sambil melambaikan tangannya.
Soonyoung dan Jihoon kini berjalan menuju pintu utama. Tentu dengan Jisung yang masih berada di gendongan Jihoon.
Sampai di teras depan, Soonyoung mencium pipi Jihoon bergitu juga dengan Jisung.
"Nanti malam mau dibawain apa?" Tanya Soonyoung.
Jihoon terlihat berpikir sebentar.
"Aku ingin pizza. Tapi harus dari Angelus." Ucap Jihoon.
Soonyoung mengangguk.
"Baik, sampai jumpa nanti malam, Ji."
"Pai Soon. Jisungie, ayo bilang pai sama appa."
Jihoon terlihat mengangkat tangan kanan Jisung sambil melambaikannya perlahan.
Soonyoung hanya bisa tersenyum sambil menaiki mobilnya.
Melihat kedua sosok yang sangat dicintainyan itu, rasanya Soonyoung tak ingin ke kantor lagi.
"Pai… Appa cinta kalian… Muachhh…." Ucap Soonyoung yang dengan semangat melambaikan tangannya keluar jendela mobil.
Dengan kacamata hitam dan senyum merekah, ia mengendarai mobilnya kembali ke kantor. Meninggalkan Jihoon dan Jisung yang masih melambai sampai mobil itu tak tampak lagi.
"Nah baby, mau main piano bareng?"
