Naruto punya Masashi Kishimoto
Goblin Slayer punya Kumo Kagyu
Highschool DxD punya Ichei Ishibumi
Crossover dengan beberapa anime atau game, yang mungkin kalian kenal dan pernah mainkan.
All Character OOC
Chapter 25
Opening: Atashi ga Tonari ni Iru Uchi ni by Chiai Fujikawa [ED Tate No. Yuha 2]
"Kita sudahi dulu topik soal rajanya. Rat Slayer! Ada sesuatu yang ingin kubicarakan, kau berkenan untuk ikut denganku. "
Lenneth yang tadi hanya melongo saja karena pikirannya tersangkut dengan sang Captain, segera mengguncang kepala untuk mendapatkan kesadaran kembali dan langsung menyela.
"Eh, ada apa?"
"Aku hendak membicarakan hal penting dengan Rat Slayer, apa tidak apa kalau aku membawanya sebentar."
Lenneth segera mengangguk saat mendengar penjelasan itu. Dia tidak keberatan dengan dibawanya Rat Slayer, hanya saja dia ingin tahu pembicaraan seperti apa yang ingin mereka bahas.
Kedua orang berbeda Ras itu melangkah keluar kedai, dan Lenneth duduk lesu ditemani oleh kelima pengawal dari Sai Stormrage. Saat itu sang Warrior yang melihat Lenneth tampak lesu membuka suara.
"Apa dia kekasihmu?"
Semburat pink muncul tipis di pipi Lenneth, dan Healer segera mengetuk kepala Warrior yang telah membuat gadis pendeta itu tampak salah tingkah.
"Adalah tidak baik, membicarakan hubungan seseorang. Jangan sampai Raja memarahi kita lagi."
"Itu sakit, aku paham. Maaf kalau aku lancang, nona pendeta."
Sang Mage mengembuskan napas, saat mendengar teman Warriornya berkata seperti itu. Seakan hal tersebut, sudah bosan dia dengar dari pria berbalut armor besi tersebut.
"Mulutmu sama besarnya dengan badanmu, andai saja otakmu juga besar. Kita tidak mungkin dimarahi oleh Raja."
Kali ini Sang Warrior segera menyergah.
"Oi! Yang bersalahkan bukan aku saja, kau juga ikut dalam menyela Rat Slayer. Kenapa malah aku yang jadi tersangka tunggal disini."
Sang Scout kini ganti menyergah.
"Itu karena kau juga yang memicunya, kami jadi terpancing tahu."
"Tapi kau juga tidak senang bukan, saat Raja kita disepelekan!"
Lalu Sang Monk akhirnya membuka suara, ketika melihat rekannya berdebat sengit.
"Apa yang dilakukan Warrior ada benarnya, kita tidak ingin Raja kita disepelekan. Namun, kita juga salah karena langsung menyerhah tanpa tahu siapa Rat slayer sebenarnya."
Melihat kelima orang di depannya sibuk menyalahkan warrior, membuat Lenneth tersenyum kecil lalu menyela mereka.
"Sepertinya kalian begitu menghormati Raja kalian ya. Selamat untuk kalian karena memiliki Raja seperti itu. Menemukan Raja seperti Sai Stormrage, seperti menemukan bunga udumbara yang sedang bermekaran.'"
[Istilah Buddhis yang mengatakan kalau sangat sulit, menemukan sesuatu yang berharga. Untuk lebih jelasnya cek aja deh mbah Google soal bunga udumbara ini. Oke. ]
"Ahaha kau benar, demi kelangsungan Ras kami dia rela berpergian jauh, demi menemukan sumber kekuatan yang ditinggalkan oleh leluhur kami." Ucap Warrior.
"Tidak hanya itu, dia juga menjalin kerjasama dengan Wooden Elf sehingga kami yang terpuruk karena kehilangan akses keajaiban memiliki kemampuan untuk menggunakan kekuatan roh sebagai senjata." Ucap Mage.
"Adalah suatu keajaiban bagi Ras kami yang mampu bertahan, setelah sebelumnya dianggap penghianat. Berkat beliau yang menawarkan diri untuk ikut dalam pembasmian sekte Cult of Damned, Ras kami memiliki harapan untuk bertahan." Ucap Healer.
"Peninggalan leluhur kami juga sangat banyak, walau itu sedikit tidak berguna. Tapi itu, akan menjadi harta berharga bagi kami." Ucap Scout.
"Dia terus berjuang dengan sekuat tenaganya, dan terus berjuang demi menjaga janjinya pada mendiang Ayah dan Kakeknya yang menjadi kebanggan Ras kami. Apapun yang terjadi, kami akan melindungi Tuan kami." Ucap Monk
'Sai Stormrage, kau benar-benar menjadi Raja yang adil dan bijaksana ya.'
Sambil mengatakan itu dalam hati, wajahnya melemparkan senyum terbaik pada kelima pengawal Sai tersebut. Hal itu, membuat kelimanya tidak bisa melanjutkan kata-kata lagi.
Ditempat lain, Sai dan Naruto sedang menatap tempat penduduk menanam padi yang masih hijau. Lalu Sai Stormrage mulai pembicaraan.
"Apa kau baik-baik saja selama ini?"
"Iya, aku bisa menjaga diri."
Sebuah simpul tercipta diwajah pucat itu, Night Elf itu sudah menyangka jawaban seperti itu yang diterima.
"Kosa katamu itu sangat buruk sekali ya, belajarlah untuk memperhalus lagi. Jadi orang lain tidak salah paham."
"Terserah, lalu ada apa perlu apa?"
'Dia benar-benar tidak bisa diajak basa-basi, mau bagaimana lagi.'
"Aku meminta padamu untuk mengijinkanku ikut denganmu. Apa kau keberatan?"
Begitu mendengar apa yang diucapkan Sai Stormrage, pria berambut pirang itu mengarahkan wajahnya untuk melihat lawan bicara lalu menjawab.
"Alasannya?"
"Berpetualang sendiri itu membosankan, aku yakin kau pasti kesepian bukan."
"Itu tidak benar, aku awalnya sendiri. Namun, saat ada Pendeta itu, pekerjaanku jadi ringan dan juga ..."
Naruto tidak melanjutkan ucapan seakan mulutnya terkunci, untuk meneruskan apa yang hendak dia ingin utarakan. Sai Stormrage yang mengerti hal itu, hanya tersimpul dan menyanggah.
"Berpetualang bersama itu menyenangkan bukan, aku juga memiliki tujuan yang harus kutemukan. Tapi kalau kau menolak, aku tidak masalah."
"Bukan begitu, aku hanya tidak biasa memimpin party."
Mata Sai meredup mendengarnya, seakan dia melihat dirinya sendiri berdiri tepat di sampingnya. Meski dia sudah membawa Ras Night Elf lebih baik, tapi itu masih belum cukup karena sesuatu yang buruk sedang mendekat.
Dia juga harus terus memantau pergerakan sekte jahat, dan menemukan peninggalan leluhurnya yaitu Nyggrasil agar Night Elf sepenuhnya pulih.
"Kau dan Pendeta order Freya itu Masih hidup selama petualangan, itu merupakan bukti kalau kau mampu menjadi pemimpin yang baik. Apa kau tertarik memimpin tidak hanya satu orang."
"Hm."
Sebuah dengusan kecil keluar dari Rat Slayer, dia masih belum percaya diri jika harus memimpin beberapa orang. Dengan kata lain, dia belum siap untuk menjaga nyawa seseorang.
"Kau pemimpinnya dan aku wakil, kalau kau bisa menerima itu. Aku siap."
"Eh?"
Sai sweatdrop kalau mendengar itu dari Naruto, hal ini sama saja seperti memberi makan tapi dia makan duluan sedangkan yang dikasih hanya minta sisa.
"Kenapa aku yang jadi ketua partynya, harusnya seseorang itu senang saat ditunjuk sebagai ketua. Mereka bebas mengatur para anggotanya dan mendapat hak untuk membagi item dan rampasan Dungeon."
Naruto menundukkan kepala cukup lama, dia mengerti sepenuhnya apa yang diucapkan Sai. Pengalaman dirinya masih kurang, dan itu yang membuat dia tidak yakin.
Dia beberapa kali sudah menyusahkan Lenneth, dan juga tidak bisa berpartisipasi dalam obrolan ringan. Hal itu pasti akan memberikan dampak besar pada anggotanya.
"Kau hanya menilai dari sisi keuntungannya, sebagai seorang Raja kau pasti tahu tugas yang lebih sulit dari pemimpin. Aku tidak sanggup menanggung hal sebesar itu"
'Apa dia takut jika tidak bisa menjamin keselamatan kami, orang ini sepertinya benar-benar tahu arti dari sebuah kedudukan. Namun, yang kurang darinya adalah cara bagaimana dia mengungkapkannya.'
Sudut bibir itu melekuk dan matanya terpejam, mengingat kembali bagaimana pertama kali dia diangkat menjadi Raja atas Rasnya, karena ayahnya yang turun tahta.
Saat itu acara penobatan belum dimulai dan dia menatap Shin Stormrage, dengan penuh kebimbangan karena tugas yang akan diembannya.
"Ayah! Sepertinya aku tidak sanggup melanjutkan peranmu sebagai seorang Raja. Berikanlah aku waktu lagi, untuk bisa belajar supaya lebih siap menjadi Raja."
Sang Raja Shin Stormrage melekukan sudut bibir, ketika putra mahkotanya nampak bimbang sebab akan dinobatkan sebagai Raja muda.
"Mau sampai kapan lagi kau akan siap, Anakku!"
Dia menjeda kalimat tersebut, untuk mendapatkan perhatian putra mahkota lalu melanjutkan.
"Saat akan terlahir ke dunia semua orang dari berbagai Ras, tidak ditanya apa dia siap atau tidak untuk hidup di dunia yang kejam ini. Saat kita terlahirlah tujuan itu muncul dan bisa menentukan akan menjadi apa kita dan yakin, kalau kita siap untuk hidup di dunia ini."
Sai yang mendengar itu segera menyela.
"Tapi Ayah! Ada beberapa orang yang bahkan hidup dengan kemiskinan dan kekurangan, beberapa juga malah tidak mendapat kebahagiaan sama sekali. Apa itu juga merupakan salah diri sendiri yang tidak menentukan akan kemana hidup ini, apa orang seperti itu dibutuhkan dunia untuk keseimbangan. Kalau seperti itu adanya, aku lebih baik tidak terlahir ke dunia jika hanya untuk di perlakukan seperti itu. Persis seperti Ras kita sekarang, yang selalu dikucilkan karena kesalahan kakek."
Shin Stormrage tidak marah meski putra mahkota Sai membentak, saat menyampaikan perasaannya itu. Justru dia tersenyum mendengarnya.
"Kebahagiaan dan Penderitaan sebenarnya hanyalah sebuah standar yang tidak menentu, Anakku! "
"Hah!"
Sai Stormrage begitu kaget saat mendengar Raja Shin berkata seperti itu, seakan mencoba menafikan apa yang telah diucapkan olehnya.
"Kenapa bisa begitu, Ayah?"
"Keduanya hanya sebuah ungkapan untuk menggambarkan kedudukan, emosi dan, pencapaian seseorang. Contohnya saja, ada seseorang yang banyak harta tapi dia tidak bahagia malah bunuh diri. Jika kita mengikuti standar bahagia, seharusnya dia tidak bunuh diri karena banyak harta merupakan syarat utama untuk mencapai kebahagiaan tapi dia malah tidak bahagia. Tapi ada juga orang yang serba kekurangan, tapi dia selalu tampak berseri dalam kekurangannya. Jika masuk dalam standar penderitaan, dia adalah yang paling menderita karena kekurangan harta merupakan bagian dari penderitaan."
Wajah Sai kini menegang seakan baru menyadari hal tersebut. Selama ini dia juga melihat beberapa teman dan rakyatnya berlaku seperti itu. Bahkan saat dia menjalankan misi, untuk ikut dalam pembasmian sekte Cult of Damned.
Dia menjumpai apa yang telah diucapkan Ayahandanya. Itu juga sempat membuatnya bertanya-tanya. Kenapa hal itu bisa terjadi dan kini dia memahaminya.
"Dengan kata lain yang menentukan kita bahagia atau menderita adalah diri sendiri begitukah, Ayah!"
"Itu benar, standar kebahagiaan dan Penderitaanmu hanya kaulah yang tahu, tapi kalau kepemimpinan maka..."
Dengan tersenyum simpul, dia melirik Rat Slayer yang masih termenung karena diminta untuk menjadi ketua party. Lalu dia pun melanjutkan apa yang diucapkan sang Raja.
"Mereka yang diakuilah yang pantas menjadi seorang pemimpin. Yang hanya mengaku saja, tidak layak menjadi pemimpin. Karena itu Naruto, aku mengakui kalau kau layak menjadi ketua party."
Begitu mendengar apa yang disampaikan Sai, mata saphire itu menutup. Naruto berusaha menolak tawaran itu, tapi saat mendengar dia diakui pantas. Ada sesuatu dihatinya yang merasa harus menyambut tawaran tersebut.
Lalu dia membuka mata dan mengangguk sambil berkata mantap.
"Aku mengerti, besok kita ke kota Air sebaiknya kau istirahat."
Selepas mengatakan itu, Naruto beranjak dari sana untuk kembali ke penginapan. Sai Stormrage yang mendengarnya hanya ttersimpul, aat ucapan yang dulu diarahkan padanya bisa berhasil membujuk Rat Slayer menjadi ketua party.
"Dia tidak Membantahnya, entah dia mengerti atau tidak. Setelah menemukan apa yang kucari, aku akan minta maaf."
Dan dia pun segera mengikuti dari belakang, sambil bersyukur karena diizinkan masuk ke dalam Party kecilnya Rat slayer.
Di tempat yang lain, berjarak satu hari perjalanan dari Kota Air terdapat sebuah desa yang biasa digunakan pengelana untuk beristirahat. Desa itu amat penting karena menyediakan makanan serta penginapan, untuk mereka yang hendak berkunjung ke kota Air.
Tujuan orang-orang ke kota Air bermacam-macam, ada yang melakukan kegiatan agama, mengunjungi Guild dan mendaftar jadi petualang atau hanya sekedar menikmati suasana di kota tersebut.
Desa tersebut mengambil keuntungan dengan menyediakan penginapan, dan menjual makanan serta perlengkapan lainnya. Desa itu lumayan makmur bahkan beberapa Ksatria dari kota Air berpatroli di sana, untuk mengamankan mereka yang hendak ke kota air dan juga menjaga agar desa itu tidak dalam masalah.
Namun desa itu berantakan. Rumah-rumah menjadi puing, jalanan dipenuhi mayat penjaga bergelimpangan dengan kondisi yang mengenaskan, darah melumuri jalan dan para wanita desa menjadi alat pemuas monster yang menyerang.
Tiga hari yang lalu monster tersebut menyerang, penjaga dibantai dan penduduk lainnya berhaburan. Namun, semuanya berakhir tragis dengan tubuh mereka dimutilasi dan dibiarkan begitu saja.
Mereka di kenal sebagai monster terlemah dan keberadaannya sering diabaikan. Sebuah pepatah bahkan mengatakan, setiap kali ada kelompok baru maka mereka juga membentu kelompok.
Quest tentang mereka sangat banyak namun bayarannya sedikit, para petualang berpengalaman menghindari layaknya kutukan dan monster yang dimaksud adalah Goblin.
Satu Legiun Goblin berhasil menundukan desa ini, mengambil lumbung padi mereka, membunuh penduduk dan menikmati gadis desa yang dalam keadaan paripurnanya.
Pemimpin dari Legiun ini adalah Raja Goblin dengan didampingi Dark Elf. Motif penjarahannya adalah menjadikan desa ini benteng, sebelum beralih ke kota yang lebih besar demi mendirikan sebuah negara Goblin.
[Percakapan Dark Elf dan Goblin Lord.]
"Kita sudah menguasai tempat ini sepenuhnya, namun tujuan selanjutnya adalah kota yang berada di sini."
Sambil mengatakan itu sang Dark Elf, menunjukkan sebuah lokasi di atas peta yang terbentang. Keduanya sangat serius merencanakan untuk menyerang kota yang dimaksud.
"Tempat itu sangat suci dan banyak petualang di sana, menaklukan tempat itu pasti sulit."
"Ahaha! Apa kau tidak tahu Classku itu apa?"
Sang Raja Goblin sweatdrop saat mendengar Dark Elf di depannya tertawa. Dia jelas mengetahui Class yang dimiliki Dark Elf tersebut.
Terspesialisasi dengan Dark Magic dan penyembah dari Dewa Kegelapan Anggra Mainyu. serta pengikut dari Order of Embiyu, tak diragukan lagi bahwa.
"Aku adalah seorang Necromancer, dengan kemampuanku. Kita akan ubah mayat-mayat penduduk ini menjadi undead dan mengirim mereka sebagai garis depan untuk melemahkan. Setelah itu baru kita gempur mereka. Bagaimana sederhana bukan."
Goblin Lord menampakan taringnya tanda senang akan usulan yang didengar. Dengan hancurnya garis depan mereka, maka sangat mudah untuk menaklukan seisi kota yang panik. Dan itu berarti tujuannya akan tercapai, negara para Goblin dan banyak wanita yang bisa dia tiduri.
"Aku setuju, kalau kurang bahan kita gunakan saja mayat-mayat dari Rasku untuk tambahan pasukan Undead kita."
Goblin tidak mengenal rasa kasihan atau empati pada sesama mereka, bila harus mengorbankan teman agar tujuan mereka tercapai. Tanpa ragu mereka akan melakukannya, begitu culas dan biadabnya makhluk ini.
Sampai-sampai mayat rakyatnya sendiri pun dijadikan Undead, agar dia bisa menaklukan kota yang diincarnya. Sang Dark Elf Necromancer tersenyum, dengan apa yang diucapkan Goblin Lord tersebut.
'Memang Goblin adalah makhluk bodoh sehingga mudah untuk ditipu, setelah berhasil menaklukan kota itu. Aku akan memenggal kepalamu agar dijadikan contoh agar rakyatku tidak menentang padaku ahahah!' batin Dark elf.
Lalu jauh dari tempat itu, pasukan yang dipimpin Rat Barbarian akhirnya tiba di desa para Rhea. Segera Rat Barbarian menampakan senyum bengisnya sambil berkata culas.
"Akhirnya, Harvest Ferstival untuk tuanku The Horned Rat akan dimulai. Pengintai! Lakukan pengamatan dan laporkan situasinya. Kau wizard! Segera hitung berapa persentasi kita berhasil dalam ritualnya, yang lain bersiaplah menunggu perintah!"
"Oohh!"
And Cut
Oke Jinchuriki Shukaku kembali,
Maaf atas jika tidak sesuai ekspetasi. Semoga chapter ini menghibur dan mengobati penantian kalian selamat semingggu ini. silakan berikan komentar kalian.
Chapter ini membahas dilema Naruto yang dijadikan pemimpin. Dia mengetahui besarnya tanggung jawab pemimpin, berkat pelatihan dengan gurunya.
Juga dia merasa tidak layak untuk memimpin party, sebab dia tidak pandai berkomunikasi. Tapi, Sai memberikan dorongan padanya untuk menyambut tawaran tersebut.
Lalu saat bersamaan pasukan Goblin dan Omni-Rat sudah bergerak dan siap menyerbu. Yah kurasa segitu dulu spoilernya, selamat menebak akan kemana ceritanya:v
Tambahan dikit, Jika kalian ingin berdonasi silakan kirim saja menggunakan aplikasi gopay ke nomor 089523076375 atas nama Tessar, ini hanya sebagai rasa support kalian kepada penulis.
Semua donasi kalian diterima berapa pun itu, asalkan kalian ikhlas dalam memberikannya dan tidak terbebani. Semoga dengan itu Tuhan memberi kalian Rezeki yang lebih banyak.
