Rinkazura Presents
Disclaimer Masashi Kishimoto
ORANGE
"Persimpangan Jalan"
Genre : Crime, Mystery, slight Romance
Rate : T
A MinaKushi Fanfiction
Warning : typo(s), OOC (maybe), etc.
SUMMARY : Minato berusaha sangat keras untuk mendapatkan penawar untuk Kushina tanpa menghiraukan apapun yang menghalanginya, apapun. Hanya itulah yang penting baginya sekarang.
.
Cerita sebelumnya:
"Tsunade-sama.." panggil Shikaku dari balik pintu. Tsunade pun menoleh. "Penawarnya bereaksi. Kerja bagus!" ujar Tsunade senang.
"Ada yang ingin kubicarakan – dan segera.." kata Shikaku sambil mengisyaratkan Tsunade untuk keluar.
"Mikoto, Shizune, jaga Kushina."
Tsunade pun mengikuti langkah Shikaku.
"Apa yang membuatmu buru-buru?" tanya Tsunade dari belakang Shikaku. Ia merasa aneh lantaran Shikaku berjalan dengan langkah lebar dan cepat.
"Ini – soal Minato. Kau harus menolongnya segera," tutur Shikaku sambil berbalik menatap Tsunade dengan tatapan serius lebih dari biasanya.
Sontak saja Tsunade terperangah kaget dan segera berlari menuju unit gawat darurat.
Enjoy reading :)
.
Tsunade berlari secepat yang ia bisa tak peduli banyak mata yang memandangnya heran. Ia harus bergegas—bahkan mendahului Shikaku. Tsunade tak mau terlambat lagi seperti sebelumnya. Wanita paruh baya bersurai kuning pucat itu berbelok dan segera memasuki unit gawat darurat, membuka pintu tanpa ampun.
"Dimana dia?!" serunya seraya mengedarkan pandangannya dan menemukan Fugaku di sana.
"Fugaku, keluarlah," tutur Tsunade dingin. Fugaku segera melangkah keluar tanpa berkata-kata meninggalkan rekannya yang berada di atas ranjang. Para perawat menatap Tsunade.
Tsunade menghela nafas panjang, "aku tidak akan membiarkanmu mati dua kali, Minato."
.
.
Jiraiya menghampiri Fugaku dan Shikaku yang duduk di kursi tunggu ruang operasi.
"Biar aku yang menunggu di sini. Kalian istirahatlah," tutur Jiraiya sambil menepuk pundak Shikaku. Shikaku Nara menatap Jiraiya kemudian menghela nafas.
"Tidak. Aku lebih memilih di sini ketimbang bertemu Mikoto dan dicecar habis-habisan," ujarnya. Jiraiya tertawa pelan.
"Seharusnya Fugaku yang perlu khawatir."
"Aku barusaja berbohong padanya. Mungkin aku akan dihajar," kata Fugaku menimpali.
"Aku heran kenapa kalian setakut itu, dasar pengecut," ejek Jiraiya.
"Tsunade-sama marah besar tadi. Sekedar info saja," balas Shikaku sambil melirik Jiraiya yang wajahnya menjadi tegang.
"Sialan."
Kushina yang keadaannya telah membaik dipindahkan ke ruang rawat. Setelah diinjeksi penawar racun, Mikoto selalu berada di sampingnya hingga sekarang – hingga matahari sudah benar-benar terlihat sinarnya. Mikoto menanti Kushina membuka mata bahkan sampai sesekali ia terlelap di samping ranjang Kushina. Mikoto merasa sedikit heran mengapa Fugaku dan yang lain tak kunjung menghampirinya. Bukankah seharusnya mereka melihat keadaan Kushina yang membaik? Minato juga terutama. Bahkan Mikoto sampai bersumpah akan memberi Minato pelajaran kalau sampai Kushina sadar nanti ia tak berada di sana.
Namun di sisi lain, Mikoto memahami bahwa Madara telah ditangkap dan mereka pasti punya banyak pekerjaan untuk diselesaikan terkait semua kasus Madara—yang tentu saja perlu diungkap. Mungkin keluarga Uchiha yang memiliki kebanggaan itu akan malu—atau bisa saja mencopot nama Uchiha dari Madara—mungkin Madara tidak peduli juga soal itu.
"Cepatlah sadar, Shina..Kumohon!" ujar Mikoto sambil menggenggam tangan sahabatnya itu. Wajah gadis bersurai merah itu masih agak pucat, namun sudah lebih baik dari sebelumnya. Penawar racunnya benar-benar bekerja. Sekarang hanya perlu menunggu Kushina sadar untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
Iya, pasti semua akan baik-baik saja.
Lagi-lagi Mikoto merasa sangat mengantuk dan ia memutuskan untuk menyandarkan kepalanya di samping Kushina sambil terus menggenggam tangannya. Mikoto sudah tak bisa menahan kantuknya dan ia pun mulai terlelap. Selang beberapa menit, Mikoto masih terlelap sementara tangan yang ia genggam bergerak perlahan—terlalu perlahan hingga tidak mengganggu tidur Mikoto.
Kelopak mata Kushina perlahan-lahan membuka dan menunjukkan warna irisnya. Ia mengerjap beberapa kali menyesuaikan matanya dengan cahaya hingga akhirnya ia membuka mata sepenuhnya.
"Miko-chan...?" panggilnya perlahan. Sang pemilik nama tak bergeming sekalipun Kushina menggerak-gerakkan tangannya yang digenggam Mikoto.
"Dasar tukang tidur hihihi...," tutur Kushina sambil tertawa pelan.
Namun dalam hati ia sedikit sedih ketika ia bangun pria itu tak ada di sisinya. Melihat sekelebat pun tidak.
Kemana dia? Ia tidak mungkin meninggalkannya seperti dalam mimpinya kan?
Entah mengapa perasaan Kushina menjadi sedikit sendu dan merasa ingin menangis. Nafasnya sudah tercekat di tenggorokan dan matanya mulai berair.
"Kushina, dengar, setelah ini...apapun yang terjadi berjanjilah padaku satu hal."
"Jangan menangis."
Kushina teringat sejenak dan ia mengurungkan tangisnya. Ia menghela nafas panjang.
"Semuanya akan baik-baik saja. Dan lihat saja dia pasti akan kemari nanti. Iya, kan?" katanya pada diri sendiri.
"Oh, kau sudah bangun," kata seseorang di ambang pintu. Suara yang datar. Kushina menoleh ke arah pintu.
"Halo Fugaku. Kau kelihatan baik-baik saja, misimu pasti berhasil," balas Kushina. Fugaku tak menjawab dan berjalan masuk lalu mendekati Mikoto dan menyelimuti tubuhnya dengan jaket yang ia bawa.
"Begitulah," jawab Fugaku.
"Dimana yang lain? Kalian semua kembali dengan selamat?" tanya Kushina penasaran.
"Kulihat kau berisik seperti biasa, kelihatannya kau sudah sehat."
"Fugaku!"
"Yah..tapi masih ada yang harus dilakukan. Masih ada hal yang belum selesai," kata Fugaku—datar seperti biasa. Kushina mengernyitkan dahinya, merasa tidak puas dengan jawaban Fugaku.
"Pikirkan dirimu dulu, baru yang lain. Beritahu Mikoto aku akan pulang sebentar dan akan kembali nanti," tambah Fugaku sambil berbalik dan berjalan keluar.
Tiba-tiba ia berhenti di ambang pintu.
"Dan katakan aku baik-baik saja, jadi tak perlu khawatir."
"Meskipun seperti robot kau juga punya perasaan ternyata Fugaku," ledek Kushina dan tidak digubris oleh Fugaku Uchiha yang berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Ernggh...Hoam.." Mikoto mengerang pelan dan mengucek matanya.
"Selamat pagi tuan putri," sapa Kushina yang sudah duduk di ranjangnya sambil memandangi sahabatnya yang baru bangun tidur.
"Selamat pagi—ah! Kushina?! Kau sudah bangun?! Sejak kapan?!" seru Mikoto yang telah sadar sepenuhnya. Lalu air mata jatuh begitu saja ketika melihat sahabatnya tersenyum jahil.
"Lima menit yang lalu, mungkin?" jawab Kushina sekenanya. Sontak saja Mikoto memeluk Kushina dengan sangat erat sambil terisak.
"Shina bodoh! Kupikir aku takkan melihatmu lagi! Apa kau tahu kau sudah membuat banyak orang khawatir, hah?!" seru Mikoto—setengah memaki gadis bersurai merah itu. Sementara Kushina hanya tertawa dan membalas pelukan Mikoto.
"Terima kasih, Miko-chan. Aku sudah baik-baik saja, kok!" kata Kushina. Gadis berambut gelap itu melepas pelukannya dan menyeka air mata.
"Aku benar-benar bersyukur kau sudah baik-baik saja. Sungguh..aku bisa saja berhenti dari S.A.D kalau kau tidak kembali," katanya.
"Aku ini kuat, kau tahu kan, Miko-chan?" ujar Kushina sambil mengepalkan tangan. Ia merasa lebih baik – meskipun agak pusing sedikit.
"Oh! Aku akan memanggil Shizune-san untuk memeriksamu. Saking senangnya sampai aku lupa!" seru Mikoto lalu menekan tombol untuk memanggil perawat. Kemudian Mikoto kembali menatap Kushina sambil tersenyum senang. Ia benar-benar lega sahabatnya kembali sadar dan bisa tertawa bersamanya. Meskipun bukan hal asing jika seorang agen mengalami hal seperti ini, tentu saja Mikoto tak bisa tinggal diam tanpa khawatir jika sahabatnya dalam bahaya. Agen juga manusia berperasaan.
"Mikoto...," panggil Kushina dengan nada lirih.
"Ada apa, Shina?" Mikoto memiringkan kepalanya sedikit heran dengan perubahan wajah Kushina yang berubah agak sedih.
"Ceritakan apa yang terjadi," tutur Kushina menatap Mikoto dengan sorot mata tajam. Kushina telah berpikir, ia yakin yang ia temui sebelum pingsan adalah anak buah Madara. Kemudian setelah malam itu ia tidak sadarkan diri dan tidak tahu apapun. Sudah pasti orang itu memberinya cairan berbahaya dan membuatnya tidak berdaya. Lalu sekarang ia sudah sembuh, pertanyaannya, dimana Minato, dan yang lain? Bahkan Fugaku tidak bertanya apapun tadi. Ia tahu Fugaku bukan orang yang akan menunggu meskipun ia baru sembuh. Fugaku adalah tipe yang akan langsung menanyakan hal ini secara langsung. Lalu kenapa dia tidak berkata apa-apa? Kushina sangat yakin jika ketika ia bangun mereka jelas akan bertanya beberapa hal. Ada hal yang aneh.
Mikoto membalas tatapan Kushina dan menghela nafas panjang.
"Jadi-"
"Kushina!" seru Shizune tergopoh-gopoh bersama dua orang perawat di belakangnya. "Syukurlah kau sudah sadar!" lanjutnya kemudian segera memeriksa keadaan Kushina dengan senyum yang merekah.
Shizune melakukan beberapa pemeriksaan pada Kushina, kemudian tersenyum lebar. "semuanya stabil, setelah istirahat beberapa hari kau sudah boleh pulang," ujarnya pada gadis bersurai merah itu.
"Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku dan Tsunade-sama, Kushina, syukurlah kau sudah kembali," tambah Shizuna.
"Terima kasih sudah merawatku dengan baik, Shizune-san. Omong-omong dimana Tsunade-sama?" tanya Kushina sambil membalas senyuma Shizune.
"Aku belum melihatnya sejak semalam. Mungkin ada keperluan, entahlah, setelah itu pasti akan mampir kemari," jawab Shizune. Lalu tak lama kemudian Shizune keluar dari kamar Kushina dan membiarkan gadis itu bersama sahabatnya.
"Syukurlah!" seru Mikoto ikut senang.
"Oh, Fugaku bilang ia akan pulang sebentar dan dia baik-baik saja," tutur Kushina teringat pesa Fugaku. Sontak Mikoto megernyit, "dia kemari? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?"
"Tadi, ketika kau tertidur, tuan putri," kata Kushina sedikit meledek.
"Kenapa sih orang-orang ini?! Hari ini mereka datang da pergi begitu saja, bahkan setelah penawarnya datang!" ujar Mikoto kesal.
Kushina menatap Mikoto dalam-dalam. Wajahnya berangsur serius, "apa Madara berhasil ditangkap?" tanyanya.
Mikoto mengangguk yakin. "Aku mendengar dari mereka di bawah, Madara ditahan di bawah tanah sekarang dan akan segera diinterogasi," jawab Mikoto.
"Mikoto, kau tahu aku tidak sadarkan diri ketika di rumah, aku tahu seseorang memberiku sesuatu – "
"Racun, iya kau diracun malam itu," sela Mikoto.
"Apa yang terjadi setelahnya?" lanjut Kushina penasaran. Selain itu, ia juga ingin tahu dimana pria itu sekarang.
"Tsunade-sama bilang malam itu kau demam tinggi dan Minato membawamu kemari untuk mendapatkan perawatan dan ya – seseorang meracunimu, Yahiko meracunimu. Aku tidak tahu bagaimana jelasnya tapi keadaanmu benar-benar gawat. Lalu Minato mendapat telepon dari Madara dan mengatakan ia memiliki penawarnya setelah itu yang kutahu Minato mendatanginya sendirian," jelas Mikoto.
"Si bodoh itu?! Dia tahu bagaimana Madara dan ia mendatanginya sendirian?! Kenapa dia tidak berdiskusi dengan Jiraiya atau Shikaku?" sela Kushina dengan kesal. Ia sama sekali tak habis pikir dengan jalan pikiran Minato yang ia tahu sangat tenang. Sangat aneh.
"Kau benar, tapi kemudian Tuan Jiraiya, Shikaku, Fugaku dan yang lain menyusulnya dan aku tidak tahu apa yang terjadi di sana, tapi mereka kembali dengan penawar racun dan Madara berhasil diringkus," tutur Mikoto mengakhiri ceritanya. Ia menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Tapi aku heran...sampai sekarang mereka belum memberikan laporan misinya. Aku tahu Tuan Jiraiya memimpin mereka dalam misi itu, tapi seharusnya mereka sudah melapor ke bagian pelaporan – kau tahu sendiri kan betapa disiplinnya Fugaku?" tambah Mikoto. Kushina setuju, jika memang itu yang terjadi ia juga akan merasa heran.
"Lalu apa kau sudah menemui mereka?" tanya Kushina. Mikoto menggeleng, "kau bahkan melihat sendiri Fugaku pulang duluan. Sementara ketika mereka kembali pagi buta tadi tak ada yang memberitahuku apapun. Bahkan Minato juga tidak kelihatan!" Mikoto mulai kesal mengetahui kenyataan bahwa ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Kau tidak bertemu Minato sama sekali?" Kushina mulai penasaran. Bukan bermaksud besar kepala, tapi Minato yang mengetahui keadaannya malam itu apa sekarang saat dia sudah sadar pria itu sama sekali tidak menghampirinya?
"Sudahlah. Mungkin ia sedang istirahat di rumah dan akan kembali nanti. Sekarang sebaiknya kau fokus untuk kesembuhanmu, Shina!" kata Mikoto menenangkan.
"Ya, meskipun akan kuhajar Fugaku jika sampai ia menyembunyikan sesuatu dariku, huh!" tambahnya.
Kushina tersenyum tipis dan menoleh ke arah jendela kamarnya, melihat dedaunan kuning yang berjatuhan diterpa angin.
Kalau boleh, aku ingin berharap sedikit.
Suara peralatan medis terdengar nyaring di dalam ruang operasi markas SAD. Ditambah dengan suara para perawat yang sibuk memenuhi keperluan dokter yang sedang melakukan operasi. Wanita paruh baya berdiri di hadapan pasiennya dengan raut serius didampingi para perawat dan rekan dokternya. Dengan teliti ia melakukan operasi pada seorang pria bersurai pirang di hadapannya.
"Tsunade-sama, dia mengeluarkan banyak darah!"
"Ambilkan aku lebih banyak kantong darahnya! Apa kalian bisa bergerak cepat?!" seru Tsunade.
Tsunade berkonsentrasi penuh dan dengan tangan cekatannya mengeluarkan peluru dari bagian tubuh pasiennya. Minato Namikaze, pasiennya. Wanita itu dihasut rasa cemas, namun tetap tenang menghadapi situasi itu, sekalipun pasien di hadapannya adalah keponakan kesayangannya.
"Kenapa kau bisa sampai begini, Minato bodoh!" rutuknya pada pemuda yang berbaring di hadapannya itu. Ia begitu khawatir, peluru itu bersarang di dadanya. Ia sangat khawatir kalau-kalau peluru itu mengenai jantung Minato. Demi apapun, jangan sampai. Tsunade bersama rekan-rekannya segera melanjutkan operasinya.
"Untung saja tidak menyentuh organ vitalnya...dia beruntung," tutur salah satu perawatnya. Tsunade meletakkan butir peluru yang berhasil ia keluarkan ke atas tempat yang telah disiapkan. Wanita itu menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sedikit lebih lama.
"Iya aku tahu.. Sekarang ayo selesaikan ini," kata Tsunade.
Aku tidak akan memaafkanmu jika nanti kau tidak bangun lagi Minato.
.
.
Lampu penunjuk operasi sedang berlangsung pun padam dan membuat Jiraiya yang duduk di depan pintu menoleh dan berdiri. Wanita paruh baya berambut pirang pucat itu keluar.
"Bagaimana keadaannya? Kau bisa menyelamatkannya, kan?" cecar Jiraiya tak sabar. Tsunade menghela nafas dan mengangguk ringan.
"Aku sudah mengeluarkan pelurunya dan mengobati lukanya. Dia mengeluarkan banyak darah juga tapi tidak masalah. Sekarang hanya perlu menunggunya sadar. Aku akan memindahkannya nanti," jelas Tsunade. Jiraiya pun menghela nafas lega dan memeluk istrinya itu.
"Syukurlah, Tsunade. Syukurlah!" serunya.
"Iya iya aku tahu. Sekarang lepaskan aku. Kalian berhutang cerita lengkap padaku," tutur Tsunade sambil menghela nafas.
"Dan juga pada Kushina..."
.
To Be Continue
Halo semua, setelah sekian lama, Rinka mohon maaf sekaliiiiiiii. Fic' ini mengalami banyak perubahan karena ada beberapa plot bagian akhir yang kuubah. Ditambah lagi, yah kesibukan kuliah - skripsi dan lainnya bahkan Rinka sampai sudah wisuda hahahaha. Saking sibuknya hingga cerita ini terbengkalai sangat lamaaaaa hingga akhirnya sekarang bisa dilanjutkan lagi. Ini sudah masuk bagian akhir mendekati ending hehehe sedih juga. Omong-omong Rinka ucapkan banyak-banyak terima kasih untuk kalian yang setia membaca bahkan menungguku yang kelamaan ini. Rinka juga mempublish fanfiction ini di wattpad lho, kalau-kalau ada yang mau mampir hehe. Tenang, ceritanya sama aja, hanya beda platform. Sekali lagi TERIMA KASIH YANG TERAMAT SANGAT BANYAK untuk kalian semua, sungguh yang membuatku semangat nulis adalah melihat email review masuk XD. Okay, sekarang karena sudah mau ending kemungkinan bakal lebih cepat update karena kerangka ceritanya sudah lengkap yeyy!
.
Baiklah sekian dulu, terima kasih sudah membaca dan jangan lupa REVIEW. Thanks!
