You Actually Specials

.

All Member BTS

Family, Brothership

.

.

.

Part 26

.

.

.

Author Pov

Malam semakin memancarkan kegelapannya dan menenggelamkan sang mentari untuk menikmati waktu istirahatnya. Gelap memang. Tapi hal itu pasti akan terjadi karena bila siang sudah berakhir, malam akan menggantikannya untuk menyapa dunia. Tidak semuanya hal bahagia akan selalu mengisi kehidupan. Akan selalu ada hal buruk, cobaan, kesedihan, yang akan hadir melengkapi hidup ini. Setidaknya memberikan pelajaran bahwa hidup tak selamanya bahagia, dan tak selamanya akan membawa keburukan.

Seokjin merasa beberapa jam yang lalu ia seperti berada dalam mobil. Bergerak melewati jalanan, terdengar juga bunyi klakson memekakkan telinga. Namun saat ini, ia tidak tau ada dimana sekarang. Suasana nampak hening, ia juga terduduk dengan tali yang melingkar di tubuhnya. Dan tak lupa dengan seutas kain yang melingkar indah menutupi matanya.

Tak mampu melihat sekelilingnya ia hanya bisa bertahan sekarang. Sendirian. Terduduk dalam kegelapan yang tak pernah ia tau ada apa didalamnya, hanya mampu berangan-angan bahwa ia akan baik-baik saja. Terbesit jelas tentang dirinya yang mudah percaya dengan ucapan manis Jung Ahn yang jelas hanya ingin menipunya. Kata maaf yang membuat hatinya lemah, seolah memang hatinya tercipta hanya untuk menerima maaf orang. Tanpa berniat menelisik arti kata maaf itu sebenarnya.

Seokjin menundukkan kepalanya merutuki kebodohan yang ia lakukan. Sekarang ia tidak tau apa yang harus diperbuat. Ia juga tidak tau apakah adik-adiknya itu tau keberadaannya. Ia juga tidak tau bagaimana keadaan Minhyuk dan Hanbin yang tadi sempat menemaninya. Dan yang jelas ia tidak pernah tau, apa ia akan selamat atau tidak setelah ini.

Tapi sayup-sayup Seokjin mendengar suara beberapa orang dari luar sana. Sepertinya mereka orang suruhan untuk menjaganya. Tapi meskipun dijaga, bagaimana ia bisa keluar dengan kondisi tubuh terikat dan mata tertutup? Atau bukan dirinya yang mereka waspadai? Bolehkah Seokjin berharap adik-adiknya bisa menyelamatkannya? Meskipun sekali lagi, semua hal buruk yang terjadi ini adalah ulahnya sendiri.

Beberapa saat hanya hening, sebelum akhirnya suara pintu terbuka. Seokjin bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya, dan tepat berhenti dihadapannya. Hingga sebuah tangan menarik penutup matanya membuatnya memejamkan mata menyesuaikan pencahayaan di ruangan tempatnya berada.

Kala penglihatannya sudah membaik, ia bisa melihat sosok yang tadi membuka penutup matanya tengah terduduk menatapnya. Ia berusaha memfokuskan pandangannya dan melihat namja paruh baya itu tersenyum.

"Paman Jung Ahn"

Senyum Jung Ahn semakin lebar, "Selamat malam Seokjin"

Seokjin bisa merasakan ada hal buruk yang tersimpan dibalik senyum itu. Seokjin nampak lebih tenang meskipun ia sadar hidupnya mungkin terancam. Saat melihat sekelilingnya ia berada di ruangan kosong yang cukup luas. Ada 2 pintu tepat didepannya dan dibelakang. Tidak ada jendela, hanya ada ventilasi kecil.

"Kau tidak akan bisa keluar meskipun aku melepas ikatanmu itu. Karena dibalik 2 pintu itu sudah ada orang suruhanku yang akan menjagamu agar tidak kemana-mana"

Seokjin menatap Jung Ahn tajam, "Kenapa paman sampai harus melakukan ini padaku? Tidakkah cukup paman sudah mengambil nyawa ayah dan ibu dulu?"

PLAK

"Kau siapa berani bicara seperti itu padaku hm?" ucap Jung Ahn menyeringai setelah menampar pipi Seokjin. Sedangkan Seokjin terdiam berharap sakit dipipinya segera hilang.

"Tapi karena aku baik akan aku jawab pertanyaanmu itu. Sebenarnya aku hanya ada urusan dengan ayah dan ibumu saja. Kami dulu berteman baik, kau pasti juga tau itu. Dulu aku juga sering singgah ke rumahmu hanya untuk bertemu ayahmu meskipun tidak membahas perusahaan. Ayahmu baik, ia membantuku membangun perusahaanku sendiri, ibumu juga membantu istriku saat membuka toko roti. Kami saling membantu satu sama lain."

Seokjin hanya diam saja mendengarkan. Memang keluarga Jaehwan terbilang dekat dengan keluarganya, tak jarang pula mereka sering berkumpul bersama saat akhir pekan. Tak pernah mencurigai kalau orang terdekatnya bisa saja menjadi musuh terbesarnya.

"Tapi kau tau. Semakin dekat suatu hubungan semakin besar pula peluang kehancurannya. Tapi bukan aku yang menghancurkannya, ayahmu sendiri yang menghancurkannya" ucapnya menatap remeh Seokjin. "Ayahmu datang padaku sebagai saudara bagiku. Tapi dibelakangku ia menjadi musuhku karena bekerja sama dengan keluarga Jeon. Keluarga yang jelas-jelas adalah alasan kehancuran perusahaan orang tuaku"

"Kelurga Jeon merenggut semua milik keluargaku, dan ayahmu dengan tanpa bersalah bekerja sama dengannya dan mengenalkannya padaku sebagai teman?! Tidakkah kau tau aku harus berpura-pura baik dihadapan ayahmu demi menjaga hubungan pertemanan kami tapi dia sama sekali tak pernah memikirkan bagaimana perasaanku?! Dimana pikiran ayahmu saat itu! Padahal ayahmu sudah tau mengenai hal itu!"

Seokjin mengangkat wajahnya perlahan dan melihat jelas kemarahan yang terlihat diraut wajah Jung Ahn. Seokjin sama sekali tidak tau tentang hal ini, ia tak pernah mengira kalau semuanya berawal dari Jung Ahn dan keluarga Jeon. Tapi yang jelas ayahnya tak mungkin melakukan hal seperti itu. Dan lagipula keluarga Jungkook tidak mungkin bersikap seperti itu jika tanpa sebab. Pasti ada sesuatu yang belum Seokjin ketahui.

"Aku diam saja. Namun kebenarannya semakin membuatku membenci ayahmu. Ternyata Jeo Hoon masih ada hubungan saudara dengan keluarga Jeon! Jadi selama ini aku bekerja sama dengan musuhku sendiri! Pasti mendiang orang tuaku mengutukku!"

"Aku marah. Dendam ini semakin besar pada keluarga Jeon dan juga pada ayahmu yang berbohong padaku. Hingga aku hanya bisa diam saja saat itu, sampai ayahmu mengenalkanku pada sahabat-sahabatnya. Aku jelas tidak diam saja, aku berusaha memanfaatkan mereka untuk kesuksesanku sendiri" Jung Ahn tertawa senang membayangkan masa lalunya.

"Teman-teman ayahmu itu bodoh, mereka percaya padaku dengan mudah hanya karena aku adalah teman lama ayahmu. Tanpa menyadari kalau aku duri sebenarnya dalam hubungan mereka. Semakin mereka menyuruhku masuk, semakin dalam rasa sakit yang akan aku berikan. Dan itu kematian orang tuamu! Kalau saja kau tau aku sangat bahagia kala melihat wajah penyesalan teman-teman ayahmu saat pemakaman dulu. Karena bagaimanapun rencana pembunuhan itu tidak akan berhasil kalau saja mereka tidak menyuruh ayah dan ibumu pergi ke Daegu kala itu"

Memang kematian ayah dan ibu Seokjin terjadi di Daegu. Dan itu benar kalau saat itu memang ada acara peresmian di perusahaan keluarga Jeon di Daegu, dan teman-teman ayahnya termasuk paman Jeon menyuruhnya ke Daegu untuk ikut merayakannya. Meskipun saat itu ayah dan ibunya sempat tidak mau datang karena tidak enak badan. Dan semuanya jelas dimanfaatkan dengan baik oleh Jung Ahn.

"Memang masalah Jaehwan dan kau itu juga pemicunya. Tapi tidak terlalu membuatku harus bersikap seperti ini. Jadi aku serahkan semuanya pada Jaehwan. Tadinya aku memberikan kesempatan pada anak bodoh itu agar bisa bersamamu dengan mengirim surat palsu di ruang kerja ayahmu. Tapi sepertinya Jaehwan itu sama bodohnya hingga ia membocorkan rahasiaku padamu saat bertemu denganmu. Dan semua teman ayahmu akhirnya tau juga dalang kecelakaan saat itu"

Surat? Surat yang Seokjin temukan dulu?

"Jadi surat itu..."

"Tentu saja. Sesuai yang kau perkirakan. Surat itu tidak mungkin surat dari ayahmu yang sudah meninggal. Itu surat buatanku" sekali lagi terdengar tawa kebahagiaan dari Jung Ahn.

Seokjin memandang Jung Ahn tidak percaya. Jadi surat yang ia temukan itu hanya akal-akalan Jung Ahn saja? Berarti kepergian Seokjin dari rumah itu termasuk dalam rencana Jung Ahn selama ini? Dan baik semua bullyan dan hal buruk yang terjadi padanya saat kuliah itu karena dirinya termakan isi surat yang dibuat Jung Ahn, hingga ia melepas semuanya dan hidup seorang diri, semua itu sudah Jung Ahn rencanakan?

"Kau keterlaluan, paman. Kenapa paman melakukan ini padaku?!"

"Aku melakukannya untuk anakku. Setidaknya kalau ia tidak bahagia bersamamu, ia bisa bahagia saat membuatmu menderita" ucapnya menyeringai.

"Tidakah kau ingat semua pengorbanan ayah padamu paman. Mungkin saja ia melakukan itu karena ingin menebus kesalahan keluarga Jeon padamu"

PLAK

"Dan aku akan semakin memencinya kalau itu terjadi! Aku sangat benci dikasihani!"

"Dan setelah ayahmu, sekarang sahabatnya yang ingin main-main denganku. Kalau aku bisa aku akan mengulang kejadian lalu. Tapi aku rasa akan lebih menyenangkan membunuhmu dihadapan mereka semua. Mereka pasti sangat senang"

Terlihat setitik darah diujung bibir Seokjin akibat tamparan Jung Ahn. Seokjin tidak tau bagaimana harus bersikap sekarang. Selama ini ia selalu menyalahkan dirinya, menjauhi keluarganya, dan berusaha menerima semua keburukan dihidupnya, tapi sebenarnya itu semua adalah rencana ayah Jaehwan. Sepertinya mereka berhasil membuat hidupnya berantakan.

"Kau tunggu saja disini. Aku akan menyeret teman-temanmu dan juga keluarga kesayanganmu itu kemari" ucap Jung Ahn lalu pergi meninggalkan Seokjin yang masih tertunduk.

Tidak ada gunanya sekarang untuk menyesali apapun. Semuanya sudah terjadi dan yang Seokjin bisa lakukan sekarang adalah bertahan, dan kalau bisa keluar dari sini. Ia yakin adik-adiknya, keluarganya, teman-temannya tidak akan mudah dihabisi. Mereka kuat. Seokjin yakin itu.

'Tuhan lindungi mereka semua'

.

Baru saja keluar dari ruangan Seokjin, Jung Ahn dihadang oleh salah satu anak buahnya. "Tuan ada berita buruk"

"Ada apa?"

Sang bawahan nampak takut mengatakannya, tapi informasi harus tetap disampaikan.

"Tuan Jaehwan kabur dari rumah sakit kemarin malam"

"APA?! KENAPA BISA?!"

PYAR

"Maafkan kami tuan"

Tangan Jung Ahn sedikit terluka saat memukul guci hias yang berada di sebelahnya. Ternyata anaknya sudah sadar.

"Cukup! Biarkan saja anak itu kemari sekalian saja ku habisi ia. Bagaimana urusan yang lain?"

"Orang suruhan tuan sudah bersiap didepan. Karena mata-mata kami menemukan ada 2 mobil tidak jauh dari mansion ini"

"Bagus. Habisi mereka semua dan bawa padaku"

"Baik tuan"

Setelah bawahannya pergi ia beranjak menuju lantai 2, membuka pintu balkon disana dan memandang ke bawah. Terlihat hampir 50 orang berjaga disana, karena bagaimanapun tidak sedikit uang yang ia keluarkan untuk menjaga mansionnya ini. Kala matanya menatap langit yang sudah sepenuhnya gelap, ia kembali menyeringai. "Malam ini adalah akhir kehidupan kalian semua"

.

.

.

Tepat pukul 7 malam mereka baru sampai di Gwacheon. Yoongi yang berada di mobil depan melacak ponsel ayahnya, sedangkan ponsel Hoseok ia pinjam untuk menunjukkan alamat Jung Ahn yang diberikan oleh ayahnya. Tepat dibelakang mereka ada mobil Namjoon, Jimin, dan Taehyung, Bobby dan Mark, serta Mingyu yang kali ini bersama Jaebum.

Sedangkan tidak jauh dari mereka ada Minhyuk dan Hanbin, Jinhwan dan Jackson, Yugyeom dan Seokmin, sedangkan Minghao dengan Junhoe, yang menyusulnya ke kantor polisi. Mereka bertemu saat baru memasuki kota Gwacheon, akhirnya 4 mobil itu mengikuti mobil Hoseok yang sudah memimpin di depan.

Mereka jelas tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini, tapi yang jelas mereka harus menemukan Seokjin dulu. Yoongi sudah sedikit tenang karena posisi keberadaan Seokjin sudah jelas, namun ia masih mencemaskan keadaan Seokjin. Begitupun Hoseok. Ia juga sama tegangnya dengan Yoongi. Berbeda lagi dengan Jungkook yang tertidur dengan alasan ingin mengisi tenaga.

"Hyung. Sekarang kita tidak lagi ber 6. Teman-teman kita, teman-teman Seokjin hyung juga sedang berusaha untuk menyelamatkannya. Bisakah aku berharap Seokjin hyung baik-baik saja saat kita semua sampai disana?"

"Seokjin hyung pasti baik-baik saja" ucap Yoongi yakin. Matanya melirik rentetan mobil yang mengikuti dari belakang. "Seokjin hyung akan baik-baik saja. Para appa akan baik-baik saja. Dan kita semua akan baik-baik saja. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berusaha melakukan yang terbaik. Terbaik untuk kita semua"

"Tidakkah kau berpikir orang yang akan menanti kita disana lebih banyak? Belum lagi Jaehwan juga mungkin membawa teman-temannya kesana, hyung"

Yoongi mengangguk tapi tak melepas pandangannya dari ponsel yang menunjukkan lokasi ayahnya, "Tentu saja aku juga berpikiran seperti itu. Tapi apakah kau lupa kita ini siapa? Apa kau yakin bawahan mereka bisa menghentikan kita? Tidak Hoseok. Mereka tidak tau siapa kita"

Hoseok menyeringai mendengarnya, "Sepertinya kau punya rencana, hyung"

"Mungkin saja" ucapnya ikut menyeringai. "Berhenti dulu, Hoseok"

Hoseok menatap sang hyung, "Baik hyung"

.

Para appa sudah sampai di dekat mansion Jung Ahn. Tidak terlalu jauh, tapi setidaknya tidak akan menimbulkan kecurigaan. Mereka masih setia berada didalam mobil menunggu anak-anak mereka yang masih berada dalam perjalanan.

Tuan Jeon sudah memasukkan beberapa slot peluru kedalam saku jas dan celananya, begitupun tuan Kim. Mereka juga sudah memakai pakaian anti peluru sebelum berangkat ke Gwacheon. Di mobil satunya tuan Park, tuan Jung, dan tuan Min, juga tengah meyiapkan barang-barang mereka. Memakai pakaian anti peluru juga untuk menjaga tubuh mereka, tak lupa senjata kebanggaan mereka yang sudah mereka pegang. Menunggu waktu yang tepat.

DRT

Tuan Min mengambil ponselnya dan melihat anak esnya yang menghubungi. Ia mengangkatnya dan tidak lupa meloudspeakernya.

"Ne Yoongi"

'Appa kau dimana?'

"Tidak jauh dari mansion Jung Ahn. Ada apa?"

'Appa. Teman-temanku akan menemui appa disana. Bersama dengan Namjoon'

"Kau?"

'Aku ada sesuatu, tentu saja'

Tuan Min menyeringai. "Kau yakin sekali"

'Ajaranmu appa'

'Paman Yong Soo, ini aku Jungkook. Bagaimana keadaan paman, appa dan yang lain?'

"Kami baik, jangan khawatir"

'Bagaimana aku tidak khawatir kalau ada hampir 50 orang yang menunggu kalian dibalik dinding mansion ayah Jaehwan itu'

"HAH?!" teriak 3 orang tua itu.

"Kalian tau darimana?" tanya tuan Park penasaran.

'Kami sekarang berpencar. Dan saat ini Hoseok tengah main-main dengan dronenya untuk melihat situasi disana'

"He? Hoseok juga membawa barang seperti itu?" tanya tuan Jung penasaran. Anaknya itu tanggap juga.

'Tentu saja. Kalian pikir hanya kalian saja yang siap-siap, jangan kira aku tidak tau ya saat para appa membawa senjata masing-masing tadi. Kami jelas juga menyiapkan beberapa sebagai bantuan'

"Jadi benar kalau ayahmu memberikan hadiah katana saat ulang tahunmu yang ke-8?" tanya tuan Jung penasaran

'Benar. Paman tau dari siapa?'

"Yak! Kau itu ayah macam apa, hyung! Masa memberi hadiah anak benda tajam seperti itu, kalau Yoongi terluka bagaimana? Ya ampun hyung aku tak habis pikir" ucapan tuan Jung yang berlebihan membuat tuan Min menatapnya tajam.

"Tentu saja sebagai perlindungan diri"

"Hyung dia itu masih 8 tahun saat itu, dan kau memberikannya katana? Kau ayah yang kejam" belum sempat mengelak, tuan Min sudah memiting kepala tuan Jung karena kesal. Untung saja tuan Park reflek mengambil ponsel tuan Min yang hampir terjatuh.

"Hyung, hyung! sakit!"

"Biar tau rasa kau"

Tuan Park hanya menggeleng melihat kelakuan teman-temannya, "Halo Yoongi, ini aku Jae Won. Jadi bagaimana selanjutnya?"

'Ah untung ada paman Jae Won. Paman dengar, kami terbagi menjadi 2 grup. Grup pertama nanti Namjoon yang memimpin, mereka akan membantu paman dan yang lain. Sedangkan grup kedua aku yang memimpin, kami akan menerobos dari belakang, karena dibelakang mansionpun juga ada penjaga yang menunggu perintah. Jadi ada baiknya daripada menunggu musuh menemui kita, kita datangi langsung saja musuhnya'

Tuan Park tersenyum mendengar penjelasan Yoongi, "Kau sama saja dengan ayahmu"

Tok Tok

Tuan Park menoleh dan melihat tuan Jeon yang mengetuk kaca mobilnya. Ia lalu membuka pintu dan membiarkan tuan Jeon duduk disampingnya. Sedangkan tuan Kim yang ikut masuk langsung kebagian kursi belakang, membuat 2 orang tua yang mengaku masih muda itu menghentikan pertengkarannya.

"Aku heran sekali padamu Jung, kau senang sekali mencari keributan dengan Yong Soo hyung" ucap tuan Kim heran. Sedangkan tuan Jung hanya terkekeh saja setelah terlepas dari pitingan tuan Min.

"Aku kan sayang Yong Soo hyung, jadi aku senang menganggunya" ucapan itu membuat semua orang yang ada disana menggelengkan kepala.

"Siapa?"

"Yoongi" ucap tuan Park menjawab pertanyaan tuan Jeon. "Namjoon akan membawa temannya kemari menyerang dari depan, dan Yoongi akan menyerang dari belakang. Ada informasi musuh juga disiapkan sebagai cadangan untuk menyerang kita di area belakang mansion. Jadi Yoongi dan beberapa temannya akan menyerang kesana"

Tuan Jeon mengangguk mengerti, "Hanya itu, Yoongi?"

'Ne paman. Kami jelas tidak tau bagaimana keadaan didalam mansion, jadi hanya itu informasi yang bisa kami dapat. Tapi apa paman Jae Won tau dimana posisi Jaehwan sekarang?'

Ucapan Yoongi membuat tuan Park mengingat salah satu tawanan kaburnya itu, ia lalu mengambil ponselnya dan melihat titik merah yang terlihat mendekati posisi mereka. Dan benar saja beberapa saat kemudian ada 2 mobil yang melaju menuju mansion Jung Ahn. Terlihat kalau 2 mobil itu sudah menghilang masuk kedalam area mansion.

"Dia baru saja memasuki mansion, Yoongi"

'2 mobil itu?'

"Iya, itu Jaehwan. Kau juga melihatnya?"

'Ne. Mereka baru keluar dari mobil. Kalian tunggu saja Namjoon dan yang lain, sebentar lagi mereka datang. Kami juga harus segera pergi paman. Sampaikan pada appa tolong hati-hati, karna ia sudah tua'

"Kau mengataiku dihadapanku begini Yoon?!"

'Bukan dihadapanmu, appa. Aku mengataimu lewat suara'

Terdengar sedikit tawa yang diperkirakan adalah teman-teman Yoongi. bahkan tuan Jung sudah tertawa mendengarnya, belum lagi yang lain hanya tersenyum mendengar bentuk kasih sayang anak dan ayah ini.

'Bercanda appa. Tolong appa hati-hati ne. Paman Daehan, paman Ji Soo, paman Sang Wook, dan paman Jae Won juga hati-hati. Aku, Jungkook, dan Hoseok akan hati-hati juga disini. Disana juga ada Namjoon, Jimin, dan Taehyung, jadi jangan terlalu memaksakan diri. Kami juga ingin menjaga kalian appa. Jadi tolong hati-hati'

"Bukankah seharusnya yang mengatakan itu adalah kami? Nak. Kau tau appamu ini kuat sama seperti anaknya. Bukan hanya aku, mereka berempat juga sama kuatnya. Kau pikir kalian bisa tumbuh sehebat itu memang karena siapa? Tentu saja karena kami"

Semuanya tersenyum mendengar ucapan tuan Min, termasuk Yoongi yang tersenyum mendengar kata-kata manis ayahnya ini. Karena jarang sekali ia mengatakan hal seperti ini.

"Jangan khawatir, kami tau batasan kami. Yang terpenting adalah kalian. Penerus kami. Anak kami. Dan juga kesayangan kami"

"Kalian harus hati-hati juga. Mengerti? Lagipula appa masih belum sempat mengajakmu bermain katana"

"TUAN MIN!" tuan Min menatap tajam teman-temannya.

'Ne appa. Setelah ini semua selesai, ayo bertarung. Dan jangan marah kalau sampai tubuhmu tergores'

Tuan Min terkekeh, "Tidak akan"

'Kalau begitu sampai nanti appa. Kita bertemu di mansion Jung Ahn'

"Hati-hati. Bilang pada Jungkook, Hoseok dan teman-temanmu itu untuk hati-hati juga"

'Tentu appa'

"Baiklah appa akan"

'Appa...'

Tuan Min mengernyit heran dengan panggilan Yoongi,"Kenapa?"

Tidak terdengar apapun beberapa saat, hingga

'Aku sayang appa'

Tuan Min terkejut mendengarnya. Bukan hanya tuan Min, mereka semua terkejut dengan perkataan Yoongi. Namun setelahnya ada senyum bahagia di wajah mereka semua.

"Dasar anak nakal"

'Jungkook juga sayang Ji Soo appa'

'Sang Wook appa I love youuu'

Tuan Jeon dan tuan Jung tersenyum mendengarnya. Sungguh mereka sangat menyayangi buah hati mereka itu.

"Kami juga sayang kalian. Hati-hati"

'Ne appa'

Panggilan dimatikan dan tuan Min memasukkan kembali ponselnya ke saku jasnya. Ia merasakan tepukan lembut di bahunya dari tuan Kim. Ia lalu menatap teman-temannya yang tersenyum menatapnya.

"Hyung jangan menangis, nanti aku ikut menangis juga" ucap tuan Jung lalu memeluknya dari samping. Tuan Min tersenyum dan menghapus air mata yang mengenang dimatanya.

"Yah sekuat apapun kita kalau mendengar kata-kata itu dari anak sendiri rasanya terharu juga" ucap tuan Jeon, karena ia juga merasakan hal yang sama.

Sekarang mereka tidak hanya berjuang untuk Seokjin, tapi berjuang untuk anak-anak mereka yang ikut bertarung dengan mereka. Semoga saja ini segera berakhir dan mereka bisa menikmati hidup dengan tenang.

"Jadi?"

Pertanyaan tuan Park dibalas seringai oleh mereka semua.

"Mari selesaikan"

Setelah mengatakan itu terdapat 4 mobil yang melintas disamping mobil mereka dan berhenti tidak jauh dari posisi mereka berada. Belum sempat keluar terlihat ada lebih dari 10 orang yang keluar dari mansion Jung Ahn dan berjalan menuju arah mobil yang mereka yakini adalah mobil Namjoon dan teman-temannya. Dan ternyata benar. Terlihat Namjoon, Jimin, dan Taehyung keluar dari mobil, diikuti oleh 6 orang yang keluar dari 3 mobil lainnya.

Namjoon berdiri disamping mobilnya disusul Jimin dan Taehyung. Mata mereka menajam saat segerombolan itu semakin dekat kearah mereka. Bobby, Mark, Jackson, Jinhwan, Minghao, dan juga Junhoe juga sudah keluar mobil menunggu intruksi selanjutnya.

"Banyak sekali sepertinya, hyung" ucap Taehyung pada Namjoon. Ia duduk di kap mobil menunggu buruannya mendekat.

"Kenapa? Kau takut Tae? Berikan padaku saja. Kau masuklah mobil dan tidur" ucap Jimin mengejeknya.

"Tidak tentu saja. Aku hanya bilang kalau orangnya banyak" ucap Taehyung cemberut, sedangkan Namjoon terkekeh mendengar pembicaraan mereka.

Namjoon menolehkan wajahnya menatap ke 6 temannya yang juga tengah menyiapkan diri untuk pertarungan besar, "Bagaimana menurut kalian?" ia lalu mulai berjalan diikuti Jimin dan Taehyung.

Bobby menolehkan matanya dan melihat segerombolan itu mulai berlari kearah mereka. Bobby yang merasa tertantangpun ikut berlari, ia merasa bersemangat, "Apa lagi? Ya majulah!"

BUGH

Perkelahian itu jelas sudah direncanakan oleh Jung Ahn untuk menghentikan pergerakan mereka. Karena saat pertarungan mereka baru dimulai. Beberapa orang terlihat menyusul dari belakang mereka sehingga jumlah mereka semakin banyak.

"Wah semakin banyak!" teriakan Junhoe sambil memukul salah satu lawannya hingga pingsan dan menendang lawan yang lainnya.

Jinhwan yang ada disebelahnya hanya menggelengkan kepala sambil menghindari pukulan dari lawannya. Hampir saja mukanya kena bogeman kalau Bobby tidak cepat segera menarik Jinhwan mendekat padanya dan menendang lawan yang ingin memukulnya barusan.

"Hati-hatilah sayang!"

"Bodoh"

BUGH

Jinhwan langsung memukul lawannya setelah melepas tangan Bobby dilengannya. Bobby sendiri sudah sibuk dengan lawannya sendiri disamping Minghao yang dengan mudahnya melempar musuhnya yang sudah pingsan.

Beda lagi dengan Mark dan Jackson yang tampak bekerja sama mengalahkan lawannya. Mark yang memukul sedangkan Jackson yang menendang, atau bahkan sebaliknya. Hampir saja Mark kena pukul sebelum akhirnya melompat dengan bertumpu pada punggung Jackson lalu menendang lawannya.

"Wah kau hebat!"

Ucap Jackson lalu mengangkat tangannya berniat highfive. Tapi belum sempat melakukannya, tangannya langsung mengepal dan langsung memukul musuh yang berada dibelakang tubuh Mark.

"Thanks"

"Tenang saja selama masih ada Jackson semuanya,.."

BUGH

"Kalau Jacksonnya fokus semuanya akan baik-baik saja. Ayo mulai lagi" ucap Mark setelah menendang lawan yang tadinya ingin memukul Jackson dengan balok.

Beberapa musuh sudah terjatuh perlahan. Mungkin setengahnya sudah terkapar, atau bahkan meninggal. Bagaimana tidak meninggal kalau Namjoon bahkan tak main-main dengan pukulannya.

Disekelilingnya sudah bergelimpangan lawan yang terkapar dengan darah yang berceceran. Begitupun tangan Namjoon yang juga sama basahnya akibat darah lawan. Namjoon menunduk membiarkan Jimin melompat dan menendang lawan disampingnya, setelah itu kembali berbalik dan menendang lawan yang ingin memukulnya dari depan.

Namjoon sendiri sudah berkutat lagi dengan lawannya yang sekarang tengah ia pegang tangannya.

KRAK

"AHH!!"

Namjoon menendangnya karena teriakannya memekakkan telinga.

"Namja tapi suka sekali teriak-teriak"

"Hyung jangan menghindar!"

Namjoon jelas tak mendengarkannya, ia langsung mundur dan memukul kepala lawan sekuat tenaga sampai terjatuh.

"Kau berniat ingin melukai hyung, Tae?"

Sedangkan Taehyung yang tadi meneriakinya hanya terkekeh, "Tidak hyung. Aku hanya ingin melihatmu kena pukul sekali saja"

KRAK

"AH!!"

"Kau jangan teriak dulu, aku sedang bicara dengan Namjoon hyung. Tidak baik menganggu pembicaraan orang"

Namjoon menggelengkan kepalanya melihat adiknya itu tengah mematahkan tangan dan kaki lawannya itu. Aneh rasanya melihat adiknya tertawa saat mematahkan tulang orang seperti itu. Bukankah setidaknya kita harus merasa sedih begitu? Atau paling tidak kasihan?

Namjoon lalu menolehkan kepalanya kesamping dan melihat kumpulan orang yang menumpuk seperti gunung. Gunung manusia. "Sudah berapa orang yang kau lempar, Jimin?"

Jimin masih melempar 2 orang saat ada lawan yang akan memukulnya, tapi tentu keduluan Taehyung yang sudah menendangnya sampai tersungkur.

"Entah. Aku tidak menghitungnya. Tanya Minghao, dia yang membantuku, hyung"

Jimin melirik Minghao yang dengan lincah menghindari pukulan lawannya dan berbalik menendang kaki mereka.

"Aku juga tidak tau" jawabnya enteng.

Perlahan musuh mereka mulai tak terlihat. Dari dalam mansion juga tak terlihat ada tambahan musuh yang datang. Bobby masih memukul musuhnya, sampai saat matanya tak sengaja melihat salah satu lawan berniat memukul Namjoon yang juga tengah sibuk berkelahi.

"Namjoon!"

DOR

DOR

DOR

Satu persatu sisa musuh mereka terjatuh dengan luka tembak yang bersarang di kaki, bahu, bahkan badan dan kepala mereka. Para anak muda itu menolehkan kepalanya dan melihat 2 sosok paruh baya yang dengan santainya menembak musuh mereka tak peduli kalau pelurunya membuat nyawa mereka menghilang.

Namjoon juga berhasil lolos berkat teriakan Bobby dan terbantu karena ayahnya yang menyelesaikannya. Yah, tuan Kim yang menembak dibantu tuan Park yang juga dengan santainya mengganti slot pelurunya dengan yang baru dan kembali menembak lagi.

DOR

Jalan itu sudah dikotori oleh barisan badan manusia yang sudah tak sadarkan diri atau bahkan mayat. Beruntung mansion Jung Ahn cukup jauh dari rumah penduduk. Jadi apa yang terjadi malam ini tidak akan menganggu warga sekitar. Lagipula tuan Park juga sudah mengirim orang suruhannya untuk mengawasi keadaan sekitar, takut terjadi sesuatu yang tidak terduga.

Tuan Park memasukkan lagi handgunnya kedalam saku jas lalu menyusul tuan Kim yang sudah dipeluk Taehyung.

"Appa hebat! Appa Taehyung hebat!" teriakan Taehyung membuat tuan Kim terkekeh mendengarnya. Ia balas memeluk anaknya yang sering bertingkah ekstra ini. Namjoon yang melihat itu mendekati tuan Kim dan ikut memeluknya.

"Appa baik-baik saja?" tanya Namjoon pelan.

Tuan Kim tersenyum. Sebelah tangannya mengelus pelan rambut Namjoon, "Appa baik, Namjoon. Kau juga baik-baik saja kan? Tidak terluka?"

Namjoon melepas pelukannya, "Kalau appa baik-baik saja, maka aku juga baik-baik saja" ucapnya sambil tersenyum. Tuan Kim menepuk pundak sang anak sulung, bangga melihat pertumbuhan anaknya ini yang semakin tampan dan kuat. Ia lalu melihat Taehyung yang tersenyum juga menatapnya. Dan tentu saja putra bungsunya juga sangat tampan.

Tuan Park yang melihat itu ikut tersenyum. Ia meolehkan pandangannya pada sang anak yang tengah berlari menuju kearahnya.

"Appa!"

"Jiminie!"

"Aish appa"

Tuan Park tertawa melihat wajah Jimin yang sedikit merengut sebal tetapi tetap berlari kearahnya dan langsung memeluknya.

"Appa baik-baik saja?" tanya Jimin tanpa melepas pelukannya.

"Tentu saja. Memangnya kau tidak tau sehebat apa appamu ini?" tuan Park mencubit pelan pipi Jimin yang membuat Jimin semakin mengembungkan pipinya.

Jimin lalu melepas pelukannya dan tersenyum, "Syukurlah kalau appa baik-baik saja"

"Appa juga senang Jimin tidak terluka" ucap tuan Park menepuk rambut Jimin pelan. Mereka lalu ikut berkumpul bersama tuan Kim yang sudah bersama teman-teman Namjoon.

"Wah kalian ini teman-teman Jimin juga ya"

"Annyeonghaseyeo"

Ucap mereka ber 6 bersamaan saat tuan Park menghampiri mereka.

"Ne paman. Jimin juga teman kami" jawab Jinhwan tersnyum.

Tuan Park balas tersenyum, "Kalian baik-baik saja kan?"

"Tentu saja paman. Kami akan selalu baik-baik saja" jawab Bobby yang malah diejek teman-temannya karena wajahnya terdapat memar akibat perkelahian tadi.

"Wah kalian senang sekali sepertinya"

Terdengar suara tuan Jung mendekati mereka. Tidak hanya tuan Jung, tapi tuan Min dan tuan Jeon juga mengikuti dari belakang. Hanya saja kedatangan mereka berdua itu membuat 6 anak muda bergidik ngeri melihatnya.

Bagaimana tidak, karena penampilan tuan Jeon dengan jas yang tersampir dibahunya, belum lagi revolver yang masih setia ia pegang. Sedangkan tuan Min berjalan dalam diam dengan katana yang teracung dan masih meneteskan darah. Bahkan bukan hanya mereka ber 6, Jimin dan Taehyung saja bergidik ngeri.

"Kalian berburu dimana?" tanya tuan Kim terkekeh.

"Beruntung tadi aku sempat melihat ke belakang. Disana ada sekitar 6 orang yang mengintai kalian saat bertarung. Jadi kami berdua kesana untuk membereskannya. Sepertinya mereka bukan bagian orang suruhan Jae Won." ucap tuan Jeon tenang. Yang lain terpengarah wah, ayah Jungkook benar-benar hebat.

Tuan Park mengangguk. "Lantas Sang Wook?"

"Apa yang kau harapakan darinya? Ia hanya melihat saja sambil tertawa" ucap tuan Min menatap tuan Jung yang terkekeh.

"Aku menyelamatkan diri" Beruntung katana tuan Min sudah dimasukkan, kalau tidak sudah hilang kepala tuan Jung itu.

"Bagaimana sekarang, Namjoon?"

Namjoon yang tadi hanya menyimak pembicaraan para appa, menatap tuan Park, "Yoongi hyung sih meminta setelah disini selesai kita bisa langsung masuk saja. Karena ditakutkan Yoongi hyung dan yang lain ketahuan dan mereka butuh bantuan juga"

Mereka mengangguk mengerti, "Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo pergi" ucap tuan Kim merangkul pundak Namjoon dan Taehyung untuk berjalan bersamanya. Sedangkan tuan Park juga ikut merangkul Jimin. Menyisakan 3 appa yang berada dibagian belakang. Sedangkan 6 anak muda berada ditengah.

"Aku jadi tau sekarang darimana asal sifat ganas mereka? Ya ampun aku merinding" ucap Jackson lalu bergidik. Memang selama ini ia terkadang bertanya-tanya tentang keganasan Namjoon, dan ternyata itu warisan ayahnya. Hebat sekali.

Yang lain hanya mengangguk karena takut salah bicara. Karena dari depan mereka bisa saja ditembak mati, kalau dari belakang bisa saja mereka langsung ditebas. Dua-duanya sangat mengerikan.

Mereka sampai didepan pintu gerbang dan melihat hanya ada 5 orang penjaga saja. Dan tanpa aba-aba tuan Kim langsung mengambil revolvernya dan menembak mereka tepat dikepala.

"Maafkan aku ya anak-anak. Kalau kalian merasa trauma atau apapun, aku siap membiayai kalian untuk pergi ke psikiater" ucap tuan Kim tersenyum menatap 6 anak muda yang terlihat terkejut dengan kejadian barusan. Sedangkan Namjoon, Jimin, dan Taehyung hanya terkekeh saja. Yah mereka semua memang gila.

.

.

.

tbc

Hai semuanya

Terima kasih untuk semua readers yang selalu mendukung cerita ini

Kemungkinan 1 - 2 chapter lagi cerita ini akan berakhir

aku jadi merasa sedih

Tapi yah jelas setiap ada awal pasti ada akhir kan

Semoga cerita ini selalu bisa menghibur kalian