-o0o-
Perpustakaan St. Carat High School sangatlah tenang. Tentu saja karena pengawas perpustakaan yang sangat menyeramkam.
Namun jangan salahkan para remaja yang terlihat saling berdiskusi heboh di salah satu meja.
Total ada 4 orang yang duduk di meja lebar itu dimana Wonwoo termasuk salah satunya.
Tiga orang lainnya adalah Jooheon, Jackson, dan Jaebum yang merupakan teman sekelas Wonwoo. Entah kenapa Wonwoo bisa terjebak sekelompok dengan manusia-manusia berhuruf J ini.
Project tengah semester mereka mengharuskan para siswa membuat sebuah project yang wajib dibuat menggunakan tuliskan tangan. Tugas ini sebenarnya harus dikumpulkan esok hari tapi yang namanya siswa, sukanya mengerjakan h-1.
"Akhirnya selesaiiiii…." Ucap Jooheon sambil meregangkan tubuhnya yang kaku.
Kegiatan itu juga dilakukan oleh Jackson dan Jaebum sedangkan Wonwoo terlihat merapikan hasil kerja mereka.
"Won, kau yang bawa saja. Taukan kalau aku yang bawa bakal kelupaan." Kata Jackson sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Jooheon dan Jaebum juga mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh Jackson. Hal itu membuat Wonwoo mengangguk pasrah.
Mereka akhirnya berpisah di depan perpustakaan.
Wonwoo dengan gulungan project dan beberapa map yang ada di tangannya berjalan dengan pelan melewati koridor hall untuk menuju area depan sekolah.
Matanya terlalu fokus ke jalan sehingga-
Brukk…
Bragh…
Srakkkkh….
-Wonwoo terpental cukup jauh. Ia tersungkur di lantai dengan kepala yang terasa pening.
"Agh…"
Sosok itu memegang kepalanya dan mencoba mengembalikan fokusnya ketika sosok pria lain menghampirinya.
"Gwaenchana hyung?"
"Mingyu?" Ucap Wonwoo saat ia sadar siapa yang ada di hadapannya kini.
Mingyu mengecek seluruh tubuh Wonwoo memastikan sosok itu tidak terluka parah.
"Hyung, mianhe. Aku tak seharusnya berlari." Kata Mingyu.
Mata Wonwoo kini menatap nanar ke project yang berserakan di lantai dengan tumpahan kopi.
Wonwoo akhirnya bangkit dan memungut projectnya satu persatu. Mingyu juga tak tinggal diam dan turut membantu Wonwoo mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan itu.
Cleaning service yang selalu berkeliaran di area sekolah langsung membereskan tumpahan kopi yang berceceran di lantai.
Wajah Wonwoo yang memang datar terlihat semakin muram. Tugas ini harus dikumpulkan esok hari dan ia harus segera memulai ulang segalanya.
"Hyung."
Wonwoo terkejut kala genggaman tangan Mingyu membawa kesadarannya kembali dari lamunan.
"Ne?"
"Apa itu tugas hyung?"
Wonwoo mengangguk sebagai jawaban.
"Aku akan bertanggung jawab. Hyung pulang dengan siapa?"
"Sendiri."
"Bus?"
Wonwoo mengangguk lagi.
"Kita ke rumahku dulu, aku akan mengambil pakaian dan keperluanku untuk esok. Setelah itu baru kita ke mansion Jeon."
"Tak usah Gyu-ah, aku akan mengerjakannya sendi-"
"No. Aku bilang aku akan bertanggung jawab. Kaja."
Dengan untaian jemari yang tak terlepas, Mingyu menuntun Wonwoo berjalan ke mobilnya.
Tindakan Mingyu benar bukan bahwa segala perbuatan harus dipertanggungjawabkan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di minggu pertama libur semester bagi para siswa, Quattuor Coronam terlihat berkumpul di mansion Choi.
Platina Line duduk di sofa sambil membahas beberapa hal yang berkaitan dengan X Clan sedangkan Serenity Line terlihat berbincang heboh di meja makan. Suasana kedua line Quattuor Coronam ini sangatlah berbeda. Jika Platina Line beraura suram, maka Serenity Line beraura hangat.
Pembahasan Platina Line lumayan berat karena berhubungan dengan X Clan yang semakin menjadi-jadi. Namun mata seorang Kwon Sungjae tak bisa lepas dari interaksi anak bungsunya dengan si anak sulung keluarga Jeon.
Mingyu terlihat hanya fokus pada Wonwoo di tengah canda tawa dan kehebohan yang ada di meja makan. Mereka seperti memiliki dunia mereka sendiri.
Kepala keluarga Kwon itu terlihat tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oppa, kau sedang memikirkan apa?" Ucap Sooyoung dengan heran saat melihat suaminya yang terlihat gila karena senyum-senyum sendiri di tengah pembicaraan panas.
"Kau kelelahan karena para aktor mu kena skandal, oppa?" Tanya Jiwoo yang meminum teh dari cangkirnya.
"Jangan terlalu dipikirkan soal itu Sungjae-ya, sudah biasa kan skandal di entertainment." Kali ini Kihyun yang berbicara.
"Tapi jangan sampai bangkrut, oke." Kata Minhyuk dengan seringaian tipis.
Sungjae menghela nafasnya kala mendengar ucapan para Platina Line ini. Ia kan hanya tersenyum bukan berarti ia stress.
Untungnya Hyunwoo dan Taehyung tidak ikut berkomentar juga.
"Bukan begitu. Aku sedang memperhatikan interaksi Mingyu dan Wonwoo. Bukankah itu sangat manis?" Jelas Sungjae.
Kini berpasang-pasang mata itu teralihkan ke arah anak bungsu Kwon dan anak sulung Jeon.
"Lalu?" Tanya Taehyung.
"Ho….. Aku paham. Kau ingin menjodohkan mereka?" Tebak Kihyun.
Sungjae menganggukan kepalanya.
"Tepat Ki hyung. Lumayan aliansi di Quattuor Coronam menjadi semakin kuat bukan?"
"Aku setuju. Mereka manis." Ini suara Sooyoung.
"Aku juga." Jiwoo juga menyakatan persetujuan.
Hyunwoo mengangguk sedangkan Kihyun hanya memberikan jempolnya.
"Terserah saja." Kata Taehyung.
Pandangan mereka kini berfokus pada Minhyuk, sang pemimpin Alligator sekaligus orang tua tunggal dari Wonwoo.
"Kau ingin sekali ya berbesanan total denganku. Hahaha… Setelah Soonyoung yang ngebet sekarang Mingyu. Aku pribadi tak masalah. Tapi kita dengarkan dulu pendapat Mingyu dan Wonwoo, oke." Ucap Minhyuk.
-o0o-
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Umur kandungan Wonwoo sudah menginjak bulan kesembilan. Tentu saja perutnya sudah sangat besar. Melakukan kegiatan apa pun terasa sangat sulit untuknya bahkan hanya untuk sekedar duduk dan tidur.
Ia sangat bersyukur bahwa orang-orang di sekelilingnya benar-benar perhatian kepadanya terlebih Mingyu, sang calon appa.
Jisoo sudah menyelesaikan studinya tiga bulan yang lalu, sedangkan dirinya dan Soonyoung sudah menyelesaikan studi mereka sebulan yang lalu. Walau dengan perut yang sudah membesar saat itu, ia tetap ingin menyelesaikan studinya sebelum ia melahirkan.
Ia dan Jisoo sebenarnya ingin mengambil kuliah magister seperti Soonyoung yang sudah mempersiapkan diri mengambil studi doktor. Namun apa daya bahwa suami mereka sama menentang dengan keras keinginan mereka.
Wonwoo saat ini terduduk di ruang keluarga mansion keluarga Kwon.
Ia mengingat rangkaian acara yang sudah ia lalui hingga sampai ke detik ini.
Seperti halnya resepsi pernikahan Mingyu dan Wonwoo yang baru diadakan dua minggu setelah tragedi runtuhnya X Clan. Acara itu sangatlah mewah dan meriah.
Selain resepsi pernikahan, kegiatan itu juga sekaligus menjadi acara pengumuman secara resmi kepada khalayak mengenai line selanjutnya dari Quattuor Coronam yang berada di dalam perut Wonwoo dan Jisoo.
Kehadiran Wonwoo di mansion keluarga Kwon jelas turut meramaikan mansion besar yang sebelumnya hanya ditinggali oleh kedua bersaudara itu.
Di samping Wonwoo, ada Mingyu yang merangkulnya sambil mengusap perut besar Wonwoo dengan pelan.
Mingyu memilih mengambil cuti dari perusahaan untuk menjadi suami siaga. Ia tak ingin kejadian aneh menimpa sang calon ibu dan calon anaknya kala ia tak ada di sekitar mereka.
Tentu saja Soonyoung memberikan ijin kepada Mingyu, ia itu kakak yang perhatian.
"Kapan kau akan lahir malaikat kecil… Appa sudah tidak sabar untuk melihatmu…"
Wonwoo hanya bisa tersenyum kecil melihat Mingyu yang merajuk sambil menatap perutnya itu.
Selain menjadi penantian besar oleh Quattuor Coronam karena line baru yang pertama akan lahir, jelas calon anak mereka adalah penantian besar bagi mereka, kedua orang tuanya.
Kehadirannya lah yang menjadi penyatu Mingyu dan Wonwoo. Sebuah penghubung luar biasa yang diberkati.
Wonwoo terdiam secara tiba-tiba. Senyum tipisnya berubah menjadi sebuah kerutan kecil di dahi.
"Gyu… Sepertinya keinginanmu terkabul." Ucap Wonwoo.
Mingyu menyerit tidak mengerti. Namun disaat ia melihat Wonwoo yang sudah bercucuran keringat dingin, Mingyu langsung paham apa yang sedang terjadi.
"Kenapa kau tak bilang langsung saja, hyungie?" Kata Mingyu.
Terlihat bahwa sosok tinggi itu mulai terserang kepanikan.
"Ajushi, tolong siapkan mobil." Kata Mingyu kepada salah satu asisten rumah tangga yang masih ada di mansion.
Sang asisten mengangguk dan dengan segera melakukan apa yang Mingyu minta.
Mingyu segera mengantongi handphone dan dompetnya yang terletak di nakas samping tempat tidurnya.
Saat ia akan berbalik, ia bisa melihat Wonwoo yang berjalan dengan perlahan ke arah pintu keluar. Jangan tanyakan paniknya para pelayan yang melihat Wonwoo berjalan seorang diri.
'Benar-benar tidak ingin menyusahkan orang lain.' Bathin Mingyu.
Mingyu mengikuti Wonwoo dengan segera dan memapah Wonwoo di gendongannya.
"Aku masih bisa berjalan Gyu…" Kata Wonwoo dengan terengah-engah.
Mingyu tak menggubris si ibu hamil itu dan memilih menuju mobilnya yang sudah siap di kanopi.
Salah seorang pelayan membukakan pintu mobil sehingga Mingyu dengan mudah meletakan Wonwoo ke kursi di samping kemudi.
"Kami pergi dulu, ajushi." Pamit Mingyu sebelum ia menancap gas ke rumah sakit.
Di tengah perjalan menuju rumah sakit, Wonwoo sama sekali tidak mengeluarkan suara. Ia hanya terdiam walau wajahnya menunjukan sejuta kesakitan disana.
Mingyu mengusap kepala Wonwoo dengan lembut.
"Hyung, kau harus mengekspresikan apa yang kau rasakan dengan lebih baik." Ucap Mingyu.
"Gwaenchana, Gyu… Aku masih bi..sa menahannya."
Mingyu hanya bisa menghela nafas untuk menenangkan dirinya sendiri. Tidak lucu kan kalau ia panik tapi yang mau melahirkan saja tenang begitu.
Wonwoo bahkan masih bisa memainkan ponselnya dan menyebarkan berita bahwa ia akan melahirkan.
Yang pertama menelepon Wonwoo adalah Kihyun. Memang ibu seluruh Quattuor Coronam itu akan selalu sigap terhadap kondisi anak-anaknya.
"Ne eomeoni… Aku dalam perjalan ke rumah sakit. … Aku bersama Mingyu. … Eomeoni tak usah khawatir, aku baik-baik saja. … Iya iya, aku tunggu disana."
Pip.
Sambungan terputus.
Wonwoo terkikik kecil lalu menatap Mingyu.
"Eomeoni bilang 'Kau menyuruhku tak khawatir? Tenang bagaimana, ini cucu pertamaku!'. Astaga, seluruh orang menantikan kehadirannya."
Mingyu tak habis pikir terhadap Wonwoo yang masih bisa tertawa walau kecil di tengah kondisinya saat ini.
"Tentu-"
Dering ponsel Wonwoo berbunyi lagi. Kali ini Jihoon yang menelepon Wonwoo.
Mingyu hanya bisa kembali fokus menyetir agar Wonwoo dan bayi mereka cepat ditangani.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mingyu benar-benar berakting luar biasa tenang kala Wonwoo terlihat sangat kesakitan.
Ia berada di ruangan operasi St. Carat Hospital dimana Wonwoo sudah berbaring dengan nyaman di ranjang operasi. Posisinya saat ini dikelilingi oleh tim dokter.
Mingyu dapat merasakan jemarinya diremas kuat oleh Wonwoo. Ia bahkan bisa melihat kuku Wonwoo yang memutih karena genggamannya yang kuat.
"Hyung, tahan sedikit lagi…" Ucap Mingyu.
Ia menyeka keringat Wonwoo yang hadir di dahi namja cantik itu.
Dokter dan perawat mulai melakukan pembiusan.
Wonwoo menyerit sedikit kala merasakan tajamnya jarum suntik menembus kulitnya.
Dengan lembut Mingyu mengusap surai hitam Wonwoo. Memberi semangat kepada calon ibu itu.
Mingyu bisa melihat dokter mulai menyayat perut Wonwoo. Darah mulai keluar dari sana.
'Ayo Mingyu… Kau kuat….' Bathin Mingyu. Ia memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Entah mengapa ia dapat merasakan ngilu di area perutnya juga.
'Tahan… Bisa Ming…'
Mingyu sudah memiliki tatapan kosong. Wonwoo yang merasakan gerakan Mingyu di kepalanya berhenti menatap ke calon ayah itu.
Mau tak mau Wonwoo terkekeh pelan melihat kondisi Mingyu.
Mingyu terlihat bagai kehilangan nyawanya. Tatapannya kosong dengan wajahnya yang memucat.
"Gyu, jika kau tidak kuat, kau bisa menunggu di luar saja."
Mingyu kini dapat melihat perut Wonwoo yang terbelah dua dihiasi oleh darah yang mengalir.
"Kau kuat Gyu. Ayo sebentar lagi kau akan melihat anak kita." Ucap Wonwoo sambil mengusap jemari Mingyu yang ada di kepalanya.
"H..hyung…"
Bruk.
Wonwoo dan seluruh pasangan mata petugas kesehatan menatap tak percaya ke tubuh pria jangkung yang sebentar lagi menjadi ayah itu.
Mingyu pingsan.
"Gyu? Aigoo!" Ucap Wonwoo panik.
Ia hampir meloncatkan tubuhnya untuk menggapai Mingyu jika saya ia tak ingat perutnya sudah menganga dan siap mengeluarkan bayinya. Apa yang bisa ia lakukan saat ini hanya memandang Mingyu dengan panik.
Dua orang asisten dokter menghampiri Mingyu dan menepuk pipinya dengan pelan. Tak ada reaksi berarti dari sosok itu.
"Ia paling hanya syock. Anda tidak usah khawatir, Wonwoo-ssi." Ucap dokter yang dengan santai melanjutkan kegiatannya.
Menyisakan Wonwoo dalam keadaan sweat drop saat melihat suaminya digiring keluar ruang operasi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan tanyakan seberapa malunya Mingyu saat ia sadar.
Ia digoda habis-habisan oleh Quattuor Coronam yang lain karena bisa-bisanya pingsan padahal sesaat setelah itu ia akan bertemu dengan anaknya.
Mungkin hanya Seungkwan yang memilih untuk tidak mengoloknya karena Seungkwan memang phobia darah.
Setelah ia bangun, adegan selanjutnya adalah ia yang menangis keras saat melihat Wonwoo tengah menggendong bayi mereka di atas ranjang.
Ia terharu dan langsung menghampiri kedua sosok yang sangat ia cintai.
Wonwoo hanya tersenyum maklum melihat suaminya itu melaklonis secara tiba-tiba.
Quattuor Coronam yang memenuhi ruang ini memilih keluar dan memberikan privasi kepada mereka. Sebenarnya mereka memilih untuk tidak berada disana hanya untuk tidak melihat Mingyu yang menangis haru terus-terusan.
Mingyu mengusap dengan perlahan pipi anaknya yang terasa sangat halus di tangannya.
"Hyungie… Ia sangat cantik." Ucap Mingyu sambil menghapus air matanya.
Wonwoo dengan tangan kanannya mengusap pipi Mingyu dengan sayang sambil tersenyum tipis. Usapan itu sekaligus menghapus air mata Mingyu yang masih bercucuran dengan pelan.
"Appa… Berikan aku nama…"
Mingyu ingin menjerit saat Wonwoo berbicara dengan manja seolah-olah ia menyampaikan apa yang anak mereka ucapkan.
Kan Mingyu makin cinta jadinya.
Tentu saja Mingyu sudah menyiapkan nama untuk bayi mereka. Mingyu sangat antusias tentu saja dengan kehadiran anaknya sehingga tak mungkin ia melupakan hal sepenting itu.
"Kwon Moonbin. Nama jagoan kita adalah Moonbin."
Wonwoo tersenyum sambil menatap sang anak.
"Moonbinie… Jadi anak yang hebat ne. Eomma dan appa mencintaimu."
Mingyu tersentuh untuk kesekian kalinya.
Ia merangkul tubuh Wonwoo dan mengusap lembut surai Moonbin.
"Terimakasih sudah melahirkan Moonbin ke dunia. Terimakasih sudah mau menjadi bagian dari kehidupanku. Terimakasih karena selalu ada di sisiku, hyung. Kau dan Moonbin adalah hadiah terindah yang aku miliki."
Wonwoo lagi-lagi tersenyum.
Ini adalah moment langka karena ia mampu tersenyum lebar untuk berkali-kali.
Tak terasa mata kedua orang itu terkunci.
Mereka sama-sama menampilkan tatapan penuh cinta dan ketulusan.
Semakin lama, jarak antara mereka semakin menipis.
Sebuah ciuman panjang akhirnya menyatukan kedua orang tua baru itu dalam sebuah tautan penuh kasih.
Mingyu menahan tengkuk Wonwoo untuk memperdalam ciuman mereka.
"Hyung, gomapta…"
