[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
Kehidupan Park Serim tidaklah istimewa. Dia tidak berasal dari keluarga yang berada –ayahnya hanyalah pekerja kantoran dengan gaji yang cukup tinggi, sedangkan ibunya hanyalah pemilik toko kue yang tidak terlalu besar. Menengah ke atas kalau kata orang-orang. Tidak se-elit Taeyong dan Ten.
Park Serim tinggal di apartemen yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah. Apartemen yang cukup bagus dengan fasilitas yang standar dan harga sewa per bulannya yang tidak begitu mahal. Sebuah keberuntungan karena dia bisa mendapatkan apartemen tersebut.
Jadi, Park Serim memang bukanlah seorang gadis dari keluarga berada. Dia gadis biasa, dengan kehidupan yang biasa. Pagi harinya diawali dengan membuka mata, merapikan tempat tidur, membersihkan tubuh, sarapan, dan berangkat ke sekolah bersama dengan Jeonghyun. Lalu menghabiskan hari di sekolah dan pulang sekolah bersama dengan Jeonghyun. Tidak ada yang spesial. Hari-harinya hanya begitu saja.
Namun hari-hari damainya yang penuh warna itu berubah menjadi hari-hari suram yang menguras emosi dan tenaganya kala dirinya membuka amplop berisi kartu Joker.
Teman yang sebelumnya sangat dekat dengannya berbalik memusuhinya. Yang sebelumnya selalu tertawa dan bercanda dengannya berubah menjadi mencaci-maki dirinya. Tidak ada lagi yang mau berteman dengannya, semuanya memusuhinya. Bahkan akhir-akhir ini dia mengatahui bahwa hampir seluruh temannya menghapus kontaknya dari ponsel mereka. Atau paling tidak, mengganti nama kontaknya menjadi Joker atau Target.
"Serim-a." Pagi ini, seperti biasa Serim menunggu Jeonghyun di pinggir jalan depan apartemennya. Tidak sampai lima menit dia berdiri, Jeonghyun datang dan langsung menyapanya. Begitu Serim menoleh, dia mendapati Jeonghyun tersenyum. Namun itu bukan senyumnya yang biasa. Laki-laki itu seperti menahan sesuatu –senyumnya terlihat sekali sangat dipaksakan. Kemudian Serim baru menyadari bahwa Jeonghyun tidak mengenakan kostumnya yang biasa. Dia hanya mengenakan seragam standar sekolah, tanpa artibut nyentrik seperti yang lalu.
"Jeonghyun? Kau kenapa? Kemana kostummu?" Serim tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Raut wajah Jeonghyun terlihat semakin suram saat pertanyaan itu keluar dari mulut kekasihnya. Walaupun dia sudah menduga Serim akan bertanya seperti itu, namun Jeonghyun tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak memasang raut takut bercampur gelisahnya.
Serim mendekat satu langkah mendekati Jeonghyun, kemudian kembali menatap lamat-lamat penampilannua dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kau bukan seorang floater lagi? Apa kau turun kasta?"
Hal terburuk yang dipikirkan Park Serim adalah Jeonghyun turun kasta menjadi Joker. Serim tidak peduli apa alasannya, tapi yang jelas hal itu buruk sekali. Dia sudah merasakan bagaimana sulitnya berada di kasta terbawah, dan dia tidak ingin Jeonghyun merasakan hal yang sama sepertinya. Walaupun hanya seorang floater atau bad boy, setidaknya hal iti lebih baik daripada Joker. Mereka hanya diabaikan, tidak dianggap keberadannya. Jauh lebih baik dari pada menjadi pusat perhatian hanya untuk ditindas tiap harinya.
"... hilang."
Serim menatap Jeonghyun dengan raut wajah bertanya. Apanya yang hilang?
"Kartuku hilang. Sabtu kemarin."
Ada hal yang lebih mengejutkan? Bagi Serim, tidak ada. Setelah Jeonghyun berkata begitu, Serim hanya bisa terdiam dengan mata membulat sempurna dan mulut yang sedikit terbuka. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana atau berkata apa. Ada banyak hal yang ada di kepalanya; berbagai pertanyaan seperti bagaimana bisa hilang dan memangnya kau meletakkan kartumu dimana berkelebat di kepalanya hingga dia tidak tahu yang mana yang akan dia tanyakan kepada Jeonghyun terlebih dahulu. Terlalu mengejutkan, terlalu tidak disangka.
Kemudian, setelah beberapa saat, Serim menghela nafas panjang dan bertanya, "Ada yang mengambilnya?"
"Sepertinya," jawab Jeonghyun, kemudian menarik nafas panjang dan melanjutkan dengan suara kecil, "tapi tidak ada pengumuman tentang pencurian kartu atau apapun. Jadi kupikir aku yang menghilangkan kartuku sendiri."
"Kau bukan orang yang teledor."
"Aku tahu." Jeonghyun bergerak gelisah. "Aku sempat berpikir bahwa ada yang mengambil kartuku, tetapi tidak ada pengumuman tentang pelaku pelanggaran aturan. Jadi, sepertinya aku menjatuhkannya di suatu tempat."
Park Serim berpikir bahwa memang ada yang dengan sengaja mengambil kartu Jeonghyun dan menghilangkannya setelah mendengar penjelasan Jeonghyun tadi. Itu masuk akal; dan merupakan penjelasan paling masuk akal karena Jeonghyun bukanlah orang teledor yang mudah menghilangkan suatu barang pribadinya, apalagi jika itu adalah barang uang sangat penting seperti kartu.
Pertanyaannya, siapa? Dan, kenapa?
Apakah Jeonghyun membuat suatu kesalahan di kelasnya? Apa untungnya menjatuhkan Jeonghyun yang seorang floater? Bukankah seharusnya seorang floater diabaikan keberadannya layaknya bad boy? Siapa pula yang diuntungkan dengan turunnya Jeonghyun menjadi Joker?
Oh, mungkin Joker itu sendiri. Tapi setahu Serim, Joker dari kelas Jeonghyun tidak pernah mempunyai masalah dengan Jeonghyun, jadi tidak ada alasan menurunkan Jeonghyun; kecuali jika memang Joker itu berhati busuk.
Rasanya Serim ingin menangis.
Cukup dirinya saja yang menjadi Joker dan di-bully habis-habisan oleh kasta di atasnya. Jangan Jeonghyun. Membayangkan Jeonghyun tersiksa karena ditindas saja Serim tidak kuat. Serim tidak ingin Jeonghyun menderita.
"Sudahlah." Serim merasakan kepalanya ditepuk lembut oleh tangan besar Jeonghyun. Kemudian, saat mengangkat kepalanya, Serim melihat Jeonghyun tersenyum lembut, menenangkannya. Seolah berkata padanya untuk jangan khawatir tentang apa yang akan menimpanya nanti. "Ayo berangkat. Sebentar lagi bis akan datang."
Melihat itu, Serim tersenyum tipis. Serim meyakinkan dirinya bahwa Jeonghyun akan kuat menjalani tahun terakhirnya di SMA sebagai Joker. Gadis itu juga berdoa dalam hatinya semoga penindasan dari kelas Jeonghyun tidak lebih buruk dari apa yang dilakukan teman-teman sekelasnya. Semoga teman-teman sekelas Jeonghyun tidak benar-benar menindasnya.
Semoga.
Namun apa yang dilihat Serim ketika jam istirahat seolah meruntuhkan segala harapan dan doanya.
Jeonghyun berjalan pelan di koridor dengan kepala menunduk, dan di sepanjang jalannya siswa lain mencemoohnya, menghinanya. Seragam sekolah Jeonghyun terlihat kotor sekali. Entah itu tanah atau tepung yang dicampur dengan hal lain. Rambutnya terlihat basah, dan sepertinya anak laki-laki itu baru saja disiram dengan suatu cairan; entah air atau apa.
Serim ingin menghampiri Jeonghyun, namun Ten menahannya dengan cengkraman yang begitu erat di tangannya.
"Mau kemana kau?" Ten bertanya dengan sinis. Anak laki-laki cantik itu berdiri tidak jauh darinya, dan segera melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan tangan Serim setelah Serim mengalihkan perhatiannya dari Jeonghyun.
Ten. Hingga tahun lalu, dia adalah teman dekatnya. Anak yang baik, ceria, dan berteman dengan siapapun. Tipikal anak yang populer di seantero sekolah. Bahkan, tiap akhir minggu dia akan mengajak teman-teman sekelasnya untuk mengunjungi Joker dan bermain bersamanya; entah itu hanya mengobrol atau mengajaknya keliling kota dan menonton film di biskop. Kata Ten, Joker hanya peran selama di sekolah. Di luar itu, semuanya adalah teman. Itulah mengapa akting penindasan selama di kelas terasa tetap menyenangkan.
Sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi padanya sekarang ini. Semuanya menatapnya dengan pandangan merendahkan, bahkan tiap akhir minggu, tidak ada satupun teman sekelasnya yang mengunjunginya. Serim tidak tahu apa yang terjadi pada teman sekelasnya. Apakah dia telah berbuat salah? Memang apa salahnya selama dua tahun ini? Serim rasa tidak ada. Dia adalah anak baik-baik.
Kembali ke saat ini, dimana Ten sedang menatapnya sinis seolah dia akan melakukan suatu kesalahan besar apabila dia tidak dicegah. Di belakang Ten, Taeyong berdiri sembari bersandar pada sisi meja dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Anak laki-laki itu terlihat tidak berminat mengganggunya saat ini; hanya menatap penasaran atas apa yang akan Ten lakukan padanya. Sepertinya dia lebih suka menonton.
"Aku ingin menolong Jeonghyun." Serim menjawab dengan suaranya yang pelan, hampir berbisik.
Ten yang mendengarnya langsung memasang wajah mencemooh, dia mendengus mengejek Serim. "Menolong?" ulangnya, seolah Serim mengatakan sesuatu yang mustahil. Wajahnya seolah berkata, seriously?
Tanpa berkata apapun Serim mengangguk membenarkan. Samar-samar Serim bisa mendengar Taeyong mendengus geli, membuatnya merasa ciut karena seolah-olah dia akan melakukan sesuatu yang mustahil dia lakukan.
Kemudian Taeyong bangkit dan berjalan pelan menuju ke arah jendela, membuka jendelanya dan mengedarkan pandangannya ke arah lapangan olahraga yang begitu luas. Angin meniup anak rambutnya, dan cahaya matahari yang menerpanya membuat Taeyong berkali-kali lipat lebih tampan. Serim akui temannya yang satu itu sangat tampan, seolah keluar dari komik Jepang yang beberapa kali dibacanya.
Kalau saja kelakuannya sebaik tampangnya, mungkin Serim sudah jatuh hati.
Ten melirik Taeyong, menunggu sahabatnya mengatakan sesuatu. Setelah beberapa saat berada dalam keheningan yang menegangkan, suara dingin Taeyong terdengar. "Kau tahu, aku pernah menonton drama yang disitu ada sebuah scene dimana seorang pelayan bertindak sesuka hati di rumah majikannya," Taeyong menggantung kalimatnya, "dan kau tahu apa yang dikatakan majikannya?"
Serim bisa menebak, namun dia memilih diam.
"'Know your place.'"
Ten nyaris tertawa terbahak, kalau dia tidak ingat bahwa aktingnya harus sempurna. Ten menahan nafasnya selama beberapa detik untuk menetralkan tawanya, kemudian kembali menatap Serim, "Dengar? Kau paham kan apa maksud Taeyong? Bodoh sekali jika kau tidak paham kalimat sejelas itu."
Serim tahu, dan Serim sangat paham. Sadarlah dengan posisimu saat ini.
Serim yang seorang Joker ingin menolong Joker lain? Memangnya apa yang bisa dia lakukan? Dia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi ingin menyelamatkan orang lain? Apa yang bisa dia beri untuk Joker lain? Kata-kata pemanis tidak akan bisa membantu banyak. Orang lain tidak perlu kata-kata pemanis atau penenang darinya. Yang mereka butuhkan adalah posisi yang sedikit lebih tinggi dari Joker; apapun itu selama itu bukanlah Joker.
Serim meringis dan sedikit memejamkan matanya saat melihat Jeonghyun yang terjatuh. Mungkin anak lain menghalangi jalannya. Tawa menghina terdengar keras setelahnya. Seolah mereka puas dengan apa yang terjadi pada Jeonghyun. Serim mengeratkan tangannya, tidak terima Jeonghyun diperlakukan seperti itu; walau kondisinya tidak jauh berbeda.
Tiba-tiba Ten menyeretnya keluar kelas. Di belakangnya Taeyong mengikuti dengan langkah santai. Laki-laki berambut putih itu selalu bersikap tenang setiap kali Ten melakukan sesuatu; seolah-olah pikiran mereka terhubung, dan Taeyong tidak perlu repot-repot bertanya apa yang akan Ten lakukan untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran Ten. Mereka seperti memiliki suatu hubungan kuat yang tidak akan bisa dirusak oleh suatu apapun.
Pintu kelas terbuka lebar dan Serim diseret ke tengah lorong. Tangannya dihempaskan begitu saja setelah dicengkram kuat. Tatapan orang-orang yang ada disana tertuju padanya, berbagai spekulasi tentang apa yang orang-orang pikirkan mulai merasuk ke dalam kepalanya. Sebagian besarnya tentang hal-hal negatif seperti 'Oh, Joker yang lain,' atau 'Apa yang akan dilakukan orang sepertinya?'
"Hei, semuanya!" Ten menyapa kerumunan yang entah bagaimana bertambah banyak. Seringai manis terbentuk di wajahnya, seiring dengan pikiran gilanya yang memikirkan tentang hal-hal buruk yang akan dilakukannya kepada Serim. "Kalian tahu? Beberapa saat yang lalu, orang ini; Park Serim, Joker dari kelas 3-Spade berkata dia ingin menolong Yoon Jeonghyun!"
Bersamaan dengan selesainya ucapan Ten, tawa keras memenuhi lorong, yang mungkin akan terdengar hingga lantai lima dan lantai tiga. Serim menunduk dengan tubuh gemetar, wajahnya memucat ketakutan dan dia tidak sanggup mengangkat kepalanya bahkan hanya untuk menatap Ten yang sedang berbicara. Diam-diam dia melirik kearah Jeonghyun; yang ternyata menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara bingung, tersentuh, dan entah bagaimana ada marah di sana.
Tawa itu masih terdengar, namun berangsur berhenti saat Taeyong datang, berdiri di samping Ten. Keberadaannya mengambil alih atensi yang sebelumnya tertuju pada Park Serim yang saat ini hanya berdiri diam dengan kepala menunduk. Taeyong tidak berteriak ataupun berbicara dengan lantang, dia hanya berbicara dengan volume suaranya yang seperti biasa, "Park Serim, kau bilang kau ingin menolong Jeonghyun?" tanyanya, namun tidak dijawab oleh Park Serim. Oh, Taeyong pun tidak berharap agar Park Serim membalasnya. "Sekarang kau boleh menolongnya. Kau sangat ingin menolongnya, kan? Sampai-sampai tadi kau memberontak di kelas."
Terdengar lagi suara tawa, namun tidak sekeras yang tadi. Setelahnya, dimulai dengan satu orang yang berdiri agak di belakang kerumunan, orang-orang bersorak untuk Serim agar gadis itu menolong Jeonghyun.
Ten ikut tertawa, di sebelahnya Taeyong hanya tersenyum asimetris. Senyumnya menyebalkan sekali, kalau Serim boleh bilang. "Tolong dia, Serim! Kau ingin menolongnya, kan?" Ten tertawa makin keras, menikmati pertunjukan di hadapannya.
Untuk beberapa saat Serim hanya berdiri di sana, tidak melakukan apapun sementara kerumunan semakin bersorak untuknya.
Gadis itu sadar bahwa tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk Jeonghyun yang memiliki posisi yang sama sepertinya. Berada di kasta terendah sama sekali tidak menguntungkan, kecuali kau menikmati tiap kali seseorang menindasmu. Beberapa saat yang lalu Serim berpikir untuk membantu Jeonghyun dengan menemaninya membersihkan diri dan menghabiskan jam istirahat bersamanya, namun saat ini, semua bayangan itu hilang. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Kalimat penenang tidak berguna, tapi jika dia tidak melakukan sesuatu, dia yakin akan ada hal buruk yang menimpanya. Kerumunan ini ingin suatu pertunjukan yang menyenangkan hati mereka. Suatu pertunjukan yang menggelikan, yang bisa membuat mereka lebih banyak menindas dirinya. Entah itu ejekan, cemoohan, sindiran, atau sesuatu yang lain. Apapun itu yang bisa memuaskan keinginan mereka untuk membuatnya semakin jatuh. Mereka tidak akan berhenti hingga mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"J-Jeonghyun." Dengan perlahan Serim menghampiri Jeonghyun. Mulutnya gatal ingin bertanya apa kau baik-baik saja, namun itu terdengar bodoh karena apa yang dia lihat saat ini sudah menjawab pertanyaan tersebut. Namun, apa yang akan dikatakannya untuk situasi saat ini? Aku akan menolongmu? Biarkan aku membantumu? Keduanya sama-sama terdengar konyol karena sesungguhnya, dia tidak dapat berbuat banyak. Bantuan apapun tidak akan berguna untuk saat ini, apalagi jika itu dari sesama Joker. Tentu saja, Joker tidak dapat banyak membantu dengan posisinya yang sama-sama mengenaskan seperti itu.
Park Serim berlutut di samping Jeonghyun. "Jeonghyun, akan kubantu," katanya. Tangannya terulur untuk sekadar membantu Jeonghyun berdiri, namun tiba-tiba Jeonghyun menepis tangan Serim yang terulur untuk membantunya.
Kerumunan itu menahan nafas. Suaranya terdengar jelas sekali. Beberapa disertai suara 'oooh ...' dan sebagian menutup mulutnya dengan tangan dan matanya membulat tidak percaya. Samar-samar terdengar suara cekikikan, namun Serim mencoba tidak peduli dengan itu semua. Serim menarik tangannya kembali dan menggenggam bagian punggung tangan kirinya yang sedikit nyeri. Berbenturan keras dengan punggung tangan Jeonghyun ternyata sedikit menyakitkan.
"Jeonghyun?"
Laki-laki yang terlihat mengenaskan itu berdiri tanpa susah payah, walaupun jika dilihat tubuhnya sedikit limbung. "Tidak usah pedulikan aku, Park Serim."
Gadis itu tertegun mendengar ucapan kekasihnya. Terutama, Jeonghyun baru saja memanggilnya dengan nama lengkapnya. Serim hanya bisa menatap Jeonghyun yang berjalan pelan keluar dari kerumunan dengan mudah karena orang-orang memberi akses padanya. Tidak ada yang mau bersentuhan atau bersenggolan dengan orang yang seragamnya terlihat menyedihkan dan kotor seperti itu.
"Kau tidak membantu," kata Jeonghyun sebelum benar-benar pergi.
Kerumunan itu berubah hening. Tidak benar-benar hening, karena Serim dapat melihat satu-dua orang saling lirik satu sama lain dan berbisik sebelum pada akhirnya menatap dirinya dengan pandangan mencemooh. Kemudian, setelah Jeonghyun benar-benar pergi, tawa penuh penghinaan itu meledak. Benar-benar keras hingga telinga Serim terasa pening. Disana, dengan masih berlutut di tempatnya semula, Serim menunduk menatap lantai kosong dan kedua tangannya meremat roknya menahan malu dan kesal. Ujung matanya berair, mati-matian menahan air matanya yang sudah terkumpul untuk tidak menetes. Tawa Taeyong dan Ten adalah yang paling keras, benar-benar tertawa lepas atas apa yang mereka dapatkan dari pertunjukan Serim yang ingin membantu Jeonghyun.
Kemudian, Serim benar-benar menangis; antara sedih karena Jeonghyun tidak menerima bantuannya dan malu. Dia sadar bahwa apa yang dipikirkannya bodoh. Tidak ada yang membutuhkan bantuan dari kasta terbawah sepertinya, karena apa yang mereka butuhkan adalah posisi yang sedikit lebih tinggi, atau perlindungan dari kasta teratas seperti King. Walau sepanjang sejarah SMA ini, belum pernah ada seorang Royal Class yang melindungi Joker.
Ten menghampiri Serim, hanya berdiri dengan angkuh di sebelahnya, tanpa repot-repot berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis yang sedang terduduk menyedihkan sembari menangis itu. "Hei, Park Serim."
Suara Ten terdengar menyebalkan bagi Serim. Terdengar jelas sekali bahwa laki-laki cantik itu sedang mati-matian menahan tawa. Serim diam saja, tidak berniat untuk menanggapi panggilan Ten, bahkan sekadar mengangkat kepala untuk menatap Ten saja tidak.
"Kau lihat sendiri, kan? Joker sepertimu tidak memberi bantuan apapun untuk Joker lain. Yang mereka butuhkan adalah bantuan dari kasta tinggi, bukan dari kasta terendah sepertimu."
Ten tidak salah.
Serim paham betul. Ten tidak perlu mengulangi atau memperjelas itu, Serim sudah paham.
"Omong-omong," kali ini Taeyong berbicara. Serim menatap Taeyong dari tempatnya duduk, mengangkat sedikit kepalanya agar dia bisa melihat jelas pemilik suara itu. "Peliharaan yang tidak menurut pada majikannya harus dihukum, kan?" Taeyong tersenyum, sekilas senyum itu terlihat begitu menenangkan, seolah berkata pada siapapun yang melihat senyum itu bahwa Taeyong adalah sosok malaikat berjiwa tulus. Namun jika dilihat baik-baik, senyum itu adalah senyuman iblis yang mempunyai hobi menyiksa orang-orang tanpa pandang bulu; baik orang yang berdosa maupun orang tak berdosa.
Lonceng pertanda bahaya berdering dalam benak Serim. Gadis itu sadar akan ada suatu hal buruk menimpa dirinya setelah ini. Namun sebelum dia sempat bereaksi, Ten sudah menarik tangannya dengan kasar dan menyeretnya menuju atap sekolah –tempat lapang yang paling dekat dengan kelas mereka. Sepertinya Ten tidak ingin bersusah payah menuruni tangga hanya untuk ke lapangan atau halaman belakang.
Tubuh Serim dihempaskan begitu saja, membuat gadis itu merintih kesakitan setelah tubuhnya membentur permukaan lantai yang keras. Serim berusaha untuk duduk, dan setelah itu dia sadar di hadapannya tidak hanya Ten dan Taeyong, namun tiga orang lainnya sudah berdiri di sana –Jung Jaehyun, Kim Doyoung, dan Moon Taeil. Tidak lama kemudian pintu atap terbuka dan teman-teman sekelasnya bermunculan, seluruhnya tanpa terkecuali.
Serim beringsut mundur, menatap takut seluruh teman sekelasnya yang sudah bersiap untuk menindasnya, hingga punggungnya menyentuh pagar besi yang membatasi pinggiran atap, barulah Serim berhenti.
"Nah, hukuman apa yang cocok untuknya? Dia sudah memberontak padaku dan Queen." Taeyong kembali bersuara, terdengar mati-matian menahan kekesalannya. Padahal, faktanya Serim hanya berkata ingin menolong Jeonghyun. Serim tidak membentak Taeyong maupun Ten, dia hanya menahan kekesalannya dalam diam.
Namun bagi Taeyong dan Ten, keinginan Serim untuk menolong Jeonghyun merupakan suatu kesalahan. Beberapa waktu yang lalu, mereka sedang bersenang-senang dengan menindas Serim, namun tiba-tiba gadis itu mengabaikan mereka dan berniat menolong seorang Joker. Ini seperti anjing yang mengabaikan tuannya dan lebih memilih untuk bermain sendiri saat sedang dinasehati oleh tuannya.
"Menurutmu, lebih menyenangkan fisik atau mental?" Ten bertanya, menatap Taeyong dengan wajah bertanya yang terlihat sekali dibuat-buat. Sok imut, kalau kata Serim. Tapi ya, Ten memang imut dan cantik.
Taeyong terdiam, berpikir mana yang lebih menyenangkan menyiksanya secara fisik atau mental. Jujur saja tidak ada yang lebih baik di antara dua pilihan yang diberikan Ten –fisik terdengar menyakitkan, Serim yakin tubuhnya tidak akan kuat. Sedangkan mental, Serim tidak menyukainya karena itu menyakiti hatinya. Serim tidak tahu bagaimana rasanya mental yang rusak karena bullying, namun dari sepengetahuannya, itu terdengar mengerikan. Tidak sedikit orang yang bunuh diri karena mentalnya yang rusak akibat bullying.
Jadi, baik itu fisik maupun mental, tidak ada yang lebih baik.
"Aku lebih suka siksaan mental," jawab Taeyong, "tidak menimbulkan bekas fisik, walau waktu penyembuhannya lebih memakan waktu. Siksaan fisik terlalu ringan untuknya." Ketika Serim menatap Taeyong, mata laki-laki itu menatapnya dengan begitu dingin. Seolah laki-laki itu tidak memberi sedikit pun belas kasihan kepadanya. Jika orang lain yang belum mengenal Taeyong melihat tatapannya saat ini, mereka pasti akan mengira bahwa Taeyong adalah orang yang tidak memiliki emosi.
Mendengar kalimat Taeyong, Ten tersenyum cerah, kemudian melangkah maju mendekati Serim. Mendahului King –yang seharusnya King terlebih dahulu sesuai urutan kasta–, namun Taeyong tidak memikirkannya. Ten mencengkram kuat dagu Serim, kemudian membisikkan sesuatu padanya.
Setelah Ten selesai, Taeyong menyuruh Jaehyun untuk melakukannya terlebih dahulu, tetapi Jaehyun berkata dia ingin agak terakhir. Jadilah Doyoung dan Taeil maju, membisikkan sesuatu pada Serim. Baru setelah itu Jaehyun.
Laki-laki tampan itu membisikkan sesuatu yang membuat Serim menegang ketakutan, dan setelahnya, kalimat bisikan dari Taeyong membuat Serim makin pucat hingga pikirannya kosong.
"Lakukan apapun padanya. Aku ingin melihatnya menyesal karena telah melawanku dan Ten." Taeyong berkata pada teman-teman sekelasnya, yang diangguki dengan serempak.
"Boleh secara fisik?" Chan bertanya setelah dia mengangkat tangan dan diizinkan bertanya oleh Taeyong.
Taeyong mengangguk, "Ya. Tapi jangan terlalu terlihat."
Setelah itu, Taeyong pergi diikuti empat pengikutnya. Meninggalkan Serim yang pasrah menerima perlakuan kejam dari teman-temannya dengan tatapan kosong.
Saat air dingin itu menyentuh kulitnya, Serim kembali teringat dengan bisikan orang-orang itu –terutama Jaehyun dan Taeyong. Bisikan mereka terputar berkali-kali di kepalanya seperti rekaman, membuat ingatan masa lalunya kembali terputar di kepalanya, mengingatkannya akan apa yang telah dia perbuat di masa lalu.
"Aku tidak punya dendam apapun terhadapmu. Apa yang kulakukan hanya untuk kepuasan batin semata."
"Jangan harap aku sudah lupa akan apa yang pernah kau lakukan terhadapku."
"Kau lihat? Aku kembali berdiri di atasmu. Aku bisa menginjakmu semauku seperti keset rumahan."
"Berhati-hatilah saat bermain api. Dua tahun yang lalu kau membakar harta milikku, dan saat ini, bersiaplah untuk terbakar."
"Kau pikir aku tidak tahu apapun? Aku menemukan kotoran yang kau simpan rapat-rapat dibalik tumpukan berlian."
[]
ayo tebak siapa aja yang ngomong 5 baris terakhir. :D
