Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[Crown for the Queen ]

~ Chapter 28 ~

.

.

Itachi Pov.

Malam ini, di meja makan, biasanya hanya ada aku dan pangeran Sasuke, tapi kami kedatangan tamu yang aku tak duga sama sekali, aku sudah berencana berkunjung, tapi mereka sudah berada di istana ini, semua ini adalah tindakan pangeran Sasuke, menatap adikku satu-satunya itu, lagi-lagi dia membuat sesuatu tanpa sepengetahuanku.

Sebelumnya, saat bertemu putri Sakura, dia terlihat ketakutan, wajahnya sangat pucat, bahkan nyonya Rose mengatakan jika putri Sakura tidak makan apapun sejak semalam, dia terus mengurung diri dan tidak ingin keluar dari kamarnya, aku tahu ketakutan dan rasa cemas yang tengah di landanya, hanya karena dua orang ini.

Saat melihat mereka sekali lagi, ada yang berbeda dari raja Serra, informasi dari kesatria Hidan benar, sekarang pangeran Serra menjadi seorang raja. Aku merasa jika dia menyembunyikan sesuatu, selain kebohongan putri Ino yang tetap tenang setelah menggunakan nama putri Sakura, raja Serra terlihat khawatir, dia pun merasa tidak nyaman dengan sambutan makan malam ini, padahal sebelumnya dia begitu percaya diri berbicara padaku.

Informasi lainnya tentang putri mahkota yang di kabarkan telah mati oleh orang-orang di kerajaan Haruno, lalu untuk apa putri Ino menyamar sebagai putri Sakura? Ini semakin aneh.

"Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak mengetahui kabar dari kerajaan Haruno, apa masih seperti dulu? Kalian memiliki bahan pangan yang melimpah, tanah yang subur, bahkan tanaman obat terbaik hanya tumbuh di tanah kalian." Ucapku, aku memulai pembicaraan ini.

"Semua masih tetap sama, Yang mulia, kami terus mengelolahnya dengan baik dan menjadi sumber penghasilan utama di kerajaan." Ucap putri Ino.

Kenapa raja Serra tidak mengatakan apapun dan hanya memasang topeng saja? Disini dialah raja, dialah yang harus berbicara padaku, menjelaskan bagaimana kerajaan yang di pimpinnya sekarang, bukan putri dari seorang selir dan sangat lancang menggunakan jati diri putri Sakura.

"Aku senang mendengarnya. Putri Sakura, aku sempat tidak mengenalimu, kau cukup berbeda setelah dewasa." Ucapku dan tentu saja ucapanku membuat putri Ino khawatir, bagaimana jika aku membongkarnya? Bagaimana dengan putri Sakura yang asli di tahan dan berusaha di lenyapkan. Aku yakin kau akan sangat malu dan bingung menjelaskannya, tapi pangeran Sasuke tidak memahaminya jika dia tidak mengingat apapun sekarang.

"Ki-kita tidak bertemu bertahun-tahun lamanya, Yang mulia, kau pasti sedikit melupakan masa lalu saat pertama kali kita bertemu." Gugupnya, pertahanan tenangnya itu, akhirnya runtuh.

Tahu apa kau tentang pertemuanku dengan putri Sakura? Kau bahkan tidak akan tahu apapun.

"Ah begitu rupanya, maafkan aku, putri." Ucapku.

Mungkin aku tidak perlu menyinggung jika seharusnya dia yang menjadi ratu bukan raja Serra, pangeran Sasuke akan penasaran dengan latar belakang mereka yang sebenarnya, para anak selir tidak memiliki hak jelas secara hukum kerajaan.

"Aku jadi penasaran dengan masa lalu Yang mulia raja dengan kalian?" Ucap pangeran Sasuke, akhirnya adik yang banyak tingkah ini mulai berbicara, dia ingin tahu apapun tentang masa lalu kami, kerajaan Haruno dan 14 tahun yang lalu. Sekali lagi, kau tidak akan menemukan tentang nona Sumire disana, pangeran.

Raja Serra terdiam, begitu juga dengan putri Ino, mereka saling bertatapan dan semakin terlihat khawatir, ini akan membosankan jika kalian ketahuan secepat ini. Pangeran Sasuke tidak mengingat kembali putri Sakura, seharusnya dia sadar sejak menemuinya, putri di hadapan kami ini, bukan putri Sakura.

"Hal itu sudah cukup lama, maaf jika kami melupakannya, pangeran." Ucap raja Serra.

"Tidak apa-apa, aku juga melupakan banyak hal dulunya." Ucap pangeran.

Makan malam ini di habiskan dengan pembicaraan kerjasama, aku juga tidak ingin mengungkit kenapa mereka berani sekali datang ke istana ini, pangeran Sasuke pasti akan semakin mencurigai sesuatu.

Setelahnya.

Sebuah ketukan di pintu kerjaku, aku kembali ke sini setelah makan malam itu, semakin banyak ucapan di keluarkan, mereka semakin khawatir dan merasa tidak nyaman, mereka mungkin sadar jika aku bukan tipe yang cepat melupakan sesuatu, saat ini, pangeran datang sendirian, dia pasti ingin menanyakan sesuatu.

"Aku merasa jika kakak tidak begitu menyambut mereka dengan baik." Ucap pangeran Sasuke, lebih tepatnya seakan dia protes padaku.

"Aku sudah memberimu peringatan pangeran, tolong jika kau ingin melakukan sesuatu, kau harus mengatakannya padaku terlebih dahulu. Bagaimana mungkin kau mengundang orang-orang dari kerajaan Haruno tanpa tahu apa yang terjadi dengan mereka sebelumnya? Apa kau tidak ingat jika ayah mereka dan ayah kita sempat berselisih?"

"Itu sudah berlalu, kakak, aku hanya ingin mencoba membangun kerjasama yang baik dengan kerajaan mereka, bukannya itu tertulis di buku catatan? Hubungan kita dulunya begitu baik." Ucap pangeran Sasuke dan tatapannya sangat terkejut, dia akhirnya mengatakannya, dia sendiri yang berbicara jujur padaku.

Menatapnya dan tetap diam, aku akan mendengar segala kebenaran dari mulutnya sendiri, walaupun semua hal yang di lakukannya telah di laporkan kesatria Sai padaku.

"Oh baiklah, aku akan mengakuinya sekarang!" Pangeran Sasuke terlihat kesal, kau sulit menutupinya di hadapanku dan aku tahu itu. "Aku penasaran akan nona Sumire dan masa lalu kalian, tapi setelah mencari hal itu, aku malah menemukan kerajaan Haruno, segala kerjasama kita di masa lalu, kakak yang berkunjung ke sana, tentang perjodohan dan putri mahkota yang tidak di sebutkan. Maaf kakak, bukannya aku ingin membuat masalah lagi, kau tidak pernah mengatakan apapun padaku, kau terus saja diam, mengatakan semua akan baik-baik saja, aku pikir kita ini adalah saudara dan tidak boleh ada rahasia sekecil apapun." Ucapnya.

Aku jadi tidak ingin marah lagi padanya, semua juga termasuk salahku, aku tidak menjelaskan dengan baik pada pangeran Sasuke, akhirnya, dia menjadi sangat ingin tahu apapun, mencari semuanya sendirian dan melakukan apapun yang menurutnya akan menemukan informasi yang ingin di ketahuinya.

Tapi, ini belum saatnya, jika raja Serra dan putri Ino tahu putri Sakura berada di istana ini, mereka akan menuntutku dan bisa saja mengatakan aku yang menyembunyikan putri mahkota, hal ini tidak akan baik untuk kerajaan Uchiha.

"Maaf, pangeran Sasuke. Aku janji padamu, jika semua ini telah selesai, aku akan menjelaskan segalanya."

"Kapan itu akan selesai? Apa sebenarnya yang kakak lakukan? Aku tidak mengerti."

"Hanya sebagai penolong, aku sedang menolong seseorang dalam masa krisisnya."

"Siapa?"

Aku harus mengatakannya, hal ini agar membuat pangeran Sasuke tenang.

"Nona Sumire dalam masalah, dia bukan budak biasa, aku sedang berusaha menolongnya."

"Menolongnya dari apa?"

"Seseorang mengincar nyawanya."

"Apa itu penting? Kenapa nyawanya begitu berarti hingga kakak menanggung segala cibiran dari orang-orang!" Kesalnya.

"Bagaimana jika aku katakan nona Sumire sebenarnya adalah seorang ratu?" Ucapku.

Sejenak ini membuat pangeran Sasuke terkejut, dia menjadi sedikit tenang.

"Dulunya kita punya hubungan yang baik, kerajaan milik nona Sumire termasuk kerajaan yang pernah membantu kerajaan kita saat dalam masa krisis, jadi aku perlu membantunya, hanya sebagai balas budi." Bohongku, aku jadi harus mengarang cerita apapun agar pangeran puas.

"Ja-jadi kakak sengaja melindunginya dan ingin membantunya, semacam mengembalikan kembali kedudukannya?"

"Kau cukup pintar pangeran."

"Kenapa kakak tidak mengatakannya sejak awal? Aku terus salah paham akan nona Sumire."

"Apa sekarang kau percaya padaku?"

"Aku belum bisa percaya sepenuhnya, tapi aku akan berusaha. kenapa kerajaan nona Sumire tidak tercantum dalam catatan?"

Rasa penasaran pangeran Sasuke semakin meningkat dan ini membuatku semakin kesulitan.

"Aku tidak tahu, semua catatan itu di buat atas perintah ayah." Alasanku.

"Kakak benar, seharusnya aku bertanya pada ayah, tapi itu sudah tidak mungkin lagi."

Aku berharap dia tidak bertanya lagi.

Tatapan pangeran Sasuke mengarah ke sebuah pot bunga yang aku simpan dekat jendela.

"Aku tidak tahu kakak menaruh pot bunga di ruangan kerjamu." Ucapnya, pangeran Sasuke selalu memperhatikan apapun di seluruh ruangan milikku, termasuk hal kecil seperti ini.

"Itu adalah hadiah dari nona Sumire."

"Kenapa kakak tidak mengatakannya padaku? Semua hadiah harus di periksa oleh penjaga dan para Duke, aku tidak ingin kakak mendapat masalah, lagi pula bunga apa ini? Aku harap dia tidak memberi bunga sihir pada kakak." Ucapnya. Masih saja memikirkan hal buruk pada nona Sumire.

"Keahlian lain nona Sumire adalah dia mengetahui jenis bunga, bunga ini bernama Chrysanthemum, katanya sebagai pembersih udara, aku rasa itu sangat berefek, ruanganku menjadi lebih segar dan sejuk setiap harinya." Ucapku.

"Aku tidak percaya padamu, kakak, kau terus mendukung nona Sumire."

"Sebaiknya kau berbaikan dengan nona Sumire, tolong jangan menganggapnya wanita rendahan lagi, tidak lama lagi, dia akan mengambil posisinya sebagai ratu." Ucapku.

"Iya-iya, akan aku lakukan nanti. Oh ya, bagaimana menurut kakak dengan putri Sakura?" Tanyanya.

"Ada apa dengan putri Sakura?" Ucapku, aku tidak tahu arah pembicaraan pangeran Sasuke ini, lagi pula dia bukan putri Sakura, tapi putri Ino.

"Dalam catatan apa dia yang akan menjadi calon pengantinku? Walaupun itu sekedar ucapan mendiang ayah semata, tapi aku memikirkan ini, jika saja kerajaan kita memiliki rekan kerja seperti kerajaan Haruno, aku yakin kita akan semakin makmur." Ucap pangeran Sasuke.

Haa..~ lagi-lagi dia membuatku sakit kepala, kenapa sekarang memikirkan perjodohan di masa lalu?

"Apa kau menyukai, putri Sakura?" Tanyaku.

Pangeran Sasuke terdiam, aku tahu kau tidak mungkin menyukai seseorang dalam waktu yang sangat singkat ini. Putri Sakura yang asli bahkan sulit akrab denganmu dulunya. Katanya hatimu sekeras batu.

"Sejujurnya, aku tidak merasa asing akan nama itu, aku seperti mengingat sesuatu dengan nama putri Sakura, tapi semua terlihat buram bagiku."

Perlahan-lahan pangeran akan mulai mengingatnya, jika dia tahu putri Sakura yang sekarang berbohong, dia akan sangat marah, dan setelahnya, pangeran Sasuke akan sangat bersalah telah bersikap buruk pada putri Sakura yang asli.

"Jika kakak menginginkan pernikahan, aku bersedia melakukannya dengan putri dari kerajaan Haruno itu." Ucapnya.

Memijat pelan pelipisku, hentikan itu pangeran, aku jadi pusing untuk mengurusmu.

"A-ada apa kakak? Apa kau sakit?" Ucapnya dan menghampiriku.

"Kau tidak boleh menikah sebelum aku menikah." Ucapku, sebagai syarat agar dia tidak segera melakukan hal konyol itu, dia bukan putri Sakura, dasar adik bodoh!

"Ba-baiklah, aku akan sabar menunggu." Ucapnya.

Aku tidak tahu lagi, apa yang harus aku lakukan pada pangeran Sasuke. Dia mulai membuat masalah baru lagi.

.

.

TBC
.

.


updatee...~

yang puasa hari ini, semangat...!