Darker Than Night

Chapter Sebelumnya

.

(-)

Terdengar suara pintu yang diketuk. Untuk sesaat Gaara terlihat bingung. Siapa orang yang berani bertamu ke kantornya malam-malam begini. Mengabaikan hal tersebut, pemuda itu kemudian mempersilakan tamu misteriusnya masuk.

"Maaf mengganggumu malam-malam begini. Tapi ada yang ingin kubicarakan. Bisakah kita berdua bicara?"

Gaara melirik jam dinding. "Maaf tapi kalau soal tidak penting lebih baik besok saja-"

"Ini mengenai Hinata."

Gaara terlihat kaget.

Didepannya ia melihat Kakashi yang tersenyum dari balik topengnya. "Kudengar kalian berdua berteman sejak kecil apa itu benar?"

Gaara menganggukkan kepalanya. "Benar. Lalu kenapa?"

"Bisakah kau tidak mendekatinya? Aku tidak suka ada orang lain yang mendekatinya." Kakashi bertanya dengan senyum mengerikan.

"Apa?" Gaara mengerutkan dahinya.

Ia sungguh tidak mengerti apa maksud dari perkataan jounin bermasker itu memintanya untuk tidak mendekati Hinata. Memangnya siapa dia berani memerintah seorang Kazekage? Terlebih lagi melarangnya untuk bertemu dengan teman kecilnya sendiri yang sudah lama ia rindukan? Apa jounin ini memiliki hubungan spesial dengan Hinata? Atau orang ini dari awal memang berniat mengancamnya? Atau menantangnya untuk bertarung? Jika itu memang benar, Gaara tidak akan tinggal diam.

"Kakashi, kau-"

Mendengar suara berat dari Gaara itu, Kakashi seketika tersadar.

SIAL! Apa yang barusan kukatakan?

Dari ekspesi wajahnya, jounin tersebut tahu, kalau perkataannya barusan telah memancing emosi dari Sabaku Gaara. Karena itulah sebelum Gaara sempat mengambil guci pasir kesayangannya, Kakashi lebih dulu mengalah.

"Maaf, aku bercanda. Itu tadi hanya main-main. Kau tidak usah setegang itu, Gaara." Pria tersebut berpura-pura tersenyum. Sementara dalam hati, jounin tersebut merutuki kecerobohannya sendiri. Apa yang barusan ia pikirkan? Mengancam Kazekage Suna? Apa dia mau memancing perang dengan negara Angin?

Kau benar-benar bodoh Kakashi!

Untung saja Gaara percaya dan menganggap perkataannya barusan sebagai angin lalu. Pemimpin dari Suna itu kemudian merilekskan bahunya. "Jadi apa alasanmu yang sesungguhnya kemari?" Pemuda tersebut mempersilakan jounin Konoha itu masuk ke ruangannya.

Sial, alasan apa yang harus ia katakan sekarang? Mendadak otak Kakashi terasa buntu.

"Jadi?"

Namun bukan Kakashi namanya jika ia tidak bisa mencari alasan lain.

"Besok kami akan kembali ke Konoha." Jawab Kakashi pada akhirnya.

"Besok? Kenapa cepat sekali? Apa ada hal gawat di Konoha?"

"Bisa dibilang begitu. Lebih tepatnya Hokage Kelima memerintahkan kami untuk segera kembali ke desa setelah misi selesai."

"Apa ini ada hubungannya dengan Akatsuki dan Madara?"

"Bisa dibilang begitu. Kami tidak ingin Konoha sampai diserang kembali oleh mereka."

"Lalu bagaimana dengan keadaan Naruto?" Tanya Gaara lagi.

"Naruto baik-baik saja. Dia dan Killer Bee pergi sementara dari desa demi mencari cara untuk mengendalikan Kyuubi."

"Mengendalikan Kyuubi? Benarkah hal itu bisa dilakukan?"

"Ya, buktinya adalah Killer Bee sendiri. Orang itu sanggup mengendalikan Hachibi yang ada di dalam tubuhnya. Hal darurat yang harus kita pikirkan saat ini adalah Kabuto dan juga Sasuke." Kakashi menekankan.

"Aku sudah mendengarnya dari Hokage Kelima. Mereka berdua masuk anggota Akatsuki, bukan? Bahkan mereka sampai nekat mengincar Hachibi, membunuh Danzou dan mengacaukan rapat penting dari kelima aliansi negara ninja. Sungguh diluar dugaan." Gaara mengingat kembali pertemuannya dengan Sasuke. Pemuda itu benar-benar telah berubah. Menjadi pribadi yang jahat, kejam dan juga bengis. Sungguh disayangkan kalau sahabat dari Naruto itu kini benar-benar jatuh ke dalam kegelapan.

Apa masih ada cara untuk menyelamatkannya?

"Ya, karena itulah Sasuke sekarang dianggap sebagai buronan oleh semua negara ninja. Namun karena bantuanmu dan Hokage Kelima yang meyakinkan merekalah, Sasuke paling tidak masih bisa hidup sampai sekarang. Aku sebagai senseinya merasa sangat berterima kasih padamu Gaara."

"Tidak usah dipikirkan. Aku melakukan ini semua karena Naruto. Bagiku teman Naruto sama saja dengan temanku. Apalagi kami juga sudah saling mengenal dan ikut di ujian chunin yang sama." Jelas Gaara. "Tapi setelah ini aku tidak yakin bisa membantu Sasuke lagi. Orang itu sudah melakukan banyak tindak kriminal yang berat. Selain menjadi ninja pelarian, murid dari Orochimaru. Juga menyerang para Kage, membunuh Danzou dan sekarang berpihak pada Akatsuki. Tinggal menunggu waktu kapan para penguasa dan Daimyou turun tangan dan memerintahkan para Kage untuk mengeksekusi Sasuke. Jika itu terjadi kita tidak memiliki pilihan lain selain mematuhi perintahnya."

Kakashi menundukkan wajahnya. Ia tidak berani memberitahu pada Gaara, kalau dirinya sudah kehilangan harapan akan Sasuke. Demikian pula dengan Sakura. Hanya tersisa empat orang di dunia ini yang masih percaya dan berjuang untuk mengembalikan Sasuke. Yaitu Naruto, Tsunade, Gaara dan yang terakhir adalah Hinata.

Ya, Hinatanya.

Masih teringat dalam benaknya, ketika gadis itu kembali dalam keadaan cedera parah. Karena pertarungannya dengan Sasuke. Semenjak saat itu, untuk pertama kalinya, Kakashi merasa sangat marah dan emosi pada mantan muridnya itu. Ia kemudian bersumpah tidak akan segan-segan membunuh Sasuke jika mantan muridnya itu sampai berani melukai Hinata lagi.

"Dan untuk perang nanti. Aku dan Mifune sudah sepakat. Kita akan menggunakan ikat pelindung baru." Gaara membuka laci meja kerjanya dan menunjukkannya pada Kakashi.

"Ini…" Kakashi terkesima melihatnya.

"Simbol pelindung ini sebagai tanda persatuan dari kita semua. Mulai sekarang kita tidak lagi berdiri sendiri-sendiri. Tapi bersama-sama. Dengan ikat pelindung kepala ini kuharap semua akan mengingat hal tersebut. Tidak ada lagi percekcokan ataupun perselisihan karena dendam di masa lalu."

"Gaara…." Kakashi tertegun melihat perubahan menakjubkan dari pemuda Sabaku itu.

Ia yang dulu begitu ditakuti sebagai monster oleh penduduk desanya sendiri kini diangkat sebagai Kazekage. Bukah hanya itu ia sekarang juga diakui sebagai ketua dari Aliansi Kelima Negara Ninja. Pemimpin dari Pasukan Ninja Seluruh Dunia.

Sungguh prestasi yang membanggakan sekaligus mencengangkan mengingat umur Gaara yang sedemikian mudanya.

"Mengenai strategi perang masing-masing unit. Sesuai instruksi yang dibahas oleh Hokage Kelima dalam gulungannya akan kupercayakan pada salah satu rekanmu. Shikaku Nara dan putranya Shikamaru." Gaara memberi jawaban. "Tolong sampaikan itu pada Hokage."

"Baik, akan kusampaikan."

Gaara menganggukkan kepalanya. "Apa masih ada hal lain lagi yang ingin kau sampaikan padaku?"

"Tidak ada. Kalau begitu aku permisi dulu." Kakashi baru saja ingin pergi sebelum suara berat Gaara menghentikan langkahnya.

"Soal Hinata-" Pria tersebut berhenti melangkah.

"Tidak masalah kan kalau aku menyukainya?"

"Apa?" Kakashi mendelikkan matanya.

Gaara menyeringai tipis. "Aku hanya bercanda." Ujarnya sambil membalikkan badan. "Kau boleh keluar sekarang."

Senyum Kakashi sontak menghilang. Wajahnya berubah gelap.

Anak ini, dia membalasku ya?.

.

.

Inspirasi dari berbagai sumber :

Warning : Reverse Harem, Semi Canon, abal, typo, dll

Don't Like Don't Read

~Darker Than Night by Lightning Chrome

I do not own Naruto

.

.

Xxxx

.

Happy Reading

.

Xxxx

.

(-)

Kakashi menutup buku novel miliknya yang berjudul Icha-Icha Tactics. Buku tersebut merupakan lanjutan terakhir dari Icha-Icha Paradise karangan Almarhum Jiraiya. Salah seorang Sannin di Konoha yang tewas karena bertempur melawan Pein dari Akatsuki. Sekaligus guru dari Naruto dan almarhum Minato-sensei. Menghembuskan nafas panjang, pria bersurai perak itu memutukan bangkit dari bangkunya untuk kembali ke tempat tidur.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Tinggal beberapa jam lagi, sang surya akan terbit dan mereka –tim delapan harus pulang kembali ke Konoha. Kakashi memasukkan buku novel kesayangannya itu ke dalam tas ninja miliknya.

Aneh, meskipun sudah larut malam, jounin tampan itu masih belum merasakan kantuk sedikitpun. Pikirannya justru berkembang memikirkan hal lain.

Melalui cermin di kamarnya, Kakashi menatap dirinya sendiri.

Tampak di depan cermin, pantulan dari wajah seorang pria dewasa dengan masker. Kakashi menarik maskernya, memperlihatkan wajah aslinya yang hanya bisa dilihatnya seorang diri saat ini. Pria itu tampak kalut. Memikirkan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Dimana dirinya dengan kesadaran penuh mencium Hyuuga Hinata, anggota timnya sekarang di kelompok delapan. Samar-samar Kakashi masih bisa mengingat rasa manis yang muncul di bibir merah muda milik sang heiress Hyuuga. Gadis bersurai indigo panjang yang tadi dikecupnya.

Tiba-tiba saja wajah Kakashi memerah membayangkan kejadian tersebut.

"Sial, apa yang kupikirkan? Kenapa aku menciumnya tadi?" Kakashi mengutuki dirinya sendiri. "Seharusnya aku lebih bisa menahan diri. Bagaimana jika Hinata membenciku sekarang? Dan menganggapku pria mesum? Apa yang harus kulakukan?" Pria itu mengacak-acak rambutnya sendiri merasa frustasi.

Masih jelas dalam ingatannya ketika dirinya ingin menemui gadis itu di kamarnya. Gadis itu terlihat kecewa, ia bahkan menolak untuk menemui Kakashi. Padahal Kakashi sekarang adalah ketuanya di tim delapan. Guru sekaligus temannya 'ANBU' yang sudah lama dikenalnya.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Kakashi mengepalkan jemarinya.

Masalahnya tidak sampai di situ saja, sekarang gadis itu bahkan terlihat jauh lebih dekat dengan Gaara dan iblis bernama Kuro. Dan hal itu cukup membuat jounin perak itu kesal dan meradang. Bahkan karena kecemburuannya itu ia sampai nekat memasuki ruangan Kazekage. Mengancam Gaara untuk tidak mendekati Hinata. Beruntung Gaara menganggap aksinya itu hanya sekedar main-main. Jika tidak, bisa-bisa aliansi negara yang susah payah dibangun oleh Hokage itu menjadi rusak. Hanya gara-gara seorang ninja Konoha bernama Kakashi yang tengah cemburu buta dengan Kazekage, pemimpin dari desa Suna.

"Bodoh." Kakashi kembali mengumpati dirinya sendiri. Merasa dongkol karena baru memikirkan konsekuensi terburuk dari perbuatannya sendiri yang jika salah bertindak bisa berakibat fatal. Yakni menghancurkan hubungan bilateral negaranya sendiri. Konoha dengan Suna.

Menghempaskan tubuhnya ke ranjang, matanya mulai terasa berat. Tidak pernah terbayang dalam otaknya sekalipun kalau dirinya akan jatuh cinta setengah mati pada seseorang. Apalagi jika perempuan yang dicintainya itu adalah muridnya sendiri, Hyuuga Hinata.

Mungkin benar kata orang kalau cinta benar-benar bisa merubah seorang pria. Sekarang baru jounin tersebut mengerti alasannya. Kenapa sahabatnya dulu begitu tergila-gila pada Rin dan berani melanggar semua peraturan ninja demi menyelamatkan nyawa gadis yang disukainya itu.

"Hinata…" Kakashi menggumam lirih.

Di matanya ia bisa melihat wajah tersenyum dari gadis tersebut. Sosok yang sekarang mendiami hati dan pikirannya. Cinta pertama sekaligus terakhirnya. "Hinata…" Dipanggilnya sekali lagi nama gadis itu, sebelum dirinya jatuh tertidur. Memimpikan Hinata-nya.

0-0-0-0

Hinata lagi-lagi bermimpi. Berada di sebuah taman yang indah dengan bunga-bunga bermekaran. Tempat dimana dirinya akan bertemu kembali dengan sosok pria yang dicintainya. Takdirnya, sesuai ramalan yang dikatakan oleh ibunya. Belahan jiwanya nanti di dunia akan bisa ia temui di dalam alam mimpi. Dan Hinata percaya itu.

Di ujung sana, ia melihat bayangan seorang pria yang tidak asing lagi. Senyum Hinata mengembang mendapati pria tersebut tidak lain adalah Kuro-sensei.

"Kuro-sensei!" seru Hinata dari jauh.

Pria tampan itu berhenti melangkah. Namun bukannya berbalik dan menyapa HInata, pria tersebut justru kembali berjalan. Menjauh dari tempat Hinata berdiri.

"T-tunggu dulu!" Hinata yang terkejut dengan respon dari senseinya itu kemudian berteriak memanggil. Setengah berlari, gadis Hyuuga itu mencoba mengejar pria yang dicintainya itu dari belakang. Saat itulah ketika Hinata hampir berhasil meraihnya, sosok sensei iblisnya itu tiba-tiba menghilang. Dan kini berganti dengan kemunculan seorang pria bersurai perak.

"Hinata…." Panggil seseorang dari belakang.

Hinata menghentikan langkahnya. Ia pun berbalik. Tampak di depannya bayangan seorang pria yang sangat dikenalnya. Bersurai putih keperakan dengan mata kiri sharingan.

"K-kakashi-sensei?" seru Hinata kaget.

Ke-kenapa ketua barunya itu ada disini?

Jounin tersebut berjalan mendekati Hinata. Mereka berdua kemudian berdiri saling berhadap-hadapan. Tiba-tiba Kakashi menyerahkan seikat bunga padanya.

"Aku mencintaimu, Hinata." Bisik Kakashi lembut. "Aku sangat mencintaimu. Lebih dari siapapun di dunia ini. Kuharap kau tahu itu."

Gadis itu terkesima. Jantungnya berdetak semakin cepat. Angin kencang berhembus menerbangkan sebagian dari rambutnya.

Saat itulah HInata terbangun. Matanya terbuka lebar. Gadis itu masih terlihat syok. Kenapa? Kenapa di mimpi yang dikatakan oleh ibunya, sosok Kakashi-lah yang muncul? Menggantikan Kuro-sensei di mimpinya yang sebelumnya? Apa maksudnya itu?

Tiba-tiba saja Hinata mengingat pernyataan cinta Kakashi padanya diatas atap.

"Aku mencintaimu, Hinata. Bukan sebagai guru dan murid. Juga bukan sebagai ketua dengan anak buah yang dipimpinnya. Melainkan sebagai pria kepada wanita. Aku menyukaimu."

BLUSH

Wajah Hinata langsung memerah. Kedua pipinya sontak berubah warna menyerupai kepiting rebus. Kemarin Naruto dan sekarang Kakashi yang menyatakan perasaannya? Kenapa banyak sekali orang yang menyatakan cintanya pada Hinata? Terlebih lagi jounin tersebut juga sempat menciumnya tadi. Bukan hanya itu, sekarang ia bahkan datang ke mimpinya juga? Apa itu berarti Kakashi adalah pria yang dimaksudkan ibunya sebagai belahan jiwa Hinata? Benarkah itu? Sampai sekarang gadis itu masih terlihat tidak percaya.

"Apa itu berarti selama ini aku diam-diam mencintai Kakashi-sensei?"

Sekilas ia mengingat kenangan dirinya bersama dengan Kakashi-sensei. Masa lalunya bersama dengan Anbu-san. Hari-harinya yang dilalui bersama jounin tersebut dan juga perasaan nyamannya pada pria bermasker itu, setiap kali Hinata berbicara kepadanya. Juga ketika pria tersebut tidur di pangkuannya dan memeluknya erat.

Namun debaran di jantungnya itu berhenti ketika ia terbayang wajah sedih dari senseinya, Kuro.

Gadis itu mengepalkan jemarinya kemudian menggeleng cepat.

"Tidak, ini tidak boleh. Apapun perasaanku pada Kakashi-sensei. Aku tidak mungkin membalasnya. Aku mencintai Kuro-sensei. Aku sudah berjanji padanya untuk menunggunya. Kuro-sensei percaya padaku. Aku tidak boleh mengkhianati kepercayaannya itu." Gadis itu kemudian bangkit dari tempat tidurnya.

"A-aku akan menolaknya. Aku tidak bisa menerima cinta dari Kakashi-sensei. Aku harus memberitahunya sekarang."

Namun baru sebentar keluar dari kamar, Hinata berhenti melangkah. Gadis itu tampak ragu-ragu. Ia khawatir apa yang akan terjadi pada senseinya itu jika dia menolaknya. Karena Hinata tahu, keadaan jounin tersebut sangatlah berbeda dengan Naruto.

Jika Naruto memiliki Sakura di sisinya, hal itu berbanding terbalik dengan Kakashi. Pria tersebut tidak memiliki siapapun lagi di sisinya. Orang-orang yang dicintainya sudah lama mati. Karena kehadiran gadis itu lah, Kakashi sekarang berubah dan memiliki semangat hidup.

Apa yang akan terjadi padanya, jika ia menolaknya? Gadis itu takut, Kakashi akan kecewa padanya dan kembali jatuh ke lubang gelap yang dulu.

"A-apa yang harus kulakukan?" tanya gadis itu sedih.

Ditengah kebimbangannya itulah muncul bayangan seorang wanita berpakaian gelap berbisik ke telinganya. Sosok yang diketahuinya sebagai Kagutsuki.

'Apa yang kau takutkan sayang? Kenapa kau bersedih?'

"Aku tidak ingin Kakashi-sensei sedih dan kecewa padaku."

'Kau kasihan padanya'?

Gadis itu tidak menjawab. Aura di sekitar keduanya seketika menggelap.

'Pria itu benar-benar mencintaimu Hinata. Dan kau berniat menghancurkan harapannya itu? Kau tahu kalau dia tidak memiliki siapapun lagi di hidupnya? Semua orang yang dicintainya sudah mati. Satu-satunya harapannya untuk hidup sekarang adalah dirimu.'

"A-aku tahu itu. Karena itulah aku merasa ragu-ragu sekarang. Aku tidak ingin Kakashi-sensei terluka lagi. Aku tidak ingin 'Anbu-san sedih'. Aku tidak ingin melihatnya menderita lagi. Apa yang harus kulakukan?" Tanya gadis itu bingung.

'Kalau begitu mudah saja, jangan menolaknya'.

"A-apa?"

'Terima dia.'

Bola mata Hinata membulat lebar. "A-apa katamu?"

'Terimalah perasaan cinta dari seorang Hatake Kakashi. Pria itu benar-benar mencintaimu dengan tulus dan sepenuh hati. Ia akan melindungimu dari semua marabahaya. Tidak hanya itu dia juga setia dan tidak akan pernah mengkhianatimu dengan orang lain.'

Gadis itu terlihat syok. Pandangannya tertunduk, menggigit bibir bawahnya, gadis indigo itu kemudian bergumam. "Tidak, aku tidak bisa menerimanya."

'Kenapa tidak bisa?'

"Karena sekarang di hatiku aku hanya mencintai Kuro-sensei. Apapun yang kau katakan, aku tidak bisa menerima siapapun selain Kuro-sensei. Aku sudah berjanji untuk menunggunya sampai dia kembali."

'Kau bilang cinta? Jangan membuatku tertawa. Apa kau tahu siapa itu Kuro?'

"Aku sudah tahu siapa dia, sensei sendiri yang menceritakan masa lalunya padaku. Apapun pendapat burukmu tentangnya aku tidak akan percaya." Hinata berkata dalam hati.

'Kalau begitu katakan Hinata, apa iblis itu pernah menyatakan cintanya padamu'

Langkah Hinata kembali tertahan mendengar pertanyaan dari wanita misterius itu. Gadis itu terkejut mendengarnya. Wanita yang diketahui merupakan sisi lain dari Hinata itu menyeringai, iris bulannya tampak bersinar. Menunggu jawaban dari gadis dari klan Hyuuga tersebut.

Apakah Kuro-sensei pernah menyatakan cinta padanya?

Tidak, tidak pernah.

Kuro-sensei tidak pernah mengatakan cinta padanya satu kalipun. Tanpa sadar, Hinata menggigit bibirnya.

'Kalau begitu darimana kau yakin kalau iblis itu benar-benar mencintaimu? Sementara tak pernah sekalipun makhluk itu menyatakan perasaannya padamu?'

Gadis Hyuuga itu lagi-lagi terdiam. Tangannya mengepal. Sekilas ia terbayang akan ciumannya dengan Kuro-sensei.

'Hahahaha! Kau benar-benar polos dan juga naif sayang. Kau pikir hanya karena ciuman itu artinya orang itu mencintaimu? Tidak sayang, bagi laki-laki ciuman itu tidak lebih dari sekedar menyalurkan hasrat dan nafsu birahi. Tidak terkecuali dengan iblis itu. Kau terlalu gampang dihasut oleh kata-katanya. Apa kau lupa siapa orang itu? Dia adalah iblis dari Yomi. Kuro Karasu. Iblis jahat dan juga kejam yang sudah membantai ratusan hingga ribuan orang. Ingat perbuatan buruk apa yang sudah ia lakukan padamu selama ini.'

"Hentikan…."

'Dia menyuruhmu menunggu, tapi tidak pernah sekalipun ia memberitahumu tujuannya. Bahkan terakhir ia hanya meninggalkanmu surat, tanpa berpamitan secara langsung padamu. Pada akhirnya kau hanya akan ditinggal sendiri."

"Sudah cukup…"

'Kau hanya dimanfaatkan olehnya. Kau diperalat. Dia tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Baginya kau tidak lebih hanya sekedar mainan, alat yang bisa digunakan untuk menghibur dirinya yang bosan.'

"Tolong berhenti…." Air mata Hinata semakin mengalir. Dadanya terasa sesak.

'Sadarlah Hinata! Buka matamu! Dia itu sudah membohongimu! Sejak awal dia adalah musuhmu! Dia berniat mempermainkanmu!'

"Kuro-sensei bukan musuh."

'Darimana kau tahu? Bagaimana jika iblis itu ternyata benar bersekongkol dengan Madara Uchiha. Apa yang akan kau lakukan?'

"Aku….".

'Kau ingin mengkhianati teman-teman dan juga rekanmu? Hanya gara-gara iblis itu? Bagaimana dengan pesan terakhir dari ibumu?'

"HENTIKAN!."

Gadis itu tidak bisa menghentikan isakannya. "Kumohon jangan bicara lagi." Hinata semakin tertekan. Ia jatuh terduduk berusaha menutup kedua telinganya.

"Hinata-san?"

Bayangan wanita itu seketika menghilang berganti dengan kehadiran sesosok pemuda tampan bersurai rambut merah. "Ga-gaara-san?" Hinata mencoba menahan isakannya. Didepannya berdiri seorang Kazekage Suna, sosok teman masa kecilnya yang telah ia lupakan.

Sabaku Gaara.

.

.

Lightning Chrome Present

~Darker Than Night~

Rate : T

Genre : Angst, Romance, Hurt-Comfort, etc

Warning : Semi Canon, Reverse Harem, abal, typo dll

Character : Sasuke, Hinata, Kuro (OOC), Gaara, Kakashi, Naruto

Dedicated For Hinata Centric

.

.

Chapter 24 : Sleep With Me

(-)

Gaara berbaring di kasurnya. Matanya masih belum mau terpejam. Meskipun ichibi sudah diambil dari tubuhnya namun pada kenyataannya Gaara masih kesulitan untuk tidur. Penyakit insomnia akutnya masih tetap tidak mau hilang.

Semua cara sudah ia lakukan agar bisa tertidur. Seperti mandi air panas, menghitung domba, minum susu hangat, teh hijau dengan madu dan lain sebagainya. Bahkan sampai cara terekstrim dengan memukul sang Kazekage sampai pingsan pun tidak juga berhasil. Yang ada justru Kankurou duluan yang tumbang karena jurus pasir milik Sabaku no Gaara.

Menghela nafas panjang, Kazekage muda dari Suna itu memutuskan untuk keluar dari kamarnya demi mencari udara segar. Semenjak menjadi Kazekage, Gaara memutuskan untuk tinggal di gedung tempat kantornya itu. Alasan pertama yaitu agar lebih menyelesaikan pekerjaan. Dan kedua, untuk menghemat waktu dan tenaga karena tidak harus pulang pergi ke kantor.

Keputusannya itu tidaklah mustahil mengingat bangunan milik Kage Suna tersebut begitu besar dan luas. Memiliki lima buah kamar sekaligus toilet di masing-masing lantai. Dengan total keseluruhan enam lantai. Kamar Gaara berada satu lantai dibawah ruang kerjanya itu berada. Sementara Kankurou dan Temari tetap berada di rumah mereka yang dulu. Khusus para tamu dari desa lain yang menginap dipersilakan meminjam kamar kosong di lantai bawah.

Gaara menghentikan langkahnya ketika mendapati bayangan seseorang yang tidak asing tengah berdiri seorang diri di lantai kedua. Seorang perempuan bersurai panjang. Dengan simbol Konoha di lehernya.

"Hinata-san?" Tanya Gaara terkejut.

Gadis tersebut sontak menengok. "Ga-Gaara-san?" serunya kaget. "Ke-kenapa kau ada disini?"

"Aku keluar untuk mencari udara segar." jelasnya datar. "Kau sendiri kenapa ada disini?"

"A-aku ingin ke kamar Kakashi-sensei." Jawabnya jujur sambil menunduk. Menyembunyikan raut wajahnya yang sedih.

"Kakashi?" Gaara mengernyitkan dahinya. "Malam-malam begini?"

BLUSH

Wajah Hinata memerah. Ia baru ingat jam berapa sekarang. Sudah lewat tengah malam, dan ia mengatakan ingin berkunjung ke tempat gurunya yang seorang pria di jam seperti ini? Gadis itu membatu di tempat. Sungguh, dia benar-benar telah mengucapkan sesuatu yang salah dan bisa mengundang kontroversi! Tidak ingin pemuda di depannya ini sampai salah paham dan menilainya macam-macam dengan Kakashi, gadis itu buru-buru menjelaskan.

"A-ano itu tidak seperti yang kau bayangkan, Gaara-san. Su-sungguh! A-aku hanya ada perlu dengan Kakashi-sensei. Percayalah." Jelas Hinata gugup. Keringatnya mulai mengucur. Dalam hati ia merasa begitu malu. Bisa-bisanya dia tanpa pikir panjang ingin menemui seorang pria di kamarnya jam dua dini hari. Jika orang lain yang melihat, apa yang akan nanti mereka pikirkan soal HInata? Membayangkannya saja sudah menakutkan. Lalu Gaara? Bagaimana dengan dia? Dia tidak akan berpikir macam-macam mengenainya kan? Dengan takut-takut Hinata melirik kea rah Gaara.

Pemuda itu masih diam dan tidak menjawab. Bukannya curiga, pemuda bertampang datar itu justru terpaku pada wajah gadis itu. "Kau menangis?" Tanya Gaara khawatir. Dengan lembut ia mengusap air mata yang turun dari sudut mata sang Hyuuga.

"Eh?" Hinata tertegun. Mendapati perlakuan lembut dari Kazekage itu.

Ia bahkan tidak sadar pipinya dari tadi basah karena air mata.

"Kenapa setiap kali bertemu denganku kau selalu menangis?" Tanya Gaara dengan nada sedih.

"A-ano tadi ada debu yang masuk ke mataku. Jadi-" Gaara mengernyitkan dahinya. "Ma-maaf maksudku -bukan debu dari pasir milik anda. Ta-tapi-"

Gaara menaikkan senyumnya. "Sudahlah. Anggap saja aku tidak melihat apa-apa."

"Gaara-san."

Gadis itu tertunduk malu. "Ba-baik. Terima kasih."

"Kau tidak kesana?" Tanya Gaara lagi.

"Eh, ke-kemana?"

"Katamu, kau ingin bertemu dengan Kakashi." Ujar Gaara datar. Masih tidak peka dengan situasinya.

Wajah Hinata kembali merona. "Ti-tidak jadi. Se-seperti katamu, sekarang sudah malam. A-aku akan menemuinya besok pagi saja. Se-selamat malam, Gaara-san." Gadis itu buru-buru pamit.

"Tunggu." Gaara menahan pergelangan tangan Hinata.

"I-iya ada apa Gaara-san?" Tanya gadis itu bingung.

Wajah Gaara sedikit memerah. "Aku sebenarnya malu untuk mengatakannya. Tapi bisakah kau membantuku?"

Hinata menaikkan alisnya. "Tentu, membantu apa?"

JIka bisa, tentu ia akan dengan senang hati menolong Gaara.

Pemuda itu mengusap wajahnya. Ia terlihat kikuk. Sementara di sisi lain, Hinata tampak kebingungan melihat tingkah laku tidak biasa dari Gaara. Sebenarnya apa yang ingin Kazekage itu katakan?

"Hinata, bisakah kau tidur denganku malam ini?" tembak Gaara langsung.

BLUSH

Wajah Hinata kembali memerah. Ia hampir saja pingsan jika saja tidak ditahan oleh Gaara. "Hinata-san. Kau baik-baik saja?" Pemimpin dari Suna itu terlihat panik. "Hinata-san?"

"Ka-kazekage-sama…." Gadis itu terlihat semakin gugup. Ia berusaha menjauh, menjaga jarak dari Gaara. Wajahnya terlihat begitu merah. Entah karena kebiasaan atau apa, gadis itu memilih bersembunyi di belakang tembok.

Tidur dengan Gaara? Yang benar saja? Kenapa ia harus tidur dengan pemuda tersebut yang bukan suami atau kekasihnya? Orang lain bisa salah paham dan memanggilnya dengan sebutan jalang.

"Maaf…" gumam Gaara pada akhirnya. "Ini semua karena aku mengalami penyakit insomnia akut."

"I-insomnia akut?" Hinata terbelalak.

Gaara mengangguk. "Ya, karena itulah aku ingin meminta bantuanmu."

0-0-0-0

"Jadi Gaara-san, selama ini selalu kesulitan untuk tidur?" Tanya Hinata lagi yang langsung disambut dengan anggukan pelan dari Kazekage Suna. Saat ini keduanya tengah berada di atap gedung. Pemuda bertato 'Ai' itu memutuskan untuk bercerita.

"Itu semua terjadi karena bijuu yang ada dalam diriku. Semenjak kecil, di badanku terus didiami oleh Shukaku. Bijuu ekor satu itu tidak pernah membiarkanku tidur dengan tenang. Dia selalu mencari kesempatan untuk mengambil alih tubuhku. Membunuh, dan juga merusak. Hal itulah yang selalu ia lakukan selama ini ketika aku tidak sengaja tidur. Sampai-sampai para penduduk yang melihatku merasa takut untuk berpapasan. Aku memberitahu ayahku dan beliau sangat marah. Sejak itu aku selalu merasa takut untuk tidur."

"Gaara-san…" Hinata merasa iba.

Jadi itu alasannya kenapa kantung mata pemuda itu sangat tebal dan hitam? Karena Gaara mengalami insomnia dan phobia untuk tidur sedari kecil?

"Ta-tapi kan Shukaku sudah lepas dari tubuhmu. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi bukan?" Hinata berusaha menghibur.

Gaara tersenyum sedih. "Ya, seharusnya begitu. Tapi kenyataannya lain. Tubuhku seolah memiliki pikirannya sendiri. Aku berusaha untuk memejamkan mata, namun hasilnya tetap sama. Aku tidak bisa tidur. Berbagai cara sudah kulakukan untuk mengatasi insomniaku, tapi hasilnya nihil. Aku terus saja terjaga. Selama ini aku bisa bertahan dari ramuan yang dibuatkan oleh Nenek Chiyo. Tapi semenjak beliau meninggal, tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Kondisi fisikku terus saja menurun karenanya. JIka dibiarkan lebih lama aku mungkin akan mengalami kematian mendadak."

Hinata terkejut mendengatnya.

Bagaimanapun masalah ini bukanlah sesuatu yang ringan.

"A-apa kau sudah pernah mencoba cara lain? Misalnya dengan minum susu, atau teh hijau? Mandi dengan air hangat atau berbaring sambil menghitung domba di kepala?" Gadis itu mencoba memberikan saran.

"Sudah, tapi semua tetap tidak berhasil. Bahkan dengan cara menghajarkupun itu tidak mempan."

"A-apa ? Menghajarmu?" Hinata medelikkan matanya.

"Ya, itu adalah ide dari Kankurou. Dia sampai mengumpulkan para jounin terbaik Suna dengan niat untuk menyerangku. Dia pikir, asalkan aku pingsan hal itu akan membantu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Pasirku secara otomatis menyerang mereka semua hingga terluka. Baki-sensei yang mengetahuinya, justru balik memarahi Kankurou. 'Berani sekali kalian menyerang tuan Kazekage, apa kalian mau dicap sebagai pengkhianat?' begitu katanya. Semenjak saat itu muncul peraturan baru yang melarang hal-hal berbau kekerasan padaku selaku Kazekage." Jelas Gaara gusar.

"Ka-kalau begitu kenapa kau tidak mencoba menemui Tsunade-sama? Beliau kan ahli pengobatan. Aku yakin Godaime-sama mampu mengobatimu."

Gaara kini menengok kearah Hinata. "Aku sudah pernah menemuinya. Saat itu, hari dimana aku tidak sengaja berpapasan denganmu di jalan Konoha." Jawaban dari Gaara langsung membuat Hinata ingat akan semuanya.

Ya, saat itu ia tanpa sengaja menabrak seseorang di jalan. Menengadah ke atas barulah ia tahu, kalau laki-laki yang ditabraknya itu adalah Kazekage Suna. Saat itu Gaara bertanya padanya, apa Hinata masih mengingatnya. Hinata kembali menunduk. Merasa kecewa dengan dirinya sendiri.

Bahkan sampai saat ini dia masih belum bisa mengingat masa lalunya dengan Gaara. Dia hanya tahu kalau dirinya pernah bertemu dengan Gaara di Suna. Mereka berteman dari kecil. Dan ia memberikan Gaara hadiah perpisahan yaitu sebuah boneka. Benda kesayangannya yang diterimanya dari almarhumah ibunya yang sudah meninggal sebagai kado ulang tahun yang ketiga.

"Ma-maafkan aku." Bisik Hinata pelan.

Pemuda itu memandang gadis itu heran. "Kenapa kau minta maaf?"

"Ka-karena sampai saat ini aku masih belum bisa mengingatnya. Masa laluku denganmu, Gaara." Gadis itu menundukkan wajahnya. Gaara yang melihatnya meraih wajah HInata, memaksa gadis itu untuk melihat pada matanya.

"Bukankah sudah kukatakan kalau kau tidak perlu minta maaf? Saat ini yang terpenting adalah kita berdua sudah bertemu." Gaara memberikan senyum langkanya. Ia pun meneruskan.

"Saat itu aku membuat janji untuk bertemu dengan Hokage secara langsung untuk menceritakan masalah insomniaku. Hokage kelima kemudian membantuku dengan ninjutsu medisnya dan meracikkanku obat ramuan. Namun sayangnya tidak berefek apa-apa. Beliau kemudian berasumsi kalau hal itu terjadi karena pengaruh yang kuat dari obat yang biasa aku konsumsi, menimbulkan imun tubuh yang memicu reaksi penolakan khusus untuk obat-obatan lainnya. Satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah Hokage Kelima harus tahu komposisi racikan dari ramuan Nenek Chiyo yang biasa ia berikan padaku."

"Lalu kau menemukannya?"

"Sayangnya tidak, nenek Chiyo tidak pernah mau menuliskan apapun mengenai ilmu pengetahuan yang dimilikinya ke dalam gulungan atau kertas. Beliau menyimpannya untuk dirinya sendiri."

Hinata meneguk ludah. Sungguh nenek yang benar-benar egois. Tidak mau membagi ilmunya pada kaum yang lebih muda.

"Tapi aku tidak akan pernah bisa menyalahkan Nenek Chiyo. Karena bagaimanapun sekarang aku masih bisa hidup semua karena jasanya. Nenek Chiyo mengorbankan nyawanya untuk bisa menyelamatkanku."

"Gaara-san…"

Pemuda tersebut berbisik lirih. "Karena itulah, aku tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanannya itu. Aku ingin segera sembuh dan kembali menjalani hidup yang normal bersama semuanya."

Hinata terdiam membisu mendengar keingin sederhana dari Gaara. Bahkan Godaime-sama pun tidak bisa mengobati insomnia Gaara. Lalu apa yang bisa ia lakukan? Tiba-tiba saja, Hinata teringat dengan permintaan aneh dari Gaara itu untuk tidur dengannya. Mengingatnya saja membuat wajah Hinata merona hebat.

"Ga-gaara-san. La-lalu kenapa kau minta aku untuk ti-tidur denganmu? Memangnya apa yang bisa berubah dari itu?" Tanya Hinata canggung.

Gaara kini menatap tajam gadis itu. Tanpa sadar Hinata meneguk ludah. Berada di bawah tatapan tersebut membuatnya merasa gugup.

"Itu karena Hokage Kelima sempat memberitahukan padaku sesuatu. Dia bilang kemungkinan besar insomniaku terjadi karena pengaruh dari alam bawah sadar. Trauma dan ketakutan yang kualami semenjak kecil itulah yang memancing tubuhku menjadi tidak normal seperti sekarang. Makanya selama trauma psikis itu masih aku alami, meskipun sudah berpisah dengan ichibi. Penyakit insomniaku masih belum dapat sembuh." Pemuda tersebut memaparkan.

Ia kemudian teringat kembali dengan percakapannya dengan Hokage beberapa bulan yang lalu..

Flash Back

"Jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Gaara bingung.

Tsunade menumpukan tangannya dibawah dagu. "Satu-satunya cara yang bisa kau lakukan sekarang adalah dengan mengatasi traumamu lebih dulu. Aku tidak bisa mengatakan caranya secara rinci. Karena masing-masing orang memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi phobianya. Seperti aku yang dulu takut darah, kau juga atasilah rasa takutmu dengan caramu sendiri. Satu-satunya hal yang bisa kukatakan untuk membantu menyembuhkan traumamu itu adalah dengan bantuan dirimu sendiri dan juga orang kau cintai."

Gaara mengerutkan dahinya bingung. "Orang yang kucintai?"

"Ya, orang yang kau cintai. Seperti arti dari tato 'ai' di keningmu. Jangan bilang kau tidak mengerti?"

"…" Gaara diam tanpa ekspresi.

Tapi dari gerak gerik dan raut wajahnya, Tsunade tahu kalau pemuda tersebut belum pernah jatuh cinta atau paham apa itu cinta. Ya ampun, kalau benar tidak mengerti kenapa bocah itu sampai menuliskan kata cinta di dahinya? Membuat orang pusing saja!

Tsunade berdeham berusaha menjaga wibawanya. Meskipun di matanya Gaara adalah bocah, seusia dengan Naruto. Tapi posisinya sekarang adalah sebagai Kazekage Suna, setara dengannya yang Hokage Konoha. Wanita tersebut tidak boleh memandangnya remeh hanya karena perbedaan usia. Bagaimanapun nasib aliansi kedua negara itu ada di tangannya. Sebisa mungkin Tsunade harus siap membantu Gaara kapapun ia membutuhkan bantuan. Meski hal sepele seperti sekarang.

"Jadi, apa kau sudah memiliki seseorang di pikiranmu?" Lagi-lagi Gaara tidak menjawab.

Wanita itu menghela nafas frustasi, ia kemudian bertanya kembali. "Katakan Gaara apa kau pernah jatuh cinta?"

Sekarang wajah Gaara tampak semakin bingung. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak." Jawabnya. "Aku tidak begitu mengerti mengenai hal yang berbau emosi atau perasaan. Tato didahiku aku dapat dari pengasuhku yang telah lama meninggal dunia. Semua itu murni karena kebencian. Sejatinya aku tidak tahu apa-apa soal cinta."

Tsunade mengerutkan alis, meskipun ia tidak tahu kisah yang dialami oleh Gaara tapi setidaknya wanita itu mengerti kalau bocah itu mirip dengan Naruto dan Sasuke. Memiliki masa lalu yang pahit. "Jadi, kau tidak pernah tertarik pada siapapun?"

"Tertarik?"

"Ya, misalnya kau begitu senang jika berada disamping orang itu. Ketika tidak bertemu kau selalu merindukannya. Kau selalu menantikan kapan bisa bertemu dengannya. Berada disekitarnya membuat jantungmu berdebar-debar." Tsunade berkata pada Gaara, tapi pikirannya justru dipenuhi dengan Dan. Mantan kekasihnya yang telah lama meninggal dunia.

"Kalau itu aku punya."

Wanita itu mendelik lebar. Apa yang tadi bocah itu katakan? Dia tertarik pada seseorang?

Menengok pada Gaara, Tsunade mendapati wajah sang Kazekage muda yang tengah tersenyum. Untuk sesaat Tsunade membeku melihatnya. Bocah yang biasanya minim ekspresi itu kini tersenyum? Sungguh mencengangkan! Wanita keturunan Senju itu jadi penasaran, siapa orang yang bisa menarik perhatian dari sang Kazekage muda ini.

Gaara membuka suaranya, "Dulu aku memiliki seorang teman. Gadis kecil yang begitu manis dan juga baik hati. Meskipun dalam tubuhku ada monster, dia tidak pernah mempermasalahkannya. Tapi persahabatan kami tidak berlangsung lama. Semenjak dia pindah, kami tidak pernah lagi berkomunikasi. Meskipun begitu aku terus merindukannya. Dan berharap kelak bisa bertemu dengannya."

"Lalu sekarang apa kalian berdua sudah bertemu?" Tanyanya penasaran.

"Ya," Wanita itu sedikit terkejut mendengar jawaban dari Gaara. Dia pikir sampai sekarang bocah itu belum bertemu dengan cinta pertamanya itu. Tapi rupanya tidak. "Jadi bagaimana setelah kalian bertemu, apa yang terjadi?"

"Dia tidak mengenaliku." Jawab Gaara dengan raut wajah sedih.

Bagi Tsunade yang berpengalaman, wanita itu pasti langsung menyimpulkan kalau bocah di depannya ini tengah patah hati.

'Dasar, bisa-bisanya dia bilang belum pernah jatuh cinta! Padahal kenyataannya bocah itu sendirilah yang tidak peka!' Tsunade diam-diam berkomentar dalam hati. Namun sayangnya, tidak bisa ia luapkan.

"Gaara." Wanita itu menambahkan. "Sepertinya kau memiliki perasaan pada gadis itu. Lebih tepatnya kukatakan, kemungkinan besar dia adalah cinta pertamamu."

Pemuda dari Suna itu membulatkan matanya. "Cinta pertamaku?"

"Ya, buktinya kau selalu merindukan gadis tersebut sampai sekarang. Ketika membicarakannya kau menampilkan ekspresi lembut. Bahkan tersenyum. Kau selalu berharap untuk bertemu dengannya. Dan sekarang kau menampilkan wajah sedih seolah patah hati karena gadis itu tidak lagi mengenalimu. Apa aku salah?"

Gaara mengepalkan jemarinya. Tidak, perkataan Hokage di depannya itu tidak ada yang salah. Mungkin, ya mungkin Gaara benar-benar menyukai Hinata. Karena itulah ia merasa sedih karena dilupakan oleh gadis tersebut. "Lalu apa yang bisa kulakukan sekarang?" tanyanya lagi pada Tsunade menuntut jawaban.

"Untuk pertama-tama cobalah menyelesaikan masalahmu sendiri dulu. Jika tidak berhasil mintalah bantuan pada Temari atau Kankurou, terakhir kalau benar-benar sudah buntu barulah kau minta tolong pada gadis itu." Wanita tersebut menjelaskan. "Sekarang semuanya tergantung padamu, Gaara."

"….."

"Kau harus ingat ini, Gaara. Kau hanya memiliki waktu maksimal 6 bulan untuk bertahan tanpa tidur sedikitpun. Dalam waktu tersebut kau harus menemukan cara untuk mengatasi insomnia akutmu. Aku hanya bisa membantumu sampai sini saja, selebihnya kau pikirkan sendiri bagaimana caranya." Wanita tersebut kemudian meraih dokumen yang ada di depannya.

"Aku tidak bermaksud untuk mengusirmu. Tapi aku sedang sibuk sekarang. Kau lihat kan banyak sekali berkas yang menumpuk di mejaku? Kalau tidak ada urusan lagi kau silakan pergi, pintu keluarnya ada disebelah sana." Tsunade tersenyum tapi dari nada bicaranya justru berkata hal yang sebaliknya. Mengusir Gaara secara terang-terangan.

Untungnya, Kazekage di depannya bukanlah orang yang peka dan gampang sakit hati. JIka orang itu sensitif seperti Raikage bisa dipastikan kantor miliknya akan hancur karena pukulan brutal dari laki-laki tersebut yang menganggapnya kurang ajar karena telah berani mengusir Kage sepertinya.

Gaara bangkit dari kursinya. Sebelum pergi ia mengucapkan terima kasih pada Hokage didepannya

"Tidak perlu sungkan. Kalau ada masalah lagi jangan ragu untuk memanggilku." Gaara menganggukkan kepalanya, bersiap untuk pergi. "Oh ya, ngomong-ngomong kau belum memberitahuku siapa nama gadis yang beruntung itu?" Tanya Tsunade dari balik kertas.

"Hyuuga Hinata." Jawab Kazekage datar sebelum akhirnya menutup pintu.

Wanita Senju itu masih tersenyum. "Oh, jadi namanya Hyuuga Hina-"

Hokage kelima seketika mendelik. "A-APAAAAA?!"

Terdengar suara jeritan melengking disekitaran gedung kantor Hokage.

End of Flash Back

Gaara menutup ceritanya. Wajahnya masih terlihat datar mekipun lelaki tampan itu baru saja menceritakan dengan jelas bahwa 'Hyuuga Hinata' adalah cinta pertamanya. Ternyata benar apa yang dipikirkan oleh Hokage Kelima itu kalau pemimpin baru dari Suna benar-benar tipe lelaki yang tidak peka dengan sekelilingnya.

Lihat saja wajah gadis di depannya yang kini semakin memerah menyerupai kepiting rebus karena pengakuan mendadak dari sang Kazekage Suna. Bukannya paham akan situasinya dan merasa gugup, pemuda itu justru terlihat bingung melihat kondisi Hinata.

"Hinata-san, kau baik-baik saja? Apa kau sedang demam?" Tanya Gaara khawatir melihat wajah merah merona dari gadis tersebut. Tangannya ia tempelkan pada dahi sang heiress. Hinata yang terkejut sontak mundur kebelakang;

"Ti-tidak aku baik-baik saja."jawabnya malu.

Dalam hati ia merasa sangat gugup sekaligus canggung berdiri berdua dengan Gaara sekarang. Salahkan pemuda itu yang tidak peka dan kelewat jujur, menceritakan pengalamannya di kantor Hokage tanpa ada satupun yang ditutupi. Sekarang di otaknya terus terbayang-bayang kalimat dari Tsunade yang mengatakan dirinya sebagai cinta pertama Gaara.

"A-ano Gaara-san. Se-setelah dari kantor Hokage lalu bagaimana? Apa kau menemukan suatu cara?"

Gaara berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Ya, seperti kata Hokage aku mulai mencoba mencari jalan keluarnya sendiri. Tapi berkali-kali aku mencobanya tetap saja gagal. Aku masih kesulitan untuk tidur. Akhirnya aku meminta bantuan Temari dan juga Kankurou. Mereka berdua setuju untuk tidur bersamaku. Kami kemudian memutuskan untuk tidur bertiga. Tapi tidak sampai sepuluh menit, aku terjaga kembali."

"Ke-kenapa?" tanya Hinata tidak habis pikir. "Bukankah mereka adalah saudaramu? Kau seharusnya lebih tenang jika tidur bersama mereka."

Gaara mengutarakan alasannya. "Karena mereka tidur mendengkur." Jawabnya blak-blakan masih dengan ekspresi datar. "Selain itu mereka berdua suka sekali menendangku jatuh ketika sedang tidur. Hampir saja pasirku menyerang mereka berdua gara-gara itu."

Hinata sweatdrop mendengarnya. Kalau itu alasannya, jangankan Gaara yang mendengar bahkan Hinata sendiri tidak akan bisa tidur semalaman. Gadis itu menarik nafasnya, sekarang ia baru mengerti maksud tujuan Gaara. Juga alasan diutusnya tim delapan yang berisikan Hinata ke Suna. Semuanya mungkin demi menolong Gara.

"Gaara-san, bolehkan kau jelaskan padaku apa isi dari gulungan itu? Benarkah itu gulungan yang penting atau sebenarnya misi ini hanya tipuan saja dari Hokage-sama agar aku bisa kemari?" Gadis itu menebak. Gaara yang mendengarnya sedikit terkejut, namun raut wajahnya kembali datar. "Bukan." Jawabnya cepat jauh dari dugaan yang dilontarkan oleh Hinata.

"Kedatangan kalian kemari memang murni adalah misi."

"…"

Pemimpin dari Suna itu menjelaskan. "Aku tidak bisa memberitahumu apa isi dari gulungan tersebut. Karena ini sangat RAHASIA. Sebagai ninja kau seharusnya tahu soal itu, Hinata-san." Gadis itu menundukkan kepalanya, terlihat malu. Meski sesaat ia benar-benar lupa tentang pedoman hidup seorang ninja. Tidak boleh mencampuradukkan masalah pribadi dan pekerjaan.

Gaara melanjutkan. "Aku hanya bisa memberitahumu kalau gulungan ini membahas strategi perang dari masing-masing negara. Selebihnya aku bahkan tidak tahu kalau Hokage Kelima sampai mengutusmu kemari." Aku Gaara jujur. Ya, dia benar-benar kaget melihat teman kecilnya itu datang ke Suna. Untuk sesaat jantung Gaara seakan berhenti berdetak. Seakan tidak percaya.

HInata kini mengangkat wajahnya. Iris bulannya bertemu dengan iris hijau emerald milik Gaara. Keduanya kini berdiri saling bertatap-tatapan. Malam itu di Suna, suhu udaranya terasa begitu dingin. Angin bertiup dengan begitu kencangnya. Demi menghangatkan tubuhnya yang menggigil, Hinata sesekali menggosokkan kedua tangannya. Rupa-rupanya tindakannya itu tidak luput juga dari mata sang Kazekage Suna.

Pemuda bersurai merah itu melepaskan jubah Kazekage miliknya dan memakaikannya pada Hinata. "A-aku tidak apa-apa, Gaara-san. Kau tidak perlu repot-repot meminjamkannya padaku." Tolak gadis itu halus. Ia merasa tidak enak memakai pakaian Gaara sementara sang empunya sendiri kedinginan.

"Aku tidak apa-apa. Yang kukhawatirkan justru dirimu. Aku tidak ingin melihatmu kedinginan." Pemuda itu memaksa Hinata mengenakan jubahnya. "A-arigatou." Bisik Hinata pelan. Kedua pipinya merona karena mengenakan pakaian milik Gaara. Laki-laki itu tersenyum tipis kemudian berbalik badan. "Ayo kita kembali, udaranya semakin dingin." Gaara berjalan lebih dulu didepan sementara Hinata mengekor.

"Tapi Gaara-san…"

"?"

"Ba-bagaimana dengan insomniamu?" tanya Hinata cemas. "Bukannya tadi kau mau minta tolong padaku?"

Laki-laki itu berhenti berjalan. Melirik ke belakang ia mendapati wajah penuh kekhawatiran dari Hinata. "Lupakan saja. Kondisimu sekarang adalah yang terpenting. Aku tidak ingin kau mengigigil kedinginan karena terus menerus di luar." Jawab Gaara lembut.

Hinata menundukkan wajahnya.

Gaara-san, dia tidak membahas soal permohonannya lagi. Mungkin dia merasa malu memintaku yang bukan siapa-siapa untuk tidur dengannya. Hinata ingin menolongnya, tapi ini sangatlah tidak etis dan juga tidak sopan. Bagaimana jadinya jika teman-temannya tahu? Hinata tidak mau dicap sebagai perempuan yang tidak benar. Tanpa sadar Hinata mengeratkan jubah Kage yang ia kenakan.

Gadis itu melirik punggung Gaara dari belakang.

Menurut Tsunade-sama, Gaara hanya memiliki waktu enam bulan saja untuk bertahan. Di luar itu ada kemungkinan tubuh Gaara tidak akan kuat. Berbeda dengan tubuh bagian luar, organ tubuh manusia sangatlah lemah. Jika terus-terusan dipaksa untuk bekerja non stop tanpa istirahat, mereka akan rusak. Hal itu sudah Hinata ketahui, semenjak ia menguasai jurus Byakugan dan Jyuuken.

Sanggupkah Hinata membiarkan Gaara –teman kecilnya itu menderita seorang diri tanpa bisa untuk menolongnya? Dan lagi Gaara adalah Kazekage sekarang. Semua penduduk Suna membutuhkannya. Bukan hanya Suna tapi seluruh penduduk dunia. Karena Gaara adalah pemimpin dari Aliansi kelima negara ninja sekarang. Keberadaannya sangatlah penting untuk semua orang. Terutama di perang besar nanti yang akan berlangsung entah sampai kapan.

Hinata menggigit bibirnya.

Benar, ini bukan saatnya memikirkan soal etis atau tidak. Nyawa Gaara adalah yang terpenting. Gadis itu tidak bisa membiarkan keadaan ini terus terjadi, sementara nyawa teman kecilnya itu sedang diujung tanduk.

Mungkin ini salah satu alasan mengapa Tsunade-sama memilih mengutusnya dan teman-temannya untuk pergi ke Suna. Agar Hinata bisa menolong Sabaku Gaara. Dan lagi bukankah yang diperlukan oleh pemuda itu hanya sebatas teman untuk beristirahat saja? Hanya sekedar berbaring. Bukan dengan maksud dan tujuan lain yang tidak pantas.

Mungkin saja dengan begitu Gaara bisa sembuh dari penyakitnya dan memulai kehidupannya kembali sebagai orang normal. Apalagi ini adalah jalan keluar terakhir yang laki-laki itu miliki. Membiarkannya begitu saja tanpa bisa menolong Gaara, Hinata yakin dia pasti akan menyesal seumur hidup. Jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada laki-laki itu.

Hinata memantapkan keputusannya.

"Tunggu," Hinata menarik ujung baju milik Gaara dari belakang. Laki-laki itu sedikit terkejut, ia menghentikan langkahnya. Membalikkan badannya ia mendapati wajah serius gadis itu.

"A-aku akan melakukannya." Kata Hinata tiba-tiba. Matanya lurus memandang iris hijau milik Gaara.

"Ji-jika itu adalah satu-satunya cara agar bisa menolongmu maka aku akan melakukannya." Gadis itu memberikan keputusan. "Ka-karena itu….." dengan susah payah Hinata berusaha menyelesaikan kalimatnya.

"Tidurlah denganku."

Gaara membelalakkan matanya. Wajahnya yang terbiasa datar itu memerah setelah mendengar ajakan frontal dari gadis Hyuuga didepannya. Disisi lain Hinata yang pemalu memilih bersembunyi kembali di belakang tembok koridor. Wajahnya kembali memanas.

"A-ano maksudku bukan ajakan untuk tidur atau apa… Y-ya maksudku tidur t-tapi cuma berbaring t-tidak lebih dari itu. Ku-kumohon ka-kau jangan salah paham-" Gadis itu mengemukakan alasannya dengan gagap. Sementara jantungnya dari tadi berdentum semakin keras seakan mau copot.

DEG DEG DEG

'A-apa yang baru saja ku katakan? Seharusnya aku tidak bicara begitu tadi.'

Hinata mati-matian berusaha mengendalikan dirinya sendiri agar tidak jatuh pingsan karena rasa malu yang dialaminya. Sungguh jika didepannya sekarang ada lubang, Hinata lebih memilih bersembunyi kedalamnya tanpa bisa dilihat oleh Gaara.

Tiba-tiba terdengar bunyi tawa halus di koridor sepi ruangan, Hinata menolehkan wajahnya ke satu-satunya penghuni ruangan tersebut selain dirinya.

Gadis itu membulatkan matanya mendapati wajah Gaara yang sedang tertawa. Pipi Hinata kembali memerah. Karena ini pertama kalinya ia melihat Sabaku No Gaara tertawa dengan lepas. Wajahnya yang biasa terlihat seram karena lingkaran hitam di mata itu kini justru terlihat begitu tampan dan mempesona. Untuk sesaat waktu seolah berhenti diantara keduanya.

Gaara menghentikan tawanya. Sudut bibirnya naik ke atas. Untuk waktu yang sangat sebentar Kazekage muda itu tersenyum lembut, wajahnya terlihat begitu teduh. Dalam hati, pemuda itu merasa beruntung bisa bertemu kembali dengan Hinata. Teman pertamanya dulu.

"Arigatou, HInata." Bisiknya tulus.

Di lubuk hatinya yang terdalam Gaara berharap tidak akan lagi berpisah dengan cinta pertamanya itu.

.

.

0-0-0-0

Chapter 24 Completed

To be Continued

.

A/n : Special thanks untuk semua reader yang sudah membaca, dan mereview fic ini. Sekedar info saya sudah menulis cerita ini di wattpad. Bisa silakan di cek di wattpad Lightning_Chrome. Ada gambar dan musiknya juga. Sampai jumpa kembali di chapter depan. Salam Lightning Chrome ^^