You Actually Specials
.
All Member BTS
Family, Brothership
.
.
.
Part 27
.
.
.
Author Pov
Suasana malam yang sedikit berangin tak membuat beberapa orang yang tengah berkumpul di tengah hutan itu tampak kedinginan. Meskipun disekitar mereka banyak pohon menjulang tinggi, tak menutup kemungkinan hawa semakin dingin kala waktu semakin malam. Yoongi memutuskan panggilannya dengan sang ayah setelah menurunkan egonya untuk mengungkapkan perasaan sayangnya. Ia tidak mau berprasangka buruk, hanya saja beberapa hal harus ia lakukan sebelum takdir bertingkah kurang ajar padanya.
Hoseok masih setia dengan drone yang ia bawa, yang masih terbang mengintai mansion Jung Ahn. Yoongi juga telah melihat sendiri Jaehwan dan beberapa orang juga ikut masuk ke mansion. Kalau tidak ada Seokjin di taman kala itu, sudah pasti Jaehwan tidak akan ia lihat lagi sekarang. Tapi meskipun Jaehwan tiada, ayahnya itu akan tetap merencanakan hal ini bukan?
Yoongi memang tengah berdua saja dengan Hoseok. Jungkook dan teman-temannya beserta Hanbin dan Minhyuk tengah menyebar untuk melihat situasi di area belakang mansion. Beruntung saat ia tengah menuju arah mansion, matanya tak sengaja melihat jalan yang memutari area mansion. Bukan jalan yang bagus, dan bukan menuju area perumahan. Karena tepat dibelakang mansion adalah hutan yang cukup luas dengan danau yang berada diujungnya. Beruntung mobil mereka bisa masuk, sehingga ia harus berbagi tugas dengan Namjoon, karena ia juga tidak bisa meninggalkan para appa berjuang sendiri tanpa bantuan.
Yoongi menolehkan kepalanya pada Hoseok yang masih setia dengan mainannya, bahkan ia sampai tersenyum seperti itu. Saat ia melihat pada monitor kecil yang tersambung dengan pengendali drone, ia jadi mengerti kenapa Hoseok tampak senang. Ia pun juga ikut tersenyum melihatnya. Namjoon dan yang lainnya tampak bersenang-senang, tentu saja bukan masalah bagi mereka, terutama Namjoon, Jimin, dan Taehyung. Mereka jelas menikmati pertarungan mereka.
Hoseok menarik kembali dronenya setelah melihat pertarungan di gerbang depan selesai. Ia tengah membereskan peralatannya saat 7 orang terlihat mendekati mereka. itu Jungkook, Minhyuk, Hanbin, Mingyu, Jaebum, Yugyeom, dan Seokmin.
"Hyung, mereka kembali"
Yoongi yang tengah membereskan barang bawaannya langsung menghadap mereka, "Bagaimana?"
Jungkook mendekat, "Seperti yang kau duga, hyung. Di belakang mansion sudah ada sekitar 30 orang yang berjaga. Dan kau pasti terkejut hyung, karena ada kapal juga yang berada di tepian danau. Sepertinya orang itu juga merencanakan pelarian setelah rencananya selesai."
Yoongi yang mendengar penjelasan Jungkook mengepalkan tangannya. Nampaknya bukan hanya mereka yang memiliki rencana, Jung Ahnpun sudah siap melarikan diri saat urusannya selesai. Tapi Yoongi berjanji urusan Jung Ahn tidak akan pernah selesai, karena Yoongi akan melakukan apapun untuk menghancurkan rencana Jung Ahn.
"Di sekitar kita aman-aman saja. Tapi karena area hutan, jelas kita tidak bisa melihat dengan jelas. Namun dari arah mansion menuju area danau ada penerangan. Dan juga ada penjaga yang juga sudah menunggu" ucap Hanbin. Ia dan Minhyuk hampir dekat dengan posisi kapal saat mereka melihat beberapa orang tengah berdiri tegap.
Minhyuk mengangguk, "Tidak begitu banyak, tapi cukup untuk mengulur waktu kita. Belum lagi kita tidak tau didalam mansion masih ada penjaga atau tidak."
Yoongi mengangguk mendengarnya. Memang kalau dilihat dari banyaknya penjaga yang berada didalam mansion, Jung Ahn sudah memperkirakan kalau mereka semua sudah pasti akan menuju mansionnya. Jung Ahn sepertinya memang sengaja memancing mereka kesini untuk menghabisi mereka semua. Rencana yang bagus. Yoongi menyeringai.
"Aku bisa percaya pada kalian, kan?" ucapan Yoongi berbuah anggukan dari mereka semua.
"Kau bisa mempercayai kami Yoongi. Lagipula kami kemari juga tidak sedang bersantai kan?" Yoongi tersenyum mendengar ucapan Minhyuk.
"Tentu saja. Dari awal kita tengah olahraga gratis" ucap Mingyu.
Jungkook mendengus mendengarnya, "Olahraga apanya, kau kemari karena ingin menjadi samsak tinju kan?"
Mingyu menatap tajam Jungkook, "Dasar kau Jeon! Urusan tadi siang tak perlu kau ungkit, sekarang aku sedang serius jadi kau tak perlu khawatir aku akan babak belur"
"Siapa yang khawatir?!"
"Tentu saja kau Jeon tsundere Jungkook!"
"Sialan kau!"
"Bisa diam kalian?!"
Mingyu dan Jungkook langsung terdiam. Yugyeom dan Seokmin berusaha menahan tawa mereka saat melihat wajah masam mereka berdua.
Yoongi lalu menatap teman-temannya, "Kalau begitu Hoseok, Yugyeom, Seokmin, Mingyu, Jaebum, Minhyuk, dan Hanbin, urus yang berada tepat di gerbang belakang. Sedangkan aku dan Jungkook akan ke arah danau. Aku harus memastikan kapal tersebut tidak akan berfungsi"
"Hanya kalian berdua?" tanya Jaebum memastikan.
Yoongi mengangguk, "Jungkook dan aku cukup untuk menahan yang di danau. Yang dikhawatirkan adalah tepat di gerbang belakang, karena kita juga tidak tau apakah dari dalam ada tambahan bantuan. Jadi lebih baik banyak orang yang menyerang kesana"
"Setelah selesai, kalian langsung masuk ke mansion. Namjoon dan yang lain, serta para appa pasti sudah menunggu didalam. Pastikan semuanya baik-baik saja. Tapi terutama kalian harus selamat juga. Karena kalau kalian terluka semuanya akan berantakan dan kita hanya akan mengantar nyawa kesini"
Semuanya mengangguk mendengar instruksi Yoongi. Minhyuk menghela napas, tak pernah terbayangkan ia akan menghadapi hal menegangkan seperti ini.
"Kau takut?" tanya Hanbin yang berada disebelahnya.
Minhyuk tersenyum mendengarnya, "Aku hanya gugup. Ini pertama kalinya untukku"
"Sama saja. Aku juga pertama kali harus berurusan dengan banyak orang seperti ini. Berharap saja tidak ada yang membawa senjata"
"Kalian juga harus bawa senjata"
"Hah?!"
Yoongi menyeringai saat mereka semua kecuali Hoseok dan Jungkook berteriak kaget. Yoongi mengambil tas besar yang ada di bagasi mobilnya dan membukanya. Mereka terbelalak melihat beragam jenis handgun beserta slot peluru memenuhi tas tersebut.
"Yoongi hyung dapat ini semua darimana?" ucap Seokmin masih ternganga dengan banyaknya isi dalam tas Yoongi.
"Tidakkah ini berbahaya?" tanya Yugyeom.
"Kalian masuk kesana itu jelas sudah berbahaya. Jadi apa susahnya menambah bahaya dengan membawa senjata, atau kalian belum pernah menggunakannya?" ucap Hoseok tenang sambil mengambil tasnya didalam mobil.
"Belum"
Jungkook menghela napas. Entah temannya yang tidak pernah belajar, atau memang mereka bertiga yang terlalu senang bermain senjata.
"Kalian hanya membawanya untuk berjaga-jaga saja. Selebihnya aku yakin kalin bisa menggunakannya. Jungkook ajari mereka dengan cepat"
Jungkook mau tidak mau menuruti perkataan Yoongi dan memberikan pengarahan dadakan pada teman-temannya. Beruntung mereka cepat untuk belajar hingga tidak butuh waktu lama. Karena mereka harus cepat bergerak sebelum terlambat.
Yoongi membagikan handgun yang ia bawa pada mereka, "Ingat baik-baik, handgun ini hanya untuk keadaan darurat. Kalau memang tidak ada yang menggunakan senjata, usahakan tetap bertarung dengan tangan kosong. Jangan berhenti, tetap bergerak. Aku dan Jungkook akan menyusul setelah urusan di kapal selesai. Dan ingat ini baik-baik, kalian jangan sampai terluka. Meskipun aku meminta kalian bertarung bukan berarti aku juga suka melihat temanku terkapar. Jadi tolong hati-hati"
Yoongi bukan orang yang begitu suka menunjukkan perasaannya. Kalau saja ia bisa, ia akan meminta teman-temannya ini agar pulang dan membiarkan mereka berenam saja yang menyelesaikannya. Tapi sepertinya teman-temannya sudah bertekad.
"Kalau kalian ingin mundur. Ada baiknya mundur sekarang. Apa yang kalian hadapi bisa saja membuat kalian kehilangan nyawa. Jadi kalau ingin mundur silahkan, aku sangat mengijinkan kalian"
Yang lain diam mendengarkan. Mereka hanya saling melirik satu sama lain tapi tak ada suara, atau bahkan keinginan mengangkat tangan sama sekali.
"Maaf Yoongi, tapi kita membuang waktu. Bisa kita pergi sekarang?" ucapan Hanbin membuat Yoongi tersenyum.
"Iya, lagipula aku sudah sangat bersemangat ini" ucap Mingyu menambahkan.
Jungkook yang mendengar itu memukul pelan kepala Mingyu, "Bodoh" yang berbuah cengiran Mingyu.
"Lagipula kalaupun mundur juga percuma, kita sudah berada disini dan memegang senjata. Jadi kenapa tidak lanjut saja?" Hoseok merangkul bahu Jaebum yang sudah siap bertempur itu. Seokmin dan Yugyeom hanya tersenyum menatap Yoongi, karena mereka juga tak berniat untuk mundur.
Yoongi tersenyum melihat banyak orang yang mau ikut berjuang dengan mereka. Padahal mereka jelas bukan siapa-siapa. Mereka hanya teman yang kebetulan bertemu dan ingin membantu. Mereka bahkan tidak harus melakukan itu.
'Kau tau Yoongi, berbeda hubungan darah bukan berarti kita bukan saudara'
Yoongi menunduk mengingat ucapan Seokjin padanya.
"Baiklah. Aku sudah memberi kalian kesempatan. Jadi jangan berharap aku membiarkan kalian kabur setelah ini. Ingat, hati-hati. Mari kita mulai."
Setelah mendengar aba-aba Yoongi mereka bertujuh langsung melesat menuju gerbang belakang. Jungkook langsung menuju arah danau beserta dirinya, dan ia tidak lupa membawa ransel kecil dipunggungngya. Yoongi mengikuti langkah Jungkook menuju arah kapal yang disiapkan Jung Ahn. Setelah beberapa saat mereka bisa melihat ada sekitar 10 orang yang menjaga sisi kapal.
"Hyung, kau langsung ke kapal saja, mereka aku yang urus" ucap Jungkook meletakkan tas yang ia bawa.
Yoongi menyeringai mendengarnya, "Kau yakin?"
Jungkook mendengus mendengarnya, "Jangan meremehkanku, hyung"
Yoongi hanya mengangguk dan menepuk bahu Jungkook. Setelah Yoongi sedikit menjauh, Jungkook menatap 10 orang yang belum menyadari keberadaannya itu.
"Selamat malam paman"
Tampak mereka semua terkejut dan menoleh kearahnya. Tapi Jungkook tidak peduli, ia bahkan senang.
"Siapa kau?! Pergi dari sini!"
Jungkook menampakkan raut sedihnya, "Kenapa buru-buru mengusirku paman? Aku sudah jauh-jauh datang kesini untuk bermain dengan kalian"
"Kurang ajar! Habisi anak itu!"
Jungkook menarik dua pisau yang sudah tersampir dipingangnya.
SRET
"AH!"
Dengan lihai Jungkook melewati 2 orang yang menuju kearahnya dengan menorehkan luka lebar diperut mereka. Darah menetes diujung pisaunya, dengan 2 orang yang sudah terkapar menahan rasa sakit ditubuh mereka. Dengan tenang Jungkook kembali melangkah menuju arah orang-orang yang sudah menatap garang dirinya, atau bahkan takut?
"Kemarilah paman, masa aku yang harus menemui kalian. Tidak sopan sekali" ucap Jungkook menatap mereka tajam.
"Sialan!"
Mereka maju bersamaan sedangkan Jungkook menyeringai. Ia sempat menoleh ke belakang punggungnya dan melihat Yoongi yang segera memasuki kapal saat perhatian para penjaga teralihkan kearahnya.
JLEB
Satu pisau Jungkook terlempar mengenai paha salah satu orang, dan membuatnya jatuh terjerembab. Jungkook bisa mendengar suara ringisan darinya. Belum sempat menghindar, Jungkook menunduk dan menendang kaki yang lain hingga jatuh tersungkur. Jungkook berlari dan segera memukul sisa orang yang juga tengah berlari kearahnya.
BUGH
Satu orang langsung tak sadarkan diri setelah terlihat darah merembas dari hidung. Tak berhenti disana, setelah mengambil pisaunya yang ia lempar, pisau itu kembali terbang mengenai salah satu bahu musuhnya setelah itu menendang perutnya hingga jatuh.
Yoongi yang sudah masuk kedalam kapal menggelengkan kepala melihat Jungkook menikmati mainannya. Ia segera menyusuri kapal yang tak terlalu besar tapi sangat mewah ini. Saat turun menuju arah dek bawah Yoongi segera menunduk dan menendang tangan yang menodongkan pisau kearahnya barusan. Pisau itu terlempar dan Yoongi langsung meloncat kearah orang yang hampir mencelakainya itu dan langsung menendang wajahnya.
Beruntung ia menyadari kalau ada orang di dalam kapal. Instingnya tak pernah salah. Ia segera menyingkirkan penjaga yang sudah tak sadarkan diri itu tak lupa mengikatnya, dan kembali melihat isi kapal Jung Ahn tersebut. Tidak ada barang yang penting sama sekali, tapi Yoongi sempat melihat koper kecil tepat disamping kemudi dan ternyata berisi uang dan juga handgun. Yoongi menyeringai, sepertinya memang Jung Ahn sudah menyiapkan rencana pelariannya.
"Lihat saja, kau bisa kabur dari sani atau tidak"
Beralih ke gerbang belakang yang sudah sangat berantakan, terlihat banyak orang terkapar dengan keadaan mengenaskan. Tapi masih banyak juga yang berdiri tegap bersiap kembali menyerang 7 orang yang datang menyerang mereka. Seperti yang diperkirakan Yoongi, masih ada beberapa orang yang ikut membantu dari dalam mansion saat mendengar keributan di gerbang belakang mansion. Tapi beruntung tidak terlalu banyak, karena sepertinya mereka lebih banyak menghadang dari depan, tempat Namjoon dan para appa.
Hoseok masih berdiri tegak dengan tangan yang terkena cipratan darah musuhnya. Wajahnya masih tenang meskipun melihat banyak musuh yang mulai berlarian kearahnya. Minhyuk dan Hanbin berdiri disisinya juga tengah bersiap menghadapi musuh yang datang. Jaebum dan Mingyu sudah selesai memukul musuh terakhirnya, sedangkan Yugyeom dan Seokmin, menghela napas sejenak merasa lelah. Tapi entah mengapa semangat mereka semakin besar saat melihat musuh yang mendatangi mereka lagi.
"Wah bagus-bagus, keluar kalian semua! Akan aku buktikan pada Jeon bodoh itu kalau aku ini kuat!"
BUGH
Mingyu langsung menendang musuh yang berada dihadapannya hingga terjatuh. Tubuhnya berputar lalu membiarkan genggaman tangannya menghantam wajah musuh yang berada dibelakangnya, tak lupa tendangan kebanggaannya ikut andil merubuhkan musuhnya.
Minhyuk dan Hanbin masih tetap bersisian meskipun musuh mengelilingi mereka. Dengan bantuan punggung Hanbin, Minhyuk berhasil meloncat dan menendang 2 orang yang hampir memukul mereka. Tak lupa Pukulan Hanbin yang mengenai rahang salah satu musuh sampai tak sadarkan diri. Ia mungkin tak sekuat Yoongi, tapi jelas pukulannya juga tak kalah kuat dari teman esnya itu.
"Wah pukulanmu kuat juga ya?" ucap Minhyuk berusaha mengejek.
Hanbin yang mendengarnya mendengus, "Kau ingin mencobanya?"
"Tidak. Tanganmu tidak cocok dengan wajahku" ucap Minhyuk tertawa.
"Tapi mungkin cocok dengan perutmu" Hanbin ikut tertawa sebelum akhirnya kembali memukul musuh.
Jaebum tetap setia memukul dengan tangan yang sudah memerah karena kerasnya pukulannya, juga hawa dingin malam ini. Napasnya memburu bukan karena lelah, tapi karena terlalu senang. Banyak orang yang sudah ia lumpuhkan, dan entah itu semakin membuat adrenalinnya terpacu. Meskipun wajahnya datar, ada sedikit kegembiraan yang terpancar dari matanya karena ada hal yang bisa ia lakukan untuk membantu temannya.
BUGH
"Lihat belakangmu Yugyeom"
Jaebum berhasil menendang musuh yang akan memukul Yugyeom dengan balok kayu. Jaebum mengambil balok kayu tersebut dan memukul balik musuhnya sampai balok kayu itu patah. Matanya melirik tajam Yugyeom yang kembali memukul musuh yang dihadapinya tadi.
"Maaf hyung. Aku teralihkan" ucap Yugyeom langsung memukul tengkuk musuhnya sampai pingsan. Lalu berbalik dan memukul musuh disampingnya.
"Yugyeom harus lebih waspada" ucap Seokmin masih setia dengan tendangannya dan balok kayu yang tadi sempat dipegang musuhnya. Setelah menendang ia langsung memukulnya hingga sang musuh tak bangun lagi. Seokmin bukan orang yang terbiasa berkelahi, tapi berteman dengan Jungkook membuatnya berpikir untuk setidaknya berlatih dasar beladiri untuk jaga-jaga saja.
KRAK
Balok kayu yang dipegang Seokmin patah juga setelah ia gunakan untuk memukul punggung musuh yang tadi dilempar Yugyeom kearahnya.
"Kalau mau mencelakaiku bilang saja" ucap Seokmin mendengus menatap Yugyeom yang tertawa.
"Anggap saja melatih reflekmu, DK" Seokmin mencibir dan kembali mengambil balok kayu yang berhamburan di tanah, itu senjatanya sekarang.
Hoseok yang daritadi masih sibuk bertarung bukan berarti tak mendengar pembicaraan teman-temannya. Meskipun tangan dan kakinya sibuk memukul dan menendang, telinganya bisa mendengar dengan jelas. Ia senang setidaknya mereka tidak menyesal harus berolahraga malam-malam begini. Sedangkan senjata pemberian Yoongi sepertinya belum berguna bagi mereka, karena musuh merekapun juga tak memiliki senjata selain balok kayu yang Seokmin dan Jaebum patahkan itu. Dan lagipula sepertinya mereka senang memukul orang.
"Heh! Itu yang berdiri disana tidak sekalian ikut bergabung dengan teman-temanmu ini apa?"
Hoseok menunjuk 3 orang yang berdiri menatap Hoseok ngeri. Para penjaga yang dikirim Jung Ahn sudah menjadi bahan kesenangannya, tubuh mereka terkapar dengan luka tusuk dimana-mana, darah mengalir dari kulit mereka. Darah mereka juga mengalir dipisau Hoseok yang ia gunakan untuk bermain-main.
"Kemarilah paman! Mereka butuh teman lagi" ucap Hoseok menunjukkan senyum lebarnya sambil memutar-mutar pisaunya yang masih butuh pelampiasan.
Tanpa aba-aba mereka segera menyerang Hoseok yang masih tersenyum itu.
JLEB
Punya ketrampilan menari membuatnya mudah mengendalikan gerakan tubuhnya. Dengan lihai tangannya menusuk paha mereka dan menendangnya, belum lagi ia meloncati tubuh musuhnya yang terjatuh untuk memukul 2 orang yang masih berdiri tegak. 1 pukulan diwajah dan tendangan kuat megenai perutnya. Hoseok kembali berputar dan menusukkan pisaunya di bahu satu orang lainnya dan menendangnya dari belakang.
"Nah kan bagus semakin banyak jumlahnya" Hoseok tertawa melihat 3 orang yang baru saja ia buat tersungkur.
Matanya melirik keadaan sekitar, dan sudah tidak ada tambahan musuh yang datang dari dalam mansion. Teman-temannya juga sudah selesai dengan musuh mereka. Namun ia melirik seseorang yang akan memukul Mingyu dari belakang.
"Yak! Mingyu"
JLEB
Mingyu langsung menghindar setelah mendengar teriakan Hoseok. Ia sadar kalau ada seseorang dibelakangnya. Namun karena masih sibuk dengan 2 orang, ia sedikit terlambat untuk menghindar. Tapi yang ia lihat orang yang berada dibelakangnya itu sudah terkapar dengan pisau yang berada dikaki dan bahunya.
"Kalau tidak ada aku, kau pasti sudah jatuh"
Mingyu mendengus mendengar suara mengejek teman berkelahinya itu.
"Diamlah kau Jeon! Tidakkah kau bersyukur aku sudah menghabisi banyak orang? Lagipula sepertinya kau khawatir padaku sampai membantuku segala" ucapan marah itu berubah menjadi ejekan balik untuk Jungkook.
Memang Jungkook yang melempar 2 pisaunya itu saat Hoseok berteriak memperingati Mingyu tadi. Jungkook yang mendengar ejekan itu malah mendengus kesal dan memukul kepala Mingyu yang berbuah ringisan dari temannya itu. Tapi setelahnya Jungkook memeluk Mingyu sekilas.
"Kalau kau mati siapa yang akan aku jadikan samsak tinju nanti?"
Mingyu tersenyum kecil dan menepuk pelan bahu Jungkook. Ia tau Jungkook khawatir padanya, karena ia juga merasakan hal yang sama pada temannya ini. Berteman lama dengannya membuat hubungan mereka memang lebih dekat meskipun banya keributan yang mereka timbulkan saat bersama.
"Harusnya aku yang bilang begitu"
Jungkook melepas pelukannya, dan menatap teman-temannya yang lain. Yugyeom dan Seokmin berlari dan memeluk Jungkook setelah itu tertawa bersama. Yoongi yang berada dibelakang Jungkook tersenyum melihat Jungkook dan teman-temannya yang tampak baik-baik saja.
"Hyung"
Yoongi menoleh dan melihat Hoseok mendekat padanya. Yoongi memeluknya sekilas menyampaikan perasaan lega karena melihatnya baik-baik saja. Hoseok juga balas memeluk hyungnya itu dengan perasaan yang sama leganya.
"Hei manusia es, kau tampak baik" ucapan itu membuat Yoongi menatap tajam Hanbin yang menyengir. Yoongi mendekati temannya itu memeluknya juga. Hanbin tersenyum dan membalas pelukannya.
"Kau terlalu banyak bicara"
Yoongi melepas pelukannya dan melihat Minhyuk sedang menopang Jaebum yang tersenyum padanya.
"Aku baik. Hanya lelah karena terlalu bersemangat"
"Padahal setelah ini kita masih harus berkelahi lagi" mendengar itu Jaebum langsung berdiri tegak dan merenggangkan ototnya yang membuat Minhyuk tertawa.
"Tenang. Aku masih kuat"
Yoongi tersenyum melihat semua teman-temannya baik-baik saja. Urusannya di kapal sudah selesai. Ia sudah memastikan Jung Ahn tidak akan bisa menggunakan kapalnya itu setelah melubangi tangki bahan bakar. Bisa ia kira minyak dalam tangki tersebut sudah habis bersatu dengan air danau.
"Mari masuk. Mereka pasti sudah menunggu kita"
Yoongi segera memasuki gerbang belakang yang sudah terbuka diikuti temannya dibelakang. Berharap tidak banyak orang yang menghadang mereka setelah ini. Dan berharap Seokjin masih baik-baik saja saat mereka sampai.
.
.
.
Pintu mansion itu terbuka dan Jaehwan masuk dengan wajah marah yang kentara. Ia bisa melihat ada beberapa penjaga yang tengah bersiap untuk keluar, tapi Jaehwan tidak peduli, yang ia cari adalah ayahnya. Ia melirik 3 orang sewaannya itu dan menyuruh mereka untuk mencari keberadaan Seokjin. Sedangkan ia berjalan menuju lantai 2 mansion dan melihat ayah yang sangat ia benci tengah duduk sambil minum teh dengan tenang. Bahkan saat ia berada tepat dihadapan ayahnya ia malah seperti tak dipedulian.
"Appa!"
Teriakan Jaehwan bahkan tak membuat Jung Ahn menoleh. Ia malah melirik anak buah yang tengah bersamanya itu seolah meminta untuk meninggalkannya berdua saja dengan sang anak. setelah hanya tinggal mereka berdua, Jung Ahn meletakkan cangkir tehnya dan menatap Jaehwan dengan senyum lebar.
"Senang melihatmu sudah baikan anakku"
Jaehwan mengeram marah, "Dimana Seokjin?!"
Jung Ahn hanya menatapnya tanpa minat, "Kenapa kau menanyakan orang lain? Kau tidak merindukan appamu ini?"
BRAK
"Dimana Seokjin Lee Jung Ahn?!"
PLAK
Jung Ahn berdiri dan menampar Jaehwan. Meskipun Jaehwan menggebrak meja dihadapannya ia malah tak takut sama sekali pada anaknnya ini. Ia lebih kuat daripada anaknya ini. Kenapa harus takut?
"Anak tidak tau diri! Tak berguna! Setelah mengecewakanku kau menanyakan mainanmu itu?! Aku memberikannya padamu untuk kau habisi bukan untuk kau kasihani. Dan setelah kau gagal kau ingin dia kembali? Jangan bodoh anakku. Dia urusanku sekarang."
Jaehwan terdiam mendengar ayahnya. Memang dulu sebelum masuk kuliah Jaehwan meminta bantuan ayahnya untuk bisa bertemu Seokjin. Jaehwan yang masih marah karena ditolak mendiang orang tua Seokjin menerima permintaan ayahnya untuk membuat Seokjin menderita. Awalnya ia begitu kurang percaya karena Seokjin tak mungkin sendirian karena ada 6 temanya yang selalu bersamanya. Namun entah apa yang ayahnya lakukan, sampai Seokjin bisa berada di Seoul, sendirian, tanpa keluarga ataupun temannya. Jaehwan jelas senang, ia bisa leluasa bertemu Seokjin dan menjalankan perintah ayahnya.
Pada saat itu ia masih diliputi perasaan cinta berlebihan hingga membuatnya buta dan mudah dikendalikan ayahnya. Ia berpikir dengan terus membuat Seokjin terluka bisa membuatnya menyerah dan menerima Jaehwan. Tapi semuanya salah, Seokjin semakin menjauh darinya dan membuatnya semakin marah. Ayahnya yang tau jelas memanfaatkan itu hingga Jaehwan bersikap jauh lebih parah, dan Seokjin semakin terluka dengan sikap buruknya. Jaehwan terus bertingkah buruk tanpa tau ayahnya tertawa bahagia melihat kelakuannya menyiksa Seokjin.
Hingga entah bagaimana ia mulai kembali pada akal sehatnya dan menyesali semua sikapnya. Menyesali semua perbuatan yang jelas tak akan pernah dilupakan Seokjin. Mungkin luka itu perlahan akan sembuh, namun bekas dari luka yang ia torehkan akan selalu ada. Itulah yang membuat Seokjin semakin tidak beniat mendekati Jaehwan, bahkan memilih untuk tidak peduli lagi.
Jaehwan masih terdiam dengan jalan pikirannya dan tidak menyadari kalau seseorang tengah berlari mendekati Jung Ahn dan membisikkan sesuatu.
"Apa?! Kenapa bisa?! Menghabisi orang tua saja mereka tidak becus. Sial!"
Sang bawahan hanya terdiam menunduk saat sang tuan besar marah. Jaehwan yang sadar akan keadaan dan kembali menatap sang ayah. "Berikan Seokjin padaku, appa"
Jung Ahn menatap Jaehwan geram ia lalu melirik bawahannya dan kembali menatap Jaehwan, "Habisi anak ini. Aku tidak butuh dia lagi"
"Appa!"
BUGH
Jaehwan terlempar setelah dipukul bawahan sang ayah. Jung Ahn tanpa peduli menuruni tangga menuju tempat Seokjin berada, meninggalkan Jaehwan yang sudah kembali berdiri dan berniat mengejarnya.
BUGH
Namun nampaknya keadaannya masih lemah setelah kejadian di taman saat berhadapan dengan Yoongi dan Taehyung.
"Anda tetaplah disini tuan muda"
"Diam kau! Aku hanya ingin bertemu Seokjin!"
Jaehwan berdiri lagi dan bersiap mengejar Jung Ahn. Namun lagi-lagi ia harus kembali terjatuh saat kakinya ditendang.
"Maaf tuan muda"
"Hah! Aku tidak butuh maafmu. Aku hanya ingin bertemu Seokjin!"
BUGH
Jaehwan berhasil memukul bawahan sang ayah. Ia lalu berlari dan turun untuk mengejar ayahnya. Jaehwan sadar kalau orang yang ia pukul juga mengejarnya. Saat sampai dibawah Jaehwan langsung berlari menuju arah garasi belakang, yang ia yakini tempat Seokjin berada.
"Tuan muda!"
BUGH
Jaehwan masih terus berlari saat bawahan ayahnya berhasil dihadang orang suruhannya. Jaehwan tak menyesal membayar mahal mereka. Jaehwan terus berlari karena ia harus cepat sebelum sang ayah melakukan hal buruk pada Seokjin.
Kemarahan Jung Ahn jelas karena mendapat laporan semua orang suruhannya sudah terkapar di depan mansion. Bahkan orang bayaran yang juga ia siapkan di dalam mansionpun juga sudah gugur. Jung Ahn berdecak, sebegitu sulitkah menghabisi para orang tua dan anak-anak muda itu? Namun yang tidak ia tau bawahannya yang ada di belakang mansion juga sudah dihabisi.
Jung Ahn memasuki garasi yang sudah tidak ditempati. Dulu ia membuatnya untuk menyimpan koleksi mobilnya, namun semuanya sudah habis sejak perusahaannya hancur gara-gara keluarga Jeon. Hingga akhirnya mansion ini kosong, semua isinya sudah ia buang menyisakan ruangan atas yang perabotnya masih utuh. Oleh karena itu, mansion ini hanya ia datangi saat ingin menenangkan diri saja.
Jung Ahn melihat pada seseorang yang masih terikat dikursi dalam keadaan tertidur itu. Nampaknya Seokjin kelelahan setelah berteriak meminta pertolongan. Jelas tidak akan ada yang menolongnya karena memang ruangan ini sudah ia buat kedap suara. Lagipula tidak akan ada yang bisa memasuki area ini.
BRAK
"Seokjin!"
Seokjin langsung terjaga saat mendengar suara dobrakan pintu. Ia melihat Jung Ahn dihadapannya tengah membelakanginya. Sedangkan tepat di depan pintu ada sekitar 4 orang yang memasuki tempatnya dikurung ini, dan terkejut saat melihat siapa mereka.
"Jaehwan"
Jaehwan hanya terdiam saat melihat keadaan Seokjin yang terikat dengan kondisi tubuh yang tidak baik. Bajunya kotor, rambutnya acak-acakan, dan sedikit ruam merah yang menghiasi pipinya.
"Appa, lepaskan Seokjin"
Jung Ahn tersenyum mendengar permintaan anaknya, "Kenapa memangnya? Aku lebih suka melihatnya terikat. Ia tidak akan berontak saat aku sakiti"
Jung Ahn menarik sebilah pisau dari saku celananya dan menggoreskannya pada lengan atas Seokjin.
"APPA!"
Seokjin meringis perih saat ujung pisau itu menyentuh kulitnya sedikit lebih dalam, menimbulkan warna merah pada kemeja baby bluenya. Seokjin menggigit bibirnya menahan sakit.
Jung Ahn tersenyum melihat hasil kerjanya dan balik menatap Jaehwan, "Kau lihat kan? Kalau saja kau lebih handal bermain, Seokjin lebih cepat menjadi peliharaanmu"
"APPA! Sudah cukup! Cepat bunuh laki-laki tua itu?!" ucap Jaehwan pada 3 orang suruhannya itu. Jung Ahn menyeringai mendengarnya. Belum sempat 3 orang itu mendekatinya,
DOR
DOR
DOR
Mereka sudah menjadi mayat.
.
.
.
Namjoon berlari memasuki mansion diikuti Bobby dan Mark, serta para appa. Yang lain tengah mengurus beberapa orang yang ternyata masih disediakan untuk mereka. Tampak baju para appa yang sudah berantakan, karena mereka juga tidak mau kalah dalam hal uji kekuatan.
"Masih lebih bagus mansionku di Daegu" ucapan tuan Min berbuah cibiran dari para teman-temannya.
Apalagi tuan Jung yang memang paling semangat menggoda orang paling tua diantara mereka, "Oh tentu saja, tuan Min yang terhormat harus memiliki mansion yang besar. Apa gunanya mencari uang dari saat muda sampai sekarang sudah tua?"
"Kalau kau masih bicara Jung, aku benar-benar akan mengirimu ke neraka sekarang" ucap tuan Min sambil menarik handgun yang ia bawa dan menodongnya pada tuan Jung yang tengah sembunyi di balik badan tuan Kim. Katananya masih tersampir indah dipinggangnya, tuan Min jelas tidak mau mengotori kesayangannya itu hanya untuk menghabisi tuan Jung.
Tuan Jeon yang melihat tingkah kedua temannya yang selalu bertengkar hanya menghela napas lelah, "Bisakah kita serius dulu, dari awal sepertinya kalian berdua itu ribut terus"
Tuan Jung hanya tertawa kecil, sedangkan tuan Min kembali memasukkan handgunnya, tapi tatapan tajam itu masih mengarah pada teman yang selalu menguji kesabarannya itu.
"Bagaimana Namjoon? Kita tunggu Yoongi dulu?"
Namjoon yang masih meneliti keadaan dalam mansion itu menatap balik ayahnya, "Yoongi hyung memang meminta kita untuk menunggunya, appa. Tapi melihat keadaan yang sepi begini lebih baik kita bergegas mencari Seokjin hyung saja. Mungkin saja Yoongi hyung juga tengah mencari Seokjin hyung didalam" ucapan Namjoon berbuah anggukan dari para appa.
"Kita tunggu yang lain dulu apa langsung saja?" tanya Bobby.
Namjoon melihat kearah luar dan melihat Jimin dan Taehyung serta yang lain maasih bertarung, namun sudah hampir selesai.
DOR
Mereka menolehkan kepala mencari sumber bunyi tembakan itu.
"Darimana suara itu?" ucap tuan Park kembali mengambil handgunnya. Para appa tengah bersiap sedangkan Mark dan Bobby langsung berlari keatas melihat keadaan. Namjoon meneliti kembali area tengah mansion yang ia pijaki ini. Matanya melirik area belakang dan curiga kalau suara tembakan barusan berasal dari sana.
"Tidak ada apa-apa, Namjoon. Sepertinya dibelakang" ucap Mark setelah melihat lantai 2 mansion dan ternyata kosong.
"Namjoon hyung" Taehyung berlari kearahnya diikuti Jimin dan yang lain. "Aku mendengar suara tembakan"
Namjoon mengangguk, "Kita ke belakang"
Namjoon memimpin diikuti Jimin dan Taehyung, Mark dan Bobby dibelakang mereka diikuti yang lain, sedangkan para appa berjaga dibagian paling belakang.
Mereka masuk dan melihat area belakang sama kosongnya seperti didepan. Tidak ada apa-apa, atau bahkan perabot rumah tangga. Hanya ada ruang kosong saja. Namun tampaknya tidak semata-mata kosong, diujung salah satu pintu di area belakang terlihat seseorang yang terkapar dengan rembesan darah disekitar tubuhnya. Jimin mendekati orang tersebut dan membaliknya, terlihat ada lubang tepat didadanya sebagai tanda orang ini sudah tidak bernyawa.
"Pasti bunyi tembakan tadi" ucap Jimin dan kembali berdiri disamping Taehyung.
BRAK
Mereka melirik pintu besar yang berada ditengah ruangan yang sudah tidak berbentuk itu.
"Wah! Semuanya berkumpul."
Terlihat kelompok gerbang belakang memasuki ruangan dari pintu yang sudah rusak.
"APPA!"
"HOSEOKIE!"
2 orang beda generasi itu akhirnya berpelukan setelah beberapa jam tidak bertemu. Yang lain tertawa saat melihat orang tua dan anak itu tengah tertawa bahagia.
"Yoongi hyung"
Yoongi sedikit terdorong saat Jimin dan Taehyung menubruknya. Yoongi hanya mendengus, namun ada perasaan bahagia saat melihat mereka baik-baik saja. Ia mengedarkan tatapannya dan melihat teman-teman yang lain juga baik-baik saja. Namjoon juga tengah menatap dirinya sambil tersenyum, namun ia terpaku pada sang ayah yang juga tengah menatapnya. Yoongi bisa melihat wajah yang nampak lelah namun tatapan yang masih membara. Hingga Yoongi tertegun saat sang ayah tersenyum menatapnya, ada kehangatan tersendiri saat ia melihat senyuman itu. Yoongi balas tersenyum seolah menyampaikan kelegaannya melihat ayahnya dalam keadaan baik.
"Yoon, dimana Jungkook?"
Jimin dan Taehyung melepas pelukan mereka dan menyadari ada beberapa orang yang tidak ada diruangan ini.
"Jungkook, Mingyu, dan Jaebum masih ada di gerbang belakang, paman. Mencegah kemungkinan yang akan terjadi"
"Maksudnya?"
Yoongi menyadari dirinya menjadi pusat perhatian teman-temannya dan juga para appa. Belum sempat Yoongi menjelaskan ia melirik pintu besar yang berada disamping mereka, ada jejak tapak kaki yang mungkin tidak sengaja menginjak genangan darah, yang menuju pintu itu.
"Lihat itu"
Semuanya beralih menatap arah yang ditunjuk Yoongi. Tapak dengan warna merah itu memang berakhir masuk keruangan itu.
"Apa Seokjin disana?"
Pertanyaan Minhyuk membuat mereka semua mulai menyiapkan diri. Yoongi maju diikuti Namjoon. Ia sedikit mendekatkan telinganya kearah pintu, namun tak terdengar apa-apa dari dalam. Yang lain mulai ikut mendekat karena mungkin Seokjin memang berada didalam. Yoongi menatap para appa dan teman-temannya lalu mengangguk. Seolah memberi perintah agar segera masuk saat ia membukanya. Yoongi yang mulai membuka pintu itu sedikit terkejut saat mendengar sesuatu.
DOR
Yoongi langsung membukanya lebar-lebar. Dan keadaan didalam benar-benar diluar perkiraannya.
"KAU!"
Yang lain langsung menerobos dan ikut terkejut saat melihat 4 orang yang tergeletak dengan darah mengalir dari tubuh mereka. 3 orang sudah tak bernyawa sedangkan 1 orang masih bergerak meskipun ada luka tembak ditubuhnya.
Para appa yang ikut masuk mengeram marah. Apalagi melihat keadaan Seokjin yang terikat dengan tubuh berantakan.
"LEE JUNG AHN BRENGSEK!! Apa yang kau lakukan pada anakmu sendiri?!!"
Teriakan tuan Kim membuat Jung Ahn malah menyeringai lebar. Handgunnya masih setia ia todongkan pada orang-orang yang ia harapkan kehadirannya. "Daehan Daehan, kau tidak tau saja kalau anakku itu tidak seberguna anak-anakmu" ucapan Jung Ahn membuat mereka semua marah, terutama Namjoon dan Taehyung yang baru saja Jung Ahn singgung.
Yoongi maju perlahan dan mendekati Jaehwan yang baru saja memuntahkan darah. Ia lalu menarik Jaehwan agar terduduk dan Yoongi berlutut dibelakangnya untuk membantunya tetap tegak. Jaehwan terengah menahan sakit ditubuhnya. Penglihatannya mengabur tapi ia sadar orang dibelakangnya adalah Yoongi.
"Yoon..gi..to..shh..long..Seok..jin..to..long..sela..matkan..sshh..dia"
Yoongi menghela napas menatap Jaehwan. Tidak menyangka kehidupan mantan temannya ini harus berakhir buruk karena kelakuan ayahnya.
Yoongi mengalihkan pandangannya menatap Seokjin yang juga tengah menatapnya. Ada setitik kebahagiaan didua bola mata Seokjin saat melihatnya. Sedangkan Yoongi yang melihat hyungnya merasa terluka karena keadaan Seokjin yang sepertinya ulah Jung Ahn.
"Yoongi"
DOR
"Wah wah. Haruskah aku mengucapkan selamat datang teman-temanku?" ucap Jung Ahn setelah melepaskan 1 tembakan diudara. Ada lubang kecil diatas bekas peluru yang ia tembakan. Matanya menatap 5 temannya beserta anak-anak mereka yang tengah menatapnya tajam. Serta orang-orang yang tidak ia kenal yang ia pikir adalah teman-teman Seokjin.
Jung Ahn kembali menyeringai dan beralih berdiri dibelakang Seokjin. Tangannya dengan santai menarik rambut Seokjin hingga meringis.
"Lepaskan tanganmu itu sialan!" tuan Min kembali menarik katananya dan bersiap untuk memotong tangan orang gila didepannya itu. Mereka belum bisa bergerak bebas karena bisa saja mengancam keaadaan Seokjin.
Jung Ahn tertawa, "Lihatlah Seokjin, keluargamu datang menyelamatkanmu. Tapi tidak akan aku biarkan mereka tenang"
Jung Ahn menodongkan handgunnya kearah kepala Seokjin. Yang membuat orang-orang disana semakin marah.
"Paman! Hentikan tingkah bodohmu itu!" ucap Hoseok.
"Aku benar-benar akan membunuhmu!" Namjoon bersiap mengambil revolver disakunya.
"Turunkan senjatamu itu!" ucap Minhyuk akan maju namun ditahan Hanbin.
"Kalau sampai peluru itu melesat, aku tidak akan membiarkanmu mati Jung Ahn. Kau tak pantas mati. Kau harus menderita seumur hidupmu!" tuan Jeon juga menarik revolvernya.
Jung Ahn tertawa senang melihat reaksi mereka. Ia masih setia menempatkan ujung handgunnya dikepala Seokjin. Sedangkan Seokjin memejamkan mata memikirkan bagaimana nasibnya kali ini. Apakah ia akan berakhir disini?
Jung Ahn menyeringai, "Silahkan kalau kalian bisa melakukannya"
.
.
.
tbc
hai semuanya...
terima kasih atas semua dukungan kalian para readers
dan maaf juga kalau typo masih bertebaran
semoga cerita ini masih bisa menghibur kalian
