Author's note: Masih efek liburan tampaknya, saudara-saudara. Entah sampai kapan badai ini menerjang. Karena banyak waktu, mari kita lanjutkan lagi chapter berikutnya. Tapi sebelumnya biarkan saya membalas semua review pembaca yang memang meninggalkan review.

.

Animangalovers

Hahaha! Cewek itu memang punya banyak nama panggilan, ya! Oh, dan terima kasih atas komentarnya. Penulis sangat tersanjung. Dan... hiks hiks...Penulis juga akan berjuang dalam penelitian. Terima kasih sekali.

BngJy

Banyak komentar dari berbagai chapter, ya? Sip. Penulis balas disini saja. Pertama, terima kasih mau membaca dan mengikuti fanfic kita ini. BngJy juga mengatakan tidak sabar Luffy dan Mingo bertarung, 'kan? Tenang. Di chapter ini pertarungan mereka diulas. Namun, berhubung Penulis payah, jadi minta maaf dulu kalau pertarungannya tidak keren, ya.

Axel

Hei, ini lebih cepat update daripada biasanya, 'kan? AHAHAHA! Penulis lagi ada waktu luang. Selain itu, penulis sedang mengerjakan fanfic baru Luffy x Hancock dan fanfic humor pendek Akatsuki dari anime Naruto. Semoga lancar, ya.

Emm... merayu kah? Berhubung Penulis bukan tipikal wanita yang mudah klepek-klepek saat dirayu, jadi... mengucapkan terima kasih saja, deh. Hahaha!

Blue Light

Sama, Penulis juga berlumut sejak libur karena pandemi. Terima kasih juga atas komentarnya. Penulis pun tak sabar menulis aksi pertarungan mereka. Omong-omong, fanfic Akatsuki yang sebelumnya tampaknya tak bisa dilanjutkan karena datanya hilang terhapus akibat sistem eror (serius). Jadi, Penulis sedang mengerjakan fanfic humor pendek Akatsuki saja. Tak apa, 'kan?

Oplovers

Hahaha, maaf, ya. Penulis banyak tugas sebelum pandemi. Baru bisa melanjutkan saat waktu luang sebanyak ini. Jaga kesehatan juga, dan terima kasih atas komentarnya.

.

Oke! Semua balasan komentar pembaca telah dibalas. Sekarang, mari kita baca saja chapter 29!.

.

Disclaimer : Oda Eiichiro

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

Chapter Twenty Nine: Fist of Fury

By Josephine Rose99

.

.

Note :

Semua karakter yang tampil disini tak punya kekuatan layaknya di anime aslinya.

OOC (Out of Character)= artinya kalau tokoh di fanfic ini banyak memiliki sifat yang tak sama dengan anime aslinya. Jadi jangan protes kalau tak suka. Kemudian miss typo, and of course NO LEMON! Seriously, that's really YAIKS, Gross!

Ide cerita bukan plagiat. Murni hasil pemikiran sendiri.

Jika menemukan kesalahan, jangan malu-malu. Katakan langsung lewat kotak review.

Bagi silent reader, harap tinggalkan jejak. Walaupun hanya kata 'lanjut' saja, sudah sangat diterima. Tapi kalau bisa berikan kesan dan kalau bisa bahas seluruh isi chapter.

Happy reading!

.

.

.

.

.

.

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

CHAPTER TWENTY NINE

FIST OF FURY

By Josephine Rose99

.

.

.

Gedung gym terbesar di distrik Koutou ini memiliki dua ruang utama. Pertama, ruangan fitness, dan kedua adalah ruang tinju. Di ruang tinju inilah ketua OSIS Tokyo Galaxy dan ketua Shichibukai bertarung habis-habisan. Mereka berdua telah berdiri sambil menyilangkan tangan di atas ring. Disisi lain, aksi mereka akan disaksikan oleh tim pendukung masing-masing yang telah mengelilingi arena tersebut. Luffy beserta teman-temannya di sisi timur, sementara Doflamingo beserta anak buahnya di sisi barat.

Hancock yang berada di belakang Luffy menjadi was-was. Dia sangat khawatir dengan hasil pertarungan ini. Bukannya dia tak percaya pada Luffy, tapi dia cuma tak mau cowok yang dia sukai itu terluka. Namun dia juga ingin melihat Doflamingo sialan itu babak belur. Ah, pusing. Karena itulah dia terus mengatupkan tangan, berkeringat dingin.

Bicara soal berkeringat dingin, semua orang di ruangan tinju besar itu juga merasakan hal yang sama. Padahal yang bertarung bukan mereka, melainkan pemimpin masing-masing. Tapi tekanan udara terasa berat sekali seolah berada di medan perang sesungguhnya. Tentu saja mereka harap-harap cemas akan hasilnya.

Tidak ada wasit resmi dari pihak gym, karena gym telah disewa seharian oleh Doflamingo. Maka, Crocodile menjadi wasit dadakan, sehingga dia masuk ke ring dan berdiri di tengah-tengah kedua cowok yang masih saling menatap intens itu. Dia berdeham sebentar sebelum berkata, "Sebelum pertarungan kalian dimulai, aku akan menjelaskan peraturannya lebih dulu. Dengarkan baik-baik."

Crocodile mengacungkan jari telunjuknya, "Pertarungan kalian bukanlah pertarungan tinju, tapi pertarungan bela diri. Tak peduli bela diri jenis apa yang kalian gunakan, yang terpenting jangan keluar dari ring. Keluar dari ring artinya kalah." kemudian mengacungkan kedua jarinya, "Pertarungan ini tidak ada sesi istirahat. Singkatnya, kalian bertarung sampai salah satu dari kalian kalah." dan terakhir ketiga jarinya, "Kalah artinya tidak bisa melanjutkan pertarungan. Bisa dikatakan aku menunggu salah satu dari kalian roboh dan tak bisa bergerak lagi. Aku hanya menghitung sampai 10. Jika masih belum bangkit, pertarungan berakhir. Itu saja. Ada yang tidak kalian mengerti?"

Mendengar penjelasan tiga aturan dari Crocodile membuat Luffy serta Doflamingo menjawab bersamaan, "Tidak."

Well, sepertinya tidak perlu menunggu lagi, eh? Rasa tidak sabar menghajar lawan tidak bisa dibendung selama ini. Pertaruhan ini harus berakhir disini sekarang juga.

Kepalan tangan Luffy semakin mengerat. Tatapan tajamnya masih belum lepas dari lawan di depannya. Sejenak dia menutup matanya, mengumpulkan semua tekad untuk mengalahkan Doflamingo. Kemudian, terbayang di pikirannya wajah Hancock yang tersenyum padanya. Dia tak bisa membiarkan senyum itu hilang lagi. Senyum itu harus tetap berada di wajahnya. Pokoknya dia harus menyelesaikan urusan Hancock dengan Doflamingo, setelah itu 'urusan'-nya dengan Hancock, "Lihatlah, Hancock! Kau akan bebas hari ini! Aku akan tunjukkan padamu!" beginilah suara isi hatinya yang bergemuruh.

Sementara itu, Hancock menempelkan ujung kedua tangannya yang mengatup pada bibirnya. Ya ampun, dia cemas sekali, "Luffy... hati-hati..." batinnya.

"Baiklah..." Crocodile pun keluar dari ring. Setelah melihat Luffy dan Doflamingo memasang kuda-kuda siap bertarung, dia kemudian memukul bel tanda dimulainya pertaruhan ini.

"MULAI!"

"HUOOOOOOO!" terlalu bersemangat, kalian bisa bilang begitu. Dua pimpinan ini langsung berlari maju begitu Crocodile memberi aba-aba.

GREP! Tinju kanan Luffy ditahan oleh tangan kiri Doflamingo. Begitu pun sebaliknya. Tinju kanan Mingo ditahan tangan kiri Luffy. Urat nadi kemarahan semakin mengeras karena serangan pertama tidak berhasil. Buktinya adalah suara gemeretak gigi akibat muak terus melihat lawan. Spontan mereka berdua melompat mundur bersamaan.

Tidak mau menunggu Mingo bergerak lebih dulu, Luffy langsung maju, bersiap ancang-ancang melancarkan tinju kanannya lagi. Namun Mingo yang sudah bisa menebak arah serangan Luffy, segera memukul Luffy dari sisi kiri Luffy yang terbuka. Sayangnya gerakan Luffy barusan hanya sebuah pancingan supaya Mingo membuka celah lebar. Luffy tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia menghindar secepat kilat dan tiba-tiba menunduk di depan Mingo, kemudian menghantam telak dagu Mingo dari bawah.

BUAGH! Serangan telak. Doflamingo tak bisa menghindar! Rasa sakit menjalar namun Luffy masih terus menghantamkan serangan bertubi-tubi.

DUAKK! Titik serangan kedua Luffy adalah telinga kiri Doflamingo. Seketika telinga Doflamingo tersebut berdenging! Ketua Shichibukai pun mundur terhuyung-huyung, mencoba menjaga jarak dari Luffy sambil menunggu telinganya pulih mendengar. Naif sekali. Dia terlalu bodoh Luffy cuma berdiri diam disana.

Luffy maju lagi dan BUGH! Pukulan telak di tenggorokan Doflamingo!

"ARGH!" Doflamingo mengerang kesakitan! Tenggorokannya begitu nyeri seolah pita suaranya lumpuh! Dia mencoba berteriak lagi, namun nihil. Terlalu sakit!

"Bajingan! Tenggorokanku!" kemurkaan Mingo bertambah besar. Dia memegangi tenggorokannya sekarang. Tetapi kemudian dia bergidik menyadari Luffy sudah bersiap-siap menghajarnya lagi tanpa memberi ruang.

"HEYAAAAAHH!" teriak Luffy sambil melancarkan serangan tinju ketiga.

BUAGHH! Tepat di ulu hati! Doflamingo sampai terpukul jauh ke tali ring. Dalam posisi bersandar dengan kedua tangan memegang tali ring, Doflamingo mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

Luffy sampai saat ini diatas angin! Tentu saja ini membuka harapan bagi para pendukungnya yang sedang bersorak-sorai. Terutama Ace dan Sabo yang kompak tos tinju satu sama lain, "Yeah!"

"Bagus, Luffy! Pertahankan!" ucap Zoro.

"Itu baru ketua Five Princes!" sambung Sanji menggebu-gebu.

"Wow... hebat juga dia..." kalau ini Nami yang bergumam keheranan empat serangan Luffy mulus mendarat di tubuh Doflamingo. Harus diakuinya, Luffy bertarung cerdas hari ini. Soalnya waktu bertarung di markas mereka tempo lalu, Luffy asal menyerang saja karena diliputi emosi. Disisi lain Nami merutuk kesal pada cowok yang disukai ketuanya ini. Kenapa tidak dari dulu saja dia pintar bertarung begini? Jadi mereka tidak perlu repot-repot seperti ini, 'kan?

Sementara para pendukung Luffy meneriakkan nama Luffy berkali-kali, Kuina cuma diam dalam pose menyilangkan tangan di dadanya. Ekspresinya serius sekali. Sabo yang disampingnya menepuk pelan pundaknya dan berkata, "Hei, jangan kaku begitu. Kau lihat sendiri kehebatan Adikku, 'kan? Dia menang cuma dengan empat serangan, Kuina!"

Mendengar Sabo begitu percaya diri, otomatis Kuina melirik jengkel padanya, "Dasar bodoh! Kalau Luffy bisa menang cuma karena ini, untuk apa aku repot-repot mengirim pasukan tambahan ke rumah maniak itu?"

"Hah?"

"Kau terlalu meremehkan Doflamingo. Coba kau pikirkan kembali, Sabo. Orang seperti dia bisa mengumpulkan petarung-petarung hebat dalam satu kelompok, Shichibukai. Dia tak mungkin bisa dikalahkan cuma dengan serangan yang cukup cerdas begitu."

"Jadi kau ingin bilang Adikku akan kalah?" Sabo sewot tidak terima Kuina meremehkan Luffy.

"Bukan begitu maksudku, tolol. Aku yakin soal kekuatan, Luffy tidak kalah darinya, tapi Luffy kalah cerdas. Makanya aku menceramahinya sebelum kita datang kemari untuk berpikir sebelum menyerang. Kalau tidak, dia pasti main asal tinju saja." Oooh, ternyata Madam cinta kita yang membuat Luffy bisa bertarung seperti ini, "Tapi sekarang masalahnya bukan itu, melainkan hasil akhir pertandingan."

Sabo tidak mengerti maksud Kuina. Kenapa dia mengkhawatirkan hasil pertandingan, "Hasil pertandingannya adalah Adikku menang."

"Idiot. Bukan itu yang kukhawatirkan..." sergah Kuina jengkel.

"Lalu?"

Kuina terdiam sejenak. Dia kembali melirik Luffy dan Doflamingo di ring, "Yang kutakutkan adalah... Doflamingo tidak menepati janjinya untuk tidak menyebarkan foto-foto Hancock dulu. Tidak peduli dia menang atau kalah hari ini." sebuah spekulasi tepat dari Kuina. Sabo saja membelalakkan matanya. Dia terkejut.

Mendadak Sabo menarik bahu Kuina agar dia bisa menatapnya langsung, "Tunggu! Jadi untuk apa Luffy bertarung disini kalau tak ada gunanya!?"

Yup, Kuina lupa kalau otak Sabo hanya sedikit lebih pintar dari otak Luffy. Kenapa dia tak mengerti maksud Kuina, sih? Dia menatap malas pada Sabo, "Dengar, Sabo. Pertarungan ini cuma umpan menarik Doflamingo dan pasukannya keluar dari rumah itu. Kau pikir kita bisa menyusup ke rumah maniak itu dengan penjagaan ketat ala agen intel?"

Sabo tak bisa berkomentar, "I-itu..." Kuina benar juga. Mana mungkin! "Berarti maksudmu adalah Luffy serta kita semua bertugas membuat Mingo juga anak buahnya babak belur disini, supaya mereka tak bisa kembali ke rumahnya untuk menghalangi Kid dan yang lainnya... begitu?" akhirnya Sabo mengerti. Diam-diam dia kagum juga dengan rencana jitu Kuina mempersiapkan ini.

"Anak pintar." Kuina tersenyum kecil pada Sabo, "Selain itu, kita harus berjaga-jaga jika Mingo tidak menepati janjinya. Makanya Kid dan yang lainnya kukirim kesana. Disini kita akan mengulur waktu sampai mereka berhasil menyusup, serta mengambil atau menghancurkan barang bukti. Daaann... happy ending!"

Kagum. Satu kata untuk mendeskripsikan perasaan Sabo pada Kuina saat ini. Ya, sekarang di matanya, Kuina terlihat seperti malaikat. Maklum, selama ini Kuina terlihat seperti Mak Lampir dari gua batu baginya. Jadi ini benar-benar sebuah momen, ck ck ck.

Bagaimana jika kita kembali ke pertarungan?

Doflamingo nyaris tersungkur di hadapannya jika tak ditahan oleh tali. Luffy kembali memasang kuda-kuda. Dia yakin hasil berguru MMA (Mixed Martial Arts) pada Rayleigh akan membantunya menang. Maka, dia kembali mengirimkan tinju kanannya pada Doflamingo.

"DOFLAMINGOOOO!"

Tapi, dalam jeda beberapa detik tersebut, Luffy tak menyadari sesuatu.

Untuk pertama kalinya Doflamingo mendapat lawan yang patut ia perhitungkan. Dia disudutkan dalam situasi berbahaya. Tubuh berotot sempurna yang memiliki segalanya, namun tak pernah dia lepaskan kekuatan dia sepenuhnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, badan Doflamingo memanas seperti terbakar!

DUAGGHH! Terlalu cepat hingga Luffy tak bisa menghindar! Tendangan kaki kiri Doflamingo menusuk diafragma Luffy!

"Agh!" Luffy jatuh terduduk beberapa langkah ke belakang. Sambil memegangi dadanya, Luffy pun bangkit. Dia menatap penuh amarah pada Mingo yang sudah berdiri tegak dari posisinya.

Luffy memang berkembang dan jadi lebih kuat dari siapa pun. Tapi Luffy yang hebat itu tersadar bahwa dia yang hebat telah membangunkan jati diri Doflamingo. Sebuah kemampuan yang sebenarnya dari tubuh berotot sempurna itu untuk dapat keluar.

Ace mendelik kaget Doflamingo terlihat biasa saja setelah terkena empat serangan telak Luffy. Dia merasakan firasat buruk. Sebuah firasat dimana pertarungan ini tidak dapat berakhir dengan mudah, "Cih! Ternyata tidak semudah ini, hah?"

Sekarang Luffy dan Doflamingo hanya berdiri dalam jarak lima langkah dari satu sama lain. Aura tak bersahabat keluar dari tubuh kedua orang itu.

"... Kau hebat juga, brengsek... tampaknya aku terlalu meremehkanmu..." gumam Mingo pelan. Kemudian setelahnya melirik tajam pada Luffy, "... Sepertinya aku harus mengeluarkan seratus persen kekuatanku untuk membunuhmu disini..."

Insting liar Luffy bisa merasakannya. Aura membunuh yang begitu kental ini tidak bisa dihiraukan. Situasi semakin berbahaya. Luffy menaikkan tingkat kewaspadaannya pada seeekor monster liar ini.

Sret... Bsyuuungg! Dalam waktu singkat, Luffy melompat maju hendak meninju wajah Doflamingo yang sempat gagal di serangan sebelumnya. Sebuah serangan cepat hingga semua orang terpaku.

Namun...

BUAGGHH! Doflamingo meninju wajah Luffy begitu cepat, sangat cepat sehingga Luffy terdorong jauh dan berakhir ditahan oleh tali ring! Wajahnya mendongak, memperlihatkan darah segar mengalir dari hidungnya! Bahkan karena merasakan tenaga yang seketika menurun, tubuh Luffy merosot dalam posisi berlutut.

Bibir Hancock membulat sempurna. Raut wajah panik itu tak bisa memungkiri betapa terkejutnya dia Luffy mimisan separah itu hanya dengan satu pukulan! "LUFFY!" teriaknya panik. Dia mendorong kursi rodanya mendekati Luffy yang bersandar pada tali. Ditariknya pakaian Luffy seolah ingin membangunkannya sambil terus memanggil namanya, "Luffy! Luffy! LUFFYYY!"

Sementara itu, Ace melotot tak percaya melihat adegan barusan. Terlalu cepat! Sebuah counter!? Sama sekali tak terlihat olehnya! Mereka bersaudara yang dilatih habis-habisan oleh Garp, Dragon dan Rayleigh ini tak bisa melihat serangan cepat Doflamingo tadi!

"Eh? Apa?" Usopp sendiri saja baru sadar Luffy sudah berlutut begitu. Hanya kedipan sesaat dan dia melihat ketuanya dalam situasi tidak menguntungkan, "Oi, Luffy!"

"Luffy-san!" teriak Vivi ikut panik.

Zoro dan Sanji saja mematung. Tak berkutik melihat hal tadi. Tanpa sadar mereka melotot tak percaya melihat ketua mereka dipojokkan dalam satu serangan!

"Cepat sekali! Kau melihatnya, Marimo?"

"Tidak. Sama sekali tidak. Apa-apaan itu barusan?" gumamnya tak habis pikir. Siapa sangka Doflamingo sekuat ini? Sialan.

...

..

LUFFY'S POV

.

Sialan... tinjunya cepat sekali. Apa-apaan dia? Ck, wajahku sampai sakit begini cuma karena satu tinju darinya? Menyedihkan sekali dirimu, Luffy! Yang benar saja kau tak bisa berbuat apa-apa sekarang!

Gawat. Jangan pergi dulu, kesadaranku! Pertandingan ini belum selesai! Aku masih belum selesai!

"LUFFY! LUFFY, SADARLAH!"

Ah...

Suara itu... Hancock? "... Ha-Hancock..." panggilku pelan. Kulirik sedikit ke belakang dan mendapatinya menunjukkan raut wajah cemas itu padaku.

"Kau tidak apa-apa? Darahmu -hidungmu berdarah- ya ampun!" dia lebih panik sekarang. Apa keadaanku separah itu?

"A-aku tidak apa-apa. Hanya mimisan. Tenanglah..." aku berusaha menenangkannya. Tak mungkin aku terus membuatnya khawatir, 'kan? Aku tak mau terlihat lemah di depannya.

"Hooo... pacarmu khawatir sekali. Aku jadi iri melihat kalian bisa bermesraan di saat seperti ini."

Kulirik Doflamingo dengan jengkel karena sindiran menyebalkannya itu. Rasanya ingin sekali memasukkan kakiku ke mulut kotornya. Pria brengsek itu... dia takkan kumaafkan. Harus kubalas! Aku takkan kalah hanya karena ini! "Tutup mulutmu, sialan..." desisku sambil berusaha bangkit. Tangan kananku masih berpegangan pada tali ring saat aku berkata lagi, "Lagipula kenapa jika kami bermesraan? Kau cemburu?" aku nyaris tertawa melihat emosinya terpancing. Kuseka darah yang mengalir dari hidungku ini dan kembali memasang kuda-kuda, "Pukulanmu barusan belum apa-apa dibanding rasa sakit yang dirasakan Hancock karenamu! Ayo maju!"

Doflamingo kesal, terlihat dari dia yang juga memasang kuda-kuda sempurna, siap menyerangku, "Berlagak sok kuat, hah!? Aku akan menutup mulut yang terlalu banyak omong itu!"

"Mulutmu lah yang harus ditutup untuk selamanya, bedebah! HEYAAAHH!"

Pukulan bertubi-tubi kuberikan pada maniak tersebut. Tapi dia berhasil menangkis, mengelak, bahkan membalaskan serangan. Aku tak mau wajahku menjadi target tinjunya lagi, jadi aku juga melakukan hal yang sama. Berkali-kali aku menahan serangannya yang cepat itu dan mencoba mencari celah, walau dia bisa menghindarinya dengan melompat mundur beberapa langkah. Apa dia mencoba menjaga jarak dariku?

Hanya dalam satu kedipan mata, siapa sangka kaki kanannya akan mengenai leherku dari samping? Cepat sekali! Beruntung dengan refleks yang kulatih selama berguru pada Rayleigh bisa menahannya dengan tangan kiriku. Benar-benar benturan keras, seolah tulang tanganku akan patah!

"Tidak, tidak bisa terus begini! Tenang, Luffy! Ingat yang dikatakan Rayleigh padamu! Jangan menurunkan konsentrasi dan analisa gerakan lawanmu, lalu serang!" aku memperingati diriku sendiri. Aku tak bisa membiarkan arus pertarungan ini didominasi olehnya!

Analisa. Analisa lawanmu!

Baiklah... serangan balik.

.

END OF LUFFY'S POV

.

.

"Brengsek! Aku tak sangka Doflamingo sialan itu sehebat ini!" Kouza mengumpat kesal karena tak suka arah angin pertarungan. Dia tahu kaptennya terlihat kesulitan menahan semua serangan Doflamingo. Kalau begini terus, Luffy bisa kalah!

"Jangan kalah, Luffy! Menanglah! Kau harus menang!" sorak semangat dari Usopp membangkitkan tekad semua pendukung Luffy untuk semakin menyemangatinya.

"Luffy!"

"Luffy!"

"Luffy-san!"

"Menanglah, Adik bodoh! Jangan mempermalukan nama Monkey!"

"MENANGKAN PERTARUNGAN INIIIII!" teriak kompak dari tim yang menyokong tekad dari ketua OSIS Tokyo Galaxy. Sebuah solidaritas tinggi, tak tergoyahkan.

Sementara bagi Doflamingo dan kawan-kawan, sorak sorai itu lebih terdengar seperti raungan putus asa. Shichibukai beserta seluruh anak buah Doflamingo tertawa melihat Luffy terus dipukuli tanpa bisa membalas. Mereka begitu yakin ketua Five Princes tersebut akan tumbang sebentar lagi.

"Menyerah saja, Mugiwara! Jangan sia-siakan nyawamu!" ini ejekan kurang ajar dari Teach.

"Masa' kau mau babak belur demi cewek di kursi roda itu!? Bodoh sekali kau, Gyahahahaha!" disambung ejekan yang lebih kurang ajar dari Moria.

Teman-temannya mendukungnya. Itu semakin menambah semangat Doflamingo agar semakin cepat menyerangnya bertubi-tubi! Dia tertawa jahat sambil terus memukuli Luffy yang masih menangkis pukulannya walau sesekali mengenainya, "HAHAHA! MENYESAL LAH DI DALAM PETI MATI, MUGIWARA! HIYAAAAHH!" sebuah tinju kiri berkecepatan tinggi dilancarkan mengarah tepat pada wajah Luffy. Begitu terbuka!

"LUFFYYYYY!" Hancock berteriak ketakutan! Dia tak sanggup melihatnya lagi!

Tapi... dalam jeda serangan tersebut, Doflamingo tidak menyadarinya, tidak, tepatnya menghiraukannya walau menyadari. Sama seperti Luffy yang menyadari telah membangunkan sisi lain Doflamingo, Doflamingo juga telah membangunkan kekuatan tersembunyi dari dalam diri Luffy.

Kekuatan tersembunyi yang hanya bangkit di saat tertentu. Di saat Luffy mendengar orang terpenting baginya ditertawakan di tengah-tengah dirinya berjuang. Sorot matanya begitu tajam. Emosinya memuncak. Amarahnya tak dapat ditahan lagi. Hingga kemudian dia pun melepasnya. Melepaskan kekuatan tersembunyi itu.

Sett! Seketika Luffy berkelit ke samping, menghindari tinju Mingo! Sangat cepat, lebih cepat dari serangan Mingo sendiri! Ketua Shichibukai pun terkejut bukan main Luffy bisa menghindari serangan cepatnya, padahal sebelumnya kena telak! Tapi sebelum Mingo bereaksi, Luffy sudah lebih dulu melompat dan menendang wajah kanannya!

"Taekwondo..." itulah gumaman Luffy yang didengar olehnya.

DUAGHHH! Tendangan kaki kiri yang begitu kuat dan cepat itu kembali membuat telinga kanan Mingo berdenging disertai rasa sakit. Namun, Mingo masih bisa menjejakkan kaki kuat-kuat supaya tidak jatuh.

"Brengsek! Jadi dia bukan hanya memiliki dasar tinju!? Kurang ajar!" Doflamingo semakin kesal. Dia mengarahkan tendangan kaki kirinya pada Luffy. Tapi terlambat! Luffy mendahuluinya dengan kuda-kuda dari salah satu seni bela diri yang tak asing baginya.

"Karate..."

BUAGHH! Tinju kiri Luffy kembali memukul ulu hati Mingo! Mingo sampai batuk tertohok karena ulu hatinya begitu nyeri!

Mingo tetap bisa berdiri tegak, walau dia kembali mencoba meninju dada Luffy. Dihiraukannya rasa sakit itu, "Sialan! Karate!? Berapa seni bela diri yang dia pelajari!?" muak sekali! Dia berharap tinjunya ini benar-benar mengenainya. Sayangnya kembali lagi dia terpukau. Tangan kanan yang berniat meninjunya tersebut, Luffy pegang kemudian mengubah posisi menjadi membelakangi Mingo. Selanjutnya, Mingo merasakan tubuhnya seperti terlempar ke atas. Tangan kanannya diputar dan tanpa disadari punggungnya sudah menghantam lantai ring!

BAAMMM! Sebuah bantingan keras dari Luffy! Punggung Doflamingo tak bisa berbohong. Benar-benar seperti patah!

"UAGGHH!" erang Mingo kesakitan.

Luffy kembali bergumam menyebutkan asal bela diri dari masing-masing serangan, "... Judo..."

Serangan balik! Sempurna! Seluruh orang yang mengelilingi arena terpukau! Mereka terkagum-kagum Luffy membalas dengan rentetan tiga serangan, dan itu berhasil pula! Ace, Sabo serta Kuina bengong. Mulut mereka menganga lebar seperti kuda nil, mengundang banyak lalat untuk hinggap masuk. Bahkan kondisi anak buah Kid juga tak jauh beda. Mereka tak bisa berkata-kata karena terlalu shock. Five Princes serta Angels pun juga.

Awalnya mereka berpikir Doflamingo terus mendominasi, namun terjadi sebaliknya. Harus diakui, Luffy benar-benar luar biasa! Dia sangat keren!

"HUUUUUOOOOOOOOOOOO!" teriakan pendukung Luffy makin membahana. Sebagian dari mereka mengacungkan tinju ke udara saking semangatnya. Sementara anak buah Mingo cuma membatu di seberang sana.

Mingo tak bisa terus membiarkan ini. Dia melepaskan tangan Luffy yang masih memegang tangannya itu dengan kasar. Luffy pun melompat mundur, kembali bersiap-siap menyerang. Mingo sendiri berbalik dan bangkit menahan sakit. Tapi SEKALI LAGI, sebelum Mingo memasang kuda-kuda, tanpa disadari lutut Luffy sudah berada di wajahnya!

DUAGH! Serangan kilat! Luffy melompat kemudian kedua tangan Luffy memegang kepala Mingo, diikuti hantaman lutut kanan yang menghantam wajah Mingo! Sebuah serangan seni bela diri yang lain.

BRUGHH! Mingo pun akhirnya jatuh terbaring. Hidung dan mulutnya mengalirkan darah segar. Sakit sekali! Dia merutuk kenapa di pertarungan ini tidak ada sesi istirahat. Memang memalukan, tapi dia harus mengakui bahwa Luffy dalam mode berbahaya.

Masih dalam posisi berbaring terlentang, Mingo melirik Luffy yang sedang berdiri di hadapannya. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu menatapnya tajam sembari berkata, "... Muay Thai..."

"Cih!" Mingo mengatur napasnya yang memburu. Dia terpojok lagi, "Bo-bocah sialaaaan..." desisnya penuh emosi. Dia tak habis pikir kenapa Luffy benar-benar menjadi orang yang berbeda! Padahal sebelumnya dia yakin akan menang mudah! Tapi ini...

"Makanya sudah kubilang..." ucap Luffy penuh penekanan.

"...Hah?"

Luffy mengacungkan tinju kanannya pada Mingo disertai tatapan membunuh, "...Satu tinjumu tadi...belum apa-apa..."


...0_0/0_0...

~chaptertwentynine~

...0_0/0_0...


Sementara itu, di kediaman keluarga Donquixote...

.

.

Untuk sementara waktu, Corazon dan Law harus beralih profesi sebagai agen mata-mata. Lihatlah mereka berdua yang bersembunyi di balik dinding sambil memerhatikan posisi para penjaga di halaman rumah Donquixote. Intinya, mereka mau tidak mau segera menyingkirkan mereka semua supaya Kid dan yang lain bisa masuk. Beruntung semua pengawal Doflamingo yang biasanya berjaga di dalam rumah sudah dibawa ke gym. Seluruh keluarga Corazon juga pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan. Jadi keadaan aman 70 persen. Tapi sekarang masalah 30 persennya BAGAIMANA?

Yang lebih parah, mereka semua bersenjata! Salah langkah sedikit saja, anggota Supernova bisa tewas! Baiklah, inilah saatnya Corazon menggunakan otaknya setelah sekian lama. Pokoknya dia harus cepat menyingkirkan mereka yang berjumlah 20 orang!

Sementara Law mendecih kesal karena kehabisan ide. Maklum, soalnya dia tak berani mengambil risiko sebesar itu. Awalnya dia punya ide, yaitu untuk menelepon salah satu dari mereka dengan suara Ayah Corazon menggunakan alat pengubah suara. Kemudian meminta mereka semua pergi menyusul Doflamingo. Sayangnya, saat ini seluruh keluarga Corazon masih di dalam pesawat! Mana mungkin dia bisa menelepon! Justru mereka makin curiga, 'kan?

Benar-benar sial. Law melirik Corazon yang komat-kamit sendiri menyebutkan posisi semua penjaga itu. Apa Corazon pikir mantra bisa menyelesaikan masalah ini? "Hei, kau sedang apa?"

"Hmm..." Corazon mengusap dagu, "Law, aku punya ide."

Akhirnya! Law tentu penasaran apa itu, "Katakan! Kita tidak punya waktu! Orang-orang Kuina belum tentu bisa menahan lama mereka!"

Bukannya langsung menjelaskan idenya, Corazon malah melesat pergi, "Kau tunggu disini. Aku mau ambil sesuatu dari kotak perkakasku di kamar."

"Hah? O-oi!" terlambat. Corazon menghilang dari pandangan. Tinggal lah Law garuk-garuk kepala sendiri.

Sebenarnya apa rencananya?

.

.


Mari kita beralih kepada pasukan dedemit yang masih menunggu sinyal diluar...


.

.

"Oi, ketua. Mau sampai kapan kita menunggu? Bagaimana jika para Shichibukai sialan itu kembali selagi kita disini?" Drake mengomel ala Ibu kos di belakang Kid. Dia benar-benar tak sabar untuk menyusup rupanya. Soalnya dia muak terus tiarap di balik semak-semak di sekitar pagar rumah keluarga Doflamingo.

Sejujurnya Kid pun was-was juga. Dia takut jika Law dan Corazon tak bisa mengalihkan perhatian penjaga. Dia tak mungkin membawa nyawa teman-temannya pada maut. Tapi dia masih bersikap cool, saudara-saudara, "Sabar, Drake. Lagipula belum 10 menit kita disini."

"Apa salahnya kita langsung masuk saja?" balas Drake masih bandel.

"Kau bodoh, ya? Mereka semua bersenjata api! Dan aku tidak mau kehilangan nyawaku di rumah si busuk itu!" balas Hawkins sewot.

"Kalau begitu suruh mereka lebih cepat! Aku tak suka buang-buang waktu!"

"Drake, kalau kau masih berkicau di ujung sana, akan kujejeli mulut sialmu dengan kakiku yang bau kaus kaki ini." ucap Bonney tebar aura-aura membunuh. Serius, telinganya sakit mendengar Drake terus mengoceh tidak jelas.

.


Kita kembali ke Law dan Corazon.


.

Law melongo begitu Corazon memberikan sebuah benda berbentuk tabung padanya sekembali dari kamar. Diliriknya Corazon cengengesan unjuk gigi dan memberi kode jari agar segera mengikutinya ke halaman. Maka, dia pun terpaksa mengikutinya. Ya, dia tahu benda tabung ini. Tapi... darimana Corazon mendapatkannya? Ck, hebat juga Donquixote. Benar-benar bukan keluarga sembarangan sampai bisa mendapatkan barang ilegal. Baiklah, dia sekarang tahu rencana Corazon.

Corazon terus berjalan ke halaman diikuti Law hingga akhirnya berdiri tepat di belakang ketua dari para penjaga itu. Seorang pria aneh berambut panjang berantakan. Saudara Doflamingo ini pun mencolek punggungnya, membuat pria itu berbalik, "Ah, Rosinante-sama. Ada apa?"

"Caesar, bisa kau kumpulkan anak buahmu? Berbaris dengan rapi. Ada yang ingin kukatakan," Corazon tebar senyum manis palsu.

"Oh, baik, Rosinante-sama!" setelah berkata begini, dia berteriak memanggil pasukannya, "Hei, kalian! Cepat berbaris! Ada yang ingin dikatakan Rosinante-sama!"

Seluruh anak buah Caesar menjawab kompak, "HA'I!"

Semua penjaga tersebut pun berlari kecil menuju posisi Caesar dari berbagai penjuru. Dan dalam durasi waktu yang dibutuhkan mereka untuk berbaris, Law berbisik pada Corazon, "Hoi, Corazon? Siapa pria aneh ini?"

"Oh, namanya Caesar Clown. Ketua para penjaga di keluarga kami." jawab Corazon membeberkan identitasnya.

"Kenapa keluargamu mengangkat pria aneh ini jadi kepala penjaga, hah?" oke, tidak heran Law bertanya begini. Rambut panjang urakan, tinggi kurus seperti tiang listrik, ditambah wajah badutnya yang sama sekali tidak mengundang selera wanita. Apa dunia ini kekurangan orang normal sampai makhluk gaib sepertinya diangkat menjadi kepala penjaga?

"Jangan tanya aku. Doflamingo memungut serpihan kulit kuaci itu dari gang kumuh di pinggiran Tokyo. Sudahlah, fokus saja pada misi kita," Corazon mulai muak membahas orang tak jelas macam Caesar.

Baiklah, barisan pasukan penjaga -lima baris dan empat kolom- keluarga Donquixote telah siap. Tentu saja sebagai kepala pasukan, cowok tak jelas spesiesnya yang bernama Caesar Clown itu berdiri di pinggir kanan depan. Setelah itu, Corazon mengambil posisi di hadapan mereka siap mengoceh tidak jelas, sementara Law berjalan memutari pasukan alias berdiri di belakang mereka.

Oke, sampai disini, rencana lancar sudah. Tinggal menunggu waktu yang tempat. Corazon pun berdeham sebagai tanda untuk Law supaya tetap siaga, walau Caesar dan anak buahnya menganggap itu bukan apa-apa.

Senyum mengembang paling palsu mengambil alih, "Semuanya, terima kasih atas kerja keras kalian demi menjaga keluargaku! Aku benar-benar sangat berterima kasih dari lubuk hatiku yang paling dalam," Corazon berakting terharu sambil menyentuh dadanya, "Maka, pada hari ini, mengingat seluruh keluargaku sedang pergi dan hanya kita disini, bagaimana kalau kita semua bersenang-senang?" oooh! Rayuan iblis mulai bekerja, para pembaca!

"Heh?" Caesar melongo. Anak buahnya juga.

Ya, maklum, 'kan? Corazon memang lebih dermawan kalau soal memberi bonus daripada saudara kotoran kambingnya itu. Tapi, biasanya dia memberi bonus di akhir bulan saat gajian. Dan hari gajian masih jauh! Apalagi, Ayah Corazon memperingatkan mereka supaya berjaga ekstra penuh hari ini. Lalu, kenapa Corazon...?

Ah, Caesar mulai curiga. Dia langsung bertanya padanya, "Rosinante-sama, saya sih senang saja jika kita berpesta. Tapi, kalau Tuan besar sampai tahu..."

"Ck ck ck ck..." Corazon menggoyang jari telunjuknya, "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan rahasiakan ini dari Ayah. Selain itu, Mingo bilang dia akan pulang setelah mengabariku, 'kan? Jadi sebelum dia pulang, kita bisa membereskan sisa-sisa berpesta kita." tawaran menarik ini otomatis menjadi suap bagi Caesar dan anggotanya.

"Ketua, tak apa-apa, 'kan? Sesekali! Sudah lama kita tidak berpesta!" hasutan datang dari anggota 1.

"Benar, ketua! Kapan lagi kita mendapatkan kesempatan ini?" hasutan anggota 2.

"Selain itu, sepertinya tidak ada sesuatu yang berbahaya akan terjadi hari ini. Jadi, kita bersantai sebentar saja. Ayolah, ketua!" lagi-lagi hasutan bertubi-tubi dari anggota selanjutnya.

Ternyata pasukan penjaga Donquixote dominan diisi oleh penghasut, ck ck ck.

"Emmm..." yak, iman Caesar mulai goyah layaknya seorang politikus kebanyakan janji yang disogok uang milyaran, "... Oke, deh. Kita berpesta sebelum Doflamingo-sama kembali." tuh 'kan? Terhasut juga. Huh, dasar lemah.

"YEEEEEEEYYYYY!" beginilah sorak sorai dari para penghasut tersebut.

"SHURORORORORO!" eh? Tawa konyol macam apa ini? Law saja sampai shock berat mendengar tawa gaib Caesar.

"OKE! BANTU AKU MENGAMBIL SEMUA MINUMAN DAN MAKANAN DARI GUDANG PENYIMPANAN, LALU KITA BERPESTA PORAAA!" teriak Corazon angkat tinju.

"HA'I, ROSINANTE-SAMAAA!"

Tuk! Perhatian Caesar dan yang lainnya berhasil dialihkan, sampai mereka tidak menyadari tabung yang dibawa Law telah jatuh menggelinding di tengah-tengah mereka. Corazon melihat benda itu pun seketika menarik napas panjang dan menahan napas, diikuti Law yang menutup hidungnya.

Dua detik kemudian, dari tabung tersebut keluarlah asap putih yang menyelimuti seluruh pasukan dalam sekejap. Sorak sorai berhenti sejenak berganti kebingungan. Celingak-celinguk ke sekeliling disertai tanda tanya besar, seolah bertanya pada diri sendiri, 'Apa yang sebenarnya terjadi!?'.

"Asap apa ini?"

"Ke-kebakaran!?"

BRUGH!

Caesar langsung berbalik begitu mendengar suara terjatuh. Matanya melotot horor melihat Corazon ambruk telungkup. Raut wajahnya berubah. Sekarang dia dihantui perasaan bersalah karena gagal melindungi majikannya, "ROSINANTE-SAMA!"

"Ketua! Tuan Law disini juga pingsan!" sahut salah satu anak buah Caesar. Dia memapah tubuh Law sambil terus memanggil namanya, berharap supaya bocah itu segera bangun.

"APA!?" Caesar merutuk sendiri. Kenapa disaat seperti ini bocah itu malah-?

BRUGH! BRUGH! BRUGH! BRUGH! Satu persatu anak buah Caesar tumbang karena terlalu banyak menghirup asap! Caesar pun segera menutup hidungnya, kemudian berlari kecil mendekati salah satu dari mereka. Dia membalikkan tubuh mereka dan percuma. Mereka semua pingsan!

Seketika Caesar tahu bahwa asap ini adalah obat bius. Langsung saja dia berlari menjauhi asap menuju ruang dimana asap itu takkan mengenainya, namun terlambat. Sama seperti anak buahnya, ketika dia sudah menjauhi area tersebut, Caesar merasakan tubuhnya gemetar dan kehilangan tenaga. Kakinya mulai goyah, sehingga Caesar jatuh berlutut lalu dadanya pun menyentuh tanah.

"Brengsek! Bom bius, ya!? Tapi siapa yang..." dalam hitungan detik, kepala pasukan penjaga keluarga Donquixote kehilangan kesadaran.

Resmi sudah seluruh penjaga di halaman rumah tersebut ditangani.

Set! Set!

He? Kenapa tiba-tiba Law dan Corazon bangkit dari alam kubur? Mereka berdua yang masih dalam area bom bius tersebut langsung melompat kemudian lari menjauh! Tentu saja sambil menahan napas. Setelah dirasa cukup jauh dan aman, kompak mereka berdua menghela napas hebat sambil terbatuk ala Kakek-Kakek.

Law melirik penjaga keluarga temannya itu dari balik asap yang mulai menipis. Mereka benar-benar pingsan. Bisa gawat kalau Law dan Corazon tidak bisa menahan napas lama. Yang benar saja ikut berpingsan ria di halaman? Selain itu, beruntung Corazon masih punya stok bom bius. Jadi setidaknya sampai saat ini rencana lancar.

Sambil tersenyum, Law berkata begini pada saudara Doflamingo, "Kau memang hebat, sobat! Kita berhasil menyingkirkan mereka!"

Corazon memberikan cengiran khasnya, "Hehehe... mereka pasti tak menyangka ada musuh di dalam selimut, 'kan?"

"Kalau begitu, ayo temui Kid dan kawanannya! Mereka pasti sudah menunggu lama!"

"Oke! Tapi sebelum itu, kita ikat dulu mereka lalu sembunyikan senjata mereka."

.

.

Kriiieeetttt! Graaaakkk!

Pintu gerbang keluarga Donquixote pun terbuka! Kedua sahabat dekat itu telah berdiri di luar gerbang dan bersiul bersamaan. Sebuah sinyal pertanda 'kalian bisa masuk sekarang' tiba. Tanpa buang banyak waktu, dari semak-semak muncul tokoh-tokoh maksiat berlari kecil ke arah mereka sambil pasang muka bete.

"Dasar! Kalian lama sekali, tahu! Aku nyaris berkarat karena menunggu kalian!" Drake kembali lagi mengoceh ala Emak-Emak.

Corazon menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Ahaha, maaf, maaf! Cukup sulit mengatasi orang-orang di rumahku ini!"

"Baiklah, kembali ke topik. Semua aman, Corazon?" Kid langsung ke intinya. Ya, dia tak bisa berlama-lama, 'kan? Bisa gawat kalau bala bantuan datang. Belum lagi seandainya mereka berurusan dengan polisi. Dan itu belum termasuk jika dirinya gagal, tonjok sakti Kuina bakal mendarat di giginya!

"Tidak seratus persen aman, sih..." jawab Corazon jujur.

"Maksudmu?" Bonney tidak mengerti. Kalau pasukan penjaga sudah disingkirkan, berarti seharusnya seratus persen aman, 'kan?

"Ada tiga hambatan," Corazon mengacungkan ketiga jarinya pada Bonney, "Satu. Walau aku dan Law berhasil membius para penjagaku dengan bom bius, itu takkan bertahan lama. Mereka pasti akan kembali sadar. Dan buruknya lagi, kalau mereka tahu kami berdua berpura-pura pingsan serta membantu kalian, kami tamat. Jadi kalian harus pergi dari sini sebelum mereka bangun."

"Apa!? Jadi kita tak punya banyak waktu?" sela Hawkins tak percaya waktu mereka hanya sedikit.

Corazon menghiraukan Hawkins. Dia melanjutkan kata-katanya lagi, "Dua. Aku memang sudah me-non aktifkan semua CCTV di rumah ini, jadi kalian tidak akan terekam. Masalahnya adalah untuk menuju gudang penyimpanan di ruang bawah tanah keluarga kami, kalian harus menghadapi beberapa anak buah Mingo. Mereka bahkan jauh lebih hebat dari penjagaku. Selain itu, aku jarang berbicara dengan mereka dan mereka juga tak mau mendengarkan perkataanku."

"Hmm..." Kid berpikir sejenak tentang skenario rencana mereka, "... Kalau begitu beberapa dari kami harus mengalihkan perhatian mereka. Sehingga setidaknya salah satu dari kami bisa masuk ke gudang dan mengambil data itu..."

Oop, tidak semudah itu, Kid. Kau belum mendengar hambatan ketiga, 'kan?

"Tiga, Kid. Parahnya gudang itu dikunci password oleh Doflamingo dan hanya dia yang tahu passwordnya." Nah, ini dia hambatan terbesar mereka. Corazon mengucapkannya dengan ekspresi seolah menahan panggilan alam.

Spontan Kid langsung menarik kerah pakaian Corazon dan menyemburkan air liurnya sambil mengomel, "HAH!? Jadi bagaimana caranya kami masuk kalau kau sendiri tidak tahu kata sandinya!?"

Tak terima sahabatnya diperlakukan begitu, Law langsung bertindak dengan mendorong Kid, "Hei, tenang dulu, Kid! Kau tak perlu sekasar itu pada Corazon, 'kan?"

"Oi, Kid..." panggil Bege yang dari tadi cuma diam.

Kid menoleh padanya, "Apa?"

"Kalau soal kata sandi, serahkan padaku. Aku bisa mengatasinya." ucap Bege dengan wajah yakin seyakin-yakinnya. Ck, dia bicara seolah seorang hacker FBI yang bisa meretas informasi negara saja.

Kid menarik tangannya dari kerah pakaian Corazon. Selagi Corazon batuk-batuk dahsyat, Kid menatap ekspresi Bege yang super serius.

Ah, sudah lama ekspresi itu tidak dia tunjukkan. Dia suka itu. Baiklah, sepertinya dia bisa mempercayainya, "Oke, Bege. Soal sandi gudang, kuserahkan padamu." Kid berkata begini sambil sok pasang wibawa.

Bonney mencibir disampingnya. Dasar sok pamer. Padahal biasanya dia bertingkah konyol bersama Ace dan Sabo tempo hari. Itu pun belum ditambah dengan kemaksiatan dari Kuina. Heran, deh. Apa jangan-jangan Kid punya kepribadian ganda? Bertingkah keren di depan Supernova, sementara bertingkah pembantu Mak Lampir dari gua batu di depan tim mak comblang? Entahlah.

Lupakan rutukan Bonney yang tidak pernah menghormati ketuanya tersebut. Karena sekarang Kid berbalik, kemudian berjalan menuju ke balik gerbang alias rumah keluarga Donquixote. Diikuti oleh teman-temannya dari belakang, lagi-lagi dia berkata sok keren, "Penyusupan dimulai!"


.../0_0/-_-''/...

~chaptertwentynine~

.../;D/T_T/...


Tak bisa dipercaya. Itulah yang dirasakan oleh Sanji saat ini.

Kedua matanya melihat perpaduan serangan dan pertahanan dari kedua belah pihak. Luffy yang awalnya tak bisa menandingi, semakin bisa sepadan dengan serangan Doflamingo. Hal inilah yang membuat Sanji tak bisa mempercayainya. Darimana datangnya kekuatan itu? Dalam sekejap dia bisa memojokkan Doflamingo.

Disisi lain, Doflamingo terus memukul Luffy. Pukulan begitu cepat itu pun masih bisa ditangkis. Doflamingo bisa merasakannya. Luffy bisa melihat semua serangannya dan mengikutinya dengan tangkisan. Benar-benar menyebalkan.

"Sialan! Tanganku sakit karena terus-menerus memukuli bocah ini!" senewen Mingo kambuh, "Harus cari celah!" begini batinnya tanpa mengendurkan serangan.

BUGH! BUGH! BUGH!

PLAKK! DUGH! DUAGH!

Tinju dari kanan atas, kiri bawah dan depan dapat ditangkis Luffy dengan lengannya. Konsentrasi bocah ini meningkat. Sorot matanya begitu serius, hanya fokus pada lawan. Tapi Luffy menyadari bahwa dia tak bisa selalu 'melayani' Mingo. Ternyata dia punya pemikiran sama seperti lawan, yaitu mencari celah.

Ya, walau sedikit berbeda.

"!?" pada detik selanjutnya, kedua mata Mingo menyipit, memastikan penglihatannya tidak salah. Bahkan dia sampai membatalkan serangan tinjunya dan memilih melompat mundur. Ya, dia menjaga jarak dari Luffy.

Kenapa? Pertanyaan bagus. Itu karena Luffy tiba-tiba menurunkan tinjunya, sehingga badannya terbuka. Celah yang sangat besar seolah mengundang Mingo untuk memberi 'salam'.

Tentu saja Mingo terkejut. Mana mungkin di saat seperti ini Luffy menyerah! Pasti ada apa-apanya. Beginilah pikirnya. Makanya dia mundur supaya memikirkan apa maksud Luffy melakukan itu dan strategi selanjutnya.

Tatapan tajam Mingo tak lepas dari Luffy. Otaknya memikirkan berbagai kemungkinan, "Apa-apaan dia? Tak ada pertahanan? Masa' dia ingin aku meninju badannya itu?" Mingo langsung menepis pikiran naifnya ini, "Tidak, tidak, tidak. Bocah ini tidak bodoh. Ada maksud tertentu. Apa mungkin dia mau melakukan jurus spesialnya lagi?"

Sementara itu, Five Princes dan Angels juga cengo. Mereka bingung Luffy membuka pertahanannya, namun tidak ada protes keluar. Mereka berpikir Luffy akan 'bergerak' lagi. Makanya mereka memilih diam sambil harap-harap cemas.

Disisi lain, Ace langsung tersenyum melihat kuda-kuda Adiknya. Ya, dia tahu apa yang ingin dilakukan Luffy begitu Luffy menurunkan lengannya.

Salah satu jurus tinju yang dulu diajarkan Rayleigh. Siapa sangka akan dia tunjukkan disini?

"Hati-hati, Bos. Kau tak mau dihajarnya lagi, 'kan? Kalian sudah cukup babak belur," ucap Teach dari belakang Mingo. Ternyata dia juga ikut waspada.

"Aku tahu," Mingo membalas singkat sebelum kemudian menoleh pada Luffy lagi, "Kau sepertinya merencanakan sesuatu, hah? Luffy?"

Luffy diam.

"Kau ingin berbelas kasihan padaku?"

Masih diam.

Mingo pun pasang kuda-kuda, siap menerjangnya, "Baiklah, kalau itu maumu. Rencana bodohmu takkan bekerja untuk kedua kalinya,"

Oke, salah satu anggota Five Princes alias Zoro mulai khawatir sekarang. Dia tak mengerti kenapa ketuanya malah diam, tak menyerang, dan bertingkah konyol! Gawat! Dia bisa kalah, 'kan? "Luffy bodoh! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau diam saja!?"

Disisi lain, emosi Kuina mendidih, saudara-saudara. Kalau saja ada pentungan di dekatnya, sudah dia lempar ke arah Luffy. Dia gemas bocah bolot itu bersikap bolot lebih dari biasanya. Seketika dia menarik kerah pakaian Sabo lalu berkata padanya, "Oi, Sabo! Aku tahu Adikmu itu bego, tapi aku tak sangka sebego ini! Cepat jelaskan padaku kenapa dia begitu!" Sabo jadi korban berkat badannya digoyangkan kasar oleh seekor kadal laut betina.

"Ma-mana kutahu! Kau tanya saja padanya sendiri!" balas Sabo jujur sambil berdo'a semoga dia tidak mabuk. Ya ampun, kenapa dia memilih berdiri disamping Kuina tadi? Pergi kemana sikap malaikatnya barusan? Kenapa mode Sadako yang datang?

WUUSSSHHH!

Cepat! Doflamingo melompat menerjang Luffy, mengarahkan kaki kanannya pada wajahnya! Semua orang langsung berkedip dan melongo Doflamingo sudah dalam di posisi itu!

Jarak mereka tinggal sedikit! Sedikit lagi kaki Mingo akan mengucapkan salam pada wajah ketua OSIS Tokyo Galaxy tersebut! Tapi apa yang terjadi selanjutnya diluar dugaan.

BWUUNG! Luffy mencodongkan sedikit tubuhnya ke belakang kemudian menarik kepalanya, sehingga kaki Mingo hanya menendang angin! Pergerakan lentur dari otot tubuh Luffy benar-benar luar biasa!

Dan sebelum Doflamingo mendarat, Luffy dengan cepat mengangkat lengan kirinya. Sangat lurus dan mengarah pada wajah Mingo. Dia mengepalkan jemarinya kuat-kuat, kemudian melancarkan pukulan lurus!

BUAGH! Sebuah jab dalam olahraga tinju! Telak pada wajah Mingo!

Tubuh Mingo terhentak ke belakang lalu punggungnya pun jatuh membentur lantai ring! Jab sempurna barusan berhasil memanggil sorakan pendukung Luffy!

Harapan mulai ada. Mereka terus menyebut nama Luffy! Sementara Hancock langsung berseri-seri saking senangnya!

"A-apa itu barusan?" gumam Kuina masih shock. Ya, dia tak bisa melihat jab kiri Luffy tadi. Mulutnya menganga persis ikan koi minta makan.

Ace pun menjawab pertanyaan tersebut, "Itu jurus No Range Jab."

"Hah? No... Range Jab?"

"Serangannya mirip Jab, namun kekuatannya mirip Straight. Singkatnya Luffy hanya menyerangnya dengan serangan dasar pembuka dalam tinju. Tapi dia meningkatkan kekuatan serta kecepatannya."

"Lalu apa maksudnya No Range itu?"

"Itu jurus memancing lawan mendekat sampai tak ada jarak. Memang berisiko, tapi karena tubuh bagian atas Luffy lentur, dia bisa mengatasinya. Kemudian, membiarkan lawan menyerang lebih dulu agar ada celah. Setelah itu, gunakan jurus itu. Kau tahu 'kan kalau ada jurus Kung Fu yang serangannya terlihat pelan, tapi efeknya mematikan?" Kuina mengangguk. Ace melanjutkan perkataannya lagi, "Luffy meniru itu. Walau Jab hanya serangan dasar, tapi efeknya sama seperti teknik mematikan petinju kelas atas." wow, terima kasih atas penjelasannya, Ace. Kami sangat terbantu.

Kuina sendiri cuma ber-oooohhh-ria mendengar penjelasan barusan. Sekarang dia manggut-manggut kagum. Hebat juga Luffy punya jurus andalan sehebat itu!

Dan bicara soal hebat, saat ini, melihat Doflamingo terbaring di ring, mau tak mau Crocodile masuk ke dalam dan mulai memukuli lantai ring sambil menghitung. Walau dia masih tak percaya Luffy bisa membalikkan keadaan, dia memilih untuk melaksanakan tugasnya.

"Sepuluh! Sembilan! Delapan! Tujuh!"

Doflamingo masih belum bangun! Kontan pendukung Luffy beramai-ramai ikut menghitung bersama Crocodile! "ENAM! LIMA!"

"EMPAT!" Crocodile terus menghitung! "TIGA!"

..

..

Set! Sorak sorai terpaksa nyaris lenyap akibat harapan pupus. Doflamingo bangun dari posisinya! Dia menghentikan hitungan Crocodile! Crocodile segera menyadari bahwa dia harus menyingkir dari ring sekarang. Dia tak bisa membahayakan nyawanya sendiri, karena dia melihat sorot mata kebencian dari ketuanya tersebut.

Pertarungan ini pantas disebut pertarungan berdarah. Sudah banyak darah menetes dari kedua belah pihak. Tampaknya ini akan menuju klimaksnya.

Sambil menopang tubuhnya dengan memegang lututnya, Mingo melirik Luffy yang berdiri di hadapannya, "... Heh..." dia meludahi lantai ring. Bukan air liur, melainkan darah segar, "Kuakui kau hebat juga, Mugiwara. Bisa mendesakku begini..."

Kepalan tinju Luffy mengeras, "Kau belum menyerah juga, Doflamingo? Kalau kau tak mau kubunuh disini, jangan pernah mengganggu Hancock lagi!"

"Menyerah? Cih, tak ada kata itu di kamusku!" masih keras kepala juga bocah sialan ini! Dia berani berdiri membusungkan dada sok pada Luffy dan berkata dengan nada ejek, "Atau perlukah sekarang aku gantian menunjukkan jurusku padamu, bocah sial? Mungkin cewek bajingan di kursi roda itu akan menangis melihatmu berlumuran darah. Jadi, sebaiknya suruh dia sediakan tisu."

"Oooh... dia pasti akan menangis. Tapi bukan karena sedih melihatku berlumuran darah," Luffy mengeluarkan hawa tak enak dari tubuhnya. Aura permusuhan, "...Melainkan tangis bahagia karena aku mengalahkanmu untuknya."

Baiklah, Mingo tak suka ini. Dia menggeretakkan giginya kesal, "Kenapa kau begitu peduli padanya? Dia hanya orang asing, 'kan? Dia bukan keluargamu, tidak sedarah, bahkan berasal dari sekolah sainganmu. Tapi kenapa kau masih berdiri disini menantangku?"

Luffy memilih diam, mempersilahkan Doflamingo mengoceh sebelum dikalahkan.

Namun Mingo terus memancing emosinya, "Atau jangan-jangan kau ingin sok pamer?"

"... Tidak..."

"Lalu apa? Kau suka padanya?" Mingo masih belum puas menemukan jawaban.

"Iya, suka." jawab Luffy cepat.

Bukan hanya Mingo yang terkejut akan jawaban dia, melainkan semua orang disana, termasuk Hancock. Bahkan mulut Kuina tambah lebar karena terlalu shock dihajar 'serangan' bertubi-tubi.

Mingo makin kesal pada Luffy. Dia tak terima Luffy menjawab itu tanpa beban, "Oh, kau suka padanya, ya? Aku baru tahu kau tipikal laki-laki bernafsu pada kecantikan perem—" belum selesai Mingo bicara, Luffy langsung memotong.

"Kau berpikir terlalu jauh. Aku suka padanya karena sikap dan hatinya yang baik pada keluarga serta teman-temannya. Cuma itu." Percayalah, setelah mendengar Luffy berkata begini, seluruh pandangan tertuju pada Hancock. Sementara jantung Hancock nyaris lepas, dia tak bisa mengendalikan detak jantungnya. Dia bingung tiba-tiba Luffy bilang begitu.

Sayangnya, Hancock justru tersenyum sedih. Kenapa? Karena dia tak mau berharap lebih. Dulu juga Luffy pernah berkata bahwa dia suka padanya. Kalian pasti ingat, 'kan? Itu... ketika si idiot itu bilang menyukainya sebagai teman? Walau Luffy pernah menciumnya, dia meyakini diri sendiri bahwa waktu itu Luffy sedang terbawa suasana. Jadi, Hancock tak mau menggantungkan impian terlalu tinggi.

Pada kenyataannya, mereka memang HANYA berteman.

Hhhh... Hancock. Kau harus yakin penulis memberimu happy ending, tahu.

"Huh! Paling kau hanya suka padanya sebagai teman, 'kan?" seolah tahu isi pikiran Hancock, Mingo berucap begini pada Luffy. Ya, pada dasarnya dia tak percaya cowok sepolos Luffy tahu arti cinta.

Namun, sepertinya kepolosan itu tak bertahan selamanya.

Kenapa? Setelah perjalanan kisah mereka dari awal hingga akhir, tak mungkin Luffy tak mendapatkan petunjuk. Benar, 'kan?

"Tidak, tuh..."

"...Hah?"

"...Aku suka padanya sebagai perempuan, kok..."

Doflamingo mendelik.

...

..

Hening menyapa.

...

Korban pertama pasukan Luffy dari perkataan barusan adalah Five Princes dan Angels. Kedua bola mata mereka melotot, nyaris keluar dari tempatnya. Benar-benar ekspresi norak. Wajar, 'kan?

Luffy! Yang dulu polos jungkir balik soal perasaan, berkata begitu!? Ada apa ini!? Apa kepalanya terbentur karena tinju sakti Mingo? Ada yang tak beres. Lebih tak beres daripada Sanji yang melongo sampai mulutnya menyentuh lantai.

Sabo saja ikutan menggila. Dia mencolek bahu Kuina supaya gadis itu kembali ke alam sadar, "Oi, Kuina? A-apa kau yang mengajarinya? Ya, 'kan?" oke, ini berlebihan. Namun sekali lagi maklum. Kuina adalah Dewi Cinta, 'kan? Semua penderitaan yang Sabo alami demi menyatukan para pasangan, membuat Sabo yakin Kuina dalang di balik semua ini. Pasti dia!

Nak Sabo... kau sepertinya harus tahu bahwa pendapatmu harus dipatahkan karena Kuina telah bersabda, "Hah? Eh? A-aku tidak tahu apa-apa! Aku tak ada menyuruhnya begitu! Eh, tapi bukankah artinya misi kita menyatukan Luffy dan Hancock berhasil?"

"Lho? Jadi bukan kau yang—"

"Bukan aku! Atau kau, Ace-san?" Kuina cari tumbal selanjutnya.

"Bodoh! Apalagi aku!" kilah Ace yang memang tak ada pengalaman soal cewek. Sungguh sebuah ironi.

"Jadi?" tinggal lah sekarang trio Mak Comblang bingung sendiri.

...

Oh, ya. Benar juga. Dibanding reaksi orang-orang, Hancock bagaimana?

Ah, kalau kalian tanya dia... dia sedang duduk termangu. Mematung begitu saja. Bibirnya sedikit terbuka. Raut wajah yang kaku. Dan tentunya rona merah hebat di pipinya itu. Diikuti detak jantungnya yang semakin menggila.

DEG DEG!

DEG DEG!

Siapa sangka hari ini akan datang? Apakah ini artinya Hancock tak perlu menunggu lagi?

"...Lu...Luffy..." Hancock bergumam pelan sambil memegang dadanya yang begitu sesak karena terlalu bahagia.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: OKE! Chapter selanjutnya adalah chapter penutup pertarungan mereka! Tentunya diikuti aksi Supernova saat menyusup. Ah, jangan lupa tinggalkan komentar. Sampai jumpa!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!