[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
Sesuai ajakan Ten tempo hari, sepulang sekolah ini mereka pergi ke mall. Kemarin mereka batal pergi ke mall karena Ten mengubah ajakannya ke kafe untuk membei matcha float kesukaannya, jadilah rencana mereka untuk pergi ke mall diganti menjadi hari ini.
Sepanjang perjalanan ke mall, Ten bersenandung riang di belakang. Taeyong yang mengendarai motornya sesekali melirik ke arah Ten dan tersenyum tipis, ikut senang karena Ten kembali riang. Efek bullying pada Serim ternyata sebagus ini. Mood Taeyong pun membaik, puas karena berhasil membuat Serim memasang wajah putus asa yang terlihat cocok di wajahnya itu.
"Hyung! Kira-kira apa lagi yang harus kita lakukan pada Serim, ya?" Ten bertanya, sedikit berteriak karena suaranya teredam bunyi kendaraan lain.
"Apapun itu, terserah!" Taeyong membalas.
"Aku ingin dia putus dengan Jeonghyun!"
Tidak lama setelah Ten berkata begitu, mereka sampai di area parkir mall. Setelah memarkirkan motornya, Taeyong menarik tangan Ten untuk memasuki mall. "Kau ingin beli apa?" tanya Taeyong begitu mereka melewati area fashion.
"Ayo ke bioskop dulu." Kali ini Ten menarik tangan Taeyong, tetap menggenggam tangannya bahkan setelah mereka sampai di bioskop. "Bagaimana dengan film horor?" tanya Ten pada Taeyong saat mereka mengantri, menunjuk poster salah satu film horor di sisi kanan mereka. Taeyong mengangguk saja, Ten lebih tahu tentang film.
Antrian di depan mereka tidak terlalu panjang –sekitar 6 orang lagi sebelum mereka. Taeyong tidak masalah dengan antrian panjang, dia memiliki sumbu kesabaran yang tidak pendek. Sedangkan Ten sudah menggerakkan kakinya secara random karena dia benci menunggu. "Ten, kita bahkan belum lima menit mengantri." Taeyong menatap Ten dengan tatapan datar, gemas karena Ten begitu tidak sabaran.
Ten tidak membalas, sibuk mengeluh dalam hati. Satu antrian berkurang saat telinga Taeyong menangkap suara yang begitu dikenalnya. Sekumpulan orang, sekitar empat sampai lima orang, masuk ke bioskop dan berdiri di belakang dirinya dan Ten; mengantri untuk membeli tiket. Gerombolan itu tidak terlalu berisik memang, walaupun mereka sedang berbicara tentang sesuatu dan sesekali tertawa, namun Taeyong bisa mengenali satu dari lima orang itu hanya dari suaranya.
Taeyong kenal sekali pemilik suara ini. Tiga tahun bersama dalam satu sekolah dan satu gedung asrama, bahkan enam bulan dalam satu kamar asrama yang sama membuat Taeyong mau tidak mau hafal dengan suaranya. Selama tiga tahun terakhir ini Taeyong pikir dia sudah melupakannya, namun nyatanya dia masih ingat –bahkan tiap detik yang dia habiskan di tempat itu, detail terkecil yang membuatnya mual hingga ingin menghilang dari dunia ini.
Tanpa sadar, tangan dinginnya menggenggam erat tangan Ten. Laki-laki yang lebih pendek mendesis pelan saat dia merasakan tangannya digenggam erat oleh Taeyong. Ten hampir protes karena tangannya terasa sakit, namun dia langsung menahannya karena dia melihat Taeyong yang saat ini berdiri dengan kaku dan wajah pucat seolah ketakutan. Kemudian Ten baru sadar bahwa tangan Taeyong yang menggenggam tangannya gemetar, bahkan sedikit berkeringat.
"Hyung, batalkan saja menonton filmnya?" Ten bertanya pelan, cukup peka kalau Taeyong berubah seperti ini sejak kerumunan di belakangnya datang. Sepertinya Taeyong mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan karena satu atau dua orang yang mengantri di belakang mereka.
"Tidak." Taeyong menjawab dengan bisikan, namun Ten tetap dapat mendengar suara Taeyong yang sedikit bergetar, bahkan genggaman Taeyong pada tangannya makin erat.
Ten menghela nafas, kemudian terdiam. Dia ingin sekali menarik Taeyong keluar dari bioskop, menarik Taeyong kemanapun itu –selama Taeyong tidak bertemu dengan sesuatu yang berkaitan dengan kejadian itu. Untuk beberapa saat mereka tetap berada di sana, berdiri terdiam menunggu antrian tiket yang terasa sangat panjang. Selama itu juga Taeyong terdiam dengan isi kepala yang memikirkan berbagai hal yang membuat kepalanya sakit. Hingga pada akhinya Ten menarik tangan Taeyong untuk keluar dari biskop, menyeret paksa laki-laki itu ke tempat dimana mereka bisa berbicara dengan sedikit leluasa.
Dengan jarak sedekat ini, Ten bisa mendengar degan jelas nafas Taeyong yang tidak teratur; seolah laki-laki itu baru saja berlari marathon. Tangan Taeyong yang digenggamnya juga berkeringat, namun terasa dingin. Tangan itu masih bergetar bahkan setelah mereka keluar dari bioskop.
Ten membawa Taeyong ke salah satu restoran Japanese food yang tidak jauh dari sana, memesan makanan secara asal setelah memilih tempat yang berada di pojok, sedikit lebih private dari meja lainnya. Tidak lama segelas teh hijau dan limun dingin pesanan Ten datang, dan Ten langsung menyuruh Taeyong untuk meminum teh hijaunya. Mereka terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Ten berbicara, "Jangan bercerita apapun sebelum kau benar-benar tenang."
Taeyong mengangguk tanpa suara, masih menenangkan dirinya.
Keduanya terdiam lagi hingga makanan pesanan Ten datang. Yakiniku set. Ten memesan banyak, seperti biasanya. Taeyong masih terdiam hingga Ten memanggang beberapa daging untuk mereka.
Ten sedang membalik dagingnya saat Taeyong akhirnya bersuara.
"Sebenarnya," suara Taeyong benar-benar pelan, seolah tidak ingin orang selain Ten mendengarnya, "ada yang aku kenal di kerumunan tadi."
Kerumunan tadi. Oh, Ten paham. Benar dugaan Ten, Taeyong mengenal salah satu dari lima orang yang tadi mengantri di belakang mereka. Walaupun Ten tidak tahu siapa.
Taeyong berbicara lagi, "Kau tahu," katanya sembari menatap Ten yang masih sibuk dengan dagingnya.
"Ya, aku tahu." Ten tersenyum. "Kau tidak perlu menjelaskannya. Katakan saja apa yang mengganggu pikiranmu."
Mendengar itu Taeyong ikut tersenyum. Senyum tipis, namun itu sudah cukup membuat Ten merasa lega. Itu lebih baik daripada Taeyong yang sebelumnya.
"Aku hanya takut mereka mengenaliku," Taeyong memulai, "Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka, bahkan aku tidak ingin melihat mereka lagi." Tatapan Taeyong beralih ke luar jendela, menatap langit yang membentang di atas mereka. Ingatan buruk itu kembali, dan Taeyong membencinya. Untuk beberapa saat dia terdiam dan kembali mengatur nafasnya yang mulai kembali tidak teratur tiap kali dia mengingat kejadian-kejadian saat itu. Kemudian, dia beralih menatap Ten dengan wajah kusutnya. "Aku tahu, lari dari kenyataan adalah sesuatu yang dilakukan oleh seorang pengecut –sepertiku."
Itu bukanlah sesuatu yang dapat dianggap remeh. Bagi Ten yang pernah mengalami keadaan yang tidak jauh berbeda dengan Taeyong, keadaan Taeyong tidak bisa dia abaikan begitu saja. Ten memang tidak memiliki ilmu-ilmu psikologi seperti psikiater sungguhan, yang bisa dia lakukan saat ini adalah mengembalikan keadaan psikologis Taeyong seperti sebelum kejadian itu terjadi. Ten tidak ingin Taeyong berakhir sama seperti orang-orang yang kurang beruntung, kehilangan segalanya hanya karena tidak bisa melewati keadaan buruk ini.
Hanya saja, Taeyong tidak dapat kembali seperti semula. Ten bisa melihatnya dengan jelas –sejelas dia melihat sosok Taeyong yang saat ini duduk di hadapannya. Ada sisa-sisa dari kejadian itu.
Bukan.
Kejadian itu bagaikan komposisi utamanya.
Kejadian itu membentuk Taeyong yang sekarang. Taeyong yang superior, Taeyong yang keji, dan Taeyong yang ingin berdiri di atas semuanya; memandang rendah orang lain seolah dirinya adalah dewa. []
