Drabble: BokuAka
Akaashi membanting pintu mobilnya. Dan Bokuto berlari keluar dari rumah sembari berteriak saat mobil itu sudah berjalan sekitar 500 meter dari kediaman mereka. Si perak mengumpat kesal, mengujarkan berbagai makian yang ia tahu dan menendang kerikil apapun yang ia lihat.
Si hitam ayu itu sudah terlampau kesal padanya. Kesabarannya telah mencapai batas, ia muak melihat wajah kekasihnya. Tak bisakah Bokuto mengalah sekali dan tidak mempertahankan egonya? Ia menyayangi rumah yang sudah lima tahun mereka tinggali itu. Lebih-lebih rumah itu mereka beli dari orang tuanya. Bagaimana mungkin Bokuto berpikiran untuk menjualnya demi sebuah apartemen konyol di wilayah perkotaan Tokyo? Padahal area pinggiran tempat mereka tinggal sudah cukup strategis, aman, dan tentram.
Hanya untuk landasan helikopter bodoh yang tersedia di apartemen dan dia lebih ingin mempertahankan hobinya daripada kenangan seumur hidup Akaashi?
Bokuto masih mengumpat menatap mobil yang menderu laju menjauhinya. Akaashi pergi membawa seluruh dokumen berharga, serta mobilnya. Mata keemasan lelaki itu meredup, namun teringat sesuatu. Bahan bakar mobilnya sudah hampir habis-setahu Bokuto yang baru memakainya tadi malam-dan seharian ini mobil itu belum dipakai sama sekali. Kuat dugaannya Akaashinya akan berhenti di pom bensin terdekat. Ia mengira Akaashi akan kabur entah ke rumah Sakusa atau bahkan mungkin lebih jauh lagi, ke Miyagi, tempat Sugawara-orang yang bahkan sudah dianggap si hitam itu sebagai kakaknya. Tapi Bokuto takkan membiarkan hal itu terjadi. Akaashi takkan kemana-mana, dan si perak akan mendapatkan miliknya kembali.
Bokuto mengambil ponselnya, menelepon seseoranh dan berkata kala sambungannya masuk, "Boss, aku butuh bantuanmu."
.
.
.
Mata hijau itu melirik panel bahan bakar. Ia tak bisa pergi jauh ke Miyagi dengan tangki kosong. Ada kesal di hatinya dan harapnya semoga ia bisa mencapai pom bensin secepatnya sebelum mobilnya mati dan Bokuto mencapainya. Lima belas menit hingga akhirnya ia bisa melihat tanda pom dan desahnya lega. Ia melirik spion, khawatir Bokuti mungkin mengejarnya dengan pinjaman mobil lain atau motor milik Kuroo, namun di belakangnya tak ada mobil atau motor apapun dan itu makin menenangkan si hitam ayu. Ia berbelanja di toko yang sama yang memiliki pom bensin, membeli perbekalan untuk perjalanan ke Miyagi. Ia tak mau ambil resiko kelaparan di jalan bebas hambatan.
Ia belum mengunci pintu mobil saat pintu penumpang dibuka dan Bokuto duduk di sana. Menatapnya dengan tajam, wajahnya masam, dan rahangnya mengatup kaku. Akaashi tersadar pada tas dokumen yang ada di kursi penumpang di belakang, tergeletak begitu saja. Bokuto bisa mengambilnya dan pergi begitu saja, namun si perak sama sekali tak menghiraukannya. Bahkan melirikpun tidak, dan tatap mata emas itu terpaku hanya pada Akaashi.
Akaashi pernah melihat Bokuto marah besar, tapi tak pernah semenegangkan itu. Ekspresi Bokuto yang dilihatnya kali ini adalah hal pertama selama sepuluh tahun mengenalnya. Bokuto begitu teguh dan berbahaya, membuat tubuh Akaashi menggeletar ketakutan.
"K... Kotaro-san." Suaranya tersendat, tenggorokannya kering. Ia tak bisa membayangkan murka Bokuto yang begitu sangat. Napas Akaashi memburu, ia tersengal ketika mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri kala Bokuto mengulurkan tangan ke arahnya, menduga tangan-tangan kekar itu akan menghantamnya.
Bokuto diam, tak menghiraukan reaksi Akaashi dan hanya menyelipkan keda tangannya yang besar ke leher Akaashi, menarik kepalanya agar mendekat pada wajahnya yang mencondong ke samping. Akaashi merasakan kerapuhan, ia tak sanggup merasakan kesakitan cekikan, dan ia sadar dirinya sama sekali tak berdaya. Namun kala Bokuto menciumnya, seluruh rasa menjadi terkejut dan ia menyadari apa yang hendak dilakukan si perak itu saat ia beralih dan menunggangi tubuhnya, membuka kancing baju dan menurunkan celana Akaashi. Dengan hening ia mengubah posisi sandaran kursi mobil dan melepaskan celana panjang yang dipakainya.
Akaashi menegang, ia bisa merasakan sikap posesif Bokuto yang luar biasa dalam permainan cintanya kali ini. Ia sadar pada tujuan yang ingin diraih si perak, ia takkan membiarkan dirinya pergi. Sepasang mata emas liar itu garang dan menahan dirinya, memaksanya bahwa ia adalah milik Bokuto.
.
"Aku mengejarmu, bukan mengejar dokumen sialan itu. Takkan kubiarkan kau pergi lagi dariku seperti tadi." Lembut ciuman si perak di kening Akaashi. "Kau benar-benar membuatku ketakutan setengah mati. Aku menunggumu di sini dengan cemas."
"Kau sudah menungguku di sini?" tanya Akaashi pada sosok di atasnya itu, "Tapi bagaimana-?"
"Dengan hobiku yang kau sebut kegiatan bodoh itu. Aku meminjam helikopter boss dan aku ingat ada landasan di dekat sini."
Akaashi terdiam. Bokuto melanjutkan, "Persetan dengan apartemen itu. Jika kau tak suka, aku akan lebih suka mempertahankan ego terbesarku. Memilikimu selamanya."
.
.
.
Omake
.
.
Kuroo mengetuk kaca pintu mobil itu dan berusaha mengintip di dalamnya, namun nihil. Mengetahui apa yang terjadi di dalam pun tak bisa. Tak ada suara sedikitpun yang lolos keluar dari sana. Keningnya berkeringat dingin, ia menatap orang-orang di belakangnya dengan perasaan bersalah.
Sekali lagi ia mencoba berteriak, berharap yang di dalam bisa mendengarnya. "Bro, kalau mau nganu tahu tempat, Bro! Ini mobil masih parkir di depan pom woy!"
