Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[Blossom In The Winter ]
( Chapter 26 )
.
.
.
Saat mereka bekerja. Aku menghubungi Ino. Dia menemaniku membeli perlengkapan sebelum ke asrama.
"Kau serius akan masuk SMA Q? Aku sungguh tidak percaya, kau bahkan baru mengatakannya setelah kita lulus." Ucap Ino padaku.
"Aku hanya ingin tidak ada yang menerormu setelah tahu aku akan melanjutkannya kemana. Lagi pula seleksi berkas pun masih membuatku ragu."
"Aku berharap kau masuk ke SMA T, tapi seperti yang kau tahu, disana banyak teman sekolah SMP kita."
"Aku menghindari hal terburuk Ino. Aku tidak ingin mendapat masalah lagi. Saat kedua orang tua datang ke sekolah, secara tidak langsung aku sudah membuat mereka malu. Aku satu-satunya putri di keluarga Uchiha, tapi hanya aku yang berkelahi, tidak dengan kakak-kakakku." Ucapku. Walaupun aku tidak tahu apakah mereka semua juga punya masalah saat sekolah dulu. Kak Itachi hanya pernah bercerita jika kak Izuna sempat bolos saat bersekolah dulu.
Lalu tujuanku untuk mengajak Ino bukan hanya untuk menemaniku.
"Apa kau lupa, kau berjanji akan menceritakan segalanya padaku." Ucapku.
Tatapan Ino mulai terlihat saat itu, dia mungkin tidak nyaman untuk menceritakannya padaku.
"Katakan saja. Aku sungguh tidak akan marah. Kita akan tetap melanjutkan kegiatan ini. Aku tidak akan pergi seperti di drama-drama ketika dua orang bersahabat saling berselisi." Ucapku dan berusaha tersenyum di hadapannya.
"Mungkin aku yang terlalu berbicara tanpa melihat tempat, mereka mendengarkanku, lalu mereka pun menemuiku, memaksaku untuk mengatakan segalanya. Aku memang pengecut, aku bukan gadis kuat seperti yang selalu aku katakan padaku, Sakura. Aku minta maaf padamu." Ucap Ino, akhirnya dia menjelaskan segalanya, seperti ucapannya sebelumnya, ada kesalahpahaman.
"Ternyata seperti itu. Sekarang kita lanjut lagi kegiatannya." Ucapku.
"Ka-kau tidak marah?" Ucapku, menahan lenganku.
"Marah? Tidak. Kau juga di posisi korban. Jika marah padamu, itu jauh lebih salah."
Ino tiba-tiba saja menangis.
"Eh? Ja-jangan menangis, mereka akan berpikir jika aku membullymu." Panikku.
"Maaf." Ucapnya, Ino mulai menyeka wajahnya.
Kami kembali berbelanja. Aku mendapat kartu kredit dari ibu Mikoto, jika kartu itu dari Sasuke, dia akan mengecek segala keperluanku.
"Kita akan terpisah jauh nanti." Ucap Ino.
"Aku juga tidak akan pulang sebelum lulus."
"Apa? Apa kau akan tetap tinggal di asrama selama liburan? Kau akan sendirian, anak-anak lain biasanya akan pulang, mereka pasti merindukan rumah mereka."
"Aku punya rencana lain." Ucapku.
"Rencana?"
"Uhm, aku berniat hidup normal, aku menjauh dari kakak-kakakku, terutama Sasuke, setelah lulus SMA aku akan kuliah dan berikutnya aku akan bekerja, mungkin perusahaan milik ayah yang di wariskan padaku, akan aku kelolah, untuk sementara ayah Fugaku yang memegangnya."
"Kau berniat hidup sendirian? Apa kau tidak kasihan pada mereka yang menyayangimu?"
"Aku akan tetap menghubungi mereka sebagai keluargaku. Bagaimana pun juga secara hukum, aku anak sah mereka. Aku tidak boleh lupa pada semua kebaikan mereka, aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
"Kau begitu berambisi, Sakura. Memikirkannya saja, aku tidak sanggup berada pada posisimu."
Kau benar Ino, aku juga tidak percaya diri untuk semua rencanaku ini, ada banyak hal yang harus aku hadapi, pertama sikap Sasuke, aku pernah melihatnya sangat marah, jika dia tahu aku sekolah di asrama, apa marahnya akan semakin parah? Aku tidak egois 'kan? Aku ingin kehidupan normal seperti rencana awalku. Jika Sasuke memiliki wanita lain dalam hidupnya. Aku tidak perlu takut melihat tatapan kecewa ayah Fugaku dan Ibu Mikoto. Kedua, bagaimana aku bisa menghadapi kehidupan baruku tanpa adanya Uchiha di sisiku, dan juga bagaimana aku menghadapi orang-orang di perusahaan yang ayah kandungku pegang, sekarang mungkin mereka melupakan ayahku, perusahaan Haruno berada di naungan perusahaan Uchiha, hal itu akan terus berlanjut selama aku belum cukup umur, punya pendidikan yang tinggi dan juga wawasan yang luas untuk menjalankan kembali perusahaan Haruno.
Ini bukan sebuah rencana sederhana, ini rencana yang besar dan aku harus siap menghadapi segala rintangan.
.
.
.
.
.
Malam harinya.
Membuka pintu kamar Sasuke, aku sedikit merindukan kamar ini, aku sudah tidak pernah tidur di sini sejak masalah yang ku buat hingga Sasuke marah besar, tatapanku mengarah pada Sasuke yang siap akan tidur.
"Ada apa?" Tanyanya, tatapan datar seperti biasanya, dia terlihat lelah, ini sudah waktunya untuk tidur.
"A-aku akan tidur di kamarmu, malam ini saja." Gugupku. Sejujurnya aku sedikit malu meminta hal semacam ini, aku sudah hampir 17 tahun dan akan tidur bersama Sasuke. Hanya tidur! Bukan apa-apa.
Sasuke tidak mengatakan apa-apa, dia mengatur bantal lain untukku di sebelahnya, mungkin karena dia sedang lelah, Sasuke tidak banyak berkomentar.
Pria itu mulai berbaring, tangannya menepuk area di sebelahnya. Berlari kecil ke arah ranjangnya, aku ingin tidur bersamanya, aku sudah mengemasi barang-barangku, besok pagi buta, aku akan naik kereta pagi. Jadwal masuk asrama sudah keluar, jadwalnya besok. Jika melakukan perjalanan lebih cepat, aku bisa tiba dengan cepat.
Menatap pria ini, dia semakin tua semakin berkarisma saja.
"Aku yakin ada banyak pegawai di perusahaan yang mengagumimu." Ucapku.
"Aku tidak ada waktu memperhatikan hal yang tidak penting." Ucapnya. Sasuke mulai berbaring.
"Kau sangat kejam pada wanita. Setidaknya biarkan mereka menganggumimu."
"Tidurlah."
Sasuke sedang tidak ingin berbicara.
"Kau tahu saat penerimaan masuk murid baru di sekolah adalah hari apa?"
"Aku tidak tahu." Nada suaranya terdengar malas. Sasuke mulai menutup matanya.
"Kau bahkan lupa, saat penerimaan murid baru, saat itu sedang musim semi."
"Sekarang juga sedang musim semi."
Dia sungguh tidak mengerti akan arah pembicaraanku. Hari itu adalah hari tepat aku di lahirkan. Hari dimana bunga Sakura akan bermekaran dengan indahnya.
Mengabaikan Sasuke dan berbaring, aku jadi tidak mood untuk membahas dengannya, lagi pula saat itu, aku sudah tinggal di asrama.
Terkejut akan sebuah pelukan dari arah belakangku.
"Hari itu tepat hari ulang tahunmu." Ucap Sasuke.
Aku tidak bisa berhenti untuk tersenyum malu.
"Katakan, kau ingin apa? Apa perlu ada pesta? Kak Itachi akan membuat kue ulang tahun yang besar untukmu."
"Tidak ada. Aku sudah punya segalanya. Jangan merepotkan Niichan, dia akan repot jika membuat kue untukku, lagi pula dia selalu membuat kue yang enak meskipun bukan hari ulang tahun." Ucapku.
"Jika kau menginginkan sesuatu. Katakan padaku."
Keinginanku?
Apa aku bisa hidup normal tanpa adanya hubungan seperti ini?
Aku selalu ingin mengatakan ini pada Sasuke, tapi dia akan marah, dia selalu mengatakan jika bagaimana dia nanti? Kita adalah pasangan, ketika aku sudah lebih dewasa dengan umur yang sudah termasuk legal untuk bersamanya, Sasuke ingin hubungan ini benar-benar terjadi.
"Akan aku pikirkan." Ucapku. Berbalik ke arah Sasuke, sebuah dekapan hangat darinya.
Ini yang terakhir.
.
.
.
.
.
04:00
Semua sedang tertidur, mendorong pelan-pelan koperku, memanggul tas ranselku, kadang ada suara berdecit, apalagi kamarku berada di lantai atas, aku harus pelan-pelan menurunkan koperku yang cukup berat ini. Gila! Ini sangat berat, aku hampir membawa banyak perlengkapan. Aku sudah memikirkan segalanya jika tidak pulang selama tiga tahun. Jika koperku jatuh semua akan terbangun.
Aku tiba di lantai bawah dengan susah payah, tenagaku terkuras hanya untuk keluar dari kamar. Kembali menarik koperku, namun suara rodanya cukup berisik, aku harus pelan-pelan menariknya. Hampir tiba di depan pintu keluar, dengan begini aku tidak perlu susah payah untuk menahan suara apapun.
Memutar kunci dan membukanya. Segera menutup mulutku, hampir saja aku teriak.
"Naik ke mobil, aku akan mengantarmu ke stasiun." Ucap kak Itachi.
Mematung cukup lama, menatap kak Itachi yang tengah siap untuk pergi.
"Ada apa? Aku bisa tahu apapun bahkan jika tidak kau katakan pada kami. Aku ini kakakmu, aku orang yang harus lebih memahami kalian." Ucapnya.
Aku jadi merasa bersalah.
"Maaf." Ucapku, nada suaraku terdengar lesu.
"Cepat sebelum yang lainnya bangun." Ucap kak Itachi, dia mulai mengangkat koperku, membawanya ke bagasi.
Aku tidak jadi naik taksi, kak Itachi yang akan mengantarku.
"Sejujurnya aku tidak tahu kau mau kemana." Ucap kak Itachi.
"Eh? Aku pikir Niichan tahu."
"Aku berbohong, tapi saat tanpa sengaja masuk ke kamarmu. Aku melihat koper dan ransel yang sudah terisi penuh. Kau seakan mau kabur dari rumah."
"Aku lulus di SMA Q."
"Aku sudah tahu jika kau akan begitu nekat Sakura. Apa kata ayah dan ibu?"
"Mereka menyetujuinya, ayah dan ibu bahkan membantuku untuk merahasiakan hal ini."
"Rasa sayang mereka lebih besar padamu Sekarang."
"Apa Niichan marah? Aku melakukan seperti ini?"
"Ya. Aku marah. Kau tidak mengatakannya padaku, aku tidak seperti Sasuke atau Izuna, mereka akan menahanmu, aku yakin jika kau punya tujuan, Sakura. Sekarang di rumah hanya akan melihat para pria saja. Keadaan akan kembali seperti semula, saat kau tidak datang ke rumah itu."
"Maaf." Hanya itu yang bisa aku katakan.
"Jangan meminta maaf. Sekarang aku senang kau selangkah demi selangkah melakukan apa yang kau inginkan tanpa adanya perintah dari seseorang."
"Aku takut jika pergi, akan di paksa pulang lagi." Ucapku. Sasuke pasti akan mengetahuinya.
"Laporkan pada ayah jika dia mengganggumu."
"Apa itu termasuk sebuah gangguan?"
"Dia tidak bisa mengerti akan apa yang kau inginkan. Tidak masalah jika laporkan pada ayah, katakan Sasuke tidak mendengarkanmu."
Apa akan semudah itu?
.
.
TBC
.
.
