Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[Crown for the Queen ]

~ Chapter 30 ~

.

.

Sasuke Pov.

"Baiklah, mari ikut aku." Ucapku, kembali menuntun putri Sakura berjalan.

Anehnya, aku melihat kesatria Sai dan kesatria Sasori berjaga tepat dipintu masuk bangunan istana barat.

"Tunggu sebentar." Ucapku pada putri Sakura, memintanya menunggu, aku ingin tahu apa yang kedua kesatria ini lakukan disini, selain itu, menatap sekitar, ada begitu banyak penjagaan di sekitar area istana barat.

"Maaf pangeran, anda tidak bisa masuk ke istana barat untuk sementara waktu." Ucap kesatria Sai, mereka menghalangiku masuk.

"Apa yang terjadi?" Tanyaku, sejujurnya aku sedikit bingung, apa kakak sengaja menambah penjagaan untuk wanita itu lagi?

Kesatria Sai dan kesatria Sasori hanya saling bertatapan dan mereka terdiam cukup lama.

"Katakan apa yang sedang terjadi, jika tidak ada, biarkan aku masuk." Ucapku.

"Bagaimana pun juga, kau tidak bisa masuk pangeran, ini perintah." Ucap kesatria Sasori.

"Siapa yang memerintah kalian?"

Keduanya kembali terdiam, ada apa dengan mereka? Atau terjadi sesuatu pada nona Sumire? Aku juga tidak pernah melihatnya lagi.

"Ini perintah Yang mulia raja, nona Sumire sedang terkena sebuah penyakit, Yang mulia hanya takut ada yang terjangkit, jadi pangeran dan tamu pangeran harap tidak berada di sekitar istana barat." Jelas kesatria Sai.

"Apa? Sunggguh? Bagaimana keadaan nona Sumire sekarang?" Ucapku, aku tidak percaya, apa dia sakit parah? Apa ini sebabnya nona Sumire tidak pernah terlihat lagi?

"Di-dia sedang dalam masa pemulihan. Demi kebaikan kita bersama pangeran sebaiknya pergi dari sini." Ucap kesatria Sai.

Berjalan meninggalkan kedua kesatria itu, aku tidak bisa mengajak putri Sakura ke istana barat, sebaiknya aku mengarang cerita lain saja, kata kakak, keberadaan nona Sumire harus di sembunyikan karena nyawanya cukup terancam, tapi sekarang dia sedang sakit, sungguh wanita yang malang.

"Maaf putri, istana barat sedang mengalami renovasi, kita tidak bisa masuk ke sana." Bohongku.

"Tidak apa-apa aku yakin masih ada banyak tempat yang bisa aku kunjungi." Ucapnya dan ini sedikit membuatku lega, putri Sakura tidak begitu banyak tanya.

Kami melanjutkan perjalanan kami, memang benar, masih ada beberapa bangunan lagi yang perlu di kunjunginya hingga waktu makan siang.

.

.

.

.

.

"Terima kasih untuk hari ini, pangeran." Ucap putri Sakura padaku.

Rute perjalanan hari ini sudah selesai, aku sudah harus membawa putri Sakura untuk kembali beristirahat, sebelumnya aku ingin sangat ingin bertemu raja Serra, tapi katanya dia sedang tertidur saat putri Sakura mengecek di kamarnya.

"Sama-sama, putri, aku senang bisa mengajakmu berkeliling." Ucapku.

Setelahnya, aku ingin memastikan sesuatu, apa benar nona Sumire mengalami sakit yang cukup parah hingga di tempatkan begitu banyak penjagaan, bukannya aku khawatir, aku hanya penasaran, dia tidak pernah keluar istana lagi.

Berjalan ke arah ruangan dimana seorang tabib istana di tempatkan, seorang tabib dan asistennya mendapat ruangan khusus di istana ini, jika ada yang tiba-tiba sakit, kami akan mudah memanggilnya.

"Apa penyakit yang di derita nona Sumire? Apa itu benar berbahaya?" Tanyaku dan tatapan aneh dari tabib istana. Pria tua ini terlihat bingung.

"Apa maksud pangeran? Nona Sumire sedang tidak sakit." Ucapnya.

Tidak sakit?

Apa kedua kesatria itu berbohong padaku?

"Kau tidak berbohong?" Ucapku, memastikan.

"Saya seorang tabib pangeran, kami tidak bisa berbohong. Yang mulia raja akan memenggal kepala kami jika berbohong. Aku hanya pernah mengobati nona Sumire saat lengannya terluka." Ucapnya dan aku mengingat jika itu adalah luka dari pedangku.

"Baiklah. Terima kasih, tabib." Ucapku

Bergegas pergi dari ruangan itu dan kembali menatap istana barat, kesatria Sai dan kesatria Sasori masih senantiasa berjaga di sana, jadi bukan karena sakit, lalu hal apa yang terjadi pada nona Sumire? Aku sangat penasaran.

.

.

.

.

Serra Pov.

"Apa sudah puas berkeliling istana? Cepat rapikan barang-barangmu dan kita akan pulang besok." Ucapku.

Aku cukup khawatir dengan sikap raja Itachi.

"Apa maksud kakak? Kita belum akan pulang sebelum apa yang aku harapkan terjadi." Ucap putri Ino.

Aku sudah tidak nyaman setelah makan malam bersama raja Itachi, aku yakin cepat atau lambat dia menyadari keanehan ini.

"Berhenti bermain-main seperti ini putri, kau tidak tahu siapa yang kita hadapi."

"Aku tahu, bukannya rencana kita kesini agar pangeran Sasuke tertarik padaku?"

"Bukannya di kerajaan kita putri Sakura sudah di nyatakan mati? Bagaimana jika mereka tahu kita berbohong?"

"Tenang saja kakak, tidak akan ada pernikahan disana, semuanya akan di lakukan disini, mereka tidak akan tahu jika putri Sakura sudah tidak ada, lagi pula yang di inginkan pangeran Sasuke hanya putri Sakura."

"Bagaiman kau begitu yakin pangeran Sasuke akan menikahimu? Jangan bermimpi terlalu tinggi, kau akan dalam masalah. Dia hanya menyinggung masalah ucapan ayahnya dan ayah kita. Cepatlah kemasi barang-barangmu, kita akan benar-benar pulang besok." Tegasku.

"Aku tidak mau! Kita harus tetap di sini beberapa hari lagi."

Aku tidak mengerti akan keras kepala putri Ino, aku semakin merasa tidak tenang sudah berbohong pada raja Itachi. Bagaimana jika mereka tahu kami berbohong? Masalah di kerajaan Haruno sudah cukup membuatku pusing, sekarang putri Ino menambah masalah baru dengan berbohong pada pangeran Sasuke dan raja Itachi, seakan aku tidak berharap lahir ke dunia ini dan menanggung segala masalah yang bukan aku lakukan, jika saja ibu ratu dan ayah raja masih hidup, semua akan baik-baik saja, apalagi jika putri Sakura masih ada, seharusnya dialah yang berada di singgasana, bukan aku, mungkin aku sedang mendapat kutukan akibat mengikuti ucapan ibu dan para saudaraku. Mereka memang tidak pantas di kerajaan Haruno dan pantas di usir.

Ini akan terdengar jahat, tapi jika bukan karena mereka, aku masih bisa hidup tenang walaupun tidak tinggal di istana lagi, itulah yang aku benar-benar aku harapkan, bukannya memegang jabatan sebagai raja yang malah menimbulkan banyak masalah.

Para bangsawan lain tidak setuju, sejujurnya aku juga sependapat dengan mereka, latar belakangku yang tidak cukup kuat untuk di angkat menjadi seorang raja.

"Aku akan mengatakan segalanya pada raja Itachi." Ucapku, ini sebagai keputusanku.

"Apa! Tidak boleh. Kenapa kakak bersikap seperti ini? Apa kakak tidak sadar dengan apa yang kau lakukan? Di kerajaan masih ada ibu-ibu kita, para saudara kita, jika mereka di usir apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Kita akan kesulitan, bertahanlah, lama kelamaan mereka akan berhenti merendahkanmu, cukup jalankan posisimu sebagai raja, rebut hati para rakyat di kerajaan Haruno, mereka jauh lebih mendukungmu, jangan berpikiran sempit seperti itu. Apa kakak tega melihat kita semua di usir? Bagaimana ibumu akan bersedih dengan sikapmu itu, kakak. Pikirkan baik-baik."

Ini adalah sisi yang paling tidak ingin aku pikirkan, aku tidak mau kalian hidup susah setelah angkat kaki dari istana.

Haa…~

Jika ada sebuah keajaiban, aku harap hal itu akan ada, aku mulai lelah pada posisi ini.

Sebuah ketukan di pintu, putri Ino kembal memasang wajah senang, para pelayan yang di utus pangeran Sasuke. Dia pun akan senang meladeni mereka. Mereka terus beranggapan jika putri Ino, benar-benar seorang putri mahkota.

Apa dia tidak sadar jika sebentar lagi rambut aslinya akan terlihat? Pewarna rambut buatan itu hanya bertahan beberapa hari saja, sudah terhitung dari perjalanan ke kerajaan Uchiha, aku selalu tidak ingin terlibat dengan masalah yang di buat putri Ino, sejenak dia tengah merasa di atas awan, jangan sampai dia lupa dengan cara kotor yang di lakukannya.

Kepalaku semakin pusing, aku ingin segera pulang, rasanya sangat tertekan di sini.

Tatapan raja Itachi saat itu, bukan tatapan biasa. Rasanya seakan dia siap menyerangku dengan pedang tajamnya.

.

.

.

.

Ino Pov.

"Kami senang melayanimu, putri Sakura." Ucap para pelayan.

Mereka adalah utusan pangeran Sasuke untuk melayaniku selama di istana ini.

Inilah yang aku harapkan, pandangan dan tanggapan mereka terhadapku, mereka memujiku sebagai seorang putri mahkota, ya seharusnya akulah putri mahkota di kerajaan Haruno, bukan putri Sakura, dia tidak pantas menjadi seorang putri mahkota.

"Apa selama ini kalian tidak pernah melayani seorang putri mahkota?" Tanyaku.

"Di istana ini hanya ada pangeran Sasuke dan Yang mulia raja Itachi, tidak ada seorang pun wanita di antara mereka." Jelas mereka.

"Kecuali budak yang di bawa oleh Yang mulia raja dan kami di minta untu melayaninya, padahal kedudukan kami jauh lebih tinggi, untuk apa melayani seorang wanita budak itu." Ucap salah satu dari mereka.

Budak?

Seorang wanita budak?

Aku tidak tahu jika Yang mulia raja akan menyimpan orang seperti itu di istana ini, aku jadi penasaran akan pembicaraan mereka ini.

"Untuk apa Yang mulia memiliki budak seorang wanita? Padahal dia pria yang hebat, wajahnya sangat menawan bahkan membuat seluruh wanita luluh padanya." Ucapku. Raja Itachi bisa mendapatkan putri yang jauh lebih hebat dari pada seorang budak.

"Rumornya dia akan menjadi seorang ratu."

Ratu?

Wah-wah, budak seperti apa dia, sampai raja Itachi akan menjadikannya seorang ratu? Ibuku saja hidup selama bertahun-tahun dengan mendiang ayahku, dia tak pernah sedikit pun mendapat tempat istimewah, bahkan untuk sebuah kedudukan seorang permaisuri.

"Apa dia begitu cantik dan menawan hingga raja luluh padanya?" Tanyaku.

"Dia terlihat mirip denganmu, putri Sakura." Ucap salah seorang dari mereka.

Senyum di wajahku memudar, mirip? Bagaimana mereka bisa mengatakan aku dan budak itu mirip?

.

.

TBC

.

.


updateee...~

di chapter ini mungkin ada yang merasa ganjil, apa author udah jelaskan atau belum yaa? author jelaskan saja. kenapa putri Ino menyamar sebagai putri Sakura di hadapan pangeran Sasuke? alasannya karena yang akan di jodohkan adalah putri Sakura, tapi coba cek di chapter *lupa* :D :D ada pertanyaan pangeran yang menyinggung putri yang di jodohkan, nah dari situ sebenarnya pangeran Sasuke emang tidak tahu siapa putrinya, catatan yang menuliskan nama putri Sakura sudah di bakar raja Itachi, dan putri Ino keliru jika pangeran Sasuke mencari putri sakura, wkwkwkwkwk author ketawa sendiri ngarang cerita ini XD jadi itulah yang terjadi, jika saja putri Ino tahu pangeran Sasuke tidak tahu putri yng di jodohkan dengannya, dia tidak perlu repot-repot bohong, selamat telah menambah masalah putri Ino. wkwkwkwkwk

.

wah wah wah Eriza22 mulai memecahkan setengah teori fic ini *tepuk tangan* hebat! hebat! hahahha, ya kira2 seperti itu :D :D