Drama rebutan anak (bukan genre comedy)

Kotaro tak bisa berkata-kata saat dilihatnya Keiji memeluk erat bayi itu, menolak memberikannya pada pasangan Sawamura. Bokuto Kotaro mengakui di dalam hatinya bahwa bayi jingga itu adalah anak mereka yang telah menjadi teman baru mereka sepanjang perjalanan di kereta. Namun tatap sayang Keiji yang sebelumnya berduka seminggu terakhir karena janin di kandungannya, bayi mereka, meninggal di saat-saat terakhir benar-benar tak bisa Kotaro syukuri. Ia ingin tetap pancaran kebahagiaan itu terus ada di wajah yang terkasih. Mau tak mau ia berujar, membela pasangan hidupnya, "Ini benar-benar bayi kami. Namanya Shoyo. Usianya baru dua minggu dan kenapa kalian bisa-bisanya mengakui bahwa bayi kami adalah anak kalian? Kalian mengigau?"

Dilihatnya yang perak itu tersedu-sedu di pelukan suaminya. Sekali lagi ia mencoba merebut Shoyo dari pelukan Keiji, namun dengan sigap Kotaro menjauhkannya. Sawamura Daichi menggeram marah, "Dia bayi kami! Shoyo bayi kami. Jangan asal dasar penipu. Kalian tukang culik anak?"

"Anak ini adalah anakku." Keiji tetap bersikukuh. Dieratkan Kotaro pelukan tangan kirinya di pundak yang ia kasihi itu dan katanya mendukung Keiji, "Kalian yang penipu. Apa sekarang sedang marak penipuan yang mengaku-aku seperti kalian?"

"Dia anakku!" Koshi maju dan mencengkeram tangan Keiji yang memegangi Shoyo. Dengan kuat si hitam menampik, menyembunyikan bayinya di antara tubuhnya dan tubuh suaminya. Tangis bayi di dalam selimut membuat Keiji berpaling, "Ssst, Shoyo sayang? Tenang ya. Tidak apa. Ada orang gila di sini. Mau ambil Shoyo dari Mama."

Hati Kotaro tercubit. Bisik lembut itu menenangkan dan cinta Keiji nyata pada bayi yang jelas-jelas bukan darah daging mereka. Hilang akal istrinya itu bahwa anak mereka telah terbenam tulang belulangnya di tanah, abunya ada di altar di kamar mereka. Bahwa yang ia peluk dan timang-timang itu adalah sebenar-benarnya anak pasangan Sawamura itu.

"Kau yang gila!" Koshi mengamuk. Dicakarnya tangan Keiji meski kemudian berhasil dicegah Kotaro yang melotot tajam. "Tolong menyerah sajalah. Shoyo adalah anak kami. Kalian itu tukang mengaku."

"Hanya ada satu penyelesaian. Kita tinggal penggal dua anaknya dan masing-masing mendapatkan separuh bayinya. Adil."

"Kau gila!"

Keiji meraung tak rela. Pisau di tangan hakim menakutinya. Pelukannya menguat pada tubuh kecil Shoyo yang membuat bayi itu makin memekik. Koshi membeku, tubuhnya gemetaran. Bibirnya berkali-kali berujar, "Membunuh Shoyo maksudmu? Orang gila macam mana yang rela anaknya mati."