Mansion Lee

09:00 am

Sosok namja dengan wajah tegas berjalan memasuki pintu utama. Namja berusia 32 tahun itu membawa tas kertas berisi botol-botol Cachaça, minuman khas dari Brazil di salah satu tangannya.

"Tidak bisa seperti ini. Kau harus mencoba mencari jalan lain yang sekiranya lebih baik." Ucap Seokmin.

"Memang menyusahkan tapi kalian pasti bisa." Kini Chan yang berbicara.

Seokmin, Chan, Geonhak, dan Jeno terlihat serius membicarakan seputar bisnis di ruang keluarga. Keempat alpha itu telah siap dengan pakaian resmi mereka untuk mengadakan rapat besar tahunan St. Carat Foundation pukul 10 nanti.

Selama dua minggu mereka berempat sudah berkeliling dunia untuk melihat perkembangan St. Carat Fondation di masing-masing cabang dunia. Bahkan baru pukul 4 subuh tadi mereka sampai di rumah dan kini di jam 9 pagi ini mereka sudah siap dengan pakaian resmi mereka.

Rapat nanti akan dipimpin oleh Geonhak sehingga Seokmin dan Chan memberikan arahan ekstra ke line penerus St. Carat Foundation itu. Jeno bahkan hanya bisa menepuk bahu hyungnya untuk memberi semangat.

Pembicaraan lumayan berat namun suasana tidaklah terlalu mengekang. Bisa stress duluan si Geonhak jika ditekan terlalu banyak.

"Eoh mom?" Ucap Jeno kala menyadari kehadiran namja dengan manik berwarna hijau itu.

"Annyeong."

"Kapan sampai Korea?" Tanya Chan yang langsung membawa pria itu ke pelukannya.

"Baru saja. Surprise? Hahaha…" Jawab pria itu.

"Tidak istirahat saja mom?" Saran Geonhak.

Byun Shane, professor Geonhak dan Jeno yang sudah setahun ini menjadi tunangan Chan itu menggeleng pelan.

Bicara mengenai Shane, ayah Shane adalah orang Korea sedangkan eommanya keturunan campuran Inggris-Brazil. Maka dari itu wajahnya adalah pencampuran asia dan latin dengan manik berwarna hijau.

Ia berada di Brazil selama empat hari untuk menjadi pembicara sebuah seminar international dan baru sampai di Korea hari ini juga.

"Seokmin hyung, aku membawakan pesananmu." Kata Shane sambil menyerahkan tas kertas yang ia bawa.

"Gomawo! Wow, thanks Shane." Ucap Seokmin dengan girang.

"Sama-sama. Dimana yang lainnya?"

"Di dapur. Susul saja kesana." Kata Chan.

Shane mengangguk lalu melenggang ke dapur meninggalkan keempat orang itu kembali ke perbincangan bisnis mereka.

Di dapur ini, terlihat Jisoo bersama Jaemin dan Jeongin sedang asyik membuat beraneka macam kue. Masing-masing pria manis itu menggunakna apron berwarna pastel.

"Uwah eomeoni sudah pulang!" Kata Jeongin kala melihat Shane.

"Annyeong semua."

"Shane, aaa…" Ucap Jisoo sambil membawa cookies coklat langsung ke mulut Shane.

Shane langsung mengunyah cookies yang masih terasa hangat itu. Ia dapat merasakan coklat yang meledak di dalam mulutnya. Benar-benar rasa yang membuat ketagihan.

"Bagaimana imo? Cookies ini menggunakan resep baru dari Jeonghan imo." Kata Jaemin sambil mencetak adonan kue keju di loyang.

"Enak. Rasanya manis tapi tidak membuat eneg. Apa ada yang bisa aku bantu?" Ucap Shane.

Jisoo menggeleng sambil membawa tubuh namja yang lebih tinggi darinya itu untuk duduk di salah satu kursi.

"Aku tahu kau baru sampai barusan. Maka duduk dan nikmati teh dan kue-kue ini oke." Ucap Jisoo sambil membawakan secangkir teh dan sepiring kue beranek jenis ke hadapan Shane.

Shane hanya mengangguk paham sambil menyesap tehnya.

"Oh iya eomma, aku ingin bertanya sejak kemarin hanya saja aku lupa terus." Ucap Jeongin sambil memasukan dua sendok gula ke mixer.

"Ada apa In?" Tanya Jisoo yang kini mengeluarkan loyang berisi macaron berwarna-warni dari oven.

"Aku mencoba menelepon halmeoni semenjak kemarin tapi halmeoni tidak mengangkat sama sekali. Aku coba menelepon harabeoji, teleponnya mati terus."

"Mungkin halmeoni sedang sibuk?" Kata Jaemin mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Jeongin menyerit tidak setuju. Selama ini, sesibuk apa pun halmeoninya, halmeoni pasti mengangkat teleponnya atau setidaknya akan menelepon balik jika tidak sempat mengangkat telepon.

Jeongin memang menjadi salah satu yang paling rajin menelepon sang halmeoni di tiap minggu.

"Sudah dicoba menghubungi halmeoni lagi?" Tanya Shane.

"Sudah, imo. Bahkan setiap aku memegang handphone aku menelepon halmeoni."

Ting…

Satu pesan masuk terpangpang di layar handphone Jisoo. Jisoo meletakan loyang yang ia hampir masukan ke oven di meja lalu melihat pesan tersebut.

Oh itu dari hyungnya.

Kata demi kata ia baca dan kala pesan itu sudah selesai ia telaah, Jisoo menelan ludahnya sendiri.

Dengan kecepatan ekstra ia berlari menuju ruang keluarga tempat para alpha masih sibuk bercengkrama. Shane, Jaemin, dan Jeongin yang kebingungan juga ikut menyusul sosok Nyonya Lee itu.

"Eomma? Ada apa?" Tanya Jeno terlebih dahulu.

Seluruh pasang mata kini menatap Jisoo.

"Seokmin-ah, Chanie, semuanya… Kuatkan hati kalian."

Krik.

Krik.

Krik.

"Hah?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pulau Jeju

11:00 am

"Aku terlihat pendek, ulangi."

"Abeoji, aku tak ingin kurang pencahayaan."

"Aish Gyu, dihitung dong. Jangan langsung jepret begitu."

Mingyu hanya bisa mengelus dadanya secara imajiner kala mendengar protes dari Soonyoung, Jihoon, dan Jisung.

Dari tadi Mingyu merasa salah terus kala memfotokan keluarga Kwon satu ini.

Atas perjuangan ekstra, Mingyu akhirnya selesai memfotokan Soonyoung, Jihoon, dan Jisung setelah tadi Soonyoung yang memfotokan Mingyu, Wonwoo, Moonbin, dan juga Hyunjin.

Keluarga Kwon memang sedang berlibur di Jeju dan hari ini sudah hari keempat mereka berada di pulau nan indah tersebut.

Terlalu banyak perjuangan mereka sekeluarga untuk menyesuaikan jadwal. Tentu saja, semuanya memiliki kesibukan mereka masing-masing.

Entah Soonyoung dan Mingyu yang sibuk dengan Monteen Stage, Jihoon yang harus memproduksi lagu-lagu terbaru untuk Monteen Entertainment, Wonwoo yang dikejar deadline untuk novelnya juga mengurus butik bersama Myeongho, atau anak-anak yang sibuk dengan masa perkuliahan mereka.

Mereka ada di sebuah restaurant pinggir tebing untuk makan siang dan kebetulan view disini amat sangat cantik. Sangat sayang jika tidak diabadikan bukan.

"Sudah-sudah, ayo lanjutkan makannya." Kata Jihoon sambil menarik Soonyoung dan Jisung kembali ke tempat duduk mereka.

Siapa coba yang dari tadi protes sehingga membuat proses pengambilan foto berjalan dengan lama.

Moonbin yang merasa sedikit kelelahan karena olahraga air yang mereka lakukan beberapa saat lalu langsung menempel ke sang appa begitu Mingyu duduk kembali ke kursinya.

Telihat Wonwoo yang menyuapi Mingyu dan Moonbin secara bergantian karena Mingyu yang sibuk mengirimkan pesan di handphonenya sambil mengelus surai Moonbin.

Sedangkan si bungsu Hyunjin sedang asyik mengupdate kegiatan mereka di media sosial. Ia tentu harus memberi makan para penggemarnya. Selain berkecimpung di dunia bisnis appa dan samchonnya, ia juga telah menjadi selebgram dengan jutaan pengikut.

Mereka semua tidak sempat memegang handphone karena menikmati permainan air tadi. Menaiki banana boat, paralayang, dan banyak arena air lainnya.

Di sisi sebrang, ada Jisung yang memakan ice cream matcha bersamaan dengan dirinya yang menelepon Chenle.

Chenle dari tadi curhat bahwa ia merindukan hyungnya yang ada misi mata-mata sehingga sosok itu menghilang selama seminggu full.

"Jadi kau tak merindukanku?"

"Ei bukan begitu, Jisung-ah… Eiiiiiii….."

Jisung tertawa karena melihat respon Chenle yang menggemaskan itu. Andai saja Chenle ada di sampingnya, sudah pasti pipi namja itu tidak akan selamat karena dicubiti oleh Jisung.

Mari beralih ke Soonyoung yang meminum mojito dengan potongan buah lemon dengan penuh nikmat. Sensasi segar langsung menyeruak ke dalam dirinya.

Jemari pria itu juga berselancar di handphonenya. Ia mulai membalas satu persatu pesan dari Jonghyun dan Minki yang menyerangnya dari pagi tadi.

Soonyoung terkekeh pelan kala melihat balasan dari kedua pemimpin cabang Monteen itu yang menuntut liburan juga. Tentu saja Soonyoung akan mengijinkan mereka untuk mengambil libur, tapi tidak tahu kapan itu.

"Hm?" Gumamnya kala melihat satu pesan dari Seungcheol yang dikirim sejak pukul 9 tadi pagi namun tertimbun oleh chat para pegawai Monteen Stage.

"Ji…"

Soonyoung memanggil Jihoon dengan nada aneh sehingga membuat Jihoon menatap sang suami dengan pandangan bertanya.

Namja berumur 39 tahun itu menatap Jihoon seolah-olah dunia akan kiamat.

"Hyung?!" Kini Mingyu langsung menoleh dari layar handphonenya ke Soonyoung. Bahkan Moonbin terperanjat kaget karena appanya yang memekik secara tiba-tiba.

Namja berumur 19 tahun itu langsung menegakan tubuhnya karena merasakan telinganya berdegung.

Kini Wonwoo, Jihoon, Moonbin, dan Jisung menatap Soonyoung dan Mingyu bergantian dengan wajah penuh tanda tanya.

Soonyoung mengangguk dengan wajah panik seolah mengiyakan apapun itu yang dimaksud Mingyu. Ia lalu menyerahkan handphonenya ke Jihoon sehingga Jihoon bisa membaca setiap kalimat yang ada di layar dengan seksama.

"Soon?!" Ucap Jihoon dengan panik.

Soonyoung mengangguk sekali lagi mengiyakan apa pun yang ada di otak Jihoon saat ini.

"Semuanya, kita kembali sekarang."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Markas Utama Alligator

09:30 am

"Hanya itu yang bisa kulaporkan… Boss, Selene."

"Segera kembali ke markas, Apollo."

"Roger."

Bip.

Sambungan dengan Serim di layar akhirnya terputus setelah Hansol juga Junhwi mendengarkan segala perkembangan misi Serim selama 30 menit penuh.

Teen yang berdiri di samping Seven menyerahkan berkas misi kepada Hansol.

Hansol memeriksa berkas itu sekali lagi sebelum ia mencap berkas itu tanda misi telah selesai. Ia lalu berkas itu ke Junhwi.

"Serim benar-benar luar biasa, hyung." Ucap Hansol.

Junhwi hanya tersenyum kecil karena ia pun sepakat dengan apa yang diucapkan Hansol mengenai kemampuan anak sulungnya.

Serim benar-benar mewarisi kemampuan gila yang Junhwi dan Myeongho miliki.

Baik Hansol maupun Junhwi sama-sama disibukan oleh tugas Alligator. Junhwi yang menjadi trainer utama untuk para agent disibukan oleh perekrutan agent baru. Sedangkan Hansol harus mengurus Alligator cabang Vietnam yang diserang oleh mafia lokal.

Mereka benar-benar sibuk selama beberapa minggu ini.

Begitu juga dengan Seungkwan yang disibukan oleh jadwal manggung yang datang kepadanya. Julukan barunya adalah Diva Boo.

Untuk Myeongho sendiri, karena ia adalah trainer di Monteen Entertainment sekaligus designer, jelas ia tak punya banyak waktu luang. Terlebih kemarin ia baru selesai mengadakan pagelaran busana spesial musim gugur dan menghandle seorang diri karena Wonwoo yang mengambil libur.

"Appa!"

Dua suara melengking itu membuat Hansol dan Junhwi menoleh bersamaan.

Terlihat sosok Chenle dan Seongmin yang langsung menerjang ke pelukan appa mereka masing-masing.

"Kenapa kalian disini?" Tanya Hansol.

"Appa sih gak pulang 10 hari ini. Seongmin kangen appa." Ucap anak berumur 12 tahun itu. Seongmin bahkan masih mengenakan seragam sekolahnya, ia pasti langsung ke markas Alligator ini begitu selesai sekolah.

Jadwal Seongmin hari ini memungkinkanya untuk pulang cepat sehingga di jam 9.30 pagi ini ia sudah sampai di markas Alligator. Artinya bahwa Seongmin di sekolah hanya selama satu jam saja.

"Menyelinap." Kata Junhwi.

Chenle hanya menyengir untuk menanggapi ucapan appanya itu sambil mengeratkan pelukannya.

Ia sudah tak bertemu appanya selama sepuluh hari, ditambah hyungnya yang juga menjalankan misi selama seminggu, ditinggal Jisung selama empat hari, dan eommanya sibuk selama sehari penuh.

Karena rasa kesepian yang memuncak, ia akhirnya mengajak Seongmin untuk menjemput appa mereka.

Chenle dan Seongmin memang tidak diijinkan untuk berurusan dengan Alligator, maka dari itu mereka menggunakan cara yang susah untuk masuk ke dalam markas ini.

Iya, mereka menyelinap.

Ini bukanlah kali pertama mereka menyelinap, ini sudah penyelinapan kesekian. Walau akhirnya selalu gagal karena mereka pasti tertangkap oleh para agent.

Seperti tadi mereka tertangkap di area ventilasi ruang latih. Akhirnya para agent membiarkan kedua anak petinggi Alligator itu untuk menuju ke ruangan Hansol dengan sendirinya.

"Boss, ada sambungan dari Nyonya." Kata Seven.

Hansol hanya mengangguk lalu layar raksasa itu menampilkan wajah Seungkwan yang terlihat panik.

Tak diguga bahwa di samping Seungkwan sudah ada Myeongho yang menampilkan wajah yang sama dengan yang ditampilkan oleh Seungkwan.

"Berita buruk! Benar-benar buruk!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mansion Choi

Saat ini~

Di mansion Choi ini sudah ada keluarga Lee yang duduk dengan sangat tidak tenang.

Mereka tengah menantikan yang lain untuk datang berkumpul.

Para pelayan setia mansion ini diminta untuk meninggalkan ruang keluarga oleh Jisoo. Karena ketika nanti seluruh Serenity dan Diamond hadir, ruangan pasti akan terasa penuh.

"Kau ada panggilan rektor bukan?" Ucap Chan kepada tunangannya yang duduk di sebelahnya.

Shane menggeleng pelan lalu berbicara dengan suara kecil.

"Tak apa hyung. Disini lebih penting." Jawabnya.

Chan hanya mengangguk sekali lalu mulai tenggelam dalam pikirannya.

Di sisi lain jemari Seokmin dan Jisoo terlihat saling mengenggam. Mereka sangat khawatir, tentu saja.

Empat Diamond bermarga Lee ini juga memilih untuk diam dan terlarut dalam keheningan.

Jam kuno raksasa di dinding sudah menunjukan pukul 10 pagi. Seharusnya keempat alpha Lee berada di kantor utama St. Carat untuk memimpin rapat. Namun pada kenyataannya mereka dengan jas yang sama sekali belum lusuh malah duduk di sofa dengan wajah tidak tenang.

Rapat dibatalkan dan tidak ada yang boleh protes dengan keputusan itu.

Seokmin yakin asistennya pasti dimaki habis-habisan oleh jajaran pejabat lainnya, maka ia akan memastikan sang asisten mendapat upah yang setara dengan perjuangannya itu.

Di tengah keheningan yang beraura suram itu, suara langlah kaki yang bergemuruh terdengar memasuki mansion.

Oh itu keluarga Choi.

"Sudah mencari?" Tanya Seungcheol langsung.

"Sudah hyung. Semuanya juga sudah mencari dan mencoba menghubungi, tapi hasilnya nihil." Ucap Jisoo.

Seungcheol, Jeonghan, Eunwoo, dan Dongju akhirnya turut duduk di sofa.

Seungcheol terlihat memegang kepalanya yang berdenyut tanpa ia minta.

"Bagaimana bisa?!" Ucap Seungcheol dengan kesal.

"Salah kita semua, Cheol." Sahut Jeonghan sambil mengusap bahu sang suami.

Jeonghan terlihat mencoba tenang walau kepanikan tetap terlihat dari gerak tubuh pria cantik itu.

Terlihat para pelayan membawa koper-koper dan tas dari arah luar. Mereka membawanya ke depan kamar masing-masing pemilik koper.

Oh iya, keluarga Choi juga sedang liburan di beberapa villa yang memang masih berada di area Seoul selama dua minggu penuh. Maka dari itu koper-koper yang terlihat berukuran besar.

Diamond line yang ada disana hanya mampu turut tenggelam dalam keheningan tanpa mau memecah suasana. Para remaja itu tentu saja ikut merasakan aura penuh tekanan yang ada. Kenapa semakin banyak orang malah semakin hening?

Ruang keluarga itu kembali sunyi ada pembicaraan yang berarti karena mereka semua memilih termenung.

Tak lama, terlihat keluarga Jeon dan Moon yang masuk ke dalam mansion. Bisa dilihat wajah panik Seungkwan, Seongmin, dan Chenle yang sangat kentara ataupun wajah panik tapi dicoba ditutupi milik Myeongho. Sedangkan Hansol, Junhwi, dan Serim terlihat datar walau mereka juga merasakan panik.

"Belum ada yang terjadi?" Tanya Seungkwan. Ia bahkan belum sampai di ruang keluarga ini.

Hanya gelengan dari banyak pihak yang didapatkan Seungkwan sebagai jawaban.

"Aku tidak bisa melacak." Kata Hansol yang memberikan penjelasan.

Hansol tentu sudah melakukan hal-hal yang perlu sebelum diminta, maka dari itu yang lain paham penjelasan pemimpim Alligator itu.

Akhirnya kedua keluarga yang baru saja hadir itu ikut duduk di sofa dengan pasrah.

Lama terdiam, tak terasa jam kini menunjukan pukul 11 siang.

Suara nada dering handphone Seungcheol terdengar di tengah kesunyian ini. Ada nama Soonyoung di layar dan Seungcheol langsung mengangkat panggilan itu.

"Hyung, kami sudah berada di bandara. Kemungkinan satu setengah jam lagi kami akan sampai di Seoul. Mian aku baru melihat chatmu."

"Ne, kami tunggu."

Dan panggilan berakhir.

"Soonyoung dan yang lainnya sudah di bandara Jeju." Ucap Seungcheol.

"Baik semuanya, mari kita menenangkan diri sedikit." Kata Jeonghan setelah ia menghela nafasnya.

"Sepertinya kita memang harus menenangkan diri." Sahut Jisoo.

Memang tidak enak jika mereka harus menunggu kedatangan keluarga Kwon dalam keadaan tegang begini.

"Mau membuat teh dan cemilan?" Usul Myeongho.

Jeonghan dan Jisoo mengangguk.

Akhirnya Jeonghan, Jisoo, Myeongho, Seungkwan, dan Shane bangkit dari duduk mereka lalu melenggang ke dapur.

Mereka memilih membuat sendiri kudapan dan teh sekalian untuk melepas stress.

"Appa, tak ada yang bisa kami lakukan kan?" Tanya Dongju sambil menatap sang appa.

"Belum ada." Jawab Seungcheol.

"Kalau begitu, aku akan memetik buah di kebun." Kata Dongju yang tentu saja Seungcheol mengijinkannya.

Dongju akhirnya menarik seluruh Diamond Line untuk ikut memetik buah di kebun yang terletak di belakang mansion.

Halaman yang dulunya hanya terisi pohon-pohon besar, kolam renang, dan lapangan golf, kini terisi dengan kebun luas terisikan buah, sayur, dan bunga. Sebuah perubahan yang terlintas karena ide Jeonghan.

Sepeninggal Diamond Line, para pemimpin keluarga yang tersisa hanya bisa menghela nafas mereka.

Tangan Junhwi sebenarnya dari tadi sibuk mengotak-atik sebuah device. Namun segala usahanya bisa dikatakan gagal.

"Terlalu handal." Ucap Junhwi.

Tentu saja para namja yang lain mengerti maksud Junhwi.

"Hansol, 60." Ucap Seungcheol.

Hansol mengangguk mengerti lalu menempelkan handphonenya ke telinga.

Para pemimpin keluarga itu kini terlihat sibuk dengan handphone mereka masing-masing. Bukan karena mereka tak ada kerjaan, tapi karena mereka sedang memonitor pekerjaan para bawahan.

Lebih baik daripada termenung dalam kesalahan bukan?

Beberapa puluh menit terlewati. Para Diamond Line kembali memasuki mansion dengan buah-buahan yang berada di tangan mereka masing-masing.

Ada sekeranjang strawberry, blueberry, dan blackberry yang dipegang masing-masing oleh Dongju, Jeongin, dan Seongmin. Ada juga sekantong mangga dan apel di tangan Jaemin dan Chenle. Oh juga semangka, melon, dan kelapa yang dbawa oleh Eunwoo, Serim, Geonhak, dan Jeno.

Para Diamond lalu menuju dapur dan menyerahkan buah-buahan itu untuk disiapkan oleh para eomma. Setelah itu mereka kembali ke ruang keluarga dan duduk di lantai yang berlapiskan karpet bulu sambil mendekat ke arah meja.

Tak ada yang mereka lakukan setelahnya kecuali kembali diam. Ada yang memainkan handphone, ada yang membaca koran dan majalan yang tersedia di bawah meja, ada juga yang memilih menumpukan kepalanya di meja.

Mari menuju dapur mansion Choi.

Di meja yang terletak di tengah dapur, Myeongho sedang mengusap cangkir-cangkir teh dengan kain. Ia dengan telaten mempersiapkan piranti-piranti untuk minum teh.

Jisoo tengah membuat beberapa kudapan manis dan ringan di sisi sebrang Myeongho.

Di samping tempat pencucian, ada Shane yang baru saja selesai mencuci buah-buahan yang dibawa oleh para Diamond. Ia kini turut membantu Seungkwan yang mengupas buah-buahan dan menatanya di piring.

Teh kali ini disiapkan oleh Jeonghan yang sudah kembali dari kebun untuk mengambil bunga krisan kering yang memang dipersiapkan untuk teh. Dia lebih memilih mengambilnya sendiri daripada meminta bantuan pelayan karena sekalian menenangkan diri di rumah kaca di tengah kebun bunga.

"Hyungdeul, aku ada kenalan yang mempunyai florist. Kebetulan juga kemarin ada Juliet Rose yang datang setiap enam bulan sekali." Ucap Shane yang membuat yang lainnya langsung menatap ke arahnya.

"Ide yang bagus." Kata Myeongho yang diangguki oleh yang lainnya.

"Bunga itu pantas." Sahut Jeonghan.

"Ada perebutan? Tak mungkin bunga secantik itu dijual dengan cuma-cuma bukan?" Tanya Jisoo.

Shane mengangguk mengiyakan.

"Lelang akan dimulai sebentar lagi. Hanya ada 100 tangkai." Jawab Shane.

"Apa perlu aku hack saja?" Ucap Myeongho.

Bahkan Myeongho sudah akan memimjam device sang suami jika saja Jisoo tidak membuat namja itu tetap berada pada posisinya.

"Jangan menggunakan cara yang illegal oke. Seungkwanie…" Ucap Jeonghan sambil menatap Seungkwan.

Seungkwan pun langsung mengambil handphonenya dan mengetik pesan dengan cepat.

'Oh, sekalian saja' Bathin Seungkwan yang kini kembali mengetik di handphonenya.

"Sudah." Kata Seungkwan.

Tak lama akhirnya segala teh dan kawan-kawannya selesai dipersiapkan. Para eomma berjalan menuju ke ruang keluarga dengan nampan dan troli berisikan teh dan kudapan ringan juga potongan buah.

Beberapa Diamond membantu eomma mereka untuk menyiapkan teh.

Setelah semuanya kebagian akhirnya mereka dapat menikmati aroma dan rasa dari teh krisan yang tersedia.

Setidaknya teh ini dapat menenangkan diri mereka masing-masing untuk sementara.

"Gila! Mati kita."

"Soon berisik."

"Ayo cepat!"

"Ini sudah cepat, appa."

"Samchon berisik ih."

"Hyung, tenang."

"GILAAAA…."

Suara keributan terdengar dari arah pintu masuk. Benar saja, keluarga Kwon yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga dengan tergopoh-gopoh. Wajah mereka amatlah sangat panik.

"Bagaimana?!" Tanya Soonyoung yang langsung duduk di sofa.

"Tidak diketahui." Jawab Seokmin yang menyebabkan keluarga Kwon yang baru saja hadir menghela nafas mereka.

Moonbin, Hyungjin, dan Jisung juga ikut duduk di lantai bersama Diamond yang lain.

Teh hangat juga langsung disuguhkan oleh Shane yang memang paling dekat dengan troli teh.

"Gomawo, eomeoni." Ucap ketiganya.

Myeongho yang dekat dengan troli juga ikut menyuguhkan teh ke Soonyoung, Jihoon, Mingyu, dan Wonwoo.

Mereka langsung menyesap teh itu, mencoba mencari ketenangan di tengah kepanikan.

Ruang keluarga kini penuh dengan Serenity dan Diamond Line. Walau sofa yang dapat menampung 19 orang itu tetap terlihat lenggang karena Diamond Line yang memutuskan duduk di lantai yang beralaskan karpet bulu putih itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Damanic's Talk

Holla semuaaaaaaa~

Akhirnya kita sampai di penghujung cerita ini.

Mau TMI... Awalnya ngeset Verkwan kaga punya anak karena kecelakaan pesawat itu. Cuma mau gimana atin ra tego. Aku tuh paling gak jago bikin konflik yang bikin sakit. Kaya gak mau karakterku menderita lama-lama T.T. Udah itu yang di posisi Serim awalnya adalah Kyulkyung. Cuma ya karena pengen aja gitu semuanya namja + Cravity debut, jadi Kyulkyung aku ganti.

Mau TMI lagi nih, sebenernya bias aku di ONEUS itu Hwanwoong. Cuma karena dia couplenya Ravn yang kelahiran 95, makanya yang aku masukin di cast itu si dede Xion. Kaya ada yang ganjel aja gitu kalo gak ngomongin padahal tau sangat tidak penting. Wkwkwk... (Padahal bisa aja kan ceritanya nanti Hwanwoong kepincut daddy gitu *plak.)

TMI lagi (TMI aja teroosss), inget gak kalo ini remake dari karakter full OC? ( iya remake sejenis A Sky Above The Sky) Jadi tuh, Quattuor Coronam di cerita asli bukan merujuk empat keluarga tapi empat anak kembar dari keluarga bangsawan Kennedyes. Remakenya besar-besaran, sampe pusing awalnya. But yeah, beginilah jadinya...

TMI terakhir. Kalo ada yang belum bisa ngebayangin jumpsuit X Clan dan Alligator, bisa dilihat kostum Monsta X di Shoot Out.

Aku ingin berterimakasih kepada seluruh reader yang sudah membaca, like, ataupun juga yang komen di cerita ini. Memang cerita ini masih ada kekurangan jadi aku mohon maaf, aku juga berharap untuk terus berkembang hehehe...

Gak tau mau ngomongin apa lagi, yang jelas makasih makasih makasih~

Sampai jumpa di lain waktu.

Salam, Damanic.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tap.

Tap.

Tap.

Langkah kaki yang terdengar tenang langsung menjadi pusat atensi. Seluruh pasang mata terlihat memandang penuh harapan ke sosok yang baru hadir ini.

"Appa/abeoji/harabeoji!" Ucap mereka bersamaan.

"Kalian datang." Kata Hyunwoo sambil duduk di sofa utama.

"Appa… Dimana eomma?" Pertanyaan itu langsung Seungkwan ajukan tanpa basa-basi.

Hyunwoo mengedarkan pandangannya ke seluruh orang yang ada disana.

"Kalian semua tahu dimana kesalahan kalian kan?" Ucapan datar itu keluar dari Hyunwoo.

"Ne…"

Beberapa menjawab pelan, sedangkan beberapa menganggukan kepalanya.

"Ki menghancurkan handphonenya dan handphoneku sehingga kalian sama sekali tidak bisa menghubungi kami. Ia juga menyadap Alligator agar tidak ada yang bisa menemukan lokasi kami. Kalian harus tahu bahwa eomma dan halmeoni kalian itu menangis sepanjang hari."

Ucapan Hyunwoo membuat seluruh orang disana terdiam dalam lautan penyesalan.

"Harabeoji, Lele salah. Lele mau minta maaf ke halmeoni." Kata Chenle yang kini berlutut sambil kedua tangannya bertumpu pada paha Hyunwoo.

Dongju juga melakukan hal yang sama dan memasang wajah memelas.

"Kami salah. Harabeoji jangan marah…" Suara halus itu terdengar dari Jeongin yang melakukan hal yang sama dengan Chenle dan Dongju.

Bahkan mata Jeongin sudah berkaca-kaca.

"Seongmin juga harus minta maaf, harabeoji." Ucap Seongmin yang mengikuti jejak ketiga hyungnya tadi untuk memohon pada Hyunwoo.

Jaemin ikut duduk di lengan sofa sambil mengenggam tangan Hyunwoo dengan mata yang memelas.

Begitupula sang sulung Diamond Line, Moonbin yang duduk di sisi sofa satunya dan memegang lengan Hyunwoo.

"Abeoji… Kami harus menebus dosa kami. Tolong beritahu dimana eomeoni." Ucap Myeongho.

"Jebal abeoji…." Kini Jihoon yang memelas. Seorang Jihoon sampai memelas, ini adalah moment langka.

Hyunwoo tersenyum tipis lagi.

"Seungcheol, Jisoo, Seungkwan. Kalian yang paling bersalah disini, benar?"

Ketiga pemilik nama itu mengangguk dengan kaku.

"Maka kalian harus mempersiapkan diri dengan lebih."

Senyuman tipis di wajah Hyunwoo menyebabkan seluruh pasang mata disana merinding.

"Ki masih marah saat ini jadi dia berada di area tanding di basement."

Kihyun.

Marah.

Area tanding.

Tiga hal yang benar-benar menciptakan kombinasi berbahaya.

"Kami sudah mencari ke segala sudut mansion bahkan ke area tanding, harabeoji. Tapi kenapa kami tak menemukan halmeoni disana?" Tanya Jeno sambil menyeritkan dahinya.

Ketika baru keluarga Lee yang sampai di mansion Choi, mereka langsung mencari Kihyun di segala penjuru mansion yang luar biasa luas ini, berharap mereka menemukan sosok itu. Bahkan Jeno yang berjalan bersama Jaemin sangat yakin mereka tak melihat Kihyun di area tanding.

Hyunwoo hanya tersenyum tipis menanggapi.

"Tameng kamuflase." Jawab Hyunwoo dengan singkat yang membuat seluruh sosok di sana mengerti.

Hyunwoo menepuk pundak cucu-cucunya untuk berdiri lalu memimpin langkah mereka.

Langkah kaki mereka terasa berat untuk berjalan menuju ruangan khusus yang menjadi tempat area tanding yang terletak di bawah tanah.

Dan disinilah Serenity dan Diamond Line akhirnya berdiri.

Hyunwoo meletakan telapak tangannya ke dinding. Tak ada yang spesial di dinding itu namun ketika gambaran area tanding yang kosong itu menghilang digantikan dengan area tanding dengan seseorang yang berada di atas ring, mereka paham bahwa inilah tameng kamuflase yang dimaksud Hyunwoo.

Mereka bisa melihat Kihyun yang memukul samsak bertubi-tubi. Bahkan terdapat lebih dari 7 samsak yang sudah hancur tergeletak begitu saja. Ada yang tergeletak di atas ring, adapun yang hancur tak berdaya hingga di luar ring.

"Eomma…"

Panggilan Seungcheol itu menyebabkan Kihyun menghentikan kegiatannya dan menatap mereka semua dengan tatapan tajam.

"Kau masih ingat punya eomma, Choi Seungcheol?" Suara itu datar dan menyebabkan suasana mencengkam.

"Eom-"

Ucapan Seungkwan tertahan oleh lirikan sengit yang diberikan Kihyun.

Genggaman tangan Shane pada Chan semakin erat. Ia baru mengenal Quattuor Coronam selama setahun lebih namun ini pertama kalinya ia melihat sisi amat sangat menyeramkan sosok eomma bagi seluruh Serenity ini. Apalagi Kihyun menuangkan kasih sayang padanya dengan sangat melimpah sehingga ia belum pernah melihat Kihyun marah.

Kihyun akhirnya menghela nafasnya. Ia turun dari ring tanding lalu mendudukan dirinya di sofa yang ada di ruang tanding ini. Auranya benar-benar membuat siapapun terdiam.

Para Serenity dan Diamond kini bergeser ke sekitar Kihyun. Ada yang duduk di sofa, ada yang berdiri, dan tetap ada yang lesehan di lantai.

"Eomma… Maafkan kami karena melupakan ulang tahunmu." Ucap Jisoo akhirnya setelah keheningan panjang yang terjadi.

"Kami salah eomma, mianhe…" Ucap Seungkwan lagi.

Suasana hening.

Siapa yang berani berbicara kala Nyonya Besar sudah seperti ini?

Jika saja Eunwoo tidak menonton berita di MBB pagi tadi, mungkin tidak ada yang menyadari hal penting yang seharusnya tidak boleh luput dari ingatan mereka.

MBB menyiarkan sosok Kihyun yang memberikan donasi yang luar biasa besarnya ke banyak panti asuhan selain yang dipegang oleh Yoo Company.

Eunwoo merasa bangga sekali memiliki halmeoni yang menjungjung tinggi rasa kemanusiaan. Ia bahkan berjanji akan menjadi sosok yang lebih dermawan lagi. Namun begitu reporter mengatakan bahwa Kihyun melakukan kegiatan amal itu dalam rangka ulang tahunnya, Eunwoo langsung meloncat dari duduknya.

Ia yang tak pernah berteriak langsung mengeluarkan suaranya untuk memanggil eomma, appa, dan dongsaengnya yang sedang ada di halaman belakang villa tempat mereka berlibur.

Dengan panik Jeonghan mengecek tanggal di handphonenya dan benar saja, ulang tahun Kihyun sudah terlewat.

Serenity dan Diamond yang lain tidak ada yang membahas, itu artinya tidak ada yang sadar akan hal ini.

Dari sanalah Seungcheol dan Jeonghan langsung menginfokan ke Serenity yang lain dan meminta mereka untuk langsung menuju ke mansion Choi.

"Kalian-'

Siap tidak siap… Badai akan datang…

"Kalian benar-benar menyakiti aku. Terlebih kalian Choi Seungcheol, Choi Jisoo, Choi Seungkwan. Aku tahu kalian sudah berkeluarga. Aku tahu! Tapi melupakan ulang tahun sosok yang menjadi ibu kalian ini benar-benar tindakan yang sangat menyakitkan! Aku hanyalah pria tua yang siap untuk menjemput ajal. Segala impian dan cita-citaku sudah tercapai. Umurku memang bertambah yang artinya semakin sedikit waktuku untuk hidup. Tapi bukan berarti aku bahagia jika tidak ada yang mengingat hal itu. Untuk kalian semua! Aku tahu kalian sibuk dengan dunia yang sedang kalian geluti. Aku tahu para pemimpin sibuk dengan perusahaannya. Seungcheol dengan perkembangan RED Corp yang luar biasa, Seokmin dan Chan yang melebarkan sayap perusahaan, atau Soonyoung dan Mingyu yang sedang sibuk-sibuknya dikejar target. Aku tahu Jeonghan terfokus pada Angelus Café atau Jisoo yang sibuk di panti asuhan Yoo. Aku tahu Jihoon sibuk membuat lagu, Wonwoo dan Myeongho yang sibuk dengan Boutique Coronam terlebih Wonwoo dengan novelnya, Seungkwan yang sibuk mengisi acara atau manggung, atau pun Hansol dan Junhwi yang selalu meregang nyawa! Oh Shane chagi, aku juga tahu kau sibuk dengan penelitianmu yang datang terus menerus itu. Aku juga paham bahwa para cucuku memiliki kehidupan yang berwarna di masa remaja ini. Moonbin yang sibuk dengan persiapan pagelaran, Jaemin yang penelitian bakteri-virus untuk lomba nasional, lalu Eunwoo, Geonhak, Jeno, Hyunjin, Jisung yang selain kuliah juga turut terjun langsung ke dunia bisnis Quattuor Coronam, selain itu Donju, Jeongin, Chenle yang pusing-pusingnya di NOS, Seongmin yang harus kontrol kesehatan terus menerus, atau Serim yang juga ikut-ikutan meregang nyawa. Aku paham oke. Sekali lagi aku paham. Tapi kenapa kalian sampai lupa? Bahkan tidak ada satupun di antara 26 orang yang mengingat sama sekali? Soonyoung, Mingyu, Hansol, Wonwoo, Jihoon, Seokmin, Chan. Kalian selalu rajin mendatangi makam orang tua kalian di setiap ulang tahun atau peringatan kematian mereka tapi melupakan ulang tahunku. Apa aku harus meninggal dulu baru kalian setidaknya memberiku ucapan? Aku memang tidak bisa menggantikan posisi orang tua kalian itu dan tak akan pernah bisa. Sungjae, Sooyoung, Taehyung hyung, dan Jiwoo memang tak akan pernah bisa tergantikan. Tapi kenapa….. Setidaknya di hari pentingku ini ada yang mengingatnya. Diamond-deul. Jangan sampai kalian melupakan hari penting orang tua kalian. Itu akan sangat menyakiti hati mereka. Dua hari lalu adalah ulang tahunku yang ke 59. Tahun ini adalah tahun terakhirku di nominal 50an sebelum aku menginjak kepala 6. Sebegitukah tidak pentingnya aku di mata kalian? Heol daebak!"

Kihyun mengatakan semua itu bagai melantukan sebuah rap. Untaian kalimat itu tidak memiliki beat namun yang ada hanyalah penekanan di tiap katanya.

Seluruh sosok yang ada disana mau tak mau mendengarkan seluruh ucapan Kihyun yang bernada tinggi tersebut. Range vocal Kihyun memang sangatlah tinggi.

Jujur telinga mereka berdegung dengan kencang namun siapa yang berani untuk protes?

Grep…

Eunwoo dan Serim secara bersamaan langsung memeluk Kihyun. Kekuatan dua namja berusia 18 tahun itu jelas membuat Kihyun tidak dapat berkutik.

"Halmeoni… Mianhe… Kami bersalah… Saranghae…." Bisik kedua sosok itu bertubi-tubi.

Hyunjin, Geonhak, Jeno, dan Jisung juga ikut memeluk Kihyun yang lalu diikuti oleh Diamond line yang lain.

Diamond Line kini mengerubungi sang halmeoni.

Ucapan maaf terdengar bertubi-tubi dari kedua belas orang itu.

Kihyun akhirnya menghela nafasnya dan sebuah senyuman terpantri di wajahnya.

Tentu ia tak bisa lama-lama untuk marah kepada anak dan cucunya bukan? Yah walau ia sudah menghabiskan air matanya kemarin.

Sosok 59 tahun itu mengusap surai cucunya satu persatu. Ia bahkan mengusap air mata yang muncul dari manik Chenle dan Jeongin. Kedua anak berusia 16 tahun itu pasti takut sekali karena melihat luapan amarah Kihyun.

Para Serenity Line tersenyum haru kala melihat Kihyun yang dikelilingin oleh cucu-cucunya. Benar-benar penuh dengan kehangatan. Ditambah mata seluruh orang yang berkaca-kaca menambah perasaan hangat di dalam dada.

Hyunwoo yang sedari tadi menunggu di pintu masuk akhirnya datang dengan senyuman di wajahnya.

"Kiki, ayo rayakan ulang tahunmu sekali lagi. Kau telah membawa kita semua kembali berkumpul, kita layak merayakannya." Ucap Hyunwoo menyalurkan tanganya ke Kihyun.

Benar. Jika anak dan cucunya tidak melupakan ulang tahunnya, tentu mereka masih akan sibuk dengan agenda mereka masing-masing. Entah itu berkutat dengan pekerjaan ataupun menikmati liburan.

Namja berusia 59 tahun itu menghapus setitik air mata di ujung matanya lalu menerima uluran tangan Hyunwoo.

"Kaja!" Ucapnya dengan senyum lebarnya.

Mereka berjalan keluar dari area tanding dan ketika sampai di ruang makan, suasana khas pesta telah tersaji dengan meriah.

Terlihat untaian gantungan kertas berwarna perak, balon-balon putih perak yang melayang dan ada juga yang menghiasi lantai, hingga meja makan yang sudah penuh dengan makanan dan minuman beserta kue tart raksasa di tengahnya.

Asal kalian ketahui, Seungkwan yang ingin menebus kesalahannya mempergunakan para agent Alligator untuk melakukan misi mempersiapkan pesta dalam waktu singkat ini.

Bahkan para agent itu masih menggunakan jumpsuit mereka karena menerima misi yang sangat dadakan itu.

Bayangkan mereka yang harus keluar untuk mencari ornament penghias ruangan, membeli kue tart, memetik buah dan sayuran di kebun, hingga menyiapkan sekian banyak makanan dan minuman.

Untungnya mereka sempat menyelesaikan misi tepat waktu dan menghilang di detik terakhir sebelum Kihyun sampai di ruang makan ini.

"Eomma… Hanya ini yang bisa kami berikan. Walau mendadak dan terlambat…. Saengil chukka hamnida." Ucap Seungcheol sambil memeluk sang eomma.

Jisoo dan Seungkwan juga turut memeluk Kihyun dalam pelukan hangat.

Tanpa hawa yang berarti, Seven dan Teen muncul di belakang Kihyun dengan mengendap-endap. Mereka bahkan menahan nafas mereka semenjak memasuki ruang makan ini.

Seven melempar sebuah kalung tepat ke jemari Seungcheol sedangkan Teen juga melemparkan buket bunga berisikan 59 Juliet Rose ke tangan Jisoo.

Setelah menyelesaikan misi akhir mereka, kedua tangan kanan Hansol itu langsung pergi dari pandangan masih dengan tanpa suara yang berarti.

Pelukan erat antara ibu dan anak itu akhirnya terlepas. Sebuah kalung dengan permata merah Moussaieff sudah terpasang dengan cantik di leher Kihyun.

Sejujurnya para pemimpin keluarga menyiapkan kalung ini sebagai hadiah ulang tahun wajib untuk Kihyun, yaitu ketika umur Kihyun mencapai 60 tahun di tahun depan.

Iya, mereka menyiapkan untuk ulang tahun keenam puluh dari jauh hari tapi melupakan hari ulang tahun kelima puluh sembilan.

Kalung itu disimpan di brangkas mansion Jeon sehingga Seven harus mengambilnya terlebih dahulu.

Kini Jisoo menyerahkan buket bunga berwarna pink lembut itu ke Kihyun.

Kihyun menerima buket itu dengan senyuman penuh kebahagiaan.

"Gomawo." Ucapnya.

Baik yang tua maupun yang muda, semuanya tersenyum dengan lebar.

"Sekali lagi semuanya. Hana dul set…."

Plop…

"Eomma/Eomeoni/Halmeoni SAENGIL CHUKKAE!"

Entah sejak kapan mereka memegang confetti namun yang jelas kertas warna-warni yang bertaburan di udara membuat suasana menjadi sangat meriah.

"Ayo rayakan!"

Suara sorakan dan tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Canda tawa dan pelukan dapat menghangatkan relung hati setiap insan.

Tak semua dari mereka terikat oleh hubungan darah namun mereka bisa menjadi seperti sekarang ini.

Jika melihat kisah mereka apa benar darah lebih kental dari air? Mereka adalah sebuah aliansi bisnis yang ikatan mereka terasa lebih kental dari darah.

Tentu saja alur cerita mereka akan terus berlanjut hingga mungkin ke Quattuor Coronam generasi yang tak terhingga.

Untuk sekarang, mari tutup lembaran kisah para Platina, Serenity, dan Diamond.

Selamat tinggal, Quattuor Coronam. Selamat menjalankan kehidupan kalian dengan penuh kehangatan.

Tetap menjadi mahkota yang menunjukan keagungannya.

Tetap menjadi rumah dan tempat untuk kembali bagi setiap orang.

Mari lambaikan tangan dan dengan senyum yang tulus kita ucapkan selamat tinggal untuk Quattuor Coronam.

.

.

.

.

THE END