Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[Crown for the Queen ]
~ Chapter 31 ~
.
.
"Apa maksudmu?" Tanyaku.
"Budak itu memiliki rambut yang sama denganmu, putri, kata para penjaga pun dia bersikap sangat terpelajar, bagaikan seorang putri mahkota, kami tidak percaya, saat itu kami tidak ingin melayaninya, dia pun mengatakan tidak apa-apa jika kami tidak mau menjadi pelayannya, dia hanya berusaha sok baik di hadapan kami."
"Benar-benar, lalu kami melakukan pembalasan untuknya, dia cukup kuat melawan kami seorang diri."
"Dia juga sempat mencuri kotak harta raja, wanita macam apa dia! Seharusnya dia mendapat hukum cambuk."
"Bahkan Yang mulia raja masih memaafkannya, apa dia seorang penyihir? Dia seperti menghipnotis Yang mulia raja."
Aku hanya terdiam dan mendengar segala cerita dari para pelayan ini, seorang wanita budak dengan memiliki warna rambut yang sama denganku dan sikap bagaikan seorang putri mahkota.
Warna rambut yang seperti aku gunakan sekarang tidak sembarangan orang yang memilikinya, hanya dari keluarga kerajaan Haruno namun tidak semua memilikinya. Raja Serra dan putri Sakura sangat beruntung mewarisinya. Begitu juga dengan keturunan lainnya.
Bagaimana ada seorang wanita asing dan berstatus budak memilikinya? Itu tidak mungkin.
"Aku jadi penasaran terhadap wanita yang kalian ceritakan." Ucapku.
"Dia hanya seorang budak, putri. Kedudukannya tidak lebih tinggi dari kami yang seorang bangsawan walaupun terendah."
"Sekarang, dimana wanita itu?" Tanyaku.
"Dia tinggal di istana barat, dia sangat hebat bisa mendapat istana itu dari Yang mulia raja."
Istana barat.
Tempat yang sempat akan kami kunjungi tapi kata pangeran Sasuke sedang mengalami renovasi, apa dia berbohong? Apa benar wanita budak itu tinggal di sana? Atau dia sengaja di sembunyikan di istana itu.
Aku sangat ingin melihatnya.
Malam ini.
Memakai sebuah jubah dan berjalan keluar.
"Mau kemana kau? Apa tidak cukup mendengarkan ucapanku? Ingat jika kita tidak berada di rumah kita." Ucap raja Serra, dia menahanku untuk keluar.
Aku tidak suka padanya setiap dia berusaha menentangku, apa dia tidak sadar, kedudukannya sekarang karena dukunganku juga, dia tidak akan menjadi raja seperti sekarang ini, tapi tetap saja berusaha menghalangi apa yang akan aku lakukan.
"Hanya jalan-jalan saja." Alasanku.
"Aku tidak akan membiarkanmu, lihatlah rambutmu, putri." Ucapnya.
Menatap ke arah cermin, ah sial, pewarna rambut itu sudah mulai menghilang, sebentar lagi warna rambut asliku akan terlihat.
"Aku akan cepat, hanya sebentar saja." Ucapku.
"Aku tetap memaksamu, disini aku adalah kakak dan rajamu, apa kau tidak bisa mendengarkanku sedikit saja?"
"Aku akan mendengarkanmu jika kau mengikuti ucapanku juga. Kakak bahkan tidak becus dalam membuat sebuah rencana."
"Putri Ino, kita hentikan saja, bukannya aku tidak setuju dengan rencana apapun yang sedang kau rencanakan, aku hanya takut raja Itachi menyadarinya dan menghukum kita sebelum kembali ke kerajaan, aku tidak ingin kehilangan seorang adik lagi." Ucapnya, tatapannya terlihat khawatir. Aku bukan putri Sakura yang akan dengan mudah di tundukkan.
Apa dia sedang membuatku luluh?
"Baik, besok kita akan pulang, tapi malam ini aku ingin memastikan sesuatu, hanya sebentar saja dan aku akan mengatakannya padamu." Ucapku.
Kakak Serra melepaskanku dan membiarkanku pergi, wajahnya tetap saja cemas, aku sudah berusaha berhati-hati, lagi pula jika benar raja Itachi masih mengenali putri Sakura, dia pasti akan membongkar penyamaranku sejak bertemu pertama kali.
Berjalan-jalan dengan tenang menuju istana barat, apa aku bisa sampai ke dalam istana itu? Aku jadi semakin penasaran akan pembicaraan para pelayan, wanita yang nampak seperti keturunan Haruno itu tidak mungkin berada di luar sana, asal usulnya bahkan tidak jelas, apa mendiang ayah punya selir yang di sembunyikannya? Tapi itu tidak mungkin, ayah membawa masuk semua selirnya ke dalam istana.
Berhenti dan bersembunyi di bagian semak-semak, aku tidak bisa masuk ke istana itu, seluruh sisi istananya di jaga ketat, apalagi ada dua kesatria yang sejak tadi berada disana. Jika istana itu sedang mengalami renovasi, kenapa harus di jaga? Bukannya itu akan membahayakan para penjaga? Ini sangat aneh.
Bagaimana pun juga, aku harus masuk ke dalam dan melihat sendiri bagaimana penampilan wanita budak itu.
Tersentak saat seseorang menyentuh pundakku, berbalik dan aku benar-benar terkejut.
"Putri Sakura, apa yang kau lakukan malam-malam disini? Aku pikir kau seorang penyusup." Ucap pangeran Sasuke.
Aku pikir orang lain, aku benar-benar takut jika ketahuan.
"Ma-maaf pangeran, aku hanya sedang mencari angin di luar sini." Alasanku.
"Kau bisa memanggilku jika kau ingin jalan-jalan di malam hari, putri." Ucapnya.
Untung saja pangeran tidak menyadari hal aneh apapun.
"Aku jadi penasaran dengan istana barat." Ucapku.
Pangeran Sasuke terdiam dan hanya menatapku.
"Ehem, para pelayan sempat bergosip, mereka mengatakan budak yang di bawa Yang mulia raja tinggal di istana barat, dia menjadi perbincangan para pelayan." Ucapku.
"Oh, dia hanya budak biasa." Ucap pangeran dan berwajah datar.
"Jadi apa benar dia akan menjadi ratu?"
"Itu hanya rumor, putri, jangan dengarkan para pelayan, kakak tidak memiliki niat seperti itu saat menolong nona Sumire."
Jadi namanya Sumire, nama yang terdengar asing.
"Kata para pelayan lagi, dia terlihat mirip denganku." Ucapku.
Aku harap pangeran mengatakan sesuatu.
"Itu tidak mungkin, putri, dia dan kau tidak mirip. Dia hanya budak biasa, dan kau seorang putri mahkota. Jika putri masih berniat jalan-jalan, aku akan mengajakmu ke tempat lain yang lebih menarik." Ucap pangeran.
Tanggapan yang berbeda, aku pikir dia akan berbicara seperti para pelayan, pangeran Sasuke adalah tipe yang begitu tenang, setiap bahasa tubuhnya sulit terbaca, aku tidak bisa menebak apapun darinya.
.
.
.
.
.
Sasuke Pov.
Hari ini, putri Sakura dan raja Serra akan segera kembali, ini terlalu cepat, alasan raja Serra karena dia tidak bisa meninggalkan istananya dalam waktu yang lama, apalagi perjalanan menuju ke istana Uchiha cukup jauh, aku harus memakluminya.
Sebelum mereka pulang.
"Untukmu, putri, aku harap kita akan bertemu lagi secepatnya." Ucapku dan memberi sebuah gelang emas dan bertabur permata aquamarine di atasnya, melambangkan keyakinan dan pertemanan yang kuat, aku ingin segera bertemu lagi dengannya kembali.
"Te-terima kasih pangeran, ini adalah hadiah yang sangat berarti untukku." Ucapnya dan tersenyum malu padaku. Aku senang mendengar ucapannya.
Sementara kakak dan raja Serra sedang melakukan sedikit pembicaraan sebelum mereka berpisah.
Semalam putri Sakura pasti berniat masuk ke istana barat, semua ini gara-gara gosip pada pelayan, mungkin mereka sudah harus mendapat perintah untuk tidak membahas nona Sumire lagi.
Aku jadi semakin penasaran pada nona Sumire, apa dia baik-baik saja? Kakak sangat sibuk dan aku sulit menemuinya, aku ingin bertanya apa nona Sumire sudah mendapat pengobatan? Para tabib bahkan tidak ada yang memeriksanya, kesatria Sasori dan kesatria Sai tidak membiarkan siapapun masuk ke istana barat.
Sebuah kereta kuda sudah menunggu mereka, akhirnya mereka pulang, aku sangat berharap akan bertemu dengan putri Sakura lagi nanti, aku kurang mendapatkan informasi tentang yang terjadi 14 tahun yang lalu, jadi kesimpulannya, bagaimana pun aku mencari tahu tentang pertemuan kakak dan nona Sumire, semuanya tidak tercantum dalam buku catatan di ruangan galeri, sia-sia saja, tapi hal terbaiknya aku menemukan catatan kerajaan Haruno dan putri yang akan menjadi pendampingku nantinya.
Aku melupakan sesuatu, sebelum kakak kembali sibuk, aku harus bertanya padanya.
"Kak- Yang mulia, apa Yang mulia tidak tahu jika nona Sumire sedang sakit?" Tanyaku dan tatapan kakak terlihat bingung.
"Sakit?"
"Ya, kedua kesatria terbaikmu itu mengatakannya padaku, mereka bahkan tidak membiarkanku masuk atau menjenguk nona Sumire."
Kakak terdiam, dia seperti tengah berpikir.
"Aku cukup sibuk, jadi aku tidak tahu." Ucapnya.
Ada apa ini? Biasanya kakak sangat peduli pada nona Sumire, apa dia sudah tidak peduli lagi padanya?
"Bukannya kau yang memerintahkan mereka?"
"Karena kesibukan aku lupa akan hal itu."
Lagi-lagi kakak bersikap aneh.
"Apa aku bisa mendapat ijin untuk menjenguknya?" Tanyaku.
"Kau tidak perlu ijin, datanglah ke istana barat." Ucap kakak. Setelahnya dia kembali sibuk berbicara dengan Duke Kisame.
Hari ini kakak benar-benar tidak biasanya, aku juga mengkhawatirkan nona Sumire, setelah bertemu dengannya, aku harus meminta maaf seperti yang kakak inginkan.
.
.
TBC
.
.
update...
karena kesatria Sai dan Sasori tidak sampaikan pada raja Itachi mereka berbohong, jadi raja Itachi kebingungan, heheheh.
