Author's note: Memang sinting. Kalau sudah masa penelitian, hal lain apapun seketika terlupakan. Hiks, hanya sesama mahasiswa yang mengerti. But well, tak apa-apa. Penulis datang kembali bersama chapter baru. Chapter kali ini lebih banyak adegan aksi. Ah, tentu saja disuguhi trash talk. Trash talk? Apa itu? Ah, nanti kalian tahu saat membaca.
Omong-omong, biarlah Penulis membalas semua review pembaca. Cekidot!
.
Kanayu/Kanae-chan
Hmm... kurang panjang, ya? Coba kamu baca chapter ini, ya. Apa sudah panjang atau belum. Lalu katakan pada Penulis lewat komentar. Oke?
Rencana Law dan Cora? Oh, Penulis sudah mempersiapkan chapter dimana hal itu akan disinggung lagi, kok. Tapi apakah Luffy dan Hancock akan bertunangan? Khu khu khu... hi-mit-su.
Animangaloversz
Pertarungan Luffy dan Doflamingo memang berakhir, tapi tak berlaku bagi pertarungan antara Kuina-Ace-Sabo-Kid-Marco's army vs Shichibukai's army. Dan mari berharap semoga adegan romansa ZoroxRobin datang lagi di chapter-chapter akhir.
BngJy
Emm... sebenarnya di fanfic baru, SaNami tetap ada. Tapi... bukan yang utama. Ahahaha, maaf ya. Well, Penulis bisa tambahkan scene cinta konyol mereka, kok.
Tak apa kok jika kamu bertanya soal jadwal atau ide. Pertanyaan semua pembaca itu bebas, selebihnya urusan Penulis dalam menjawab, hehehe. Tapi terima kasih sudah mau mengerti perihal jumlah review. Jaga kesehatanmu juga.
Tsuki-no-Hazama-Hime
Thank you very much! Please keep reading our story till the end. Love you, muach~~!
Blue Light
Haha, akhirnya Marco muncul juga, ya! Dia ambil aksi juga di chapter ini.
Terima kasih juga telah membaca fanfic Akatsukinya. Chapter tiga alias chapter terakhir sudah setengah jalan. Walau Penulis tahu susahnya melupakan kenangan masa lalu, mari kita bersama membuat kenangan baru (eaaaaa~~).
Torao
Syukurlah kamu setuju terhadap ide Penulis. Hmm... soal cepat updatenya atau tidak, Penulis tak bisa janji. Situasi selalu menghalangi. Hhhh...
Harap terus mendukung, ya. Terima kasih.
Ginri
Ya, 'kan? Tinggal sebentar lagi ini tamat, kok. Nantikan saja.
Oplovers
Tahan, tahan, tahan! Chapter selanjutnya telah datang! Silahkan dibaca.
Koki Mesum
Hahaha, lama ya? Maaf, maaf. Tolong maklumilah mahasiswa yang sedang penelitian ini. Kalau begitu, langsung baca saja ya. Semoga terpuaskan.
.
Tanpa buang-buang waktu, kita langsung baca chapter 31. Silahkan baca, dalami, hayati, dan tinggalkan komentar.
.
Disclaimer : Oda Eiichiro
GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!
Chapter Thirty One: Revenge
By Josephine Rose99
.
.
Note :
Semua karakter yang tampil disini tak punya kekuatan layaknya di anime aslinya.
OOC (Out of Character)= artinya kalau tokoh di fanfic ini banyak memiliki sifat yang tak sama dengan anime aslinya. Jadi jangan protes kalau tak suka. Kemudian miss typo, and of course NO LEMON! Seriously, that's really YAIKS, Gross!
Ide cerita bukan plagiat. Murni hasil pemikiran sendiri.
Jika menemukan kesalahan, jangan malu-malu. Katakan langsung lewat kotak review.
Bagi silent reader, harap tinggalkan jejak. Walaupun hanya kata 'lanjut' saja, sudah sangat diterima. Tapi kalau bisa berikan kesan dan kalau bisa bahas seluruh isi chapter.
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!
CHAPTER THIRTY ONE
REVENGE
By Josephine Rose99
.
.
.
Bersikap sok kuat tampaknya tak bisa berlangsung lama. Pertarungan di atas ring membuat tenaga Luffy nyaris terkuras habis. Kekuatan kakinya melemah, hampir tak bisa menopang tubuhnya sendiri. Napasnya menderu, dada dan ulu hati terasa nyeri. Walau begitu, dia memutuskan tetap berdiri di arena sambil bersandar pada tali ring sampai anggota Shichibukai mendekati Doflamingo yang terbaring. Laki-laki itu tak sadarkan diri meskipun teman-temannya berusaha memanggil namanya serta mengguncang hebat tubuhnya.
Dalam hati Luffy sangat bersyukur dengan akhir ini. Bisa repot jika Doflamingo bangun sementara rasanya dia ingin berbaring di kasur sekarang. Masih dalam posisi bersandar, keempat temannya alias Five Princes juga ikut naik ke ring. Mereka membawa kotak P3K karena sudah menduga Luffy akan babak belur. Dengan hati-hati Zoro dan Kouza memapah tubuh Luffy dan membawanya turun. Kemudian mereka membaringkannya di depan Hancock.
Ya, mereka memang sengaja melakukannya. Siapa juga yang tega melihat gadis cantik itu teriak histeris melihat ketua mereka dihajar demi dirinya?
Tanpa pikir panjang, Hancock menjatuhkan dirinya di dekat Luffy. Tak peduli bagaimana pun kondisi kakinya. Pikirannya saat ini benar-benar dipenuhi laki-laki berwajah bodoh itu.
"Hancock! Bodoh, hati-hati!" Nami yang berdiri di sampingnya shock sekaligus jengkel. Belum sempat dia menahan Hancock, gadis itu sudah menyeret tubuhnya lalu mengulurkan tangannya pada Sanji.
Sanji tertegun sebentar melihat uluran tangan itu. Ah, dia mengerti. Hancock bermaksud meminta kotak P3K yang sedari tadi dia pegang, "Ini, Hancock-sama." katanya sambil memberikan kotak tersebut. Sebenarnya Sanji juga menahan rasa iri hati luar biasa karena ketuanya diperhatikan gadis secantik Hancock. Kalau bukan karena situasinya begini, mungkin dia sudah mencak-mencak protes. Jadi kali ini dia mengalah.
Sigap sekali Hancock mengeluarkan plester luka, perban, salep antiseptik, kain kasa gulung, gunting, larutan povidone-iodine dan tisu pembersih bebas alkohol. Dia membersihkan darah pelan-pelan dari wajah Luffy walau Luffy meringis kesakitan.
"Ittai!"
"Ma-maaf, Luffy! Tolong tahanlah sebentar," ucap Hancock yang akhirnya selesai membersihkan darah Luffy. Kemudian dia beralih mengoleskan salep pada luka di wajahnya.
Ternyata kemampuannya memberi pertolongan pertama tak kalah dari Chopper.
"Biar kubantu," tiba-tiba Kuina muncul dari belakang mereka, kemudian ikut duduk di samping Hancock, "Tak apa 'kan, Hancock?"
"Ah, te-tentu saja, Kuina-san."
Kuina langsung memperban tangan hingga jari-jari Luffy. Dia bisa membayangkan betapa sakitnya tulang jarinya memukul wajah maniak sialan itu. Ya, benar-benar harga pantas. Semua telah terbayarkan.
Selagi mereka berdua sibuk merawat Luffy, kedua saudara pahlawan kita ini sudah berdiri di belakang Kuina. Melihat keadaan Luffy tak seburuk yang mereka kira membuat mereka bernapas lega sebentar. Untung saja dia tak mati. Bisa repot saham Luffy jatuh pada Doflamingo. Mana mungkin Ace dan Sabo sanggup bekerja sama dengan manusia pantat kuda nil!
"Kau baik-baik saja 'kan, Luffy?" tanya Ace ikut berjongkok di samping Kuina.
Sejenak Kuina menghentikan laju tangannya yang sedang membalut tangan Luffy, "Apa kau benar anak kuliahan, Ace-san? Justru aku memperbannya artinya dia tidak baik-baik saja," celetuk Kuina sinis. Sungguh Ace luar biasa bolot. Benarkah dia mahasiswa Universitas Tokyo? Jangan-jangan bocah itu melakukan sogok atas nama Dragon.
"Maksudku kalau keadaannya seburuk itu, kita bawa dia ke rumah sakit, cewek sialan," balas Ace sewot, "Lagipula..." dia melirik ke arah ring dimana Shichibukai masih 'sibuk', "...Kalian tak bisa berlama-lama disini..."
"Eh? Apa maksudnya?" tanya Vivi tak mengerti. Kenapa tak boleh berlama-lama? Ya, dia tahu urusan mereka selesai. Berpikir selanjutnya hidup damai tanpa mendengar kabar tentang Shichibukai lagi. Memang dia juga tak mau berlama-lama di gym itu, tapi sepertinya ada alasan utama kenapa Ace berkata begitu, 'kan?
Bukannya menjawab pertanyaan Vivi, Ace berkata pada Kuina, "Kuina, bawa Luffy dan Hancock pergi dari sini. Mobil keluargaku sudah menunggu di luar. Kami akan menangani anak buah Doflamingo, jadi kuserahkan mereka berdua padamu."
"Ya, aku tahu."
Mendengar namanya dan nama Luffy disebut, Hancock spontan menoleh, "Hah? Ada apa ini?"
"Santai saja, Hancock. Aku akan jelaskan nanti. Yang terpenting sekarang adalah kita harus pergi secepatnya," tidak mau terus berdiam diri, Kuina langsung menggendong tubuh Luffy. Ya, kekuatan badak betina itu memang pantas ditakuti mengingat duo Monkey jinak padanya, "Nami, bantu Hancock duduk kembali ke kursi roda, lalu ikuti aku." ucapnya bernada perintah.
Nami melongo sebentar sebelum akhirnya menjawab latah, "Hah? Ah, ba-baik!" buru-buru dia merangkul Hancock, membantunya kembali duduk. Walau yang dirangkul masih belum mengerti keadaan.
Ketika Nami akan mendorong Hancock mengikuti Kuina, tangan Hancock menahannya. Dia menoleh pada Sabo meminta penjelasan, "Tunggu, Sabo-san! Jelaskan padaku dulu!"
"Tak perlu penjelasan. Kau sudah tahu dari awal, 'kan?"
"Aku tahu akan ada perang penghabisan disini. Tapi untuk apa kau menyingkirkanku segala? Kau ingin membawa kami kembali ke rumahmu, 'kan? Tadi kau bilang mobil keluargamu sudah menunggu!"
"Ck, dasar perempuan iniiii..." Sabo garuk-garuk kepala stres, "Kakimu masih lumpuh, 'kan? Kau hanya jadi beban jika tetap disini."
Masih tak mau menyerah, Hancock terus menekannya, "Bukankah kau bilang kalau Luffy menang, kita tak perlu bertarung lagi? Kau membawa anak buah Supernova untuk berjaga-jaga jika Luffy kalah, 'kan?"
"Hancock..." Ace pun menyela karena Hancock tetap keras kepala, "Apa yang membuatmu tidak mau pergi dari sini?"
"I-itu..." gadis itu menunduk, berpikir mencari alasan tepat, "A-aku hanya ingin melihat Doflamingo benar-benar membuktikan kata-katanya. Ma-maksudku, dia berjanji takkan menyebarkan masa laluku. Berarti dia sudah membawa semua bukti itu, 'kan?"
Astaga. Sepolos inikah ketua OSIS HAS? Sejak kapan mulut buaya Doflamingo bisa dipercaya? Memang tak sia-sia Kuina menyusun rencana sebegitu cerdas dengan kemampuan otaknya yang minim.
Sabo menepuk pelan pundak Hancock. Memberinya petunjuk demi menyadarkan kepolosan tersebut, "Pikirkan baik-baik, Hancock. Apa kau pikir anak buah Chinchilla got itu terima dengan hasil pertarungan ini? Dia sampai sengaja membawa seluruh anak buahnya kemari, bahkan bawa senjata segala. Apa kau tahu artinya?"
Dia bisa merasakannya. Mendengar perkataan Sabo itu membuat bulu kuduk merinding seolah bahaya masih mengintai. Tubuhnya benar-benar menegang saat ini.
Benar juga. Dia tidak menyadarinya. Orang-orang itu datang membawa senjata, sementara pihak mereka tangan kosong. Kalau memang mereka yakin dari awal Doflamingo menang, mereka tak perlu sampai seperti itu. Hancock paling tahu tentang anak sulung Donquixote tersebut. Kepercayaan dan loyalitas terhadap Doflamingo sangat tinggi. Dan dari itu semua, dapat disimpulkan bahwa maniak jaket berbulu membawa orang sebanyak itu tidak sama seperti Hancock dan yang lain.
"Ya... pada dasarnya, putri tidur itu memang ingin tawuran. Ck, merepotkan saja!" seolah tahu isi pikiran Hancock, Kaya merutuk kesal dengan pola pikir barbar ketua Shichibukai.
Seketika Hancock teringat pada kejadian dimana Kid berkoar-koar tidak jelas di halaman rumah Luffy, "Jadi itulah kenapa kau menyuruh Kid dan yang lainnya pergi ke rumah si bangsat itu?" maklum saja dia kurang ingat. Pikiran melayang-layang karena saat itu Luffy menggenggam tangannya. Padahal Luffy cuma berniat membuatnya tenang saja, tapi Hancock sudah membayangkan hal tidak-tidak. Ck ck ck ck.
"Kau tak bisa bertarung dengan kondisimu sekarang. Luffy juga sama. Makanya kalian harus pergi."
"Tapi, Ace-san, jumlah kita kurang dari mereka! Kau mau kita saling bunuh disini?"
"Hei, hei, tenanglah. Aku tak seteledor itu," ucap Ace santai kemudian mengacungkan simbol peace, "Karena itu aku sudah memanggil anak-anakku untuk bergabung! Kurasa mereka akan sampai sebentar lagi."
.
.
"Sial! Bagaimana sekarang!?"
"Bodoh! Sudah jelas, 'kan? Kita akan habisi mereka disini!"
"Persetan dengan hukum! Kita bunuh bocah sialan itu! Sekalian dengan perempuan itu juga!"
Hiruk pikuk kawanan Doflamingo makin mengkhawatirkan. Sekumpulan anak SMA itu lebih mirip sekumpulan Om preman yang haus darah. Dengarlah mereka yang tak peduli lagi pada hukum. Wajah mereka tambah beringas saja seiring Doflamingo tak bangun-bangun.
Crocodile dan Teach menggotong tubuh Doflamingo turun dari ring. Mereka menyerahkannya pada pengawal Doflamingo untuk seterusnya diamankan. Seolah diberi sinyal, mereka tahu jika anak-anak buah mereka sudah tak sabar lagi. Terlihat dari sorot mata membunuh yang ditujukan pada seluruh anggota Supernova di seberang ring.
Moria pun mengulurkan tangannya pada salah satu anak buah Doflamingo. Tak perlu berkata apapun, orang itu tahu bahwa Moria sedang meminta pemukul baseball yang dia pegang. Dia berikan itu padanya lalu Moria melangkah menuju ring, naik ke atasnya dan berdiri tepat di tengah.
Tentu saja aksi si bodoh itu diwaspadai oleh pihak pasukan Kid. Salah satu dari mereka berteriak pada Moria, "Mau apa kau!?"
Tidak menjawab pertanyaan, Moria justru malah melempar pemukul baseball tersebut ke kepala seseorang yang berhasil memancing lototan horor setiap orang.
Ya, dan orang itu adalah salah satu anggota geng Angels yang ditugaskan membawa Hancock menjauh dari sana.
PLETAAKKK!
"WADAAWW!" Nami berteriak kencang, mengelus-elus kepalanya yang benjol. Astaga, padahal mereka sudah di pintu keluar gym tapi ada saja hambatan.
Nami melirik pemukul baseball sialan yang baru saja memberi salam pada kepalanya telah jatuh di sampingnya. Spontan dia menoleh ke belakang dan menyadari pelakunya adalah Moria. Ya, ketahuan sekali dari posisi bocah sialan itu baru melempar. Tak perlu di komando, Nami masuk mode badak betina. Singkatnya sifat kemayunya hilang digantikan sifat preman.
"KORA! MORIA, TEMEEE! AKAN KUBUNUH KAUUU!" matanya menyala-nyala seram.
Bukannya takut, Moria justru menantang balik. Tidak, tepatnya memicu tawuran terganas antara dua geng motor besar di Tokyo.
"HABISI HANCOCK DAN TEMAN-TEMANNYAAA!" begini teriaknya ala penyanyi rock and roll. Teriakannya menggema ke seluruh gym bahkan sampai terdengar dari luar.
Hal yang ditakutkan tim Madam cinta terjadi.
Memang mau tak mau, tapi harus ya?
"HUOOOOOOOOOOOOO!" bagaikan lutung lepas, anak-anak buah Shichibukai menerjangi anak buah Kid dengan senjata mereka.
Situasi makin tak terkendali. Hingga akhirnya seorang anggota Supernova juga ikut memicu semangat teman-temannya, "JANGAN KALAH, TEMAN-TEMAN! WAKTUNYA BALAS DENDAM!"
"YOSSHHAAAAAAAA!"
"KUINA, NAMI! CEPAT PERGI!" Ace berteriak memberi perintah.
Kuina serta Nami mengangguk paham. Buru-buru mereka mempercepat langkah dari medan pertempuran. Masih ada dua orang yang harus diungsikan dulu.
.
.
BUAGH! BUGH!
DUKK! PRAANGG!
BRAKK!
Dimana-mana terdengar bunyi berisik yang nyaring. Seluruh isi gym porak- poranda. Peralatan olahraga yang disalahgunakan sebagai senjata hingga memecahkan kaca jendela. Mari berduka cita pada pemilik gym tersebut karena kepolosan serta kebodohannya mau menyewakan gym itu pada geng motor preman.
Geng Angels dan Five Princes juga tak mau ketinggalan. Mereka menyebar ke segala arah menghajar satu per satu anak buah Shichibukai. Tak ada satupun dari mereka melarikan diri dari pertempuran balas dendam ini.
Robin sibuk memiting lengan lawannya dan menjatuhkan mereka keras ke lantai. Disisi lain, Kaya membanting punggung mereka satu per satu. Vivi sendiri juga memanfaatkan barbel-barbel kemudian melemparinya ke wajah cowok-cowok garang. Angels benar-benar barbar hari ini.
Tapi mereka menyadari jika berkelahi di dalam gym yang sempit ini akan sulit. Muncul juga ide memukul mundur mereka sampai keluar dari gym. Jauh lebih luas dan banyak udara, "PUKUL MUNDUR MEREKA KELUAR DARI SINI!" Vivi berteriak lantang.
Seketika seluruh pasukan Kid menyerang maju Shichibukai beserta kawanannya supaya terdesak keluar dari gym. Mereka yang terpojok pun mau tak mau berhamburan diri keluar layaknya anak ayam lepas dari kandang. Resmi sudah halaman gym menjadi medan tempur sebenarnya.
"JANGAN KALAH! TUNJUKKAN KEKUATAN SEBENARNYA ANGGOTA SHICHIBUKAI!" Teach sialan. Dia memanas-manasi anggotanya.
Benar-benar tawuran terganas. Anak-anak buah Shichibukai tersebut memukuli kepala orang-orang Kid tanpa ampun. Tidak ada rasa kasihan sama sekali. Mereka terus memukuli tubuh anggota geng Supernova seolah mereka karung beras.
Erangan kesakitan menyahut satu sama lain. Satu per satu dari mereka mulai tumbang terkapar!
"Tch! Kita memang kalah jumlah! Bagaimana sekarang!?" Zoro menggeram kesal melihat aliansinya berkelahi babak belur. Tapi perhatiannya harus tetap fokus ke depan karena empat orang datang mengacungkan pemukul besi padanya, "Brengsek! Tak ada habisnya!"
"MATILAH, RORONOAAA!"
Bodoh sekali. Itu bukan apa-apa bagi Zoro. Hanya dengan satu tebasan telak 180 derajat, empat orang tersebut jatuh terjungkal hingga tak sadarkan diri!
DAAAAKKK! BRUGH BRUGH BRUGH BRUGH!
Zoro memperhatikan wajah para pecundang yang beraninya main keroyokan tadi. Pingsan karena menantang maut itu benar-benar bodoh, "Huh, mereka bukan apa-apa dibanding Taka no Me. Kalau dia juga disini, arus perkelahian pasti berubah." batin Zoro bersyukur Mihawk tak lagi dipihak Shichibukai.
Ya, dia sudah mendengar dari Sabo jika Mihawk dan Jinbe menolak ikut tawuran ini. Mereka tak mau lagi diperintah seenaknya oleh Doflamingo. Pada akhirnya kebenaran tetap menang, huh?
"Zoro!" teriakan Robin tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Dia menoleh ke kanan, mendapati gadis itu berlari ke arahnya setelah menendang wajah enam laki-laki yang mencoba menghalangi.
"Robin!?" mata Zoro mendelik begitu melihat seorang anak buah Shichibukai tepat di belakang Robin, siap memukul kepala gadis itu dengan pemukul baseball, "ROBIN, MENUNDUK!" setelah berkata begini, Zoro langsung melempar pedang kayunya.
Robin tak tahu kenapa dia diperintah menunduk, namun dia tetap melakukannya. Dia pun menunduk dan—
DUAKKK! Pedang kayunya berhasil mengenai wajah orang itu. Orang itu pun langsung terjatuh pingsan. Ouch.
"Eh?" Robin menoleh ke belakang. Dia terkejut tak menyadari laki-laki terkapar itu hampir menyerangnya tadi. Kemudian dia menoleh pada Zoro, "Te-terima kasih. Aku tertolong."
"Bukan apa-apa," balas Zoro kalem, "Tetap waspada, Robin. Pertempuran masih panjang." katanya sambil mendekati laki-laki yang mencoba menyerang Robin. Dia kembali memungut pedangnya.
Hampir saja, ya?
"Bagaimana Luffy dan Hancock?" tanya Zoro penasaran apakah kedua ketua mereka sudah diamankan.
"Kurasa mereka aman. Aku memperhatikan tempat parkir gym ini. Mobil keluarga Luffy sudah tak ada," jawab Robin.
"Begitu, ya?" Zoro akhirnya bisa bernapas lega sejenak, "Bagaimana soal bala bantuan itu? Kita bisa mati jika terus bertarung seperti ini,"
"Ace-san berkata padaku kalau mereka akan datang sebentar lagi. Tunggu dan percayalah," tepat sekali. Karena saat ini mereka disibukkan oleh serangan bertubi-tubi dari orang-orang Doflamingo, "Ayo maju, Zoro!"
"Ya!"
.
.
Sementara itu...
.
.
DUAKKK! BRAAKKK!! Tendangan ganda Kaya dan Sabo berhasil menjatuhkan dua orang sekaligus sampai menghancurkan sebuah kursi taman di halaman gym.
Kaya mengatur napasnya yang menggebu kemudian beraksi lagi, menghajar para musuhnya yang terus datang menghampiri. Tak jauh beda dari Sabo. Dia ikut menendang mereka hingga tersungkur ke semak belukar. Itu pun membuat mereka tak sempat bernapas akibat musuh-musuh berdatangan lagi. Keras kepala sekali mereka!
"Sialan!" Sabo memukul tubuh mereka bertubi-tubi lalu mengakhiri melalui tendangan cangkul.
DRUAGHH! BRUGH! BRUAGHH!
"UAAKH!"
"GRAGH!"
"ARGH!"
Begitulah erangan kesakitan mereka lalu tak sadarkan diri. Napas Sabo makin terengah-engah. Dia benar-benar tak diberi kesempatan menghirup udara.
"Sabo-san! Kita tak bisa terus begini!" ucap Kaya frustasi.
"Aku tahu itu, Kaya-chan! Tapi kita hanya bisa menunggu!"
"Hah?! Menunggu sampai ka-"
Kaya menghentikan protesnya begitu mendengar bunyi klakson truk tak jauh dari mereka. Spontan dia dan Sabo menoleh pada asal suara. Wajah mereka langsung sumringah saat menyadari truk apa yang menambah kebisingan dalam kebisingan.
Itu dia! Laki-laki yang melambai-lambaikan tangannya dari atas truk itu sangat mereka kenali!
MARCO!
"HOOOOOOIIIII!" Marco berteriak kesenangan bersamaan teriakan teman-temannya dari dalam truk.
Kejutan spesial yang dinantikan telah datang! Kesenangan dan keributan itu tentunya jadi pusat perhatian semua orang disana. Walaupun ada lawan sedang dihadapi, tak dipungkiri tetap adanya sedikit lirikan ditujukan pada kawanan Marco. Itu juga berlaku bagi Angels, Five Princes, duo Monkey beserta anak buah Kid. Senyum unjuk gigi mereka berikan seolah arus pertempuran akan berbalik tajam.
Dasar, lama sekali dirimu, Marco. Apa kau tahu betapa sulitnya bertahan dari semua ini?
"KAU LAMA, MARCOOO!" Ace berteriak lantang sambil memukuli para musuh.
Marco pun tertawa, "Hahaha, maaf menunggu lama!" dia berbalik melihat teman-temannya yang tampaknya sudah tak sabar lagi terjun bergabung, "WAKTUNYA KITA BERPESTAAAA!"
"YEAAAAAHHHHHHHH!"
CKIIIIIITTTT! Dua truk besar tersebut berhenti tepat di depan gym. Sontak saja puluhan orang membawa pemukul berhamburan turun, lari menyerang pihak Shichibukai. Teriakan tanpa takut itu menjadi semangat keberanian tak peduli apa yang akan menanti di akhir. Kedatangan anak buah Marco tersebut jelas jadi kejutan bagi orang-orang Doflamingo. Mereka tak siap dengan serangan bala bantuan.
"HAJAR MEREKAAAAA!" komando yang sangat bagus, Marco!
BUAGH! BUAGH!
DUAKK! BUGH! BRAAKKK!
DRUAKK! PLETAAKK! BRUGH!
Jika Shichibukai berpikir hanya mereka yang memakai senjata, mereka salah besar. Kawanan anak angkat Shirohige juga berpikiran sama. Ini hanya soal waktu menunggu siapa yang akan kalah lebih dulu.
Melihat sekarang jumlah mereka kalah dari total jumlah pasukan Kid dan Marco, nyali anggota Shichibukai menjadi ciut. Awalnya berpikir bahwa kemenangan jumlah ada di depan mata, ternyata hanyalah mimpi buruk. Jumlah anggota Shichibukai hanya setengah dari itu!
Pukulan barbar anggota Marco terhadap kawanan si maniak pink menjadi tontonan menarik bagi teman-teman Luffy. Semangat pun semakin membara. Tentu saja mereka juga ikut membantu menumpaskan setiap lawan dengan brutalnya.
Dan brutal disini adalah kepada anggota resmi Shichibukai secara langsung.
Balas dendam pun membuat mereka menyebar mencari target.
.
.
"Yooo!"
Sapaan dari seseorang membuyarkan perhatian Moria. Anak buahnya dan anak buah Marco saling menghajar satu sama lain di hadapannya tidak menjadikan hal tersebut sebagai tontonan favorit. Suara seorang laki-laki dari belakang dan itu terdengar tidak asing. Dia tahu pemilik suara ini. Sangat tahu.
Ah, dugaannya tepat.
Vinsmoke Sanji datang ke arahnya. Melangkah santai, tangan dimasukkan ke saku celana, disertai raut wajah serius. Keturunan keluarga Vinsmoke tersebut masuk mode cool.
Tampaknya Moria akan melewati pertarungan merepotkan hari ini.
"Vinsmoke...Sanji.."
Tap.
Langkah Sanji tepat berhenti beberapa meter dari Moria. Anggota Shichibukai dan anggota Five Princes resmi berhadapan satu sama lain. Sorot mata tajamnya yang begitu menusuk itu sangat bekharisma, hingga Moria merasakan perasaan aneh.
Ah, bukan jatuh cinta, kok. Moria masih normal.
Maksud Penulis adalah perasaan merinding, ya, sedikit takut. Katakan saja begitu. Walaupun Moria tak mau mengakuinya sendiri. Harga diri seorang Shichibukai begitu tinggi sampai tak mau merasakan ketakutan.
Melihat Moria masih terdiam, Sanji mengambil insiatif untuk bicara lebih dulu, "...Kau siap?"
Moria mengerti pertanyaan itu. 'Surat' tantangan, ya?
"...Siap mengalahkanmu?" sindir Moria seolah menantang.
"Hahaha, kau bisa bercanda juga..." Sanji tertawa hambar sebentar kemudian tersenyum ejek padanya, "Tentu saja bukan, idiot. Apa bokongmu siap untuk kutendang ratusan kali hari ini?"
"Aku tak tahu kalau kau sebegitu tertariknya dengan bokongku."
"Ya, begitulah. Awalnya aku tak tertarik dengan drum kembar milikmu. Tapi..." kaki Sanji mulai bergerak. Posisi siap bertarung telah dilakukan. Kuda-kuda sempurna itu siap menghajar Moria, "...Entah kenapa aku mulai tertarik pada benda bodoh yang selalu mengeluarkan kotoran busukmu itu...setelah kau melempar benda sial itu pada kepala Nami-san."
"Huh!" tidak ada rasa takut sama sekali. Moria terkekeh merasa tak bersalah, "Dia pacarmu, Romeo?"
"Kejutan, dia memang PACARKU."
"Maaf terlambat menyadarinya, kawan. Sebagai permintaan maafku, apa kau ingin bunga makam dariku?"
"Aaahh... aku suka itu. Tapi lebih baik kuberitahu sekarang padamu. Begitu bunga itu kuterima, akan kukembalikan lagi padamu. Kurasa bunga itu akan jauh lebih berarti jika kau yang mati."
Moria terdiam sebentar, menyadari dia berhasil memancing kemarahan Sanji. Ya, dia akan jauh lebih suka menghabisi Sanji yang sedang diliputi amarah, "...Begitu, ya?"
"..."
"..."
DUAGHH!
Hanya dalam satu kedipan mata, siapa sangka mereka sudah melompat ke arah satu sama lain?! Sanji menendang bagian target yang paling utama, yaitu kepala. Sementara Moria menendang lurus ke bagian dada Sanji. Walau pada akhirnya kedua serangan tendangan tersebut beradu sehingga tidak mengenai target.
Mereka kembali mendarat dari serangan pertama barusan. Dendam, murka dan kebencian benar-benar berkobar dalam diri Sanji. Tanpa memberikan Moria kesempatan, dia mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi tepat di atas kepalanya. Moria menyadari hal itu, lalu segera melompat mundur.
BWUNGG! Sayang sekali. Sanji hanya menendang angin. Pandangannya langsung difokuskan pada laki-laki berlipstik ungu layaknya gothic loli yang berlari menerjang ke arahnya.
"HIYAAHH!" Moria melancarkan tinju cepat. Sanji yang sudah membaca serangan itu pun segera melompat tinggi. Moria terbelalak kaget melihat daya lompat Sanji yang luar biasa. Apakah lawannya ini keturunan kodok, ya? Benar-benar pantas menyandang gelar 'Si Pangeran Tendangan'!
Melihat elakannya sukses, masih berada di udara, kedua tangan Sanji langsung memegang bahu Moria! Dia mendapatkan dasar tumpuan untuk serangan selanjutnya. Salah satu serangan yang dipraktikkan Luffy ketika melawan Doflamingo.
Muay Thai.
DUAGHH! Lutut kanan Sanji mendarat fantastis pada wajah Moria. Senyum Sanji semakin melebar saja tatkala melihat Moria meringis kesakitan.
"Ittai!" sambil memegangi wajahnya, Moria berjalan mundur. Benar-benar sial. Lutut Sanji barusan diarahkan pada mata kirinya! Lupakan soal rasa sakit, membuka mata kirinya saja Moria sudah kesulitan. Sebelah pandangannya mulai kabur! "BOCAH SIALAAANN!" sekarang dia hanya bisa mengandalkan satu matanya yang masih terbuka. Moria kembali berlari ke arah Sanji!
Si pecinta cewek ini mendelik tak percaya. Dia pikir Moria akan menyerah atau meminta bantuan anak buahnya, tapi ternyata tidak. Harga dirinya tinggi juga. Sepertinya mata kiri masih belum cukup, "Persiapkan bokongmu, Moria!"
"DIAM KAU!" sekali lagi Moria melancarkan tinju pada wajahnya. Dan lagi-lagi dengan gesitnya Sanji menghindar! Si Pangeran Tendangan pun mengubah posisinya menjadi nyaris jongkok dan kemudian menendang dagu Moria dari bawah!
DUAGHH! Begitulah suara beradunya tendangan kaki kiri Sanji beradu dengan dagu salah satu anggota Shichibukai. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya di luar perkiraan Sanji. Ternyata Moria berhasil menangkap kaki kirinya yang barusan memberinya pelajaran itu. Harus dia akui, Moria punya kecepatan bertarung yang lumayan.
"AKAN KUPATAHKAN KAKI BAJINGAN INI!" beginilah suara hati Moria berapi-api. Dia yakin jika berhasil melakukannya, gelar Si Pangeran Tendangan tinggal kenangan.
Dasar bodoh.
Dia pikir Sanji tak punya pilihan lain?
DUAAKK! Moria tak bisa mengelak dari tendangan lurus kaki kanan dari bawah! Dagunya harus dia korbankan kedua kalinya akibat tak ada pertahanan sama sekali! Sial, dia tak menyangka Sanji sekuat ini!
Spontan Moria melepas kaki kiri Sanji, kemudian tertatih-tatih sedikit berjalan mundur. Sementara dia mati-matian mencoba menahan rasa sakit, Sanji sudah membalikkan tubuhnya ke belakang dengan bertumpu pada tangannya.
"Hei, Moria! Apa kau tahu?!" teriak Sanji tersenyum puas membalas dendam, "Kau kuat...tapi tidak tangguh."
Oke, harga diri Moria sangat terluka! Kata-kata barusan membuatnya bertarung liar alias membabi buta!
"TUTUP MULUTMU, AMATIRAN!" tinju kiri dan kanan Moria bergantian mencoba memukul telak wajah Sanji, namun si pirang itu bisa menghindarinya dengan baik, "Ini! Ini! rasakan ini!" kali tendangan kaki kiri berturut-turut dilancarkan ke arah perut. Tapi Sanji cukup melompat ke belakang untuk mengelak. Tak dipungkiri Moria frustasi. Tak ada satupun serangannya yang masuk! "KEPARAAATTT!" seolah menantang maut, Moria melompat ke arahnya sambil mengulurkan kedua telapak tangan siap mencengkeram wajah.
Decihan kesal terlontar dari mulut Sanji. Keras kepala dan masih belum mau tumbang juga. Memang harus serius.
"PERUTMU TERBUKA, BODOH!"
DUAGH! Kaki kanan Sanji meluncur cepat menendang ulu hati Moria! Rasa tertohok dirasakan oleh maniak lipstik tersebut hingga gagal mencengkeram wajah Sanji. Bahkan, dia tak sempat mengelak dari serangan bertubi-tubi dari orang yang sama.
DUAGH! Lutut kaki kiri pada dagu!
DUAGH! Kaki kanan pada leher!
DUAGH! Tumit kaki kiri pada puncak kepala!
Moria mulai sempoyongan. Tubuhnya kehilangan tenaga. Dia benar-benar tak sanggup lagi. Dia bahkan tak menyadari bahwa Sanji menghilang dari pandangannya. Tak menyadari bahwa Sanji telah berdiri di belakangnya.
Genderang kemenangan dalam duel ini akhirnya berbunyi nyaring.
Masuk pada tahap penutupan pertandingan.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menghajar bokongmu?" inilah kalimat terakhir yang didengar oleh Moria sebelum dia tak sadarkan diri.
DUAAGHH! Tendangan keras layaknya sang kapten tim sepak bola yang mengeksekusi sebuah penalti. Sanji menendang bokong Moria tanpa ampun sampai laki-laki itu tertendang jauh ke depan dan menabrak orang-orangnya sendiri!
SYUUUNGGGG...GUBRAKK!
Sanji berhasil membuktikan kata-katanya. Benar-benar lelaki sejati.
.
.
.
Dapat juga! Kouza berhasil menemukan Crocodile! Akhirnya setelah sekian lama dendam ini bisa terbalaskan juga. Segera dia menghentikan langkahnya di hadapan si buaya darat dengan berlagak. Crocodile sendiri juga terkejut melihat kehadiran Kouza. Padahal dia pikir setelah menyingkirkan anak buah Kid dan Marco di sekitarnya, dia bisa bersantai sebentar.
Entah kenapa kemudian Crocodile justru berlari menjauh dari kerumunan. Kouza terkejut, namun memilih mengejarnya. Dia terus mengejarnya hingga Crocodile berhenti di sebuah taman bermain anak-anak berlokasi beberapa puluh meter dari gym. Tak ada orang lain selain mereka berdua disana.
Sepertinya Crocodile sengaja mencari tempat tanpa diganggu siapapun.
"Aku akan membalaskan perbuatanmu waktu itu, Crocodile," ucap Kouza yang masih belum bisa melupakan perbuatan Crocodile waktu perkelahian di markas geng Angels.
Ya, saat itu Crocodile menghajarnya habis-habisan. Demi membalaskan dendam itu, Kouza berlatih mati-matian sambil menunggu datangnya hari ini. Dia takkan membiarkan cowok buaya darat ini lari!
"Huh, kau terdengar jantan sekali saat mengatakan itu." ucap Crocodile tersenyum sinis.
Kouza pun menjentikkan jarinya padanya, "Aah... itu dia. Itulah yang paling tak kusukai darimu sejak kita masih di Sekolah Dasar dulu..." raut wajah serius Kouza berubah jadi raut wajah seseorang yang ingin panggilan alam(?), "Kau tahu apa itu, Crocodile? Itu adalah wajahmu."
"Wajahku?"
"Ya, wajahmu."
"Kenapa dengan wajahku? Terlalu tampan sampai kau iri?" penyakit narsis Ace sepertinya menular pada cowok ini, saudara-saudara. Terlalu tampan, katanya? Bleh! Muka macam lubang pantat buaya begitu! Ya ampun, penulis mulai diskriminasi wajah disini.
Beruntung Kouza berada di tim Penulis. Dia sangat setuju dengan pendapat Penulis barusan sehingga berkata, "Ooohh, kusarankan padamu untuk segera ke rumah sakit jiwa nanti. Kau tahu, aku khawatir dengan kesehatan otakmu," benar-benar sikap kepedulian luar biasa ditunjukkan oleh Kouza, "Terlalu tampan, huh? Biar aku berkata jujur padamu. Setiap kali aku melihat wajahmu, BAHKAN mengingatnya sekilas saja, rasanya sama seperti ketika bola mataku diseret di atas batu...dan itu sakit... SUMPAH, sakit."
Bola mata diseret di atas batu, ya? Penggambaran yang bagus, Kouza. Ya, walau rasanya berlebihan.
Sedangkan Crocodile, mungkin sebaiknya dia mengeluarkan kemampuan caci makinya yang tak kalah bagus dari Kouza, "Oh, benarkah? Maaf soal bola matamu, kawan. Tapi aku bisa menjamin kalau apa yang dirasakan bola mataku ketika melihat wajahmu JAUH lebih buruk dari itu."
"Oh, ya? Coba katakan."
"Kau ingin tahu? Baiklah, kau akan terkejut. Itu rasanya seperti granat api meledak tepat di depan bola mataku... dan mataku langsung terbakar... kalau aku boleh meminjam kata-katamu, maka SUMPAH... SUMPAH, panas."
Bersamaan dengan perasaan tidak menyenangkan akibat cacian dari Crocodile, Kouza melipat bibirnya sampai menggigit bibir bawahnya.
Dia penasaran dengan nasib Crocodile ketika menerima tinju saktinya yang sudah dia latih demi hari ini. Apakah dia akan tetap hidup? Tidak, Kouza lebih menginginkan Crocodile mati-ya, sebenarnya—tapi, dia belum bisa berurusan dengan hukum secepat ini.
"Oi, Crocodile,"
"Apa?"
"Kau ingin rasa anggur atau stroberi?"
"...Hah?"
Kouza mengangkat tinju kanannya sembari berkata, "Kau ingin rasa anggur..." kemudian dia mengangkat tinju kiri, "Atau stroberi?"
Crocodile bengong.
Yup! Dia tak percaya anggota Five Princes di depannya telah ganti profesi jadi penjual es krim kentongan. Yah, mungkin di suasanya yang sepanas ini, menjadi penjual es krim bisa mendapatkan 'untung'.
Siapa sangka mantan adik kelasnya itu bisa-bisanya mengeluarkan lelucon konyol? Dan disaat seperti ini pula! Sangat menjengkelkan. Crocodile menggulung lengan bajunya seolah memberi kesan dalam seorang preman sekolah.
"Bagaimana kalau aku minta rasa darah? Ada?" tanya Crocodile.
Alis Kouza bertaut. Dia menawari dua rasa, tapi 'pelanggan' meminta rasa lain. Rasa darah, ya? "Rasa darah? Tentu saja ada. Itu rasa yang PALING spesial..." Kouza mulai mengikuti arus pertarungan dengan menggulung juga lengan pakaiannya, "...Rasa dari gabungan keduanya."
Tap.
Saat ini yang memisahkan mereka hanyalah jarak tiga meter. Perhatian mata hanya tertuju pada lawan di depan, menghiraukan hiruk-pikuk keributan. Karena satu-satunya hal yang mereka pikirkan adalah kesempatan.
Kesempatan menyerang.
Kedua mata Kouza terbuka lebar saat menyadari Crocodile maju lebih dulu menghadapinya. Tendangan samping 180 derajat tersebut ditargetkan pada lehernya, namun beruntung tendangan barusan hanya bertemu udara berkat elakan mundur. Walaupun begitu, jarak yang tercipta akibat elakan tadi masihlah sangat sempit. Crocodile tak menyia-nyiakan kesempatan. Kaki kanan yang menyerang tadi di awal diangkat olehnya, siap mengarah pada dada Kouza.
Kouza tahu jantungnya akan bermasalah jika menerima tendangan Crocodile secara telak. Maka dengan cepat dia menahan lutut kanan Crocodile dengan kaki kirinya. Tentu saja serangan tendangan Crocodile jadi tertunda. Sebelum Crocodile bereaksi, Kouza sudah melompat ke arahnya dengan bertumpu pada lutut kanan yang ditahan tadi. Mempertahankan kecepatan dan keseimbangan menjadi pemicu utama Kouza berhasil mendaratkan satu serangan.
DUAGHH!
Kouza menghantamkan lutut kanannya pada pelipis Crocodile. Si bocah buaya itu pun jatuh terjerembab sambil memegangi pelipisnya. Pada saat itu pula Crocodile menyadari Kouza masih bernafsu menghajarnya walau dia masih dalam posisi terlentang. Melihat jelas kaki Kouza akan menginjak wajahnya, Crocodile langsung berguling ke kiri demi menghindar.
DRUAKK!
Nyaris saja wajah Crocodile dihiasi jiplakan sol sepatu Kouza. Segera Crocodile bangkit, bersiaga menerima serangan dari bocah kacamata tersebut. Ekspresinya serius sekali demi menutupi suara hatinya yang merutuki betapa sakitnya pelipisnya sekarang. Berdenyut dan sakit luar biasa. Walau kekuatan tendangan tadi tidak setara dengan Sanji, tapi dampaknya tak bisa dianggap remeh.
"Brengsek..." gumam Crocodile pelan, "Ternyata kau memang pantas kuhancurkan disini, bocah..."
"Itu kata-kataku untukmu, buaya darat. Makan ini!" Kouza mengarahkan tinju kanannya pada wajah Crocodile, namun si bocah buaya langsung memasang pertahanan dengan memposisikan kedua tangannya di wajah. Sayangnya, serangan barusan hanya umpan.
Kouza mempelajarinya selama ini. Alasan mengapa Crocodile dulu bisa mengelak dari semua serangannya. Itu karena pola serangannya mudah dibaca. Tak ada kail dan umpan. Makanya, dia tak bisa mendapatkan hasil terbaik.
Karena bela diri pertarungan yang sebenarnya tidak memiliki bentuk.
Bebas.
Ya, serangan sesungguhnya adalah tinju kirinya yang mengarah ke perut. Karena Crocodile terlalu berfokus pada serangan pada wajah, perutnya terbuka dan menjadi sasaran empuk.
BUAAAKKHH!
"OHOK!" tubuh Crocodile menekuk ke depan akibat kesakitan terhadap pukulan Kouza.
"Itu rasa stroberi,"
Masih belum. Kouza masih belum puas balas dendam. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dagu Crocodile pun akhirnya jadi sasaran pukulan tangan kanannya hingga bocah itu terlempar ke atas.
BUAAAKHH! BRUUGH!
Crocodile menyesal meremehkan adik kelasnya itu.
"RASA ANGGUR!" teriak Kouza malah masih tidak jelas dengan konsep penjual es krim kentongan miliknya. Senyumnya mengembang melihat tubuh Crocodile mendarat keras ke tanah.
Bagi seorang petarung, jika melihat serangannya masuk, pasti percaya dirinya akan tumbuh. Begitu pula Kouza. Dia yang awalnya ragu bisa mendominasi pertarungan, ternyata bisa membalikkan keadaan. Tidak sama seperti di markas geng Angels dulu.
Tapi percaya diri yang berlebihan dapat berarti maut.
Kouza melayangkan tinju kiri pada wajah Crocodile yang masih terkapar. Giginya bergemeretak saking semangatnya. Namun apa yang terjadi selanjutnya?
Ternyata Crocodile lebih keras kepala dari luar perkiraan. Sayang sekali tinjunya barusan berhasil dihindari Crocodile, kemudian si bocah buaya justru bergerak maju menyarangkan tinju dari bawah dagunya. Pertahanan Kouza benar-benar terbuka lebar. Dia lengah.
BUAGH!
"Argh!"
"Masih belum, bodoh!" peringatan telah diumumkan.
BUGH! BUGH! BUGH! BUGH! DUAKK!
Cepat! Kedua tinjunya bergantian memukul perut Kouza hingga dia batuk tertohok. Apalagi serangan beruntun itu diakhiri tendangan dari kanan atas. Kouza tak bergerak. Rasa sakit di perutnya itu menyebabkan dirinya harus menerima telak tendangan tersebut.
BRUAKK!
Wajah Kouza beradu dengan tanah diiringi teriakan kesakitan. Darah mengalir dari hidung serta sudut bibir. Belum lagi perasaan ingin muntah mengikuti.
"Ughh... breng..sek..." rutuknya kesal.
Keadaan berbalik, ya? Dewi fortuna kali ini berpihak pada Crocodile. Bocah itu tertawa jahat melihat Kouza masih dalam posisi menelungkup di hadapannya layaknya dia adalah tokoh antagonis yang suka menyiksa tokoh protagonis dalam drama, "Khu khu khu... kenapa, Kouza?"
Kouza tidak berkata apapun. Dia hanya melototi Crocodile.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Bukankah kau ingin memberikanku tinjumu yang rasa darah? Kalau begini, serangan sebelumnya justru terasa seperti permen lolipop. Permen anak kecil."
"Tu-tutup mulutmu, sialan..." desis Kouza menahan amarah merasa dipermalukan, "Aku pasti akan merontokkan gigimu hingga masuk ke tenggorokanmu... dan selama seminggu, bokongmu hanya mengeluarkan gigimu yang tumpul itu saat kau akan buang kotoran..."
Crocodile sendiri cuma mengangkat kedua alisnya mendengar kalimat tersebut. Dia tak tahu tingkat kebodohan mantan adik kelas akan bertahan sejauh mana. Tak punya rasa takut sama sekali sampai mengatakan hal yang memancing emosinya.
Kaki kanan Crocodile terangkat bermaksud menginjak-injak wajah Kouza. Senyum ala penjahatnya muncul seolah dia yakin ini adalah sebuah akhir, "Kau terlalu cerewet."
Sebentar lagi sepatu kotor itu akan menghiasi wajahnya dan Kouza hanya melihat saja. Tidak, dia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa dirinya bisa menangkap kaki sial itu lalu mematahkannya. Bertaruh pada satu kesempatan.
DRUAKKH!
Suara keras seperti menghantam sesuatu itu terdengar sebelum Kouza merasakan injakan Crocodile. Kemudian anggota Five Princes ini terbelalak kaget melihat Usopp memukul wajah Crocodile menggunakan balok kayu! Lebih hebatnya lagi, balok kayu itu sampai patah menjadi dua!
Anggota Shichibukai itu pun jatuh terjungkal dengan keras. Darah segar mengalir dari hidung serta mulutnya. Selain itu dia sangat yakin pukulan keras tadi telah mematahkan hidungnya yang kini berdenyut dan sangat nyeri. Dia merutuki kelengahannya karena tak menyadari keberadaan Usopp yang datang dari samping.
Kouza melongo melihat aksi Usopp barusan. Siapa sangka temannya yang terkenal pengecut ini berani bertindak sampai seperti itu?
"Kouza!" Usopp menoleh ke bawahnya, lalu berjongkok dan berusaha membantu sang teman berdiri, "Kau tak apa-apa? Maafkan aku, apa aku datang terlambat?"
"Bodoh..." Kouza menyeka darah di sudut bibirnya, "...Kau datang tepat waktu..." setelah itu, teman masa kecil Vivi ini tersenyum tipis, "...Terima kasih, Usopp."
"Bukan apa-apa," balas Usopp balas senyum juga, "Tapi tetap saja kau ceroboh. Kau lupa apa yang dikatakan Ace-san sebelum Luffy menyuruh kita kemari? Crocodile tidak sama dengan ayam-ayam Doflamingo, jadi kau tak boleh berhadapan sendirian! Kita berbeda dari tiga monster di kelompok kita, tahu! Apa kau lupa?"
"Maafkan aku. Aku hanya ingin segera membalaskan dendamku padanya."
"Ck, ya ampun..."
"Hei, omong-omong... apakah dia pingsan?" tanya Kouza masih was-was. Karena siapa tahu bocah buaya itu bangkit lagi.
Usopp pun melirik ke arahnya yang masih terkapar, "Ku-kurasa begitu. Kau lihat saja balok kayu yang kupakai sampai patah jadi dua."
"...Siapa yang pingsan, hah?"
Spontan kedua teman Luffy ini menoleh pada sumber suara, lalu mendapati Crocodile berusaha duduk dan tersenyum jahat pada mereka.
Manusiakah dia? Balok kayu setebal itu patah, tapi dia masih sadarkan diri?!
Tak perlu dikomando pun, Usopp dan Kouza mendecih kesal melihat situasi semakin memburuk. Menyebalkan. Kenapa bocah buaya itu tidak menyerah saja?
"Pertarungan sebenarnya... baru saja akan dimulai..." begini kata si buaya darat sok percaya diri.
Usopp makin mengeratkan kepalan tangannya. Niatnya yang ingin menyelesaikan ini secepat mungkin...tampaknya akan berlangsung lama.
"Maaf, teman-teman. Sepertinya aku dan Kouza akan ditahan disini cukup lama. Tunggulah!"
.
.
"SIALAN!" saat ini, Teach sedang panik melihat satu per satu anak buahnya ditumbangkan oleh pasukan Kid dan Marco. Gym pun juga semakin kacau dan rusak saja. Belum lagi dengan perkelahian barbar di luar. Kalau terus begini, jangankan melindungi Doflamingo yang masih pingsan, melindungi diri sendiri saja dia tak mungkin bisa.
Sifat pengkhianatnya kambuh lagi. Dia berlari keluar gym, bermaksud kabur menggunakan mobilnya. Masa bodoh pada anak buahnya yang akan berurusan dengan polisi. Dia tak mau terseret dalam masalah.
Matanya makin berbinar begitu melihat mobilnya tak jauh darinya. Dia pun semakin cepat berlari sambil merogoh sakunya untuk mengambil kunci mobil. Namun sayangnya, tiba-tiba dia merasakan hantaman keras pada belakang kepala yang membuatnya terdorong brutal ke depan sampai menabrak pintu mobilnya sendiri.
DUAAAKHH! BRUAAKK! Teach jatuh dengan posisi menungging. Posisi yang sangat tidak elit sekali. Ditambah darah mengalir dari kepalanya disertai rasa sakit di tulang leher.
Apa-apaan itu? Siapa yang menendangnya barusan?
Teach pun menoleh ke belakang pelan-pelan, mendapati identitas pemain sepak bola yang bermain di tempat yang salah. Ekspresinya shock.
Kenapa?
"Yooo...Teach... sudah lama, ya?"
"Maaf harus menendangmu seperti itu, kawan lama. Tapi jika tidak begitu, kau pasti sudah kabur layaknya pecundang, yoi.."
Kawan lama. Sebuah petunjuk untuk kalian.
Tepat sekali.
"Ace...? Marco...?"
Inikah nostalgia? Mungkin seseorang harus memutar lagu-lagu mellow sebagai suara latar supaya kesan suasana akan jauh lebih dalam. Baiklah, ini bukanlah sebuah sinetron konyol dimana seseorang berteriak tidak waras sementara mobil yang mau menabraknya masih ratusan kilometer jauhnya. Ini tidak konyol. Ini nyata, bukan picisan. Teach dihadapkan pada situasi sulit dimana dia kembali ke masa-masa silam.
Dia masih ingat dirinya mengkhianati teman-teman, bukan, saudara-saudara angkatnya ketika dia masih menjadi anak angkat Shirohige. Arti keluarga sebenarnya dia dapatkan disana. Namun itu semua lenyap begitu Doflamingo muncul. Hanya karena ditawari banyak uang dan harta, dia tinggalkan semua itu kemudian meninggalkan rumah. Marco, sebagai anak tertua dari anak angkat lainnya merasa bertanggung jawab. Sampai meminta bantuan Ace yang merupakan kawan karib mereka sejak masih kecil demi membawanya kembali.
Ketika bertemu lagi, bukannya saling bertemu sapa justru saling adu pukul. Teach menolak mentah-mentah untuk kembali, bahkan menyombongkan diri yang merasa telah memiliki segalanya. Dibelikan rumah baru, sedikit saham di perusahaan Donquixote, uang jutaan yen, dan tentunya para gadis cantik oleh Doflamingo pada dirinya yang masih bocah SMP kala itu. Semuanya demi mendapat anggota terkuat di Shichibukai.
Hari ini... sekali lagi memorinya kembali terulang. Melawan 'mantan' kedua sahabatnya.
Teach menyeka hidungnya yang sudah berlumuran darah. Walau kepalanya dirasa benjol dan berdenyut, dia memilih berdiri kemudian berbalik menghadap mereka. Tawa jahatnya muncul lagi layaknya tokoh antagonis di sebuah film. Tawa menyebalkan itu, "Tch... kalian lagi rupanya? Tak bosan-bosannya kalian terus menggangguku,"
Marco mengangkat sebelah alisnya, "Kalimat itu pantas ditujukan untukmu juga kelompokmu, yoi. Seperti biasa, selalu mengusik kehidupan damai orang-orang,"
"Urusan kami hanya pada Hancock, bukan kalian, 'kan?"
"Tutup mulutmu, bayi ompong! Nyatanya Adikku juga ikut terseret! Dan tentu saja sang Kakak baik hati ini juga ikut terseret dalam permainan kalian!" jawab Ace sewot.
"Lalu apa? Kalian akan mengeroyokku disini? Kalian sebut diri kalian laki-laki, hah?" lagi-lagi Teach menggunakan ceramah sok bijak.
Empat persimpangan merah muncul di dahi Ace. "Diam kau! Jelas-jelas kalian duluan yang mulai mengeroyok! Jadi jangan harap kalau kami tetap bertarung adil disini!" teriaknya mencak-mencak menunjuk Teach tidak sopan.
"Obrolannya cukup sampai disini, Ace. Saatnya kita mengakhirinya." Setelah berucap begini, Marco melesat maju menghampiri Teach.
BUGH! Pukulan Marco berhasil ditahan olehnya. Serangan pertama gagal, maka insiatif datang melancarkan serangan kedua. Tendangan cepat akan menghantam pinggang walau lagi-lagi dihindari Teach dengan melompat ke belakang. Namun naas, dia menyadari punggungnya menyentuh pintu mobil. Singkatnya dia terpojok.
Tiba-tiba saja Ace datang melompat dari atas Marco, siap mendaratkan kakinya pada kepala Teach. Spontan si pengkhianat tersebut melompat ke samping, menjauhi mobil sampai jatuh tersungkur.
PRAAANGG! Sayang sekali tendangan Ace hanya menemui kaca pintu mobil hingga pecah berkeping-keping.
Sedikit lagi. Hampir saja! Buru-buru Teach berdiri lagi sebelum mereka menyerang kemudian pasang kuda-kuda siaga, "Astaga... apa kalian tidak bisa memberikan kesempatan bagiku?"
"Kesempatan? Huh!" Ace menarik kakinya kembali dari pintu mobil, "Kau pikir kita sedang bermain monopoli, banyak kesempatan, hah!?"
"Ah, maaf. Aku tahu kartu kesempatan memang banyak, tapi aku lebih sering dapat dana umum." balas Teach cari mati.
Hah?
Apaan sih? Kenapa jadi membahas permainan kesukaan masa kecil Penulis yang selalu dapat 20.000 setiap kali lewat start? Marco yang mendengar percakapan absurd tadi cuma bisa pasang wajah malas.
"Oooh, benar juga. Aku ingat kalau kau dulu susah sekali mendapatkan kartu kesempatan dibanding dana umum," Ace masih juga bicara tidak jelas, "Mungkin itu disebabkan kepribadianmu yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Makanya Dewa monopoli tidak berpihak padamu."
Teach membalas tak mau kalah, "Jangan lupakan kalau kau adalah langganan masuk penjara, Monkey sialan."
"Heh, gigi songket. Kau sendiri juga sering membeli banyak rumah setiap kali singgah dan itu benar-benar membuatku muak. Apa kau tahu berapa banyak uang palsu itu kuberikan padamu?"
"Oi, itu tidak penting, yoi!" ya ampun, untung saja Kuina tak disini. Kalau tidak, mungkin seluruh tulangnya patah berikut nyawanya. Tapi ini memang tak membuatnya heran.
Setelah melihat isi diari Sabo, pasti kepribadian sang Kakak tak jauh darinya, bukan? Luffy juga begitu. Entah kesalahan masa lalu apa yang dimiliki Dragon sampai punya tiga anak yang sakit otaknya amit-amit.
Ace melirik sebentar pada Marco, kemudian menghembuskan napas terakhir-eh, maksudnya panjang. Untuk sebentar saja dia harus menjadi normal demi menghentikan kegilaan Shichibukai. Kehidupan damai telah menanti setelah hari ini berakhir. Hari sudah semakin terik. Rasa panas karena sengatan sinar matahari semakin bertambah akibat panasnya hati Ace saat ini.
"Aku duluan maju!" seraya berlari, Ace melompat cepat ke arah Teach seolah ingin menendang lepas kepala itu jauh dari lehernya.
DUAKK! Memang tidak sia-sia berlatih tawuran selama menjadi Shichibukai. Teach mudah sekali menahan kaki kanan Ace dengan pergelangan tangan.
Ace masih berada di udara, maka dalam sepersekian detik itu tanpa ragu Teach melayangkan tinju satunya lagi. Naasnya, kaki kiri Ace lebih cepat terulur menahan lengannya. Resmi sudah bagian tubuh atas Teach terbuka lebar. Sebelum Ace kehilangan keseimbangan, dia mencengkeram lengan pakaian Teach menggunakan telapak kaki kirinya yang barusan menahan tadi. Kemudian, mengarahkan tendangan kaki kanannya sekali lagi pada wajah Teach.
WUUSHH! Meleset. Teach hanya mengelakkan kepalanya sedikit ke kiri dan dia lolos dari itu.
"Tch! Sial!" hati Ace kesal juga dua serangannya gagal berturut-turut.
Anak sulung Monkey bersaudara ini tak kenal menyerah. Walau dia tak bisa mempertahankan keseimbangan, dengan bertumpu pada lengan Teach, dia melompat salto ke belakang. Teach spontan mundur selangkah supaya kaki Ace tidak mengenainya. Tetapi dia tak menyangka dalam kondisi seperti itu, Ace melesatkan tendangan keras pada perut Teach sebelum mendarat.
DUAKK! Kali ini kena! Ace bisa merasakan kulit Teach dari balik pakaiannya lewat telapak kaki.
"Urgh!" Teach mengerang kesakitan. Belum sempat dia berpikir cara membalas, dia dikejutkan pada Ace yang tiba-tiba melompat ke samping, sehingga terlihatlah Marco yang sedang memegangi... spion mobil di kedua tangannya?
Senyum licik Marco muncul. Sambil berancang-ancang siap melempar spion mobil itu, dia berteriak, "HOOII, TEEEEAACH!"
Bukannya khawatir pada nyawa, si bodoh gigi ditelan zaman itu malah memaki Marco, "Brengsek! Kau mematahkan spion mobilku!? Apa kau tahu berapa harganya!?"
"Makanya, ini kukembalikan!" Marco melempar kedua spion tersebut.
WUUUTTSSS! Dua spion itu mengarah lurus pada wajah Teach. Gigi Teach bergemeretak tatkala kesal spion mobil mewahnya jadi senjata makan tuan.
TRAAANG! Teach meninju kedua spion itu bersamaan ke arah berbeda sambil berteriak puas penuh percaya diri, "HAH! DASAR BODOH!"
Si pengkhianat itu lengah. Dia pikir dengan menyingkirkan spion itu artinya pertarungan selesai sampai disini. Kenapa? Karena Marco secepat kilat lompat menerjang ke arahnya, "Kaulah..." kedua mata Teach melotot begitu menyadari lutut Marco tepat di depan wajahnya. Dia tak bisa mengelak! "...YANG BODOH, YOI!"
DUEEESHH! Hantaman lutut keras dari Marco sampai-sampai satu gigi Teach tanggal!
"ARGH!"
"BAGUS, MARCO!" Ace tak mau kalah. Dia juga ikut maju! "SEKARANG GILIRANKU!"
BUAGHH! Perut Teach rasanya seperti akan mengeluarkan semua isinya begitu merasakan tinju sakti milik Ace. Dia mulai terdesak, kawan-kawan!
Marco pun semakin bersemangat! Dia menendang lurus dada Teach!
DUAGHH!
"OHOK!"
"BELUM SELESAI, MUKA UNTA!" sadis. Mereka benar-benar tidak memberi kesempatan Teach menyerang balik. Pertahanan terbuka itu memberikan ucapan selamat datang pada mantan kedua rekan. Kali ini Ace dan Marco bersamaan meninju wajah Teach dengan telak.
BUAAKKK!
Teach benci mengakui ini. Kesadarannya menipis disela-sela dirinya terpukul terbang menjauhi kedua mantan sahabatnya. Syarafnya memperingatinya seolah rasa sakit yang dia terima itu sudah cukup. Dia tak yakin ketika punggungnya menyentuh tanah, apakah dia masih bisa bangkit atau tidak.
BRUAAGHH! Begitulah bunyi dentuman tubuhnya yang terkapar tak berdaya.
...
...
Akhirnya kedua pahlawan kita dapat berdiri gagah, saudara-saudara. Ekspresi mereka puas sekali dapat membalaskan dendam yang terpendam selama bertahun-tahun. Sambil mengatur napas yang terengah-engah, Ace dan Marco melirik satu sama lain.
Aahh... senyum unjuk gigi itu begitu membuat perasaan lega rupanya.
Bugh! Mereka pun melakukan tos tinju, sebuah tos khas yang selalu mereka lakukan sejak kecil.
"Hosh hosh...Marco...jangan senang dulu...hosh hosh.." Ace masih menatap tajam pada tubuh Teach beberapa meter di depan.
"Iya...hosh hosh...aku tahu...ini masih belum selesai, yoi..."
Benar. Ini masih belum selesai.
Ini baru babak pertama dan selanjutnya.
Sebelum menuju babak akhir.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's note: Sebentar lagiiiii! Beberapa chapter lagiiii! Hmm, berapa ya? Itu... satu...dua... ah! Mungkin sekitar empat chapter lagi. Ya, mungkin. Itu pun belum ditambah chapter spesial alias side story setelah fanfic ini resmi tamat. Well, bagaimana pun Penulis ingin para pembaca tetap bersama Penulis sampai akhir. Jangan lupa berikan komentar dan saran. Sampai jumpa!
Eiiiitt! Lupa! Penulis ingin mengumumkan bahwa telah dirilis side story Girls Are Better Than Boys yang berjudul "TRUTH OR DARE ALA TIM MAK COMBLANG". Sesuai judulnya, fanfic side story itu berfokus pada tim mak comblang kita yang dibungkus dalam balutan humor. Kalau sempat, baca ya.
THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!
