Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[Blossom In The Winter ]

( Chapter 27 )

.

.

.

Itachi Pov.

Hari ini, untuk pertama kalinya Sakura akan keluar dari rumah, suasananya pasti akan sangat berbeda tanpanya. Aku hanya bisa mendukungnya, dia punya tekad yang kuat. Sakura mencoba lepas dari Sasuke. Pola pikirnya sudah lebih berkembang. Aku rasa ini wajar, dia gadis remaja yang sehat dan mulai memikirkan segalanya. Kami sering menghabiskan waktu untuk berbicara. Sakura ingin mengubah kehidupannya. Semua ucapan Sasuke pada akhirnya tidak akan di dengarnya. Aku sudah memperingati Sasuke berkali-kali, gadis ini akan kesulitan menghadapi hubungan yang di mulai Sasuke.

Setibanya di stasiun.

"Kau sudah membawa semua perlengkapanmu?" Tanyaku. Sebagai seorang kakak baginya, aku sedikit khawatir ketika dia jauh dari rumah. Apa dia bisa menghadapi segalanya? Atau bagaimana dia akan menyelesaikan masalah yang tiba-tiba datang padanya. Kami tidak pernah mengajarinya seperti itu, selama ini kami hanya memperlakukannya khusus sebagai seorang putri kecil kami di rumah.

"Aku sudah memeriksa koperku hingga berkali-kali." Ucapnya dengan sebuah senyum di wajahnya.

"Hubungi aku jika terjadi sesuatu." Pesanku.

"Aku akan mengatakan sebuah rahasia. Panggilan darurat nomor satu adalah Niichan." Tawa kecil mengakhiri ucapannya.

"Kenapa bukan Sasuke?" Tanyaku. Aku sudah menebak itu Sasuke.

"Dia akan meledak seperti bom."

"Alasan yang bagus." Ucapku, mengelus perlahan puncuk kepalanya. "Kau sungguh tidak akan pulang saat liburan?" Tanyaku, lagi.

Sakura tidak menjawabnya. Dia memberi jawaban dengan anggukan dan tatapan murung itu. lagi-lagi ada rasa takut pada benaknya.

"Kau bebas melakukan apapun, Sakura. Kau sudah menjadi gadis remaja dan memikirkan segala resiko yang akan terjadi padamu. Aku cukup bangga padamu."

Pelukan dadakan darinya.

"Aku akan kembali setelah lulus. Aku tidak akan lupa rumah. Lagi pula ayah dan ibu akan mengawasiku." Ucapnya.

"Aku sedikit lega mendengarnya. Tolong jaga kesehatanmu dan makanlah yang banyak." Pesanku lagi dan membalas pelukannya, gadis remaja yang akan tetap aku anggap sebagai adik kecil kami.

Melambaikan tangan ke arahnya. Sakura sudah naik kereta yang mulai berangkat.

Sekarang.

Bagaimana menghadapi Sasuke? Izuna mungkin akan memahaminya, tapi Sasuke akan jauh lebih sulit.

Aku pulang ketika matahari sudah mulai tinggi, mereka pasti sudah bangun. Orang yang pertama berdiri di depan pintu adalah Sasuke. Aku sudah bisa menebak ini.

"Dimana Sakura?" Tanyanya. Sasuke terlihat marah.

Ending Itachi pov.

.

.

.

.

.

Sakura Pov.

Menguap beberapa kali, aku keluar dari kamar Sasuke jam 2 pagi. Aku harus memastikan koperku lagi sebelum keluar. Dia tertidur sangat lelap, bahkan tidak terusik saat aku turun dari ranjangnya. Menatap ponselku. Sebuah pesan dari ibu.


Ibu mengirim seorang bodyuard untukmu. Dia bahkan sudah mendekor kamar asramamu, semoga kau nyaman di sana, sayang. Jika ibu punya waktu, ayah dan ibu akan mengunjungimu. Jika kau ada masalah hubungi ibu dan ayah, kapan pun itu.

Jaga kesehatanmu, sayang.


Aku tidak percaya ini. Seorang bodyguard? Ibu terlalu berlebihan. Apa ini yang ayah katakan sebelumnya? Mereka akan tetap mengawasi meskipun jauh. Bodyguard itu mungkin penghubung mereka. Aku harus lebih berhati-hati lagi, jangan membuat masalah, mereka akan segera tahu dari laporan bodyguard itu.

Penerimaannya akan di laksanakan besok. Hari ini aku hanya perlu melapor dan mengetahui nomer kamarku. Bagaimana ibu bisa tahu kamarku dan mendekornya? Apa ibu punya kenalan di sekolah ini?

Saat pertama kali masuk, wah! Sekolah yang luas, sangat luas, mungkin karena asrama. Ini sekolah campuran, mereka punya dua asrama yang berbeda, satu khusus perempuan dan satu khusus laki-laki. Fasilitas sekolah yang lebih menjanjikan, lapang larinya juga luas.

Setibanya di bangunan asrama, kembali menyebutkan namaku pada penjaga asrama. Dia memberiku sebuah kunci. Mencari kamar bernomor 102. Di dalam juga luas sekali dan sangat bersih. Di lantai bawah adalah kantin.

Langkahku terhenti di pintu bertuliskan 102. Ini kamarku, aku sudah dengar jika akan ada dua orang dalam satu kamar.

Membuka pintu kamarku. Teman sekamarku sudah ada di dalam, seorang gadis bercepol dua.

"Akhirnya teman sekamarku tiba." Ucapnya.

Kesan awalku, dia orang yang ramah dan cepat akrab. Tapi ada yang aneh. Apa benar kamarku sudah di dekor? Aku melihat area yang terlihat biasa-biasa saja di sebelah kanan. Sedangkan di sebelah kiri sudah menjadi tempat teman sekamarku. Apa bodyguard itu lupa? Atau terlambat mendekornya?

"Ada apa? Masuklah. Karena aku pertama datang ini tempatku. Tempatku disebelah sana." Ucapnya.

"Aku harus menghubungi ibuku." Ucapku. Aku tidak juga beranjak dari depan pintu dan menghubungi ibu.

"Ada apa. Sakura?"

"Ibu, apa kamarku sudah di dekor atau bodyguard itu terlambat melakukannya?"

"Itu tidak mungkin Sakura. Dia melapor sudah melakukannya sejak kemarin."

"Begitu yaa?"

"Ibu akan mengganggilnya untuk menemuimu."

"Baik, bu." Ucapku.

Sejujurnya aku tidak perlu dengan dekor kamar, hanya saja ibu ingin melakukannya. Aku tidak bisa membantahnya.

"Tu-tunggu dulu!"

Tiba-tiba gadis itu menghampiriku.

"Bukannya aku seenaknya, aku tidak tahu jika tempat itu sudah di buat khusus untukmu. Tidak perlu memanggil siapapun, tempatmu di sana. Aku tidak akan mengambilnya dan mendapat masalah." Ucapnya.

Kenapa aku yang merasa tidak enak padanya?

"Mungkin kau seorang nona muda, makanya tempatnya pun harus di buat khusus." Apa dia sedang menggerutu padaku?

Ketukan dari pintu. Membukanya. Aku bisa melihat seorang wanita, rambut panjang yang di ikat ekor kuda dengan rapi dan pakaian formalnya, jas hitam dan celana kain hitam. Sangat-sangat rapi. Apa dia yang di utus ibu?

"Namaku Haku. Mulai sekarang aku yang akan menjadi bodyguard anda nona. Katakan apa kau tidak suka dengan dekorasi yang aku buat untukmu?" Ucapnya.

"Aku suka, maaf, hanya ada salah paham." Ucapku.

"Oh, mungkin nona tidak tahu ranjang nona? Di sebelah sana." Tunjuknya, tepat di ranjang sebelah kiri. Sudah ku duga. Ini hanya salah paham.

"Iya. Aku sudah tahu. Maaf membuatmu repot harus masuk ke sini."

"Tidak masalah nona. Panggil aku kapan pun. Biarkan aku mengetik nomer ponselku pada ponsel nona." Ucapnya. Memberikan ponselku padanya. Dia wanita yang sangat cantik dan tinggi, dia pasti sudah sangat terlatih.

"Sudah. Apa perlu sesuatu lagi, nona?" Tanyanya.

Menatap ke arah kamar ini. Aku sungguh tidak suka akan perbedaan yang mencolok ini.

"Apa aku bisa meminta sesuatu yang sedikit sulit?" Tanyaku.

"Apapun itu, nona. Aku siap melayanimu."

Setelahnya.

"Wah. Kau sungguh nona muda yang kaya raya yaa. Namaku Tenten. Bukannya aku ingin akrab denganmu karena kau kaya. Kita harus lebih akrab karena akan tinggal bersama selama 3 tahun." Ucapnya.

"Uchiha Sakura. Salam kenal. Aku bukan nona muda yang kaya. Orang tuaku lah yang kaya." Ucapku.

Aku meminta Haku mendekor ranjang di sebelahku. Ini jadi terlihat seimbang. Aku tidak ingin ada perbedaan di ruangan ini, rasanya sangat aneh.

"Nona muda yang merendah." Ucapnya dan tertawa.

Aku sungguh tidak suka saat di panggil dengan embel 'nona muda'.

Perlahan-lahan aku mulai memasuki kehidupan baruku, tempat baru, lingkungan baru, orang-orang baru, dan juga teman baru, hanya sejenak saja aku memikirkannya.

Sasuke calling….

"Ponselmu berdering terus menerus, apa kau tidak akan mengangkatnya?" Tegur Tenten.

Kak Itachi pasti sulit menutupinya. Sasuke tipe yang tidak bisa diam begitu saja, dia pasti memaksa kak Itachi untuk berbicara.

"Maaf jika ponselku mengganggumu. Aku akan mematikan nadanya." Ucapku, mengubahnya dalam mode hening.

Sasuke terus menghubungimu. Akhirnya berhenti dan sebuah pesan masuk.

Angkat ponselmu. Jika tidak aku akan mencarimu sekarang juga.

Sebuah pesan dari Sasuke. Aku pikir kak Itachi akan mengatakan segalanya, tapi dari isi pesan Sasuke. Dia tidak tahu apapun dan tidak mendapatkan informasi apapun.

.

.

TBC

.

.


yak, segini dulu lagi yaa...

terima kasih yang masih membaca. author lihat beberapa review, masih pada antusias pada fic yang hampir lama nggak update ini =_= *maafkan author*

see you next chapter.