[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


Helaan nafas keluar dari mulut Ten setelah beberapa saat terdiam. Matanya menatap lurus pada kedua mata sahabatnya, kemudian berkata dengan mantap, "Kau bukan pengecut."

"Orang-orang berkata–"

"Peduli setan dengan kata orang, hyung," dengan kurang ajar Ten memotong ucapan Taeyong, terlampau kesal dengan stereotype masyarakat yang terkadang tidak sejalan dengan pikirannya. Terlebih, Taeyong seringkali memperhatikan penilaian orang lain tentang dirinya, membuatnya insecure terhadap diri sendiri. Setelah sedikit mendinginkan kepalanya, Ten bertanya dengan pelan, "Apa salahnya lari dari kenyataan?" jeda, dan Taeyong tidak menjawab. "Aku tidak merasa kau pengecut saat kau lari dari masa lalu ataupun berniat menganggap hal itu tidak pernah terjadi."

Taeyong terdiam, mencerna tiap perkataan Ten dengan serius. Mengetahui Taeyong masih menunggu kelanjutan ucapannya, Ten melanjutkan, "Tiap orang pasti memiliki satu-dua masa lalu yang ingin mereka lupakan. Aku tahu, dalam lubuk hati terdalamnya mereka ingin mengulang, kembali ke masa itu dan memperbaiki semuanya. Hanya saja, itu mustahil." Ten melirik sekilas ke arah Taeyong yang terdiam dengan wajah kosong, seolah kehilangan jiwanya. "Aku juga. Kau tahu itu, kan, hyung?"

Mendengar pertanyaan Ten, Taeyong beralih menatap sahabatnya. Tahu apa yang dimaksud Ten. "Maaf–"

"Kau tidak berbuat salah. Tidak usah minta maaf." Ten merengut, sedikit kesal. Dia tidak suka Taeyong meminta maaf di saat dia tidak melakukan kesalahan apapun. Setelah itu, Ten melanjutkan topik tadi yang sempat terpotong dengan permintaan maaf Taeyong. Ten ingin mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang bersarang di kepala Taeyong.

Perlahan, Ten meraih tangan Taeyong yang berada di atas meja, menggenggamnya dan meremas pelan tangan Taeyong yang kini sudah tidak sedingin tadi –walaupun masih saja tetap dingin–. "Hyung, jangan pedulikan tanggapan orang-orang. Kau adalah kau. Orang-orang hanya bisa menilaimu dari luarnya, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya. Apa yang orang lain inginkan belum tentu baik untukmu, karena yang mengetahui apa yang terbaik untukmu adalah dirimu sendiri. Mengikuti kehendak orang lain hanya karena tidak ingin dicap buruk oleh mereka bukan pilihan yang tepat, hyung. Hidupmu milikmu, bukan milik mereka. Yang harus kau lakukan adalah membuktikan pada mereka bahwa tanggapan mereka salah, buktikan bahwa pilihanmu adalah yang terbaik."

Bagi Taeyong, Ten adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya. Saran Ten adalah apa yang ingin didengarnya, dan laki-laki itu mengatakannya dengan cara yang menyenangkan. Ten tidak pernah membentaknya, Ten tidak pernah menyalahkannya atas apa yang dia lakukan, dan Ten menerima kekurangannya –bahkan membantunya menutupi kekurangan itu dengan kelebihan yang dia miliki.

Ten adalah apa yang Taeyong butuhkan.

"Hyung," Ten berkata lagi setelah memberikan waktu bagi Taeyong untuk mencerna sarannya. "Yakinlah bahwa dirimu yang terbaik. Orang-orang itu tidak pantas untuk menginjak-injak dirimu. Kau yang pantas berdiri di atas mereka."

Kalimat-kalimat itu merasuki Taeyong, seperti racun yang mengalir dengan cepat di pembuluh darahnya, menghancurkan pikiran buruk Taeyong yang sebelumnya sempat bersarang di kepalanya.

"Kau ingin melihat mereka menatapmu dari bawah, kan, hyung?"

"Kau ingin melihat wajah kekalahan mereka, kan?"

"Kau ingin melihat mereka hancur, kan?"

"Jadi, yakinlah bahwa kau yang terbaik, dan tidak ada yang berhak menginjak-injakmu lagi."

Ten senang melihat sahabatnya bangkit dan mendapat semangatnya kembali, namun di saat yang bersamaan Ten merasa berdosa karena telah merusak sahabatnya. []