Drabble: BokuAka
Tawanan berharganya takkan pernah memiliki kesempatan untuk melarikan diri, apalagi di tengah samudera luas dan badai yang menjadi kurungan alaminya. Akaashi takkan mampu, karena itu Bokuto mengeluarkannya dari sel di bawah geladak dan mengajaknya ke kabin pribadinya. Tak seluas kabinnya di kapal kebanggaannya, namun cukup untuk digantungi dua hammock yang berdampingan. "Kau tidur di sini malam ini, manis."
Mata hijau Akaashi menatap bajak laut perak itu, alisnya terangkat. Ingin menolak tapi ia hanyalah seorang tawanan yang mungkin jika tak terlampau berarti akan dijual oleh orang ini ke pasar gelap sesampainya di Tortuga, mungkin. Ia alihkan pandangannya ke dua hammock yang dipasang dan begitu dekat. Bahkan Akaashi menduga jika ada ombak kecil saja yang mengguncang kapal malam ini akan membuat badan mereka berdua berayun dan saling membentur. Tapi Akaashi akan mengusahakan hal itu tidak terjadi. Ia mungkin hanya seorang anak pedagang yang jatuh miskin dan mengadu nasib berlayar ke Amerika untuk mencari keuntungan, tapi bekalnya untuk merantau tak hanya sekedar materi. Ia sudah melatih diri untuk setidaknya bisa terus waspada pada satu dan beberapa hal yang bisa ia tangani sendiri.
Pemuda hitam itu diam dan hanya melempar tubuhnya ke atas hammock yang berayun di kabin itu. Bokuto tersenyum simpul dan berbaring di ayunannya sendiri. "Taruhan, kau akan merasa aman dan nyaman, sweetheart." Bokuto berbisik dan menatap pemuda di sampingnya, "Pernah melakukannya di atas hammock?"
"Tentu saja," jawab Akaashi. Untuk kali ini ia merasa senang dengan nada acuh tak acuh dan bosan yang selalu ada di suaranya saban ia berbicara. Sejak awal Bokuto selalu menggodanya, benar-benar tidak menyembunyikan hasrat dan ketertarikannya pada Akaashi.
Pemuda Jepang itu senang membuat si perak mengira-ngira sendiri makna jawabannya. Salah sendiri tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan "-nya" ditanyanya, sehingga Akaashi bebas untuk menerjemahkan hal itu sendiri. Yang jelas, Akaashi pernah tidur di atas hammock sebelumnya.
Jawaban langsung dan tenang itu membuat Nokuto mengerutkan keningnya kala ia menyamankan tubuhnya dengan berayun-ayun kecil. Apa maksud Akaashi dengan "tentu saja"? Apa sebelum ini Akaashi pun pernah ditawan bajak laut lain dan terjadi sesuatu pula sebelumnya? Tentu saja jika memikirkan bagaimana Akaashi begitu memukau dan menarik, tak mungkin perjalanan hidupnya sangat membosankan. Siapa yang tak tergoda pada pancaran aura erotis yang ada pada diri pemuda hitam ini?
Namun membayangkan Akaashi berayun-ayun di hammock dengan seorang pelaut atau bajak laut kurus kerempeng dan berwajah jelek yang menindihnya sungguh tidak menyenangkan. Sejujurnya, Bokuto tak menyukai hal sialan itu sama sekali. Kerutan di dahinya mendalam, dan sejenis perasaan geram tiba-tiba memenuhi perut dan dadanya.
Bokuto berbalik dan mengguncang ayunan Akaashi, "Di mana?"
Akaashi terbangun dari kantuknya dan bergumam, "Apanya yang di mana?"
"Di mana kau melakukannya di atas hammock?"
"Oh, di atas kapal yang membawaku dari Jepang. Kapal yang kalian bajak sebelumnya." Akaashi-di kabin gelap dan sadar Bokuto takkan melihatnya-tersenyum penuh kemenangan. Itu benar, ia memang tidur di ayunan hammock di kapal sebelumnya.
Bokuto berbaring di atas hammocknya dengan mendidih ketika bajak laut kurus dan jelek yang ada di bayangannya berganti rupa menjadi bayangan seorang laki-laki Asia berkulit kecokelatan karena terbakar sinar matahari, dengan rambut hitam berkilau dengan pakaian etnik yang indah.
Mata keemasannya sudah mulai terbiasa dengan gelap dan Bokuto melihat sosok Akaashi yang berbaring dengan tenang dan lemas, menandakan kepulasan. Sialan, bagaimana mungkin pemuda ini bisa berkata kepadanya tentang bercinta di hammock di kapal dagang lalu langsung terlelap?
