Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[Crown for the Queen ]

~ Chapter 32 ~

.

.

Sakura Pov.

Duduk di sebuah kursi taman istana barat, aku mulai jenuh hanya berada di dalam kamar saja. Sampai kapan mereka berdua ada di istana ini? Kapan mereka pulang? Aku sudah bosan berada di dalam kamarku. Apa mereka tidak akan pulang? Apa mereka sudah lupa dengan kerajaan Haruno? Mereka berdua benar-benar sudah gila. Aku menyesal sudah percaya penuh pada kakak Serra, dia hanya pengkhinat.

Kraaa! Kraaaa!

Taka kembali dan membawa sebuah surat, mengambil surat yang di ikat pada kakinya, beberapa hari ini aku hanya berkomunikasi dengan raja Itachi melalui Taka, dia benar-benar sangat berguna.

Mereka sudah pulang, kau bisa tenang putri.

Pesan singkat dari raja Itachi membuatku sangat lega, akhirnya mereka pulang, apa rencana mereka sebenarnya datang ke istana Uchiha? Seharusnya mereka malu, apalagi mendiang ayah sangat menentang mereka hingga mengusir mendiang raja Fugaku secara tidak terhormat.

"Terima kasih atas pesanmu, Taka." Ucapku, dia terlihat senang dan kembali bertengger di sangkar megah miliknya.

Jadi apa aku sudah bisa berjalan-jalan keluar istana lagi? Kesatria Sai masih belum datang padaku, mungkin dia masih berjaga di depan pintu masuk.

"Nona Sumire." Panggil seseorang.

Aku tidak percaya ini, pangeran Sasuke datang padaku dan dia membawa seorang tabib. Seorang tabib? Untuk apa dia membawa tabib istana ke sini?

"Aku membawakan tabib untukmu, apa kau sudah merasa lebih baik?" Tanyanya.

Aku tidak mengerti, kenapa pangeran membawa tabib padaku? Aku tidak sakit, aku hanya mengurung diri karena raja Serra dan putri Ino berada di istana Uchiha.

"Biar aku memeriksa anda, nona." Ucap sang tabib.

Ya sudahlah, aku ikut saja apa keinginan pangeran.

"Bagaimana bisa ada seekor gagak di istana ini?" Ucap pangeran, tatapannya kini terfokus pada gagak milik raja Itachi.

"Ini-"

"-Bagaimana kau bisa menyimpan seekor hewan tanpa mengatakan pada Yang mulia raja?"

"Bu-bukan seperti itu pangeran."

"Apa kau tahu jika gagak juga melambangkan hewan milik penyihir?"

Dia semakin salah paham, pangeran mulai berjalan ke arah sangkar Taka, namun tiba-tiba.

"Jauhkan gagak ini dariku!" Teriak sang pangeran, aku rasa Taka menyadari jika dia dalam bahaya, pantas saja Yang mulia mengatakan jika dia hewan yang cerdas.

Seorang tabib yang datang bersama pangeran juga kebingungan menjauhkan Taka dari pangeran, jika di biarkan mungkin wajah pangeran akan lecet, bergegas ke arah pangeran dan melindunginya, menutupi tubuh pangeran dengan tubuhku yang tidak jauh lebih besar dari tubuhnya. Taka berhenti mematuk, kembali ke sangkar dan bersuara seperti menggertak sang pangeran.

"Kau dan perliharaanmu itu!" Sang pangeran jadi murka.

"Taka adalah peliharaan milik Yang mulia raja!" Tegasku.

Dia harus berhenti salah paham.

"Kau berbohong!"

"Saya bersungguh-sungguh pangeran, Jika pangeran melukai Taka, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Yang mulia raja, mungkin beliau akan sangat marah." Ucapku, aku tidak bebohong, apa karena dia membenciku, jadi apapun yang aku katakan tidak membuatnya percaya?

Pangeran Sasuke terdiam, dia menatap sesuatu di wajahku.

"Saya tidak berbohong pangeran." Ucapku, sekali lagi menyakinkannya.

"Akan aku tanyakan sendiri pada Yang mulia, sekarang obati wajahmu, sekalian tabib akan memeriksamu." Ucap pangeran dan menjauh dariku.

Menyentuh wajahku dan sebuah tangan menahannya.

"Aku sudah katakan padamu sekarang obati wajahmu, bukan menyentuhnya!" Kesal pangeran.

Aku tidak sadar, gara-gara melindungi pangeran, wajahku terluka lagi.

Berjalan masuk ke dalam ruangan bersama pangeran dan tabib, nyonya Rose datang dan hanya melihatku saja, dia pasti kebingungan, aku tidak sakit dan pangeran membawakan tabib untukku.

Luka bekas serangan Taka telah di obati, tabib juga sudah memeriksaku.

"Nona Sumire dalam keadaan baik-baik saja. Apa akhir-akhir ini nona mengalami gejala lain?" Tanya tabib.

"Tidak tabib, mungkin hanya lelah." Ucapku, sesekali menatap pangeran Sasuke yang menatap serius ke arahku.

Apa aku berbuat salah lagi? Padahal beberapa hari ini karena adanya putri Ino dan raja Serra, aku tidak keluar dari kamar dan tidak bertemu dengannya, tidak mungkin aku membuat masalah lagi.

Setelah sang tabib selesai dengan tugasnya, nyonya Rose pun di minta untuk tidak berada di ruangan ini.

Aku jadi sangat bingung, walaupun tidak bertemu, pangeran tetap saja marah padaku.

"Ma-maaf jika saya melakukan kesalahan." Ucapku, menundukkan wajahku, aku tidak berani menatap wajah marahnya lagi, dia pikir aku menantangnya.

"Aku bukan datang untuk hal itu nona Sumire, aku datang untuk minta maaf." Ucapnya dan membuatku menatap pangeran.

"Minta maaf?" Ucapku, aku semakin bingung.

"Ya, itu saja, aku minta maaf dan mulai sekarang, aku tidak akan bersikap jahat padamu lagi, nona."

"Apa pangeran baik-baik saja?" Tanyaku, khawatir, mungkin dia sempat terbentur di suatu tempat hingga salah berbicara.

"Apa maksudmu? Yang sakit disini adalah kau, kau bahkan tidak keluar dari istana dalam beberapa hari, kesatria Sai mengatakan kau sakit dan Yang mulia raja meminta tempat ini harus di jauhi, anehnya dia seperti orang kebingungan saat aku menanyakan kabarmu."

Oh!

Akhirnya aku paham kenapa pangeran membawakan tabib untukku, kesatria Sai pasti bingung mencari alasan dan Yang mulia raja tidak mengatakan yang sebenarnya pada kesatria Sai, semua jadi salah paham dan orang yang paling percaya adalah pangeran Sasuke.

Aku ingin tertawa keras, tapi tahanlah, tahanlah hingga pangeran pergi dulu.

Aku tidak menyangka jika pangeran yang keras kepala dan jahat ini memiliki sisi yang polos, sangat polos.

"Pangeran tidak perlu meminta maaf, saya mengerti dengan semua hal yang pangeran lakukan padaku. Saya pun jika memiliki saudara yang sangat di sayangi, saya akan melindunginya dengan sepenuh hati." Ucapku.

"Baguslah kalau mengerti, aku tidak perlu menjelaskannya lagi." Ucapnya dan pangeran mengalihkan tatapannya, dia seperti tengah malu.

Rasanya jadi sedikit berbeda saat berbicara dengan pangeran tanpa melihat sikap marah dan cara biacaranya yang galak.

"Apa kau yakin kau tidak perlu obat-obatan untuk kesehatanmu?" Tanyanya dan memastikan.

"Saya sudah sangat sehat pangeran, terima kasih atas kemuliaan hatimu." Ucapku.

"Aku senang mendengarnya."

"Saya dengar ada seorang putri dan raja yang menginap di istana." Ucapku. Aku ingin mendengar dari sisi pangeran.

"Ah, raja Serra dan putri Sakura." Ucapnya, mimic wajah yang berbeda saat dia menyebutkan putri Sakura.

Apa pangeran tidak sadar, jika putri Sakura adalah aku? Dia benar-benar melupakan segalanya.

"Seharusnya kau bertemu dengan putri Sakura, dia begitu menawan, mungkin jika Yang mulia raja telah menikah, aku bisa menjadikannya sebagai pasanganku, kerajaannya cukup hebat dan hal itu akan baik bagi kerajaan Uchiha."

Aku tidak senang mendengarnya, putri yang kau inginkan itu adalah pembohong, penindas, dan juga gila akan posisi.

"Kalian pasti akan menjadi pasangan yang sempurna." Ucapku.

"Tentu saja, dia seorang putri mahkota yang terhormat." Ucap pangeran bahkan memasang wajah bangga itu.

Bagaimana bisa mengembalikan ingatan pangeran? Apa dia akan menderita jika mengingat segalanya? Aku merasa sangat iri pada putri Ino, bagaimana pun dia berbicara, mendiang ayah sampai pangeran Sasuke selalu percaya pada ucapannya.

"Jika kau sudah sehat, jangan lupa, besok malam adalah perayaan ulang tahun Yang mulia raja, namun dalam suasana yang berbeda." Ucap pangeran.

"Apa selalu di adakan seperti itu?"

"Ya, pesta keduanya akan berada di tengah kota, setiap tahunnya Yang mulia akan merayakan ulang tahunnya dua kali, pertama hanya mengundang para bangsawan saja dan perayaan kedua bersama para rakyatnya, di hari itu pun kakak akan mendengar keluhan para rakyatnya." Jelas pangeran.

Ternyata ada hal seperti itu di kerajaan Uchiha ini, perayaan di tengah kota mungkin akan sangat meriah, apalagi melibatkan seluruh rakyatnya. Aku jadi sangat ingin melihat apa yang para rakyat lakukan untuk melakukan perayaan ulang tahun Yang mulia raja? Aku juga menantikannya.

"Aku harus pergi dan terima kasih telah menolongku dari gagak itu." Ucap pangeran dan pamit padaku.

Aku jadi merasa tenang berbicara sepert itu padanya, pangeran Sasuke sebenarnya baik, dia hanya keras kepala saja.

"Ehem, maaf membiarkan nona sendirian."

Kesatria Sai akhirnya datang.

"Saya tidak sendirian." Ucapku.

"Aku tahu, aku bahkan cukup lancang menguping pembicaraan kalian, maaf, tapi pangeran jadi lebih tenang di hadapanmu, nona. Apa kau juga berhasil menaklukan pangeran?"

"Jangan bercanda tuan kesatria, saya tidak melakukan apapun, pangeran sendirilah yang bersikap seperti itu." Ucapku.

"Aku jadi penasaran." Ucapnya dan berhentilah untuk penasaran, aku yang lebih penasaran. "Lalu, apa yang terjadi dengan pipimu, nona?" Tanyanya.

Aku mulai menceritakan apa yang terjadi, setelahnya, kesatria Sai hanya tertawa terbahak-bahak, dia sampai menahan perutnya, apalagi aku bersusah payah menjelaskan pada pangeran jika Taka itu adalah peliharan Yang mulia raja, bukan peliharaanku.

"Aku dan kesatria Sasori mencari alasan agar pangeran tidak masuk ke istana barat." Ucap kesatria Sai, mereka bahkan tidak melapor pada Yang mulia raja

Tebakanku benar, alasan kenapa pangeran membawa tabib, pantas saja raja Itachi pun kebingungan.

.

.

.

.

Sasuke Pov.

Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan sekarang, setelah berbicara dengan nona Sumire, aku merasa sedikit tenang, walaupun tatapannya sempat terlihat murung, memangnya kenapa jika aku dan putri Sakura akan menjadi pasangan? Dia seakan tidak ikhlas akan ucapannya sendiri, tapi dia sudah menolongku.

Sekarang.

"Kakak! Apa kakak tahu, burung gagak jelek yang berada di istana barat menyerangku." Aku jadi mengadu pada kakak.

"Apa kau berniat membunuh Taka?" Tatapan kakak menggelap.

"A-aku tidak melakukannya." Gugupku, aku kadang takut jika kakak benar-benar marah padaku.

"Jika saja Taka dalam bahaya, aku akan menghukummu." Ucap kakak dan terlihat kesal.

Ternyata benar, burung gagak jelek itu, adalah milik kakak, jika saja nona Sumire tidak berusaha menjelaskannya padaku, aku akan mendapat hukuman darinya lagi.

.

.

TBC

.

.


updatee...~

semoga semua lancar saja puasanya hari ini XD sedikit info author akan mulai update beberapa fic yang masih TBC dan belum di lanjutkan.

lalu author balas review yang lewat dulu.

sitilafifah989 : tunggu, ada waktu dimana mereka akan dapat balasannya *rencana jahat* XD

Eriza22 : author cepat update kalau udah kelar ngetik XD mungkin updatenya akan mulai agak siang aja hehehe.

Nejes :tanda-tanda(?) pengen buat pangeran sasu menyesal dulu, pffff

nurvieee96 : terima kasih, semoga terhibur dengan fic ini XD

dan terima kasih untuk semua reader yang masih betah baca fic ini... calangeoo...~