Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[Blossom In The Winter ]
( Chapter 28 )
.
.
.
Sasuke Pov.
Terbangun setelah merasakan area ranjang di sebelahku kosong. Apa Sakura sudah bangun? Ini masih jam 5 pagi, seharusnya dia masih berada di atas ranjang bersamaku. Kemana dia? Di kamar mandi tidak ada, di dapur juga tidak ada. Mencoba menanyakannya pada kak Itachi. Dia juga tidak berada di kamarnya. Apa Sakura kembali ke kamarnya? Mencarinya di sana. Saat masuk, ada yang berbeda, kamar ini terlihat lebih kosong dari biasanya, seperti ada beberapa barang yang hilang.
Sakura tidak berada dimana-mana. Apa dia keluar bersama kakak? Aku harus menunggu mereka kembali. Kemana mereka pergi begitu pagi?
Hingga jam 8 pagi. Suara mobil yang di parkir, menunggu mereka di depan pintu, namun hanya kakak yang datang, dia sendirian.
"Dimana Sakura?" Tanyaku.
"Aku tidak tahu. Aku ke kantor tadi. Ada sedikit masalah." Ucap kakak. Dia orang yang paling sulit untuk di tebak. Apa kakak sedang berbohong atau tidak. "Aku pikir dia tidur di kamarmu. Semalam aku melihatnya masuk ke kamarmu." Tambahnya.
"Sakura tidak ada di kamarku sejak tadi pagi. Apa kakak melihatnya?"
"Aku tidak melihatnya. Aku keluar jam 7 tadi. Coba hubungi dia. Mungkin pergi tidak jauh atau mungkin sedang joging."
"Untuk apa dia joging? Sakura tidak pernah melakukan hal itu."
"Aku hanya menebaknya saja. Sekarang aku akan membuat sarapan." Ucapnya dan berlalu dari hadapanku.
Dimana gadis itu?
Aku akan mencoba mencarinya keluar, namun ini sudah terlalu siang untuk joging. Mencari ponselku, aku tidak menemukannya di jalan.
"Sasuke kau tidak bekerja?" Tanya kak Izuna padaku. Aku belum siap sejak tadi. Aku hanya sibuk mencari Sakura.
"Sakura menghilang. Kenapa kalian terlihat santai seperti itu?" Ucapku.
"Apa! Sakura menghilang! Hubungi polisi sekarang juga! Aku akan mencarinya di luar." Kak Izuna terlihat panik. Dia juga tidak tahu apapun.
Hanya tinggal seorang dari kami. Kakak masih terlihat tenang.
"Apa kakak sungguh tidak akan mengatakan pada kami?" Tanyaku.
"Apa yang terjadi? Ada apa dengan kak Itachi? Apa kakak tahu Sakura dimana?" Ucap Izuna.
"Mulai sekarang Sakura tidak akan tinggal bersama kita. Dia sudah tinggal di sebuah asrama sekolah. Jangan menganggunya Sasuke. Ayah dan ibu juga sudah menyetujuinya." Ucap kak Itachi.
Aku sudah tahu jika sikapnya akhir-akhir ini ada yang aneh, kakak bahkan tidak ingin mengatakan Sakura berada dimana. Ayah dan ibu juga tidak pernah menyinggung sekolah Sakura. Mereka semua menutupinya dariku. Apa ini permintaan Sakura? Dia mulai melawanku lagi.
"Tinggal di asrama! Dia masih kecil, bagaimana dia mengurus dirinya nanti?" Ucap kak Izuna.
"Sakura bukan bayi Izuna. Hentikan itu. Ini keputusannya sendiri, sebagai gantinya, kalian juga harus mendukung keinginannya." Ucap kak Itachi.
"Adik kecil kita sudah dewasa, dia sudah berani keluar dari rumah. Aku hanya khawatir padanya." Kak Izuna mulai berlebihan.
"Ayah dan ibu mengutus bodyguard terbaik untuk mengawasinya disana, jadi Sakura tidak benar-benar hidup sendirian, dia masih tetap di awasi dengan ketat." Jelas kak Itachi.
Tapi itu membuatku tidak tenang. Sakura tidak boleh tinggal di asrama.
Mencoba menghubunginya. Berkali-kali pun aku menghubunginya, dia tidak mengangkat ponselku. Sial! Ada apa dengannya!
Mencoba mengirimnya pesan dengan sedikit ancaman. Aku tahu bagaimana sikapmu Sakura. Kau akan mengangkat ponselku.
"Ha-halo."
Aku mendengar suara gugup darinya.
"Pulang sekarang juga!" Perintahku. Aku bahkan tidak peduli dengan tatapan kak Izuna dan kak Itachi.
"Aku tidak akan pulang! Aku akan pulang saat lulus!" Ucapnya dengan nada tegas.
"Aku akan datang dan menyeretmu pulang." Ancamku.
"Coba saja kau datang. Aku akan menghubungi ayah terlebih dahulu. Aku tidak takut padamu, Sasuke." Dia mengancamku balik? Dari mana dia belajar hal ini.
"Sakura!" Geramku.
"Ini keputusanku. Tolong menghargainya." Ucapnya. Kali ini nada suara yang lebih rendah, dia berusaha memohon padaku.
"Kau sudah tahu. Aku tidak senang akan tindakanmu. Kenapa kau meninggalkan rumah?"
"Aku hanya ingin bersekolah, bukan kabur dari rumah."
"Sekolah ada banyak disini. Tidak perlu mencari sekolah asrama."
"Aku akan memblokirmu jika menggangguku."
Tuk!
Dia mematikan ponselnya begitu saja.
"Siapa yang mengajarinya bersikap kasar padaku?" Ucapku. Aku tidak percaya ini. Gadis yang sudah aku ajari dengan baik, sekarang menjadi sangat kasar.
"Hahaha, aku rasa itu adalah karma untukmu Sasuke." Ucap kak Izuna.
"Ini bukan karma." Menatap kesal ke arah kak Izuna.
"Kakak, dimana Sakura bersekolah?" Tanyaku. Aku yakin kakak mengetahuinya.
"Kau akan berurusan dengan ayah jika menyeretnya pulang." Ucap kak Itachi.
"Sakura tidak akan betah disana! Aku yakin! Hanya dalam beberapa minggu saja dia akan pulang!" Ucapku.
Akan ku buktikan jika dia tidak akan betah! Dia harus pulang! Jika dia pulang, aku akan mengajarinya menjadi gadis yang lebih baik lagi.
.
.
.
.
.
Dua bulan berlalu.
Ini tidak mungkin. Sakura tidak memberiku kabar sama sekali, sementara kak Izuna dan kak Itachi.
"Dia mendapat teman baik disana. Aku senang Sakura baik-baik saja, dia rajin membalas pesanku." Ucap kak Izuna.
"Dia mengirim foto menu makanannya beberapa kali padaku, katanya dia suka menu makanan di sana. Ibu juga membuat kamarnya jadi lebih nyaman. Apa dia mengirim foto kamarnya padamu?." Ucap kak Itachi.
"Tidak. Mana-mana? Aku ingin melihatnya juga. Wah. Kamarnya jadi indah. Ini pasti saran ibu. Pantas saja dia sangat betah."
Aku benci menatap wajah bodoh mereka.
Menatap ponselku. Bahkan pesanku yang menanyakan kabarnya tidak di balas juga. Apa dia tidak peduli padaku lagi?
"Bagaimana denganmu, Sasuke?" Tanya kak Izuna dengan tatapan menyebalkannya itu.
"Dia menghubungiku tiap malam." Bohongku.
"Bohong." Ucap kak Itachi.
"Aku tidak bohong!" Protesku.
"Baca pesan ini." Ucapnya dan memperlihatkan pesan singkat dari Sakura.
Aku memblokir nomer Sasuke.
Dia memblokir nomerku?
Mencoba menghubunginya. Itu benar. Aku tidak bisa menghubunginya lagi. Suara tawa keras dari kak Izuna dan rasanya aku ingin memukul wajahnya.
Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus menemuinya, bagaimana dia bisa bersikap seperti ini padaku? Dia tidak lagi patuh padaku, apa dia lupa hubungan kita?
.
.
.
.
.
[ SMA Q ]
Aku bersusah payah hingga menemukan sekolah ini, aku sampai meneror wali kelas SMPnya dulu, dia pasti mengetahui segalanya. Dia mengatakan jika Sakura lulus di SMA Q, ini sangat jauh, aku harus berkendara hingga 3 jam untuk tiba disini. Kali ini aku benar-benar akan membuatnya kembali tunduk padaku dan pulang bersamaku. Sekolah ini buruk. Sekolahku masih jauh lebih baik.
Menemui seorang petugas keamanan di asrama ini.
"Aku ingin menemui gadis bernama Uchiha Sakura. Apa dia ada?" Tanyaku.
"Anak-anak sudah pulang di jam segini, dia mungkin sedang berada di kamarnya."
"Apa aku boleh menemuinya?"
"Maaf tuan, ini asrama khusus murid perempuan, seorang pria tidak bisa masuk ke dalam." Ucap petugas itu.
Aku tidak peduli. Mengabaikan ucapannya dan bergegas masuk, aku harus mencari Sakura. Dimana gadis yang mulai membantahku itu.
"Sakuraaa!" Teriakku.
Aku meneriakan namanya berkali-kali. Beberapa pemilik kamar asrama ini keluar, aku akan menemukannya.
"Sakuraa!" Kembali meneriakan namanya.
Aku bahkan tidak peduli dengan ancaman petugas itu. Aku harus membawa Sakura pulang.
Aku bisa melihat para gadis ini keluar dan menatapku. Aku jadi bisa mencarinya, ini akan lebih mudah. Walaupun mereka terus berbisik aku pria yang sudah gila dan teriak-teriak di asrama ini.
Sebuah pintu terbuka. Disana rupanya. Tatapannya sangat terkejut saat melihatku.
"Apa yang sedang kau lakukan disini. Pulang bersamaku!" Ucapku dan menariknya.
"Aku tidak mau pulang! Aku sedang bersekolah! Ada apa denganmu!" Tegasnya. Dia terus menahan diri dari tarikanku.
"Tuan, tolong jangan kasar pada temanku." Ucap seorang gadis yang keluar kamar bersamanya.
"Aku kakaknya. Jangan ganggu urusan kami." Kesalku. Aku benci dengan orang yang ikut campur.
Dia hanya gadis kecil, akan lebih mudah menyeretnya pulang. Aku berhasil menariknya, dia mati-matian menahan diri agar tidak mengikutiku.
.
.
TBC
.
.
updatee...~
