"Jadi Sensei Apakah Anda mau memberitahu kenapa tiba-tiba saja sensei ingin ikut makan malam bersamaku?" Naruto bertanya setelah duduk di kursi ruang makan begitu selesai mandi. Dia tidak repot-repot menyuguhkan apapun pada Hatake Kakashi. Jounin elit itu lagi-lagi tidak mengatakan apapun seperti ketika mereka bertemu di kedai Ichiraku. Naruto yang sedang menyantap ramen tiba-tiba dikejutkan tepukan dari belakang dan wajah ramah Kakashi mengucapkan halo dan bergabung dengannya. Mereka makan tanpa banyak bicara satu sama lain, untungnya Teuchi dan Kakashi sepertinya kawan dekat, sehingga kecanggungan tidak muncul diantara mereka. tanpa mengatakan apapun, Naruto menaruh 500 yen di atas meja lalu pergi meninggalkan tempat. Kakashi ikut beberapa saat kemudian dan mengatakan ingin melihat-lihat rumah Naruto. Bocah pirang bertanya alasanya tapi Kakashi tidak memberi jawaban pasti.

"Kamu tidak punya teh untuk tamu Naruto?" tanya Kakashi dengan nada biasa.

Naruto tidak bergerak kemanapun. Dia menyipitkan kedua mata lalu menggerutu melihat reaksi menyebalkan pria berambut perak di depannya. Dengan sikap ogah-ogahan yang disengaja Naruto merebus air panas.

Tidak sampai lima menit Kakashi mendapatkan apa yang dia inginkan. Naruto juga mengeluarkan sekantung kue beras yang diterima dengan ucapan terima kasih dari Instruktur tim. Sambil menyeruput teh hijau buatan Naruto, dia kembali mengamati sekeliling lalu memuji kebersihan muridnya. Sang murid yang dimaksud tidak mengatakan apa-apa.

Ini akan lebih merepotkan Sandaime, pikir Kakashi teringat ketika tadi siang melaporkan hasil pelatihan pertama tim genin asuhannya. Berbeda dari keseriusan kemarin malam, siang itu Sandaime penuh keceriaan mendengar laporan Kakashi. Tadinya Kakashi pikir, Sandaime akan lebih banyak bertanya soal Naruto. Tapi rupanya hampir semua pertanyaan itu mengenai dua rekan tim Naruto. Seolah-olah Sandaime tidak tertarik atau sudah menduga seperti apa kelakuan murid pirang satu itu, Kakashi lebih yakin yang kedua. Ketika Kakashi hendak mengundurkan diri, Sandaime mencegah.

"Kakashi beritahu Naruto soal statusnya sebagai Jinchūriki," kata Sandaime begitu saja, seolah itu bukan pertanyaan penting dan sekedar basa-basi kecil.

Kakashi menatap atasannya sebentar, tapi tidak menemukan maksud tersembunyi dari veteran perang. "Anda yakin."

"Ya. Cepat atau lambat dia tahu, dan lebih baik jika Naruto mengetahuinya lebih cepat. Anak itu sepandai ayahnya bukan? Merahasiakannya terlalu lama akan memberi kesan buruk di mata anak itu."

"Baiklah kalau begitu."

"Terima kasih. Sekarang kamu boleh pergi."

Kakashi tahu tidak semudah itu membuka rahasia Jinchūriki kepada anak ini. Jika dia anak sederhana yang menerima segala sesuatu itu akan berjalan mudah, tapi sebagai pribadi yang mengenal Minato sangat dekat. Kakashi tahu ketajaman pola pikir Yondaime. Dan anak didik pirangnya mewarisi sisi ketajaman ayahnya. Kakashi sudah melihatnya saat latihan lonceng tadi pagi.

Dan aku percaya pada anak ini.

Kakashi menjelaskan kedatangannya kemari dan menyembunyikan kejengkelannya ketika Naruto jelas tidak memperhatikannya. Lebih buruk lagi, ketika fakta jika di dalam tubuhnya tersegel cakra Bijuu paling kuat yang dilakukan sendiri oleh ayahnya di malam berdarah itu, Naruto hanya diam memandangi wajah Kakashi tanpa perubahan emosi berarti di kedua mata biru itu. Kakashi marah, tetapi dia menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Naruto bangkit dan berjalan menuju lemari penyimpanan gelas. Mengambil satu lalu kembali ke meja makan. Kakashi tetap tidak menemukan perubahan emosi apapun dan malahan sorot biru itu seperti tidak tertarik dengan informasi yang baru saja dia ucapkan.

"Aku…. Sudah tahu," kata Naruto, lalu jeda cukup lama sebelum melanjutkan nya. "Melihat fotonya, hanya sedikit orang di Konoha yang berambut pirang seperti dia. Tentu saja aku pernah berpikir kalau aku bukan berasal dari Konoha dan mungkin saja ada pirang lain di luar sana. Tapi aku selalu punya firasat kuat jika Yondaime adalah ayahku… lalu wajahku ini, pasti dari ibu?"

"Ya, wajahmu menurun dari ibumu," bayangan Kushina mendadak muncul. Wajah penuh warna dan emosi yang selalu memberi dorongan nyaman bagi orang sekitarnya. Yang tidak dimiliki Naruto, tapi anehnya anak itu masih memiliki dorongan magnet kepada orang lain.

"Alasan aku diberi nama Uzumaki…. Apa ini ada kaitannya dengan jejak rekam ayahku selama perang sebelumnya?"

"Ya… Sandaime takut, jika kamu diberi marga Namikaze, orang-orang akan menarik kesimpulan dengan cepat. Minato sensei juga lahir dalam kondisi yatim piatu sehingga dia tidak memiliki saudara selama yang aku tahu."

Naruto diam lalu berkata, "Kenapa dia menyegel Kyuubi ke dalam anaknya sendiri."

"Aku tidak tahu. Segel dalam tubuhmu itu bermaksud membuatmu bisa mengakses cakra Kyuubi sehingga kelak kamu bisa menggunakannya. Aku yakin guru adalah laki-laki yang mengambil keputusan tanpa alasan yang jelas. Mungkin dia tahu sesuatu dan mempercayakan itu padamu."

Mata sebelah hitam Kakashi melihat muridnya. Hingga detik ini respon yang diberikan Naruto masih terlalu dingin dan itu membuat hatinya ragu. Masih banyak misteri Naruto yang tidak dia tahu dan Kakashi ingin mencari tahu. Meski bukan sebuah permintaan, Kakashi memiliki tanggung jawab untuk menjaga Naruto. Kakashi mengambil cangkir teh dan tanpa sebab itu meledak begitu saja. Diam-diam Kakashi mengutuk. Rupanya entah bagaimana cangkir itu pecah dan menumpahkan semua isinya sehingga rompi Jounin miliknya basah. Apakah aku terlalu kuat menggenggamnya. Tapi Kakashi yakin dia tidak melakukan apa-apa. Matanya menatap cangkir yang pecah itu, memeriksanya dengan saksama sebelum akhirnya memutuskan melihat wajah Naruto.

"Kamu…. Rumor tentang kamu itu benar, bukan?" itu sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.

"Tergantung pada rumor yang sensei dengar, orang-orang di Konoha selalu menganggapku monster," Naruto dengan santai meraih teko dan mengisi gelasnya tidak sampai penuh. Dia meminumnya seteguk. "Mungkin kamu hanya mendengar omongan orang-orang yang ingin menjelekkan ku."

"Kamu dianggap pembawa nasib sial bagi orang-orang di sekitarmu."

Naruto menyeringai dengan cepat, nyaris Kakashi ragu dengan penglihatannya. "Mereka percaya aku monster dan monster selalu identik dengan hal buruk. Ya aku bisa membawa nasib buruk untuk orang-orang."

Apa Naruto bermaksud menatangnya atau bermain-main, "Aku tidak percaya."

"Kalau begitu jangan dengarkan orang-orang itu."

Kakashi punya batas kesabaran dan berurusan dengan Naruto benar-benar mengujinya. Jounin itu ingin mengajari muridnya arti sebuah disiplin, tapi kata-kata Naruto berikutnya membuatnya tertegun.

"Aku pernah bilang jika aku ingin hidup santai bukan? Itu tidak sepenuhnya bohong. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang repot-repot dan mencolok seperti ayahku atau kamu. Sehingga desa tidak akan menganggapku istimewa… ya tapi tampaknya itu tidak berarti lagi karena status Jinchūriki ini yang kuanggap sangat penting bagi desa.

"Setiap negara besar memiliki Jinchūrikinya masing-masing. Keberadaan Jinchūriki dianggap sebagai penyeimbang dunia."

"Kekuatan besar? Maksudmu senjata sensei?"

Naruto bangkit dan mengambil jaket dan memakainya. Ikat kepalanya dibiarkan di atas kulkas. "Aku ingin menunjukkan sesuatu Sensei. Kalau bisa aku ingin kamu melihatnya."

Mereka berdua meninggalkan rumah tanpa ada satupun yang mengeluarkan kata-kata. Keduanya berjalan menuju distrik perbelanjaan. Awalnya Kakashi pikir Naruto akan membawanya ke toko buku kemarin. Tapi anak laki-laki itu cuma melewatinya, tanpa menoleh. Pandangannya lurus ke depan dan ketika Kakashi melihat beberapa penduduk masih menatapnya sebagai monster, Naruto benar-benar cuek. Akhir jalan itu sebuah taman dan pohon tua yang sudah ada sejak Konoha berdiri, menurut cerita setempat pohon itu pernah menjadi saksi bisu Hashirama senju melamar Uzumaki Mito. Tak heran jika banyak pasangan remaja berduaan, bahkan tanpa malu berciuman di tengah hari seperti ini. Lagi-lagi semua keramaian itu dilewati begitu saja. Naruto dengan wajah tenang tetap lurus memandang kedepan.

Belok ke kiri dari taman, berjalan melewati tiga blok lalu mengambil belokan ke kanan dan menuruni tangga menuju area yang lebih gelap dengan banyak rumah berdempetan sehingga sinar matahari sulit menembus. Kakashi kenal tempat ini dan rasa cemas memenuhi hatinya.

"Kemana kamu membawa ku?"

"Anda harusnya bisa mengenali daerah ini hanya dari sekitarnya bukan? Kita hampir sampai." Mantan Anbu mengamati sekeliling mewaspadai segala kemungkinan yang terjadi. Tempat itu bukan area yang aman. Itu adalah deretan pemukiman kumuh, dimana banyak jendela dan pintu tidak ramah lalu orang-orang yang terlalu kecil dan jika kemungkinan ada yang kematian yang bersembunyi dibaliknya. Ini adalah tempat dimana transaksi ilegal bisa dilakukan dengan bebas di Konoha.

Sejak kepolisian Uchiha lenyap akibat insiden genosida klan Uchiha, tempat-tempat seperti ini muncul dan seringnya sulit untuk dihancurkan. Biasanya kekuatan politik cenderung bermain-main, entah sebagai pemilik bisnis atau memiliki kebutuhan yang hanya bisa dilakukan di tempat ini. Sebagai Anbu, Kakashi kerap datang kemari. Bahkan di tempat ini kadang mayat-mayat tidak dinginkan dibuang, dan dilenyapkan. Anbu memanfaatkan tempat ini untuk keperluan bisnis juga.

Naruto terus menggerakkan kedua kakinya masuk. Kakashi merasakan ingin menarik senjatanya atau membawa Naruto keluar dari sini. Naruto masuk ke dalam gang dan diikuti Kakashi melihat tiga laki-laki asyik berjudi, salah satu melihat kedatangan Naruto dan matanya langsung tajam begitu menemukan Kakashi dalam pakaian Jounin. Tapi sebelum salah satu mengambil apapun yang Kakashi tebak sebagai senjata. Pria botak gendut seperti babi sudah lebih dulu berhenti bergerak. Kedua melongo namun beberapa saat kemudian memaksa reaksi kaget dan bingung ketika seolah mereka juga tidak bisa bergerak. Kakashi melihat ketiganya seperti terikat tali kasat mata lalu perlahan wajah mereka menjadi pucat dan kesakitan. Bahkan di detik kematian ketiga orang itu, tidak ada suara. Hanya wajah kesakitan dan air kencing di celana.

Kakashi teringat wajah anak-anak yang terkurung dalam koral waktu itu.

Laki-laki pertama yang tercekik, kepalanya berputar dalam keadaan yang sulit dibayangkan sehingga menyembunyikan suara patah tulang dan begitu kepalanya terpelintir, tubuh itu jatuh seperti boneka putus dari talinya. Celananya basah karena air kencing dan darah keluar dari mulutnya.

Orang kedua mati dalam keadaan serupa, tapi masih lebih baik hanya sesuatu seperti mencekik lehernya sebelum tubuhnya jatuh ke tanah. Kakashi sempat mengaktifkan Sharingan untuk mencari tahu. Jika ini semacam jutsu, meski tidak seakurat Byakugan, Sharingan masih bisa melihat jejak cakra. Tapi tidak ada apa-apa disana. Hanya bayangan visi Sharingan dua orang yang masih hidup dan kini tinggal satu.

Naruto yang diam dan seorang tercekik di udara tanpa penjelasan yang masuk akal. Laki-laki itu melayang, bergerak mendekat ke Naruto. "Apa ini tempat bisnis Mucikari Hakone?"

Laki-laki itu mengangguk tapi belum se detik sesudah pengkhianatan itu dia menyusul dua rekannya dengan cara yang tidak jauh lebih baik. Kakashi bisa mendengar lehernya patah, bahkan lebih nyaring dari pria yang mati pertama.

"Naruto, apa yang kamu lakukan?" itu adalah pertanyaan paling bodoh yang diucapkan Kakashi sepanjang hidupnya.

"Aku membunuh mereka sensei." Dia menjawabnya seperti mengejek.

Naruto membuka pintu dan menemukan sebuah bar di dalamnya, orang-orang berjumlah sedikit, tapi Kakashi bisa tahu mereka preman-preman keras kakap. Sekali lagi Naruto melakukan hal yang sama. Semua orang disana tiba-tiba membeku. Lalu salah satunya melayang mendekat ke arah muridnya yang berdiri angkuh. Pria itu warga Konoha rata-rata, tidak ada yang menarik kecuali dia memakai gelang emas dan tato harimau di lehernya.

Orang itu mencoba melepaskan diri, tapi Kakashi tahu, apapun jutsu atau bukan. Orang itu juga akan mati.

"Kamu ingat aku?" tanya Naruto datar, seperti bertanya berapa harga ikan yang dijual.

"A-apa?"

"Anak yang makan ramen tempo lalu ketika tanpa malu kamu menggoda gadis pemilik warung ramen itu."

Laki-laki itu mencoba meneriakkan sesuatu, tapi segera tangannya di tarik ke sudut tidak masuk akal seolah ditarik tangan tak kasat mata lalu dia menjerit. "Ini pelajaran untuk orang-orang yang mengganggu. Kamu pikir hanya memegang beberapa utang paman Teuchi kamu bisa dengan mudah mengambil anak gadisnya begitu saja? Apa yang ingin coba kamu lakukan? Menjadi pelacur untuk kelab mu?"

Dia berteriak tapi malah menjerit ketika lengan yang lain ditarik dengan keras bahkan kali ini terputus dengan keji.

"Aku tak peduli alasan mu berbisnis dengan menjual perempuan-perempuan miskin. Menculik mereka dari tangan orang tua bodoh yang tidak bisa membayar utang. Sayangnya kamu salah memilih korban dan nasib sial datang menjemput mu."

Kali ini kakinya ditarik dan juga bernasib sama dengan lengan yang putus.

"Lain kali cari korban lebih pintar oke?"

Kali ini kepala itu dicabut begitu saja dan menjadikan tubuh terkoyak-koyak jatuh begitu saja.

Kakashi masih tertinggal dengan pertanyaan bagaimana kejadian ini terjadi. Bagaimana Naruto melakukan semua ini? Tidak ada manusia yang bisa melakukan ini, setidaknya, tanpa semacam kekkai genkai. Tapi Kakashi tahu Minato Namikaze tidak memiliki kekkai Genkai dan Uzumaki…. Setahu Kakashi klan itu memfokuskan pada Fuinjutsu, bukan penyiksaan bar-bar seperti ini. Tapi semua ini di luar kewajaran manusia. Dan seorang anak sembilan tahu melakukan ini seakan itu merupakan hal yang biasa saja.

Kini Kakashi tidak bisa melihat Naruto dengan mata yang sama. Anak itu… dia ancaman. Kakashi tahu jawaban ini dan tidak suka melihat arahnya. Tapi jelas jika Naruto menggunakan kekuatan itu dan menyerang dia balik…. Membalas dendam pada Konoha… Kakashi menekan goncangan saat memikirkan manusia-manusia ini mati dalam keadaan mengenaskan.

"Apakah kamu akan meninggalkannya berakhir seperti ini?" Kakashi akhirnya bertanya, mencoba mengalihkan perhatian dari yang sudah jelas, dan tetap menjaga suaranya. Dia anbu, dia sudah melihat ratusan kematian. Dia berusaha tetap kuat, tidak menujukan keraguan atau kelemahan.

"Tidak apa-apa, tidak ada yang peduli di tempat ini. Mungkin besok akan ada geng lain yang menempatinya. Memanggil ninja lain hanya akan membuat Hokage kerepotan, bagaimanapun ini adalah wilayah pejabat Daimyo mengeruk uang. Selain itu ada banyak orang-orang imigran yang ilegal." Naruto berkomentar, membunuh yang lain dengan cara berbeda-beda tapi tetap brutal. Dia berjalan ke sebuah pintu dan Kakashi mengikutinya. Di baliknya sebuah lorong dengan cahaya lentera yang buruk. Jika ingatannya benar, lorong itu menembus tepat dibawah jalanan. Mungkin menuju rumah satunya. Kakashi ingin bertanya, apakah Naruto masih punya urusan lain disini. Tapi dia malah bertanya pertanyaan lain.

"Apakah kamu akan melakukan ini pada Konoha?" tanya Kakashi.

"Jika aku jawab iya, apa kamu akan langsung membunuh ku sensei?" jawab Naruto. "Aku melakukan ini karena mereka mengganggu orang-orang yang kuanggap penting, Paman Teuchi dan Ayame yang mau memberi ku makan daripada orang lain. Aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama pada orang yang berani menyakiti Shiba dan Yukino… setidaknya mereka mulai kuanggap teman.

"Dan kamu sensei…. Aku masih belum yakin, apalagi ketika tanganmu sudah siap untuk melawanku."

Kakashi diam, tapi masih tetap fokus.

"Yondaime mungkin salah besar memberikan Kyuubi padaku. Nyatanya aku bisa jadi ancaman untuk Konoha. Tapi untuk saat ini, aku tidak peduli desa, aku harus mengurus urusan ini sampai selesai."

Mereka berdua berjalan menuju kegelapan lebih jauh, sebuah ruangan berisi tong-tong yang Kakashi cium mengeluarkan bau arak. Masih ada lorong lain, Naruto terus berjalan.

"Orang-orang tadi punya kelompok yang lebih tinggi dan sebaiknya aku mengurus mereka saat ini sebelum mereka membalas dendam karena aku sudah membunuh teman-temannya," Naruto tertawa kecil, menyeringai gembira seolah ini adalah hal yang paling menarik untuk dilakukan. Rasanya seperti sedang mempertimbangkan semua yang telah dia lakukan untuk menyenangkan. Kakashi tahu malam ini dia tidak akan bisa tidur.