Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

Mengandung unsur dewasa.

Lemon/lime bukan hal utama dalam fic ini, so jangan harap ada lemon/lime yang berlebihan,

Tidak di anjurkan untuk pembaca di bawah umur.

Jadilah pembaca yang bijak.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

~ Give me your blood ~

[ Chapter 7 : Egois ]

.

.

.

[Warning 18+]

.

Aku sudah memintanya untuk libur sehari saja. Dia melakukannya untukku. Aku memilih malam hari saja untuk keluar.

"Waktuku yang berharga." Ucapnya, sedih.

"Apa waktu untukku tidak berharga?" Ucapku. Ini pertanyaan yang sedikit memalukan. Aku jadi tidak punya muka untuk menatapnya lagi.

"Kau juga sangat penting untukku, Sasuke!" Tegasnya.

Sakura selalu punya cara tersendiri untuk menanggapinya.

"Eh-hem. Sekarang Kau harus menemaniku." Ucapku.

"Kita akan kemana?" Tanyanya.

"Kemana saja." Ucapku, asal.

"Aku akan memukulmu jika melakukan hal yang tidak ada gunanya." Ancamnya.

"Aku tidak berani melakukannya." Ucapku. Cukup sekali saat dia memukulku dulu.

Kita akan berjalan-jalan di sebuah toko pakaian. Sakura menatap malas ke arahku. Aku harap ucapannya tidak terjadi. Dia benar-benar akan memukulku.

"Cobalah beberapa pakaian." Pintaku.

"Aku sudah katakan padamu. Uangnya di pakai untukmu saja." Ucapnya.

"Hanya satu atau dua potong pakaian. Cobalah." Ucapku.

Tatapannya terlihat kesal. Aku harus berusaha keras membujuknya.

Pakaian apapun akan cocok untuknya, tapi tidak dengan tatapan ngambeknya itu, alisnya terus-terusan berkerut. Dia jadi terpaksa mendengarkan ucapanku.

"Bagaimana jika ini sebagai permintaanku." Bujukku, lagi.

"Benarkah? Baiklah. Ini demi dirimu, Sasuke." Ucapnya dengan semangat.

Seharusnya aku mengatakannya lebih awal. Wajahnya lebih enak di lihat saat dia sangat ceria. Aku membeli dua set pakaian, Sakura juga memaksaku untuk membeli beberapa jaket tebal.

"Musim dingin masih beberapa bulan lagi." Ucapku.

"Kau harus menyiapkannya. Pakailah pakaian yang hangat, saat itu, kau akan lulus 'kan?" Ucapnya. Sebuah senyum hangat darinya. Dia jadi terkesan seperti ibu bagiku.

"Uhm."

Sakura menyeretku ke beberapa tempat. Akhirnya dia melakukannya. Aku harap dia senang dengan jalan-jalan hari ini. Terakhir dia memintaku makan makanan yang enak, meskipun mahal dia akan membelikannya untukku.

Tepat jam 10 malam. Kami menyelesaikan jalan-jalan kami. Sakura memaksaku pulang lebih awal.

"Sasuke! Oi Sasuke!" Teriak seseorang.

Menoleh ke arah suara itu.

"Oh kau ada di luar juga, sedang apa?" Tanya Kiba.

Aku menemukan Kiba dan Naruto di luar.

"Aku sedang-"

Menatap ke samping. Sakura tidak bersamaku lagi. Kemana dia? Apa dia sengaja menjauh dariku? Kantongan belanja yang aku pegang juga sudah menghilang dari tanganku.

"Ada apa Sasuke?" Tanya Naruto. Dia pun sibuk menatap ke arah yang aku tatap.

"Tidak." Ucapku.

"Untuk apa kau sendirian jalan-jalan seperti ini? Bagaimana jika aku traktir makan?" Ucap Naruto.

"Aku baru saja makan. Aku sedang berjalan untuk pulang." Ucapku.

"Sayang sekali. Baiklah." Ucap Naruto.

"Lalu kalian sedang apa?" Tanyaku.

Keduanya saling bertatapan, mereka pasti melakukan hal yang tidak berguna lagi.

"Ada game terbaru yang sedang keluar, kami sampai mengantri panjang." Ucap Kiba.

Ah, dasar mereka.

Kami berpisah di jalan. Aku ingin tahu Sakura kemana? Apa dia sudah kembali ke rumah sendirian? Seharusnya aku lebih hati-hati bersamanya di luar, dia pasti tidak suka bertemu dengan teman-temanku dan mendapat banyak pertanyaan.

Setibanya di rumah.

"Selamat datang."

Aku sedikit khawatir jika dia belum kembali.

"Aku minta maaf." Ucapku.

"Eh? Kenapa meminta maaf? Mereka teman-temanmu. Kau harus menyapa mereka." Ucapnya dan tersenyum.

Sejujurnya ada kalanya aku tidak suka dia berwajah ceria di waktu yang tidak tepat.

"Bagaimana dengan belanjaannya?" Tanyaku.

"Aku sudah menyimpannya dengan rapi."

"Sekarang, apa yang akan kita lakukan? Aku tidak bisa tidur di jam segini, sementara kau, kau harus tidur, kau akan bersekolah besok." Ucapnya.

"Aku membelikan sesuatu untukmu." Ucapku.

Mengambil sesuatu dari dalam kantong yang aku bawa. Duduk di dekatnya. Menaruh sebotol minuman itu.

"Sake? Untuk apa sake ini?" Tanyanya.

"Kau tahu?" Aku pikir dia tidak tahu ini apa.

"Aku bekerja di bar. Jadi aku tahu apapun."

"Kau tidak pernah mengatakannya padaku."

Aku sungguh tidak tahu jika dia bekerja di bar.

"Kau tidak bertanya apapun padaku."

"Lalu apa di bar kau menemani para pria minum?"

"Tidak. Itu bukan tugasku."

Sejenak ini membuat sedikit marah. Aku tidak suka dia bekerja di tempat seperti itu.

"Apa kau bisa berhenti dari sana?"

"Kenapa?"

"Itu tempat yang tidak baik."

"Tenanglah. Aku bekerja di sana sudah cukup lama."

"Para pelanggan itu pasti memaksamu atau meminta yang aneh-aneh padamu."

Sakura terlihat berpikir. Kenapa kau harus bekerja di sana? Masih banyak pekerjaan yang bisa kau lakukan.

"Aku hanya mengantarkan minuman, setelah itu keluar dari ruangan mereka. Aku tidak pernah menetap di dalam ruangan itu, ada pegawai khusus yang menemani mereka."

"Tetap saja, mereka tidak mungkin tidak berhenti menatapmu."

"Di bar tempatku bekerja sangat ketat, tidak ada yang boleh berbuat macam-macam, jika melanggar, sekaya apapun mereka, mereka akan di seret keluar." Jelasnya.

Aku tidak bisa tenang.

"Aku khawatir." Ucapku, pelan.

"Apa?" Sakura tidak mendengarnya.

Terdiam.

Aku tahu, dia kuat, dia juga sudah sangat tua, dia bisa mengatasi apapun, tapi aku tidak bisa menghilangkan rasa khawatir ini.

Meminum sake yang aku bawa.

"Hey! Kau masih di bawah umur! Jangan minum sake!" marahnya, Sakura merampas botol sake itu. Aku hanya meminum beberapa teguk.

"Memangnya apa gunanya kau minum sake! Aku benar-benar marah padamu." Tambahnya.

"Aku pikir, kau harus sedikit menikmati hidupmu. Para orang dewasa biasanya minum sake untuk sedikit melepas penat mereka setelah lelah bekerja." Ucapku.

Aku tidak tahu apa itu benar atau tidak, tapi setiap kedai yang aku kunjungi, para orang dewasa selalu memesan sake setelah mereka bekerja keras.

"Kau pikir aku ini hidup sudah berapa lama? Aku tidak perlu hal semacam itu." Ucapnya.

"Apa jika aku minum sake, darah milikku akan berpengaruh juga?" Tanyaku.

"Ya, itu akan berpengaruh." Ucapnya. Dia masih marah padaku.

Kepalaku mulai terasa pusing. Aku rasa sakenya cukup membuat tenggerokanku tak nyaman.

"Apa seperti ini rasanya sake?" Tanyaku.

"Kau ini sangat bodoh. Aku akan memukul jika berani membeli minuman seperti ini. Aku memberimu uang untuk membeli hal yang kau butuhkan." Kesalnya.

"Aku hanya ingin sedikit memanjakanmu." Ucapku.

Aku tidak bisa menghentikan tubuhku untuk bergerak. Menarik Sakura dan memeluknya erat.

"Kau melakukan banyak hal untukku. Apa yang perlu aku balas?"

"Tidak ada." Ucapnya.

"Pasti ada."

"Tidak ada. Aku sudah katakan padamu. Kau juga sudah berjanji. Apa kau lupa?"

"Apa kau hanya ingin aku sukses saja?"

"Ya itu jauh lebih baik. Tidak perlu melakukan hal besar untukku. Mungkin jika kau telah sukses, aku bisa tenang pergi dari sisimu. Carilah wanita manusia yang bisa kau ajak hidup bersama."

Melepaskan pelukan kami. Aku tidak tahu tujuan Sakura untuk membuatku sukses agar aku bisa membuat keluarga baru.

"Kenapa aku harus mencari wanita lain?"

Aku sedikit marah mendengar ucapannya.

"Sudah jelas bukan? Karena saat ini kau sebatang kara, setelah kau punya pendidikan yang tinggi, mendapat pekerjaan yang hebat, kau harus memulai kehidupan baru bersama seorang wanita. Dengan begitu kau tidak akan kesepian lagi."

"Untuk apa aku mencari wanita lain jika kau ada bersamaku!" Marahku.

"Ha? Ada apa denganmu? Apa yang bisa aku berikan padamu? Aku bukan manusia."

"Aku tidak butuh orang lain di sisiku! Aku tidak butuh!"

"Kau membutuhkannya!"

"Jadi tujuanmu selama ini hanya untuk meninggalkanku?"

"Bu-bukan seperti itu. Mengertilah Sasuke. Aku ini hanya memanfaatkanmu secara tidak langsung."

"Jika seperti itu. Manfaatkan saja aku terus! Aku tidak akan menolaknya."

"Sasuke!"

Untuk pertama kalinya Sakura membentakku.

Uhk!

Kepalaku semakin sakit. Aku tidak bisa menahan gejolak aneh di dadaku. Aku sangat marah padanya, aku tidak ingin dia meninggalkanku setelah apa yang di lakukannya padaku selama ini.

Menariknya ke arahku, menciumnya, bahkan membiarkan gigi taringnya mengenai lidahku dan bibirku. Sakura berusaha melepaskanku, tapi aku tidak ingin melepaskannya.

Malam ini.

Aku sudah tidak sadar dengan apa yang aku lakukan, tapi di sisi lain, Sakura tidak menolakku, dia tidak menghalangiku, dia membiarkan apa yang ingin aku lakukan padanya.

Gejolak di dada ini semakin aneh, rasanya sedikit panas, memeluk erat Sakura, tubuhnya terasa sangat dingin, sangat berbeda dengan suhu tubuhku sekarang. Aku bisa mendengar setiap suara desahan manisnya di telingaku.

Jika kau ingin meninggalkanku, kenapa kau mau saja melakukannya?

Kegiatan ini terhenti, aku merasakan sesuatu yang keluar dariku, rasa sakit di kepalaku semakin menjadi-jadi, terakhir samar-samar aku melihat Sakura menciumku. Dia membalas ciumanku, sebuah ucapan di bisikkannya.

"Jangan jatuh cinta padaku."

.

.

TBC

.

.


update...~

lupa kasih tahu di chapter kemarin kalau chapter ini ada anu-anunya. tapi kan author udah kasih warning sejak awal 'kan =_= jadi bukan salah author. XD

untuk jawaban kalian para reader, di tampung dulu yaa. author jawab di chapter yang membahas itu semua. kapan? author belum tahu pasti chapter berapa. =_= tenang-tenang, author usahkan update tiap hari lah biar ndak nunggu lama. kalau di kasih tahu sekarang malah jadi spoiler. nanti nggak seru lagi. nanti pada ketahuan.

oh hari ini mau membalas review kalian, tapi tidak membalas yang soal pertanyaan kemarin yah. hehe. author balas review dari chapter 1 sampe yang kemarin

Nica-Kun : akhirnya author ada fic TBC baru lagi. semoga tetap terhibur dah dengan word dikit, dan terima kasih atas supportnya. masih tetap setia banget baca karya sasukefans. :)

Lacus Clyne 123 : author buat fic yng ini dulu ya, yang satunya lagi next time. sedang buntu T_T

Guest : terima kasih mo tetap nunggu karya sasukefans XD

Guest : iya, nanti nanti rajin-rajin update dah.

noyanishi28 : terima kasih. :)

Guest : semoga tetap betah dengan word yang sedikit

Guest : terima kasih.

Guest : terima kasih jika fic author bagi kamu bagus semua *senang pake banget*

Guest : update lagi.

Guest : oneshoot nanti lagi yaa. author fokus kelarin ini dulu. kalau mau adegan yang sedih-sedih, di sini nanti ada kok *ups malah spoiler*

sitilafifah989 : halo lagi _ masih tetap baca karya saya ternyata. terima kasih. pertanyaan kamu sudah di jawab di chapter sebelumnya yaa.

Rani-chan No Hime : halo. selamat datang di fic sasukefans. akhir-akhir kamu cukup rajin muncul di notif saya, terima kasih banyak sudah luangkan waktu untuk membaca fic karya saya dan meninggalkan review, saya pengen balas, tapi balasan lewan review di batasi, bahkan authornya sendiri *terharu* ternyata jaman sekarang pun masih ada pembaca baru yang berdatangan. semua rasa penasaranmu nanti author balas di setiap chapter biar ndak jadi spoiler. heheh. sekali lagi terima kasih banyak.

Spanenx : jawabannya nanti di jawab di chapter yang entah keberapa nanti. hehehe.

.

sudah semuanya? ada beberapa akun yang tertulis guest jadi author sedikit bingung apa ini orang yang sama atau beda. author tidak mempermasalahkan yang buat akun atau tidak, itu terserah kalian. hanya bingung saja berharap tidak double balasnya. XD

.

SEE YOU NEXT CHAP!