BRIGHT'S POV

Beberapa hari belakangan ini aku jadi sering berkunjung kerumah sakit, setiap Nevy menelpon atau mengirimi ku pesan satu hal yang terlintas itu pasti karena Prim. Gadis cantik itu membutuhkanku, Nevy bilang sudah lama Prim tidak ada rencana sama sekali untuk belajar menyembuhkan dirinya agar tidak perlu lagi dirawat dirumah sakit atau bahkan jika hal yang paling buruk terjadi adalah ia harus tinggal dirumah sakit jiwa kalau terus menyakiti dirinya.

Itu karena aku, Nevy bilang adik kecilnya itu berniat memulihkan dirinya karena aku memberinya semangat seperti dulu. Hingga aku pun percaya bahwa ya, aku pasti bisa membuatnya pulih kembali setidaknya walau ia tidak dapat sembuh ia dapat tinggal kembali dirumahnya tidak diranjang rumah sakit dingin itu. Percayalah dulu dia itu gadis yang sangat cerewet dan sangat suka protes akan hal apapun yang bertentangan dengan sesuatu yang tidak dia sukai.

Tapi lihatlah betapa diam nya dia sewaktu aku berkunjung pertama kalinya, ia hanya memelukku erat dan memanggilku "Pangeran Bright!" memang dia putri cantikku. Aku kira mungkin beberapa hari ia akan kembali berbicara normal padaku dan mulai melupakan hal-hal yang menyakitinya, namun ternyata tidak semudah itu karena terkadang ia mulai terdiam merenung tanpa mau diganggu dan tiba-tiba saja ia berteriak sembari menarik-narik rambutnya. Lagi dan lagi nama itu selalu ia sebut, "Nanon".

11:34 PM.

Entah siang ini aku merasa sangat lemas dan ya kepala ku sedikit pening saat mencoba mendudukkan diriku diujung kasur, omong-omong aku baru saja kembali dari rumah sakit dan itu seketika meremukan tulang punggungku karena semalaman tertidur dalam keadaan duduk membungkuk.

Kejadian pagi tadi kembali teringat, pertama kali aku melihat ekpresi yang tidak ingin aku lihat pada wajah milik Win. Ia dan Day sedang sarapan seperti biasa tanpa berkata apapun saat aku kembali dari rumah sakit, wajah itu adalah yang selalu ada disana sejak malam itu. Ini semua salah ku. Beberapa hari belakangan aku selalu kembali saat matahari menampakan dirinya dilangit, berkali-kali pula Win selalu mengingatkanku untuk istirahat dan tidak terlalu sering bermalam dirumah sakit.

Apa yang aku lakukan? Tentu saja aku hanya diam, aku tau aku salah tapi Prim butuh diriku disana dan kabar baiknya lagi Prim sudah bisa dirawat dirumah, Nevy mengirimiku pesan sekitar jam 10 pagi tadi ia bilang ia sangat berterima kasih padaku, aku senang pastinya tapi tentang Win aku masih belum tau bagaimana harus menghadapinya.

Mrs.Chivaree Is Calling

"Kelas aku selesai sore, Bri. Aku gak bisa jemput Day"

"Win, aku minta maaf"

"Dosen aku dateng, aku kelas dulu"

"Mix satu kelas kan sama kamu? Dia dirumah"

"Aku gak bohong"

"Aku gak bilang kamu bohong, sayang"

"Sekarang kamu dimana? Jangan ngehindar, kita omongin baik-baik"

"Selama ini kamu kemana?"

"Setelah 'tuan putri' kamu sembuh, baru kamu dateng ke aku?"

"Bilang sama aku sekarang kamu dimana.. Lacak lokasi kamu gampang buat aku"

"Iya, semuanya gampang emang kalo buat kamu Bright!"

"Kalo kamu aja gak mau dengerin aku buat apa aku mau dengerin kamu?"

"Mau lacak lokasi aku sekarang? Terserah kamu!"

"Win? Hah.. Please, jangan buat semuanya makin rumit"

"Aku minta maaf, kamu dimana sekarang?"

"Aku gak mau liat kamu"

"Buat sekarang aku butuh waktu"

"Sampai kapan?? Jangan lari dari aku"

"Kita selesain sekarang, hm?"

"Maaf, Bright"

(Mrs.Chivaree Is End The Call)

BRIGHT'S POV END

Ia kesal, frustasi, ingin Win berada disini. Bright tau bahwa dirinya egois, memang dan karena itu dia tau Win menerima dirinya dengan segala kekurangannya tetapi, bukan berarti Win harus tetap dibawah kuasa keegoisan dirinya kan? Tapi disaat begini, disaat Win tidak lagi mau mendengarkannya ia sangat kesal, ia ingin marah pada lelaki manisnya itu.

Langit-langit putih susu dengan ukiran bergaris disetiap ujung menjadi objek dari kedua mata bulatnya, nafas berat tersengalnya dengan kedua tangan memegang kedua pinggangnya. Ia nampak seperti seorang lelaki tua yang tidak terima ditinggal mati oleh kekasihnya, walau kenyataannya tidak begitu tetapi apa yang Bright rasakan kini hampir sama.

Lantas ia mengusap wajahnya kasar, banyak sekali berpikir sampai membuat kepalanya menjadi lebih pening dari sebelumnya. Dirinya kembali mengingat saat-saat dimana ia sangat bodoh dengan mengabaikan segala yang Win katakan padanya, padahal itu juga untuk kebaikannya tapi bukan kah peduli dengan Prim termasuk kebaikan? Bright tidak mengerti.

yang bergaris miring berarti flashback

*Beep*

(Nevy Is Calling)

Ponsel Bright terus berdering kala si empunya sedang berada didalam kamar mandi, mungkin ia lupa membawa ponsel itu bersamanya. Karena Day mendengar itu terus berdering ia memangil Win yang baru saja merapihkan rak buku miliknya, ia kemudian melihat panggilan itu berasal dari Nevy, kakak Prim.

Banyak pertimbangan yang ia pikirkan sebelum menjawab telpon itu, jujur saja ia berat sekali disaat Bright harus meluangkan waktu bermalam terus menerus dirumah sakit, tetapi Win juga merasa ia jahat karena tidak membiarkan Bright membantu. Tapi Win juga punya perasaan, tidak bisakah ia egois untuk sekali ini saja? Ia rindu Bright dirumah, mengapa Bright harus sepeduli itu? Win tidak memiliki keberanian untuk menanyakan nya.

Hingga akhirnya panggilan itu mati dengan sendirinya sebelum ia menyadari itu Bright telah berada disampingnya, bertanya mengapa ia diam disini sembari melamun lalu Win menjawab dengan lemah bahwa tidak ada apa-apa. Kemudian ponsel itu kembali berdering dan lagi-lagi itu Nevy, Bright segera mengangkat itu dan izin padanya keluar rumah hingga pagi berikutnya ia baru akan pulang.

Padahal seharusnya ia memiliki janjinya dengan band CtrlS di studio tetapi Bright tidak datang melainkan menemani Prim dirumah sakit, beberapa kali juga Drake atau teman satu band dengan Bright yang lain menghubungi nomornya, bertanya dimana Bright? Mengapa tidak mengangkat panggilan mereka?. Lalu Win berpikir, apa memang sesibuk itu dirumah sakit sampai-sampai ia tidak bisa dihubungi?.

Monmaap hyung, sedikit nc aja

skip sajah yang tidak mau tambah dosa

Dan kala itu di satu malam Bright baru kembali dari rumah sakit pukul 2 tepat disaat itu tiba-tiba saja Bright memeluk Win erat dari belakang, mungkin itu hanya sedikit mengusik tidur nyenyak lelaki manis itu tapi kemudian Bright mulai meraba perut ramping miliknya hingga kedua tangannya naik keatas memutar lalu mencubit kedua putingnya.

Win terbangun berusaha menjauhkan dirinya dari Bright, "Ahh.. Bright! Ck, Bright kamu abis minum?! Bright!" dan Win berhasil menjauh, ia kemudian melihat Bright yang sedikit sempoyongan ketika hendak berdiri menghampirinya. Win benar-benar merasa takut melihat Bright begini, "Win.. Come to daddy, bunny!".

Kenapa Bright begini? Kenapa dia tiba-tiba mabuk?, "NO! Bright.. Kamu kenapa hah! Kamu jarang luangin waktu bahkan kamu sering absen waktu latihan sampai-sampai mereka hubungin aku dan cuma nanyain tentang kamu! Segitu gak punya waktu kah kamu buat jawab telpon mereka??!", Bright mendengarkan semua itu dengan kedua mata bulatnya yang sayu lantas ia tertawa setelahnya.

"Prim gak izinin aku buat sekedar liat pesan, bahkan kalau aku nekat terima telpon dari mereka Prim bakal ngamuk-ngamuk dan kamu tau? Dia gak segan-segan potong nadinya sendiri kalau aku lakuin itu, aku gak bisa liat dia sakit Win"

Diredupnya malam itu Bright tidak melihat Win mengaliri pipinya dengan air mata, entah Win menangis karena apa tetapi dia jelas iri dan cemburu. Kalau seandainya Bright diberi pilihan antara ia atau Prim, Win tidak yakin kalau Bright akan bertahan untuknya. Dikala itu Bright masih bukan menjadi dirinya yang sesungguhnya, ia mabuk membuat dirinya tidak menyadari apapun.

Dengan cepat ia mengambil kedua tangan Win membuat Win mendekat padanya, "Bright! Lepass! Lepas! Aku mmph_" Bright melumat bibirnya tergesa, melahap kedua belah bibir tebalnya bergantian, menyelipkan kedua tangannya dibalik piyama yang Win pakai. Bright menghisap kulit dada Win yang mulus dan putih itu, meninggalkan jejak ungu kemerahan disana dan beberapa dileher, tulang selangka bahkan dikedua dadanya.

"Shh.. Ahh.. B_bright! Hiks, mmhh" lenguhan Win mengeras dikala Bright dengan sangat menikmatinya menyusu dikedua puting milik Win bergantian. Tetapi aneh, mengapa Win justru menangis? Bright kemudian menghapus air mata itu dari kedua pipi pucat Win yang merona memerah.

"Hey.. Kita belum mulai, bunny. Kenapa nangis, hm? Daddy main nya gak bisa sebentar, sayang.. Sabar yaa?" Bright mengalungkan kedua tangan Win pada bahunya, mengangkat tubuh besar Win dengan kedua tangannya, memojokkan kekasih manisnya itu pada dinding yang dingin. Namun si manis menunduk dengan wajah memerah dan sisa dari isakannya tadi masih sedikit terdengar.

Bright membelai wajah yang ia lihat sangat sexy sekarang, melihat Win yang menangis lalu nafasnya yang tersendat dan wajah memerah membuat libido nya naik. Rambutnya ia sisir kebelakang karena menutupi matanya melihat wajah sexy milik kekasihnya itu, kini wajahnya seperti seekor serigala buas yang lapar melihat buruan berupa kelinci lezat didepan matanya terlihat pasrah untuk ia santap.

'Cup' hidung mancung Win dikecupnya. Dia sangat memuja betapa manis lelaki yang menjadi kekasihnya ini, di minim nya cahaya malam itu Win sangat cantik ditimpa cahaya rembulan yang mengintip melalui jendela kamar malu-malu. Lalu ia raih tengkuk Win dan menciumnya sangat panas.

"Akh! Br_mphh.. Ahh" ia menggigit bibir bawah milik Win karena kelinci nya itu kali ini sedikit sulit diajak bercinta bahkan berciuman! Dan karenanya sudut bibir itu mengeluarkan sedikit darah, ia merasa bersalah untuk Win. Tetapi bahkan, itu membuat jiwa buas nya marah, lantas ia mencium Win brutal hingga menjambak rambut belakang Win agar ia terus memberi akses padanya untuk mengeksplorasi rongga mulutnya itu lebih.

"Hiks! Bright.. S sakit!! Ah, lepas!" Bright mengabulkan ia melepaskan tarikan tangannya pada rambut Win, ia langsung dihadiahi tatapan marah nan tajam seorang Win dengan lelehan air mata dipipinya dan 'Plak!' Win menamparnya namun apa yang ia lakukan adalah tertawa karena itu bukan apa-apa.

Tubuh Win kemudian ia bawa kearah kasur luas mereka dan membanting nya disana, Win terlihat gusar dan takut dengan senyuman bodoh yang Bright lakukan ia berusaha menjauh kan dirinya dari Bright ia berusaha melarikan diri dari kamar itu kala Bright perlahan mencopot satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan. Tetapi saat ia hampir berhasil mencapai kenop pintu Bright menarik pinggangnya kembali menjatuhkan dirinya diatas kasur dan mengunci kamar mereka.

Win muak ia melempari Bright dengan apapun yang ada didekatnya, ia melempari lelaki bodoh yang sialnya adalah kekasihnya dengan bantal dan guling, semua itu melayang kearah Bright, tentu itu bukan hal yang sulit untuk Bright karena, ayolah itu hanya bantal mengapa Win tidak melemparkan dirinya saja untuk ia puaskan? Bright menjilati bibirnya sensual melihat perut putih mulus milik Win sedikit terangkat.

Kini Bright sudah bertelanjang dada, resleting celana jeans panjangnya pun telah ia tarik kebawah karena ia pikir itu sedikit pengap. Kemudian ia merangkak diatas kasur menarik kaki panjang Win yang tidak mau diam dan terus memberontak hingga Win dalam posisi terbaring. Kedua tangan lelaki manis tersebut memukul bahu dan dada Bright agar serigala bodoh itu mau melepaskannya.

"Hiks! Lepasin! AKU GAK MAU, BRIGHT! Ah,. Jangan Brighhtt! Hiks!" Win mencoba menahan sebisa mungkin agar celana panjangnya tidak Bright tarik tapi, mustahil Bright itu kuat dan dia lemah sekarang. Raib, ia tidak mengenakan bawahan apapun sekarang dan Bright nampak tidak peduli, ia justru membuka lebar-lebar kaki nya dan mencium serta menghisap kuat paha dalamnya membuat Win melenguh keras.

"Yes, bunny.. Moan my name!"

"Ah! Brighttt.. Stop.."

Siapa sangka kalau Bright melepaskan nya? Nafasnya memburu kala Bright berhenti menciumi dan menjilati area selangkangannya, kini lelaki yang memiliki tato dipunggung sebelah kirinya itu menghampiri lemari pakaian mereka. Win tidak harus bertanya Bright sedang apa, yang harus ia lakukan adalah keluar dari kamar ini. Si bodoh itu bukan Bright.

Tetapi kemudian ia baru ingat kalau pintu kamarnya dikunci dan kunci itu entah Bright taruh dimana. Kala Bright mencari sesuatu dilemari pakaian ia berpikir kemana seharusnya ia pergi, lalu ia melihat pintu kamar mandi terbuka dan bagaimana untuk mengurung dirinya dikamar mandi, mengunci pintu itu kemudian bersembunyi disudut sembari berjongkok. Win takut dengan Bright yang ia lihat tadi, dia bukan Bright.

"Win! Kamu kenapa sembunyi dari aku, hm? Kamu gak percaya sama aku?? Win! Buka pintunya, sayang" Win gemetar mendengar suara Bright memanggil namanya dari luar, nafasnya memburu ia menggigit bibir bawahnya cemas. "Kamu buka pintu atau aku dobrak, bunny?" dan tidak lama dari itu benar saja pintunya rusak karena Bright mendorongnya paksa dari luar.

Bright tersenyum menemukan kelinci nakal nya yang berlari dan bersembunyi disudut kamar mandi ketakutan, ia ikut berjongkok melihat wajah Win yang ketakutan membuatnya kesal lantas ia menarik dagu milik Win membuat tatapan keduanya bertemu. "Cantik" memangnya apa lagi? Wajah memerah dengan mata sayu dan kedua bibir membengkak.

'Chu!' kali ini Bright mencium pipi tirus Win.

"Mau langsung ke inti? Okay, come on bunny!" Bright pikir karena tidak ada respon berarti itu adalah iya. Ia membopong tubuh tinggi Win seperti sekarung beras, kedua kaki panjang nya meronta-ronta dan Bright pun memberi sedikit tamparan dikedua pipi pantat Win agar ia diam.

"Gak! Bright..! Akh.. Turunin aku! Turunin!"

Bright tuli, ingat? Ia membanting tubuh Win kembali, memenjarakan kedua lengannya didalam satu kepalan tangan besarnya. "Kenapa kamu takut sama aku, bunny? Aku monster? Aku alien? Aku ini Bright, hm.. Pacar kamu! Tangisan dan ketakutan kamu itu karena apa? Aku? Kenapa?? Gak boleh aku lakuin ini ke kamu?!" Win tidak bereaksi namun dia menangis sembari mengabaikan wajah tampan Bright dan terus memberontak.

"Gak mau jawab? It's okay!"

Win melihat itu, Bright mengeluarkan tali berwarna merah panjang dari dalam kantung celana jeans nya. Jadi, Bright mau mengikat tangannya?, "Gak! Bright.. hiks, kamu sadar gak hah?! Kamu gak lebih dari nyakitin aku! Brighttt!! Argghh!" ia berusaha sekuat mungkin agar Bright tidak mengikat tangannya. "Bright.. Aku mohonn, hiks! Jangan gini, Bri". Semudah itu Bright luluh dengan nada lembutnya, rencana mengikat kedua tangan Win ia urungkan.

Dan tidak seharusnya Win senang karena, tali merah itu justru Bright kaitkan dilehernya. Yang benar saja?! Apa Bright kehilangan akalnya?. "Bright, i_Akh!" tali itu Bright tarik menyebabkan nafas Win tercekat. Bright tersenyum miring memposisikan dirinya terbaring dibawah sedang, Win menduduki dirinya diatas karena ia mau Win mengendarai nya.

"Ayo Win, kamu harus berusaha sendiri sampai aku puas?"

"Bright! Kamu bercanda hah?! Kamu gila atau otak kamu rusak??"

"Ya ya dan ya, jangan ulur waktu terlalu lama sayang karena penis aku udah gak sabar buat lecehin lubang hangat kamu, bunny!"

"Gak akan! Aku_ Akk! Ah hmpp sakit!" Bright menarik tali itu kebelakang dan lagi-lagi Win tercekat, lantas ia memukul dada bidang Bright agar merenggangkan talinya.

"Jadi?" Bright memberi kode agar Win segera melakukannya.

Ingatkan Win untuk akan membenci Bright setelah ini, ia kemudian meraba celana yang sudah tidak tertutup itu, jelas sekali milik Bright sudah sangat tegang karena sedari tadi pun benda itu menusuk-nusuk pantatnya yang masih terbungkus celana dalam. Win menarik celana itu agak kebawah lalu kembali menarik celana dalam hitam milik Bright dan benda panjang nan besar itu terbebas dari sana lalu menegak sangat keras.

Bright masih memperhatikan itu dari posisi berbaringnya, melihat Win meneguk liurnya kala miliknya yang sudah tegang itu terpampang didepannya dengan ekpresi lucu, well ini bukan pertama kali mereka melakukannya. Lubricant yang berada diatas nakas disamping kasur Bright lempar pada Win, seharusnya Win tau apa guna nya dari barang itu.

Ternyata kelincinya itu paham, Win melumuri penis menegak miliknya lalu jemari lentik nya bermain dengan memijat kepala penis itu membuat Bright pening dan dengan Win yang berlama-lama bermain dengan tangannya ia menjadi tidak sabar untuk masuk kedalam lubang hangat yang sempit milik Win. "Shh.. Buka celana kamu Win".

Win membuka celana dalamnya seperti yang Bright katakan, menarik celana itu hingga sebatas paha dan kembali memposisikan dirinya diatas penis Bright. Bahkan saat Win baru saja mau membenarkan posisinya penis itu sudah berada tepat didepan pintu lubang analnya. "Mmh.. Ahh" Bright ikut memegang kedua pinggul Win, membantu memasukan penisnya kedalam.

"Baru setengah, sayang. Kenapa, hm? gak sanggup?"

Win ingin sekali melepaskan dirinya dari Bright, penis besar sialan miliknya ini seakan merobek lubangnya padahal itu baru setengahnya. Ia berusaha semakin mendudukan dirinya hingga penis besar itu berhasil ia lahap sepenuhnya, ia menahan nafasnya saat penis itu menusuknya sangat dalam disana.

"Ahh… Mmh.. Hah"

"Ayolah, bunny. Itu gak akan puas kalau gerakan kamu selambat ini?"

Bright akhirnya membanting Win kembali, memposisikan dirinya diatas kelinci manis itu tanpa melepaskan tautan mereka lalu tali itu ia lepas tetapi kembali ia ikat pada kedua lengan Win yang sengaja ia kalungkan itu dilehernya, dengan begitu Win tidak akan kemana-mana selagi mereka bercinta.

Keringat membasahi tubuh telanjang bagian atas Bright hingga keringat itu menetes melalu pelipisnya, ia mengejar orgasmenya yang ia tahan sedari ia pulang kerumah tetapi karena Win mempersulitnya itu menjadi bertahan didalam celananya begitu lama. Segalanya terasa kabur bagi Bright, kini yang ia tau hanya menggenjot Win dan melecehkan lubangnya hingga kelincinya itu menangis lalu menyusu pada kedua dada Win yang membengkak sebab ia menggigit kencang disana dengan Win yang hanya bisa berteriak tanpa berbuat apapun, itu jelas karena kedua tangannya terikat.

"Akhh..! Bright, mmph.. Pelan! Akh.. Ohh! Sakit Bright, ja_ngan gigit akhh..!"

Mendengar teriakan dan lenguhan kesakitan Win menjadi seperti lullaby ditelinga nya.

Pada pagi hari nya Bright menyadari kamarnya yang berantakan dan tidak ada seorang pun dirumah, hari itu weekend mungkin saja Win membawa serta Day bersama kerumah keluarga Win.

Yang ia ingat pagi hari itu adalah kilas kejadian semalam yang buram namun, semakin ia melihat keadaan kamarnya terlebih pintu kamar mandinya yang rusak ia menjadi ingat semuanya dengan sangat jelas. Bagaimana tali merah itu bisa berada disana, lemari pakaian nya yang berantakan, kemeja dan celana nya yang berserak disana dan satu lagi noda merah diatas sprei nya.

Sejak hari itu Win tidak kembali kerumah nya, atau saat Win dirumah tetapi ia sedang bermalam dirumah sakit. Saat dirinya tidak disana Win datang seperti biasa, mengurus rumah, memasak dan merawat Day untuk sekolah karena memang ia memiliki seragam sekolah disini.

Beratus kali Bright menghubungi Win maka beratus kali pula Win menolak panggilan tersebut, begitu juga dengan pesan-pesan yang Bright kirimkan agar Win mau memaafkan dirinya hanya ada tanda baca tanpa balasan apapun. Lalu karena ia merindukan Win dan sangat merasa bersalah ia datang kerumah keluarga Win berharap Win dapat memaafkannya kembali tetapi, saat ia bertemu dengan kakak tertua Win disana yaitu Ming, ia justru diminta untuk memberi Win waktu untuk sendiri.

Bright tau Win tidak akan pernah membiarkan namanya jelek dimata keluarganya, jadi pada saat ia ditanyai oleh kak Ming jawabannya hanya karena sebuah kesalahpahaman, Bright tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarganya kalau tau ia telah memperkosa Win? Walau pun hari itu ia memang benar-benar mabuk.

Titik itu tepat berada disini, disebuah apartment yang tidak asing dikedua mata bulatnya, lelaki itu benci kalau harus kembali mencari permasalahan dengan Win nya lagi. Tetapi mengetahui dimana Win sekarang berada membuat nya marah, kenapa harus disini? Dia rindu dengan kekasih manis nya itu tapi, nampaknya semua ini tidak akan berjalan semulus bayangannya.

"Aarghh!! Sayang.. Kenapa harus disini? Kenapa diapartment Luke?!"

Bright menggelengkan kepalanya berusaha untuk yakin bahwa tidak mungkin Win melakukan itu, kan? Ia memijat keningnya berpikir untuk kesekian kalinya haruskah ia kedalam? Tapi, Bright takut kalau yang ia lihat justru yang tidak ingin ia lihat seumur hidupnya.

'Bam!' Suara pintu mobil yang ia banting dari luar menjadi tanda bahwa ia harus menyelesaikan ini, ia tidak bisa kehilangan Win hanya karena kebodohan nya.

Nomor 212, itu nomor apartment Luke ia masih mengingatnya karena ia cukup sering bermalam disana saat ia bosan dirumah. Ia tidak tau kalau Luke masih sering tinggal disana bahkan setelah dari kepergian nya ke luar negeri.

Bright meneguk ludah ia masih berpikir dan berpikir untuk mengetuk pintu itu atau tidak, ia setia berdiri disana kembali mengecheck apakah benar ini nomor Win yang ia lacak keberadaannya? Mungkin saja ia salah, tetapi tidak semuanya benar.

Namun sebelum sempat ia mengetuk pintu seseorang membuka pintunya dari dalam, itu Frank adik Luke. "Frank? Luke_", Frank menaruh telunjuknya didepan bibir memberi kode untuk jangan berisik kemudian pintu itu kembali Frank tutup.

"Cari mas Luke? Dia didalem tapi sama kak Win mantan nya itu dan keliatannya kak Win lagi gak enak badan, eh mas Bright tau kak Win?"

Win sakit? Ini bukan waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan Frank, ia segera melewati bocah itu kemudian membuka pintu yang tidak terkunci saat ia masuk kedalam ia dapat mencium bau masakan.

Semakin masuk kedalam ia menemukan Luke yang membelakangi dan sedang memasak sesuatu, ia pun menghampiri laki-laki yang merupakan sepupunya itu dan sebisa mungkin ia bersikap dingin kali ini jangan sampai ada perkelahian. Walaupun ia sangat ingin.

"Kenapa Win bisa ada disini?" Luke sedikit terkejut kala ia sedang mencicipi bubur nasi buatannya, seseorang yang mengaku kekasih dari mantan kekasihnya yang telah menyakiti mantan kekasih nya itu seperti ini. Sebelum berbalik kearah dimana Bright berdiri, ia mematikan kompor agar bubur untuk Win tidak gosong.

Lalu mengambil satu gelas air putih yang kemudian ia sodorkan ke arah Bright namun Bright menggeser gelas itu menolak. Luke memberikan senyum yang sangat menjengkelkan bagi Bright, ia terus mengepalkan tangannya dimeja kala ia harus melihat sikap palsu Luke didepannya.

Walau didalam benaknya ia sangat ingin menonjok Luke tetapi, yang ia lakukan disini adalah ikut tersenyum miring lalu menyisir rambutnya kebelakang dengan jemari. Kedua lelaki tampan itu sama-sama sedang bermain-main dengan amarah mereka, kemudian Luke menjadi yang pertama membuka mulutnya.

"Seharusnya lo tau kenapa Win disini.."

"Disini lebih nyaman daripada dirumah lo dan jadi pembantu!"

'Bogh!' Luke justru tertawa kecil saat pipi kirinya menjadi sasaran kemarahan Bright. Luke pikir kenapa harus marah? Bukan kah benar apa yang ia katakan?.

Sedangkan disisi lain Bright mengambil nafas nya dalam-dalam, Luke tidak tau apapun tentang kehidupannya tentang Win, tentang Day. Tidak seharusnya Luke berbicara lancang tentang kehidupannya, Win bahagia bersamanya!

"Win sekarang sakit dan itu karena siapa? karena lo! Prim.. Kenapa gak lo temuin Prim dan perkosa dia sebagai ganti nya, hah?!"

Sial! Bright sudah bisa menahan amarahnya lagi, Luke sudah keterlaluan.

'Bogh!' satu kepalan kuat Bright kembali menghantam pipi kirinya lagi, kalau Bright bisa kenapa dia tidak? Lalu pada akhirnya mereka meninju wajah satu sama lain.

Kini Bright berada diatas tubuh Luke mencengkeram kerah kemeja sepupunya itu setelah meninju nya berkali-kali, wajah keduanya sama-sama berantakan sekarang.

"Prim gak ada hubungannya sama semua ini!" Bright masih menegaskan bahwa semua ini tidak seharusnya berimbas pada Prim, ia hanya gadis lemah dan polos.

Luke tertawa keras, kenapa Bright menjadi sebodoh ini? Seingatnya dulu Bright selalu juara kelas tetapi saat menghadapi masalah semacam ini ia tidak mengerti dimana letak kesalahannya.

"Lo tau, Khao? Iya dia temen kampus nya Win. Dia telpon gue daripada lo yang gak berguna, dia nanya kenapa Win akhir-akhir ini absen?"

"..." Bright mengeraskan rahang nya.

"Awalnya gue kerumah lo sore itu tapi kosong gak ada siapapun disana, gue telpon lo tapi bodohnya ditolak! Dan gue akhirnya mutusin buat kerumah Win, doi ada disana tapi mukanya gak baik-baik aja, bro"

Luke menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian melanjutkan kata-katanyanyang belum selesai.

"Hm.. Singkat cerita gue kebetulan liat Win tadi di cafe yang sering gue sama dia datengin ups! haha sorry itu cuma masa lalu, bro! Dia disana hampir pingsan dan bersyukur gue ada disana ternyata waktu gue tanya dia bilang akhir-akhir ini dia pusing, mual-mual.. Dia ngandung anak lo"

"Luke, gue serius"

"Santai, Bri. Oke gue bercanda, Win kena maag karena dia gak mau makan apapun selain roti selai waktu sarapan itupun karena paksaan dari kak Mesa. Dan lo tau apa? waktu dia istirahat dikamar gue dia terus-terusan ngelindur nama lo dia terus-terusan teriak buat lo berenti, dia ngedesah, man!"

Bright kemudian membawa dirinya dari atas tubuh Luke, segala bayangan tentang betapa menyedihkannya Win kala itu bermunculan dibenaknya. Ia ingin melihat Win meminta maaf padanya dengan sungguh-sungguh namun, keadaannya kacau wajah berantakan. Ia tidak bisa menemui Win sekarang.

Luke benar bahwasa nya ia tidak berguna, ia tidak mau Win pergi namun ia malah menyakiti Win dengan tangannya sendiri. Menjadikannya pembantu dirumah? Babysitter untuk Day? dan pemuas nafsu untuk dirinya?.

"Dia dikamar kalo lo mau bawa dia pulang" ujar Luke merendahkan kalimatnya, ia sadar ia sudah sedikit keterlaluan.

Tapi Bright menggeleng, "Gue gak bisa bawa dia pulang dalam keadaan berantakan" Luke menghela nafas lalu sekali ia meminta maaf namun tidak Bright sadar itu kesalahannya. Ia pun berjalan keluar dari apartemen itu lemah, sebelum ia mencapai gagang pintunya seseorang memanggil dari belakang.

"Bright" suara manis yang sangat familiar ditelinganya, ia tidak menoleh atau pun berlari kearah sipemanggil untuk kemudia ia peluk. Bright justru membuka pintu itu dan keluar dari sana.

"Bright! Tunggu.. Bright?"

Win, kelinci menggemaskannya berada didepan wajahnya kini. Lelaki manis itu pati melihat wajah berantakannya, tidak boleh sebisa mungkin Bright harus menyebunyikan luka-luka ini. Cukup membuat Win terluka ia tidak mau membuat Win khawatir dengannya.

"Bright..?" jemari hangat itu merayapi pipinya lembut, tatapan penuh ke khawatiran Win layangkan padanya. Win sangat berhati-hati saat memegang wajahnya, itu pasti sakit pikir Win.

"Aku bisa pulang sendiri, kalau kamu butuh waktu lebih banyak buat maafin aku, aku gak masalah, Win_"

Win memeluknya, pelukan yang lama tidak ia dapatkan dari lelaki manis ini. Pelukan yang sama hangatnya sejak hari pertama mereka meresmikan hubungan, Win nya tetap sehangat dulu Win nya masih yang dulu.

Bright balas memeluk pinggang ramping itu tidak kalah erat, mengistirahatkan segala bebannya dipundak Win. Tidak peduli harus berapa kali ia meminta maaf karena ia tau itu tidak akan cukup bagi Win yang ia lukai perasaan dan tubuhnya.

"Hiks! Bawa aku pulang.. Bright"

Bright tersenyum senang, mengapa Win yang harus menangis? Mengapa Win secepat itu memaafkan nya? Seharusnya Win lebih lama lagi menghukumnya atas kesalahan yang ia perbuat.

"Sure.. Mrs.Chivaree! Sure!"