Disclaimer:Naruto dan High School DxD bukan punya saya, saya hanya meminjam/menggunakan karakter dari dua seri tersebut. keduanya milik pengarang masing-masing. Naruto milikMasashi Kishimotodan High School DxD milikIchiei Ishibumi.

"Bicara" Human

'Batin' Human

Jutsu/Sihir/Efek

"Bicara"Monster

'Batin'Monster

"Bicara' Another

Chapter 15:Surat dari Azazel

Jam 06:14 AM.

Di sebuah pulau didekat negara Amerika, terlihat seorang gadis berambut perak berusia sekitar 18 tahunan. Gadis itu terlihat menatap seorang pria dengan warna rambut putih, namun memiliki mata unik berbentuk seperti kelopak bunga yang terlihat bercahaya. Gadis itu terlihat waspada terhadap pria misterius tersebut dengan wajah yang sangat serius.

Sekitaran jam 5 tadi, pria misterius itu datang menemuinya saat dirinya sedang melakukan latihan pagi yang biasa dia lakukan, pria itu muncul secara tiba-tiba dihadapannya tanpa dia bisa bereaksi terhadap kemunculannya.

Pada saat itu, pria itu berbicara mengenai seseorang yang dia cari selama ini, berbekal ciri-ciri yang ditinggalkan oleh kakeknya. Saat dirinya bertanya mengenai siapa pria misterius tersebut dan dari mana pria itu tahu bahwa dia sedang mencari seseorang, pria itu justru membawanya ke pulau dimana saat ini dirinya dan pria misterius itu berada.

"Siapa kau sebenarnya? kenapa kau membawaku ketempat ini?" mendengar pertanyaan dengan nada waspada dari gadis dihadapannya, pria misterius tersebut menunjukkan senyuman kecil diwajahnya.

"Namaku Otsutsuki Toneri, bisa dibilang aku ini masa lalu dunia ini, dan kenapa aku membawamu ke pulau ini, itu karena kau adalah salah satu orang yang memiliki hubungan dengan seseorang dari masa lalu dunia ini, Shilya Lucifer." Shilya menatap pria misterius bernama Toneri tersebut dengan wajah tidak percaya.

"Mana ada orang dari masa lalu bisa berada dan hidup dimasa kini!" ucap Shilya tidak percaya dengan ucapan Toneri yang terdengar mustahil menurutnya, karena pria bernama Toneri tersebut memiliki aura manusia sehingga dia tidak dapat mempercayai ucapan Toneri tersebut, termasuk dirinya yang dikatakan memiliki hubungan dengan seseorang dari masa lalu dunia ini.

Toneri tersenyum mendengar ucapan tidak percaya gadis dihadapannya itu, dia bisa memaklumi itu karena memang gadis itu meski seorang iblis dia belum pernah sekali pun mengetahui sejarah kuno dunia, jangankan gadis itu, mahluk yang hidup setelah era Shinobi berakhir saja sudah banyak yang lupa dengan era Shinobi pada masa itu.

"Aku memaklumi ketidak percayaanmu terhadap ucapanku, tapi apa yang ingin aku sampaikan padamu harus kau pikirkan baik-baik setelah itu, karena ini berhubungan dengan nasib dunia ini." Shilya terdiam mendengar perkataan Toneri yang membawa nasib dunia dalam ucapannya itu.

'Apa sebenarnya yang orang ini rencanakan?' Shilya menatap Toneri dengan wajah serius, namun kewaspadaannya terhadap Toneri sama sekali tidak menurun.

"Apa yang ingin kau sampaikan padaku?" Toneri tersenyum mendengar pertanyaan gadis dihadapannya itu lalu dia berkata.

"Dengarkan baik-baik apa yang ingin aku sampaikan padamu, Shilya Lucifer."

'Semoga saja bukan sesuatu yang buruk.'

" Sesuatu yang mahluk bumi tidak ketahui semakin mendekat setiap harinya, mampukah para pahlawan dari masa lalu itu menyelamatkan bumi untuk kesekian kalinya?'

Jam 07:26 AM. Rumah Naruto.

Setelah diterjang badai yang disebut amarah Ophis oleh Naruto, Naruto hanya bisa pasrah dengan kejadian dipagi hari ini karena kejadian itu sudah beberapa hari ini terjadi sejak Ophis mulai tinggal dirumah kecilnya tersebut.

Bagi Naruto, situasi dirumahnya sudah tidak bisa disebut damai lagi saat pagi tiba, karena setiap kali Ophis melihat Sara untuk pertama kalinya setelah bangun tidur, Ophis selalu saja menunjukkan emosi yang tersembunyi didalam hatinya itu, yaitu rasa tidak sukanya kepada Sara yang masih terus membara seakan tidak bisa dipadamkan dan hal berikutnya yang terjadi membuat Naruto hanya dapat memijat kepalanya yang pening saat menyaksikan rumah kecilnya menjadi reruntuhan dalam hitungan detik saat menerima alarm pagi dari Ophis tersebut.

Saat ini Naruto sedang duduk disofa ruang tamunya sambil menatap Ophis yang hanya diam setelah dia menceramahinya, rumah nya telah diperbaiki oleh Sara beberapa menit yang lalu sehingga dia bisa duduk diruang tamu rumah kecilnya tersebut dengan kedua naga betina itu.

Naruto hanya menghela nafas pasrah saat tidak menerima respon apapun dari Ophis setelah dia memberi Ophis nasihat, Naruto menoleh kearah Sara yang duduk dikursi yang bersebrangan dengan sofa tempat dia dan Ophis duduk saat ini lalu berkata.

"Sara, kau baik-baik saja?" Sara terlihat tersenyum menanggapi pertanyaan Naruto, namun dia tidak mengatakan apapun.

"Hah~ aku tidak bisa menampung kalian lagi kalau kalian selalu begitu setiap paginya, disaat orang lain bersiap untuk mandi dan sarapan, justru disini malah terjadi keributan seperti ini setiap pagi," ucap Naruto sambil menghela nafas lelah.

Sara terlihat menundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan Naruto barusan dan Naruto yang melihat nya hanya menghela nafas dengan rasa bersalah yang muncul dihatinya.

"Sara," Sara mengangkat kepalanya dan menatap Naruto dengan ekspresi sedih diwajahnya.

"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih seperti itu, Sara." ucap Naruto pelan dengan rasa bersalah yang hinggap dihatinya.

"Tidak, kau benar Naruto, mungkin sebaiknya aku kembali ke celah dimensi saja agar aku tidak merepotkanmu lagi, maafkan aku, Naruto." Sara menghilang setelah mengatakan itu dengan ekspresi sedih diwajahnya dan itu membuat Naruto merasakan sakit didadanya.

'Sara, Maafkan aku...' batin Naruto sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak.

Ophis melihat Naruto dengan wajah datar lalu dia menundukkan kepalanya dan menyentuh dadanya dimana hatinya berada.

'Sakit, kenapa?, perasaan apa ini?, aku tidak mengerti.' batin Ophis yang tidak mengerti dengan perasaan sakit yang dia rasakan didadanya saat dia melihat Naruto yang terlihat sedih sambil menyentuh dadanya.

Ophis menatap Naruto lagi saat Naruto berdiri dan berjalan kearah kamarnya.

"Naruto." untuk pertama kalinya Ophis memanggil Naruto dengan namanya tanpa ada nama klannya.

Naruto berhenti saat mendengar suara kecil Ophis yang memanggil namanya secara langsung tanpa mengikutkan nama klan ibunya itu.

"Ada apa, Ophis?" tanya Naruto dengan nada suara yang terdengar sedih.

Ophis diam tidak melanjutkan perkataannya saat Naruto merespon panggilan nya.

"Kalau tidak ada yang diperlukan, aku ingin bermeditasi di kamarku." ucap Naruto yang kembali melanjutkan langkah kakinya untuk masuk kedalam kamarnya yang beberapa minggu ini tidak pernah dia tempati untuk tidur, karena adanya Sara yang menempati kamarnya itu.

Ophis menatap punggung Naruto dengan wajah datar hingga Naruto memasuki kamarnya, kemudian dia melihat kearah tangannya yang baru saja dia gunakan untuk menyentuh dada kirinya dengan wajah datar tanpa ekspresi miliknya.

"Aku kenapa?" setelah mengatakan itu Ophis menghilang dari ruang tamu rumah Naruto dengan perasaan asing yang tidak dia mengerti.

Skip

Jam 10:46 AM.

Naruto terlihat berjalan keluar dari rumahnya dengan memakai pakaian lamanya, yang merupakan versi pakaian dari mode Rikudou miliknya, dia terlihat menatap langit cerah sambil mengingat kenangan singkatnya dengan Sara yang sudah menemaninya beberapa minggu ini, Naruto menghela nafas pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.

Naruto benar-benar tidak mengerti kenapa dia mengatakan itu tadi, dan sekarang dia kembali sendirian seperti ketika dia di Kyoto sebelumnya.

'Perasaan ini, menyebalkan.' batin Naruto dengan tangan kanan yang menyentuh dada kirinya.

Naruto menggelengkan kepalanya untuk mengusir perasaan aneh yang dia rasakan itu, lalu dia melanjutkan perjalanannya entah mau kemana.

" Bangunlah para pahlawan, dunia membutuhkan kehadirankalian.'

Jam 11:09 AM. Surga.

Di sebuah bangunan paling megah disurga, terlihat beberapa malaikat sedang mengadakan rapat setelah sang malaikat tertinggi surga menerima sebuah surat dari Grigori, melalui perantara salah satu gereja yang ada di kota Tokyo.

Isi dari surat itu adalah tentang pembentukan aliansi antara ketiga fraksi, karena itulah saat ini sedang diadakan rapat dibangunan megah surga tempat dimana para petinggi malaikat itu biasanya melakukan rapat penting, bangunan itu juga tempat dimana para petinggi malaikat itu mengawasi manusia yang masih percaya dengan Tuhan, sistem surga juga berada di ruangan rahasia didalam bangunan tersebut.

Michael sebagai pemimpin para malaikat menggantikan Tuhan setelah kematiannya, saat ini terlihat sedang menatap para petinggi malaikat yang hadir dirapat kali ini.

Michael melihat kearah malaikat tercantik surga yang duduk bersebrangan dengan tempat dia duduk saat ini lalu berkata.

"Gabriel, untuk memulai rapat kali ini, bisakah kau menceritakan kepada yang lain mengenai mimpimu tentang perang yang akan terjadi dimasa depan itu?" Gabriel mengangguk mengiyakan atas permintaan kakaknya itu.

"Um... tentang mimpi itu... aku melihat dimasa depan seseorang yang bercahaya dan beberapa orang dengan kekuatan asing bertarung dengan sekelompok orang-orang berpakaian unik yang belum pernah terlihat sebelumnya, pada mimpi itu aku melihat pasukan malaikat, malaikat jatuh dan iblis berkerja sama untuk melawan beberapa monster yang sangat besar dan kuat yang membuat bumi dan langit berguncang, dimimpi itu juga aku melihat beberapa dewa dari mitologi dunia seperti Norse, Greek, Shinto dan beberapa yang lain termasuk dua dewa naga terlibat dalam perang tersebut," Gabriel berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

Para petinggi malaikat yang lain selain Michael yang mendengar cerita mengenai mimpi Gabriel itu terlihat berpikir dengan wajah yang sangat serius.

"Dalam mimpi itu, aku juga melihat banyak sekali korban manusia yang tidak bersalah mati karena bencana yang melanda bumi, yang sebenarnya diakibatkan oleh perang besar tersebut yang lebih mengerikan dari pada Great War dulu. Lalu setelah aku melihat seseorang yang bercahaya tersebut menghampiriku dan seperti mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku ketahui, dan mencium kening ku mimpi itu berakhir karena aku terbangun dari tidur ku." Gabriel menyelesaikan cerita mengenai mimpi nya itu kepada para petinggi malaikat yang hadir dirapat kali ini.

"Seperti yang kalian dengar, dimasa depan perang besar yang lebih mengerikan dari Great War mungkin saja terjadi, tapi kita tidak tahu itu akan terjadi atau tidak, karena itu hanya mimpi yang mungkin saja berupa petunjuk untuk mencegah hal tersebut terjadi atau pun hanya mimpi belaka." ucap Michael setelah Gabriel selesai bercerita mengenai mimpi yang dia alami.

Michael menatap satu persatu wajah para petinggi malaikat yang hadir dirapat kali ini, dia melihat semua yang hadir menunjukkan wajah yang sangat serius setelah mereka mendengar cerita dari mimpi Gabriel tersebut, sampai salah satu dari mereka mulai bersuara.

"Jadi kita akan membentuk aliansi dengan fraksi lain begitu, Michael?"

"Sepertinya memang itu pilihan terbaik untuk saat ini, Raphael." Raphael terdiam dengan wajah serius saat mendengar perkataan Michael tersebut.

"Surat undangan ini dikirim oleh Azazel langsung ke gereja di kota Tokyo, Azazel sepertinya sudah mengetahui mengenai masalah ini jadi dia bergerak lebih dulu untuk mencegah kejadian yang lebih buruk lagi." ucap Michael sambil menunjukkan surat yang dikirim Azazel kepada fraksi malaikat.

"Ini benar-benar memusingkan, mimpi seorang malaikat tidak bisa hanya dianggap mimpi belaka, karena kemungkinan besarnya itu adalah sebuah petunjuk untuk kita di masa depan." Raphael menatap malaikat yang baru saja berbicara itu dengan wajah serius.

"Kau memang benar mengenai itu, Uriel." ucap Raphael dengan wajah seriusnya.

"Jadi bagaimana, apa kita akan menghadiri undangan Azazel, Michael?" Michael menatap kearah malaikat yang baru saja berbicara tersebut.

"Tentu kita akan menghadiri pertemuan itu, Metatron, Tapi kita hanya bisa membawa dua orang petinggi dan sisanya pasukan malaikat untuk mengamankan kelangsungan pertemuan itu." ucap Michael sambil melihat isi surat itu, dia juga membaca ulang pesan rahasia yang Azazel tulis di surat tersebut.

'Seseorang yang menarik akan hadir di pertemuan itu, Michael.' itu adalah pesan dengan tulisan kecil yang Azazel sisipkan di surat tersebut.

Michael lalu menatap satu persatu para petinggi malaikat yang hadir dirapat itu.

"Jadi siapa yang akan ikut denganku ke pertemuan itu?" tanya Michael kepada para petinggi malaikat yang hadir.

"Gabriel dan Raphael adalah pilihan yang tepat untuk pertemuan itu." ucap Metatron sambil menatap Gabriel dan Raphael secara bergantian.

"Aku tidak bisa ikut ke pertemuan itu, karena aku ada banyak tugas lain yang harus aku selesaikan, Metatron." ucap Raphael memberitahu bahwa dia tidak bisa datang ke pertemuan itu.

"Onii-sama, bagaimana kalau Onii-sama mengajak Irina-chan saja ke pertemuan itu, Irina-chan memiliki seorang teman disana." ucap Gabriel menyarankan seseorang untuk ikut ke pertemuan itu karena kakaknya bilang pertemuan itu akan berlangsung dikota kuoh tadi sebelum rapat dimulai.

"Tapi dia bukan seorang malaikat, Gabriel." ucap Uriel saat mendengar saran dari Gabriel mengenai seorang manusia yang menjadi bagian dari Gereja di Vatikan.

"Itu memang benar sih." ucap Gabriel terdiam setelah mendengar penuturan Uriel.

"Memangnya kau tidak mau ikut, Gabriel?" tanya Raphael penasaran kenapa Gabriel malah menyarankan untuk mengajak seorang manusia kepada Michael.

"Um, itu..." Gabriel terlihat kesulitan untuk mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Raphael tersebut.

Michael yang melihat kebingungan dari malaikat termuda diantara mereka yang ada diruang rapat tersebut, hanya tersenyum lalu angkat bicara untuk membantu malaikat tercantik surga tersebut.

"Sudahlah Raphael, kita tunda dulu mengenai siapa yang akan ikut denganku ke pertemuan itu, lagi pula pertemuan itu akan diadakan beberapa minggu lagi." ucap Michael sambil menatap Raphael lalu berganti ke Gabriel.

Sebuah lingkaran sihir kecil muncul didekat telinga kanan, Michael.

"Rapat kali ini kita tunda dulu, karena sepertinya seseorang telah mencuri pecahan Excalibur yang tersimpan diruang rahasia di Gereja Vatikan." ucap Michael saat dia mendapatkan sebuah pesan melalui lingkaran sihir kecil ditelinga kanannya, yang memberitahu bahwa pecahan pedang suci Excalibur yang tersimpan di Gereja Vatikan telah dicuri oleh seseorang.

"Dicuri? siapa yang mencurinya?" tanya Uriel terkejut mengenai informasi yang baru Michael sampai kan barusan.

"Masih belum jelas siapa yang mencurinya, tapi ada yang melihat itu adalah seorang malaikat jatuh." ucap Michael sambil menatap Uriel yang barusan bertanya.

"Hah~ malaikat jatuh? , apa yang mereka inginkan dengan pecahan Excalibur itu?" tanya Raphael yang terlihat menghela nafas saat mendengar malaikat jatuh mencuri pecahan Excalibur dari pihak Gereja Vatikan.

"Entahlah, mungkin saja itu sesuatu yang buruk mengingat dari fraksi mereka banyak yang membangkang aturan yang dibuat Azazel." ucap Uriel menjawab pertanyaan Raphael.

"Kita tutup rapat kali ini, karena aku ingin mendengar langsung dari pihak Gereja Vatikan mengenai pecahan Excalibur yang dicuri itu." ucap Michael yang berdiri dan diikuti oleh para petinggi malaikat yang lainnya.

"Benar-benar memusingkan, Azazel ingin membentuk aliansi tapi bawahan nya justru melakukan sebaliknya." ucap Uriel yang tidak mengerti dengan pertentangan yang terjadi didalam fraksi malaikat jatuh tersebut.

"Kenyataannya mereka dulu bagian dari kita, dan itu sedikit menyebalkan saat memikirkan tentang perang yang pecah dimasa lalu." ucap Raphael yang sedikit merasa kesal dengan fraksi malaikat jatuh yang sifatnya berubah cukup drastis saat para malaikat itu diusir dari surga karena dosa dan melanggar larangan Sang Ayah.

"Raphael, kalau kau masih memikirkan masa lalu kau mungkin bisa jatuh loh." ucap Metatron dengan nada bercanda.

Raphael terlihat menghela nafas saat mendengar candaan Metatron yang sama sekali tidak lucu.

"Sudah, lebih baik kita kembali mengerjakan tugas kita masing-masing, biarkan Michael turun ke dunia tengah." ucap Uriel sambil menatap Michael yang masih diam karena mendengar perkataan mereka tadi.

"Sudahlah Michael jangan dipikirkan perkataan Raphael tadi, dia dari dulu memang seperti itu." ucap Uriel, Michael tersenyum menanggapi perkataan Uriel.

"Baiklah, aku akan turun ke dunia manusia sekarang, aku serahkan urusan disini kepada kalian." ucap Michael tersenyum, lalu dia pergi dengan sihir teleportasi khas malaikat.

Jam 11:37 AM. Underworld.

Di sebuah ruangan yang lumayan luas, terlihat keempat Raja Iblis sedang melakukan rapat untuk membahas surat yang dikirim oleh fraksi malaikat jatuh. Isi surat tersebut mengatakan bahwa fraksi malaikat jatuh menginginkan pembentukan aliansi dengan fraksi iblis dan juga malaikat. Karena itulah saat ini sedang diadakan rapat dadakan oleh Sirzech sebagai Raja Iblis Lucifer saat ini.

"Sirzech-chan, tidak mungkin kan kita menerima ajakan malaikat jatuh mesum itu." ucap Serafall dengan ekspresi yang terkesan tidak suka.

Sirzech hanya bisa berkeringat mendengar perkataan Serafall yang tidak suka dengan Azazel.

"Serafall, saat ini perdamaian adalah prioritas utama kita agar fraksi kita tidak punah karena perang." ucap Sirzech yang menunjukkan ekspresi serius.

Serafall terlihat menggembungkan pipinya saat mendengar perkataan Sirzech yang tidak sejalan dengannya.

"Serafall, bisakah kau serius saat ini? kita sedang melakukan rapat yang akan menentukan masa depan fraksi kita." ucap Ajuka sambil menatap Serafall dengan ekspresi yang sama serius nya dengan Sirzech.

"Hoaam... Sebaiknya kalian cepat selesaikan rapat ini karena aku masih ingin tidur dikasur ku." ucap Falbium dengan nada malas sambil sedikit menguap.

Sirzech yang mendengar perkataan Falbium hanya bisa menghela nafas pasrah dengan sifat temannya yang satu itu, kemudian Sirzech kembali menunjukkan wajah seriusnya.

"Baiklah, kita mulai rapat ini dengan serius, jangan ada yang main-main." ucap Sirzech tegas sambil menatap satu persatu anggota rapat tersebut.

Ajuka mengangguk menyetujui ucapan Sirzech sedangkan Serafall mau tidak mau harus serius juga pada rapat kali ini, dan Falbium masih terlihat malas seperti biasanya tapi dia tetap mendengarkan dengan serius.

"Baiklah, beberapa menit yang lalu Azazel mengirim surat yang berisi undangan pembentukan aliansi kepada kita termasuk kepada fraksi malaikat, Azazel juga mengatakan dalam surat ini dia akan membahas sebuah masalah yang lebih serius dari pada kelompok misterius yang disebut Khaos Brigade, tentu saja Khaos Brigade tetap berbahaya dan harus kita waspadai karena mereka memiliki anggota orang-orang kuat dari berbagai fraksi," Sirzech berhenti menjelaskan isi surat yang Azazel kirim lalu menatap Serafall yang terlihat memasang wajah serius miliknya.

"Di surat ini, Azazel juga mengatakan akan ada seseorang yang menarik yang akan ikut dalam pertemuan antara ketiga fraksi yang akan diadakan beberapa minggu lagi." ucap Sirzech selesai menjelaskan isi surat yang dikirim Azazel tersebut dan dia juga tahu siapa seseorang yang dimaksud Azazel di surat itu.

"Seseorang yang menarik?" tanya Ajuka sedikit penasaran dengan orang yang dimaksud Azazel.

"Ajuka, bukankah kita dulu pernah membahas dia." ucap Sirzech sedikit tersenyum.

"Ah anak itu ya." ucap Ajuka yang mengingat seseorang yang pernah jadi bahasan mereka sebelumnya.

"Lalu apa lagi yang disampaikan Azazel di surat itu, Sirzech?" tanya Ajuka yang merasa ada yang kurang dari penjelasan Sirzech barusan.

Sirzech menatap Ajuka serius lalu menjawab.

"Disini kita hanya dapat mengajak dua petinggi atau orang pilihan kita untuk menemani ke pertemuan itu, dan kita juga harus membawa pasukan untuk mengamankan kelangsungan pertemuan itu." ucap Sirzech serius sambil menatap satu persatu para sahabat nya itu.

Ajuka terlihat berpikir setelah mendengar perkataan Sirzech barusan.

"Sepertinya di pertemuan itu akan terjadi sesuatu, karena itulah Azazel meminta kita untuk membawa pasukan untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi pada pertemuan itu." ucap Ajuka serius sambil menatap Sirzech. Kalau hanya pertemuan untuk membentuk sebuah aliansi tidak harus membawa pasukan, cukup para pemimpin dari masing-masing fraksi dan dua pengawal sudah cukup untuk hadir ke pertemuan itu, karena kemungkinan besar para pasukan yang dibawa justru malah berperang nanti pada saat mereka bertemu karena masih menyimpan dendam satu sama lain, kecuali memang akan ada serangan pada saat pertemuan itu berlangsung dan untuk mengantisipasi hal itu pasukan dari ketiga fraksi dibutuhkan.

"Kau benar mengenai hal itu, Ajuka." ucap Sirzech serius.

"Kemungkinan besarnya fraksi Raja Iblis terdahulu akan menyerang kita di pertemuan itu." ucap Ajuka serius.

"Fraksi Raja Iblis terdahulu? apa Katerea-chan akan menyerang kita?" tanya Serafall yang dari tadi hanya diam mendengarkan, saat mendengar kemungkinan pertemuan itu akan diserang oleh fraksi Raja Iblis terdahulu dia jadi sedikit terkejut dan berpikir seseorang yang dia kenal dari fraksi tersebut.

"Kemungkinannya antara Katerea atau Creuserey yang akan menyerang pertemuan itu, mengingat mereka sangat ingin membalas dendam kepada kita, karena kita telah mengusir mereka dari Underworld diperang terakhir." ucap Sirzech serius sambil menatap Serafall.

Serafall terlihat menunjukkan wajah yang sulit diartikan saat mendengar perkataan Sirzech.

"Serafall, aku tahu Katerea dulu temanmu, tapi sekarang kita adalah musuhnya, jadi jangan sampai perasaanmu membuatmu lemah." ucap Sirzech menasihati Serafall agar tidak menjadi lemah jika mereka diharuskan bertarung melawan teman lama mereka.

Serafall terdiam mendengar perkataan Sirzech, dia tahu itu tapi dia masih menganggap Katerea sebagai temannya.

"Mungkin kita akhiri saja rapat kali ini, dan untuk pertemuan itu aku akan mengajakmu dan Grayfia, Ajuka. Aku khawatir kalau Serafall yang ikut dia justru jadi dalam bahaya karena perasaannya itu." ucap Sirzech serius sambil menatap Ajuka yang juga menatap balik dirinya.

"Aku mengerti Sirzech." ucap Ajuka yang mengerti akan perkataan Sirzech yang mengkhawatirkan keselamatan Serafall.

"Baiklah, kalian boleh kembali ketempat kalian, aku ada sedikit urusan dengan pertunangan Rias." ucap Sirzech yang dibalas anggukan oleh Ajuka, sedangkan Falbium sudah pergi lebih dulu setelah Sirzech menyuruh mereka kembali ketempat mereka masing-masing.

Sirzech kemudian pergi dengan lingkaran sihir miliknya meninggalkan Ajuka dan Serafall diruang rapat tersebut.

Ajuka menghela nafas saat melihat raja iblis wanita itu terlihat bimbang.

"Serafall, sudahlah jangan terlalu memikirkan masa lalu, kita masih harus memikirkan masa depan fraksi kita kedepannya." ucap Ajuka yang kemudian berdiri karena dia dari tadi memang tidak bergerak dari kursinya.

"Pertemuan itu masih lumayan lama, kalau kau yang ingin pergi kau bisa pergi kalau kau sudah bisa menerima kenyataan itu, Serafall." ucap Ajuka yang berjalan ketempat yang lebih luas dan pergi dengan lingkaran sihir miliknya meninggalkan Serafall seorang diri diruangan rapat tersebut.

"Aku tahu itu, Ajuka..."

Skip

Jam 15:34 PM.

Terlihat Sasuke dan Kaguya berjalan didalam sebuah desa yang jaraknya sudah cukup dekat dengan kota tujuan mereka, saat ini mereka hanya sekedar mengamati kondisi desa tersebut dimana mereka berada.

Desa itu terlihat damai jika dilihat oleh mata orang biasa, namun bagi mereka kondisi desa itu sama sekali tidak damai karena dirumah-rumah penduduk, banyak dari para penduduk desa itu dirasuki oleh sesuatu yang gelap yang tidak para penduduk itu sadari.

"Aura apa itu yang keluar dari tubuh para penduduk desa ini?" gumam Sasuke dengan mata Sharingan nya yang telah diaktifkan.

"Kaguya, sepertinya kita akan menetap didesa ini untuk beberapa hari, aku harus menolong mereka." ucap Sasuke dengan ekspresi serius sambil menatap para penduduk desa itu yang terdapat aura hitam keluar dari tubuh mereka, namun para penduduk desa itu tidak menyadarinya.

Kaguya melihat kearah Sasuke, lalu menatap seorang penduduk desa yang terlihat lemas dengan aura hitam yang keluar dari tubuhnya.

"Indra, energi hidup mereka seperti dipaksa keluar dari tubuh mereka oleh aura hitam itu." ucap Kaguya sambil mengaktifkan Byakugan miliknya untuk melihat para penduduk desa yang berada didalam rumah.

"Ya, sepertinya begitu." ucap Sasuke yang sudah menonaktifkan Sharingan miliknya.

'Aneh sekali, kenapa saat sudah dekat dengan Naruto ada kejadian seperti ini?' batin Sasuke dengan wajah serius.

'Tunggulah sedikit lagi Naruto, aku pasti akan menemuimu.'

Diwaktu yang sama, didalam sebuah hutan terlihat Naruto sedang berlatih dengan banyak bunshin, dia juga memasang penghalang agar latihannya tidak terganggu oleh kedatangan seseorang.

Naruto membagi bunshinnya menjadi sepuluh kelompok, satu kelompok bunshinnya terdiri dari sepuluh bunshin, dan para bunshinnya itu berlatih berbagai jenis jutsu, mulai dari menyempurnakan dan mengembangkan Rasengan ke tingkat yang lebih tinggi lagi, karena jutsu peninggalan ayahnya itu masih dapat dikembangkan lagi, mungkin saja dia dapat menemukan variasi lain dari Rasengan seperti halnya Rasenshuriken.

Kelompok pertama mengembangkan dan menyempurnakan Rasengan, kelompok kedua mempelajari jutsu Hiraishin yang merupakan jutsu ciptaan Nidaime Hokage yang ditinggalkan oleh ayahnya setelah perang dan sebelum dia tertidur yang dia simpan didalam segel penyimpanan yang sempat dia lupakan sebelumnya, kelompok ketiga berlatih Taijutsu, kelompok keempat melatih sensornya, kelompok kelima mempelajari jutsu elemen angin, kelompok enam dan tujuh berlatih untuk meningkatkan penggunaan Senjutsu ke tingkat yang lebih tinggi lagi beserta penggunaan Taijutsu katak, dan kelompok delapan hingga sepuluh mencari variasi penggunaan chakra Bijuu didalam dirinya selain menggabungkannya dengan Rasengan atau pun Rasenshuriken.

Sedangkan Naruto yang asli mempelajari Fuuinjutsu yang juga ditinggalkan oleh ayahnya, dimana gulungan Fuuinjutsu tersebut merupakan milik ibunya dulu.

"Yooshh! Resenringu!"

Duaarr!

Naruto yang asli menoleh saat mendengar teriakan dan ledakan dari kelompok bunshin yang sedang mengembangkan Rasengan yang berada tidak terlalu jauh darinya, namun masih lebih jauh daripada kelompok bunshin yang berlatih Taijutsu.

"Sepertinya aku pernah mendengar nama jutsu itu, tapi dimana?" gumam Naruto sambil mengingat-ingat kapan dia pernah mendengar nama jutsu yang para bunshinnya itu teriakan.

"Ah sudahlah, lebih baik aku fokus mempelajari Fuuinjutsu saja dari pada memikirkan hal lain." gumam Naruto sambil melihat segel rumit di gulungan yang saat ini sedang dia pegang.

Naruto sedikit menghela nafas saat dia tidak memahami konsep segel Fuuinjutsu di gulungan tersebut, lalu Naruto mendongak menatap langit yang mulai terlihat kemerahan.

"Sudah sore ternyata, aku sampai lupa karena terlalu fokus mempelajari gulungan-gulungan ini." gumam Naruto sambil melihat beberapa gulungan Fuuinjutsu yang tergeletak disekitarnya, dan sampai saat ini dia benar-benar belum memahami satu pun segel yang ada di gulungan tersebut.

"Sepertinya mereka yang ahli Fuuinjutsu klan Uzumaki benar-benar orang jenius semua." ucap Naruto dengan nada pasrah karena dia tidak sejenius ayahnya dalam mempelajari sebuah jutsu atau bahkan dia tidak sejenius ibunya dalam hal jutsu penyegelan meski dia memiliki darah seorang Uzumaki di tubuhnya.

Naruto menghela nafas saat memikirkan semua itu.

'Ternyata benar, keturunan tidak menentukan ke jeniusan seseorang, jika ingin kuat seseorang harus berlatih dengan keras,' batin Naruto yang kembali melihat segel rumit yang tertulis di gulungan Fuuinjutsu yang dia pegang.

'Tidak ada cara instan untuk mendapatkan kekuatan sejati.'

Skip

Jam 20:36 PM. Celah dimensi.

Terlihat Ophis dan Sara saling tatap satu sama lain, Sara kembali ke wujud naganya setelah meninggalkan rumah Naruto dan kembali ke celah dimensi, mereka saat ini hanya saling tatap dalam diam sudah beberapa menit sejak kedatangan Ophis ke celah dimensi tersebut, tidak ada diantara mereka yang memulai pembicaraan sejak Ophis datang dan Sara menghampiri Ophis.

Saat pertama kali Sara merasakan kedatangan Ophis ke celah dimensi, dia mengira Ophis akan kembali mengajaknya bertarung tapi sampai saat ini, Ophis sama tidak melakukan apapun dan hanya diam menatap dirinya yang juga menatap balik Ophis yang diam dari awal kedatangannya.

"Ophis, apa yang kau inginkan?"Sara bertanya karena Ophis sama sekali tidak terlihat ingin memulai pembicaraan atau pun petarungan dengannya, hal itu membuatnya sedikit penasaran kenapa Ophis terlihat berbeda dari biasanya saat ini.

"Great Red," Sara diam menunggu kelanjutan dari apa yang ingin Ophis katakan padanya, namun setelah menunggu Ophis sama sekali tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan.

"Ophis, jika kau ingin bertarung denganku, aku tidak akan meladenimu karena aku masih memegang janjiku kepada Naruto, dan aku tidak ingin melanggar janjiku untuk yang kedua kalinya."ucap Sara yang berniat meninggalkan Ophis sendirian disana.

"Great Red, sebenarnya kenapa kau bisa peduli pada Uzumaki Naruto?" tanya Ophis datar namun tersirat kebingungan dalam nada suaranya yang mampu Sara dengar.

Sara yang awalnya sudah sedikit memutar tubuhnya perlahan kembali menatap Ophis yang terlihat memegangi dadanya, kemudian Sara merubah wujudnya menjadi manusia seperti sebelumnya.

"Kau bertanya kenapa, padaku?" ucap Sara yang tidak mengerti dengan pertanyaan Ophis itu, bukankah Ophis sudah lebih dulu mengenal Naruto dari pada dirinya? jadi kenapa Ophis tidak tahu kenapa dan apa penyebab dirinya sendiri terlihat sangat dekat dengan Naruto? bahkan sangat peduli menurut pengamatan nya selama beberapa hari sebelumnya, karena Ophis adalah naga dengan kekuatan yang tidak terbatas dan dia tahu orang seperti Ophis tidak akan berdekatan dengan seseorang sampai seperti itu jika tidak ada penyebabnya. Lalu kenapa Ophis bertanya kepadanya seperti itu?

"Bukankah seharusnya kau tahu jawaban dari pertanyaan mu itu, Ophis?" ucap Sara sambil menatap Ophis dengan wajah heran.

Ophis tidak merespon ucapan Sara yang mengatakan dirinya tahu jawaban dari pertanyaan nya sendiri.

Sara terlihat menghela nafas saat Ophis hanya diam saja setelah dirinya mengatakan itu. Seingatnya, dulu Ophis memahami perasaan dari hatinya sendiri ketika dirinya dan Ophis masih seekor naga kecil biasa yang terbang di langit dunia manusia yang menyebabkan manusia heboh dulu, sehingga menciptakan mitos dan legenda naga yang saat ini hanya dianggap mitos belaka oleh manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan khusus, namun dia tidak bisa ingat kejadian setelah dirinya mengusir Ophis dari celah dimensi beserta apa alasan dirinya mengusir Ophis dari tempat yang telah Ophis klaim sebagai rumahnya tersebut.

Sara menggeleng pelan untuk mengusir pemikirannya tentang masa lalu yang masih dia ingat itu, lalu dia menatap Ophis dengan serius.

"Kalau kau ingin tahu kenapa aku peduli terhadap Naruto, kau bisa mencari tahu sendiri dari dirimu sendiri, kenapa kau peduli dengan Naruto." ucap Sara yang kemudian kembali ke wujud naganya dan pergi meninggalkan Ophis sendirian.

Setelah Sara menghilang dari hadapan Ophis, Ophis terlihat terdiam sambil melihat tangannya, lalu dia menyentuh dadanya lagi dengan wajah datar yang terlihat kebingungan.

Tanpa Ophis sadari, Sara saat ini sedang mengamati perilaku Ophis yang seperti seseorang yang sedang tersesat dan tidak tahu mau pulang kemana antara rumah satu dengan rumah keduanya.

'Ophis, perasaan itu adalah perasaan yang sama yang dimiliki banyak mahluk hidup, kau mungkin melupakannya karena kau terlalu membenciku, suatu saat nanti kau akan mengerti dengan perasaan itu... Teman masa kecilku.'

" Temanmu berada didekatmu, jangan kau melupakannya hanyakarena kau mendapatkan sesuatu yang baru.'

Dua hari kemudian.

Jam 20:36 PM.

Terlihat Naruto berdiri diatap salah satu bangunan didekat sebuah pertarungan antara salah satu iblis dari kelompok Gremory dengan seorang pendeta gila yang bernama Freed Selzan, Naruto tahu pendeta itu berkeliaran di kota Kuoh selama ini, tapi dia tidak melakukan apapun untuk mengurus orang itu karena dia disibukkan dengan sesuatu yang lain, karena itulah dia tidak pernah mengurus pendeta sesat itu selama ini dan membiarkannya berkeliaran di kota ini tanpa dia ketahui apa tujuan pendeta itu berada di kota Kuoh.

Dan sekarang dia secara tidak sengaja melihat pertarungan antara salah satu iblis dari kelompok Gremory itu melawan pendeta gila bernama Freed tersebut yang menggunakan pedang suci yang lumayan kuat terlihat dari auranya.

'Pedang itu, sangat berbahaya untuk iblis.' batin Naruto serius, dia tidak ingin ikut campur dalam urusan mereka karena dia melihat pemuda yang melawan Freed itu terlihat menyimpan dendam terhadap Freed atau lebih tepatnya pedang suci yang Freed gunakan itu, karena dia dapat melihat kebencian dimata pemuda tersebut yang tertuju kepada pedang itu.

'Dari pada penggunanya, dia mengarahkan kebenciannya pada benda mati itu, kenapa?' batin Naruto sedikit penasaran akan kebencian pemuda itu yang diarahkan ke pedangnya bukan penggunanya, padahal pedang itu tidak akan dapat melukai siapapun jika tidak ada yang menyentuh atau menggunakannya.

Naruto menyipitkan matanya saat dia melihat lingkaran sihir malaikat jatuh kecil muncul ditelinga Freed.

'Jadi begitu, dia anak buah malaikat jatuh yang membangkang aturan Azazel ya.' batin Naruto saat melihat lingkaran sihir malaikat jatuh itu, kenapa dia tahu? karena hanya mereka yang membangkang perintah Azazel yang akan melakukan kejahatan didunia manusia seperti itu.

Naruto melihat beberapa mayat pendeta yang tergeletak didekat lokasi pertarungan itu. Naruto sedikit menyipitkan matanya saat Freed melemparkan bom cahaya dan melarikan diri.

'Dia cukup cepat juga berlarinya.' batin Naruto saat melihat Freed lari kearah barat entah mau kemana.

Naruto kembali menatap pemuda iblis tersebut yang masih berdiri diam disana meski saat ini sedang hujan.

'Sepertinya sesuatu akan terjadi di kota ini.'

Skip

Jam 23:46 PM. Amerika. New York.

Terlihat seorang gadis berambut perak yang tidak lain adalah Shilya sedang berjalan dijalanan kota New York yang masih sangat ramai meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Shilya terlihat memikirkan sesuatu yang sebelumnya disampaikan oleh pria misterius bernama Toneri itu, meski sudah dua hari terlewat dari pertemuannya itu dengan Toneri.

Shilya masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh orang itu, namun dia juga tidak bisa menganggap apa yang Toneri sampaikan itu sebuah kebohongan, karena Toneri menitipkan sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya, yang berasal dari seseorang dari masa lalu.

Flashback, dua hari yang lalu.

"Apa yang ingin kau sampaikan padaku?" Toneri tersenyum mendengar pertanyaan gadis dihadapannya itu lalu dia berkata.

"Dengarkan baik-baik apa yang ingin aku sampaikan padamu, Shilya Lucifer."

Shilya terdiam mendengar perkataan Toneri sambil berharap apa yang Toneri sampai kan bukan sesuatu yang buruk.

"Seseorang yang kau cari sebenarnya sudah pernah dekat denganmu, tapi kau tidak menyadarinya karena dia sangat susah untuk diungkap identitasnya," ucap Toneri menjeda perkataannya untuk melihat reaksi lawan bicaranya.

"Aku yakin kau akan memikirkan ucapanku ini nanti, tapi yang ingin aku sampaikan bukan itu." ucap Toneri sambil menatap ekspresi gadis dihadapannya yang terlihat sedang berpikir.

"Kau tidak perlu memikirkannya sekarang, yang perlu kau lakukan hanya mendengarkan apa yang ingin aku katakan saat ini," ucap Toneri yang membuat Shilya kembali fokus terhadap setiap kalimat yang akan dikatakan oleh Toneri kepadanya.

"Pada suatu hari, akan tiba waktu dimana semua mahluk bumi bersatu untuk melawan seseorang yang sangat kuat, entah kapan itu akan terjadi, tapi untuk mencegah kehancuran total pada bumi, aku ingin meminta bantuan mu, Shilya Lucifer." ucap Toneri menghentikan ucapannya dan menatap Shilya ingin melihat tanggapan dari gadis iblis itu.

Shilya terdiam mendengar ucapan Toneri yang ingin meminta bantuan nya.

'Kenapa dia ingin meminta bantuan ku? padahal dia memiliki aura yang kuat, lebih kuat dariku.' batin Shilya heran dan juga penasaran dengan apa yang Toneri ingin dia lakukan.

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Shilya penasaran namun dia tidak menurunkan kewaspadaannya terhadap lawan bicaranya itu.

Toneri tersenyum dan menjawab.

"Aku ingin meminta bantuanmu satu hal," ucap Toneri sambil menyerahkan sesuatu pada Shilya.

"Itu adalah bola mata seseorang yang dititipkan padaku, namanya Byakugan." ucap Toneri sambil menatap Shilya yang sedang memperhatikan sepasang bola mata yang ada didalam tabung kecil yang diberikan Toneri kepadanya.

"Kau ingin aku melakukan apa dengan ini?" tanya Shilya heran, kenapa pria itu memberinya bola mata yang hampir terlihat putih semua?

"Aku ingin... "

Flashback End.

Bruk!

Shilya yang sedang melamun tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan didepannya karena orang tersebut berhenti tiba-tiba.

"Ma-Maaf aku tidak sengaja." ucap Shilya meminta maaf dan sedikit terkejut karena dia tidak menyangka akan hanyut dalam pikirannya sendiri saat mengingat pertemuannya dengan pria bernama Toneri itu.

Seseorang yang ditabrak Shilya adalah seorang pria dengan tubuh tinggi tegap dan juga terlihat berotot, pria itu terlihat menatap Shilya dengan tatapan nafsu saat melihat wajah Shilya yang cantik dan imut karena Shilya merupakan keturunan dari seorang Lucifer dan Lucifuge.

"Ah, ya tidak masalah kok gadis manis." ucap pria itu dengan tatapan nafsu yang masih terus dia arahkan pada bagian dada Shilya.

Shilya yang merasa ditatap aneh oleh pria itu mengerutkan alisnya heran, namun setelah diperhatikan lagi Shilya sadar bahwa pria itu sedang menatap dadanya.

'Orang-orang disini kenapa selalu seperti itu?' batin Shilya yang sedikit kesal dengan tatapan pria itu, dia pun berniat melanjutkan perjalanannya untuk pulang.

Terlihat pria itu menoleh memperhatikan keadaan sekitar, lalu mengikuti Shilya. Shilya yang merasa diikuti oleh pria tadi mempercepat langkahnya dan masuk kedalam gang yang gelap dan lumayan sempit.

Pria itu yang melihat Shilya masuk kedalam gang menyeringai, lalu dia pun mengejar Shilya namun saat dia sampai di gang tersebut dia tidak menemukan siapapun disana kecuali tempat sampah yang penuh dengan sampah.

"Hilang? jangan bilang gadis itu... Hantu!" pria tersebut berteriak ketakutan saat berpikir bahwa gadis yang dia temui itu hantu, karena gadis itu menghilang di gang kecil itu.

Sedangkan Shilya terlihat menatap pria itu yang berlari ketakutan dengan wajah datar tepat diatas bangunan di gang kecil tersebut.

"Dasar menyebalkan." gumam Shilya sambil menatap pria itu yang berlari sambil berteriak ketakutan hingga menabrak tiang listrik diujung jalan.

"Rasakan itu." ucap Shilya sedikit senang saat menyaksikan pria itu menabrak tiang listrik karena pria itu berlari tanpa pikiran yang jelas.

"Sebaiknya aku langsung menggunakan sihir saja untuk pulang." ucap Shilya karena dia tidak ingin bertemu orang seperti itu lagi.

'Naruto-kun, aku pasti akan menemuimu lagi.' batin Shilya sambil mengingat wajah Naruto dan juga sesuatu yang Toneri sampaikan padanya.

To Be Continue