Author's note: Terima kasih bagi para pembaca baru yang mau mengikuti, menyukai dan mengomentari Fanfic Penulis. Khususnya yang mau berkomentar seperti Flugel der Freiheit96, vpckr, Latte, dan milahrasai6.

Oh, ya. Omong-omong, jika para pembaca sekalian berpikir bahwa akan terjadi cinta segitiga... maka, kalian tidak sepenuhnya benar. Karena daripada disebut cinta segitiga, mungkin tepatnya duo iblis betina memanfaatkan fakta masa lalu untuk mengguncang keimanan dua sejoli. Hehehe, pokoknya Penulis akan mengirimkan berbagai macam cobaan pada mereka!

Jadi, pada akhirnya... selamat membaca dan silahkan tinggalkan komentar.

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

BENANG TAK TERLIHAT

Halaman Tujuh: Cinta Pertama Yang Penuh Ujian

By Josephine Rose99

.

.

.

.

.

BENANG TAK TERLIHAT

HALAMAN TUJUH

CINTA PERTAMA YANG PENUH UJIAN

By Josephine Rose99

.

.

.

Aaahhh... sudah hari ke berapakah ini? Sudah hari ke berapa sejak sang Kolonel termuda dalam sejarah militer Eldia dan sang ilmuwan muda jenius tinggal bersama? Dua minggu? Tiga minggu? Tidak, sudah sekitar satu bulan. Tepatnya 37 hari Annie Leonhart terdampar di 'dunia baru' bersama Armin Arlert, sang calon suami.

Awalnya dia berpikir akan menghabiskan masa cuti enam bulannya bersama keluarga, namun tidak. Awalnya dia berpikir cutinya dihiasi pertengkaran, penghinaan, tabokan, sindiran, ejekan, atau pembulian, namun tidak. Semuanya berjalan tidak sesuai dugaannya. Annie tak pernah berpikir tinggal bersama Armin membuat sikap yang tak mungkin dimiliki Annie sekali bisa keluar.

Pernah sekali dia penasaran akan apa yang dilakukan Armin di lab pribadinya. Dia mengintip ke dalam ruangan itu, mendapati Armin sedang bekerja. Berkutat pada lembaran dokumen prosedur serta berbagai bentuk tabung-tabung kaca dan cairan-cairan aneh di dalamnya. Wajah yang biasa tenang tampak serius. Sorot matanya juga. Sebuah dedikasi tinggi kepada pekerjaan demi membantu orang-orang. Dan percayalah, jantung Annie makin berdebar kencang daripada sebelumnya saat melihat itu. Dia jadi salah tingkah sendiri.

Armin pun demikian.

Maaf, Eren. Tampaknya taruhanmu dengan Mikasa tidak tepat sasaran. Jangankan babak belur, tak pernah sekali pun Annie memukul laki-laki itu. Padahal Armin sudah menyiapkan stok kotak P3K lebih banyak dari biasanya. Ya, berjaga-jaga jika wanita godzilla itu mengamuk. Tapi ternyata hipotesisnya salah. Kenapa? Karena di dalam kotak P3K tersebut tak ada obat sakit jantung. Padahal dia lebih membutuhkan itu sekarang berkat debaran jantungnya yang tak menentu setiap kali di dekat Annie.

Bukan hanya di dekat Annie, melainkan jauh—well, secara teknis karena mereka beda kamar—dari Annie juga. Entah kenapa setiap kali dia sendirian, baik di laboratorium atau perpustakaan pribadinya, wajah Annie selalu melintas di pikirannya. Itu juga berlaku saat waktu bekerja. Saat termenung, wajah Annie lagi-lagi muncul. Meski pernah sekali wajah Ymir atau Hitch menumpang lewat dalam memorinya, namun ujung-ujungnya juga mengenai Annie. Dalam mode iblis, kedua orang itu menggoda pikirannya habis-habisan.

Terkutuklah kedua orang itu.

Jadi, sekarang pertanyaannya adalah... apakah yang akan mereka lalui selanjutnya?

Sebuah pertanyaan dimana mereka sendiri yang menulis jawabannya. Sebuah momen dimana sifat keras kepala harus menyingkir serta membiarkan pengakuan mengambil alih. Dan itu semua dimulai dari suatu pagi hari yang cerah.

Di hari ke-38.

.

.

.

Memasak sarapan demi Armin sudah jadi kebiasaan barunya sekarang. Meski biasanya Annie tak suka merepotkan diri demi orang lain, tapi sejak perkataan bawahan Armin alias Thomas Wagner tempo hari, sejak itu pula dia selalu memperhatikan Armin. Armin saja juga heran dengan perubahan sikap Annie, namun tak sedikit pun kalimat protes keluar. Ya, sejujurnya dia juga dengan perubahan itu. Ck, sejak kapan dia jadi tsundere?

Bicara soal Armin, laki-laki itu sedang terburu-buru merapikan pakaian. Terjaga semalaman di lab menjadi satu-satunya alasan sang calon istri siap membanting pria itu. Padahal sudah beberapa kali Annie mampir ke tempat berbau cairan kimia yang entah apa itu namanya, namun pria itu mengatakan dirinya baik-baik saja dan akan segera tidur. Faktanya sekarang dia nyaris terlambat bekerja.

"Annie, maafkan aku, tapi sepertinya pagi ini aku tidak sempat sarapan. Jadi makan saja bagianku," ujarnya sembari memasang dasi. Perkataannya ini sukses memancing empat perempatan merah berkedut-kedut di dahi Annie.

Segera dia menoleh cepat pada Armin, memberikan pandangan membunuh hingga Armin bergidik ngeri, "Ulangi sekali lagi, tuan ilmuwan."

Susah payah Armin meneguk ludahnya sendiri. Gawat, dia jadi berkeringat dingin, "Ku-kubilang... aku tak bisa sarapan sekarang. Jadi—"

"Jadi?"

"Ja-jadi... umm..." mengerikan. Mengerikan sekali! Armin menundukkan wajah supaya tak menatap langsung sorotan mata tajam tersebut, "A-Annie sarapan sendiri saja hari ini... hehehe..." tawa garing itu tampaknya tak memiliki efek bagus pada wanita yang sekarang melangkah mendekatinya. Armin pun semakin gugup. Dalam hati, Armin terus berdo'a supaya pagi ini dia bisa lancar pergi ke perusahaan, bukan ke kamar mayat. Ck ck ck ck.

Tap.

Telah berdiri tegak di hadapan wajahnya seorang Kolonel muda berkemeja biru muda bercelana pendek hitam dengan tatapan setajam silet. Seluruh tubuh Armin menegang, tak siap mengelak jika datang rentetan tinju dari si komandan Batalion. Namun yang terjadi selanjutnya adalah Annie menarik dasi Armin, sehingga tubuh pria itu tertarik sampai maju selangkah. Hanya jarak 30 cm yang memisahkan mereka. Armin mengangkat kedua alisnya tatkala Annie justru memperbaiki simpulan dasinya yang berantakan. Gadis itu tak mengatakan apapun selagi Armin bengong.

Setelah simpulan dasi Armin jauh lebih rapi, Annie mendongak menatap wajah Armin yang juga menatapnya balik. Raut wajah Annie yang semula begitu menakutkan menjadi sedikit lebih lembut. Dia menghela napas berat kemudian berkata pelan, "Aku sudah memperingatkanmu semalam, 'kan? Tapi kau tak mendengar, Arlert," uh-oh. Panggilan 'Arlert' barusan adalah pertanda kekesalan atau... kekecewaan? Armin sendiri juga tak tahu. Tapi biasanya Annie akan memanggilnya begitu jika ada masalah di antara mereka, "Aku tak mau tahu. Aku tak peduli kau terlambat atau apapun itu, tapi kau harus sarapan. Bagaimana kau bekerja sementara kau tidak makan apapun dari semalam? Kemarin kau juga menolak makan malam, 'kan?"

Eh? Apa itu? Apa itu tadi?

Telinga Armin menangkap nada kekhawatiran terpancar dari perkataan si Leonhart muda. Jarang sekali dia melihat fenomena langka ini. Seketika raut wajahnya berubah jadi menyesal. Menutup matanya sebentar lalu membukanya lagi. Dia raih tangan Annie yang masih memegangi dasinya. Digenggamnya dengan lembut—tanpa sadar tentunya—dan berujar pelan pula, "Maaf. Aku terlalu fokus pada pekerjaanku sampai melupakan hal terpenting..."

Bicara soal tidak sadar, sebenarnya Annie keterbalikannya. Gadis barbar ini sempat menahan napas ketika Armin menggenggam tangannya. Ini memalukan! Ini sangat memalukan! Baiklah, dia memang tipe tak mau tahu, tapi dia ini tipe tahu malu! Sayang sekali dia mendapatkan calon suami yang malah tak tahu malu. Tentunya ada batas-batas dalam hubungan antara pria dan wanita, bukan? Tapi bisa-bisanya Armin menggenggam lembut tangannya dan... apa-apaan tatapan sendu itu? Bisakah dia berhenti membuat Annie terpesona lebih dari ini? Lihat. Jantungnya bermasalah lagi. Sial.

"A-Armin..." serius? Hanya ini yang bisa keluar dari mulutnya? Annie berkali-kali mengutuk dirinya yang tak segera mematahkan tangan pria itu. Oh, tidak. Debaran jantungnya tambah kencang begitu Armin melemparkan senyum kecil. Bagaimana ini? Pertahanan imannya nyaris runtuh! "...Oh... aku tak tahu kalau senyumnya semenawan ini..." ah. Dia barusan berpikir apa?! Annie langsung membuang muka, berharap semoga Armin tidak melihat si tomat di pipi, "Apa aku barusan berpikir begitu!? Astaga, Annie! Apa yang terjadi pada otakmu!?"

Namun sayang sekali, Annie. Armin tidak menderita hipermetropi sehingga bisa melihat jelas dirimu yang memerah malu. Butuh waktu singkat bagi Armin untuk menyadari penyebabnya. Anehnya, meski dia juga ikut tersipu, tak timbul sedikit pun niat untuk melepas tangan Annie. Tangannya masih disana, masih menyentuh kulit putih pucatnya.

Ya ampun. Ini masih pagi, tapi pasangan kasmaran ini sudah bermesraan. Buat iri saja.

"Ka-kalau begitu, ba-bagaimana jika kita berdua sarapan? A-aku bisa menghubungi asistenku kalau aku akan sedikit terlambat..." Annie menghembuskan nafas lega. Bersyukur bahwa Armin cukup peka demi mencairkan suasana beku ini.

Masih tak bisa menatap Armin, Annie hanya membalas, "Hn... baiklah..."

...

...

Sarapan bersama penuh keheningan pun berakhir. Keheningan disini tentunya memiliki makna secara harfiah. Tak ada kata-kata selain suara dentingan antara alat-alat makan, suara kunyahan, dan detak jarum jam. Jangan tanya kenapa karena tak ada yang tahu pasti kenapa. Mungkin rasa malu atau ingin fokus makan saja. Maka disinilah mereka, di halaman rumah Armin. BMW i8 telah dikeluarkan dari garasi, siap berangkat menuju kantor. Namun sebelum itu, Armin keluar dari mobilnya. Berjalan mendekati Annie yang berdiri di dekat mobilnya sambil memegang kotak bekal biru polos dan sebotol air.

"Ini bekal makan siangmu. Katamu tadi kau mungkin tidak sempat pulang untuk makan siang, 'kan?" ujar Annie memberikan bekal makan siang penuh cinta(?) kepada—ehem—sang calon suami.

"I-iya," Armin kemudian berjalan menuju mobilnya, meletakkan bekalnya diatas dashboard. Lalu dia berbalik mendekati Annie lagi, "Maaf, Annie. Aku janji kita akan makan siang bersama lagi setelah proyek ini selesai," ujarnya melempar senyum sedih. Ya, sejujurnya dia sangat ingin makan siang bersama seperti biasa. Kalau bukan karena persiapan proyek besar yang baru dia terima seminggu lalu, mungkin mereka bisa bercengkerama penuh sindiran setiap siang.

Meski begitu, hati Annie jadi ketar-ketir mendengar Armin sebegitunya ingin kembali makan siang bersama BERDUA. Tambahan lagi—DI RUMAH. Tak ada gangguan seperti duo iblis betina yang mengobrak-abrik keadaan. Jadi dia hanya bisa batuk kikuk sambil menoleh ke arah lain, "Bo-bodoh. Memang siapa yang sebegitu inginnya makan siang bersamamu? A-aku tidak peduli kau mau makan atau tidak. Aku membuatmu bekal ini hanya karena aku menumpang tinggal disini. Ja-jadi jangan salah paham."

"Hnn..." Armin menunduk, menatap lekat-lekat wajah Annie yang... memerah? "Meski begitu, aku tetap senang. Terima kasih, Annie,"

Suara lembut yang berterima kasih barusan berhasil membuat jantung Annie akan meledak. Ah, dia benar-benar tak suka perasaan barunya ini, "Bu-bukan masalah..." katanya datar.

Tapi jangan salah. Karena saat itu juga Annie merutuki tingkahnya dalam hati, "Kenapa dari tadi aku bicara gagap? Argh, menyebalkan!" begini batinnya frustasi, ck ck ck ck.

Selagi sang Kolonel muda kebingungan dengan perubahan suasana hatinya, waktu terus berjalan. Sebagai seorang pemimpin perusahaan, tak baik bukan jika Armin membuang waktu terlalu lama? Dia sudah terlambat dan tak ingin semakin terlambat, "Kalau begitu, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Jika terjadi sesuatu, jangan sungkan menghubungiku," ucapnya memberikan salam perpisahan sementara hingga kemudian terjadi sesuatu di luar ekspetasi.

Kalian bertanya apakah itu? Jawabannya sangat sederhana.

Armin refleks memeluk Annie yang malah berubah jadi patung dadakan.

Jangan salahkan Annie. Jangan salahkan dia. Dia sendiri juga tak mengerti kenapa tiba-tiba pria itu memeluknya. Tak mengerti kenapa pria itu tak takut sama sekali dengan bantingannya ketika membenamkan wajah Annie pada dadanya. Annie hanya diam. Dia tak sanggup bergerak bahkan menahan napas. Tubuhnya begitu kaku, membiarkan panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Mulutnya terkatup-katup layaknya ikan koi kekurangan air. Sungguh, dia belum pernah berada di posisi ini!

Bicara soal 'belum pernah berada di posisi ini', tidak ada 10 detik bagi Armin untuk menyadari apa yang saat ini dia lakukan. Pria tersebut terkesiap, jantungnya berdetak kencang, serta pipinya merona. Seketika dia langsung melihat wajah Annie, namun ternyata gadis itu juga sedang mendongak kepadanya. Sehingga akhirnya dengan resmi Penulis katakan bahwa mereka sedang dalam adegan drama roman komedi ala sinetron kesukaan Pak tua Arlert.

"Eh? Are? Ke-kenapa? Ke-kenapa aku memeluknya!? GYAAAAA! Lepaskan, Armin! Cepat lepaskan sebelum dia membunuhmu!" untung saja Armin sadar sebelum dia bertemu dengan Sang Pencipta lebih cepat! Buru-buru dia memegang kedua bahu Annie, mendorongnya cepat. Wajahnya yang memerah tersebut pun jadi semakin berkeringat dingin. Ini gawat! Dia tak tahu wajah merah Annie berarti malu atau murka, tapi dia harus segera kabur! "U-umm, jaa ne, Annie! A-aku akan usahakan pulang cepat hari ini! Tunggu aku!" Armin berlari menuju mobilnya secepat kilat bak lari dari penagih hutang. Meninggalkan Annie yang masih membeku di tempat selagi dirinya menginjak gas dan melaju menuju kantor.

"..."

Angin semilir berhembus.

Mari sejenak kita mengheningkan cipta.

Krik-krik, krik-krik...

...

...

Deg deg...

Deg deg...

Annie masih berdiri layaknya pasukan pengibar bendera. Menatap kosong gerbang rumah yang terbuka. Perlahan dia merebahkan tangannya pada dadanya, merasakan detak jantung dengan ritme tak teratur. Merasakan kembali pelukan Armin yang terjadi tak sampai semenit lalu.

"...Armin... memelukku..." gumamnya pelan entah kepada siapa. Pikirannya melayang-layang.

Dua detik kemudian, wajahnya akhirnya meledak. Bukan dalam arti sebenarnya tentunya. Tentara wanita ini langsung berjongkok, melipat tangannya dan membenamkan wajahnya. Lagi-lagi dia salah tingkah. Ini selalu terjadi hampir setiap hari! Ada apa ini? Kenapa jadi begini? Dia selalu mempertahankan prinsipnya dari 'serangan' laki-laki. Memberikan batas-batas yang tak boleh mereka lewati. Namun untuk di situasi tertentu, dia biarkan Armin mendekati dan menyentuhnya.

Apa karena dia calon suaminya? Tidak, bukan!

Apa karena permintaan Thomas? Tidak, itu juga bukan!

Lalu apa?

Percuma. Dia belum menemukan jawabannya. Atau tepatnya, dia sudah tahu jawabannya sedari awal, namun tak mau mengakui.

Kini dia hanya bisa merutuki perbuatan Armin serta dirinya sendiri. Ya, sembari membaca mantera supaya si tomat pergi jauh-jauh dari wajahnya.

"Beraninya si banci pirang itu! Ta-tapi tunggu dulu! Ini aneh. Kenapa aku tak merasa marah sama sekali? Justru aku merasa... senaaAAAARGH! Tidak tidak tidak! Annie, ingat tujuanmu! Kau lupa bahwa kau menolak perjodohan ini!?"

Ck.

Masih keras kepala juga!?

...

...

Tanpa Annie dan Armin sadari, di balik pagar rumah mereka, berdirilah Mikasa yang membawa sekeranjang hasil panen kebun kecilnya. Dia mengintip sekilas apa yang terjadi antara dua sejoli barusan. Dan sungguh, tubuhnya menegang sekaligus terkejut begitu mendapati teman masa kecilnya sudah bisa memeluk Annie! Dalam keadaan hidup lagi! Dia tidak dibanting, ditendang, atau segala bentuk pembulian lainnya! Tentu tak mungkin baginya masuk, menghampiri mereka dengan raut wajah biasa. Terpaksa Mikasa mundur teratur. Dia memang lebih peka dalam situasi begini dibanding Eren.

Wah wah...

Padahal dia mau memberikan sekeranjang lobak merah, buah bit, tomat dan asparagus. Tapi ini yang dia dapati? Sebuah karcis gratis menonton opera cinta polos antara ilmuwan dan tentara? Oke, tidak buruk.

Dia harus memberitahu Eren soal ini. Pria itu pasti terkejut jika dia tahu dia telah kalah taruhan.

...

~invisible string chapter seven~

...

.

.

Pukul 11.28 waktu setempat.

Distrik Mitras, Prefektur Sina. Blok 10 nomor 17.

Kediaman Hitch Dreyse.

.

.

Matahari belum berada pada titik tertingginya, tapi Hitch sudah mendengar sebuah kabar yang tak mengenakkan. Dirinya bersama Ymir sedang menonton sebuah acara talkshow sambil ditemani kacang serta bir kaleng. Begitu santainya hingga terganggu berkat suara dering telepon dari ponselnya. Sementara Ymir terus memandangi televisi, Hitch meraih ponselnya, melihat siapa si pemanggil.

Eren?

Baiklah. Memang Ayah Annie yang memberi nomor telepon mereka berdua pada Eren dan Mikasa. Ya, katanya demi bekerja sama mendekatkan Annie dan Armin. Tapi tumben sekali pria ini meneleponnya. Tanpa pikir panjang, Hitch pun mengangkat telepon.

Jujur saja. Dia bersyukur Eren tipikal langsung ke inti sehingga dia tahu titik masalah kenapa pria itu meneleponnya. Tapi, sungguh. Haruskah ini terjadi?

Segera dia meraih remote dari meja kecil di depan mereka. Mematikan televisi tanpa persetujuan Ymir yang nyaris tersedak karenanya. Begitu gadis jerawat itu ingin protes, Hitch memberi sinyal untuk diam dan langsung mengaktifkan mode pengeras suara. Seolah ingin Ymir ikut ke dalam pembicaraan juga.

"Siapa, Hitch?" tanya Ymir kesal waktu santainya diganggu gugat. Padahal ini waktunya bersantai setelah bekerja bagai babu selama lima hari.

"Eren," jawab Hitch singkat.

"Hah? Eren?" oke, perhatian Ymir berhasil dialihkan.

Sekarang dia dan Hitch melirik ponsel Hitch yang sedang dipegang oleh yang punya.

"Katakan, Eren. Ymir disini. Dia juga ingin mendengarnya," kata Hitch lagi memberi sinyal untuk melanjutkan pembicaraan.

Terdengar helaan napas berat dari seberang, "Kubilang, Armin akan pergi survey selama tiga bulan. Yah, itu paling lama. Paling cepat dua bulan satu minggu. Makanya aku ingin minta tolong padamu dan Ymir untuk menemani Annie selama Armin pergi. Tak mungkin Mikasa menemaninya, 'kan? Karena mereka berdua kurang akrab."

Hah?

Survey? Selama tiga bulan? TIGA BULAN!?

Berbeda dari Ymir yang terkesan biasa saja—well, mungkin dia juga sedikit terkejut—tapi Hitch sampai melongo.

"Jadi kau memang tidak salah bicara?! Survey? Ta-tapi kenapa tiba-tiba sekali?" Hitch tampaknya tak bisa menerima kenyataan menyebalkan ini. Oh, ayolah. Siapa yang tidak kesal?

Sahabatnya, Annie, hanya punya waktu enam bulan tinggal bersama dengan Armin. Enam bulan untuk menumbuhkan rasa cintanya sebelum dia kembali bertugas. Ya, itu pun jika dia tak berubah pikiran soal berhenti tidaknya dari militer. Sudah lebih dari sebulan berlalu, dan sekarang Armin akan pergi selama tiga bulan? Apa-apaan itu!?

"Hhhh... ini memang penyakit lama Armin. Kalau sudah soal survey, dia terlalu bersemangat menjelajahi hutan itu sampai-sampai lupa memberi kabar pada kami. Soal ini saja aku tahu dari Kakeknya, dan Kakeknya pun tahu bukan darinya, tapi dari asistennya," nada bicara Eren jadi serba salah.

Ymir langsung menyela, "Eren, sebenarnya aku sudah mendengar ini dari Kakeknya tempo hari. Armin memang akan berangkat survey, makanya dia sudah mempersiapkan segalanya sejak awal. Tapi aku tidak tahu kalau surveynya sampai berbulan-bulan! Kupikir hanya beberapa minggu!" mendengar pengakuan tersebut, Hitch seketika melototi Ymir.

Jadi ini yang dia maksud di perempatan lampu merah waktu itu? Kalau Kakek Armin punya bakat jadi peramal? Konyol sekali. Apa dia ingin mengatakan dengan pergi Armin pergi survey, Annie akan memeluk bantal nista terkutuk itu? Hell no! Jangankan memeluk, perjodohan ini pasti akan batal! Hitch yakin mereka butuh waktu lama untuk menumbuhkan benih-benih cinta itu.

Ck, dia belum tahu saja ya, saudara-saudara.

"Kau sudah tahu ini, Ymir? Kenapa kau tak bilang padaku dari awal?"

"Yaaaa, aku 'kan tidak tahu kalau secepat ini."

"Apa-apaan itu? Jadi, bagaimana sekarang? Kalau benar Kakeknya saja tahu dari asistennya, berarti Annie—"

"Ya. Annie memang belum tahu," sela Eren cepat.

Rasanya saat itu juga Hitch ingin terbang dan mendarat di rumah Eren hanya demi menabok wajahnya bolak-balik, "KENAPA PULA DIA BISA TIDAK TAHU SEMENTARA DIA CALON ISTRINYA!? SI PIRANG PECUNDANG ITU SAHABATMU, 'KAN!? MEMANGNYA KAU TAK BISA MENASEHATINYA UNTUK MEMBERITAHU ANNIE ATAU APA!? JANGAN SEMPAT TINJU SAKTI ALA LETNAN DUAKU BERMAIN DISINI, EREN!" ini dia. Mode iblis penghancur Hitch muncul juga! Ymir cuma cengar-cengir melihat pertengkaran lewat jalur gelombang radio tersebut.

"Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali, tapi ponselnya sedang dalam mode sibuk! Waktu kuminta Mikasa ke rumah mereka untuk memberitahu Annie soal ini sekaligus mengantar sayuran panen pun, Mikasa bilang dia tak bisa mengatakannya!"

"Hah? Kau mengirim Julietmu ke sarang cinta mereka?!"

Hiraukan Ymir yang bergumam 'Sarang cinta?' dengan bingung, karena Eren langsung membalas teriakan gahar Hitch lagi, "Ya! Memangnya kenapa?! Kau ingin protes, Nona Letnan Dua yang terhormat!?"

Hei hei hei...

Kenapa malah bertengkar?

"Lalu katakan padaku! Apa yang dilakukan Julietmu sampai dia tak bisa mengatakannya, tuan ROMEO!?"

"Dia bilang tak bisa menganggu momen mereka! Karena ketika dia sampai disana, waktunya tidak tepat!"

"APANYA YANG TIDAK TEPAT!? APA JULIETMU TIDAK SEMPAT MELEMPARI KEPALA BATU SI BANCI PIRANG ITU DENGAN SAYUR-SAYURNYA KARENA DIA BERLINDUNG DI PUNGGUNG ANNIE!? KATAKAN PADA KEKASIHMU, JENIUS! SEHARUSNYA LEMPAR DIA PAKAI BATU BATA! GIZI SAYUR JUSTRU AKAN MEMUPUK OTAK ARMIN YANG KELEWAT BEGO DAN POLOS ITU!" wah, barbar sekali. Suka, deh! Jangan ada ketenangan di antara kita, Hitch. Meski, tolong. Jangan pamer gigi runcing ala iblis begitu. Dilarang keras!

"BUKAN ITU, BODOH! LAGIPULA KALAU AKU JUGA DISANA, AKU PASTI SUDAH MELEMPAR MOBIL KE KEPALANYA!" situasi makin tak kondusif. Eren juga mengamuk ala Ibu tiri.

"LALU APA!? KENAPA KAU BERTELE-TELE ALA SINETRON 1000 EPISODE YANG TAK ADA UJUNGNYA!?"

"MIKASA MELIHAT MEREKA BERDUA BERPELUKAN DI HALAMAN, SIALAN! KAU DENGAR AKU!? BERPELUKAAAAAAAAAAAAANNNN!" akhirnya terucap sudah sebuah fakta krusial dari mulut Eren dengan volume tinggi, sampai-sampai Hitch menjauhkan telinganya dari ponsel.

Biarkan Eren sejenak mengatur napasnya yang menggebu-gebu. Biarkan Hitch dan Ymir memproses data yang masuk beberapa detik lalu. Berikan mereka beberapa detik untuk menenangkan diri dalam sunyi.

Tidak perlu sebuah komando ala Jenderal, Hitch dan Ymir saling tatap. Bola mata mereka nyaris keluar dari tempatnya. Yup, berlebihan sekali. Namun itu hanya terjadi sementara. Karena kemudian muncul dua tanduk di kepala mereka, ekor runcing di bokong, ditambah sayap hitam di punggung. Intinya? Mode iblis. Mereka tertawa pelan, memamerkan gigi-gigi runcing ala vampir. Tawa jahat itu semakin jahat ketika tahu rencana mereka telah memasuki tahap kedua.

Lumayan. Dengan begini, mereka bisa menggoda Annie habis-habisan. Memang teman terbaik sekaligus teman terlicik.

"Oi, Eren..." panggil Ymir penuh aura-aura busuk.

Eren membalas ogah-ogahan, "Apa?"

"Apakah setelah mereka berpelukan... Annie tidak melakukan apapun pada Armin?"

"Hmm... tidak. Kata Mikasa, Armin buru-buru pergi ke kantor sementara Annie diam mematung. Aku tahu itu, Ymir. Aneh, 'kan? Kita 'kan sedang membicarakan Annie disini. Padahal biasanya dia pasti akan menghajar Armin sampai babak belur..." ah, tawa jahatnya muncul lagi. Kali ini Eren pun bisa mendengarnya. Dirinya spontan berkeringat dingin mendengar tawa ala Nenek lampir itu, "Y-Ymir?" panggilnya sambil berharap semoga orang yang dia panggil masih waras.

Oke, gilanya Ymir berhenti, untuk sesaat kembali normal. Kemudian dia mendekatkan dirinya pada ponsel Hitch. Berkata pelan dengan ide-ide busuk terselubung, "Eren... aku punya ide. Kau dan Mikasa, bantu kami."

Dan rencana jitu duo iblis—err, empat iblis?—pun dimulai.

...

~invisible string chapter seven~

...

.

.

"Hhhh..." Armin menghela napas berat, menegakkan punggung kembali lalu bersandar pada kursi kerjanya. Mata sekaligus otaknya sakit terus-menerus menatap layar laptop yang menampilkan deretan angka dan huruf. Dia pun mendongak menatap langit-langit. Mencoba membayangkan akhir dari proyek yang telah dia terima. Sebuah proyek inventarisasi hutan di benua Afrika.

Setelah berhasil menyakinkan pemerintah Afrika barat, terutama negara Ghana, Armin akhirnya berhasil menanam saham perusahaan pada proyek mereka. Oop, jangan bayangkan penebangan hutan secara liar. Sang ilmuwan muda ini tak sekejam itu pada lingkungan. Dia harus memastikan apakah hutan itu adalah hutan lindung atau hutan produksi. Armin tak bisa membiarkan ekosistem makhluk hidup disana terganggu. Apalagi setelah mendengar bahwa perusahaan lokal akan melakukan deforestasi. Aahh, hati yang begitu suci.

Omong-omong soal terganggu, saat ini pikiran Armin juga terganggu. Bukan karena pekerjaan, bukan karena duo iblis betina, melainkan berkat wajah wanita yang sama yang terus melintas di pikirannya. Siapa lagi kalau bukan Annie? Setelah aksi pelukan beberapa jam lalu, dia jadi terus memikirkan wanita itu.

"Apa yang sedang dilakukan Annie saat ini?" begini gumamnya entah kepada siapa. Namun sesaat kemudian, pria ini menggelengkan kepala. Merutuki imannya yang nyaris runtuh, "Ah! Tidak! Tidak boleh, Armin! Kau harus fokus pada pekerjaanmu! Cepat selesaikan dan kau akan segera melihat Annie lagi—eh?" ternyata pada akhirnya dia tak bisa membohongi keinginan hati, saudara-saudara. Armin pun mengacak-acak rambutnya, begitu frustasi sampai-sampai wajahnya merona (lagi).

"Kkkhhhhhh!" Armin menunduk sambil memegangi kepalanya. Tampangnya depresi sekali. Ah, bukan depresi dalam arti sebenarnya. Dia hanya tak mengerti kenapa bisa merindukan tentara barbar yang membuatnya dulu masuk rumah sakit, "Bodoh! Apa yang terjadi padaku!? Baru beberapa jam aku meninggalkan rumah, aku sudah rindu padanya! Fokus, Armin! FOKUS!"

Tampaknya jampi-jampi ala ahli spiritual tak mempan kali ini. Apanya yang fokus? Fokus pada wajah Annie sih iya. Tubuh Armin juga semakin menegang begitu mengingat sensasi tubuh Annie waktu memeluknya. Yaaah, namanya juga dia masih normal. Penulis ingatkan sekali lagi kalau Armin adalah LAKI-LAKI. Wajar 'kan kalau dia sedikit berpikir 'nakal' soal wanita? Tapi masalahnya adalah 'wanita' disini adalah seekor godzilla betina yang siap membunuhnya jika dia tahu apa yang Armin pikirkan sekarang.

Meski begitu, Armin tak bisa membohongi dirinya, "Tapi...Bagaimana ini? Aku benar-benar rindu. Ya ampun, ini konyol sekali. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya..." lama kelamaan, Armin mulai suka sekaligus tak nyaman pada perasaan barunya ini. Merindukan wajah sangar Annie dalam beberapa jam bukan hobinya, "Lagipula kenapa bisa aku rindu pada gadis muka stoic, barbar, tomboi, dan cuek sepertinya? Arggghh... aku tak mengerti apa yang terjadi padaku!" kembali lagi bocah ini menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Annie sukses membuatnya gila!

Ayolah, Armin. Berhenti keras kepala dan lakukan.

Raih ponselmu dan telpon dia.

"Ck, sial. Aku benar-benar tak bisa berkonsentrasi. Sepertinya memang tak ada jalan lain," beruntung dia mendengar suara hati dari pendukung hubungannya dengan Annie. Armin meraih ponselnya, mencari nomor kontak Annie dari daftar kontak. Dan ketika dia berhasil menemukannya, Armin sebentar berhenti. Dia menarik napas dalam-dalam seolah siap mempertaruhkan jiwa raga.

Armin tak bisa mundur lagi.

"...Aku hanya ingin mendengar suaranya saja..." batinnya jadi malu sendiri selagi berhasil menekan tombol memanggil.

...

...

Sementara itu di rumah Armin...

...

...

"Kapan Armin pulang, ya? Dia memang bilang akan pulang lebih cepat, tapi jam berapa?" disisi lain, Annie malah menyibukkan diri dengan memikirkan 'kapan pulangnya sang calon suami'. Yup, kesibukan baru. Tak ada tujuan, manfaat dan untungnya. Ya, mungkin memang tak ada tujuan, manfaat dan untungnya, tapi dengan memikirkan Armin, hari-harinya jadi lebih bewarna.

Hhhh... dia tak tahu saja kalau sang calon suami juga punya 'kesibukan' yang sama. Manis sekali.

Annie melangkah menuju dapur. Membuka kulkas dan memperhatikan isinya sambil berpikir, "Menu makan malam nanti apa, ya?" mata Annie menangkap daging sapi tanpa lemak yang dia beli di Supermarket. Susu cair, kentang, wortel, juga keju. Seketika dia langsung tahu apa yang akan dia masak malam ini, "Apa sebaiknya aku membuat makanan berkuah yang hangat? Armin pasti lelah seharian bekerja. Mungkin tenaganya bisa pulih jika makan makanan berkuah kental dan bisa menghangatkan tubuhnya," perhatian sekali. Membuat milk soup untuk Armin yang diracik penuh kasih sayang. Meski sedetik kemudian, dia menyadari seberapa besar perhatiannya pada pria itu sampai lagi-lagi wajahnya memerah.

Annie menundukkan wajah. Sorot matanya jadi lembut. Tubuhnya terasa hangat. Jantungnya pun berdetak kencang lagi, "...Sejak kapan aku perhatian pada laki-laki seperti ini?" gumamnya bingung. Sial. Annie tak mengerti. Wajah ini jadi panas setiap kali dia membayangkannya. Ck, menyebalkan.

Tiba-tiba ponsel di saku celananya berdering. Tanpa membuang waktu, Annie segera mengeluarkan ponselnya lalu melihat si penelepon, "Hm?"

Nama Armin tertulis disana. Ya, walau nama kontaknya 'Banci Pirang'.

Cih. Kalau Armin tahu, Annie pasti akan jadi orang pertama yang melanggar peraturan mereka.

"Armin? Kenapa dia tiba-tiba menelepon?" gumamnya. Walau dia memikirkan beberapa kemungkinan, Annie memilih mengangkatnya langsung, "Halo? Ada apa, Armin?"

"Ha-halo, Annie. Apa kau baik-baik saja?"

"Ya. Tak ada sesuatu yang terjadi."

"Be-begitu, ya? Syukurlah..."

Hening menyapa.

...

...

Hanya itu? Tak ada lagi?

"...Kau meneleponku hanya untuk menanyakan itu?" tanya Annie heran dengan kewarasan pria yang akan jadi suaminya ini. Membuang-buang waktu menanyakan hal tak penting bukan sifatnya.

Annie bisa mendengar Armin gelagapan, "Ah, ma-maaf. Aku tak bermaksud mengganggu waktumu. Tadi a-aku hanya... khawatir padamu. I-itu saja..."

Hah?

Armin khawatir padanya?

Padanya yang jelas-jelas sang Kolonel termuda? Komandan batalion? Ajudan Letnan Jenderal Erwin di angkatan darat? Dia dari semua orang?

Sial! Jantungnya kumat lagi! "...Bodoh. Apa yang kau katakan?" cuma ini yang bisa Annie katakan saking salah tingkah.

Apa sih yang Armin katakan? Annie 'kan jadi malu!

"Maaf, Annie! Apa aku membuatmu marah?" Armin pun segera sadar akan perbuatannya di seberang sana. Sebelum dia benar-benar dikirim ke rumah sakit kedua kalinya.

"Tidak. Siapa juga yang marah?" balas Annie pelan, "Aku justru senang..." batinnya malah 180 derajat. Meski kemudian dia langsung mengutuk pikiran anehnya tersebut, "Ah, sial! Lagi-lagi pikiranku!"

"O-ooh..." lagi-lagi hening sebelum kemudian Armin mencoba basa-basi, "Oh ya, omong-omong apa menu makan malam nanti?"

Oke, Annie. Fokus!

Bersikap biasa saja. Biasa saja. Biasa saja. Datar dan cuek seperti normalmu.

"Kalau kau ingin tahu jawabannya, maka jangan lembur malam ini," jawab Annie datar. Huh, tak tahu saja kalau jantungnya masih berdebar-debar ala lari maraton.

"Hahaha, 'kan aku sudah bilang aku akan pulang cepat, Annie. Jadi kita bisa makan malam bersama," tuh 'kan!? Bisa tidak Armin tidak membuat jantungnya berolahraga kesekian kali!? "Tapi... aku lega kau tak apa-apa sendirian di rumah. Kau benar-benar tak kesepian, 'kan? Perlukah aku menghubungi Eren atau Mikasa untuk menemanimu? Atau mungkin Ymir dan Hitch?"

"Tidak, tidak perlu, Armin. Aku baik-baik saja. Terutama jangan panggil dua makhluk yang terakhir kali kau sebut. Karena aku langsung melempar mereka keluar dari rumah ini begitu mereka menginjakkan kaki disini," Annie dengan cepat menolak saran Armin. Yang benar saja mengundang Ymir dan Hitch ke rumah mereka! Hari-hari tenang malah bisa berubah jadi kerusuhan bak demonstrasi. Ide buruk.

"Hahaha! Baiklah, baiklah. Kalau begitu, jika kau bosan, tak masalah berjalan-jalan sebentar. Cukup katakan padaku kemana kau pergi dan kapan pulang."

"Iya, aku tahu. Tapi saat ini aku sedang tak ingin berjalan-jalan..."

"Begitu, ya?"

"...Bagaimana pekerjaanmu?" topik kedua dimulai dengan pengalihan dari Annie. Ya, dia tak bisa memungkiri kalau dia masih ingin mengobrol dengan Armin.

Terdengar helaan napas panjang dari seberang, "Semuanya baik-baik saja. Aku bisa mengatasinya. Meski tadi kepalaku sedikit pusing karenanya..." Armin terdiam sejenak sebelum berkata lagi, "Ternyata setelah mendengar suaramu, aku jadi mendapat tambahan tenaga. Terima kasih... Annie..."

Deg deg.

"Eh?" Annie bengong. Memutar ulang kalimat dari Armin supaya memastikan dia tidak salah dengar, "Ke-kepalamu terbentur sebelum ini, ya? Ke-kenapa kau tiba-tiba bicara aneh begitu, hah?" si Kolonel muda angkatan darat Eldia mencoba ingin membentak, namun gagal. Malah dia terdengar gugup sekaligus malu luar biasa.

Hei, ada apa dengan hubungan mereka ini!?

"Oh! I-itu..." Annie bisa mendengar pula nada suara Armin yang bergetar, "Ma-maaf, a-aku...A-aku sendiri tidak tahu. Tiba-tiba aku ingin mendengar suaramu, Annie. Apa... aneh?"

Cukup.

Berhenti menyiksa jantung Annie, Armin. Tolong diam saja, lakukan pekerjaanmu, dan biarkan jantung Annie beristirahat dulu.

Apa-apaan ini? Mereka berdua saling kikuk sekarang. Annie menutup kulkas di hadapannya, memilih duduk bersandar pada pintunya. Membenamkan wajah ronanya pada lututnya yang terangkat. Sementara Armin mengacak pelan rambutnya dengan kaku. Diam-diam pria ini bersyukur Annie tak bisa melihat seluruh wajahnya yang sukses memerah hebat sekarang.

Dalam kondisi seperti ini, Annie tak tahu harus membalas apa. Dia benar-benar malu sekaligus senang. Pertama kalinya Armin terang-terangan mengatakan ingin mendengar suaranya. Bukankah itu artinya dia sedang merindukannya? Menyebalkan. Annie tak tahu jika dirindukan rasanya seperti ini, "Iya, aneh. Kau memang aneh."

"...Maaf."

"Aneh. Dasar aneh. Kau ilmuwan teraneh yang pernah kutemui."

"Hahaha..."

"...Bodoh..."

"...Annie..."

"..Apa?"

"Aku sebenarnya masih ingin mengobrol denganmu, tapi... aku harus melanjutkan pekerjaanku. Tak apa kita lanjutkan pembicaraan kita saat aku pulang?"

Ah, perasaan apa ini? Perasaan hangat tiba-tiba berubah jadi sedikit dingin. Namun Annie memilih menghiraukannya. Dia harus mengerti, bukan? Armin adalah pemimpin perusahaan. Annie tak boleh egois dan harus memberi ruang pada—ehem—calon suami untuk bekerja keras, "O-oh, baiklah. Aku mengerti."

"Kalau begitu, sampai nanti, Annie," ujar Armin.

"Hn..."

Telepon pun terputus.

Dalam keheningan hangat tersebut, Annie memegang dadanya, merasakan detak jantungnya sekali lagi.

Baiklah, dia harus berhenti keras kepala sekarang. Mau sampai kapan dia mengelak dari perasaan barunya ini? Lagipula ini bukan kali pertama Armin membuat dirinya merasakan sesuatu yang asing baginya. Annie bukanlah orang bodoh. Dia pernah mendengar gejala seperti ini dari teman-temannya, baik itu Ymir atau Hitch. Ataupun dari teman-teman masa sekolahnya setiap kali membicarakan laki-laki.

Annie sudah sering memperhatikan penampilannya. Dia yang selalu memakai hoodie polos yang terkesan tak menarik itu, jadi sering memakai pakaian lebih bewarna, rapi, bahkan terkadang menggerai rambutnya. Tentunya itu juga dapat pujian yang membuatnya merasa senang luar kepalang—dalam hati pastinya—dari Armin.

Selalu penasaran dengan apa yang Armin lakukan.

Mudah rindu padanya.

Jantung berdebar kencang setiap kali di dekatnya.

Selalu memikirkannya meski dipisah jarak beberapa kilometer.

Mungkinkah...

Mungkinkah Annie...

"...Apa aku... sedang jatuh cinta?"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: TIDAK ADA KATA SELAIN REVIEEEEEEEEWWW!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!