You're The Inspiration by Chicago
Kagome menatap wajah wanita paruh baya terbaring di rumah sakit. Mata gadis kuil sembab oleh air mata. Jemari nan lentik menggenggam erat tangan sang ibu.
Kagome menatap sekeliling kamar. Ruang VVIP menurut Kagome agak luas. Tidak berbagi kamar mandi dengan pasien lain. Hanya mama dan dirinya saja di kamar. Gadis itu terhenyak, sebuah tepukan lembut di bahu. Kagome mendongak. Manik kebiruan bertemu safir emas. "Sesshoumaru, tadi kemana? Kok lama?"
"Sesshoumaru ini ke administrasi," jawabnya pelan agar suara beratnya tidak membangunkan Nyonya Higurashi.
Alis Kagome terangkat. "Ngapain?" Sesshoumaru menyerahkan print out biaya rumah sakit. Hampir saja Kagome memekik. Matanya membulat, "I-ini mahal sekali. Tidak bisa, ayo ganti kamar lain," ajaknya. Namun, tangan gadis itu ditahan.
"Kenapa, Sesshoumaru?" Protes Kagome.
Lalu Sesahoumaru menuntun Kagome ke sofa. Tangan kanan menepuk sofa agar gadis itu duduk di sebelahnya. "Kau fokus saja merawat mama mu. Masalah biaya, kau tidak usah pusing."
Pemilik mata indah kebiruan membelalak. "Bagaimana tidak usah pusing? Lihat," Kagome menunjuk angka yang tertera di sana. "Nol nya banyak."
"Kecilkan suaramu," tegas Sesshoumaru dingin. Melihat asistennya diam seketika, pria itu melanjutkan perkataannya.
"Aku yang bayar."
Rahang Kagome terjatuh sangat tidak elit. Semudah itukah kata-katanya barusan. 'Aku Yang Bayar'. Pria macam apa dia?
Kagome pernah mendengar gossip di kampus mengenai pria di sebelahnya. Katanya Sesshoumaru berasal dari keluarga berpengaruh di Tokyo bernama Inu No Taisho. Terus katanya punya banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri, salah satunya peternakan kuda di Hokkaido Jepang.
Kagome jadi teringat akan perkataan Sango, teman sekelasnya. Walau anak dari keluarga terpandang, Sesahoumaru tetap memilih hidup sewajarnya. Salah satu yang membuat terlihat kaya adalah mobilnya S-Class hitam metalik. Tidak heran kakek sangat mengenal keluarga Taisho. Pak tua pernah cerita ibunya Sesshoumaru berkunjung ke kuil tiap rabu, tapi tidak ditanggapi oleh Kagome.
Kesimpulannya, ibunya Sesahoumaru sering berkunjung ke rumah sakit Nagoya, sekalian mampir ke kuil Higurashi. Oh begitu rupanya. Mulutnya membulat sambil mengangukkan kepala.
Memang dasar Kagome suka TelMi alias telat mikir. Kudet alias kurang update. Gadis itu baru tahu siapa Sesshoumaru. Yang membuat Kagome heran tak habis pikir, kenapa dia malah memilih menjadi dosen di Universitas Tokyo? Kenapa tidak memilih mengelola perusahaan keluarganya? Kan enak tinggal tunjuk ini tunjuk itu. Jentik jari langsung jadi.
"Jangan-jangan rumah sakit di Nagoya milik keluargamu, ya?" Timpalnya asal.
"Iya, kau benar."
Mulut Kagome makin menganga lebar. Gila! Pria macam apa dia ini? Masa sih? Mana mungkin?! Sepertinya kekayaannya sampai tujuh turunan enggak ada habis-habisnya. Tunggu, kepala Kagome mulai berdenyut. Tentu saja, tingkahnya diamati oleh Sesshoumaru. Gadis manis itu menjadi salah tingkah.
"Hm, ano, Sesshoumaru," panggilnya pelan. Wajah pria itu tetap datar. "Aku mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu. Nanti, kalau Mama sudah sembuh, kami akan menggantikan uangmu."
Sesshoumaru menyentuh punggung tangan Kagome. Ah, telapak tangan nan hangat. "Tidak usah."
Kagome menggeleng pelan. Gadis itu berdiri, kakinya melangkah menuju jendela. Kota Nagoya dihiasi aneka lampu warna warni. Tempat tinggalnya. Dia tahu pria itu berjalan mendekatinya. Dan kini berdiri di samping. Pandangannya lurus ke depan.
"Apa yang kau takuti?"
"Karena aku berhutang padamu." Kagome langsung pada intinya.
Mereka saling berhadapan. Safir emas menatap lekat-lekat pemilik mata biru laut. Kedua telapak tangan Sesshoumaru memegang pundak si gadis kuil. "Kau tidak berhutang padaku," ujarnya pelan.
Kagome menggeleng. "Tidak, Sesshoumaru. Hutang adalah hutang," gadis itu tetap kukuh bersikeras. "Aku sangat berterima kasih dan semoga Kami-Sama membalas kabaikanmu."
Sebuah senyum tulus terukir di bibir Kagome.
Sesshoumaru terpana, seakan tersihir oleh si pemilik senyuman manis. Putra Inu Taisho sangat menyukai apabila gadis manis itu tersenyum. Senyum malu-malu ditambah wajah merona itu menggoda imannya. Keinginan untuk menyentuh. Inginnya sih begitu, kalau tidak ada suara lirih dari balik kelambu.
Kagome bergegas melihat kondisi sang mama. Sedangkan Sesshoumaru hanya menghela napas. Sabar, sabar, ini ujian. Harus sabar menaklukkan perempuan ini. Laki-laki itu pun menyusulnya.
"Mama!" Kagome memeluk mama erat sambil tersedu-sedu.
"Kagome, kenapa Mama ada di sini?" Ucapnya lirih. Berusaha untuk bangun namun dicegah oleh Sesshoumaru.
"Sesshoumaru ..."
"Nyonya jangan banyak bergerak."
Menurut, Nyonya Higurashi kembali berbaring. Mata Kagome basah air mata. "Mama ..." Gadis itu terus menangis memeluk erat mamanya.
Sesshoumaru tertegun pada adegan ibu dan anak di hadapannya. Tangan kanan menjulur membelai rambut hitam Kagome. Namun, urung dia lakukan karena mamanya sedang menatapnya. Bukan tatapan marah, melainkan anggukan setuju.
Mendapat lampu hijau dari Nyonya Higurashi, sudut bibir Sesshoumaru terangkat sedetik saja. (Iya sedetik, jangan banyak2 ntr pingsan). Tangannya kembali menjulur untuk mengelus pemilik rambut legam si gadis dengan lembut dan penuh penghayatan.
Tiga hari kemudian, Mama sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Di dalam mobil sedan hitam, berkali-kali Nyonya Higurashi tetap akan membayar biaya rumah sakit, Sesshoumaru hanya berkata, "Tidak usah," jawabnya singkat.
Kagome duduk di depan jadi tidak enak hati. Sebenarnya mereka tidak punya uang sebanyak itu. Ada, tapi kan untuk keperluan dan biaya sekolah Souta. Untungnya Kagome mendapat beasiswa jadi uang kuliah ditanggung oleh Todai. Dia hanya membayar apartemen murah, biaya makan, listrik, air dan keperluan tidak terduga. Itu pun diirit-irit. Daripada banyak jajan lebih baik masak agar menghemat dan bisa menekan pengeluaran.
Selama menjadi asisten dosen, Sesshoumaru juga menggajinya tiap bulan. Lumayan besar pendapatannya dan itu setimpal dengan kerja keras. Namanya juga Kagome, tetap hidup hemat. Baginya, dia bisa membantu dan meringankan beban mamanya. Kagome sangat bersyukur, tak sia-sia pria datar itu menerornya tiap subuh. Ya you know lah, Kagome susah bangun pagi.
"Kita sampai."
Suara baritone bikin hati adem memecahkan lamunan Kagome. Mengangguk, gadis itu menurut saja apa yang diperintahkan Sesshoumaru. Sedangkan laki-laki itu menggendong wanita paruh baya di belakang punggungnya. Kedatangan mereka disambut teriakan histeris Souta dan kakek. Tentu saja tetangga sebelah ikut mengerumuni mereka. Berbagai pujian dilekatkan untuk Sesshoumaru dari kerabat sebelah rumahnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Sesshoumaru hanya mengangguk dan terus melangkah masuk ke dalam rumah. Kalau mereka tahu, hati pria dingin itu berdegup kencang, tapi itu tidak akan terlihat didukung wajah stoic nya.
Setelah para tetangga sudah pulang, Sesshoumaru membelikan mereka makanan untuk makan malam. Sengaja emang, karena dia tidak mau gadis itu kelelahan. Mengingat Kagome sudah banyak membantunya.
Sesshoumaru duduk di teras samping kediaman Higurashi. Di telinganya sudah terpasang earphone. Alunan musik lembut membuat manik amber Sesahoumaru terpejam.
You know our love was meant to be
The kind of love that lasts forever
Andi want you here with me
From tonight until the end of time
Amber Sesshoumaru masih terpejam, menghayati tiap kata.
You should know, everywhere I go
You're always on my mind, in my heart , in my soul
Sesshounaru tetap memejamkan kedua safir emasnya. Dia merasakan suara langkah kaki mendekatinya. Sudah pasti ...
"Sesahoumaru," gadis itu sudah berganti pakaian sweater pink dan celana gombrang berwarna biru. Tangannya menyodorkan teh hangat. Pria itu menerima ulurannya.
Dari balik headset Sesshoumaru, Kagome dapat mendengar sayup-sayup musik yang menyejukkan. Lagu yang membuat orang akan jatuh cinta. Manis dan penuh makna.
"Chicago! Aku suka karyanya," ujarnya antusias. Dia sangat hapal bagian reff nya dan bibirnya bersandung mengikuti alunan lagu.
Baby, You're the meaning in my life
You're the inspiration
You bring feeling to my life
You're the inspiration
Wanna have you near me
I wanna have you hear me say it
No one needs you more than I need you
Pada kalimat terakhir Kagome menatap wajah tampan Sesshoumaru dan dibalas dengan tatapan menyejukkan.
"Ayo kita nyanyi sama-sama."
"Kau saja." Sesshoumaru memasang earphone ke telinga kiri Kagome.
And I know, and I know, yes I know that it's plain to see
We're so in love when we're together
Now I know,now I know, that I need you here with me
From tonight until the end of time
Kagome menyanyi penuh penghayatan. Diam-diam Sesshoumaru memandang gadis di sisinya dengan takjub. Senyum tipis putra Inu Taisho terukir.
"Kau sangat tampan apabila tersenyum. Sering-seringlah," goda Kagome. Ketika bernyanyi telapak tangan kirinya menggenggam tangan kokoh Sesshoumaru dan mengayunkan kiri ke kanan mengikuti irama lagu.
Sesshoumaru tetap seperti biasa dengan gaya andalannya, seperti patung, hanya tangannya saja yang bergerak karena digenggam Kagome. Pria bersurai silver itu menatap gadis di sampingnya.
when you love somebody
'till the end of time
when you love somebody
always on my mind
You're the inspiration secara tidak sadar akan mengikat mereka berdua. Sesshoumaru membalas genggaman gadis manis dengan erat seolah tidak mau lepas begitu saja. Hanya gelas yang memisahkan jarak mereka.
"Kau inspirasiku Kagome," bisiknya.
"Hah? bicara apa barusan?"
Sesshoumaru menghela napas. Padangan lurus ke depan. "Tidak."
TBC.
Selingan percakapan ibu dan anak.
Inukimi: Woahhh so sweet!
Aiko: tengkyuu Kanjeng mami.
Inukimi: kapan aku ditampilkan?
Sesshoumaru: kapan-kapan.
Inukimi: jahara! (Inukimi merajuk)
Sesshoumru: Bu
Inukimi: tapi bo'oong
Sesshoumaru: Aiko, ibuku ini g usah tampil sekalian sampai tamat!
Inukimi: heyyy
Aiko: wakakaakkakaka
Sekali lagi terima kasih banyak untuk Ame chan. Pelooookssss. Entah apa yang merasukiku saat ini cerita di bab ini manis sedap asin ramai rasanya. Hubungan mereka sudah mulai kelihatan nih. Kayaknya Bang Sesshy kudu bersabar dapetin Kagome.
Guest, terima kasih. Iya Kagome bucinnya Pak Sesshoumaru. Wakakakkakaka
Sedikit cerita aja, bahwa bab ini aku bikin penuh penghayatan. Sebenarnya aku lagi sedih, terus nangis. But justru itu langsung aku tuangkan ke dalam cerita ini. Entah ini sweet atau kurang, semoga kalian suka.
Arigatou gozaimasu *bow*
