Disclaimer: Gundam SEED (dan GSD) beserta seluruh karakternya tentu bukan milik saya.

Warning: AU, OOC, office life ribet, mainly Asucaga pairing.

Chapter 7


Sekali lagi Cagalli memandang lurus jalanan Heliopolis Central dari dalam tumpangannya, sebuah sedan mewah milik pemuda dingin di sebelahnya. Sudah dua menit mereka berkendara bersama, namun belum ada kata yang terucap dari keduanya.

"Haruskah aku membuka pembicaraan? Tapi stasiun sudah dekat. Lagipula untuk apa juga aku beramah-tamah dengan orang ini?" Cagalli tetap saja mempertimbangkan banyak hal, meski sekilas ia terlihat duduk tenang.

"Bagaimana Tuan Uzumi Nara Athha?"

Tanpa diduga, sang pemuda di balik kemudi justru memecah keheningan lebih dulu. Pertanyaan mengenai ayah Cagalli meluncur dari mulutnya. Entahlah itu hanya basa-basi atau memang murni ingin tahu.

"Bagaimana kabarnya, maksudmu? Baik. Ayahku masih di Onogoro," jawab Cagalli, jika memang itu pertanyaan yang dimaksud oleh lawan bicaranya.

"Oh," timpal Athrun singkat. Basa-basi sungguh bukan keahliannya.

"Orangtuamu sendiri bagaimana? Nyonya Lenore Zala masih aktif di televisi nasional, bukan?" Cagalli balik bertanya.

"Ya. Ibu dan Ayahku berada di Heliopolis, tapi kami tidak tinggal bersama," jelas Athrun. Genggaman tangannya pada kemudi makin erat. Hanya saja Cagalli tidak menyadarinya.

"Oh," timpal sang gadis pirang tak kalah singkat.

Tanpa perlu waktu lama, sedan mewah Athrun menepi di area drop off depan Stasiun Heliopolis Central. Cagalli mengucapkan terima kasih dengan singkat-padat-jelas, kemudian melangkah keluar dari mobil tanpa menoleh ke belakang.

.

.

.

Cagalli membuka matanya. Pagi ini ia terbangun sebelum alarmnya berbunyi. Entah mengapa bisa begitu, dirinya sendiri tidak tahu. Padahal semalam ia baru sampai di rumah bibinya ketika sudah larut malam.

Sang copywriter merasa beruntung bisa bangun pagi tanpa gangguan sakit kepala akibat pengar. Keputusannya untuk tidak menyentuh alkohol semalam sungguh tepat. Ditambah lagi, kali ini ia tidak titip pesan pada Kira untuk membangunkannya. Untunglah ia berhasil bangun sendiri tanpa hambatan.

Persiapan ke kantor sudah selesai. Payung lipat motif polkadot telah diamankan dalam tas. Kini Cagalli menghampiri meja makan untuk menyantap sarapan bersama bibi dan pamannya.

"Selamat pagi, Bibi, Paman," sapa Cagalli sembari menarik kursi.

"Selamat pagi, Cagalli. Maaf ya, semalam kami sudah tidur. Untung kau punya kunci duplikat. Perjalanan pulangmu aman?" tanya Caridad. Dengan sigap tangannya menyerahkan piring berisi sarapan pada keponakannya.

"Ya, syukurlah semua aman. Lagipula ada yang mengantarku sampai stasiun dekat kantor," jawab Cagalli tanpa menyebutkan siapa telah yang mengantarnya.

"Bagus sekali. Bersosialisasi di tempat kerja memang penting," Haruma tersenyum menimpali.

"Haah… Andai saja Kira mau berkarir di kantor sepertimu. Bibi khawatir ia kurang berkembang kalau terus bekerja dari rumah. Apalagi ritme hidupnya juga tidak baik untuk kesehatan," kekhawatiran terdengar jelas dari suara Caridad. Tangannya kini menopang pipi.

"Tidak apa-apa, Bibi. Orang-orang sebayaku dan Kira banyak kok, yang bisa sukses dari freelance. Pengalamannya tetap banyak. Network-nya juga luas. Yang penting Kira senang dan tetap sehat," Cagalli mencoba menenangkan bibinya. Sebenarnya ia sadar kebiasaan bergadang sepupunya memang tidak baik. Hanya saja tidak ada kata-kata lain yang lebih baik untuk disampaikan.

.

"Selamat pagi, Milli!" Cagalli mencolek teman sebelah mejanya sembari meletakkan tas kerja dengan semangat. Tentu saja mood-nya sedang bagus, pagi ini ia tidak terkena hambatan apapun untuk mencapai kantor. Blouse yang dikenakannya masih terlihat rapi, pertanda hujan tidak turun pagi itu.

"Hei, hei, kenapa kau tidak balas chat-ku?" alih-alih menjawab sapaan, sang teman sebelah justru menodong Cagalli dengan pertanyaan.

"Chat apa?" Cagalli berusaha mengingat. Lirikan mata ambernya beralih ke sudut langit-langit kantor. Pikirnya mungkin saja ia tak sengaja menggeser notifikasi chat yang masuk, karena tidak ada bunyinya. Memang belakangan ini smartphone Cagalli sering berada dalam mode senyap. Mungkin juga chat dari Miriallia 'terkubur' oleh barisan chat promosi brand.

"Coba saja cek aplikasi chat-mu!"

Seruan Miriallia membuat Cagalli memeriksa aplikasi yang dimaksud di smartphone miliknya. Benar saja, sang gadis pirang menemukan bilah chat bertuliskan nama kontak temannya bersisian dengan banyak angka unread. Sungguh terkejut Cagalli saat membukanya.

HG Milli

21.35 | Sekali lagi maaf, aku pulang duluan :'(

21.35 | Hati-hati di jalan!

21.36 | Btw kau belum cerita padaku tentang apa yang terjadi selama kau pergi makan siang dengannya. Kutunggu ceritamu!

21.58 | CAGALLIIII apa kau melihatku?

21.58 | Aku dan Dearka sedang melintasi jalan depan gerbang stasiun.

21.58 | Kulihat ada orang yang mirip denganmu, baru saja turun dari mobil mewah. Apa aku salah lihat?

21.59 | [Foto]

21.59 | Kurasa itu benar kau...

21.59 l Kau diantar oleh si cowok dingin itu?

22.00 | Kok bisa? Apa dia bilang suka padamu karena tahu namamu?

22.00 | (alasan macam apa itu, LOL)

22.00 | Aaah pokoknya kau berhutang cerita padaku!

Cagalli menutup aplikasi chat. Ibu jari tangan kanannya menekan tombol lock di sisi smartphone.

"Ya, benar. Orang yang kau lihat semalam adalah aku," lanjut Cagalli. "Tapi kau ini paparazzi atau apa, sih?"

"Tuh, kan! Makanya nanti cerit-" Miriallia buru-buru menutup permintaan, atau lebih tepatnya desakannya, saat sosok pemuda bermata emerald datang menghampiri area kerja Senior Copywriter.

"Selamat pagi, Athrun!" sapa Miriallia. Cagalli yang merasa sedikit berhutang budi pada sang pemuda pun merasa perlu menyapanya.

"Pagi…"

Sudah kebiasaan, Cagalli menjaga eye contact setiap kali menyapa orang lain. Tanpa sadar pandangannya memindai penampilan Athrun. Hari ini sang Zala muda tampil memukau dengan setelan blazer dan celana chino. Aroma parfum mahal yang maskulin tercium meski dari jarak cukup jauh.

"Pagi," sahut Athrun singkat.

.

Sedikit banyak Cagalli penasaran kalau-kalau sikap Athrun akan berubah semenjak interaksi mereka sehari sebelumnya. Namun sepertinya tidak banyak yang berubah. Aura kaku masih menggelayutinya. Hanya saja kali ini sang pemuda tidak menegur saat Miriallia memutar musik.

Matahari sedang beranjak ke posisi tertinggi ketika sebuah email dari Mwu masuk ke folder Inbox seluruh anggota Divisi Marketing.

Dalam emailnya, Mwu menyampaikan update dari pihak Dominion Space. Pihak tersebut ingin campaign kerjasama mereka menampilkan KOL (Key Opinion Leader), atau yang kurang lebih bisa disebut sebagai influencer. Mwu ingin semua mencari informasi tentang siapa saja influencer yang sekiranya cocok. Batas waktunya sampai jam kerja hari ini berakhir.

Dahi Cagalli berkerut. Sebenarnya ia tahu cukup banyak influencer yang sedang naik daun. Tapi, yang cocok? Sepertinya pekerjaannya hari ini akan didominasi kegiatan menelaah informasi para influencer satu demi satu.

.

Rasa lapar mulai menyerang perut Cagalli. Mata ambernya melirik ke penunjuk waktu di sudut monitor laptopnya. Pantas saja, sudah tinggal dua menit menuju waktu makan siang. Beberapa pegawai Haro Green terlihat mulai berlalu-lalang, mengambil ancang-ancang untuk perjalanan makan siang masing-masing.

Cagalli merogoh ke dalam tasnya untuk mengambil dompet. Kemudian tak lupa diaturnya laptop ke dalam mode sleep. Belum sempat dirinya menangkupkan monitor, tiba-tiba saja sebuah gerakan cepat menyergap lengan kanannya. Sergapan dari tangan Miriallia.

"Kau sudah janji kan, akan mendengarkan curhatku tentang Dearka? Ayo ikut!" seru sang gadis berambut coklat melenting, sengaja menaikkan volume suaranya. Tangannya masih menyeret teman pirangnya yang wajahnya dipenuhi keheranan.

Miriallia melepas cengkeramannya dari lengan Cagalli sesampainya mereka di dalam lift. Kebetulan hanya ada mereka berdua.

"Tentu saja bohong. Aku bilang begitu supaya tidak harus mengajak siapapun makan siang bersama kita. Terutama Athrun! Karena aku mau kau cerita selengkap-lengkapnya," jelas Miriallia.

"Ya ampun, Milli. Aku kan kaget! Kukira aku melewatkan sesuatu lagi, seperti soal chat semalam. Atau kukira kau ada masalah dengan Dearka," ujar Cagalli. Meski bernada protes, sesungguhnya ia cukup lega.

"Iya, maaf. Lagipula walaupun Dearka sering menyebalkan, tapi kami lovey dovey terus!" Miriallia lagi-lagi memamerkan kebahagiaannya. Cagalli yang terlalu sering mendengar kisah kasmaran temannya itu hanya bisa menyeringai kosong.

.

"Sini! Di sini!" Ssigh melambaikan tangan dari balik sebuah meja makan panjang.

Cagalli menatap Miriallia dengan tatapan 'apa-apaan ini', sementara yang bersangkutan hanya terkikik sambil menutup mulutnya.

Tanpa sepengetahuan Cagalli, Miriallia dan Ssigh sudah mengatur agar mereka bertiga bisa berbincang secara eksklusif. Karena itulah lokasi makan siang mereka hari ini bukan di kantin gedung, melainkan di sebuah kantin sederhana di belakang Archangel Building. Entah dari mana teman-teman Cagalli mendapat informasi tentang keberadaan tempat ini.

Setelah menempati tempat duduknya, Cagalli tertegun memperhatikan sekitar. Rasanya memang tidak mungkin orang se-berkelas Athrun bersedia makan di kantin sederhana yang sudah seperti warung makan ini.

"Makan siang di mana ya, dia? Apa dia sendirian?" hati Cagalli bertanya. Seakan tersadar dari hipnotis, sang gadis pirang langsung menggelengkan kepalanya.

"Kenapa juga harus aku pikirkan?!"


A/N

Loh jadi ini siapa yang tsundere? #nanyasendiri

Chapter ini rasanya agak singkat ya. Lokasinya aja yang banyak...

Seneng juga bikin cerita di mana Cagalli punya temen-temen seumuran ^^

Terima kasih untuk kalian yang udah baca! Nantikan chapter berikutnya yaa!