Sekitar pukul 2 dini hari, Naruto terbangun. Ia menyadari Kuroka tidak ada di atas tubuhnya lagi, tubuh bagian bawah Naruto kini tertutup oleh selimut tipis yang tersedia di hotel, dengan penis yang masih setengah tegak di bawah sana.

Naruto bangun dan bersandar di kepala ranjang, untuk sesaat ia mencoba memproses semua rentetan kejadian yang ia alami sebelum tertidur.

—Tapi satu kata kunci yang ada di benaknya, Kuroka. Dengan raut kesepiannya, terlintas di pikiran Naruto.

Sayup terdengar di saat lamunannya gemericik air, suara khas shower dinyalakan. Sontak Naruto menoleh ke arah kamar mandi yang di sediakan di kamar hotel, pintu yang terbuat dari kaca menampilkan bayangan buram sesosok tengah berdiri menikmati percikan air hangat.

Naruto tersenyum sekilas. Semua telah dilalui. Ia hanya mampu bertindak segaris dengan apa yang diawali. Jika ia telah menyukai dan menghamili istri temannya, yang harus diperbuat ialah melanjutkan dan menjalaninya. Siapapun yang tersakiti itu tidak menjadi urusannya, yang penting ia hatinya tenang.

Perlahan Naruto bangkit, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Ia berusaha sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara saat masuk ke kamar mandi, berjalan dengan pelan menghampiri sosok wanita yang sedang asik mengusap tubuhnya.

Tubuh telanjang itu berhasil sekali lagi membangunkan 'naga' kecil Naruto, ia selalu memuji Tuhan yang telah menciptakan karya indah tersebut. Naruto meletakkan tangannya pada dinding, mengurung wanita telanjang itu dalam kukungannya, penis tegak Naruto sampai menyentuh punggung wanita yang tingginya sebanding bahu Naruto.

"Boleh aku bergabung?" Bisik Naruto pada telinga Kuroka. Ia merasa nadanya mulai melembut pada si wanita, padahal sebelumnya tiada emosi yang tersirat di setiap perkataan.

—Ketulusan. Itulah yang Naruto rasakan. Jika sebelumnya ia hanya mengharapkan kepuasan birahi, sekarang ia ingin puas jasmani dan rohani bersama sang wanita.

"Bukankah seharusnya bertanya saat kau masuk?" Kuroka berujar, tapi ia tidak menoleh menghadap Naruto.

"Jika begitu aku tidak bisa memberikanmu kejutan bukan?" Naruto memindahkan tangannya, merangkul sosok wanita di depannya dari belakang.

—Satu tangan merangkul perut, satunya lagi menyentuh dagu, mengarahkan wajah manis itu ke belakang, lalu mengecup bibir Kuroka.

Di bawah pancuran air hangat shower, mereka berciuman mesra. Tiada nafsu tersirat pada ciuman mereka, saling menikmati suasana tenang dengan mata terpejam. Meskipun Kuroka merasakan penis Naruto menggeliat di punggungnya, ia tetap memejamkan mata.

"Setelah ini gimana hubungan kita selanjutnya?" Ciuman itu bertahan selama satu menit, sebelum Naruto mengakhirinya, ia kemudian memperat pelukannya, cuman satu tangan melingkar di perut dan satunya lagi di payudara Kuroka. Dagu ia taruh di kepala bermahkota hitam itu, dan berbisik lirih.

"Teman seks?" Ujar Naruto menyambung pertanyaannya.

"Aku kan sudah memiliki suami, memang hubungan seperti apa yang kau harapkan dariku?" Kuroka menarik senyum saat ia melontarkan dengan nada mengejek, seolah tersirat di kalimatnya, 'Bukankah kau hanya memperlakukanku sebagai pemuas nafsu?'

"Tapi kan tadi kau memintaku untuk bertanggung jawab?" Naruto merasa agak aneh sekarang, ia seakan merasa sakit jika ia tidak memiliki Kuroka seutuhnya.

"Itukan jika aku hamil,"

"Kalau begitu akan kupastikan kau hamil anak-ku!" Nada Naruto terdengar tegas, dan entah kenapa Kuroka merasa senang dengan sikapnya. Sebelumnya jika penis Naruto menyentuh tubuh Kuroka, nafsunya pasti akan memuncak.

Begitu pula dengan Naruto, yang mulai lebih lembut terhadap Kuroka, sebelumnya ia bahkan berani menarik puting susu wanita tersebut, namun sekarang ia lebih lembut mencubit dan mencolek sekaligus meremas payudara Kuroka.

Bercampur dengan suara gemericik air, desahan lembut Kuroka mulai terdengar. Gejolak birahi nya mulai terpancing saat Naruto mulai lebih sedikit kasar, jemari lentik Naruto begitu ahli bermain di tubuh Kuroka hingga ia merasa geli dan nikmat secara bersamaan.

"Uhk!" Puncaknya ketika telunjuk Naruto menusuk ke dalam vaginanya, diselingi beberapa jari yang bermain di sekitar bibir vagina Kuroka, mengubah desahan halus menjadi suara serak yang tertahan.

"Lepaskan saja Kuroka! Sebagai pria aku janji akan memenuhi semua kebutuhanmu; saat kau resah aku mohon ingatlah aku!" Bisikan Naruto terngingang di pikiran Kuroka yang mulai kosong, secercah nama dihatinya kini tergantikan oleh Naruto.

"Ya~a!" Sepintas mengenang yang berlalu, Kuroka berasal dari wilayah perdesaan. Suaminya juga berasal dari desa yang sama, tapi berkat kepintaran sang suami ia berhasil masuk Perguruan tinggi, dan bekerja di perusahaan ternama.

Kuroka yang seorang yatim piatu dengan seorang adik sebagai tanggungan merasa keputusannya menikahi sang suami adalah pilihan terbaik.

—Sekarang biar bagaimana pun kehidupannya telah berubah, adiknya juga bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Cinta yang tumbuh untuk sang suami hanya sebatas rasa syukur.

Disebabkan sang suami sibuk mengurusi pekerjaan ia pun jarang mendapatkan perhatian yang lebih, palingan mereka hanya bisa menghabiskan waktu menjelang tidur, sesekali berbincang itu pun keluhan sang suami soal pekerjaannya.

—Tak heran Kuroka merasa frustasi oleh kehidupan rumah tangganya. Di situlah Naruto muncul, memberikan apa yang ia butuhkan.

Kuroka berbalik, menghadap Naruto. Pria itu tertegun saat melihat senyuman cerah dari Kuroka, setelah melihat raut kebahagian Kuroka, entah kenapa ia ingin sekali menjaga senyuman itu tetap ada di wajahnya yang manis.

Sesaat, bibir mereka kembali menyatu, Naruto mendorong tubuh Kuroka menyandar pada dinding, di bawah terpaan air hangat mereka berpacu liar, saling melumat lidah masing-masing.

Kuroka meremas singkat penis Naruto, biasanya ia akan selalu mengocok penis itu untuk sesaat, tetapi sekarang ia hanya meremas nya manja. Naruto pun begitu, ia seakan mengerti keinginan Kuroka, spontan lengan kekar miliknya mengangkat lutut kiri Kuroka.

—Penis Naruto siap di hadapan lubang vagina Kuroka. Mereka terus berciuman, meskipun Naruto mendorong masuk penisnya memenuhi tubuh Kuroka.

"Uhk!" Desahan Kuroka tertahan oleh bibir Naruto, saat sang penis mulai memacu di dalam senggemanya, rasa panas air dan penis Naruto seakan menyatu, merangsang tubuh Kuroka, seketika pikirannya kembali kosong.

Plok! Plok! Plok. Gemericik air tak menghalangi suara benturan kulit dua sejoli tersebut, deru napas masing-masing juga bercampur, berhembus di wajah pasangan menambah gairah mereka untuk lebih tenggelam dalam jurang kenikmatan.

" Puah... Hooh! Aku cinta kamu Naruto," Kepala Kuroka yang kosong mungkin hanya di isi oleh Naruto saat ini, ia tak ingin kehilangan si pria kuning itu.

Naruto seakan terpacu oleh ucapan Kuroka, ia kemudian mengangkat lutut Kuroka yang gemetaran, menggendong si wanita sambil mempercepat tusukan penisnya. Kuroka bergelayut manja di tubuh Naruto, tampak ia tersenyum dan mengigit bibir menahan desahannya.

Permainan Naruto semakin liar dari detik yang terlewati, semakin kasar menusuk bagian terdalam Kuroka, membuat wanita yang ia setubuhi mengalami puncak setelah lima menit persenggamaan.

Vagina Kuroka kemudian berdesir, otot-otot bergerak meremas lebih kuat penis Naruto sebelum cairan panas mengalir deras membasahi penis Naruto. "Ooouuuuh!"

—Kuroka membenamkan wajahnya di leher Naruto saat orgasmenya mendera, tubuhnya bergetar di gendongan Naruto.

"Ah ah ah ah!" Seperti biasa, Kuroka amat menyukai sensasi tusukan penis Naruto ketika ia sedang orgasme, kepalanya semakin kosong saat penis Naruto berkedut dan tambah gemuk di dalam vaginanya.

"Terima benihku Kuroka!" Naruto juga menyusul beberapa detik kemudian. Cairan spermanya mengalir, dan kembali memenuhi rahim Kuroka.

Crooot! Crooot! Crooot!

"Sssttt... Seperti biasa spermamu sungguh panas, Naruto." Kuroka berbisik lirih di telinga Naruto, napasnya tersenggal, untuk sekian kalinya ia begitu ketagihan oleh kehangatan sperma Naruto.

"Aku masih ingin menyatu lebih lama denganmu, Kuroka."

"Begitu pun aku, Naruto-kun!" Tatapan mereka bertemu, saling menatap dan tersenyum hangat. Kuroka menyentuh bibir tipis Naruto, sedikit terpesona oleh senyum sehangat mentari dari pria tampan yang kini mungkin mengisi hatinya. "Untuk pertama kalinya, senyum ini begitu menawan bagiku."

Naruto mengecup dan menjilati jari Kuroka, secara bersamaan tertawa kecil.

—Tawa yang begitu halus.

Perlahan, Naruto menurunkan Kuroka dari gendongannya, dan menarik penisnya. Lendir yang saling bercampur mengalir dari vagina Kuroka, yang perlahan tersapu oleh pancuran shower hangat.

Kuroka mendapatkan sebuah ide, kemudian mematikan shower sebelum membungkuk di hadapan penis Naruto. "Biar aku yang membersihkannya!" Tanpa persetujuan pemilik, ia melahap 'naga kecil' dan mengulum nya.

Tentu Naruto mendesis pelan sembari memejamkan mata menikmati kehangatan mulut Kuroka. Rasa sperma yang bercampur itu sedikit pahit dilidah, namun Kuroka tetap menikmatinya dan menelan semua cairan yang gagal memasuki rahim miliknya.

"Puah!" Kuroka begitu puas setelah melihat penis Naruto kembali tegak dan keras seperti sebelumnya, terlihat si kecil itu telah bersih dari semua cairan lengket.

"Sayang, biar aku gosok punggungmu untuk sebentar!"

"Baiklah," Naruto membiarkan Kuroka bertindak sesukanya, mereka menghabiskan malam yang tersisa untuk saling mencumbu.


Tiga minggu kemudian, Kuroka menelepon Naruto, kebetulan ia sedang libur kerja dan melakukan bersih-bersih di tempat tinggal kecilnya. "Hiks...," Suara serak tangis Kuroka terdengar di telepon, tanpa menanyai kabar dari Kuroka, ia langsung memacu mobilnya menuju apartemen Kuroka.

Jantung Naruto terhenti saat melihat Kuroka bersimpuh terisak sambil memegangi pipinya, dengan seorang pria bersurai perak yang berdiri marah di depan pria.

—Yang membuat Naruto naik darah ialah, pria itu tengah mengacungkan tangan seolah ingin menampar Kuroka.

"Berhenti, brengsek!"

Teriakan Naruto menghentikan gerakan tangan sang pria, yang kemudian menoleh ke arahnya. Naruto berlari kencang, sebelum menghantamkan bogem mentahnya di pipi pria, melampiaskan kekesalannya.

Buagh. Ia sedikit terdorong, tapi hanya diam menatap Naruto. Seakan mulai mengerti akan sesuatu, tubuhnya bergetar perlahan, menahan emosi yang memuncak. "Jadi itu kau Naruto,"

Raut kemarahan mulai terlihat di wajahnya, saat pria mulai berteriak dalam kemarahan, "Kau yang menghamili istriku! Kau yang selama ini hampir setiap hari bertamu ke rumahku, dan melakukan perzinaan dengan wanita lacur itu di belakangku!"

"Hoo!" Naruto terlihat girang setelah mendengar jeritan kemarahan pria itu, ia perlahan meraih Kuroka dan mengusap pipi mulus sang wanita. "Apakah itu benar Kuroka? Kau benar-benar hamil?"

"Ya!" Memang singkat, tapi langsung memancing emosi sang suami sekali lagi. Ia melihat raut kebahagian di masing-masing pria pirang dan istrinya.

"Setelah ini, urus surat cerai mu dengan Vali! Kau akan pindah ke rumahku, bawa adikmu sekalian jika ia mau." Naruto berucap dengan nada datar, sebelum berdiri tegak dan menatap pria berambut perak.

Ia bernama Vali, seorang junior yang berada dalam pengawasan Naruto selama ini di perusahaan tempat mereka bekerja. Singkatnya, jika Naruto ingin, ia bisa langsung membuang Vali dari perusahaan.

"Kau ingin menyelesaikan ini baik-baik?"

Tentu Vali mengerti arah kalimat Naruto, tubuh pria itu bergetar perlahan saat menahan amarah. "Tapi kenapa kau, Naruto?"

"Tak ada satupun alasan! Yang pasti kami saling mencintai, dan memiliki."

"Sial!" Vali memukul pintu, sebelum pergi meninggalkan apartemen itu dengan penuh kebencian.

Naruto langsung mengabaikan Vali, menatap Kuroka yang terdiam di dekatnya, "Hei." Naruto mencolek dagu Kuroka, membuat wanita kembali menatap matanya fokus.

"Apakah kau menyesal setelah semuanya menjadi seperti ini?" Tanya Naruto singkat, Kuroka menggeleng pelan sebelum terisak. Tentu ada rasa bersalah dalam hatinya, dan Naruto juga mengerti hal itu.

Naruto meraih pergelangan tangan Kuroka, menariknya ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan yang mampu menenangkan jiwa Kuroka.


Minggu pun berganti bulan, waktu berlalu begitu cepat, saat ini telah masuk bulan ke tujuh dari kehamilan Kuroka.

Wanita itu resmi menjadi istri Naruto, tinggal bertiga bersama sang adik yang masih berstatus anak SMA. Adiknya, Koneko tentu juga tak menyangka akan terjadi hal seperti ini, namun setelah melihat raut kebahagian sang kakak ia hanya diam.

Kuroka lebih rajin tersenyum akhir-akhir ini, yang tidak pernah di lihat Koneko saat kakaknya berkunjung sekali seminggu di waktu yang lalu. Melihat senyuman indah itu, Koneko hanya diam-diam mendukung sang kakak.

Koneko juga melihat Naruto lebih perhatian daripada Vali, kasih sayang Naruto tulus kepada Kuroka. Sesekali Naruto juga memberi perhatian kepada Koneko, suami baru kakaknya itu terkadang menyuruhnya belajar lebih giat agar mampu memasuki Perguruan tinggi dengan beasiswa.

"Sayang, anakmu nendang-nendang, kayaknya lagi ingin perhatian ayahnya." Seperti biasa, Kuroka pasti akan mengganggu Naruto yang tengah sibuk dengan laptopnya. Naruto meminta izin bekerja di rumah setelah masa kehamilan Kuroka memasuki bulan ke-6, tentu berkat prestasi nya direktur tidak mempersulit hal tersebut.

"Oh, benarkah?" Naruto juga tak akan marah jika diganggu, ia terlihat senang. Kemudian menghampiri Kuroka yang duduk di sofa sembari memegang perut buncitnya, terkikik saat melihat Naruto berjalan ke arahnya.

"Oh anak ayah, jangan bandel ya!" Naruto meletakkan telinga di perut Kuroka, mencoba mendengarkan, tapi tentu saja tak ada tanggapan.

"Yang ingin perhatian kamu atau si bayi?" Naruto duduk di samping Kuroka, memeluk erat tubuhnya sebelum mengecup pipi Kuroka singkat.

"Hihihi...," Kuroka hanya terkikik pelan, ia menyukai perilaku Naruto yang seperti ini, membuat ia ketagihan manja pada sang suami.

"Sayang, Koneko-chan sedang melihat kita!" Peringat Kuroka saat ciuman Naruto berpindah di bibirnya.

"Aku... aku akan keluar sebentar!" Koneko bereaksi cepat, dengan wajah memerah buru-buru mengambil sweater dan berlalu pergi.

"Jangan lama-lama pulangnya ya, Shirone!" Ujar Kuroka, sambil tersenyum ia kembali fokus pada Naruto. "Nee, suamiku. Sepertinya anak kita lagi ingin itu, aku ngidam sperma mu lagi."

Bisik Kuroka lirih. Naruto menarik cepat resleting nya, mengeluarkan 'naga kecil' yang setengah berdiri. "Silahkan istriku!"

"Hihihi, suamiku memang pengertian!"


—Dan Vali pun akhirnya bunuh diri saat melihat kemesraan Naruto dan Kuroka.

Thanks for Read My stories!