Sanji kesal.
Kemarin, waktu pulang ke Baratie, pak tua itu menuduhnya jatuh cinta dengan seseorang. Tidak hanya itu, pak tua itu menertawakannya.
"Chibinasu? Kau sedang kasmaran ya?
.
.
.
Buahahahahahaha! Heh Patty! Carne! Sini liat Chibinasu yang lagi kasmaran! Mukanya merah banget kayak kepiting rebus! Cepet! Buahahahahahahahaha!" Zeff segera berteriak ke bawah selepas dia menyadari anak angkatnya itu sedang jatuh cinta pada seseorang.
Patty dan Carne, pegawai Baratie, segera ikut naik ke atas mendengar panggilan tua bangka itu.
"Hah? Muka bebek jatuh cinta!?" Teriak Patty sambil menaiki tangga menuju kamar Sanji.
"HAH? HIDUNG BELANG? MANA? MANA DIA?" Carne ikut berteriak sambi naik ke atas.
"ARGGHH! NGAPAIN SIH KLEAN PADA KEMARI?"
"BUAHAHAHAHAHAHA! Muka lo merah banget njir kek kepiting rebus!" Patty yang sampai duluan ke kamar Sanji segera meledak tawanya melihat muka Sanji yang merah sekali, tadi karena lumut hijau idiot, kalau sekarang, marah dan malu.
"BUAHAHAHA!" Tawa Carne ikut meledak seketika ia sampai di kamar Sanji.
"BERISIK KALEAN PADA! RESTORAN DI BAWAH DIURUSIN SANA!"
DIA TIDAK SEDANG JATUH CINTA!
Siapa yang mau jatuh cinta sama makhluk yang serumpun sama ganggang laut?
Lagipula masih ada Nami-swan, Vivi-chwan, dan Robin chwan untuknya, senyum mereka juga lebih manis dibandingkan senyum Marimo. Hah! Senyum Marimo itu menjijikkan, perbedaan alga laut itu antara tersenyum dan menyeringai tidak beda jauh. Hanya saja, kalau Zoro tersenyum, dia terlihat lebih seperti bocah. Lucu...
TIDAK!
APA YANG BARU SAJA DIA PIKIRKAN ITU TIDAK MUNGKIN BENAR!
Dug
"Oi alis keriting! Lo suka banget ya sama gue sampe nabrak gue tiap kali ada kesempatan?"
Hah?
Sanji mendongak, sedari tadi dia berjalan menatap tanah karena sesosok lumut hijau mengganggu pikirannya. Sialnya, dia harus bertemu dengan sosok yang sama sesaat sebelum dia akan masuk kelas, tersenyum sombong.
Entah kenapa rasanya Sanji kesal sekali dengan orang di depannya itu tiba-tiba. Sudah kemarin ngajak ribut, buat dia diolok-olok satu Baratie, sekarang muncul di depannya tanpa ada raut muka bersalah tanpa dosa.
"Siapa yang suka elo Marimo idiot!?" Teriak Sanji sambil melayangkan tendangannya segera ke muka Zoro.
Zoro yang walaupun terkejut, dengan cepat menghindari serangan Sanji tersebut.
"Oi! Alis keriting! Lo ada masalah sama gue apa gimana?!"
"Ada Njing! Banyak banget malah ganggang laut idiot buluk buta arah!"
"HAH? MAKSUD LO APA NYET?" Zoro yang juga ikut tersulut amarah langsung mulai menyerang Sanji juga.
Dan...
Terjadilah perkelahian antara Sanji dan Zoro tepat di depan ruang kelas Sanji.
Suara tebasan pedang kayu kendo dan hantaman kaki Sanji bisa terdengar jelas, menggema di koridor kelas. Sesekali terdengar suara tubuh yang menghantam lantai atau tembok, tapi kemudian suara hantaman kayu dan tubuh kembali terdengar. Tidak ada teriakan kesakitan atau keputus-asaan, malah setiap detik berlalu, pertarungan itu semakin sengit dan menjadi-jadi.
Murid-murid di sekitar mereka segera menjauh, memberi mereka ruang untuk pertarungan mereka. Sementara, murid-murid yang tadi sudah masuk kelas mengeluarkan kepala mereka lewat jendela, mencoba melihat gembaran jelas akan kejadian yang sedang berlangsung.
Beberap menit sudah berlalu, tapi mereka masih beratrung dengan sengit, sebab tak ada yang berani melerai mereka. Mereka sendiri cukup yakin bel sekolah sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Sanji menyadarinya karena jumlah perempuan yang menontonnya berkurang drastis semenjak beberapa saat yang lalu, sementara Zoro menyadarinya karema dia sekarang memiliki area yang lebih luas untuk menebas alis keriting itu.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PAGI-PAGI BEGINI?!" Tiba-tiba terdengar suara lantang dari ujung koridor.
Zoro dan Sanji segera mengalihkan perhatian mereka ke arah suara itu.
"Cih. Fullbody." Decih Sanji. Guru itu membenci dirinya. Sejak saat dia menghancurkan kencannya bersama seorang gadis waktu dia makan di Baratie, Fullbody menjadi sengit sekali dengan Sanji. Memang salah siapa kalau kencannya hancur? Lah dia sendiri yang berlakuan brengsek kepada pasangannya malam itu, tidak salah Sanji untuk menendangnya keluar dari Baratie kan? Semua ladies harus dihormati!
Sialnya, Fullbody adalah guru kelasnya tahun ini. Dia selalu memberi hukuman yang tidak masuk akal berat untuk Sanji jika Sanji sekali-sekali melakukan kesalahan, tak peduli nerapa kecil kesalahan itu. Oleh itu, Sanji mencoba untuk melakukan kegiatan sekolahnya tanpa kesalahan apapun dan menjadi murid teladan. Tidak hanya menghindari hukuman Fullbody, tapi juga mendapat pujian dari guru-guru wanita lain, yang jelas-jelas bisa menyebabkan Fullbody tambah geram.
Tapi sekarang, dia malah tertangkap basah sedang berkelahi dengan siswa lain di koridor sekolah!
Sial! Fullbody akan menghukumnya lebih dari saat dia dihukum untuk membersihkan seluruh toilet laki-laki sebagai hukuman untuk minum saat pelajaran berlangsung.
"SANJI! HIJAU! KE RUANG BK SEKARANG!" Perintah Fullbody.
Sanji dan Zoro lalu memandang satu sama lain dengan pandangan hendak membunuh yang lain. Bibir mereka membuat gerakan "A-ku-a-kan-mem-bu-nuh-mu" dan kaki dan pedang masih terarah ke satu sama lain.
"SE-KA-RANG!" Teriak Fullbody lagi, kali ini berjalan menuju Sanji dan Zoro lalu menarik kerah mereka, menyeret mereka menuju ruang BK.
