A Love for My Devil


Chapter 7

-1-

Rias Gremory begitu penasaran.

Tadi siang di kantin sekolah, sahabatnya, Sona Sitri, mengatakan kepadanya kalau pemuda yang menjadi minatnya, Uzumaki Naruto, merupakan seseorang yang berbahaya. Sahabatnya tersebut mengaku bahwa ia mengatakan hal ini dengan maksud untuk memperingatkan dirinya.

Rias ingin mempertanyakan maksud dari ucapan Sona, tapi waktu sudah sangat sempit. Namun, Sona berjanji kepadanya untuk mengatakan seluruh hal yang ia ketahui tentang Uzumaki pirang itu kepadanya saat istirahat kedua nanti.

Itu tidak membuat Rias puas karena sebenarnya ia ingin mengetahuinya sekarang juga.

Jadi, satu mata pelajaran yang tengah berlangsung, Rias tidak memperhatikannya dengan benar-benar; semua yang ada di kepalanya dan yang terus menginvasi pemikirannya adalah hal yang disebut 'berbahaya' dari pemuda Uzumaki itu.

Ia bertanya-tanya,

Apa sih yang berbahaya dari pemuda sebaik itu?

Sebagai seorang penguntit profesional, Rias sudah tahu betul hal-hal apa yang dikerjakan oleh Uzumaki Naruto tiap harinya. Dan tidak ada satu pun dari sikapnya yang menimbulkan keberbahayaan.

Huh, dengan pemikiran yang traveling kemana-mana, satu mata pelajaran akhirnya terlewati dan sampailah ia ke jam istirahat kedua.

Setelah lonceng berbunyi dengan iramanya yang menggema-gema, segera ia keluar dari kelas dan melangkah menuju gedung tua yang berada di belakang gedung sekolah utama. Itu adalah gedung tempat dimana klubnya berada.

Di sana, ia mengumpulkan seluruh anggota klubnya, Klub Penelitian Ilmu Gaib, kemudian membawa mereka ke kantor Student Council yang ada di gedung sekolah utama.

Setelah sampai, ia dan anggota klubnya disambut dengan sopan oleh anggota-anggota Student Council yang ia ketahui sebagai iblis-iblis muda yang telah direinkarnasi oleh sahabatnya, Sona Sitri.

Rias mengernyit ketika melihat satu anggota Dewan Siswa yang tampak asing, tapi ia menoleh ketika mendengar ucapan sahabatnya.

"Selamat datang di kantorku, Rias sahabatku," sapa Sona yang sedang duduk dibalik meja kepemimpinannya. "Dan perkenalkan, dia adalah pion baruku," ia lalu melirik ke arah seorang pemuda berambut pirang pucat yang tampak masih agak gugup di tempatnya berdiri. "Saji, perkenalkan dirimu."

Seorang pemuda berambut pirang pucat yang berminyak segera mengangguk keras. "Ha'i, Kaichou!" lalu ia membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah tempat dimana seluruh anggota Klub Penelitian Ilmu Gaib berada. "Perkenalkan, nama saya Gesirou Saji! Saya mengambil empat pion milik Sona-Kaichou!" tukasnya penuh semangat, lalu tersenyum percaya diri.

Rias mengangguk kecil.

"Senang bisa mengenalmu, Geshirou-san," kata Rias. "Kebetulan aku juga ingin memperkenalkan kepada kalian tentang Pion baruku, meskipun hampir dari kalian semua sudah tahu siapa dia."

Ia lalu menoleh ke sebelah kanannya, di sana terdapat seorang pemuda berambut coklat jabrik yang sedang ketawa-ketiwi sambil memandang ke arah para anggota Dewan Siswa yang hampir seluruhnya adalah perempuan cantik.

"Issei, perkenalkan dirimu." Tukas Rias kemudian.

Dengan anggukan mantap, pemuda berambut coklat itu segera maju ke depan untuk memperkenalkan dirinya.

"Namaku Hyoudou Issei! Aku mengambil seluruh pion milik Buchou!" seru Issei dengan lantang, dan itu berhasil membuat Saji terkejut dengan jumlah pion yang ia ambil untuk bereinkarnasi. "Aku akan menjadi yang terkuat, kemudian, menjadi Raja Harem dan menakhlukkan seluruh wanita di dunia!"

Issei mengangkat tangan kanannya yang terkepal tinggi ke atas seolah-olah itu menggambarkan kobaran semangat mudanya yang membara.

Saking semangatnya, Hyoudou Issei tidak menyadari kalau di belakangnya ada seorang gadis mungil yang imut sedang mengangkat tangan kanannya yang terkepal lalu menghantam perut Issei dengan tangan mungilnya tersebut.

Bam!

"Uhuk!"

Sebagai hasilnya, Issei terjatuh dengan perutnya yang serasa nyeri tak terkira. Sedangkan gadis mungil yang menghantam perutnya tersebut hanya menampilkan wajah datar.

"Kematian untuk semua orang mesum."

Rias yang memandang hal tersebut hanya facepalm sebelum mengambil langkah kecil menuju arah Sona berada.

"Sekarang, Sona, beritahu aku apa yang kau ketahui tentang dirinya," tukas Rias sambil memandang tepat ke arah gadis berkacamata tersebut. "Kau memanggil kami kemari untuk mengatakan tentang itu, bukan?"

Sona yang sedang duduk di kursinya hanya menghela napas kecil sebelum berdiri dan menatap tepat ke arah mata hijau yang Rias miliki.

"Kau terlihat tidak sabaran, Rias," tukas Sona. "Tapi, baiklah. Aku akan menepati kata-kataku," Melihat sahabat merahnya itu tersenyum tipis membuat Sona membetulkan kacamatanya sebentar sebelum melanjutkan. "Sebelum itu lebih baik kita membicarakannya dengan ditemani oleh secangkir teh hangat, dan sebaiknya kita duduk dulu di sofa yang sudah disediakan di sana."

"Terimakasih atas keramahanmu, Sona sahabatku." Kata Rias.

Dengan gerakan yang anggun dan elegan, Rias melangkah menuju tempat dimana sofa tersebut berada. Kerumunan anggota Dewan Siswa tampak mundur seraya menunduk sopan ketika dirinya lewat. Selepas itu, dengan diikuti Sona, Rias menempatkan dirinya dengan nyaman di atas bantalan sofa yang hangat itu; sesekali ia juga bergeser kecil untuk membuat dirinya nyaman.

Sona dan Rias duduk berhadapan dengan satu meja kaca persegi panjang kecil yang menjadi pemisahnya. Sedangkan di belakang sofa tempat mereka duduk, para Peerage mereka berdiri dengan ekspresi masing-masing; termasuk juga Issei yang tampak masih memegang perutnya yang nyeri.

Seperti yang diharapkan dari Koneko Toujou, meskipun tubuhnya mungil, pukulannya ternyata sekeras pukulan yang dimiliki oleh Brock Lesnar. Hmh, untung saja Koneko tidak menggeprek dirinya menggunakan Ultimate Skill yang dimiliki oleh Triple-H. Bisa pecah kepalanya!

Di lain pihak, Sona meminta kepada Tsubaki Shinra untuk membuat teh hangat yang akan ia jamukan kepada Rias; dan permintaan tersebut diberi anggukan kecil oleh Tsubaki. Selepas itu, Sona lalu melirik ke arah Issei yang berada tepat di belakang Rias, sebelum matanya kembali menatap tepat ke arah manik hijau yang gadis merah di depannya ini miliki.

"Apakah Pion-mu sudah baikan, Rias?" tanya Sona. "Kurasa lukanya cukup parah tadi malam."

Dan Rias segera menjawabnya.

"Dia baik-baik saja, Akeno sudah menyembuhkan dia selama semalaman. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar Rias. "Maaf jika Pion tersayangku sudah merepotkanmu, Sona."

Sona menggeleng kecil. "Itu bukanlah hal yang merepotkan, Rias," tukas Sona dengan nada seperti biasanya. "Kita sama-sama menjaga kota ini dengan tangan dan kepala kita. Jadi, jika ada yang kesusahan, kita akan saling membantu dan saling melengkapi satu sama lain."

Rias terkekeh kecil untuk itu. Lalu datanglah Tsubaki dengan satu teko berwarna perak dengan dua cangkir kosok berwarna perak pula; gadis cantik berambut raven panjang dengan kacamata di wajah itu menaruh dengan elegan dua cangkir di atas meja kaca, lalu menuangkan cairan relaksasi panas di atasnya.

Satu untuk Rias; satu untuk Sona.

Setiap cangkir memiliki uap-uap halus yang mengepul di atasnya.

Tersenyum, Rias menatap ke arah Tsubaki dengan ramah. "Terimakasih untuk tehnya, Fuku-Kaichou." Ujarnya dengan suara lembut yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Tsubaki.

"Senang bisa menjamu anda, Rias Gremory-sama."

Dengan lengan yang terulur, Rias meraih cangkir putih berisi teh yang kaya akan aroma relaksasi tersebut. Ia meniupnya pelan, membuang panas yang berlebihan sebelum kemudian menyesap teh tersebut dengan elegan sembari menghirup aroma terapi yang nikmat.

"Sebenarnya, Sona, apa yang terjadi tadi malam sampai-sampai Issei dibuat babak belur begitu?" tanya Rias ketika ia menempatkan kembali cangkir teh miliknya di atas meja kaca.

"Hal itu ada kaitannya dengan apa yang ingin aku bicarakan denganmu hari ini," kata Sona, membuat Rias heran. "Apa yang terjadi tadi malam ada kaitannya dengan pemuda itu, Uzumaki Naruto, si Menara Yang Tak Tergapai."

Tepat seperti apa yang Sona duga. Pernyataan itu tepat menembak urat berpikir semua anggota Klub Penelitian Ilmu Gaib, termasuk juga Issei yang sedikit mengingat kejadian yang terjadi semalam.

Sedangkan Rias tidak dapat menyembunyikan raut wajah penuh terkejutnya. Segera ia menatap Sona dengan tajam seolah meminta penjelasan.

"Apa yang kau katakan, Sona? Apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai melibatkan Issei dan Uzumaki-kun?" ujar Rias. "Kuharap kau menjelaskannya dengan sedetail mungkin."

Sona agaknya mendesah pelan sebelum menarik napas kecil untuk mengisi paru-parunya dengan udara segar.

Selepas itu, berceritalah Sona tentang kejadian yang sebenarnya terjadi tadi malam.

Tentang keberadaan seorang Malaikat Jatuh yang cukup kuat.

Tentang seorang pemuda pirang yang bertarung dengan kekuatan diluar batas kemampuan manusia biasa.

Dan, tentang pemuda berambut coklat yang sudah terbaring dengan luka di sekujur tubuhnya.

Semua itu Sona ceritakan dengan sangat detail. Sampai-sampai satu detik pun kejadian tidak ada terlewati sama sekali. Ia bahkan menjelaskan dengan detail tentang kemampuan pemuda pirang tersebut yang membuat semua orang di sana menggeleng-geleng kepala tak percaya.

Bahkan Rias tak dapat mengeluarkan kata-kata dan hanya mendengarkan setiap patah kata yang dikeluarkan oleh Sona. Ini benar-benar sesuatu yang sama sekali tidak ia ketahui!

Lalu, setelah cerita panjang yang menghabiskan beberapa menit yang berharga telah selesai, Sona menghela napas lelah.

"Karena itulah, aku, Sona Sitri, perwakilan dari salah satu bangsawan iblis yang menjaga kota ini ingin mengatakan kepada kalian. Bahwa kalian harus berhati-hati terhadap pemuda Uzumaki itu. Bahwa kalian tidak boleh bertindak hal yang memungkinkan diri kalian untuk berada di situasi berbahaya yang merepotkan. Terutama dirimu itu, Rias."

Rias yang ditunjuk oleh Sona hanya mendengus kecil meskipun ia tahu apa yang sahabatnya itu katakan ada benarnya juga. Segera ia ingin membalas ucapan Sona, namun sahabatnya itu lebih dahulu melanjutkan.

"Uzumaki Naruto itu pemuda yang amat berbahaya. Kemampuannya sungguh diluar nalar bahkan bagi kita kaum iblis sendiri tidak pernah memiliki hal semacam itu. Kita tidak tahu dimana batas kemampuannya. Juga, kita tidak tahu apakah dia itu teman atau lawan, maka saran dariku adalah jangan terlalu banyak berinteraksi dengan dia," kata Sona, dengan mata menyipit ia lalu menatap ke arah Rias lagi, tepat di manik hijaunya yang bercahaya. "Apa kau dengar, Rias?"

Namun apa yang Sona harapkan sama sekali tidak terjadi. Bukannya mengangguk sebagai tanda persetujuan, Rias malah terkekeh kecil dan membalas menatap mata Sona dengan tatapan menantang.

"Bukankah itu menjadikannya lebih menarik sekarang?" ujar Rias yang mendapat tatapan tajam dari Sona.

"Kau sudah gila, Rias!" bentak Sona. "Apa kau sama sekali tidak memikirkan resikonya?"

Tapi Rias tetap tenang dan bahkan menyesap secangkir tehnya dengan nikmat, mengabaikan tatapan tajam yang diberikan Sona padanya.

"Ketahuilah, Sona, kita adalah iblis. Makhluk penuh dosa yang menghuni neraka," kata Rias. "Kita memiliki nafsu yang besar, keinginan rakus untuk memiliki segalanya. Jadi, hal-hal yang melibatkan kegilaan adalah sesuatu yang wajar bagi kita," bukan hanya Sona, seluruh orang yang ada di sana terdiam dan terkejut mendengar ucapan yang diucapkan oleh Rias. "Uhm, ini membuatku menjadi semakin tertarik saja."

"Aku tahu itu, Rias," tukas Sona. "Tapi ini terlalu beresiko, kita bahkan tidak tahu bagaimana sifat dia yang sebenarnya."

"Dia orang yang baik, Sona," balas Rias cepat. "Kau tahu, aku pun juga tahu. Di balik sosok misteriusnya yang penuh misteri, dia adalah orang baik dengan segala hal yang dilakukannya. Dan kurasa, jika aku bisa mendapatkannya di sisiku; sisi kita, dia adalah orang yang tepat untuk menghancurkan tembok kokoh yang menganggu hidupku."

Kali ini Sona sudah menyerah. Ini sudah terlalu sinting. Sudah terlalu gila. Apa yang sahabat merahnya itu pikirkan benar-benar di luar pemahaman miliknya.

Sona lalu melirik ke arah Rias kembali. Di dalam sinar matanya yang menantang, terdapat secercah harapan baru yang bercahaya dalam keinginan.

Melihatnya, membuat Sona terpaku beberapa saat, sebelum menghela napas kecil kemudian.

Jadi, begitu.

Sekarang, Sona mengerti alasannya.

"Baiklah kalau begitu, setidaknya aku sudah memperingatkan dirimu." Ujar Sona yang membuat Rias tersenyum cerah dalam kemenangan.

"Terimakasih, Sona, segala hal yang kau beritahu tentang dia membuatku benar-benar senang."

"Apakah dia sebegitu pentingnya bagimu?"

Mendengar perkataan yang diajukan oleh Sona membuat Rias terdiam sebentar. Untuk tiga detik, matanya melirik ke arah lain; seolah-olah tengah merenungi sesuatu. Selepas itu, ia menatap kembali ke arah Sona.

"Ya, dia orang yang penting," itu cukup mengejutkan orang-orang yang mendengarnya, karena selama ini Rias selalu menganggap semua manusia itu hama; terlebih lagi jika itu adalah pria, makhluk paling menjijikan di matanya. Tapi, Rias menggeleng kecil, seolah tidak puas dengan jawabannya sendiri. "Tidak, dia benar-benar orang yang sangat berharga bagiku ..."

"..."

"..."

"..."

"Jika saja dulu ia tidak menolongku, aku mungkin tidak berada di sini sekarang."

Dan sekali lagi, orang-orang dibuat terkejut dengan fakta itu.

-2-

Ternyata, waktu itu benar-benar berjalan dengan cepat. Kamu bahkan bisa dibuat tidak percaya dan tidak sadar kalau hal-hal yang sudah lama berlalu seolah-olah berlangsung begitu saja.

Seperti yang dirasakan oleh Uzumaki Naruto.

Rasanya, waktu berjalan terlalu cepat sampai-sampai tak terasa lonceng panjang sudah berdentang-dentang, tanda jam pelajaran sudah selesai dan orang-orang dipersilahkan untuk pulang.

Danzo-sensei yang mengajar mata pelajaran Kewarganegaraan telah keluar dari ruangan, menimbulkan teriakan senang karena suasana ruangan kelas yang suram tadinya kini telah hilang.

Naruto hanya diam. Sama seperti siswa pada umumnya, ia pun mulai menyimpan buku catatan miliknya ke dalam tas dengan perlahan dan tak terburu-buru. Selepas itu ia lalu berdiri dan bersiap untuk keluar dari ruangan yang suasana seperti pasar ikan di pelabuhan.

Sejenak,

Ia merasa ada seseorang yang sedang menatapnya dengan waspada dan ketika ia mengedarkan pandangannya ia melihat kalau Hyoudou Issei lah sang pelakunya. Tapi, ia tidak mengambil pusing tentang itu. Ia terus berjalan dengan pelan sampai keluar dari dalam kelasnya.

"Hum?"

Tapi ada sesuatu yang berbeda. Tidak seperti biasanya, kali ini tampaknya koridor yang ada di depan pintu masuk kelasnya tampak ramai, seperti saat festival saja. Itu membuat Naruto sedikit heran, terlebih ada banyak orang yang sedang berbisik-bisik tentang sesuatu yang entahlah ia tak mau tahu.

"Nee, selamat sore, Uzumaki-kun."

Oh, okay. Sekarang Naruto tahu penyebab keramaian ini. Ternyata ada seorang dari Two Great Onee-sama yang menampakkan diri di tempat ini.

Lalu, Naruto menghadap ke arah darimana suara itu berasal, dan ia menemukan sesosok gadis berambut merah yang berjalan ke arahnya dengan langkah kaki anggun. Senyuman yang mengembang di bibir gadis itu tampak begitu elegan, sampai-sampai membuat orang-orang yang berada di sekitarnya langsung pingsan.

"Selamat sore juga untukmu, Gremory-senpai," balas Naruto. "Ngomong-ngomong kenapa Senpai datang kemari?"

Dan, apa yang Naruto dapatkan sebagai jawabannya adalah rautan wajah cemberut yang begitu imut.

"Uuu, apa Uzumaki-kun lupa?"

"Lupa apa ya, Senpai?"

Dalam kecemberutannya, Rias berkata. "Itu lho..."

"Huh?"

"Yang itu, tentang pulang bersama berdua. Bukankah Uzumaki-kun mengatakan kalau sore ini kita bisa?"

Oh, ternyata yang itu. Sekarang, Naruto paham betul apa yang dimaksud oleh Senpai merah yang ada di depannya ini.

Tersenyum tipis, ia pun membalas. "Tentu saja tidak, Gremory-senpai, aku tidak melupakannya. Hanya saja, kukira kita akan bertemu di loker penyimpanan seperti sore kemarin; ternyata Senpai mendatangiku langsung kemari."

Rias yang cemberut melihat ke arah lain, seolah-olah ia benar-benar tengah merajuk saat ini. Dan kalau boleh jujur, di mata Naruto itu malah membuatnya terlihat imut, ehem!

"Dasar pelupa!"

Mendengarnya membuat Naruto terkekeh kecil sebelum dengan senyumannya yang memabukkan ia mengulurkan tangan kanannya terhadap Senpai merahnya tersebut.

"Bagaimana? Apa Senpai masih ingin pulang bersamaku?"

Dengan pekikan teriak kaget yang terdengar dimana-mana, Rias merasa ada selimut hangat yang menghinggapi pipi-pipinya; adalah rona merah muda yang menyapu wajah putihnya yang begitu cantik. Perlahan-lahan ia melirik malu-malu ke arah pemuda pirang yang mengulurkan tangan padanya.

Atas nama Satan-sama Rias bersumpah, ini kali pertamanya ia dibuat malu di depan umum begini.

"B-baiklah kalau Uzumaki-kun memaksa."

Dan Rias tidak tahu darimana datangnya gagap itu!

Umh.

Dengan pelan tapi pasti sang gadis merah mengulurkan tangannya untuk meraih jemari tangan pemuda pirang di sana. Ia menyentuhnya dengan malu dan merasa cukup kaget dengan kehangatannya. Lalu, dengan mata lentiknya ia menatap tepat ke arah mata biru di sana.

Pemuda pirang itu tersenyum hangat dan menarik lengan sang gadis agar gadis tersebut lebih dekat dengannya.

"Maafkan aku, Senpai, aku tidak tahu harus bertindak seperti apa." Tukas Naruto hangat yang dibalas gelengan cepat oleh Rias.

"Uuu, tak apa Uzumaki-kun. Lagipula, rasanya akulah yang seolah-olah terlalu memaksa kamu." Ucapnya yang diakhiri dengan senyuman lucu yang jarang ia perlihatkan.

Deg!

Sejenak, Naruto terdiam melihat senyum tersebut. Untuk beberapa alasan yang tidak ia ketahui, hatinya dibuat menghangat tiba-tiba. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, mengapa ini terjadi?

Dan, ia sendiri tak tahu jawabannya.

Hangat ini berbeda. Berbeda dari rasa hangat yang ia dapat ketika membantu orang-orang; berbeda dari rasa hangat yang ia dapat ketika selesai berbuat baik; namun, hampir persis dengan rasa hangat yang ia dapat ketika bersama ibu dan anak-anak panti dahulu.

Apakah gerangan ini?

Sejauh apapun ia memikirkannya, ia tidak bisa menemukan jawaban yang memuaskan.

"Tak apa, Senpai. Sekarang, ayo pergi."

"Umu, let's go!"

Dengan dua tangan hangat yang saling menggenggam, mereka pergi meninggalkan tempat tersebut dengan senyuman.

Tak terasa waktu terlewati begitu saja, umh.

Kini mereka berdua berjalan melewati jalanan kota Kuoh yang cukup ramai. Karena kata Rias kalau tempat tinggal mereka berdua itu searah, mereka berjalan melalui jalan yang biasa Naruto lalui pas pulang.

Di sepanjang perjalanan Naruto diam, begitu pun dengan Rias. Canggung adalah apa yang mereka rasakan, karena mau bagaimana pun ini adalah kali pertama bagi mereka untuk pulang bersama seseorang. Terkhusus untuk Naruto, meskipun ia tahu kalau gadis di sampingnya tersebut adalah iblis, ia tidak merasa takut atau apapun; adalah karena iblis ini berbeda dari iblis lainnya.

Iya, Naruto tahu kalau aura yang gadis ini punya memang benar-benar kelam seperti langit mendung di kala malam; tapi, gadis ini tidak memiliki hawa jahat sama sekali, persis seperti kupu-kupu di taman bunga lily.

Dan itu membuat dirinya nyaman, meskipun ia tahu apabila sang ibu mengetahui kalau ia dekat dengan iblis, ia akan dimarahi habis-habisan. Tapi tak apa, karena ia merasa nyaman.

Sekali lagi,

Karena ia merasa nyaman.

"Nee, Uzumaki-kun, bagaimana kalau kita beristirahat sebentar dulu?"

Naruto mengernyit mendengar hal tersebut. Segera ia melirik ke arah sampingnya dan apa yang ia temukan adalah sosok Rias yang tersenyum padanya. Senyum lelah adalah apa yang ia lihat di sana.

Ia lalu menyunggingkan satu senyum teduh.

"Baiklah," Kemudian, Naruto mengedarkan mata birunya untuk melihat keadaan sekitar, ketika menemukan sesuatu ia tampak mengangguk kecil dan menatap ke arah Rias kembali. "Sepertinya di sebelah sana ada satu kursi panjang. Bagaimana kalau kita istirahat di sana, Senpai?"

Satu anggukan kecil Rias berikan sebagai jawaban.

"Itu ide yang bagus, Uzumaki-kun," Rias lalu mengambil langkah larian kecil sambil menyeret tangan Naruto yang berada di genggamannya. "Ayo! Nanti keburu diduduki oleh pasangan lain!"

Diseret seperti itu membuat Naruto terkekeh kecil. Lalu, ia pun mengikuti ajakan Senpai merahnya tersebut. Mereka berjalan ke arah kursi panjang yang disediakaan di sana, di depan sebuah taman bermain kecil yang di sebelahnya terdapat satu pohon bunga Sakura mekar yang menjulang tinggi.

Setelah sampai, tanpa melepaskan genggaman tangannya yang begitu erat, Rias dan Naruto duduk di atas permukaan kursi tersebut.

Bersama, mereka menikmati semilir angin yang bertiup lembut sambil memandang anak-anak kecil dan seorang gadis pirang yang bermain-main dengan alat musik di atas kubah kecil di sana.

Dengan suara alat musik yang mereka mainkan, agaknya itu mengundang belasan burung merpati yang mendekati mereka; yang sesekali membuat mereka tertawa bahagia melihat betapa jinaknya para merpati tersebut.

"Uwaaa, Kaori-Neesan! Mereka benar-benar jinak ya!"

"Umu! Seperti kataku. Jangan pernah remehkan kekuatan dari musik."

Di lain pihak, Rias hanya tersenyum menikmati pemandangan tersebut. Ia bahkan sedikit tertawa ketika melihat kepolosan anak-anak dan bagaimana cara gadis pirang di sana mengatakan kepada mereka untuk tidak meremehkan musik.

Hingga, indera pendengarnya dibuat bergerak kecil ketika ia mendengar suara yang berasal dari sampingnya.

"Kedamaian itu benar-benar nikmat ya."

"Huh?"

Karena tidak tahu harus berkata apa, Rias hanya menatap pemuda pirang di sebelahnya tersebut dengan pandangan heran.

"Kedamaian. Tanpa ada konflik dan benci, tanpa ada permusuhan, tanpa ada yang saling menyakiti; yang tersisa hanya rasa hening yang serasa nyaman. Penuh kebaikan, penuh senyuman dan penuh kehangatan," kata Naruto, dengan mata birunya ia lalu menoleh dan menatap ke arah Rias di sebelahnya. "Kedamaian itu nikmat sekali, bukan?"

Sedangkan Rias meresponsnya dengan kedipan mata berkali-kali. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk menanggapinya, sungguh.

Kehidupan iblis itu keras.

Adat-istiadat yang diajarkan dalam kehidupan iblis itu adalah kehidupan yang penuh dengan konflik. Tidak ada kenyamanan, tidak ada keheningan; yang tersisa adalah hidup penuh pertaruhan. Bahkan kadang, hanya karena Rating Game saja satu keluarga akan dibenci oleh keluarga lain yang mengakibatkan permusuhan di antara keduanya.

Itu adalah hal yang lazim bagi iblis.

Sedangkan,

Perdamaian adalah hal yang bertentangan dalam kehidupan adat dan istiadat iblis. Bukan berarti mereka tidak menginginkan kedamaian, hanya saja, rasanya agak tidak menunjukkan jati diri mereka sebagai iblis itu sendiri.

Dan,

Mendengar kata perdamaian yang diucapkan oleh Uzumaki Naruto membuat Rias tidak tahu harus berkata apapun. Apa yang ia lakukan hanya menatap ke arah mata biru di sana.

"Ah, maaf jika aku berbicara terlalu panjang," ujar Naruto yang telah mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Entah kenapa melihat senyuman anak-anak di sana membuatku berkata tanpa sengaja."

Tapi itu masih tidak dapat membuat seorang Rias untuk tidak memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut pemuda Uzumaki tadi. Ia memikirkannya. Sejak tadi ia memikirkannya, apa itu kedamaian dan mengapa pemuda ini mengatakan hal tersebut padanya?

Dan, Rias tak menemukan jawaban atas pemikirannya.

Jadi, untuk mengalihkan pemikirannya dari kata-kata tersebut, Rias berdiri dari tempat duduknya secara tiba-tiba yang agak mengejutkan Naruto.

"Bagaimana kalau kita pergi sekarang, Uzumaki-kun?" tanya Rias. "Aku sudah tidak merasa lelah, sungguh."

"Umh, baiklah, Gremory-senpai," balas Naruto, tapi sebelum Naruto berdiri, tampaknya ia membuka tas miliknya sebentar dan tampak mencari-cari sesuatu dari sana. Setelah dapat, ia lalu menariknya keluar dan menyodorkan sebuah buku yang langsung membuat mata Rias terbuka lebar. "Kemarin senpai menjatuhkan novel ini saat kita sedang berada di perpustakaan."

Rias menatap novel yang disodorkan oleh Naruto itu dengan tatapan seolah-olah ia baru saja melihat seorang pahlawan yang telah lama hilang. Rias menatapnya dengan tatapan kerinduan. Dengan segera Rias meraih buku bersampul jingga tersebut dari tangan Naruto yang membuat pemuda pirang itu terkekeh kecil.

"Novelku! Astaga, aku sudah mencarinya kemana-mana bahkan sampai tidak tidur semalaman. Dan ternyata itu bersama Uzumaki-kun selama ini!"

Rias berbicara tak henti-henti penuh minat. Bola matanya bergerak-gerak cepat dan menyala-nyala. Ia seperti pilea, bola meriam itu yang jika butiran air jatuh di atas daunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan, mekar dan penuh daya hidup.

Dan,

Melihat tingkahnya yang jauh out of character membuat seorang Naruto tertawa pelan. Dia tidak menyangka kalau senpai merahnya ini benar-benar menyukai rangkaian cerita karangannya tersebut.

"Maaf, senpai, seharusnya aku mengembalikan buku itu lebih cepat kepada senpai," kata Naruto. "Tapi tidak bisa karena aku lupa untuk membawanya kemarin."

Rias lalu menatap ke arah Naruto. Dia tersenyum tipis, senyum yang tulus. Lalu dengan segera Rias menunduk sesaat ke arah Naruto yang membuat pemuda pirang itu sedikit heran melihatnya.

"Terimakasih, Uzumaki-kun." Tukas Rias.

Sedangkan Naruto yang mendengar ucapan terimakasih tersebut hanya tersenyum kecil dan menempatkan tangan kanannya di atas pundak gadis merah tersebut; yang mana hal itu sempat membuat Rias terkesiap sebentar.

"Sama-sama, Gremory-senpai," tukas Naruto dengan senyumannya. "Ya sudah, sekarang lebih baik kita segera pulang karena ada suatu hal penting yang ingin ku kerjakan sore ini, Gremory-senpai."

Rias mengangguk kecil karena dia tahu hal penting apa yang ingin pemuda Uzumaki itu lakukan saat ini. Adalah kegiatan pemberiannya kepada kaum fakir miskin yang ada di kota yang pemuda pirang itu kerjakan tiap harinya. Itu adalah hal yang sangat mulia. Bahkan bagi Rias yang merupakan seorang iblis sendiri sangat-sangat kagum dengan kegiatan pemuda tersebut.

Karena itulah,

Karena itulah ia akan tetap mencoba memperhatikan dan mendekatkan dirinya dengan pemuda pirang ini meskipun Sona sudah melarangnya.

Juga, ia ingin berterimakasih untuk sebuah kejadian di masa lalunya. Dimana karena hal tersebutlah ia menjadi sangat-sangat penasaran dengan pemuda pirang ini.

"..."

"Unnn, Gremory-senpai, apa kita akan pergi sekarang?"

Rias tersadar dari lamunannya. Segera mata hijaunya yang menerawang jauh kini bergulir cepat ke arah pemuda pirang yang ada di sebelahnya itu.

Tersenyum canggung, Rias pun berkata. "Ah, baiklah, Uzumaki-kun. Kita akan pergi sekarang."

Dengan itu mereka berdua pun berniat untuk pergi dari taman tersebut namun apa yang terjadi dalam beberapa detik berikutnya benar-benar membuat mereka terkejut, terutama Rias.

"Oya, oya. Mari kita lihat apa yang kita temukan di sini? Siapa pemuda bajingan yang sedang bersama denganmu itu, Rias ku terkasih?"

Suasana hangat dan nyaman yang sebelumnya ada kini berubah. Hadirnya hawa dingin yang mencekam membuat suasana menjadi runyam seketika.

Jantung Rias berdegup kencang, keringat dingin mengucur di keningnya. Ia menjadi sedikit takut ketika menatap ke depan, dimana di depan sana terdapat seorang pria yang sudah tak asing di matanya. Rias menjadi terpaku dan tak bisa untuk berbicara dalam beberapa detik berikutnya.

Sedangkan Naruto hanya memandang dengan mata menyipit ke arah pria tersebut. Hawa intimidasi yang pria itu keluarkan benar-benar tidak nyaman. Mata birunya melirik sebentar ke arah Rias. Sekarang dia tahu, sepertinya ada suatu urusan pribadi yang telah terjadi antara pria tersebut dengan senpai merah yang ada di sebelahnya ini. Tapi ia berniat tidak mengambil tindakan apapun sekarang; setidaknya jika situasi masih baik-baik saja.

"Tak mau menjawab, heh?" Pria tersebut mendengus kecil lalu memutuskan untuk melangkah ke depan untuk bisa lebih dekat dengan gadis Rias di sana. "Baiklah kalau kau tidak mau menjawabnya."

Satu tangan terayun cepat.

Plak!

"Ugh!"

Rias terkejut dengan mata membola. Ia lalu mengangkat tangannya dan menyentuh pipi kirinya yang serasa panas, perih dan sakit. Apa ini? Dia dipukul? Pipinya ditampar? Dengan segera Rias yang tubuhnya agak condong akibat pukulan keras tadi langsung berniat menatap ke depan lagi, namun apa yang ia lihat adalah satu ayunan tangan kuat yang mengarah ke wajahnya lagi.

Tak

Ayunan tangan kuat itu ditahan oleh pergelangan tangan seseorang. Dan seseorang tersebut adalah Uzumaki Naruto, pemuda berambut pirang yang ada di sebelah Rias tadi.

"Aku tidak tahu apa permasalahan kalian, tapi melihat pria sepertimu tega memukul seorang gadis adalah tindakan yang termaafkan. Itu benar-benar hina bagi seorang pria."

Naruto berkata dengan mata menyipit ke arah pria yang ia tahan lengan kanannya tersebut. Mata birunya tak berhenti untuk menatap ke arah pria yang memiliki rambut pirang acak-acakan itu.

Pria itu mendengus mendengar ucapan Naruto. Kemudian dengan segera ia menarik tangannya yang ditahan oleh Naruto. Merilekskan tangannya sejenak, ia lalu menatap remeh ke arah Naruto di sana.

"Tsk, untuk seorang manusia hina yang menyedihkan, kau cukup berani juga untuk menahan tanganku dan menceramahiku, heh?" ucap pria tersebut.

Sedangkan Naruto yang mendengarnya tidak berubah ekspresinya. Dengan mata birunya yang bersinar di bawah langit jingga, ia tetap menatap pria di depannya dengan tatapan menyipit dan tajam.

Di lain pihak, melihat Naruto tak membalas ucapannya membuat pria tersebut mendengus kecil sebentar sebelum bersuara lagi.

"Tapi aku sama sekali tidak memiliki urusan denganmu, enyahlah sana dasar manusia hina!"

Pria itu lalu mengalihkan matanya ke arah Rias yang berlindung di balik punggung Naruto. Ia tersenyum misterius sebentar sebelum berniat melangkah dan mendekatkan dirinya kepada gadis merah tersebut. Tapi pemuda pirang yang menahan tangannya tadi langsung melengos dan mengahalangi dirinya dengan menahan bahunya.

"Meskipun ini sebenarnya bukan urusanku tapi aku tetap tidak membiarkan kau menyakiti Gremory-senpai lagi."


To Be Continued


A/N:

Umh, begitulah, chapter ini berakhir di situasi yang tidak tepat hahahaha.

Maaf kalau fanfiksi ini sangat-sangat tidak jelas dan membuat senpai semua menjadi sakit mata saat membacanya. Aku tidak memiliki bakat dalam menulis atau mengarang cerita. Tapi yah, apa salahnya mencoba, ya kan?

Juga, sepertinya kemunculan Kokabiel tidak jadi kutempatkan di chapter ini. Umh, mungkin chapter depan saja. Sebagai gantinya adalah kemunculan tunangannya Rias yang, umh, katakannya menyebalkan sekali. Awokwokwok

Terimakasih untuk setiap favorit, follow dan reviewnya ya, senpai. Itu benar-benar sangat berarti untukku lho.

Ya sudah, aku ingin segera melanjutkan fanfiksi Fate/The True King of Heroes dengan Sword of Destiny dulu yang paling kusukai.

Babay!