Waktu berjalan terasa begitu lama saat momen itu berlangsung. Ketiganya masih berada dalam posisi yang sama. Raut wajah Kira pun tidak berubah, masih tetap memancarkan keterkejutan. Cagalli heran karena biasanya Kira selalu terlihat tenang, bahkan cuek saat bertemu dengan seseorang yang berasal dari sekolah yang sama dengannya. Kali ini, entah kenapa air muka si pemuda es itu bisa sangat terkejut dan gugup.
"Kira Yamato?" Panggilan gadis bersurai pink itu mencairkan waktu yang membeku di antara mereka. Kira seperti tersadar dari lamunan. Ia ber-ah pelan dengan gelagat agak salah tingkah.
"Doumo," Jawaban Kira untuk menutupi kegugupannya. Cagalli hanya memandangi muka pemuda itu sampai-sampai tak menyadari kalau gadis populer di sekolah mereka tengah mengajak bicara Cagalli.
"Kau juga dari sekolah yang sama ya? Teman Kira?"
"Ah," Cagalli membutuhkan waktu untuk meresapi kata-katanya. "Ya…"
"Boleh aku tahu namamu?" Binar mata gadis itu menyilaukan. Gadis tomboy membuang muka. Tanpa tersenyum ia pun menjawab.
"Cagalli,"
"Aku Lacus Clyne teman sekelas Kira. Salam kenal," Sosok itu tetap menunjukkan keramahannya. Lacus mengulurkan tangan untuk mengajak bersalaman. Cagalli melirik singkat lalu mengangguk pelan. Dibalasnya salaman itu. Cagalli terkesima merasakan genggaman sebuah tangan yang begitu halus. Namun, tak lama kemudian, Cagalli cepat-cepat menarik tangannya.
Gadis itu terlihat baik tetapi entah kenapa Cagalli kurang menyukainya. Mungkinkah karena ia cemburu melihat pesona yang terpancar dari dalam dirinya? Kira juga memujinya cantik, bukan?
"Kalian berdua sedang jalan-jalan?" Gadis itu mulai gugup mendapat reaksi dingin dari pasangan di hadapannya. Mungkin pertemuan ini mengganggu keasyikan mereka.
"Ya," Kira kini yang menjawab. Cagalli hanya menunduk. Lehernya seolah merasa berat.
"Nona Lacus!" Seruan itu mencairkan kekakuan di antara mereka. Ketiganya menoleh bersamaan dan menemukan seorang pria paruh baya berambut klimis tengah menyusup di antara kerumunan untuk mendatangi mereka. Lacus tersenyum geli melihat gelagat pria itu yang tampak kewalahan membawa berbagai belanjaan di kedua tangannya.
"Markio,"
"Nona, anda selalu saja menghilang," Keluh pria itu saat ia sudah berada di samping Lacus.
"Maaf ya, Markio. Kau kerepotan? Sini biar kubawa…" Lacus hendak meraih kantong belanjaan yang dijinjing oleh sosok ber-suit hitam itu. Namun yang bersangkutan menolak.
"Tidak perlu. Anda ke mobil saja nona. Atau, kita masih mau belanja apa lagi?"
Lacus terdiam saat berpikir. "Sebenarnya masih banyak yang ingin ku beli..." Gadis itu menjeda ucapannya saat melihat pelayan pribadinya tampak kerepotan membawakan seluruh belanjaannya. Belum lagi ia juga menyimpan banyak kantong belanja di dalam mobil. Sang putri tentu tak bisa menyiksanya lagi.
"Mungkin cukup…" Putus Lacus sambil tersenyum manis. Ia terlihat ceria setelah bisa membeli banyak barang di area ini sejak pulang sekolah.
"Baiklah. Kita ke mobil ya nona," Pria itu hendak berbalik arah, namun Lacus menghentikannya sejenak. Ia menghadapi dua sosok yang hanya menjadi penonton percakapan mereka. Raut wajah mereka masih tak bersahabat. Lacus jadi merasa bersalah karena kehadirannya dianggap mengganggu momen kebersamaan mereka. Mungkin lebih baik ia mohon diri. Lacus sendiri juga sudah puas mengitari tempat ini berjam-jam lamanya.
"Aku mohon diri dulu," Gadis itu membungkuk sopan. Senyum manisnya tetap terkulum di hadapan dua sosok yang tak bisa membalasnya.
"Ya. Hati-hati," Kira hanya merespon singkat sementara Cagalli kembali menunduk. Sosok anggun itu pun meninggalkan mereka diikuti sang pelayan setianya. Saat sang putri dan ajudannya sudah menghilang di tengah kerumunan, hawa kecanggungan juga ikut sirna. Tanpa sadar, sekawan itu sama-sama menghela nafas.
"Ne, Kira," Panggilan Cagalli menelisik ke telinganya, seketika menarik Kira untuk menoleh ke arahnya. Sosok gadis itu masih mematung, namun pandangannya lurus ke depan, ke arah perginya Lacus Clyne.
"Ia sangat berbeda ya…" Cagalli menjeda ucapannya.
"...dengan kita…"
Kira menunduk sambil menghela nafas. Senyum lirih terpatri pada wajahnya. Apa yang Cagalli katakan memang mencerminkan perasaan Kira. Ia pernah mengatakan kalau kehadiran gadis itu tak mempengaruhinya sama sekali. Padahal, itu semua hanya kebohongan Kira. Pemuda itu mengakui kalau sosok Lacus Clyne seperti memancarkan sebuah cahaya kesempurnaan yang justru membuat pemuda seperti Kira berusaha menghindar.
"Sudahlah...ayo kita cari hadiah lagi untuk ibu," Respon Kira menghentikan semua pemikiran Cagalli mengenai gadis itu. Cagalli kini memandang Kira sambil tersenyum. Ia mengangguk pelan. Mereka berdua pun kembali melanjutkan kegiatan mencari kado.
Bayangan sebuah kalung dengan rantai dari roncean batu pualam serta liontin berbentuk bunga terefleksi dalam sepasang manik ungu milik seorang pemuda. Ia menggoyangkan benda yang tergantung pada jari-jarinya itu sehingga liontin kalung bergerak-gerak. Tak lama kemudian, sebuah senyum tersungging di bibirnya. Ia menyerahkan kalung itu pada seorang gadis di sampingnya. Mata mereka saling berpandangan sampai sang pemuda menganggukkan kepalanya.
Raut wajah Cagalli langsung cerah. Senyuman lebar terkembang saat melihat isyarat Kira.
"Bagus,"
"Cocok kan untuk bibi Caridad?"
"Ya. Ia pasti terlihat manis mengenakan ini," Kira kembali mengarahkan pandangan pada kalung antik yang ada di telapak tangan Cagalli.
"Jadi, kita sepakat membelikan ini ya!" Sahut penuh antusias Cagalli disambut oleh anggukan Kira. Keduanya pun berjalan menuju ke kasir untuk membayar harga perhiasan ini.
Pada akhirnya mereka bisa menemukan hadiah yang tepat untuk bibi Caridad. Setelah berputar-putar di area perbelanjaan, keduanya memutuskan untuk masuk ke sebuah toko barang antik. Entah jenis perasaan apa yang menarik Kira untuk mendekati toko dekorasinya terlihat tua itu. Awalnya Cagalli pun merasa enggan, namun akhirnya ia mau juga karena memang tak memiliki tujuan lagi.
Justru di toko barang antik lah keduanya mendapatkan hadiah yang cocok untuk bibi Caridad. Sebenarnya Cagalli-lah yang menemukan kalung itu terpajang di antara kalung antik lain. Ada sebuah kesan anggun terlukis ketika melihat roncean batu pualam hijau yang dipadukan dengan sebuah liontin tembaga berbentuk bunga mawar. Cagalli pun langsung membawakan kalung itu pada sosok yang tengah melihat-lihat barang antik lain. Dan ternyata sosok itu juga menyukai pilihan Cagalli.
Mereka pun membawa pulang kalung itu setelah membayarnya. Harganya memang jauh lebih murah dibanding kalung mutiara tadi, namun keindahannya tetap sebanding. Kira yakin kalau ibu angkatnya pasti tampak cantik mengenakan perhiasan ini di lehernya.
Saat keduanya hendak berjalan ke luar toko, langkah Kira tiba-tiba saja berhenti. Cagalli yang berada duluan keburu mencapai pintu. Untung saja ia sadar kalau sahabatnya tertinggal, jadi sang gadis segera mendatangi Kira yang tengah terpaku di depan salah satu rak pajangan. Raut mukanya serius. Kira-kira benda apa yang ia teliti?
"Oi! Kira!" Cagalli segera menghentikan tegurannya saat melihat sang pemuda menunjukkan dua buah gelang ronce batu berwarna biru muda. Cagalli tercenung memikirkan tujuan Kira menunjukkan benda kembar ini.
"Kebetulan sekali ada dua. Aku akan beli ini juga,"
"HAH!?" Cagalli hanya menganga. Ia yakin kalau ekspresinya terlihat sangat bodoh di depan Kira. Sebelum Cagalli melontarkan rentetan pertanyaan, Kira keburu meninggalkannya. Ia menuju ke meja kasir untuk membayar harga gelang itu. Cagalli masih tercenung heran, bahkan saat Kira menyerahkan satu gelang itu padanya.
"Untukmu. Ambillah," Ucap Kira lembut sambil meraih tangan Cagalli lalu membuat telapaknya tertadah. Ia meletakkan gelang itu di sana.
"Loh...untuk apa ini…?" Cagalli terbata karena tak mengerti. Entah kenapa ia seperti kehilangan kemampuan berpikirnya.
"Ya untukmu. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih sudah membantuku mencari hadiah," Kira tersenyum simpul. Tanpa menunggu reaksi Cagalli, pemuda itu meninggalkannya menuju pintu keluar.
"Eh! Kira! Tunggu!" Cagalli mengejar sosok itu. Ia menggenggam gelang itu lalu memakainya. Cagalli tak perlu banyak bertanya lagi. Ia hanya perlu menerima dan memakai benda berharga pemberian dari sosok yang spesial itu.
"Terima kasih, Kira!" Ungkap Cagalli saat mereka sudah kembali berjalan di trotoar area perbelanjaan. Gadis itu mengangkat tangannya untuk menunjukkan lengan yang kini sudah dihiasi sebuah gelang batu berwarna biru muda. Sosok di sampingnya hanya melirik seraya tersenyum.
"Cantik ya batu ini," Mata Cagalli berbinar. Kira mengangguk.
"Kau pakai juga ya?" Cagalli langsung melihat lengan Kira. Ia terlihat senang saat pemuda itu juga memakainya. Gelang ini seolah sudah menjadi perlambang keintiman hubungan mereka berdua.
"Kata penjualnya batu di gelang itu jenis aquamarine," Jelas pemuda itu sambil menyentuh dagunya.
"Aquamarine?"
"Ya, makanya aku semakin ingin membelinya," Jelas Kira "Memang amat kebetulan. Konon batu ini bermakna kepercayaan dan pertemanan yang kuat," Cagalli hanya tercenung mendengarkan.
"Kau tahu dari mana?" Tanya Cagalli heran. Kira selalu saja punya stok trivia di otaknya. Entah sudah berapa jenis ensiklopedia yang dia lahap.
"Buku,"
Cagalli hanya manggut-manggut. Beberapa saat kemudian, senyum cerianya mengembang. Tangan berhias gelang batu aquamarine itu langsung menangkap lengan sosok pemuda yang berjalan santai di depannya. Ditariknya lengan itu sampai-sampai sosok itu nyaris jatuh. Untung saja Kira bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Kita makan ya. Aku traktir!" Cagalli masih menarik lengannya, membawa Kira ke suatu tempat. Pemuda itu gelagapan mendentar keputusan sepihak dilontarkan olehnya.
"K-ke mana? Sudah malam loh!"
"Book Cafe. Tenang saja," Cagalli di depan Kira mrngacungkan ibu jari.
"Tapi, orang tuamu cemas," Kira tak enak hati. Cagalli berdecak. Mendengar itu, ia malah semakin berkeras mengajak Kira.
"Tenang saja. Aku sudah ijin orang tuaku. Kebetulan hari ini bibi Caridad ada kontrol ke klinik ayah. Jadi sekalian mengabari,"
"Eh, kau tak bilang mencari kado kan?"
"Tentu tidak!" Kira menghela nafas lega sambil tersenyum.
"Kau ini kan suka kelepasan bicara," Celetukan Kira langsung membakar pipi Cagalli. Gadis itu memandang sebal sahabatnya.
"Enak saja!"
"Ya sudah," Senyum Kira menenangkan. Cagalli kembali fokus ke depan untuk melihat arah lokasi Cafe. Ia sering berkunjung dengan Milly, sehingga Cagalli mengingat arah jalannya. Sebentar lagi mereka akan tiba di lokasi.
