Of Omega, Alpha, and White Wristband
Sebuah fan fiction
dari sigmame
Antara Omega, Alpha dan Ikat Tangan Putih
oOo
Kepingan tujuh: Penantian yang ditunggu
Summary
Baekhyun tahu betul siapa Alphanya dan ia seharusnya menghampiri sang Alpha dan segera mating dengannya untuk menghilangkan sakit yang ia derita saat heat-month. Namun ketika tanda itu ada di pergelangan tangan kirinya, Omega bermata hitam gelap itu justru menutupinya.
Warning
SMUT. Knotting. Rimming. Darah. Kekerasan. YAOI. Typo.
Untuk NC gue bikin soft karena gue pengen moment mereka lebih dapet gak semacam genjot2 crot doang. I know i promised you hot one tp at least hargain gue yang nulis dan milih untuk lbh ke menekankan perasaan mereka. Kalo mau yg hot silahkan baca ff absurd gue yg cita2 disodok wkwk.
Pairing
ChanBaek HunHan
oOo
Enjoy
Baekhyun menatap pantulan wajahnya di cermin; semu merah muda berada di bawah matanya, menghiasi puncak dari dua gunung pipinya yang membuatnya begitu manis dipandang saat tersenyum itu – bibirnya merekah dan terlihat basah, matanya yang bening dengan bola mata begitu kelam tersebut menerawang kembali saat dimana Alphanya, kekasih hatinya, belahan jiwanya, menyentuh bibirnya dengan sangat lembut. Lengkungan senyum segera terbentuk di wajahnya yang lugu, dibawanya telapak tangannya untuk menggosok lembut tengkuknya sementara ia menggigit bibir bawah malu mengingat kembali saat-saat mendebarkan itu.
Ah, Chanyeol.
Omega dalam tubuh si mungil terkikik senang; ia bergerak-gerak tidak wajar dan dentuman di jantungnya semakin keras saja.
Sulit bagi seseorang terlihat begitu hidup di pagi hari; terlebih bagi seseorang yang baru saja kemarin sore merasakan bagaimana rasanya disambut kematian – Omega itu lalu sedikit merenung, bersyukur karena ia masih bisa kembali menghirup oksigen layaknya seluruh raga di sekitarnya saat ini. Ia tidak bisa membayangkan jika jiwanya benar-benar hilang dan dipanggil ke atas sana; diliriknya bekas luka yang berada di lengan dan juga dada bawahnya. Baekhyun tidak menggunakan atasan saat ia bercermin saat ini.
Luka dari cakaran Jongin sudah hampir hilang sepenuhnya; bekas itu terlihat semu namun Omega dengan bola mata hitam tersebut sedikit menatap takut pada bekas luka segar di bagian dada bawahnya. Bekas seperti coretan pulpen biru logam di hamparan kertas putih bersih sepanjang dada bagian kiri hingga tengah menodai kulit bersihnya. Luka dari kuku tajam kaki ayahnya sendiri. Baekhyun menggigit bibir bawahnya tanpa sadar ketika ia membayangkan Chanyeol akan memperhatikan bekas itu saat heat selanjutnya nanti. Omeganya malu; ia ingin terlihat sempurna di mata sang Alpha – terlihat bagai Dewi Kecantikan yang diagungkan visualnya dan sekarang ia hanya bisa bermuram durja melihat bekas luka sialan yang tidak kunjung hilang tersebut.
Oh, si lugu Baekhyun.
Begitu bodoh dirinya yang beranggapan bekas goresan lebar itu akan hilang hanya dalam waktu semalam.
Awalnya ia heran; ketika Jongin dapat membuat dirinya tidak sadarkan diri selama seminggu sementara disaat kematian sudah diambang mata ia justru merasa seperti werewolf paling bugar pagi ini. Baekhyun bahkan melihat wajahnya di pantulan cermin seolah-olah ia baru saja melakukan suntik kecantikan atau semacamnya – apakah ini yang mereka sebut dengan kekuatan saat seseorang jatuh cinta dan berbunga-bunga?
Lalu sebuah rasa gelitik yang menyenangkan terasa di dalam perut datarnya; ia tersenyum manis, sentuhan dan kata-kata sayang Chanyeol kembali terngiang dan batinnya menyanyi. Omega mungil itu lalu sedikit menggoyangkan badan pelan ke kanan-kiri, ia bahkan tidak peduli betapa konyolnya dan tidak dewasanya kelakuannya saat ini – ayolah, ia tengah berbahagia, pasti siapa saja juga memberikan waktu untuknya.
"Baekhyun!"
Omega itu lalu mendesah kesal. Tentu saja – ah, tentu saja Baekbeom tersayangnya tidaklah termasuk dalam daftar yang menyenangkan hari ini. Suara Alpha itu terdengar dari luar kamar Baekhyun dan dengan tidak tau malunya kakaknya itu lalu masuk kamar dan segera tiduran di kasur putihnya. "Aku tidak mengijinkan hyung masuk!" Protes Baekhyun menyerngitkan dahi tidak suka dengan kelakuan kakak satu-satunya itu. Baekbeom justru tertawa usil.
"Kenapa? Tidak mau ku ganggu lamunan tentang Chanyeol, ya?"
"Yak! Baekbeom hyung! Eomma~"
"Hey, adik pengadu. Aku ke sini hanya memberi tahu Chanyeol ada di bawah dan menunggumu."
Mata sipit itu lalu berbinar. "Benarkah?"
Dan Baekbeom tertawa, Baekhyun melempar sisir rambut yang berada paling dekat dengan jangkauan tangannya dan dengan lihai Baekbeom menghindar. "Oh, Baekhyun – kau seperti bukan werewolf saja, Adik manis. Jika Chanyeol datang pun kau pasti bisa mencium baunya, kau mudah sekali dijahili, sih..."
Tidak membalas, Baekhyun justru mengambil satu atasan secara acak dari dalam lemari pakaiannya dan segera berjalan keluar kamar meninggalkan kakak jahilnya itu sendiri yang masih tertawa karena tingkah adiknya. Omega itu lalu disambut dengan wangi dari tumis yang sedang dibuat oleh Ibunya dengan bantuan Kakak Iparnya. "Noona, seharusnya tidak boleh kerja berat-berat... sini biar ku gantikan." Tawarnya pada Nari yang membalas dengan senyum.
"Wah, Baekhyunnie memang baik dan pengertian ya..." puji Nari yang segera dibalas kekehan lucu dari Omega jantan itu. "Padahal memotong sayuran tidak kerja berat, kok." Perempuan yang tengah hamil itu melanjutkan sebelum ia duduk di meja makan dan meraih segelas air untuk diminum.
Saat itu Baekbeom dan Omeganya memang sengaja menginap beberapa hari hingga ritual yang mereka tunggu-tunggu itu selesai – kedua pasang werewolf tersebut sudah tinggal memisah dengan Donghae dan yang lainnya. Dan hari ini, tepatnya di pagi hari, Yoona menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. "Baek, potongkan mentimun, ya."
"Eoh? Mentimun?" Bingung Omega itu sebelum ia memasang wajah jijik. "Eomma~ Aku tidak suka bau mentimun!"
"Ayolah, Baek. Tidak dimakan kok, hanya dipotong. Eomma butuh mentimun untuk sup dwenjjang, nanti buatmu khusus pasti eomma pisahkan semangkuk sebelum dicampur mentimun." Ibu dua anak itu lalu memberikan dua buah mentimun dengan ukuran besar dan panjang-panjang itu pada anaknya. Baekhyun mengangguk dan segera meraih satu buah pisau dan memotong ujung sayuran banyak air itu.
"Yak! Baunya!" Komentarnya menjatuhkan pisau dan menutup hidungnya dengan tangannya erat. "Aku tidak bisa, eomma!"
Yoona menggeleng. "Aduh, Baekhyunnie. Bagaimana nantinya kalau Chanyeol minta dibuatkan sup mentimun sementara memotongnya saja Omeganya tidak kuat..." goda Yoona memasang wajah sedih yang kentara sekali dibuat-buat. Melihat ekspresi panik anak bungsunya yang segera mengambil pisau kembali dan melanjutkan acara memotongnya, Omega dewasa itu tertawa geli. "Kau lucu sekali, Baek."
"Eomma~ kenapa semua orang hobi sekali menggodaku, sih?!" Ia kembali tidak terima dan seolah seperti kebetulan yang tragis, Baekbeom ikut-ikutan tertawa dari arah tangga sebelum tawanya terdengar keras karena ia sudah berada di ruangan yang sama. Baekbeom memeluk Omeganya dari belakang sementara matanya melirik adiknya. "Aku akan buat yang pedas-pedas!" Ucapnya kekanakan mengancam Baekbeom; kakaknya itu memang kurang suka pedas – tidak seperti dirinya yang memang sangat gemar sekali dengan apapun yang serba diberi ekstra cabe itu.
Tidak sadar olehnya bau mentimun yang tidak ia sukai itu lalu tersamarkan oleh bau manis rempah yang mengundang seleranya, seolah-olah sekarang adalah musim gugur dan hujam tengah membasahi tanah lembab dan dedaunan yang mengering. "Hmm, eomma masak pie apel, kah?" Tanyanya penasaran. Melihat sang Ibu menggeleng, Baekhyun lalu menutup mata dan aroma itu semakin pekat – dentuman jantungnya lalu berpacu saat ia tahu aroma ini adalah aroma dari Chanyeolnya. "Chanyeollie..." ujarnya dan dengan begitu saja berjalan meninggalkan pekerjaannya menuju pintu depan rumah.
"Dasar Omega..." ucap Baekbeom yang segera dihadiahi tatapan sengit dari Nari dan juga Yoona. "Hehe, maksudku... dasar Omega, sangat menggemaskan dan manis..." koreksinya cepat-cepat sebelum dirinya dicakar oleh dua betina ini.
Sementara itu, kembali di depan pagar rumah, Baekhyun menunggu Chanyeol yang dari kejauhan semakin mempercepat jalannya – Alpha itu tampak tampan mengenakan pakaian kasual, tubuh tingginya dibalut dengan kaus hitam yang dipasangkan dengan celana jeans dengan beberapa kerutan di lututnya. Jaket abu-abu berbahan denim menyeimbangi atasannya; Baekhyun agak berdebar saat melihat wajah Alphanya. Rambut merah itu ditata seolah-olah acak-acakan namun justru terlihat sangat sempurna bagi Omega tersebut; pipinya bersemu. "Yeollie!" Panggilnya segera mendekat dan sedikit menabrakkan tubuh mungilnya dengan tubuh sang Alpha. "Good morning..." sapanya lembut.
Chanyeol hanya menjawab dengan sebuah ciuman di bibirnya; membuat mata Baekhyun segera terpejam dan hatinya menghangat dengan wajah memanas menerima ciuman pagi Alphanya dengan senang hati. "Hmm, selamat pagi, Baek." Balas Chanyeol setelah berhasil membuat bibir itu semakin tampak merekah saja.
"Chanyeol sudah makan?" Baekhyun bertanya; ia sedikit memperpendek jarak mereka dan dadanya sengaja digesekkan di lengan sahabat kecilnya itu. Ia hanya ingin selalu berdekatan dengan Chanyeol; jemarinya bahkan tidak berhenti memainkan jemari panjang Chanyeol, entah itu hanya menautkan jari-jari mereka, meremas-remasnya, atau mencubitnya. "Eomma menyiapkan sarapan, Yeollie ikut ya? Aku juga membantu eomma memasak. Kalau mau aku bisa buatkan sarapan khusus buat Chanyeol."
"Aku belum sarapan, Baek. Tapi aku tidak ingin makanan omoni."
"Eoh? Lalu kau mau makan apa? Apa kau mau aku buatkan sesuatu?"
"Aku lapar tetapi tidak ingin makanan. Aku ingin memakan sesuatu."
"Maksudnya?"
Menatap bingung Alphanya, Baekhyun tidak mengerti Chanyeol bermaksud lain – Alpha itu memang sangat hobi menggoda; ia sudah terbiasa dan biasanya Omega-Omega yang dahulu ia goda itu akan mengerti dan segera tersipu malu menunggu lanjutan dari godaan Chanyeol. Hanya saja kali ini Baekhyun bukanlah Omega yang demikian; dia tidak sama seperti mereka yang haus belaian dan sentuhan Alpha, dia adalah kekasih sucinya yang ditakdirkan oleh Dewa dan Dewi untuknya. Segala niat untuk mengerjai dan menambah rona merah di pipi sang Omega hilang begitu saja, berganti dengan rasa syukur dan bahagia yang membuncah saat ia kembali lagi disadarkan betapa beruntungnya mendapatkan hati yang sangat suci dan begitu lugu seperti Baekhyun.
Chanyeol dapat merasakan wolf dalam dirinya tersenyum bangga; bangga dengan segala perhatian yang diperuntukkan padanya oleh Baekhyun; begitu senang dengan ketulusan Baekhyun yang terlihat sekali begitu kentara ingin melayani Chanyeol sebaik mungkin.
Hanya untuknya.
Hanya padanya.
Tidak peduli segala kesalahan fatal yang telah ia lakukan, Baekhyun akan selalu berada di sisinya.
Dan kenyataan itu seolah cambuk tajam yang melukai Chanyeol dengan ironis; ia, seorang Alpha khianat dengan darah ketidaksetiaan mengalir dalam arterinya, mendapatkan seorang Omega yang begitu setia dan mengabdi padanya. Ia, Park Chanyeol, sungguh tidak ingin melukai Byun Baekhyun – hanya tawa, suka, dan kebahagiaan lah yang berhak berada di kehidupan Omega dengan sepasang mata indah itu; duka dan nestapa hendaklah berada jauh dari si cantik Baekhyun. Mereka tidak berhak merenggut segala kebahagiaan yang terpancar dari wajah cerah itu.
"Aku benar-benar mencintaimu, Baekhyun."
Sekali lagi, untuk keberapa kalinya, Chanyeol kembali mengaku – ia hanya ingin Baekhyun tahu.
Terkesima dengan pernyataan cinta Chanyeol yang tiba-tiba, Baekhyun sedikit mengerjapkan mata dan memalingkan muka setelahnya. "Apa-apaan, sih, Yeollie." Tolaknya halus walau ia sudah menyandarkan wajah di dada bidang Alphanya. "Masih pagi, tidak boleh rayu-rayu." Ujarnya malu.
Oh, Baekhyun.
Tidak ada kata tidak pantas dalam dua puluh empat jam yang ada – jika pun Chanyeol bisa, maka ia akan menyatakan cinta di setiap detiknya.
Tidak ada waktu yang berhak menahan dan menjadi alasan telinga si Omega untuk tidak mendengar sang Alpha mengumbar kata-kata cinta. Karena memang benar adanya, seorang Park Chanyeol yang buta dengan segala rasa peka sebelumnya hanya bisa hidup dengan tenang selama senyum itu masih terkembang di wajahnya.
Aku hidup untuk melihatmu bernafas, kasihku.
Aku hidup hanya untuk membahagiakanmu.
Aku hidup dengan tujuan melindungimu.
Aku hidup demi mempertahankan senyum di wajah indahmu.
"Aku sudah memutuskan hubungan dengan Suzy," Chanyeol memberi informasi.
"Benarkah? Cepat sekali?"
Chanyeol terkekeh pelan dan mendorong lembut wajah Baekhyun dari dadanya hingga lelaki manis itu sedikit mendongak untuk melihat kepastian dari mata cokelat terang Chanyeol. "Kenapa? Masih ingin aku dekat lebih lama dengannya?"
"B—bukan begitu juga!" Baekhyun cemberut, keningnya mengerut lucu. "Tapi j—jika itu yang Yeollie mau aku tida—"
"Hey, hey – apa yang kau pikirkan, Baek?" Potong Chanyeol tidak suka mendengar dan melihat Baekhyun berkata demikian padanya; seolah-olah ia benar menginginkan orang lain berada di sisinya bukannya sang Omega. "Aku tidak pernah menginginkan orang lain selain dirimu, Baek. Aku bersumpah. Aku tahu apa yang kulakukan di masa lalu tidak akan mudah dilupakan begitu saja, Baek tapi kumohon, Sayang... Kumohon, percayalah. Aku—aku benar-benar menginginkanmu, Baekhyun. Alphaku akan mati, aku akan mati jika kau tidak ada." Baekhyun mendengarnya seksama, Omega itu lalu mengangguk dan satu tangannya meraih salah satu sisi wajah dari sang Alpha.
"Tentu, Chanyeol." Ujarnya membalas, suara lembut itu bagai lagu indah yang selalu memberikan ketenangan di hati Chanyeol. "Kapan putusnya?" Tanyanya yang ternyata memang penasaran juga.
"Tadi malam, aku mengiriminya pesan."
Baekhyun melebarkan mata. "Lewat SMS?" Chanyeol mengangguk. "Ih, Chanyeol. Kenapa kasar sekali? Nanti kalau dia sakit hati bagaimana?"
"Baek baby, aku hanya tidak ingin menelpon atau bertemu dengannya malam-malam. Aku tidak ingin nanti Omegaku berprasangka, kau tentu tidak ingin aku ke rumahnya malam-malam, bukan?" Seketika bayangan saat Chanyeol bersama dengan Omega betina di malam ulang tahunnya itu teringat oleh Baekhyun, ia segera menggeleng tidak suka.
"Eung. Aku tidak suka melihatmu dengan orang lain dan menyentuh orang lain dan menciumnya dan mencumbunya dan—"
"Dengar? Sekarang membayangkannya saja sudah membuatmu kesal, kan?"
"Tidak juga?! Aku tidak membayangkan saja! Aku mengingat saat Yeollie melakukannya dengan perempuan lain!" Bantah Omega itu lalu merasakan matanya panas dan mulai membasah. Melihat Alpha tampan itu terlihat kebingungan, Baekhyun melanjutkan omelannya. "Waktu itu aku melihat Yeollie bersama Omega di kamarmu, aku ingin mengantarkan buku catatan tapi..." ia terdiam, tidak berani dan tidak punya hati untuk melisankan apa yang matanya tangkap saat itu, tubuhnya serasa menggigil dan bibirnya bergetar. Hatinya bergetir.
Chanyeol yang melihat wajah Baekhyunnya saat itu segera menenangkan Omega itu, diusapnya lembut kedua lengan kurus Baekhyun. "Tenanglah, Baek. Maafkan aku, aku tidak tahu aku—maafkan aku, Baekhyun." Ucapnya sungguh-sungguh sembari mendaratkan kecupan ringan di bibir tipis itu. "Aku hanya menginginkanmu. Thelo mono esena[1]."
Baekhyun lalu tersenyum. "Itu juga tidak sadar bahasa Yunani-nya?"
"Tidak. Aku tadi malam membaca buku Yunani dan mencari kata-kata romantis."
"Dasar, Alpha hobi menggombal."
"Ya Tuhan!"
Keduanya tersentak; suara Baekbeom terdengar dari pintu rumah.
"Kalian itu seperti tidak ada tempat lebih bagus lagi untuk pacaran. Adegan di drama-drama itu tidak baik jadi contoh, pacaran di dalam rumah itu jauh lebih enak!" Seru anak sulung keluarga Byun itu membuat dua remaja yang ketahuan tengah berduaan itu menahan malu; Chanyeol, selaku Alpha, segera menepis rasa tidak enaknya dan membungkuk pada Baekbeom sebelum ia mengajak Baekhyun masuk. Walau agak terbalik mengingat itu adalah kediaman keluarga Omeganya namun ia hanya merasa lebih gentle jika ia yang mengajak duluan kekasih hatinya itu kembali ke rumah, digenggamnya jemari lentik dan mungil Baekhyun erat hingga mereka masuk ke ruang makan.
Donghae segera bergabung dengan seluruh anggota keluarganya dan juga Chanyeol; ia menepuk punggung Alpha termuda di ruangan itu sebelum mengambil kursi di sebelah Baekbeom. Yoona sibuk mengisi gelas kosong dengan jus jeruk dan juga air putih sementara Baekhyun menuang sup di mangkuk – mereka berdua membagi sama rata sarapan pagi itu sebelum ikut duduk di kursi kosong yang tersedia. Baekhyun sempat merapikan sendok dan sumpit Chanyeol setelah ia duduk di sebelah Alpha itu, pemandangan yang jadi godaan dari Baekbeom yang segera dihadiahi tatapan mematikan dari Baekhyun.
"Sudahlah jangan goda lagi adikmu, Baekbeom-ah." Tegur Yoona mulai kasihan melihat bungsunya yang jadi bahan lelucoan di hadapan Alphanya sendiri. "Chanyeol-ah, supnya dimakan ya... itu Baekhyun yang memotong sayurannya."
Alpha itu mengangguk patuh dan menyendok kuah dari jiggae panas tersebut; ai sedikit terbatuk begitu merasakan pedasnya. "Yeol, tidak apa-apa?" Baekhyun segera menawarkan air putih dan juga sapu tangan untuk membersihkan mulut Chanyeol. "Terlalu pedas ya? Jangan makan supnya, makannya nasi sama telur saja. Atau mau dibuatkan yang lain saja?"
"Ya ampun, Baekhyun. Lauk sebanyak ini, tidak usah berlebihan!"
"Baekbeom hyung!"
Kakak-adik itu kembali adu tatap dan Chanyeol segera menenangkan Baekhyun dengan mengatakan bahwa ia bisa makan tanpa sup; Alpha itu memang tidak terlalu kuat makanan pedas. Dan hal itu menjadi bahan tawa lainnya bagi Baekbeom yang menyuruh Baekhyun untuk mencatat agar tidak lupas saat mereka sudah hidup berdua nanti; debaran jantung Chanyeol segera terasa lebih cepat saat Baekbeom menggoda mereka berdua demikian. Pikirannya melayang saat nantinya ia pulang ke rumah disambut dengan pelukan hangat sang Omega dan makanan buatannya.
Perbincangan pagi itu lalu diisi dengan perihal ritual suci; dari persiapan hingga pada berita dadakan yang didapatkan Donghae tadi malam bahwa kaum mereka dari Amerika bagian dalam sana sengaja datang berkunjung ke Korea dan kabarnya memang benar Omega suci itu berada di daerah mereka.
"Lalu apakah sudah ada Omega yang melapor kehilangan tandanya?" Baekbeom bertanya pada Ayahnya.
"Tidak. Belum ada. Namun tidak menutup kemungkinan beberapa menit sebelum ritual dilaksanakan Omega itu baru mengalami kehilangan tanda..."
"Memangnya hanya itu saja hal yang bisa mengetahui bahwa Omega Suci itu ada?" Kali ini Nari yang bertanya; Omega yang tengah hamil itu menunggu jawaban mertuanya dengan sabar.
"Sayangnya memang hanya itu. Keberadaan Bison, ramalan Tetua, dan lainnya memang merupakan tanda-tanda bahwa Omeganya Suci itu ada, namun satu-satunya cara untuk memastikan kebenarannya hanya dengan laporan dari Omega itu sendiri."
"Lalu apa yang terjadi jika seorang Omega yang sudah diklaim melapor kehilangan tandanya?"
"Tidak mungkin, chagi. Kau tahu sendiri syaratnya untuk menjadi Omega suci adalah dia yang jiwa dan raganya suci dan belum tersentuh sama sekali..." Baekbeom menjawab.
"Tapi dari beberapa buku kuno yang eomma baca, ada beberapa kasus yang mengatakan bahwa Omega yang sudah diklaim bisa kehilangan tandanya juga. Karena sebenarnya mereka yang terpilih adalah keputusan dari Dewi yang terkadang tidak diketahui alsan pasti, kebanyakan memang Omega yang katanya suci raganya belum tersentuh – namun ada juga yang berkata tingkat kesetiaan Omeganya lah yang paling berpengaruh."
Mereka lalu sedikit terdiam mendengar penjelasan dari Yoona; sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Siapapun dia, yang jelas ini adalah perihal yang sangat besar sehingga Tetua Suku dari Amerika bisa mengunjungi kita." Seluruhnya lalu mengangguk setuju.
Ketika acara makan mereka selesai, Baekhyun menawarkan diri untuk membersihkan meja dan mencuci piring dan juga gelas kotor – ia bersikeras agar Ibunya beristirahat dan juga tidak mengijinkan Kakak Iparnya kerja berat. Dua Omega itu hanya bisa menurut dan membiarkan Baekhyun mengerjakan apa yang ia inginkan saat itu; Donghae lalu segera bersiap-siap untuk kerja sementara Baekbeom pamit untuk mempersiapkan gladi resik acara yang diadakan oleh sekolah dan juga SM Hospital itu – ia bekerja di sukarelawan namun saat ini ia menjadi relawan di acara sekolahnya dahulu itu. Anak tertua keluarga Byun itu memastikan pada Omeganya bahwa ia akan pulang cepat dan tidak akan melihat acara demo demi menemani Nari nanti, ia akan pulang sebelum jam makan siang; begitu janjinya.
Dua Alpha pergi meninggalkan Omeganya untuk bekerja sementara Chanyeol justru mendekat dan mengalungkan lengannya di pinggang Baekhyun; lelaki manis itu menegang beberapa detik sebelum kembali melanjutkan cuciannya. Mereka berdua berada di depan sink yang penuh dengan busa sabun cuci piring. "Kapan heat-mu datang, Baek?"
Baekhyun tergelak dibuatnya.
"Kenapa tertawa?"
"Apa itu saja yang ada dalam pikiranmu, eoh?"
"Aku hanya sudah sangat tidak sabar, Baekhyunnie..." bisik Chanyeol memeluk erat Omeganya. "Aku ingin menandaimu, aku ingin semua tahu kau milikku."
"Tenang saja, Yeol. Nanti ketika heat-ku datang kau pasti bisa merasakannya, bauku akan semakin kentara."
Chanyeol membatu; ucapan yang jujur itu justru menoreskan luka di hatinya – ia kembali teringat pada sebuah fakta. Chanyeol sama sekali tidak akan dapat menghirup aroma manis Baekhyun; pada saat ia kelepasan di sekolah waktu itu, Alphanya mengendus Baekhyun penuh rasa suka dan penuh rasa penasaran akan aroma sang Omega – ia ingin tergila-gila karenanya. Ia ingin menghirup aroma Baekhyunnya; dan ia tidak akan pernah bisa menerima ketidakadilan dimana seluruh Alpha lainnya yang masih single dapat mencium aroma Omeganya.
"Omong-omong, Yeol. Seperti apa bau tubuhku?"
"Hmm?"
"Aku dapat menghirup bau Alpha dan Omega lainnya; aku dapat menghirup baumu dari jarak yang cukup jauh. Aku tidak bisa mencium bauku sendiri, kita tidak pernah bisa mencium bau kita sendiri – aku ingin tahu seperti apa aroma tubuhku menurutmu." Baekhyun bertanya, ia tersenyum sembari terus mengeringkan piring-piring basah di sana. Mendengar tidak ada jawaban dari Alphanya itu, Baekhyun lalu membalik badan. "Seperti apa, Yeol?" Tuntutnya lagi menginginkan sebuah jawaban, suaranya sedikit mendayu dan terdengar manja.
Berdusta adalah hal sudah sangat biasa dilakukan oleh Chanyeol.
Namun membohongi Omeganya, Baekhyunnya, adalah sesuatu yang akan begitu sulit dilakukan oleh Alpha tampan itu.
Ia ingin menyenangkan hati Baekhyun, ia tidak ingin melukainya lebih dalam lagi; jujur padanya mengenai kebutaannya terhadap aroma akan membuat hati itu kembali melepuh. Baekhyun adalah werewolf yang cerdas; ia pasti tahu mengenai kutukan itu jika Chanyeol mengatakan yang sebenarnya padanya. Hati sang Alpha bergejolak; ia memberontak untuk berkata jujur namun jiwanya akan mengering jika dusta termakan kejujuran oleh sang Omega.
Aku tidak bisa.
Ia tidak bisa melukai, membohongi, dan juga mengatakan yang sebenarnya.
Kau Alpha yang payah; begitu cacinya.
"Yeol?"
"Hmm? Kalau Omegaku begitu penasaran, coba katakan padaku kapan heat selanjutmu, Baek?" Chanyeol balik bertanya; didekatkannya bibirnya pada bibir pasangannya itu tanpa menyentuhnya sedikitpun. Nafas segar dari Baekhyun bersatu dengan nafas hangat dirinya. "Saat heat-mu datang maka akan kukatakan, kuungkapkan, dan kau dapat rasakan bagaimana aromamu mempengaruhiku..." Baekhyun hanya bisa tersipu dan membalik badan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya dan Chanyeol terus memeluknya dari belakang.
Kedua werewolf remaja itu diam beberapa saat lamanya hingga Baekhyun berkata mereka harus segera siap-siap ke lokasi dimana ritual akan dilakukan; sekolah mereka mengadakan demo kecil mengenai hal ini yang akan dipandu oleh perwakilan dari SM Hospital. Setelah berpamitan pada Ibunya, Baekhyun segera pergi beriringan dengan Chanyeol – mereka tidak membawa kendaraan apapun karena jarak tempuh sekolah dan kediaman Byun bisa dijangkau dengan jalan kaki saja. Lokasi ritual yang sebenarnya berada di hutan; namun kali ini agaknya Yunho dan yang lainnya sepakat untuk mengadakan ritual di daerah sekitar sekolah karena aulanya yang luas dan seperti gelanggang olahraga.
Walau sesungguhnya jika dilakukan di hutan maka Alpha-Alpha yang terluka setelah bertarung akan dengan mudah disembuhkan nantinya dengan berendam di danau sakral, tetapi kali ini ritual menjadi lebih dramatis dan sedikit sadistis dikarenakan untuk mendapatkan Omega terpilih harus berkorban nyawa. Meskipun tidak ada sampai sekarang Omega yang melapor kehilangan tandanya, tetapi Ketua Suku mereka dan bahkan dari Amerika itu begitu menaruh harapan tinggi.
Baekhyun segera berlari kecil menuju teman-temannya yang sudah melingkar di dekat tumpukan balok kayu untuk perapian besok malam – mereka berhenti tertawa dan bersenda gurau saat melihat Omega satu-satunya di kelompok mereka hadir. Senyum di wajah mereka sedikit berganti dengan kerut kebingungan begitu melihat sosok Chanyeol yang berada beberapa langkah di belakang Baekhyun dan kebingunan itu berganti wajah syok, ekspresi heran, dan juga sedikit sengit ketika Alpha dengan rambut merah menyala itu menggenggam tangan Baekhyun sembari menuntunnya untuk ikut duduk bersama.
"Oke. Apa maksudnya ini semua?" Luhan adalah yang pertama membuka mulut; keningnya berkerut dan matanya menyipit melihat Baekhyun dan Chanyeol.
"Maksud apa?"
Luhan menjawab Omega itu dengan menunjuk tautan tangan mereka berdua; sementara Sehun yang memang berada di sebelah Luhan semakin mempererat dekapannya takut jika Alpha yang satu itu kembali emosi dan tiba-tiba menyerang Chanyeol begitu saja. "Maksud Luhan itu kenapa kalian datang berdua dan bergandengan tangan begitu?" Sehun menjelaskan agar dua pasangan baru itu lebih bisa membaca suasana.
"Ah! Itu karena aku dan Baekhyun—"
"Heol! Jadi kau sekarang mengencani Baekhyun?" Jongdae memotong tidak percaya ucapan Chanyeol.
"Apa?! Kalian berdua pacaran?"
"Tidak." Potong Chanyeol singkat. "Aku tidak berpacaran dengan Baekhyun atau semacamnya," jelas Chanyeol membuat Omega yang berada di sebelahnya menegang. Ia lalu menatap Baekhyun penuh sayang. "Kami adalah pasangan mate. Aku adalah Alpha Baekhyun."
Beberapa detik mereka terdiam; Luhan hanya dapat mengedipkan mata beberapa kali, Sehun tetap dengan wajah tanpa ekspresi, sementara yang lain menatap dengan mulut menganga. Jongdae lalu tertawa. "Jangan bercanda di pagi hari! Yak, Byun Baek! Kau seharusnya jangan mau diajak Chanyeol untuk membuat kami kaget pagi-pagi. Kalian, benar-benar!"
"Benar, hyung! Kau ini! Aku sudah cukup pusing memikirkan Omega yang ada dalam mimpiku..." ketus Jongin ikut mengomentari. Yifan hanya menggeleng-geleng kepala.
Chanyeol mengendikkan bahu. "Aku tidak bercanda."
Lalu kembali keheningan mengisi. "Chanyeol memang Alphaku," ujar Baekhyun membenarkan. Diraihnya tangan kanan Chanyeol dengan tangan kirinya lalu diperlihatkannya kepada sahabat-sahabatnya itu bagaimana kedua tanda mereka serupa; phoenix yang seolah kembar berada di pergelangan tangan dua werewolf dengan ukuran tubuh berbeda itu.
"Wow."
"Daebak."
"Saatnya bermain-main," ujar Jongdae mengangkat alis dan saling pandang dengan wajah penuh arti bersama Luhan. Alpha cantik itu lalu membalas dengan anggukan dan juga sebuah seringai jahil dan berdiri tegap.
"Apa yang kalian lakukan?" Baekhyun bertanya.
"Ah, Baekkie. Kau tahu sendiri bagaimana para Alpha bertingkah saat salah satu teman Alphanya sudah menemukan mate..." Jongdae menerangkan pada Omega itu sembari merangkul bahu sempit Baekhyun. Chanyeol agak risih dan mendorong tubuh Beta itu menjauh dari Omeganya. "Yah, sudah sangat posesif ternyata." Jongdae menanggapi itu dengan candaan.
"Ayolah, Park. Kau tahu aturan mainnya." Ajak Luhan dan Chanyeol menyanggupi.
"Wah, ini akan menjadi sangat menarik."
"Aku sangat tidak suka hal ini."
Sehun dan Jongin berkomentar berbeda; Sehun, selalu pasangan dari Luhan tentunya tidak menyukai Luhannya berkelahi walaupun hanya sekedar candaan semata – ia tidak ingin Luhan terluka. Sedangkan Jongin, yang bercita-cita ingin menjadi fighter itu sangat menyukai hal-hal seperti ini. Lagipula ini pertama kalinya di kelompok mereka seorang Alpha akhirnya menemukan mate-nya; Luhan memang menklaim Sehun namun mereka bukanlah pasangan mate dengan tanda khusus. Alpha dengan keturunan Cina murni itu memiliki tanda di pergelangan tangannya yang tidak sama dengan Sehun; Albino yang satu itu tidak memiliki tanda. Beta tidak memiliki tanda, dan entah ada atau tidak Omega dari Luhan – dia akan hilang lenyap di saat yang sama taring Luhan menandai leher Oh Sehun.
Luhan dan Jongin sama-sama turun ke lapangan – mereka berdua melawan Chanyeol; ini semacam ritual kecil dari para Alpha ketika sahabatnya bertemu dengan Omeganya, pertarungan singkat akan terjadi sampai salah satu di antara mereka terluka. Baekhyun sedikit menggeleng tidak suka ketika Chanyeol meliriknya. "Tidak apa-apa, Baek." Ia mencoba menenangkan Baekhyun.
"Tapi kalau kau terluka lagi bagaimana? Luka yang kemarin belum mengering benar, Yeol."
"Tidak apa-apa, Baekhyun. Apa kau meragukan Alphamu, eoh?"
"A—aniyo, Chanyeollie paling kuat."
"Hmm. Senang mengetahui Omegaku percaya," bisik Chanyeol; ia menunduk dan mengecup bibir Baekhyun sekilas. Beberapa murid melihat dan mulai menerka-nerka. Seorang Park Chanyeol ternyata memiliki seorang Omega; playboy terkenal itu akhirnya memiliki pelabuhan akhir jua.
"Ayolah, Yeol. Cukup mesra-mesraannya, kalian punya banyak waktu. Sekarang kita bertarung dulu." Luhan kembali berseru dan sudah berkacak pinggang. Jongin sudah tersenyum usil sembari memasang kuda-kuda, siap menyerang. Melepaskan jaketnya dan dititipkan pada Baekhyun, Chanyeol segera meninggalkan Omeganya yang kembali duduk dan mulai mendekat pada dua lawannya. Mereka pun mulai adu otot – beberapa kali Baekhyun terpekik sendiri melihat serangan-serangan Luhan dan Jongin yang untungnya masih bisa dihindari oleh Chanyeol, beberapa murid lainnya juga ikut berseru dan Baekhyun tidak terlalu ambil pusing dengan celoteh Omega-Omega lain tentang Chanyeol yang memiliki mate seorang Omega jantan sepertinya. Ia terlalu sibuk memperhatikan sahabat kecilnya yang sekarang adalah pasangan mate-nya itu.
"Luhan pasti akan menang," ucap Sehun santai walau matanya tidak pernah lepas dari setiap pergerakan sang Alpha; Baekhyun menoleh ke samping dan mengerutkan kening. "Jangan melihatku seperti itu, Baek hyung. Lihat sendiri Chanyeol itu satu lawan dua; dari jumlah sudah kalah." Sehun menjelaskan seolah-olah ia dapat mengerti arti tatapan si Omega yang ia lihat dari sudut matanya.
"Chanyeollie itu kuat." Putus Baekhyun lalu kembali melihat tiga sahabatnya saling memukul dengan wujud manusianya – beberapa orang mulai bersorak agar mereka shift saja, dan sorakan itu berubah menjadi teriakan heboh saat Jongin terlebih dahulu berubah. Chanyeol segera ikut setelahnya dan Luhan adalah yang terakhir.
Geraman ketiga werewolf tersebut saling bertukar.
Sudah lebih dari sepuluh menit mereka bermain namun belum ada juga luka yang terdapat di tubuh ketiganya; wolf Chanyeol yang lebih besar dari Luhan dan juga Jongin membuat ia dapat menyeimbangi permainan – beberapa kali ia disudutkan oleh serangan dua serigala itu namun ia masih mampu untuk mengelak dan memukul balik. Satu tinju yang lumayan keras lalu tidak berhasil diindahkan oleh Jongin, Alpha termuda di sana – ia terhempas jauh dan mengenai beberapa murid yang ikut menonton. Ketika satu lawan satu bersama Luhan, Chanyeol juga lebih leluasa menyerang temannya itu.
Peraturan kecil mereka adalah permainan berhenti ketika salah satu pihak sudah terluka; Jongin merasakan ada darah segar mengalir dari kakinya dan ia lalu kembali shift dan berjalan menuju tempat duduk sisa temannya. "Chanyeol sialan itu benar-benar serius agaknya..." umpatnya yang hanya dibalas tawa Jongdae.
Sehun lalu tiba-tiba berdiri saat melihat kekasihnya terjatuh dan segera shifting dengan darah yang mengalir dari lubang hidungnya; Luhan tertawa lalu segera memberikan tepukan di pundak Chanyeol yang juga telah kembali pada wujud manusianya. Beta dengan kulit pucat itu segera menghampiri Luhan, ia melepaskan kardigan rajutnya yang menyerahkannya pada kekasihnya itu. "Nanti kau kedinginan," ujarnya memberi alasan sebelum membuang muka saat Luhan menatapnya penuh.
Memiliki kekasih seperti Oh Sehun tidaklah mudah; Luhan pada dasarnya adalah seorang Alpha, ia menginginkan mate yang patuh dan penurut sementara Sehun adalah segalanya selain dua itu. Ia sedikit dingin walau ia sangat peduli pada Alpha tersebut, ia sering mengomel walau dari nada bicaranya tersirat kekhawatiran yang sangat. Setelah memakai asalan rajutan yang diberi oleh Sehun, Luhan lalu mengecup pipi kekasihnya singkat. "Terimakasih, Hunnie."
"Hmm..." balas Sehun lalu menghapus darah yang menempel di pipinya, ia juga mengeluarkan sapu tangan dan memberihkan darah yang mengalir dari hidung Luhan. "Kenapa bisa kalah, sih. Jadi berdarah begini."
"Haha, aku tadi tidak sengaja memanasinya saat bertarung. Kukatakan Baekhyun terlihat begitu menggoda di mata Alpha lainnya, Chanyeol langsung kesal sekali."
"Memangnya benar begitu?"
"Eiy, jangan bilang kau cemburu?"
Sehun hanya diam.
"Ya ampun, Sehun. Kau tahu aku itu sudah tidak berminat pada siapapun." Tetapi Sehun hanya melenggang pergi kembali ke tempat duduk awal mereka, Luhan menggeram sebal. "Ya Tuhan! Aku seperti menghadapi anak kecil saja!" Alpha itu lalu mengerucutkan bibir dan menghentakkan kakinya kesal sembari berjalan kembali mengikuti Sehun dan berkumpul bersama teman-temannya; dilihatnya Omega jantan satu-satunya dalam kelompok mereka justru berjalan menjauh – mata rusa itu lalu menangkap Baekhyun yang berjalan mendekat pada Chanyeol dan Alpha asal Tiongkok itu tersenyum.
Sekesal apapun awalnya Luhan pada Chanyeol; ia dapat melihat betapa kuatnya rasa yang dimiliki Alpha bertubuh tinggi itu pada Baekhyun – ia begitu protektif terhadap Baekhyun sampai beberapa orang awalnya mengira ia adalah Alpha Omega cantik itu, namun rasa protektif Luhan lebih seperti seorang Ibu pada Baekhyun dan melihat Chanyeol yang memiliki penuh rasa perlindungan pada Baekhyun maka Luhan yakin bahwa sahabatnya itu berada di pelukan Alpha yang benar-benar dapat melindunginya.
"Hey, Baek. Aku menang." Sapa Chanyeol tersenyum lebar; rambutnya sudah berantakan dan tubuhnya sedikit kotor oleh tanah.
Tapi Baekhyun tidak peduli, dipeluknya Chanyeol erat. "Aku takut sekali..."
Tertawa, Chanyeol membalas pelukan Omeganya itu. "Ini hanya permainan, Baek."
Baekhyun menggeleng. "Terlihat nyata di mataku, Yeol. Aku takut sekali, seperti kau benar-benar bertarung dan akan kalah. Aku—aku sangat takut."
"Tapi aku tidak terluka, kan? Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan."
Baekhyun lalu mengangguk; ia lalu meraih wajah Chanyeol dan mencium bibir Alphanya itu dalam – siulan dari Jongdae dan juga Jongin lalu terdengar namun kedua werewolf itu tampaknya tidak peduli. Tangan besar Chanyeol lalu meraih pinggang sintal kekasih hatinya, dibawanya tubuh Baekhyun untuk sedikit lebih tinggi sehingga ciuman mereka jauh lebih leluasa. Jemari lemah Baekhyun terbenam di surai merah Chanyeol, matanya tertutup rapat dan tubuhnya bergetar menikmati sentuhan menyenangkan dari tautan bibir mereka.
Bagaikan tidak ada puluhan pasang mata yang memperhatikan keduanya, Chanyeol merasakan Alphanya terbakar dan tangannya dengan spontannya lalu merenggut kaus yang dikenanan Baekhyun sehingga menyebabkan suara robek terdengar. Keduanya terkesiap dan Alpha itu segera menyudahi ciuman mereka. "Robek, Yeollie..." ujar Baekhyun kaget melihat bajunya yang terbelah cukup lebar di bagian dada. Omeganya itu lalu bersemu malu begitu mendengar godaan dari teman-temannya seolah-olah ia baru disadarkan bahwa mereka baru saja berciuman di depan publik.
Mengabaikan beberapa seruan orang sekitar; Chanyeol kembali ke tampat duduk awal mereka dan memasangkan jaketnya tadi di tubuh Omeganya. "Tidak apa-apa, Yeol. Kau saja yang pakai."
"Mana tahan Chanyeol melihatmu hampir telanjang dada begitu, Baek." Seloroh Jongdae yang segera diikuti tawa Jongin. "Ah, aku ada bayangan yang menarik. Bagaimana jika nantinya Baekhyun yang terpilih menjadi Omega suci itu?" Beta jahil itu kembali menambah gurauannya.
"Aku tidak bisa membayangkan..." Sehun bergidik ngeri.
"Tidak mungkin, Baekhyun itu sudah ditandai..." Luhan menanggapi; direbahkannya kepalanya di dada Sehun yang hanya bisa menyingkir karena masih kesal tampaknya mengenai hal tadi. "Yak, Oh Sehun! Kau itu mate-ku atau bukan, sih?" Lalu sisanya kembali tertawa, Baekhyun sekarang bahkan sudah ikut tersenyum lebar karena geli sendiri melihat Luhan dan Sehun. Ia tidak pernah menyangkan Luhan akhirnya berpasangan dengan Sehun karena Beta itu selalu bersikap menyebalkan kepada Luhan.
"Aku juga heran kalian itu sebenarnya sepasang pasangan atau tidak, sih?"
"Tentu saja kami pasangan! Tidak lihat tanda di leher Sehunnie?" Luhan melirik kesal pada Jongdae. "Oh, omong-omong... kenapa aku tidak melihat tanda di leher Baekkie?"
"Omong-omong, sampai sekarang aku masih bingung dengan aturan kalian di ranjang." Chanyeol membuka suara untuk mengalihkan topik pembicaraan. Ia belum menandai Baekhyun dan ia tidak mau itu menjadi pertanyaan besar bagi teman-temannya. Sehun menatapnya bingung dan Luhan memerah. "Maksudku, Luhan hyung Alpha, bukan? Lalu sudah pasti Sehun berada di posisi bawah tapi aku pernah melihat di hari kedua Sehun memiliki tanda mark di lehernya, Luhan berjalan tidak benar ke sekolah. Kakinya mengangkang dan kepayahan sekali." Alpha itu bercerita tanpa peduli teman-temannya sudah melebarkan mata tidak percaya.
"Luhan hyung bilang mereka bertukar sekali-kali..." balas Baekhyun, justru tidak merasa risih dengan topik pembicaraan ini.
"Sekali? Haha, lebih seperti berkali-kali..." tambah Sehun lalu mengangkat alisnya usil melirik Jongin dan juga Chanyeol. Luhan sudah sangat memerah; ia memukul Sehun kesal. "Yak, Luhan hyung! Kau sendiri yang meminta setelah sekali aku di atas!"
Lalu pecahlah tawa Jongin bersama Chanyeol; sedangkan Jongdae hanya bisa ikut menggeleng-geleng bersama Yifan; keduanya tampak tidak mengerti. Luhan memilih menutup mulut dan Baekhyun menatap pasangan itu tanpa kedip; ia terkesima, takjub, dan juga ingin segera mengalami hal tersebut. Tidak muluk-muluk, sebenarnya Baekhyun sendiri ingin sekali saat-saat pertamanya bersama Chanyeol terjadi lebih awal – ia ingin dimiliki Chanyeol seutuhnya, hanya saja ia ingin menunggu heat-nya datang terlebih dahulu.
Chanyeol pasti mengerti.
Sebesar apapun hasrat Baekhyun ingin disetubuhi, ia menghargai Omeganya dan akan menunggu hingga wolf dalam dirinya dilambungkan oleh heat sehingga isi pikirannya hanya akan ada Chanyeol dan Chanyeol saja.
"Aku sebenarnya tidak mengerti kenapa kalian begitu sekali ingin bertemu dengan pasangan kalian..." Yifan mendesah berat. "Seluruh Alpha Pereda Heat memiliki jalan pikiran yang sama denganku, mereka tidak pernah begitu tergoda dengan seorang Omega dan tidak masalah untuk menolong Omega dalam heat mereka. Mungkin karena itulah aku tidak begitu mempunyai keinginan untuk mempunyai mate."
"Lalu apakah kau sekarang sudah resmi bekerja sebagai Alpha Pereda Heat?"
Yifan menggeleng. "Tidak, mereka hanya menunjukku sebagai intern di sana karena aku masih sekolah. Setidaknya aku harus lulus dulu, tapi aku sudah membantu beberapa pasien Omega yang bermasalah dengan heat mereka dan belum menemukan Alphanya."
"Kasihan sekali."
"Kebanyakan mereka itu adalah Omega yang mempunyai Alpha di luar kota dan membutuhkan waktu cukup lama untuk menunggu sampai Alpha tersebut datang; atau bahkan ada beberapa yang tandanya tidak terdaftar di rumah sakit. Kemungkinan besar dia Omega yang memiliki mate alami seorang Alpha yang jauh lebih muda darinya sehingga Alpha tersebut belum mendapatkan status werewolf mereka."
"Wow. Kau sekarang jadi tahu banyak, hyung." Kagum Jongdae tidak menyangka seorang pendiam dan acuh seperti Yifan dapat menjelaskan mengenai hal ini begitu rinci seolah-olah ia adalah pembicara seminar saja. "Aku sih tidak begitu memperhatikan hal-hal seperti ini, hanya saja di rumah Ibuku sekalu heboh tentang ritual besok malam. Katanya Omega suci itu benar-benar ada."
"Jika aku dalam posisi Omega itu, aku pasti akan sangat tersiksa." Jongin menggumam.
"Kenapa? Bukannya itu bagus? Semua Alpha berlomba-lomba menginginkanmu..." Jongdae tidak setuju. Jongin menggeleng.
"Kau bayangkan saja, kau itu akan berada di tengah-tengah ritual bersama dengan daging-daging hasil buruan – kau akan dilanda heat dan akan tersiksa sementara tidak mengetahui siapa Alpha yang nantinya akan well, menyetubuhimu di depan orang banyak. Tidakkah itu seperti semacam hinaan? Entahlah, mungkin aku yang terlalu sensitif tetapi itu tidak adil saja jika dilihat dari pihak Omega."
Luhan menatap Jongin lekat. "Menurutku, Omega Suci itu akan sangat merasa terhormat jika ia terpilih – kakak sepupuku dulu bahkan sangat tergila-gila ingin menjadi Omega terpilih karena ia ingin diperebutkan oleh banyak orang."
"Justru itulah yang membuat Omega itu tidak terpilih, hyung." Sehun menambahi, ia sudah sangat hapal mengenai hal-hal ini karena keluarganya yang bekerja dengan Yunho mengurus adat mereka. "Kuncinya adalah kesetiaan kepada Alphanya, jika Omega-Omega berkeinginan menjadi rebutan berarti dia berpikir dirinya pantas menjadi tontonan dan perebutan banyak mata. Itu akan membuat dirinya menjadi, maaf saja, agak rendah. Aku tidak begitu yakin juga, tetapi appa mengatakan bahwa dahulu sekali hanya ada satu Omega yang terpilih dari tanah Korea. Dia pun adalah Omega dengan janin termatang, terkuat – terlahir dari keluarga terhormat, dan kabarnya ia bernasib tragis karena Alphanya."
Jongin mendengus. "Heh, Alpha khianat itu ya? Jadi itu benar bukan legenda saja?" Ia mencibir. Chanyeol tampak bergeser dari duduknya, ia sedikit mendekat pada Baekhyun dan menggenggam tangan mungil itu erat – hatinya agak bergetar tidak wajar saat topik pembicaraan mereka berubah. Ia butuh ketenangan yang hanya ia dapatkan dari Omeganya. "Bodoh sekali menurutku jika seorang Alpha menyia-nyiakan Omega mereka. Lihat saja aku? Aku bersumpah jika aku tahu siapa dia yang—"
"—berada dalam mimpimu." Jongdae mengikuti ucapan Jongin yang sudah ia hapal luar kepala.
"—maka aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika menyakitinya sedikit saja. Apalagi mengkhianatinya. Bukannya kita, para Alpha, tidak akan tergoda dan dapat terangsang selain dengan pasangan yang kita tandai?"
"Benar begitu. Tapi kau tahu sendiri katanya Alpha khianat itu dikutuk oleh Dewa."
"Ah semakin membingungkan saja..."
"Bagaimana kalau kita tanyakan pada Baekhyun saja?" Luhan lalu menatap Baekhyun. "Karena kau satu-satunya Omega di sini, bagaimana pendapatmu jika kau terpilih menjadi Omega terpilih besok malam?"
"Aku—aku tidak ingin jadi Omega terpilih." Tolak Baekhyun halus. "Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang, lagipula aku tidak ingin melihat Chanyeol berkelahi dengan banyak Alpha dan terluka."
"Tapi nantinya jika Chanyeol menang kalian akan menjadi pasangan mate juga, toh."
"Tidak, Luhan hyung. Aku—" Baekhyun terhenti, ditatapnya Alphanya dalam diam. "—tidak akan sanggup melihat Chanyeol terluka lagi." Ujarnya tulus.
Wolf Alpha tersebut menghangat – medengar suara hati Baekhyun yang terdengar sangat suci itu membuat hatinya membasah dan jiwanya berbunga; ia semakin merutuk dirinya yang sampai sekarang tidak dapat mengatakan hal yang sebenarnya. Aku adalah Alpha yang tidak setia, Baekhyun. Adalah berhak bagi Baekhyun untuk menolak dirinya, adalah berhak bagi seorang Byun Baekhyun untuk memilih Alpha lain jika benar Alpha tersebut lebih setia daripada dirinya. Tetapi hati Park Chanyeol akan terluka; ia sendiri akan mempertaruhkan nyawanya jika benar Baekhyun lah yang nantinya akan melapor kehilangan tandanya.
"Hmm, bagaimana kalau kita balikkan pertanyaanya?" Usul Jongdae penasaran. "Bagaimana jika Baekhyun terpilih menjadi Omega Suci, apakah kau bersedia bertarung deminya?" Beta itu mengarahkan pertanyaannya pada Chanyeol.
Alpha itu terkekeh halus. "Apa kau bercanda?" Tanyanya heran, dipereratnya lagi genggaman tangan mereka berdua. "Aku akan mematahkan setiap leher Alpha yang berani bahkan melihatnya dan—"
"Woah, Bung. Tidak perlu sampai segila itu." Potong Jongdae agak horror juga mendengar ucapan Chanyeol. "Baiklah kalau begitu aku akan berdoa supaya Baekhyun tidak terpilih, yang benar saja. Aku tidak ingin melihat tumpah darah nantinya."
Chanyeol tersenyum; ia lalu berbisik di telinga kekasihnya, "aku serius dengan ucapanku" yang hanya dibalas senyum balik oleh Omega manis tersebut.
"ARGH AKU TIDAK KUAT MELIHAT KALIAN BERDUA. AKU INGIN OMEGA JUGAAAAA!" Jongin berteriak tidak suka melihat dua sahabatnya yang tampak begitu saling jatuh cinta.
Tidak terasa cerita panjang mereka harus berhenti ketika pihak sekolah dan rumah sakit segera mengumumkan bahwa acara demo mereka akan segera dimulai; Luhan adalah yang paling bersemangat dan segera meraih tangan Sehun agar mereka duduk paling depan. Jongdae berkata ia ingin duduk bersama teman-teman Betanya yang lain sedangkan Yifan berkata ia harus ikut berkumpul dengan Jonghyun dan kawan-kawan Pereda Heat lainnya. Jongin mengaku ia tidak ingin menjadi kacang garing yang diabaikan jika ia bersama dengan Chanyeol dan juga Baekhyun.
"Jongin, tidak apa-apa. Aku tidak akan mengacuhkanmu," ajak Baekhyun bersikukuh.
"Aku tidak yakin, hyung. Sudahlah aku mau duduk paling belakang saja. Aku juga tidak teralu tertarik dengan ritual ini."
"Biar saja, Baek." Chanyeol mencegah Omeganya, ia lalu melambai pada Jongin yang menjauh sebelum mebisikkan tambahan di telinga Baekhyun. "Kalau berdua aku jadi bisa sepuasnya menyentuhmu." Baekhyun manyun mendengarnya, ia tahu Chanyeol hanya bercanda tetapi dentuman di dadanya semakin keras saja. "Kajja, kau mau duduk dimana?"
Kegiatan hari itu dimulai pada pukul sebelas; satu jam pertama akan dihabiskan dengan kata sambutan dari Ketua SM Hospital setelahnya acara makan siang menjadi fokus utama. Beberapa santapan matang menjadi menu makan siang mereka; meskipun mereka adalah manusia serigala namun mereka hanya menyantap daging mentah di beberapa waktu saja. Seperti halnya Chanyeol yang hanya memakan daging mentah ketika berburu, atau beberapa Alpha akan memakan daging mentah tertentu sebelum mengeluarkan knot-nya untuk menyetubuhi Omega mereka. Beberapa mengatakan itu membantu agar Alpha dapat menjadi lebih kuat dan tahan lama dalam kegiatan mating mereka; beberapa Omega akan mengonsumsi mentah hasil buruan Alphanya ketika mereka mengidam sesuatu dan Baekhyun sendiri dapat dihitung jari berapa kali ia memakan daging mentah. Paling hanya pada saat ritual mereka dan itu pun ia lebih memilih memakan daging yang sudah dikeringkan tersebut.
Mengingat-ingat tentang buruan, Baekhyun jadi memikirkan sesuatu. "Chanyeol, apakah nanti malam juga ikut berburu?"
"Hmm? Mungkin, memangnya kau menginginkan sesuatu?"
"Tidak. Hanya bertanya."
Keduanya lalu diam ketika Kepala Sekolah mereka memberi kata sambutan, mempersilahkan Ketua rumah sakit besar itu bicara. Murid-murid tidak terlalu mengindahkan dan beberapa dari mereka bahkan sudah mengeluh lapar.
"Yeollie lapar?"
"Kau lapar?"
"Tidak sih—"
"Aku juga tidak lapar."
Lalu terdengar suara perut Chanyeol, Baekhyun terkekeh dan melihat Alphanya penuh tanya. "Tidak lapar, eoh? Lalu itu bunyi apa?" Tanyanya tanpa menginginkan jawaban dari Chanyeol, ia lalu berdiri dan mengajak Alphanya untuk berjalan menuju stand makan siang mereka. "Chanyeol ingin makan apa?" Ucapnya seraya mengambil satu pinggan besar yang kosong dan siap untuk diisi dengan makanan yang mereka pilih.
Telunjuk Alpha itu lalu mengarah pada bulgogi, Baekhyun segera mengambil beberapa sendok. "Jangan lupa nasinya juga, Baek."
"Hmm. Aku tambahkan sayuran juga ya."
Chanyeol mengangguk setuju. Baekhyun memilih beberapa sayur hijau, tumisan tahu, goreng ayam, dan juga beberapa jenis kimchi sebelum mereka pindah pada meja yang berisikan makanan pencuci mulut juga buah-buahan. Sekotak stroberi segera berpindah ke piring mereka, Chanyeol hanya bisa tertawa melihatnya. "Masih suka stroberi, eoh?"
"Eung! Chanyeol mau pisang?"
"Ehm—iya." Jawab Alpha itu ragu saat melihat sebuah pisang berada di dalam genggaman jemari lentik Baekhyun; ia segera mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba muncul sendirinya. Demi Tuhan, Chanyeol ingin rasanya menampar dirinya sendiri saat itu. Bisa-bisanya ia berpikiran yang macam-macam dari gesture innocent sahabat kecilnya itu. "Satu saja, Baek." Tegurnya saat melihat Baekhyun ingin mengambil satu sisir pisang itu.
"Eoh? Satu saja ya? Hehe, iya juga sih. Satu saja, soalnya pisangnya besar."
Chanyeol lalu sedikit melebarkan mata saat melihat beberapa Alpha di depan Baekhyun tertawa geli mendengar ucapan Baekhyun; mereka tampak memperhatikan jemari mungil Baekhyun yang dengan telatennya memilih potongan buah melon yang paling bagus dan tampak manis sebelum mata-mata nakal mereka beralih pada daerah bawah si Omega. Baekhyun hari itu memakai jelana jeans hitam yang amat ketat – Chanyeol awalnya tidak masalah namun begitu melihat Alpha lainnya dapat melihat paha mulus Bekhyun yang terbalut celana sempit itu membuat dirinya tiba-tiba menyesal tidak meminta Baekhyun berganti pakaian tadi pagi.
"Sudah, Baek. Kita kembali duduk saja." Ajaknya sebelum amarahnya meluap dan ia malah memukul wajah mesum Alpha-Alpha itu. Beraninya mereka tergoda hanya karena Omega polosnya mengatakan hal yang terdengar vulgar di telinga mereka. "Aku akan mengambil baju terlebih dahulu, kau duluan saja."
"Oke."
"Mengerikan, bukan?" Chanyeol berhenti berjalan; membiarkan Omeganya terlebih dahulu bergabung dengan sahabat-sahabat mereka yang lain di meja yang disediakan karena dirinya memang bertujuan untuk mengambil beberapa kaus yang disediakan oleh sekolah mereka secara gratis. Didapatinya Jonghyun, Alpha Pereda Heat dari SM Hospital, mengatakan hal yang tidak dimengerti sepenuhnya oleh Chanyeol. Mata abu-abu terang itu menatap Baekhyun sebelum ia beralih melirik Chanyeol. "Mengerikan. Bagaimana seorang Omega mempengaruhi Alpha. Lihat saja Baekhyun, ia bahkan membuat teman-temanku yang sebelumnya tidak terlalu peduli dengan Omega-Omega, meliriknya penuh minat."
Chanyeol tidak berniat menanggapi; ia hendak pergi sebelum suara Jonghyun kembali terdengar.
"Jika saja mereka bisa menghirup aroma Baekhyun ketika ia tengah heat; hmm... mungkin akan terjadi pelanggaran hukum di sini." Kekehnya.
"Apa maksudmu?"
Jonghyun memasang wajah heran. "Oh, jangan pura-pura tidak tahu, Chanyeol." Ujarnya sok akrab, Chanyeol sendiri bahkan tidak mengerti kenapa Jonghyun bisa mengetahui namanya. "Kulihat dari kedekatan kalian dan tanda yang sama di pergelangan tangan kalian berdua, kurasa kalian adalah mate, bukan? Tentu saja kau dapat menghirup bau Omegamu, Chanyeol. Dan well, aku adalah salah satu Alpha beruntung saat itu sempat tidak sengaja menghirup wanginya saat ia terkena heat. Hmm... seperti apa, ya? Susah diungkapkan. Begitu menggoda; seperti bau jeruk matang segar yang bercampur dengan beri liar dan aroma musim semi yang menengkan dan juga... membangkitkan gairah."
"Hentikan."
"Haha, ayolah. Kau tidak akan cemburu karena hal ini, bukan? Aku hanya dapat menghirupnya beberapa detik saja saat itu dan kau dapat menciumnya seumur hidupmu—"
"Kubilang hentikan!"
Senyum jenaka di wajah Jonghyun lalu berubah; wajahnya menjadi gelap dan matanya menyipit menatap balik wajah tampan Alpha yang berada di sebelahnya. "Hmm, aku memang Alpha Pereda Heat. Kami tidak peduli dengan mate atau apalah itu, tapi jika well... katakan saja Baekhyun nanti terpilih maka kurasa aku siap-siap pensiun dari pekerjaanku." Ujarnya penuh arti sebelum ia pergi meninggalkan Chanyeol.
Suara Alphanya yang merasa terbakar api cemburu segera memenuhi otak Chanyeol.
Bayangan Baekhyun menjadi rebutan puluhan Alpha membuat kepalanya mual.
Ia tidak terima.
Jika sebelumnya ia berharap ada Alpha lain yang bisa lebih baik dari dirinya untuk melindungi Baekhyun, makan sekarang ia sama sekali tidak akan membiarkan Alpha lain, apalagi semacam Jonghyun, untuk memiliki dan menyentuh Baekhyunnya. Hasrat mereka terhadap tubuh Baekhyun membuat ia seakan ingin muntah – begitu rendahkah mereka memandang kekasihnya sehingga mata-mata itu seolah tidak sabaran untuk melihat satu demi satu kain yang membalut tubuh Baekhyun lepas.
Tidak.
Baekhyun itu miliknya.
Chanyeol bersumpah dari sekarang, siapapun yang berniat menggantikan posisinya akan menyesal mempunyai niat dari awal. Dengan kasar dipasangnya kaus putih polos itu sebelum meraih dua potong lagi untuk Luhan dan Jongin.
oOo
Baekhyun risih; ia sedikit menggeliat di tempat duduknya – ditegaknya air dingin beberapa kali dan dikunyahnya beberapa buah stroberi sembari menunggu Chanyeol kembali. Demo peragaan Alpha dan Beta petarung akan segera dimulai dan hidungnya dapat mencium bau-bau tajam Alpha dewasa yang membuat kepalanya sedikit pening; Baekhyun itu adalah Omega yang sangat fertile, ia sangat peka dengan pheromone yang bermacam-macam. Ia menelan ludah payah dan matanya segera berkeliling mencari Alpha berkepala merah yang segera ia temukan berdiri beberapa meter dari tempat duduknya; wajah risau itu berubah menjadi sendu ketika melihat Chanyeol berbicara dengan Suzy; mantan kekasih Chanyeol tersebut. Ia mengerucutkan bibir tidak suka dan segera mengalihkan pandangan; tidak ingin suasana hatinya semakin tidak terkira.
"Hai," sapa Chanyeol menyamankan diri duduk di sebelah Baekhyun.
Kesal; Omega itu tidak menjawab dan hanya memfokuskan mata pada apapun yang ada di arena peragaan saat itu. Alpha-Alpha, pakaian aneh mereka, beberapa batu-batu aneh, dan apalah. Tangan Chanyeol sedikit mendekat untuk mengambil stroberi yang masih tersisa setelah mereka makan siang tadi; tetapi Baekhyun dengan cepatnya menepis tangan Alphanya itu.
"Baekhyun?" Tanya Chanyeol bingung.
"Tidak ada yang namanya Baekhyun di sini." Jawab Omega itu masih dengan keras kepalanya melihat pertunjukan yang sebenarnya ia tidak minati itu.
Mengerti dengan tingkah yang diperlihatkan oleh Omeganya, Chanyeol hanya bisa menahan senyum dan menerka bahwa Baekhyun tadi melihat ia dan Suzy berbicara. Alpha itu lalu mendesah. "Tidak ada ya..." gumamnya. "Padahal aku ingin mengatakan padanya aku baru saja memutuskan Beta itu dengan baik-baik demi dirinya, hmm... kalau dia tidak ada aku bicara pada siapa, ya?" Chanyeol membaca baik-baik air muka Baekhyun yang perlahan berubah menjadi penasaran dan kerut di keningnya hilang; Omega cantik itu masih tidak melirik Chanyeol walau wajahnya jauh lebih tenang sekarang.
"Aku bisa menyampaikannya..." jawabnya pelan sebelum menoleh pada Alpha tampan itu.
"Kalau begitu katakan pada Baekhyun kalau aku benar-benar mencintainya."
Baekhyun tersenyum manis; sembraut merah muda muncul di kedua pipinya.
Chanyeol menatapnya lekat. "Dan katakan padanya jangan pernah cemburu lagi. Karena cemburu itu hanya perasaan untuk mereka yang tidak dapat memiliki sesuatu; sedangkan Baekhyun memilikiku. Perasaan cemburu tidak berlaku untuknya."
Lalu Omega itu terdiam; ia membalas tatapan Chanyeol padanya. "Maafkan aku, Yeollie." Bisiknya lemah. "Aku hanya tidak bisa mengontrol perasaanku," sambungnya menunduk. Chanyeol tidak membalas, lelaki bertubuh tinggi itu hanya meraih tubuh mungil Baekhyun dan membawanya ke dalam dekannya. Dikecupnya pelipis Omeganya itu lembut.
Oh, Baekhyun.
Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu menghilangkan segala keraguanmu, kasih.
Alpha itu termenung; ia tidak bisa menyalahkan Baekhyun dengan perasaan takutnya itu, bagaimanapun Chanyeol adalah pihak yang sempat menolak Baekhyun beberapa waktu yang lalu. Kelakuannya yang gemar mempermainkan Omega juga tidak dapat terhapus dalam sejarah begitu saja, Byun Baekhyun adalah sahabat kecilnya – mereka tumbuh berkembang bersama-sama dan Omega itu tentu sangat tahu bagaimana bejadnya Chanyeol sebelum ia membuka mata.
Tidak.
Ini semua adalah asap dari api perbuatannya.
Omega kecilnya yang rapuh dan lemah, begitu malang ia harus menyaksikan bagaimana ketololan seorang Alpha semacam dirinya. Omega kecilnya yang ringkih; hatinya yang masih suci akan dengan mudah terluka karena perbuatan masa lampau Chanyeol. Kata-kata cinta dan sayang yang Alpha itu katakan memang sanggup membangunkan sang Omega dari tidur panjangnya, namun bekas luka di hati Omega itu tidak akan hilang dengan sendirinya. Dan wolf dalam dirinya, Alpha dominan yang menguasai pikirannya, akan terluka setiap kali Baekhyun, Omega mereka, meragukan mereka.
Lamunan Alpha itu terhenti ketika suara dentuman keras terdengar; arena pertarungan para fighter lalu segera berisikan dengan makanan ritual dari hasil perburuan yang saat ini hanyalah tiruannya karena ini adalah demo semata, seluruhnya mungkin telah terbiasa melihat pemandangan ini namun untuk pertama kalinya werewolf-werewolf muda itu tercengang beberapa saat melihat sebuah batu besar yang diangkat oleh enam sampai tujuh wolf masuk ke arena lapangan.
"Itu tempat berbaring Omeganya nanti..." tebak beberapa siswa.
"Tapi batunya masih kosong."
"Memangnya tidak ada orang yang memperagakannya?"
Chanyeol melihat sekitar; beberapa Alpha petarung itu nantinya tentu akan memperagakan Alpha yang akan memperebutkan sang Omega; namun benar, batu itu masih kosong dan ketika Chanyeol melihat dari sudut arena Jonghyun menatap ke arahnya dengan sebuah senyuman. Alpha itu dapat membaca apa yang direncanakan Jonghyun. "Baek, kita pulang saja." Ucap Chanyeol segera. Ia bergantian melihat ekspresi bingung Baekhyun dan wajah Jonghyun yang sekarang terlihat sedang tertawa.
"Kenapa, Yeol? Puncaknya baru dimulai, kita belum pernah melihat—"
Suara Baekhyun terputus saat musik yang dihasilkan dari dentuman alat pukul khas adat mereka berbunyi keras; beberapa Alpha peraga tampak berlari-lari dan seluruh murid lalu berdiri untuk melihat pemandangan di depan mereka lebih leluasa. Chanyeol mendecak kesal begitu menyadari mereka duduk di barisan paling depan dan sudah sangat sulit untuk menerobos siswa lainnya untuk pergi dari lapangan. "Sudahlah, Baek. Aku—Baekhyun?" Alpha itu melihat genggaman tangannya lepas dan tubuh Baekhyun tidak terlihat di sekitarnya sama sekali.
"Sialan." Chanyeol mengumpat begitu suara gaduh menghilang dan seorang yang memperagakan sebagai pemimpin ritual masuk – Alpha itu dipaksa duduk walau kepalanya masih berputar ke segala arah untuk melihat dimana Baekhyun. Beberapa siswa kembali bersorak kaget begitu melihat batu yang tadinya kosong sekarang sudah terisi; dan Byun Baekhyun duduk di sana dengan wajah tidak mengerti. "Jonghyun..." desis Chanyeol mencoba menenangkan diri.
.
Baekhyun hanya bisa mengangguk; Jonghyun sengaja menariknya dari kumpulan penonton dan memintanya untuk menjadi relawan sebagai Omega Terpilih. Jonghyun mengatakan bahwa pemeran Omega mereka tiba-tiba tidak bisa tampil dan setelah mengatakan pada Jonghyun bahwa ia tidak pintar berakting sama sekali; Alpha Pereda Heat itu menenangkannya dan mengatakan bahwa Baekhyun hanya butuh duduk saja di sana. Lalu berbaring saat pemimpin ritual memberi aba-aba.
"Lalu kapan berhentinya?"
Jonghyun hanya bisa tersenyum. "Nanti setelah ada yang menang, demo ritualnya akan berhenti, Baekhyun."
Baekhyun menggigit bibir ragu. "Tidak akan ada lanjutannya, bukan? Berarti aku hanya butuh duduk di sana saja? Tidak—"
Jonghyun kemudian tertawa. "Tenang saja, Baekhyun. Ini hanya demo, seperti pertunjukan saja."
"Baiklah."
"Oh, omong-omong kau minumlah ini dahulu."
Baekhyun menerima minuman yang diberikan oleh Jonghyun. "Ini apa?"
"Itu hanya cairan penenang. Aku tahu Omega sepertimu akan terganggu dengan aroma Alpha-Alpha. Bau teman-temanku tentu memusingkan kepalamu." Mendengar penjelasannya, Baekhyun segera menegak habis cairan itu karena ia mengaku sangat membutuhkannya. Ia lalu merasa lega karena Jonghyun begitu mengerti dengan keadaanya. "Kau siap?"
"Eung."
Alpha dewasa itu lalu tersenyum dan mengarahkan Baekhyun untuk dibawa oleh staf lainnya menuju batu peragaan. Ia awalnya merasa biasa saja – beberapa Alpha bertarung dan hal-hal yang sudah setiap tahunnya ia lihat berkali-kali. Tetapi ketika ia melihat Jonghyun ikut bertarung, ia merasakan tubuhnya merinding – tatapan Jonghyun yang sempat bertemu dengannya mengingatkan Omega itu kembali pada saat malam dimana ia mendapatkan heat-nya dan aromanya tercium oleh Alpha tersebut. Tanpa dicegah; Omega dalam dirinya sedikit tersudut, ia merasa malu seolah dirinya ditonton oleh Alpha lain tanpa memakai helai baju sedikitpun.
Dan di saat-saat inilah, hatinya menjadi berkecamuk dan hormon menguasai pola siklus heat-nya yang tidak teratur.
Baekhyun tersentak – tubuhnya bereaksi tidak wajar saat aroma-aroma Alpha di sekitarnya semakin tercium pekat. Kepalanya menjadi pening dan perutnya terasa teraduk oleh perasaan yang familiar; tidak. Takutnya dalam hati.
Tidak.
Kumohon, tidak.
Ia membatu; Omega itu tahu persis bahwa heat-nya dalam waktu yang tidak lama lagi akan datang menyerangnya. Dan di saat yang sama, Baekhyun melihat pertarungan Alpha-Alpha itu selesai dengan Jonghyun sebagai pemenangnya.
Ini akan segera selesai, begitu pikirnya dalam hati. Toh, Jonghyun juga menjajikan perannya akan berakhir saat pertarungan usai – namun begitu polos lah Baekhyun mempercayai semuanya, mata Alpha itu bak elang menatap mangsa saat ia berjalan dengan gagahnya ke arah si Omega. "Apa yang—umph!" Baekhyun merasakan tubuhnya didorong paksa oleh Jonghyun hingga ia rebahan di batu tersebut, tubuh hangat Jonghyun berada di atasnya. "Jonghyun-ssi, apa yang—"
"Oh, Baekhyun. Kau tahu sendiri apa yang akan kulakukan..."
Baekhyun melebarkan mata takut. "Tapi bukannya kau berkata—"
"Ayolah, Baek. Ini hanya demo, biarkan orang-orang melihat sedikit bagaimana gambaran ritual esok malam..."
"Aku sudah memiliki mate! Aku tidak—apa yang kau lakukan?!" Jonghyun dengan lancangnya menyingkirkan jaket yang ia kenakan untuk melihat kulit lehernya yang masih mulus tidak terlihat tanda apapun di sana.
"Aku tidak melihat tanda kepemilikkan di lehermu, manis."
"Tidak! Chanyeol akan—YAK! APA YANG KAU LAKUKAN!" Baekhyun berusaha menghindar saat Jonghyun menurunkan kepalanya dan mengendus bagian lehernya; Omeganya itu menutup mata dan tangannya bergetar. Aroma pekat Jonghyun membuat Omega dalam dirinya tersudut dalam ruang sempit, ia hanya bisa menutup mata pasrah saat hidung bangir Jonghyun menyentuh titik-titik pusat bau di lehernya. "Chanyeol..." panggilnya lirih.
"Jangan sentuh dia, keparat!" Suara berang dari Alphanya segera terdengar, Baekhyun tidak mampu membuka mata walau ia merasakan tubuh Jonghyun sudah tidak berada di atasnya. "Kau menakutinya, sialan!" Geram suara itu lagi dan beberapa detik setelahnya Baekhyun merasakan tubuhnya direngkuh oleh tangan hangat dan aroma tubuh Chanyeol yang begitu damai menjadi penenang rasa takutnya. "Baek, tenanglah, Sayang. Aku di sini..." ujarnya mengelus lembut punggung kekasihnya itu.
"Chanyeol... Chanyeol..."
"Baekhyun, aku di sini. Aku Chanyeol, Baek."
Baekhyun lalu membuka mata, ia menatap Alphanya takut. "Chanyeol, bawa aku pergi, Yeol." Ucapnya semakin mendekatkan diri pada Alphanya itu; tubuhnya menjadi sangat sensitif.
"Baek apa yang—"
"Kumohon, Channie... bawa aku pergi sebelum—enghh..." Baekhyun menutup mata kembali, sentuhan innocent Chanyeol di punggungnya perlahan berubah menjadi sentuhan panas yang membakar seluruh titik syaraf dalam dirinya. Ia lalu merasakan keringat mengalir deras dari pelipisnya. Ia lalu terisak; wolf dalam tubuhnya menggeliat tidak suka akibat heat yang datang dengan menyiksa.
Chanyeol bisa membaca gerak-gerik aneh Baekhyunnya; Alpha dalam dirinya lalu siaga dan dibutakan oleh keinginan untuk memiliki Omeganya seutuhnya sebelum suara-suara batin dari Alpha lainnya yang terdengar begitu vulgar memancing amarahnya. Sialan. Ia menggeram tidak suka; ditatapnya belasan pasang mata dari Alpha-Alpha tanpa mate yang tergoda oleh aroma manis alami yang menggoda dari tubuh Baekhyun.
"Hmm... cepat sekali reaksinya, Omega lain butuh dua jam setidaknya untuk bereaksi." Ujar Jonghyun sedikit tertawa karena tidak percaya.
"Apa yang kau lakukan pada Baekhyun?!"
Jonghyun menatap Chanyeol hambar. "Ayolah, Chanyeol. Sedikit berbagi dengan kami aroma manis saat heat Omegamu tidak ada salahnya, bukan? Tidak baik menyimpannya sendiri. Lagipula, well... siapa yang akan tidak tergoda melihat Omega yang depresi dan memohon untuk disentuh. Kau pasti tahu..." ejek Alpha itu sembari menghirup aroma Baekhyun yang perlahan membutakan akal sehatnya.
Beberapa Alpha lain yang berada di arena ikut tergoda dan membiarkan aroma Baekhyun membangkitkan wolf dalam diri mereka; Chanyeol dapat melihat mata-mata itu lalu melirik Baekhyunnya penuh minat. "Sial... Baek, shift. Kita harus lari dari sini, Baekhyun."
Namun Omega itu menggeleng lemah. "Tidak—enghh—tidak bisa, Yeollie." Jawabnya; ia tidak bisa berubah saat itu. Omeganya yang dilanda heat secara tiba-tiba masih belum siap sama sekali; ia terjatuh lemah, ia kesakitan, dan satu-satunya perasaan yang ia rasakan hanyalah kebutuhan akan sentuhan saat ini. "Chanyeol... hiks, sakit sekali. Chanyeol..." isaknya membenamkan wajah di leher Alphanya.
Chanyeol tahu ia dapat menandai Baekhyun saat itu juga.
Maka aroma Omeganya akan tersimpan untuk dirinya saja; tetapi ia tidak akan mungkin memberikan mark di leher Baekhyun di saat-saat seperti ini. Ia tidak ingin menandai Baekhyun di depan banyak mata seperti ini; ia tidak ingin melakukannya hanya karena saat-saat genting. Ia tidak pernah menginginkan proses marking mereka terjadi hanya karena seorang jahanam layaknya Jonghyun memberikan ramuan sialan yang membuat heat Omeganya menjadi lebih cepat secara tidak wajar.
"Chanyeol..."
"Baekhyun-ah, berusahalah berubah, Baek. Aku tidak akan bisa membawamu pergi dengan wujud seperti ini, kau harus bekerja sama denganku, Sayang..." pinta Chanyeol tidak yakin jika ia dapat mengendalikan diri. Bagaimanapun Baekhyun adalah Omeganya, jiwa Alphanya akan menggelora jika melihat tubuh Baekhyun yang berkeringat dan wajahnya yang haus belaian – dengan wujud wolf-nya maka Baekhyun tidak akan terlalu mengundang birahi orang banyak, Chanyeol juga akan dengan mudah mengontrol hasratnya, dan mereka akan dengan cepat meninggalkan tempat ini karena pergerakan wolf mereka jauh lebih cepat dibandingkan dengan wujud manusia mereka.
"Engh—tidak bisa, Yeol. Hiks... Chanyeol, please... sentuh aku..." iris kelam Baekhyun lalu berubah – kelabut birahi telah menyelimuti akal sehatnya dan di saat yang sama Jonghyun dan Alpha lainnya perlahan mendekat ke arah mereka berdua.
Milikku...
Untukku...
"Fuck—" umpat Chanyeol mendengar pikiran kotor dari Alpha-Alpha di sekitarnya. Dikepalkannya tangannya lalu ditatapnya Alpha-Alpha itu berang; taringnya lalu perlahan memanjang dan bola matanya lalu berubah warna. Ia tidak akan membiarkan werewolf lain menyentuh Baekhyunnya. "Menjauh sebelum arena ini berdarah sebelum waktunya." Hardiknya mencoba memperingati Jonghyun dan kawan-kawan.
"Well, sepertinya Baekhyun tidak keberatan jika ia digauli oleh dua atau lebih Alpha secara bersamaan."
Chanyeol tahu itu hanya pancingan saja; tetapi ia sudah tidak bisa menahan Alphanya, rasa protektifnya semakin dominan dan dengan gerakan cepat diserangnya Alpha yang lebih dewasa darinya itu. Ia tidak mengenal siapapun selain Jonghyun; empat sampai lima Alpha mungkin adalah angka yang tidak akan sanggup ia lawan. Tetapi sudah tidak ada jalan keluar.
Suara hantaman segera terdengar dan pertarungan yang awalnya hanya sebuah peran demo saja sekarang berubah menjadi kenyataan; Chanyeol mendapatkan beberapa serangan di tubuhnya dan ia berteriak marah saat dua Alpha sudah berada di dekat Omeganya.
"Tidak!"
Baekhyun menggeliat di dalam pelukan salah satu Alpha itu; heat-nya membuat ia tidak sadar dan tangannya mengalung di leher tersebut, Chanyeol memberontak di bawah tekanan kaki Jonghyun yang menekan keras punggungnya hingga wajahnya membentur tanah kasar. "Lihatlah, Chanyeol. Bahkan Baekhyun tidak menolak saat Alpha lain menyentuhnya," Jonghyun berkomentar.
"Baek!" Panggil Chanyeol tidak peduli dengan ucapan Jonghyun; matanya menatap nanar Omeganya yang melengkungkan badan saat tangan-tangan itu membelai sekujur tubuh sensitifnya. Alpha dalam tubuhnya mendidih; hatinya terhimpit. Ia menggeram murka; baju yang ia kenakan lalu perlahan menyempit karena tubuhnya yang membesar, siap untuk berubah. Ketika bibir Alpha asing itu mendekat dan hendak mencium kepemilikkannya, Chanyeol sepenuhnya berubah dan dilemparnya tubuh Jonghyun menjauh dan digigitnya lengan Alpha yang berani menyentuh Byun Baekhyun. Taringnya merobek kulit itu hingga darah mengalir dari arterinya seperti air dari keran; werewolf dengan bulu cokelat gelap itu tidak memberikan kesempatan kedua dan segera memastikan lawannya melemah sebelum ia melemparkan tubuh itu sekenanya.
Tiga Alpha lainnya lalu ikut berubah; aura perkelahian keluar dari pancaran mata predator mereka – satu temannya dibuat tidak berdaya dan sudah sangat biasa di dalam kelompok serigala bahwa mereka akan membela sahabat mereka dan ikut bertempur jika serigala lain melukainya.
Chanyeol mengeluarkan taringnya; gigi-gigi tajamnya berlumuran darah dan matanya berkilat, pertanda bahwa ia sudah lebih dari siap untuk melawan siapapun saat itu. Dari kejauhan ia dapat lihat beberapa Alpha dan Beta kenalan Jonghyun ikut bergabung, bersamaan dengan Luhan, Sehun, Jongdae yang sudah berjalan mendekatinya. Tiga sahabatnya itu berdiri di sebelahnya seolah membuat tameng untuk melindungi Baekhyun yang masih menahan heat di belakang mereka. Chanyeol mengangguk mengerti pada Luhan, Alpha yang mengatakan padanya bahwa mereka akan ikut bertarung untuk melindungi Baekhyun. Ia juga menambahkan bahwa Jongin dan Yifan tidak bisa ikut karena mereka berdua berkemungkinan tergoda dengan aroma heat Baekhyun.
Luhan adalah Alpha yang kuat; tidak diragukan lagi saat ia berhasil menyingkirkan lawan dengan mudahnya – mereka masih kalah jumlah namun melihat kekuatan dari Luhan dan juga Sehun, Beta yang memang memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar dari Beta pada umumnya, ia yakin kelompoknya tidak dalam masalah.
Beberapa siswa lainnya hanya bisa mundur dan menjaga jarak; beberapa Alpha sudah menjauh duluan karena Yifan dan Jongin memilih untuk membawa para Alpha-Alpha yang belum memiliki mate untuk menjauh dari arena. Mereka tidak ingin aroma Baekhyun mempengaruhi yang lain; beberapa siswa yang penasaran tetap melihat dengan seksama walau tidak ingin bertarung karena mereka tidak akan mau melawan Alpha-Alpha dewasa sementara mereka masih remaja.
Isakan Baekhyun semakin menjadi; Chanyeol mulai kehilangan kendali saat didengarnya Omeganya merintih tidak kuat menahan heat. Di saat yang samalah, lawannya menyeringai dan segera memberikan pukulan tepat di lukanya yang belum sembuh total. Chanyeol sedikit terhempas; dirasakannya darah segar kembali mengalir dari cabikan bekas lukanya. Ia melawan, cakar tajamnya berhasil menembus kulit tebal werewolf dengan bulu abu-abu gelap itu dan menyebabkan serigala tersebut meraung.
Setelah lawannya jatuh; Chanyeol baru tersadar bahwa werewolf tersebut sempat melukai bahu kanannya, menambah luka segar lain di tubuhnya – ia lalu sedikit lengah sehingga tidak sadar werewolf dengan bulu hitam legam berlari ke arahnya. Ia terpental cukup jauh; tubuhnya menabrak tumpukan kayu kering yang akan digunakan untuk perapian besok malam. Ia sedikit mengerang perih; beberapa kerikil kasar menambah pedih di sekujur lukanya.
Chanyeol sadar teman-temannya sedang melawan Alpha lainnya; satu Alpha ini tersisa untuknya, dan sialnya Alpha itu justru berjalan ke arah Baekhyunnya. Tidak terima, Chanyeol berusaha bangkit dan menyerangnya dari belakang – mereka berguling saling serang. Pada akhirnya Chanyeol berhasil menindih Alpha itu; dibuka lebar mulutnya, siap untuk merobek leher Alpha yang ia yakin adalah Jonghyun.
"Argh!"
Suara Baekhyun kembali terdengar; dan dengan spontan Chanyeol menoleh ke arahnya, Omega itu tidak berdaya dan mata sang Alpha menangkap cairan bening membasahi celananya – menandakan bahwa lubang senggamanya siap menerima knot dari seorang Alpha.
Chanyeol lalu kembali terlena; Jonghyun membalikkan keadaan dan tubuh Alpha remaja itu sekarang berada di bawahnya. Taring Jonghyun meninggalkan goresan di wajahnya; Chanyeol berusaha melawan walau ia sudah terpengaruh dengan suara jeritan Baekhyun yang semakin terdengar begitu menyiksa di telinganya. Ia melihat keadaan Omeganya; tubuh itu basah dan tangan kecilnya mengapit di kedua belah paha dalamnya – bibirnya bergetar dan matanya menutup rapat, ia terlihat kesakitan, ia begitu kesakitan; Chanyeol dapat merasakan dirinya seolah merasakan apa yang Baekhyun rasakan.
Ia bahkan tidak sadar saat Jonghyun sudah mengarahkan taringnya menuju lehernya; ia hanya menatap Baekhyun dengan seksama – mata wolf-nya yang berwarna hitam legam itu berkaca melihat pemandangan yang ia dapat dari sang Omega. Ia lalu terpekik merasakan taring runcing itu menancap di kulitnya.
Kelopak mata Baekhyun terbuka; didengarnya Chanyeol mengerang payah. "Chanyeol! Chanyeollie!" Sahutnya lemah; melihat Alphanya berada di dalam bahaya membuat Omega itu seolah mengalami de javu dimana Ayahnya menyerang sang Alpha.
Tubuhnya merasakan sakit yang sama.
Lehernya terasa terbakar saat taring Jonghyun menembus kulit Chanyeol.
Ia menggeleng-geleng sakit; tubuhnya diserang dua sumber perih yang berbeda dan keduanya siap untuk membunuhnya.
Chanyeol merasakan tenaganya melemah; ia tidak siap dengan serangan tiba-tiba dari Jonghyun.
Aku mencintaimu, Baekhyun.
Ucapnya merasakan taring itu semakin dalam menancap lehernya. Jika ini adalah saat terakhir ia dapat melihat Baekhyun, maka Chanyeol bersumpah ia adalah Alpha terkutuk yang pernah ada – ia yang tidak sanggup melindungi Baekhyun, ia yang menyerah ketika Omeganya dalam keadaan yang payah. Chanyeol mengerang; dalam detik terakhirnya ia masih dapat mendengar suara Baekhyun memanggil namanya. Dan di saat ia yakin bahwasanya ia akan kalah, tubuh werewolf dewasa itu lalu tersingkir dan Chanyeol melihat Luhan dan juga Sehun berada di hadapannya.
Chanyeol segera kembali berdiri; dilihatnya Jongdae masih bertarung dengan seseorang dari kelompok Jonghyun – Sehun yang berada paling dekat dengan Alpha dewasa itu segera mendapat pukulan dari lawannya. Luhan segera membantu sebelum ia menoleh pada Chanyeol untuk mengatakan sesuatu.
Aku bisa menahan mereka.
Kau bawa Baekhyun pergi dari sini, Chanyeol.
Begitu pesan terkahir Luhan sebelum Chanyeol membawa tubuh Baekhyun menjauh dari sana; Omega itu diletakkannya di atas punggung wolf-nya. Tangan lemah Baekhyun memegang lehernya erat – jari-jari mungil itu tenggelam di balik bulu lebat Chanyeol yang berwarna gelap, begitu kontras dengan kulit putih dari Omega tersebut. Tubuh panas Chanyeol mengirimkan hangat ke sekujur tubuh Baekhyun yang memanas dari dalam namun dingin di permukaan; kain tipis yang membalut tubuh mungil itu membuatnya kedinginan namun suhu tubuh sang Alpha membuatnya nyaman.
"Yeollie..." bisiknya lembut; matanya terpejam dan perasaan menyiksa itu berubah menjadi tentram saat tubuhnya bersentuhan dengan bulu-bulu tebal Chanyeol. Ia dapat merasakan tangannya yang melingkar di leher Chanyeol perlahan membasah, cairan pekat mengotori kulit bersihnya dan bau amis darah segera menguar di udara – Omega itu lalu membenamkan wajahnya di panggung Alphanya itu. Dikecupnya permukaan berbulu itu berkali-kali, berharap sentuhannya dapat meringankan rasa sakit yang ditimbulkan oleh luka di tubuhnya. "Engh—" namun Baekhyun ternyata masih tidak bisa menahan heat yang semakin terasa saja, ia bahkan dapat merasakan lubang senggamanya begitu gatal dan cairan bening telah membasahi dinding rektumnya.
Chanyeol mengaum.
Omega itu memerah malu; cairan lubrikasi yang keluar dengan sendirinya itu mungkin dapat dirasakan oleh Alphanya, ia sendiri tidak dapat mencegahnya. Dari heat pertama hingga saat ini, Baekhyun tidak pernah bisa menahan cairan itu keluar dari tubuhnya – apalagi dengan keintiman mereka sekarang, justru lubangnya semakin melubrikasi dirinya sendiri; begitu siap dengan knot yang nantinya akan masuk menerobos cincin perawannya. "Hmm..." desahnya merasa tenang saat aroma Chanyeol kembali menusuk masuk ke indera penciumannya.
Begitu berbeda dengan bau Alpha-Alpha lainnya yang membuat ia merinding, Chanyeol memiliki aroma yang dapat menenangkan batin – ikatan mereka mungkin dapat menjadi alasan mengapa Baekhyun begitu menyukai wangi yang keluar dari tubuh sang Alpha. Sungguh memikat, sungguh mengikat, dan Omega itu terjerat; segala angannya yang terbang bebas sekarang masuk dalam perangkap Park Chanyeol – ia menyukainya, ia menyukai dirinya berada dalam penjara Alphanya.
Kaki tangguh dan kokoh itu senantiasa berlari; sudah berapa ratus meter mereka menjauh dari jangkauan Alpha-Alpha tadi, keduanya kini berada di tengah hutan dimana cahaya mentari bahkan tidak masuk terhalangi oleh dedaunan dari pohon-pohon tinggi. Ketika Omega itu merasakan kecepatan lari Alphanya perlahan berkurang, ia sudah mengira Chanyeol akan menurunkan tubuhnya – tetapi ia ia tidak menyangka bahwa Chanyeol akan berubah ketika tubuhnya masih berada di atas punggungnya.
Baekhyun terkesiap; pegangannya nyaris lepas jika saja Chanyeol tidak segera membawanya dalam pelukannya saat mereka berdua jatuh berguling di rumput basah. Dedaunan segar dan juga yang sudah layu mengotori dan menempel di tubuh keduanya; Baekhyun membuka mata setelah tubuh mereka berhenti bergerak dan badan Chanyeol berada di atasnya.
Sedikit mengaduh, Baekhyun merasakan kepalanya berbenturan cukup keras dengan pohon yang berada tepat di atas kepalanya. "Argh!" Keluhnya.
"Mian... Aku tidak sanggup berlari lagi," ujar Chanyeol terdengar bersalah; Baekhyun menggeleng.
"Tidak apa-apa, Chanyeol. Kita sudah cukup jauh dari mereka... Aku tidak dapat menghirup bau mereka lagi, kalau Yeollie tidak sanggup berlari lagi dan lelah kita bisa berhenti saja." Omega itu menanggapi dan tersenyum lembut.
Chanyeol hanya bisa tertawa pelan, membuat Omega yang berada di bawahnya agak menatap bingung. "Baekhyun, aku tidak lelah, Sayang..." jelasnya sebelum mendesahkan napas cukup dalam. "Aku... aku tidak bisa berkonsentrasi," akunya lalu menatap tubuh mungil itu dengan iris yang tidak fokus sama sekali. Jakunnya perlahan naik-turun menelan ludah payah melihat kilat keringat yang melapisi kulit putih Omeganya; membuat kilau alami yang terlihat begitu mengundang di mata Chanyeol.
"Chanyeol..." lirih Baekhyun mulai mengerti dengan arti tatapan dan maksud dari perkataan Alpha itu.
Baekhyun terasa begitu lembut dan halus menerpa kulit tebalnya; membuat Alpha itu menahan birahi susah ketika tugas utamanya adalah menyamarkan bau Baekhyun dari predator-predator yang menginginkan Omeganya. Sapuan lembut jemari itu di bulu sekitar lehernya membangkitkan hasrat dari seorang Park Chanyeol; Alphanya terbangun dan diamnya knot-nya terusik. Ia ingin merasuki Omega itu sampai ke titik terdalam; membuat lelaki itu hanya mendesahkan namanya dalam kenikmatan yang setara dengan nikmatnya arak surga.
Tangan besar Chanyeol lalu bergerak dari bahu sempit itu ke bawah; menyapa kulit Baekhyun hingga beristirahat lama di pinggul Omeganya – mata mereka saling bertukar pandang, hanyut dalam lautan iris mata pasangannya. Alpha itu terus menatap lekat bola mata kelam Baekhyun dengan miliknya yang berwarna cerah layaknya madu hutan segar, dengan mudahnya ia menyelipkan jemarinya masuk di balik baju kaus yang dikenakan Baekhyun dan menyentuh kulit telanjang di dalamnya.
Keduanya bergetar dalam sensasi sentuhan sederhana namun terasa begitu menyenangkan; Baekhyun sedikit melengkungkan badannya, memberikan ruang agar tangan-tangan Chanyeol menjelajah di punggungnya. Seluruh syaraf Omega itu melagu, ngilu yang terasa sangat menyiksa di daerah intimnya menjadi-jadi walau sekarang berganti dengan perasaan suka dan keinginan dan perasaan butuh. Telapak tangan Chanyeol yang kasar berciuman dengan kulit tipis nan halus di punggungnya; Omega itu lalu mendesah pelan saat tuntutan akan sentuhan itu kian dalam.
"Chan—ahh~" ujarnya yang terputus oleh desahan.
"Eísai tóso ómorfos[2]..." Chanyeol mendesahkan pujiannya; wolf dalam dirinya membara dan matanya begitu memuja pemandangan indah di hadapannya. Omeganya. Miliknya. Kekasihnya. Mate-nya; pasangan hidupnya – Baekhyunnya. Disentuhnya sosok itu begitu lembut seolah ia adalah kaca dan jemarinya adalah batu kerikil tajam yang dapat menghancurkan lapisan kristal tipis di depan mata; Byun Baekhyun, permatanya, permata berharga namun rapuh miliknya.
Hai, Malaikat kecilku.
Begitu indah parasmu, bahkan ketika ku melihat langit kan ku dapatkan wajahmu mengitari hatiku.[3]
Dengan hati-hati, Chanyeol menurunkan wajahnya – bibirnya mengarah pada dua belah bibir tipis dari werewolf di bawahnya; disentuhnya pelan seolah-olah ia menunggu penolakan yang akan diberikan, seolah-olah ia menanti kata tidak keluar dari mulut kecil itu, seolah-olah sentuhan ringannya dapat membunuh si manis itu. Bibir Baekhyun lembut ketika disentuh, candu yang terasa seperti madu – tidak bersifat racun seperti arak yang mampu membunuh, tetapi reaksi yang diberikan pada Alpha tampan itu mengalahkan minuman keras terbaik yang pernah ada.
Lebih dari sekali mereka berciuman; namun entah kenapa detak jantung dua lelaki itu berpacu seperti saat ciuman pertama – Chanyeol menjilat bibir bawahnya, matanya menatap lekat bibir basah kekasih hatinya yang terbuka. Kesadarannya menghilang; diturunkannya kembali kepalanya untuk mempersatukan kembali mulut mereka berdua dalam ciuman yang lebih lama durasinya.
Milikku.
Hampir tidak terhitung jumlah pasang bibir yang pernah ia kecup; dan hanya milik Baekhyunnya lah yang mampu membuat Alpha dalam dirinya tenang dan terlena – selama ini yang ia rasa hanyalah hampa dan kekosongan semata. Bahkan rasa sakit mengiba ketika batinnya menolak karena paksaan birahi manusianya. Chanyeol menekan bibir itu lebih dalam; dilumatnya bibir atas dan bawah itu bergantian – dikulumnya lembut sebelum kembali menciumnya lekat. Dicumbunya dengan penuh cinta; dimainkannya bibir itu dengan sepenuh hatinya, dikerahkannya seluruh rasa sayang yang ia punya agar jiwa dan raga Omeganya mengerti dan dapat membaca bahwa setiap sentuhan yang ia berikan berkata "aku mencintaimu" untuk kesekian kalinya.
Lalu Baekhyunnya kembali menggeliat.
Tubuhnya kembali terbuai; heat-nya mengambil alih permainan – dibalasnya ciuman Chanyeol dengan lumatan-lumatan, diraihnya wajah Chanyeol dan dimiringkannya kepalanya sehingga mereka dapat berciuman lebih dalam. Baekhyun adalah yang pertama untuk membuka mulutnya; mengundang lidah Chanyeol untuk bermain di dalam rongga hangatnya – ia mendesah dan tubuhnya menegang ketika sentuhan itu ia dapatkan di langit-langit mulutnya.
"Hmm—Yeol..."
Panggilan mendayu itu membuat Alphanya terbangun sempurna; tangan-tangan Chanyeol yang sebelumnya membelai halus punggungnya dengan mudah lalu melepaskan bajunya hingga kain itu terobek paksa. Kulit halusnya segera terbuka, angin sore bebas menyapa dada telanjangnya.
Geraman tertahan keluar dari kerongkongan haus sang Alpha; Baekhyun merasakan tubuh Chanyeol menekan tubuhnya lebih kuat – tangan-tangan besar itu lalu meraih pinggulnya erat dan dalam gerakan yang begitu cepat; tubuhnya terangkat dan dalam hitungan detik saja sekarang ia telah menyandar di batang pohon besar dengan tubuh Chanyeol menghimpitnya. Ia dibuat menengadah karena tinggi mereka yang begitu berbeda; satu tangan Alphanya lalu meraih kedua tangan mungilnya dan menumpukannya di atas kepalanya. "Ahhh—" ia mendesah lemah; Chanyeol meraup bibirnya seolah ia adalah mata air sementara Alpha tampan tersebut tersesat seminggu lebih lamanya di padang pasir gersang.
Tangannya mengepal kuat dan buku-buku jarinya memucat – kedua pergelangan tangannya dipegang terlalu erat oleh sang Alpha; serpihan kayu segar berjatuhan karena gesekan tangan mereka. Satu tangan bebas Chanyeol menari di dadanya; Baekhyun menahan nafas saat jari-jari panjang itu menyentuh dan menggoda tonjolan di sana. Desahan telak keluar; ia melepas ciuman mereka untuk mengeluarkan desahannya. "Ahh—Chanyeol... Chan—engh—" bibirnya bergetar; cumbuan Chanyeol lalu berpindah di rahangnya.
Tekanan tubuh Chanyeol yang terlalu hebat membuat pohon yang menjadi penahan mereka sedikit goyah; namun keduanya tampak tidak peduli sampai mereka kembali mempersatukan bibir mereka.
Keringat perlahan mulai muncul di tubuh Chanyeol.
Baekhyun mengerang agak keras saat Chanyeol semakin memperkuat pegangan tangannya; pohon tua sandaran mereka lalu semakin goyah menyebabkan Baekhyun sedikit terdorong ke belakang karena batang itu memiring rebah ke tanah. "Yeol—ahh!" Keduanya kembali jatuh namun kali ini tubuh Baekhyun berada di atas Alphanya.
Tidak peduli dengan betapa konyolnya akibat dari perbuatan mereka yang membuat sebatang pohon jatuh, Chanyeol justru membisikkan kalimat yang sedari tadi menjadi isi kepalanya. Menjadi isi hati utamanya serigalanya. "Aku akan menklaimmu, Baekhyun. Lalu aku akan mencumbumu. Lalu akan menyetubuhimu. Lagi. Dan lagi, hingga kau hanya akan mengingat namaku."
Baekhyun mendesah; wolf-nya menggelinjang senang.
"Oh, Baekhyun. Aku ingin menyetubuhimu dengan lembut, Baek. Lalu aku akan menyetubuhimu dengan kasar, Omega."
Merasa dibutuhkan.
Merasa diinginkan.
Omega tersebut membalas dengan tatapan penuh keinginan; ditatapnya iris cokelat Chanyeol seolah menjawab ungkapan Alpha itu. "Setubuhi aku, Alpha. Aku milikmu. Setubuhi aku semaumu, kau berhak akan itu. Masuki aku dari arah yang kau mau, aku akan senang akan hal itu. Tandai aku, cumbu aku," ujarnya bergetar – birahi dan rasa senang yang meletup-letup menyerangnya hingga dinding pertahanannya pecah. "Setubuhi aku, kasar atau lembut – terserah kau, Alphaku. Aku milikmu."
Mendengar kepasrahan dari Omeganya; Chanyeol lalu menganga untuk membuka lebar mulutnya, mengeluarkan taring tajamnya dan mengarahkan gigi-giginya di leher mulus Baekhyun. Digenggamnya tangan Omega itu sebagai penenang sebelum ditancapkannya taring itu hingga mengoyak kulit leher tipis sang Omega; sebuah teriakan sakit terdengar dari Baekhyun, Alphanya mencabik kulitnya, Alphanya menandainya – darah keluar dari luka barunya namun jiwanya melayang di pintu surga.
Omeganya berbunga; tangis bahagia keluar dari mata sipitnya.
Ketika dirasakannya Chanyeol menghisap darahnya; Omega itu melenguh, hantaman kenikmatan menjalar di tubuhnya – ia seolah tengah diberikan sebuah orgasme hebat tanpa sentuhan. Begitu kuat. Begitu nikmat. Titik tersensitif dalam dirinya disentuh hangat, tanpa bisa dicegahnya ia lalu mendesahkan nama Alphanya merdu. "Milikku..." bisik Chanyeol sebelum menjilati luka baru di leher Baekhyun dan memberikan waktu beberapa detik hingga luka itu perlahan kembali menutup; meninggalkan bekas mark yang menjadi pertanda bahwa Baekhyun adalah miliknya. Omeganya. Pasangan mate-nya.
"Chanyeol... Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol..."
Tubuhnya bergetar hebat; Baekhyun menggigit bibirnya keras, tubuh mungilnya menahan kenikmatan awal ketika Alphanya berhasil memberikan tanda kepemilikan di tubuhnya. "Sshh—aku di sini, Baek." Tenang Chanyeol memberikan ciuman-ciuman lembut di bibir Omeganya.
Setelah merasa lebih tenang; Baekhyun membuka mata – ditatapnya Chanyeol penuh harap. "Yeollieh..." lirihnya; tubuhnya sekarang merasakan hasrat berkali-kali lipat; status barunya sebagai Omega seutuhnya dari Park Chanyeol membuat ia merindukan, menginginkan, membutuhkan sentuhan dari knot Chanyeol secepatnya. Digigitnya bibir bawahnya merayu, tangannya dengan sendirinya turun dan meremas lembut junior Chanyeol yang masih terbungkus celana denimnya. "Aku ingin knot Yeollie..." pintanya.
Satu permintaan manja yang sanggup membuat segala keraguan Chanyeol menghilang.
Diubahnya posisi mereka hingga sekarang Baekhyun kembali rebahan di bawahnya; dilepaskannya kancing celana Omeganya tanpa tergesa-gesa, tangannya pergerak pelan dan pasti sementara bibirnya sibuk mengecup seluruh bagian wajah Baekhyun. Hasrat yang membuncah menguasai keduanya; Chanyeol dapat merasakan penisnya berkedut dan tanda-tanda bahwa knot-nya akan keluar adalah sesuatu yang baru baginya.
Ia belum pernah merasakan dirinya terangsang sedemikian rupa sehingga knot-nya berkeinginan untuk memasuki lubang seorang Omega; ini adalah Omeganya, ia menginginkannya, knot-nya menginginkannya. Sebesar apapun rasa untuk merasuki Baekhyun saat itu juga, Chanyeol tidak ingin melukai kekasihnya – ditahannya nafsunya dan dilatihnya dirinya sabar demi meninggalkan rasa indah bagi Omeganya.
"Yeol—"
"Sabar, Sayangku..." potong Chanyeol membaca nada bicara Baekhyun yang tidak sabaran, Omega itu sedikit mengeluh dan Chanyeol sepenuhnya mengerti, hantaman heat pasti membutakannya. "Oh Tuhan..." kagumnya kembali begitu celana Baekhyun lepas dan tubuh polos kekasihnya tepat di depan mata. Begitu banyak cerita yang mengatakan bahwa pesona dari tubuh telanjang mate-nya saja dapat membuat gairah Alpha berada di puncak; Chanyeol tidak menepiknya – ia tergoda, tubuh Baekhyunnya membuatnya gila; mata besarnya bagai tidak rela berkedip karena sedetik tanpa pemandangan indah ini akan begitu menyiksa.
Tangannya kembali menjelajah – disentuhnya perut datar itu lalu ia berhenti di kulit halus paha Omeganya. Ia kembali menelan ludah payah; kilau yang disebabkan keringat di sekujur badan Baekhyun membuat ia tampak mempesona.
Byun Baekhyun tidak memiliki bulu lebat di daerah selangkangannya; bulu-bulu halus yang jarang tumbuh di sana – begitu berbeda dengan sang Alpha yang bahkan memiliki garis rambut-rambut kasar yang tumbuh di bawah pusarnya.
Byun Baekhyun terlihat begitu menggoda.
Begitu sempurna.
Segala yang berhubungan dengan Omega itu adalah kelembutan semata; layaknya hatinya yang sama persis dengan kulit halusnya.
Chanyeol menelan ludah.
Kemaluan Omeganya itu membengkak pada ukuran terbesarnya; ujung penisnya memerah dan aliran darah yang membuncah membuat penis itu bergerak pelan dengan sendirinya – begitu sensitif, begitu submissive, begitu menginginkan sentuhan dari Chanyeol. "Enghh—" desahan Baekhyun keluar, ditutupnya matanya erat saat dirasakannya jemari Chanyeol menyentuh ereksinyanya.
Chanyeol tersenyum melihat paha Baekhyun melebar dan tangannya lalu menekuk kaki tersebut sehingga sekarang Omeganya benar-benar mengangkangkan kaki lebar dengan lutut ditekuk ke atas. Lubang merah muda yang sempit itu lalu terlihat; Chanyeol menahan umpatan yang nyaris keluar begitu matanya menangkap cairan bening yang mengalir dari hole mungil tersebut. Penisnya lalu berkedut ngilu dan mulutnya menjadi kering selalu; tanpa menunggu lebih lama lagi, direndahkannya wajahnya, diturunkannya kepalanya hingga kedua telinganya bersentuhan dengan kedua paha kanan dan kiri Baekhyun. Diendusnya wangi alami yang berasal dari cairan pelumas tersebut; bau beri yang bercampur dengan vanila lembut – akal sehat Chanyeol menjadi kabur dan hal selanjutnya yang ia lakukan adalah menjulurkan lidahnya dan mengecap manisnya.
"Chan—ahh—Yeol!" Pekik Baekhyun, ia meremas tanah dan dedaunan yang dapat diraih oleh tangannya – melampiaskan rasa nikmat baru yang menyebabkannya terlena. Lidah Chanyeol yang sebelumnya menyentuh dinding mulutnya sekarang bergerak di permukaan lubangnya; bibir tebat itu lalu menciumi hole basahnya, dilumatnya sebelum dijilatnya hingga saliva dan cairan itu bersatu dan kembali dikecap oleh Alphanya. Ketika dirasakannya lidah Chanyeol menyeruak masuk ke dalamnya, Baekhyun menahan debaran yang berpacu dan menggila.
Tangan Chanyeol menjamah tubuhnya; menyentuh privasinya, memberikan penawar dari heat yang sekarang merupakan hadiah Dewa dan Dewi untuknya. Desahan senantiasa keluar dari bibir tipis itu; permainan lidah dan tangan Chanyeol di titik-titik sensitif dirinya membuat ia terenyuh. Saat-saat dinding lubang senggama bersentuhan langsung dengan lidah basah sang Alpha, Omega itu seketika membelalakkan mata dan mendesahkan nama Chanyeol begitu syahdu.
"Ah—Chanyeol..." panggilnya mesra ketika gelombang panas yang menghantam tubuhnya semakin terbaca indah. Tangan Baekhyun lalu meraih surai merah terang kekasihnya, diremasnya lembut rambut itu sebelum ditekannya kepala sang Alpha agar lebih dalam lidah itu menjajah hole sempitnya. "Yeollieh—engh..."
Chanyeol lalu menjauh, ia menghentikan aksinya yang segera disambut keluhan kekecewaan dari sang Omega – lelaki tampan itu lalu tertawa dibuatnya. "Tidak sabaran, eoh?" Tanyanya bermaksud menggoda yang hanya dibalas anggukan dari Baekhyun; mata yang selama ini selalu tampak begitu lugu itu sekarang berselimut hawa nafsu. Mendapati kejujuran tersebut membuat Chanyeol segera melepas celananya sendiri tergesa; tidak rela puluhan detik habis karena ia tidak akan bisa menunggu lebih lama. "Kau membuatku gila, Baek..." bisiknya.
"Aku juga—engh—gila karena—ahh—" Baekhyun tidak mampu lagi berkata untuk melanjutkan balasannya; jari-jari kasar Chanyeol meraih penisnya, digenggamnya batangnya itu kuat dan dinaik-turunkannya tangannya. Omega itu menikmati gesekan telapak tangan Chanyeol yang memberikan sengatan-sengatan mendebarkan di permukaan penisnya. Bibirnya lalu kembali disibukkan oleh ciuman yang didaratkan Chanyeol untuknya; tidak ada kata lembut dalam ciuman menuntut tersebut; Baekhyun mengguman nikmat ketika bibir bawahnya berada di antara gigi kekasihnya. Chanyeol memberikan gigitan-gigitan di belahan lembut itu sebelum ia kembali meraup bibir atas dan bawah Omeganya bergantian; satu tangannya yang bebas sekarang meraih penisnya sendiri.
Alpha itu mendesah; kejantanannya menegang begitu keras hingga nyaris ia merasakan kesakitan.
"Baek..." panggilnya terlena dengan sentuhannya sendiri. "Aku akan menyetubuhimu..." bisiknya kembali; serak suaranya mengirimkan panas membara bagi lelaki yang lebih kecil. "Aku akan menyetubuhimu, sayangku..." ujarnya kembali; kali ini jemarinya turun dan bergerak-gerak di permukaan lubang basah Baekhyun.
Pekikan Baekhyun terdengar nyaring; membelah kesunyian di dalam hutan saat ini – satu jari Chanyeol berhasil membobol lubang perawannya; bergerak liar di dalam sana sehingga sang Omega hanya bisa menganga dengan liur menetes dari sudut mulutnya.
Menggeliat hebatlah Baekhyun ketika Chanyeol menambahkan dua jari setelahnya; perasaan tidak nyaman perlahan datang dan ia mengungkapkannya dengan bergerak gelisah. "Tidak—engh—pelan—ohh! Chanyeol!" Omega itu kembali dibuat terbelalak, tiga jari Alpha bergerak kasar di dalam lubangnya, keluar-masuk tidak sopan memperkosa hole-nya yang berkedut layaknya jalang. Baekhyun menelan ludah – ya, dia adalah jalang Park Chanyeol, tidak akan merasa terhina ia jika sekarang Alphanya tersebut mengatakan demikian.
Ia adalah milik Chanyeol.
Tubuhnya adalah kanvas dan Chanyeol adalah pelukisnya.
Alpha itu berhak atas segala tindakan yang diperuntuknnya baginya.
"Akhh—Yeol... Yeol, Yeol, Yeol..." panggilnya seperti mantra, kelenjar pusat nikmat dalam dirinya bersentuhan dengan ujung-ujung jari Alphanya.
"Kau menikmatinya, Omega?"
Baekhyun mengangguk segera.
"Kau menginginkannya, Omega?"
Respon yang sama, Baekhyun hanya dapat mengulangi aksinya. Jemari itu semakin menekan prostatnya, menubruk daging sebesar biji walnut itu dengan tidak sabaran dan tanpa jeda. "Ahh—Chanyeol—Alphaku..." isaknya merasakan serangan-serangan kenikmatan begitu membabi buta mempermainkannya. "Kumohon—hmm—masuki aku..." pintanya.
Meski ia masih menginginkan permainan yang lebih lama; masih menginginkan untuk menggoda Omeganya, Chanyeol tidak akan mampu menyiksa dirinya lagi. Batangnya sudah berkedut dan merindukan lubang hangat Byun Baekhyun; dan mendengar permohonan si mungil itu meminta agar mereka segera menyatu membuat Alpha tersebut langsung memposisikan kejantanannya di depan hole Baekhyun.
"Ehmm—nikmat, Yeol..." desah Baekhyun ketika ujung penis Chanyeol menggesek lubangnya sebagai pemanasan; jemari lentiknya mengalung di leher Alphanya yang terluka itu. "Anghhh—" ditatapnya mata teduh Chanyeol lekat; menambah debaran di jantungnya. Mata sayu itu mencoba bertahan untuk tetap terbuka; tidak ingin memutuskan pandangan mereka saat-saat pertama.
Keduanya mengerang.
Baekhyun mencoba menggerakkan pinggulnya.
Chanyeol menikmati detik-detik ketika senti demi senti penisnya masuk semakin dalam di lubang sang Omega. "Ohh Baekhyun..." desisnya.
Tubuh mungil Baekhyun terhentak; tanah dibawahnya menjadi tertekan hingga membuat ia seolah berbaring di sebuah lubang – punggungnya mungkin telah sangat kotor oleh tanah basah yang berada di sana, namun mulutnya sudah tidak dapat berkata apa-apa selain desahan ketika penis sang Alpha terus memompa dirinya. Mereka berdua berpacu bersama birahi.
"Baby..." panggil Chanyeol berat; Baekhyun menatapnya lekat, dan mereka lalu saling melumat dengan pinggul senantiasa bergoyang seirama untuk melepas hasrat. Semilir angin sore yang perlahan bergantikan dengan malam itu membelai dua tubuh telanjang tersebut; beberapa dedaunan yang jatuh seolah mencoba menutup kegiatan intim dua werewolf itu. Seperti malu menjadi saksi bisu dari persatuan pasangan serigala yang saling mengecap madu; sari dari kenikmatan masing-masingnya, heroin utama yang membutakan segalanya.
Keringat keduanya semakin membasah.
Aroma persetubuhan keluar dan dihantarkan oleh udara kepada ratusan binatang yang hidup di hutan Korea; mereka lalu bersuara; pejantan lalu mencoba mendekati sang betina – ingin bercinta jua karena suara dua werewolf itu membangkitkan musim kawin mereka.
Chanyeol merasakan knot -nya semakin terbentuk; dan di saat yang sama ia merasakan hole Baekhyun semakin berkedut – Omeganya sudah di ambang batas, werewolf tampan itu segera mempercepat gerakannya. Bibirnya memberikan jilatan-jilatan mesra di wajah sang Omega. "Chanyeol... Chanyeol, aku datang—ahh—Sayang, Yeollie..." sebut Baekhyun tidak teratur.
Dua kali hentakan lagi; Chanyeol merasakan cairan hangat keluar dari ujung penis Baekhyun membasahi perut mereka berdua. Omeganya menegang dan punggungnya melengkung menahan nikmat; tidak tahan dengan kontraksi dari dinding senggamanya, Chanyeol lalu segera menghentakkan pinggulnya hingga penisnya masuk sangat dalam. Hantaman dari puncak kenikmatan membuat tubuhnya bergetar hebat; air maninya lalu mengalir di dalam tubuh Omeganya.
"Hmm..." gumam Baekhyun nikmat. Dipeluknya tubuh Alphanya erat saat cairan hangat itu masuk jauh hingga menyentuh dinding rahimnya.
Keduanya terbius oleh kenikmatan cinta; Chanyeol merebahkan kepalanya di curuk leher Baekhyun – knot-nya lalu membesar, menyeruak di dalam lubang Baekhyun dalam. Organ intim itu akan bertahan dengan ukuran besarnya di dalam sana; bersemayam hingga seluruh spermanya habis dan berhasil menembus sel telur sang Omega.
"Ahh—Yeol—Chanyeol—engh..." Baekhyun terisak; hole-nya menjadi melebar dan serasa tiga buah penis lagi masuk dalam tubuhnya.
"Sshh—sabar, Baek."
Baekhyun menggelinjang; knot Chanyeol berada dalam dirinya. "Hmmm..." gumamnya perlahan merasakan ketenangan.
"Aku mencintaimu, Baek... Aku mencintaimu, Omegaku. Kau hebat, Sayang. Kau akan menjadi Omega yang hebat untuk anak-anak kita." Puji Chanyeol tepat di telinga Omeganya. Beberapa menit lamanya mereka membatu dalam posisi itu; penis Chanyeol masih tertahan oleh knot-nya di dalam rektum Baekhyun. Cairan cintanya yang rasanya tidak kunjung habis itu masih mengalir di dalam sana.
"Emmh—penuh, Yeol." Gumam Baekhyun menggigit bibir bawahnya; ia merasa sesak, semen Alphanya memenuhi rahimnya. Ia memalu begitu ia sadar bahwa ia menyukai sensasinya; ketika knot besar itu tertancap di lubangnya sementara rahimnya dibasahi oleh jutaan sperma. Membaca raut muka Baekhyun, Chanyeol lalu membelai wajah lelah tersebut. Seperti menenangkannya dan meyakinkan sang Omega bahwa itu adalah perasaan wajar yang tidak pantas ia risaukan.
Berakhir dengan sebuah ciuman, knot tersebut lalu perlahan menghilang.
"Hmm—penuh sekali, Yeollie."
Chanyeol terkekeh mendengarnya.
"Aku pasti hamil besoknya..." ujar Baekhyun tanpa pikir panjang.
"Hmm, kau akan hamil esok harinya."
Omega itu lalu terkikik manja. "Dan Yeollie ayahnya." Jawabnya lembut dalam sebuah gumaman yang hampir tidak terdengar oleh Chanyeol; werewolf itu lalu melirik wajah kekasihnya, mata itu tertutup. Ia tampak mengantuk, Chanyeol tersenyum maklum.
"Baek?" Panggilnya lembut, namun Omeganya itu sudah terlebih dahulu masuk ke dalam bunga tidur. Wajahnya yang cantik terlihat damai dan sebuah senyum terukir di bibir tipis itu. Chanyeol terenyuh; dikecupnya tanda kepemilikkan di leher Baekhyun. "Aku mencintaimu, Baekhyun. Aku sangat beruntung mendapatkanmu, Omegaku."
.
Tepat ketika mentari hilang dari langit kota Seoul, serorang remaja datang di kediaman Ketua Suku. Ia tampak takut dan matanya yang besar memerah dengan linangan air mata mengalir di pipinya. Ia lalu terisak, dengan lemah disodorkannya tangan kirinya dimana di sana terlihat tanda dari Alphanya menghilang. Ia menangis, mengatakan bahwa tubuhnya sakit.
"Siapa namamu, Anakku?" Tanya Yunho menatap penuh Omega jantan tersebut.
"D—Do Kyungsoo..." jawabnya sebelum tubuhnya melemah dan jatuh di lantai ruang tamu rumah ketua itu.
[1] Aku hanya menginginkanmu
[2] Kau sangat indah
[3] Terinspirasi dari lirik awal "Heaven" karena well, gue suka banget sama lagu itu
Tbc
