Daylight Daybook

Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu

Fiksi ini ditulis oleh Peony autumn dengan mengambil prompt "Love song"

(Words count: 785)

Warning : HakuKyou! AU! Reincarnation.

Request from Furaa.

No commercial profit taken.


.

Kirana rembulan masih bertengger manis menerangi mayapada. Dersik bertiup keras menerbangkan dedaunan bercampur dengan bau anyir darah yang terasa menyengat indra penciuman.

Di tengah kesadaran yang masih tersisa, sebuah tangan terulur berusaha menggapai sosok yang sejak tadi bergeming tak bereaksi.

Iris merah muda menengadah ke atas cakrawala. Dengan kekuatan terakhir yang dimilikinya, bibir ranum itu bergetar melafalkan sebaris kalimat permohonan.

"Kamisama! Aku mohon, berikan hidupku ini untuknya. Berikan dia kesempatan untuk hidup kembali."

Gemuruh terdengar menyambar seiring dengan kilatan guntur yang membelah angkasa.

Detik itu, bidadari memberikan hidupnya untuk manusia yang ia cintai. Ribuan rintik air yang berjatuhan menjadi saksi atas afeksi suci.

Perlahan entitasnya mulai lenyap melebur bersama rintik air, menyisakan sebuah selendang sutra sewarna sakura pada musim semi.


xxx


.

Iris biru mengerjap, kala seberkas cahaya menerobos masuk melalui retina mata. Rasa sakit terasa menghantam seluruh bagian tubuh dan meremukkannya sampai ke tulang. Bahkan, untuk sekadar bertukar oksigen baru rasanya begitu menyiksa.

"Akhirnya kau sadar juga." Ada kehangatan yang merambati tangannya. "Aku sangat senang," ungkapnya penuh syukur.

Siapa gadis ini? Kenapa aku di sini?

Pemuda itu berusaha menelusuri kembali sisa-sisa memori episodiknya. Barangkali, ada secuil kisah tentang kilas balik hidup atau setidaknya identitas sederhana seperti nama.

Ibarat serpihan bunga dandelion yang terhempas angin. Fragmen otak yang berfungsi mengatur ingatan telah sirna tak bersisa. Semakin ia berusaha mengingat, rasa sakit semakin menyergap kepalanya. Seperti ada ratusan jarum yang menusuk sel-sel di otaknya.

"Kenapa, aku di sini?" Ia hendak bangkit. Namun, Koyuki buru-buru mencegahnya.

"Sebaiknya kau istirahat, Hakuji-san. Tubuhmu belum sepenuhnya pulih," peringat Koyuki.

Hakuji? Itukah namanya? Jika memang benar, kenapa malah gadis itu yang mengenali identitas tentangnya, sementara dirinya tidak.

Hakuji hanya bisa pasrah saja, saat dirinya dituntun untuk berbaring kembali. Tampaknya Koyuki adalah gadis baik hati, hal itu tergambar jelas dari kelembutan sikap dan tutur katanya.

Meski baru pertama kali bertemu dengan Koyuki. Tapi, Hakuji tak merasa asing dengannya. Seperti sudah mengenal lama.

Mungkin, ini merupakan dampak dari ingatannya yang bermasalah.

"Bagaimana keadaan anak itu?" Sang ayah bertanya khawatir.

"Sudah mulai membaik ayah." Ditaruhnya cangkir teh ke atas meja. "Sayangnya, ia tak mengingat apapun," Koyuki berujar sedih.

"Tetap rawat dia dengan baik," perintah ayah Koyuki. "Ayah yakin seiring waktu, ia akan kembali sehat." Seulas senyum ia berikan.

Koyuki memandang penuh haru ayahnya. Anggukan kepala diartikan sebagai jawaban implisit atas perintah sang ayah.

Netra merah muda beralih pada objek di balik bingkai jendela besar. Koyuki yang saat itu sedang menjemur pakaian spontan terpekik kaget ketika mendapati seorang pemuda tergeletak tak sadarkan diri di halaman rumahnya.

Berkat kelapangan hatinya, sang ayah memutuskan untuk merawat Hakuji.

Tak ada yang tahu, apa penyebab pasti Hakuji tergeletak dengan luka fatal yang nyaris memenuhi setiap jengkal tubuhnya. Tak ditemukan juga benda-benda atau hal mencurigakan, selain selembar kartu identitas data diri.

Dan dari sanalah, Koyuki mengetahui nama Hakuji.


xxx


.

Koyuki merasakan dengan jelas suatu dorongan kuat dalam dirinya yang menggerakkannya untuk terus merawat Hakuji. Walau, pemuda itu telah lama tertidur tenang tanpa menunjukkan adanya tanda akan sadar.

Koyuki tak pernah bosan menantikan sepasang kelopak mata itu terbuka. Ia selalu bertanya, seperti apa kiranya warna iris mata yang tersembunyi di sana. Maka, saat kesempatan itu datang. Ia tak dapat menutupi kebahagiaan. Puji syukur, tak lupa ia lantunkan kepada sang penulis takdir.

"Sudah cukup, tak usah didorong lagi," kata Hakuji menginterupsi.

Akui saja, sebenarnya Hakuji merasa malu sekaligus tak enak kepada gadis dengan rambut tersanggul itu.

Terhitung dua bulan, sejak dirinya berhasil menemui kesadaran. Koyuki menemani dan merawatnya dengan baik. Tak sampai di sana, gadis itu juga membantunya untuk kembali sehat.

Seperti sekarang, pagi hari adalah jadwal rutin berjemur di bawah mentari. Mengingat, sinar matahari sangat baik untuk proses pemulihan.

"Terima kasih atas semua kebaikan, kalian." Hakuji menundukkan kepala, enggan menatap mata merah muda. Menurutnya rasa terima kasih tak akan pernah cukup untuk membalas kebaikan ayah serta anak ini.

"Aku dan ayah melakukannya dengan senang hati," balas Koyuki. Tangannya bergerak mengupas buah-buahan.

Tak pernah terbesit dalam benak Hakuji, jika dirinya akan bertemu dengan orang sebaik mereka. Yang ia tahu, kebanyakan manusia lebih sering bersikap tak acuh, daripada harus repot menolong orang yang tak jelas latar belakangnya.

Terlebih lagi, jika orang itu tak memiliki masa depan sepertinya.

"Tak perlu dipikirkan, Hakuji-san." Koyuki menyodorkan sepiring penuh berisi apel.

Pandangan Koyuki menerawang langit-langit biru. "Sebentar lagi festival kembang api." Koyuki bermolong selagi Hakuji menyantap apel.

Lalu matanya beralih menatap teduh pemuda itu. "Lekas sembuh Hakuji-san." Senyum tulus belum luntur dari parasnya.

"Karena aku hanya ingin melihat kembang api, bersamamu," tutur Koyuki penuh kesungguhan.

Hakuji mematung tak dapat berkata. Ada desir hangat yang menyelinap di hati. Jika reinkarnasi memang nyata. Hakuji yakin dirinya tak akan salah.

Koyuki adalah sosok bidadari yang bereinkarnasi menjadi manusia.

Di kehidupan yang baru, mereka bisa saling mencintai tanpa adanya dinding pembatas.


FIN!


.

A/N : Hallo, Peony in here! Kali ini saya mengambil prompt dua hari berturut-turut. Kemarin dan sekarang. Ya! Karena promptnya Love song, saya menulis fanfic ini berdasarkan sebuah lagu cinta. Judulnya Everything I Do, I Do it for you - Bryan Adams. Lagu ini disarankan oleh teman saya, karena di sini tidak bisa mencantumkan lirik, untuk fanfic versi liriknya tersedia di AO3. Dengan judul fanfic yang sama. Oh iya, soal pair ini request-san dari teman baik saya, Furaa. Ingin yang beda katanya, untukmu semoga suka ya.

Untuk kalian selamat menikmati ceritanya, sampai jumpa lagi~!