LOVE LIVE LONDON

...

..

.

CHANBAEK STORY

..

CAST

Byun Baekhyun / Brian

Park Chanyeol / Richard

..

.

.

Baekhyun menepuk pundak Chanyeol beberapa kali, mencoba membangunkan pria tinggi itu dari tidur lelapnya. Entah sejak kapan Chanyeol benar-benar jatuh tertidur disana.

"Richard, kita sudah sampai" Perlahan kesadaran Chanyeol mulai kembali, matanya mengerjap mencoba menyesuaikan bias cahaya yang masuk ke retina. Pria itu mengernyit sedikit merasa linglung. "Kita harus segera turun, sebelum kereta kembali berjalan" ucapan Baekhyun menyadarkannya, dengan segera pria jangkung itu menegakkan tubuh, mengusap wajahnya kasar untuk kemudian bangkit dari sana.

Dinginnya udara malam di bulan November menusuk sampai tulang. Orang-orang pasti lebih memilih berdiam diri dirumah dengan selimut tebal dan coklat panas daripada harus menelusuri jalanan London di jam ini. Tapi sayangnya kedua adam itu diharuskan berjalan kaki sejauh 200 meter dulu agar bisa sampai di apartemen miliknya.

"Kau kedinginan?" Chanyeol bertanya saat netranya menangkap Baekhyun yang sedikit menggigil, padahal tubuh itu sudah dilapisi Jacket tebal dengan bulu-bulu dibagian kerah lehernya.

"Sedikit"

"Kau mau menggunakan jaketku?" Chanyeol menawarkan, padahal pria itu hanya menggunakan Jacket kulit berwarna hitam dengan sebuah hoodie sebagai dalaman.

"Tidak perlu, Kau pasti juga kedinginan. Lagipula sebentar lagi kita sampai" jawabnya sambil menenggelamkan wajahnya di bulu-bulu yang ada di sekitar lehernya.

"Kalau begitu jangan berjalan terlalu jauh dariku. Kita harus saling berdekatan agar merasa lebih hangat" Setelah kalimat itu terucap Chanyeol tanpa aba-aba menarik Baekhyun mendekat dimana membuat si manis sontak berjengit dan refleks menjauhkan tubuhnya.

"Sudah kubilang jangan jauh-jauh" Chanyeol kembali menarik tangan Baekhyun, menghapus jarak yang pria itu ciptakan.

"Tapi ini terlalu dekat" Yang lebih mungil mengambil dua langkah kesamping menghindari tubuh jangkung Chanyeol. Tapi sayang, sekali lagi pergerakannya tertahan.

"Lebih dekat lebih baik, dengan begitu kita tidak akan merasa dingin" ujar Chanyeol tanpa dosa sambil menampilkan senyum idiot yang entah mengapa masih membuatnya terlihat begitu tampan. Tangannya setia menahan agar Baekhyun tidak menjauh.

Baekhyun menghela nafas panjang tidak bisa lagi mengelak, hanya bisa pasrah. Chanyeol itu lebih keras kepala darinya dan dia yakin tak akan bisa menang melawanya "Baiklah" Mendengar itu Chanyeol diam-diam tersenyum dibuatnya.

Mereka kembali melanjutkan langkah dalam diam, sebenarnya Baekhyun tidak nyaman karena posisinya yang begitu berdempetan. Membuat jantung dibalik dadanya itu terus-terusan ribut.

"Baek" Chanyeol memecah keheningan.

"Ya?" Baekhyun yang merasa dipanggil mendongakkan wajahnya. Menatap Chanyeol yang juga melihat kearahnya.

"Baekhyun?" Sekali lagi Chanyeol memanggilnya.

"Ada apa?" Baekhyun menatap Chanyeol bertanya-tanya. Pria itu hanya memanggil namanya tak kunjung mengatakan suatu kalimat apapun. Membuatnya jadi bingung sendiri.

"Jadi benar namamu Baekhyun?" lontaran itu seketika membulatkan mata coklatnya. Baru menyadari Chanyeol barusan memanggil nama aslinya, Baekhyun, bukan Brian seperti biasa.

"Eh? D-darimana kau tahu namaku?" ucapnya sedikit terbata, ia terkejut pria itu bisa mengetahui nama aslinya. Apa Chanyeol sudah tahu siapa dia? Ini bukan hal yang baik jika pria disampingnya ini benar-benar tahu tentang identitasnya, ia tak ingin nama baik ayahnya tercoreng karenanya. Meskipun sebenarnya Baekhyun tak melakukan suatu hal apapun yang bisa mempermalukan keluarga.

"Sehun"

"Sehun?"

"Aku tidak sengaja mendengar darinya saat memanggilmu" Baekhyun memejam sesaat, merasa lega Chanyeol hanya tidak sengaja mengetahui namanya. Setidaknya dia masih aman sekarang. Tapi tetap saja dalam hati pria manis itu merutuki kebodohan adiknya.

"Namamu bagus, sangat cantik, cocok denganmu" suara Chanyeol kembali menarik atensi dari umpatannya dalam hati.

"T-terimakasih" ujarnya malu-malu.

"Kalau boleh tahu, siapa nama lengkapmu?"

"huh? Nama lengkapku?" Chanyeol mengangguk "Namaku- Baek Hyun"

Yang lebih tinggi mengernyitkan dahi "Hanya Baekhyun? Margamu baek? "

"y-ya"

Firasat Chanyeol mengatakan jika Baekhyun tengah menyembunyikan sesuatu. Terlihat cukup jelas dari gerak-gerik dan nada bicaranya. Jujur Chanyeol begitu penasaran dengan siapa pria itu sebenarnya. Baekhyun tak pernah menceritakan tentang siapa keluarganya, lebih terkesan menutupi malah. Chanyeol juga yakin kalau Baekhyun bukanlah dari keluarga sembarangan, terlihat jelas dari gaya hidup dan barang-barangnya. Dia pasti mengenal keluarga Baekhyun di Korea. Mungkin salah satu kolega ayahnya atau mungkin saingan perusahaan miliknya. Atau paling tidak ia tahu keluarga mereka.

Hampir pukul 11 malam, Baekhyun telah sampai di apartemen sejak setengah jam lalu. Pria itu kini sedang duduk di sofa, pandangannya mengarah ke TV didepan sana tapi otaknya tengah melalang buana memikirkan adiknya. Ia tiba-tiba saja merasa khawatir sejak telpon sang ayah.

"Aku pulang" Panjang umur, Suara Sehun seketika mengalihkan atensi. Pria itu bergegas bangkit melangkahkan kaki menuju sang adik.

"Sehun, syukurlah kau sudah pulang. Apa terjadi sesuatu? hal buruk terjadi? Kau dari mana? Kenapa tadi pergi mendadak?" Baekhyun menyambut dengan serentetan pertanyaan yang mengalun dari bibir tipisnya.

Sehun tak mengatakan apapun, pria itu bahkan masih mencoba melepas sepatunya. Selanjutnya beralih untuk menapakkan kaki menuju sofa melewati Baekhyun begitu saja.

"Tidak ada yang buruk, tapi-"

"Tapi?" Baekhyun mengekor dibelakang mengikuti kemana Sehun pergi.

"Ayah sudah tahu kalau aku ke London bukan untuk mengurus kepindahan terkait beasiswa di Cambridge, tapi datang menemui mu" Baekhyun sejenak mematung mendengarnya, hingga beberapa detik kemudian melanjutkan "Kau kena marah? Ayah tidak akan mengusirmu juga kan?"

"Tidak tidak, Ayah tidak marah, malah tadi menanyakan kabarmu." tunggu, apa Baekhyun tidak salah dengar? Ayahnya menanyakan kabarnya?

"Ayah menanyakan kabarku?" tanyanya memastikan, masih tak percaya. Sebenarnya itu hal yang lumrah seorang ayah menanyakan kabar putranya. Tapi bagi Baekhyun itu sebuah anugrah, sesuatu yang harus disyukuri.

"Iya, Dia menyuruhku pulang dan memintaku mengajakmu sekalian"

"Ayah meminta ku pulang?" Dan kalimat itu semakin membuatnya bertanya-tanya, ini terlalu tiba-tiba. Mereka bahkan tak pernah saling bertukar kabar, dan mendadak sang ayah menyuruh Baekhyun pulang setelah 10 tahun lamanya. Apa mereka sudah bisa menerima kekurangannya sekarang?

"Kenapa?"

Sehun mengernyitkan dahinya bingung "Kenapa? kau tidak mau pulang?"

"Bukan begitu, hanya saja terasa sedikit aneh. Kenapa tiba-tiba?" Sehun menganggukkan kepalanya menyutujui apa yang Baekhyun katakan.

"Aku juga tidak tahu. Tapi, apapun alasannya kurasa ini sesuatu yang bagus" Dalam hati sebenarnya Sehun juga tak yakin apa yang tengah direncanakan ayahnya itu. Tapi untuk sejenak ia berusaha memilih berfikir positif.

"Begitukah?" Baekhyun bimbang, apa ini pertanda baik atau buruk. Disatu sisi ia merasa senang bisa pulang lagi ke Korea, bertemu keluarganya yang begitu ia rindukan. Tapi disisi lain hal ini terasa janggal, ia tidak tahu harus senang atau tidak. Dan jujur saja belum apa-apa Baekhyun sudah merasa gugup, dia akan melihat Ayah dan Ibunya lagi setelah bertahun lamanya.

Seingat Sehun dia sudah memberi tahu Chanyeol kalau dia adalah kekasih Baekhyun dan akan segera bertunanagan. Lalu kenapa pria itu malah semakin gencar mendekati hyungnya? Seperti sekarang contohnya. Pagi-pagi sekali pria bertelinga yoda itu sudah duduk manis di meja makannya dengan segala masakan yang ia buat.

"Selamat makan" ujar Chanyeol penuh semangat. Sehun hanya menatapnya datar, sedangkan Baekhyun yang duduk disebelahnya menyunggingkan senyum dan mulai mengambil sendoknya.

Chanyeol mengambil beberapa potong daging dan kemudian meletakkan di piring Baekhyun. Hal itu membuatnya ditatap dengan pandangan bertanya "Kau harus makan banyak protein" ujar Chanyeol .

"Ah, terimakasih" Baekhyun menerima dengan senang hati. Chanyeol terlihat senang, ia terlalu sibuk mengamati Baekhyun sampai tak sempat menyentuh piring makannya sendiri. Saat daging-daging itu raib dari piring si pria cantik Chanyeol secara otomatis mengambilkan sepotong lagi untuknya. Dan semua itu tak luput dari pandangan Sehun, pria bertelinga caplang itu secara terang-terangan tengah mendekati hyungnya.

"Kau juga makanlah" Karena Chanyeol yang terus-terusan meletakkan daging dipiringnya, Baekhyun berinisiatif mengambilkan juga untuk Chanyeol.

Diperlakukan demikian tentu saja membuat hatinya berbunga-bunga. Sepertinya usaha mendekati Baekhyun berjalan lancar.

"Aku mau daging juga" ucap Sehun dengan mata yang menatap lekat pria didepannya. Tanpa ragu Baekhyun segera mengambilkan daging untuk adiknya.

"Padahal bisa langsung mengambilnya sendiri" pria yang paling tinggi itu mencibir.

"Suapi aku" Baekhyun menggeleng samar mendengar itu, tapi tetap menyuapkan pada mulut yang lebih muda. Sehun sedang dalam mode manja begitulah pikirnya.

Chanyeol melihatnya tak terima.

Dan Sehun diam-diam malah menjulurkan lidah bermaksud mengejeknya.

"Suapi aku juga" Baekhyun menatap Chanyeol heran "Aku juga ingin disuapi," Baekhyun semakin mentapnya heran.

Apa aku terlihat aneh? Batin Chanyeol mulai resah

"Melihat kau menyuapinya tiba-tiba aku jadi merindukan ibuku. Aku jadi ingin disuapi juga"

"Ah, baiklah" Baekhyun akhirnya menyendokan sepotong daging, dan dengan ragu mengulurkan sendoknya. Chanyeol berteriak dalam hati, berhasil.

Tapi Sehun tak tinggal diam, dengan cepat ia melahap lebih dulu suapan yang akan diberikan untuk Chanyeol

"Ya!" Chanyeol berteriak, matanya sedikit melotot karena kesal.

"Kau seorang pria dewasa! Makan saja sendiri! kenapa minta disuapi segala" Sehun mencemooh.

Chanyeol menghembuskan nafas kasar sambil memejamkan mata erat, mencoba mengontrol emosi yang sebentar lagi meledak . "Kau butuh kaca? Kau juga pria dewasa! Kenapa pula disuapi?"

Suasana kembali kacau sama seperti pagi-pagi sebelumnya.

"Sepertinya aku harus berangkat sekarang" Baekhyun menginterupsi, sebenarnya ia hanya malas mendengar adu mulut dua orang itu.

"Sekarang? Kau bahkan belum meghabiskan sarapanmu" ujar Chanyeol.

"Aku akan terlambat, aku bisa makan lagi di kantin kampus nanti" Baekhyun bangkit dari duduknya, beralih mengambil tasnya di sofa untuk kemudian berangkat. Tapi belum sampai kakinya menapak keluar, Chanyeol lebih dulu menahan lengannya "Tunggu, bawa ini untuk makan siang" pria itu memberikan sebuah kotak bekal.

Baekhyun menerima "Terimakasih, aku berangkat" pamitnya. Chanyeol mengangguk, masih memperhatikan Baekhyun sampai sosok itu benar menghilang dari balik pintu. Ia senang karena pria manis itu tak lagi menolak pemberiannya seperti dulu.

Chanyeol berbalik, kini perhatiannya beralih pada pria albino yang masih setia duduk dimeja makan. "Kau lihat, karenamu Baekhyun tidak jadi memakan sarapannya" Sehun yang mendengar itu hanya berdecih. "Itu juga salahmu, kau yang memulai perdebatan dan kau juga yang berteriak saat dimeja makan"

"Aku takkan melakukannya kalau bukan karenamu"

"Bukankah sudah kukatakan padamu sebelumnya? Kami akan bertunangan, kenapa masih suka sekali modus dan mendekatinya hah?" asal kalian tahu Sehun tidak suka jika Kakak tersayangnya itu dekat dengan Chanyeol. Menurutnya pria itu bukan pria baik-baik, tipe pemuda urakan dan pembangkang. Putra konglomerat yang melakukan semua hal sesuka hatinya, tidak bertanggung jawab. Begitulah gambaran Chanyeol di mata Sehun.

"Aku juga menyukai Baekhyun, dan aku takkan melepaskannya. Aku tak peduli dia sudah punya kekasih atau bertunangan sekalipun. Aku takkan menyerah sebelum Baekhyun sendiri yang memintaku berhenti, atau paling tidak sebelum kalian benar menikah nantinya." Sehun hanya memutar mata malas mendengarnya. Satu lagi sifat buruknya keras kepala dan tak mau kalah.

"Benar-benar tak tau diri"

"Apa kau bilang?!"

"Brian! " panggilan itu menyentaknya dari lamunan. "Kau melamun? Sedang memikirkan apa?" Tanya si gadis dengan rambut pendeknya. Ikut mendudukkan diri didepan Baekhyun.

"Entahlah ada banyak hal yang berputar diotakku" Wendy mengangkat satu alisnya, "Tidak biasanya ada hal yang bisa membuatmu berpikir sampai seperti itu, jangan-jangan kau punya kekasih ya?"

"Kekasih?" Baekhyun terkekeh "Tidak ada yang seperti itu"

"Yah, siapa tahu kalau akhirnya kau menemukan tambatan hatimu" Baekhyun hanya tersenyum menanggapi.

"Jadi apa masalahmu?"

Ruang hening tercipta sejenak, Baekhyun kembali menatap gadis didepannya. "ini tentang ayahku, dia memintaku pulang"

"Benarkah? Jadi kau akan kembali ke Korea setelah 10 tahun lamanya?" Ujar Wendy antusias.

"Tapi ini terasa aneh, begitu tiba-tiba"

"Eiyy, ini sudah 10 tahun lamanya kau tidak pulang, tentu dia merindukanmu" Wendy tak benar tahu apa masalahnya. Alasan yang membuatnya tak pulang ke Korea selama sepuluh tahun. Memangnya apa reaksi yang bisa diharapkan, tentu saja gadis itu mendukung ayahnya.

"Begitukah?" tanyanya ragu,

"Tentu saja, kau harus menemuinya. Lagipula sebentar lagi ujian semester dan libur setelahnya. Kau bisa menghabiskan liburan disana, kau juga bisa melewati malam natal bersama keluargamu tahun ini." Sepertinya Baekhyun memang harus pulang, tapi dia masih belum siap. Ia takut kesalahannya masih belum termaafkan. Dan lagi, dia masihlah sama dengan 10 tahun lalu tak ada yang berubah, orientasinya masih menyimpang.

Seperti biasa hari ini Chanyeol sudah siap dengan seragam pelayan dan celmek dipinggangnya. Tapi yang berbeda adalah pria itu tak bisa berhenti tersenyum. Kai yang melihatnya sampai merasa ngeri, lama-lama bibir itu bisa sobek karena terlalu banyak tersenyum.

"Beberapa hari lalu kau terus-terusan menekuk wajahmu, dan sekarang sepertinya gigimu sudah kering karena terlalu lama tersenyum"

Chanyeol yang mendengar ledekan rekan kerjanya itu tak benar menanggapi, hanya melemparkan sebuah seringai pada Kai.

"Kau benar-benar gila ya?"

"Kai, aku sedang jatuh cinta." Ujar Chanyeol berbunga-bunga, kalimat itu tentu menarik perhatian si pria berkulit tan. "Si manis itu menerima cintamu?" tanyanya penasaran.

"Tidak, hm maksudku belum. Aku belum memberi tahunya, tapi aku sudah tahu orientasi seksualnya. Dia gay! Bukankah ini kesempatan bagus" ujar Chanyeol menggebu-gebu.

"Awal yang bagus kurasa, kau hanya perlu membuatnya jatuh cinta padamu"

"Benar sekali! Tapi sebenarnya ada satu penghalang"

"Penghalang?"

"Ya, Pria yang kusukai sudah punya kekasih. Dan kekasihnya mengatakan padaku kalau mereka akan segera bertunangan"

"Ah, itu terdengar buruk. Sepertinya kesempatanmu kecil untuk mendapatkannya"

Senyum dibibir Chanyeol memudar, begitupula semangat yang tadinya menggebu perlahan menguap "Menurutmu begitu? "

Melihat kesenangan temannya langsung merosot karena kalimatnya, Kai dengan cepat berucap "Tapi sekecil apapun kesempatan, tetap saja itu sebuah kesempatan. Kau harus tetap mencoba, Siapa tahu dia memang jodohmu"

Berhasil, ucapan itu kembali memunculkan lagi seringai tampan Chanyeol. "Kau harus mengajaknya berkencan!"

"Tentu akan kulakukan."

"Sehun, kau jadi pulang kapan?" Mereka berdua sedang bersantai di ruang tengah. Baekhyun duduk di sofa sedang Sehun duduk disebelahnya sambil menyenderkan kepalanya dipundak yang lebih kecil.

"Tiga hari lagi" Jawab Sehun tanpa mengalihkan atensi.

"Hm, Sehun" Ucap Baekhyun ragu.

"Ya?"

"Sepertinya aku tak bisa ikut pulang ke Korea" Sehun sontak menegakkan tubuhnya, menatap Baekhyun dengan pandangan horor.

"Kenapa? Kau tidak ingin bertemu ayah dan ibu?"

"Tidak, bukan seperti itu.

Hm, begini minggu depan aku ujian dan setelahnya libur. Aku akan pulang saat liburan nanti, aku akan menyusul." Sehun bernafas lega mendengarnya, ia pikir ada alasan buruk yang menahan kakaknya disini.

"Baiklah, aku akan mengatakannya pada ayah kalau begitu"

Sehun segera merogoh saku mengambil ponselnya. Mendial nomor ayahnya dan menunggu hingga beberapa dering mengalun sampai akhirnya panggilan diangkat.

"Halo, Ayah"

"Aku akan pulang 3 hari lagi"

"Ayah, Baekhyun hyung tidak akan ikut aku pulang."

"Tidak, dia akan menyusul setelah ujiannya"

"Baiklah"

Sehun menyerahkan telponnya pada yang lebih tua, "Ayah ingin bicara denganmu" Baekhyun membeku sejenak, tangannya terulur ragu menerima benda persegi panjang itu dari adiknya. Gemetar, ia gugup setengah mati

"H-halo"

"Baekhyun?" Suara itu, suara ayahnya. Masih terdengar sama seperti 10 tahun lalu, tak banyak berubah. Begitu tegas dan berwibawa.

"Ya, A-ayah"

"Aku baik, B-bagaimana denganmu?"

"Y-ya"

"Maaf, aku tidak bisa pergi dalam waktu dekat"

"Aku berjanji akan pulang s-sebelum malam natal" Suaranya masih bergetar ngomong-ngomong.

"Baik, Selamat malam"

Setelahnya ia cepat-cepat memberikan telpon itu pada Sehun. Bahkan berbicara lewat telpon saja membuatnya mendadak gagap. Baekhyun mengambil nafas rakus, rasanya benar-benar tercekat. Sedari tadi pria itu menahan nafas saking gugupnya.

Tapi tak dapat dipungkiri jika dia juga merasa bahagia. Ayahnya berbicara seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya, bukankah ini pertanda baik? Sepertinya memang benar begitu, sebuah senyum mengembang dibibir tipis sewarna peachnya. Rasanya senang sekali, ketakutannya perlahan menghilang dan sedikit rindunya terobati. Ia jadi tidak sabar untuk segera pulang ke Korea.

...

..

.

TBC