—6—

"Finally I meet you again…"


"Senang melihatmu, Tatsu-chan."

Kehadiran Himuro setidaknya meredakan emosi Reo yang belakangan meledak-ledak selalu. Sulit percaya ia adalah entitas spiritual dengan tempramennya yang sangat manusiawi itu. Ditambah adanya eksistensi sejenis seperti Chihiro yang miskin emosi, Reo seolah menjelma manusia pada umumnya.

"Mohon bantuannya." Chihiro sesopan biasa. Meski wajah datarnya tidak menunjukan respek sedikitpun.

Himuro yang didampingi Nijimura hanya menganggukan kepala. Mahfum. Selain pada pembawa nama 'Akashi', dua Shiki menolak untuk patuh. Sekalipun pada penyandang marga klan utama seperti Nijimura dan Himuro, mereka tetap mempertahankan sikap angkuh.

Mereka hanya bersedia menjaga 'wadah' sang naga—tentu saja, tak ada gunanya memedulikan yang lain.

"Permisi…"

Pintu menuju kamar Seijuurou dibukakan baginya. Nijimura mengekor Himuro tanpa komentar.

Di hadapan mereka Seijuurou terbaring dengan punggung yang mengekspos rajahnya. Himuro berjengit. Hanya melihat dan ia sudah tidak berani membayangkan sesakit apa luka itu.

"Heh…" Seijuurou tersenyum geli di tengah-tengah kesakitannya. Matanya membiaskan humor yang ganjil. Hanya Seijuurou yang bisa tetap tenang dalam kondisi begini tegang. "Kau sekarang sudah besar, Tatsuya."

"Lama tidak bertemu, Seijuurou-sama." Himuro menundukan kepala.

"Terakhir saat kau berusia berapa? Lima?"

"Tujuh." Himuro mengoreksi. Sebagai bagian dari keluarga utama, ia dan Shuuzo sama-sama mengemban tugas penting.

"Kau lebih kuat dibanding dulu. Aku tahu itu." Seijuurou berujar. "Walau kurasa kau belum bisa sebaik ibumu dalam mengobati aku."

Himuro sama sekali tidak tersinggung. "Setidaknya biarkan saya mencoba."

"Lakukan yang terbaik. Aku mempercayaimu."

Seijuurou mencoba beranjak. Bertumpu dengan dua lengan, susah payah ia membenahi posisi duduk. Meringis, ia berusaha menahan sakit ketika merapikan kerah kimono.

Reo dan Chihiro memapah Seijuurou, membawa tuan mereka menuju tempat pemandian.

"Saya sudah mempersiapkan semuanya. Saya harap bisa meredakan sakit anda."

"Semoga."

Reo memotong. Agak tak sopan, tapi ia sudah keburu penasaran. "Jadi… bagaimana? Apakah keturunan jauh Seijuurou-sama sudah datang?"

Tidak ada jawaban. Reo mendelik. "Kenapa mendadak bisu?"

Jika bukan karena Seijuurou melerai, tentu situasi sudah tidak terkendali.

"Sudahlah, Reo. Kita bahas itu nanti saja."

"Tapi—"

"Shigehiro keturunan jauhku. Sekalipun bukan dari keluarga utama, dia tak mungkin jadi penyebab sakitku ini."

Reo mengigit bibirnya. Tampak belum rela melepaskan baik Nijimura maupun Himuro dari diskusi ini. Tapi ia bisa apa di bawah titah Seijuurou?

Mereka beriringan mendaki tangga keluar dari bawah tanah. Pintu berat membuka. Udara malam membawa harum yang asing. Wangi yang hanya bisa dideteksi penciuman Seijuurou.

"Seijuurou-sama?"

Reo turut berhenti ketika tuan yang dipapahnya tak juga mau beranjak maju. Terkesima, ia mendapati iris emas Seijuurou bersinar lebih terang dari biasanya.

Dan pandangan itu tertuju pada sakura di tengah pelataran kuil dalam. Kepada sesosok pemuda berambut biru muda yang terdampar di sana entah bagaimana caranya.

Dia cantik. Menggugah sesuatu di dalam diri Seijuurou. Sesuatu yang selama ini ia hindari. Perasaan yang ia kubur dalam-dalam jauh di sudut hati kecilnya.

Dengan mudah, pemuda yang tidak tahu apa-apa itu membuka kotak pandora yang sudah Seijuurou segel sekuat tenaga. Menembus pertahanannya.

Seijuurou menginginkannya.

Pandangan para pengikutinya mengikuti lini visi Seijuurou. Menyadari siapa yang ada di sana, Nijimura meledak.

"SEDANG APA KAU DI SINI?"

.

.

Tetsuya terperanjat. Jantungnya seolah akan melompat keluar dari rongga dadanya. Gelegar suara Nijimura seperti sambaran petir di malam yang tenang.

Langkah-langkah Nijimura panjang. Penuh kemurkaan ketika ia menghampiri Tetsuya.

"Kau—!"

Tetsuya yakin Shuuzo tak segan menghajarnya. Refleks ia mundur dua langkah ke belakang.

"Cukup, Shuuzo." Suara Seijuurou lantang.

Para Shiki dibuat terheran-heran. Mendadak Seijuurou sama dipenuhi kekuatan yang aneh. Seolah dia yang semenit lalu tak berdaya di bawah kutukan adalah ilusi semata.

Seijuurou juga tidak tahu bagaimana ia bisa menahan sakit yang masih menyengat di punggungnya.

"Kemarilah…"

Nijimura tidak mengerti. Tetsuya melupakan segalanya ketika ia mengikuti titah Seijuurou. Mendekat. Perlahan.

Bukan. Dia bukan pria yang ia kejar bayang-bayangnya. Bukan sosok yang hadir dalam mimpinya. Berbeda. Tapi Tetsuya juga merasa bahwa mereka sama. Berhadapan, Tetsuya terkesima dengan sepasang mata yang menatapnya dalam. Intens. Seolah ia mengetahui segala yang Tetsuya sembunyikan.

"Tanganmu…"

Suara Seijuurou begitu enak didengar baginya.

"Tanganmu…" Seijuurou mengulangi.

"Ah…" Tetsuya mengangkat tangannya sendiri, memerhatikannya. Ujung jarinya meneteskan darah. Terluka karena goresan ranting dalam perjalanannya mengejar bayang-bayang pria dalam mimpinya.

Seijuurou menangkap pergelangan tangannya. Matanya berbinar ganjil.

Dibawanya jari Tetsuya ke bibirnya. Dibubuhi kecupan dan jilatan kecil.

"Ah…"

Mata Tetsuya melebar. Pipinya memanas. Putih pucat kini dironai warna kelopak sakura.

Tak ada yang mengerti apa yang sedang terjadi.

"Mm…" Seijuurou kini mengulum ujung jari Tetsuya.

Nikmat. Lebih baik dari obat manapun. Jika setetes saja memulihkannya sejauh ini, apa yang kiranya akan terjadi jika ia mengklaim seluruh diri pemuda di depannya ini?

"Akh." Tetsuya meringis. Taring tajam Seijuurou menambah dalam lukanya.

Chihiro sigap menghentikan tuannya sebelum Seijuurou menyesali perbuatannya sendiri. Ia menarik bahu Seijuurou sementara Himuro mengamankan Tetsuya di balik punggungnya.

"Hi-Himuro-san…"

"Ssh…" Himuro membawa telunjuknya ke bibir. Matanya tak lepas mengamati Seijuurou. Waspada dan siaga.

Berbeda dengan Nijimura, keturunan utama yang selalu menempatkan penerus mereka sebagai pemimpin kuil, Himuro sebagai salah satu keturunan Akashi yang lain mendalami pengobatan yang selalu diperlukan wadah sang naga dari waktu ke waktu. Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah pendahulunya yang merawat Seijuurou. Dan dari mereka, Tatsuya tahu pada waktu-waktu tertentu ketika sang Naga dalam diri Seijuurou berontak, darah para keturunan termasuk obat yang cukup mujarab. Darah manusia biasa pun bisa, walau hasilnya tak begitu efektif. Seperti racun melawan racun,

Tapi tak pernah ada catatan bahwa darah mereka mampu melakukan lebih dari sekedar meringankan rasa sakit.

Limbung. Seijuurou melangkah mundur.

"Ah…"

Seperti baru saja ditampar keras, Seijuurou memandangi Tetsuya dengan kebingungan yang nyata.

Apa yang baru saja terjadi?

Semua menahan napas.

"Chi... hiro… Reo…"

"Ya?"

Seijuurou menutupi wajah dengan tangan. "Kita pergi…"

Terburu-buru, Seijuurou menghilang ke balik belokan lorong. Tetsuya masih terpana. Bergeming di balik Himuro. Otak briliannya tak terasa cukup mumpuni untuk memproses apa yang baru saja terjadi.

"Antarkan Kuroko-kun keluar, Shuu…" Himuro menatap Nijimura serius. "Aku akan mengurus Seijuurou-sama…"

.

.

Chihiro tak berkata apa-apa ketika Seijuurou—dengan terburu-buru—menenggelamkan diri dalam air penyucian yang sudah dicampurkan berbagai ramuan oleh Himuro. Pemuda berambut merah itu bahkan tak peduli sedikitpun pada fakta bahwa bajunya basah dan berat menyerap air, membuatnya sulit bergerak.

Reo menggigit bibir seraya menatap Seijuurou khawatir. "Chi-chan… Apa menurutmu…"

"Kita sudah lama bekerja pada keturunan sang naga. Jangan jadi bodoh mendadak, Reo…"—jawaban pedas. Chihiro melipat dua tangan depan dada. Mata menyipit menatap Seijuurou yang tak bisa lagi mempertahankan ketenangannya.

Seperti orang kesetanan, Seijuurou nekat membenamkan diri dan baru muncul ke permukaan ketika paru-parunya terasa terbakar. Dia mencoba, berharap air penyucian mampu menghapus sakit kutuknya dan juga melunturkan ingatannya tentang kejadian barusan.

Rasa sakitnya memang mereda. Bahkan sempat hilang sama sekali; sepuluh menit yang lalu.

Namun untuk yang pertama tadi pun, dia tidak yakin sakitnya memang menghilang karena nasib baik yang tumben sekali mendatanginya. Tidak di saat dia tahu persis sensasi menyenangkan yang meredakan nyeri lukanya saat ia menghisap darah pemuda mungil berambut biru muda.

"Jangan gila, Reo." Chihiro menatap Reo. Peringatan jelas dalam cara pandangnya. "Kau tahu area suci hanya untuk keturunan sang naga."

Reo dan Chihiro yang hanya entitas spiritual akan merusak keseimbangan dalam lingkar formasi sihir yang mengelilingi tempat suci. Dan menghilangkan tempat di mana Seijuurou dapat mengecap sedikit kesembuhan dari kutuk tanpa akhir sama sekali bukan rencana Reo.

Reo mendelik. Merasa bodoh karena Chihiro memperingatkannya hal sejelas itu. "Aku tahu!"

"Kalau begitu, mundur. Tahu dirilah sedikit. Khawatir boleh saja, tapi jangan sampai kau jadi lebih bodoh dari biasanya."

Tersinggung. "Aku tidak bodoh!"

"Sudah, sudah…" Himuro melerai. Kemunculannya menarik perhatian dua Shiki. "Prioritas kita sekarang adalah Seijuurou-sama."

Anggun, Himuro melangkah menuju tepi kolam. Dengan lembut, ia menarik tangan Seijuurou, mempersuasi agar pemuda itu tak menghukum dirinya sendiri.

"Tatsuya…"

"Aku tahu…"

Di balik poni yang basah dan menempel di dahi, Himuro dapat melihat bola mata emas kembali berbinar. Lebih terang dari biasanya.

Darah Seijuurou tentu kini berdesir. Jantungnya berdegup liar tak terkendali.

Siapa menyangka yang ia hindari sekian abad ini akan datang muncul sendiri di hadapannya? Mungkin ini karma karena dia selama ini selalu berusaha lepas dari cengkraman takdir.

Karma karena dia adalah wadah sang Naga; eksistensi yang mengorbankan segalanya demi mencintai seorang manusia.

.

.

"Aku akan tetap mencintaimu. Sesakit apapun itu."

Bagaimana bisa kalimat dengan ketulusan tanpa batas menikam lebih dari fitnah dan caci maki?

Sang Naga membawa pengantinnya dalam pelukan. "Maafkan aku…"

Rengkuhan. Sentuhan. Semua dinoda rasa frutrasi. Mengapa mencintai harus dibuat sebegini sulit? Dengan semua rasa sakit dan perih.

Mereka bilang cinta menghidupkan, menyembuhkan, tidak seperti ini.

Tapi aku tidak keberatan, mati untuk mencintaimu. Mengalami kelahiran sekali lagi dan rusak berkali-kali.

Jika itu untukmu.

.

.

Tetsuya tidak berani bertanya mengenai apa yang baru saja terjadi.

Takao Kazunari terkaget-kaget ketika Nijimura menggedor pintu kamarnya dan mendorong Tetsuya masuk tepat ketika pintu terbuka. Tetsuya limbung, jatuh dalam pelukan Takao. Tampak terguncang dan seperti orang ling-lung.

"Shu…Shuuzo-san?" Takao membantu Tetsuya berdiri. "Ada apa?"

Perintah Nijimura singkat dan padat, namun tidak mudah dimaknai. Dan jelas bukan jawaban atas pertanyaan Takao.

"Jaga dia."

Dua kata; yang Takao yakini punya sejuta makna di baliknya. Menjaga dari apa? Dan bagaimana mungkin Nijimura bisa bersama Tetsuya?

"Ma-maksudnya?"

Tatapan iris kelabu Nijimura amat tajam. Takao menelan ludah.

"Dia kabur"—telunjuk Nijimura menunjuk pada Tetsuya—"kau yang tanggung akibatnya."

Oke. Ancaman yang bagus.

Nijimura berlalu terburu-buru. Takao membimbing Tetsuya untuk duduk beralaskan futonnya yang berantakan. Sementara Tetsuya masih terlihat tidak fokus, Takao sudah membongkar isi lemari dan mengambil kotak besar berlambang palang merah.

Takao melekatkan plester lebar pada luka di jari Tetsuya yang usai membubuhi antiseptik.

"Jadi…" Takao bergumam. Terbatuk pelan sebelum melanjutkan. "Kau mau cerita?"

Tetsuya menatap jarinya yang kini terbungkus plester coklat. "Aku… tidak tahu bagaimana menceritakan hal yang aku sendiri tidak pahami."

"Mulai dari kronologi? Bagaimana kau bisa bertemu Shuuzo-san?"

Tetsuya hanya diam. Dan Takao segera mengerti bahwa bertanya akan sia-sia saja.

"Oke. Aku paham kalau kau tidak mau bicara." Takao berdeham. "Dan ini hanya saran—bukan berarti aku mengusirmu, ya… kurasa ada baiknya jika kau pulang. Dan tidak kembali ke mari. Tapi tentu itu urusan nanti. Kalau kau pergi sekarang, aku yang mati."

Dalam hati Tetsuya menjerit, 'dengan senang hati aku akan pulang. Aku tidak mengerti apa yang baru saja terjadi dan segalanya membuatku takut. Aku ingin pergi'.

Namun pada akhirnya dia hanya mampu menggumamkan satu kata. "Baik…"

.

.

Yang pertama Nijimura terima ketika ia menyambangi ruangan suci Seijuurou adalah perintah.

"Bawa dia pergi."

Dahi sang pewaris kuil berkerut dalam. "Maaf?"

"Kau mendengarku, Shuuzo…" Seijuurou masih memunggunginya. Dengan setengah badan terbenam dalam air, dan Himuro yang mendampingi di tepi kolam pemandian, Seijuurou—di luar dugaan—sangat tenang. Tangan putih pucat Seijuurou memercikan air ke wajahnya sendiri. Menghela napas.

"Bawa ia pergi."

Nijimura memang sudah berniat mendepak Tetsuya sejauh mungkin dari sini. Entah kenapa, bagi Nijimura, keberadaan teman Ogiwara yang satu itu sungguh sial. Semenjak pertama kali dia dibawa menapakkan kaki di kuil ini, segala yang buruk mulai terjadi.

Himuro meliriknya dengan tatapan yang melempar isyarat 'Sebaiknya ikuti saja, dan jangan banyak tanya'.

"Aku tahu kenapa Shigehiro muncul dalam ramalanmu, Shuuzo."

Nijimura tanpa sadar menahan napas. Detak jantung bertalu tanpa aturan ketika menunggu penjelasan Seijuurou selanjutnya.

"Dan itu karena…"

Seijuurou mengerling padanya. Tatapannya tidak angkuh seperti biasa. Tapi dalam opini Nijimura, kali ini cara Seijuurou memandangnya lebih berbahaya.

Dingin. Mengancam.

Hanya dengan ditatap sekilas, Nijimura merasa seperti tengah menunggu vonis hukuman mati.

"Karena Shigehiro membawa 'dia'."

Tatapan Seijuurou kembali teralih. Kini sepasang mata heterokromik menatap pada jendela di langit-langit. Bulan, mengingatkannya pada kisah legenda lama, bahwa naga yang ada pada dirinya dulu beroleh kemurahan oleh karena Dewa yang bertahta di sana.

Suara Seijuurou terdengar pahit saat melanjutkan. "Dia… mempelaiku, Shuuzo. Dia yang selalu kuhindari selama ini."

Kali ini, bahkan dengan nada serius, kalimat Seijuurou—di telinga Nijimura—terdengar seperti racauan orang gila.

"Dia laki-laki." Spontan terucap. Lebih terdengar kaget dibanding merendahkan.

"Aku tahu."

"Bagaimana mungkin…"

Kebingungan Nijimura membuat Seijuurou terkekeh kecil. Namun demikian, semua yang ada di ruangan tersebut tahu, Seijuurou tidak sedang menertawakan Nijimura.

Yang ditertawakan Seijuurou adalah dirinya sendiri.

"Karmaku buruk sekali bukan? Setelah dua abad aku menghindar, mempelaiku mungkin sudah mati dan bereinkarnasi berkali-kali. Dan hidupku kukira akan damai-damai saja tanpa masalah berarti. "

Himuro menundukkan kepala. Chihiro maupun Reo tak berujar apa-apa.

"Kini para dewa di langit sana mengirimkan mempelaiku dalam wujud seorang laki-laki. Dan aku bahkan tak perlu mencari seperti para pendahuluku. Dia mendatangiku sendiri."

.

.

Tetsuya tidak ingat kapan dia jatuh terlelap. Ketika perlahan membuka mata, tahu-tahu segalanya gelap. Dia sudah diselimuti dengan baik dan futon tempatnya berbaring pun amat nyaman. Namun dia tidak ada di kamarnya.

Di mana?

"Seijuurou-sama tidak menghendaki dia ada di sini…"

Suara Nijimura. Terdengar persis di balik punggungnya. Tetsuya tidak jadi berbalik sekalipun merasa sisi samping tubuhnya pegal bukan main. Ia menjaga ritme napas agar tidak ketahuan bahwa ia terbangun dan mendengarkan.

"Jadi kita akan memulangkannya besok?"—suara Takao terdengar sangat mengantuk. Dia pasti dibangunkan paksa seperti sebelumnya.

"Apa aku perlu menjitakmu agar kau sadar dari acara melindurmu, Kazunari?"

Suara jitakan. Nijimura bahkan melakukannya sebelum mendengar jawaban Takao.

"Aww! Sakit."

"Intinya, aku tidak mau melihat dia di sini lagi. Kau harus tahu keadaan akan menjadi semakin buruk setelah ini."

Tetsuya memejamkan mata. Dia tidak mengerti apa yang sedang dua pria itu bicarakan di balik punggungnya. Dan ia tidak ingin mengerti.

Namun ada satu kalimat yang menggores hati.

'Seijuurou-sama tidak menghendaki dia ada di sini.'

Dia tidak tahu kenapa kalimat itu terdengar amat menyakitkan. Dia bahkan tidak tahu siapa itu Seijuurou.

Kilasan memori berlompatan di benak. Persis seperti fragmen film yang acak.

Pemuda berambut merah. Sebelah mata berwarna emas. Suara lembut.

Dia adalah keberadaan yang kompeks. Berbeda namun sama dengan pria dalam mimpinya. Saat ini, Tetsuya seolah dipaksa menyusun kepingan puzzle acak tanpa tahu gambar apa yang sedang ia susun. Teka-teki rumit.

Instingtif, Tetsuya bergelung. Tanpa sadar membawa jari yang terluka oleh karena taring Seijuurou ke bibirnya sendiri.

Emosi asing—entah darimana asalnya—menyergap. Dadanya terasa sakit. Berdenyut oleh suatu sensasi yang ganjil dan tidak bisa ia maknai.

Bagaimana bisa aku merindukkanmu yang tidak pernah kukenal baik sebelumnya? Ataukah aku salah? Aku merasa mengenal dirimu dengan amat baik. Lebih dari aku mengenal diriku sendiri.

.