"Kak Neji hiks... j-jangan menangis... hiks..." suara isakan seorang anak kecil bersurai pendek membuyarkan lamunannya. Neji menatap anak kecil tersebut dengan pandangan kosong tanpa arti.
Kenapa? Mengapa bocah itu menangis? Bukankah dia tidak memiliki hubungan dengan ibunya? Mengapa bo cah itu merasakan kehilangan yang amat besar? Berani-beraninya merasa paling menyedihkan di pemakaman ini. Bocah itu bahkan bukan anak dari ibunya, tahu apa bocah itu tentang kesedihan? Tahu apa bocah itu tentang kehilangan?
"Diam, bocah." Balas Neji dingin. Enggan menenangkan isakan gadis kecil itu. Kedua iris peraknya berkilat menahan amarah yang hendak ia ledakkan kepada gadis itu jika ia tidak ingat bahwa dirinya saat ini sedang berada di pemakaman ibunya.
Dug
"Ugh!" rintih Neji yang jatuh di tanah. Benar-benar. Apa gadis ini tidak punya sopan-santun? Berani-beraninya menerjangnya seperti ini. "Kau–!"
Belum sempat Neji membentak, gadis itu mengeratkan pelukan di sekitar lehernya. "K-kak N-Neji t-tidak akan kesepian, ada H-Hinata di-di sini!"
Hah? Apa yang dikatakan bocah ini? Apanya yang kesepian? Mengapa bocah ini terus mengutarakan omong kosong? Apa gadis itu tidak berpikir jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bermain rumah-rumahan?
Neji mendengus kesal. Ia mendorong kasar gadis itu agar tidak lagi menindihnya kemudian bangkit berdiri. "Enyah kau."
"T-tidak mau!" seru gadis itu memeluk pinggang Neji kencang. "A-aku tidak akan pe-pergi!" gadis itu mendongak. Untuk pertama kalinya Neji tertegun. Kedua iris perak itu bersinar, menyala, begitu indah di bawah sinar surya, seolah memberikan cahaya di harinya yang penuh duka. "Aku tidak akan meninggalkan Kak Neji! Tidak akan!"
Marriages with Benefits © Silent_JS
Naruto © Masashi Kishimoto
SasuHinaNeji
Rated M
"–Ji."
"–an NeJi."
"Tuan Neji,"
Perlahan Neji membuka kedua kelopak matanya pelan, mendengar suara yang mengganggu waktu tidurnya. Ia memandang sekeliling. Saat ini mereka tiba di sebuah gubuk tua yang dikelilingi pohon-pohon tinggi. Tersembunyi dan terisolasi. Tempat yang cocok untuk interogasi. "Sudah sampai?"
Salah satu ajudan berkacamata mengangguk. "Sudah Tuan."
Neji memijat pangkal hidungnya. Tidur dalam perjalanan memang tidak mengenakkan apalagi ketika mimpi yang disuguhkan adalah potongan cerita masa lalunya. Membuat perasaan kembali ke masa lalu. "Apa wanita itu ada di dalam?"
Ajudan itu mengangguk. "Sudah Tuan." Kemudian membuka pintu untuk Neji. "Silakan Tuan."
Neji menarik napas dalam kemudian mengencangkan dasinya. Perlahan menapakkan kaki keluar mobil. Hal yang ia sukai dari Kumo adalah dimanapun itu udara segar masih dapat ia rasakan di segala penjuru Kumo. Menandakan betapa berkualitas udara di wilayah itu.
"Tunjukkan arahnya."
Ajudan itu berjalan lebih dahulu dengan Neji yang mengikuti. Mereka berjalan dan berhenti di gubuk tua tersebut. Ajudan membuka pintu. "Di sini Tuan."
Neji mengangguk. "Kau tunggu di sini. Tinggalkan kami berdua."
Ajudan mengangguk kemudian berjaga di depan pintu. Tidak ikut masuk bersama tuannya. Neji memasuki gubuk tua itu. Gubuk yang bahkan jika terjadi hujan akan langsung roboh. Begitu ringkih dan rapuh. Hanya beralaskan tanah. Tidak kurang dan tidak lebih. Di tengah ruangan terdapat seorang wanita yang diikat di sebuah kursi dan sebuah kursi kosong.
Neji berjalan ke arah wanita yang memejamkan mata. Entah tertidur, pingsan, atau berusaha mengelabuhinya. Neji tidak tahu. Satu hal yang pasti ia tidak peduli dengan kondisi wanita itu asal dapat mendapatkan informasi tentang jejak keberadaan Hinata Hyuuga.
Neji menggeret kursi kosong dan meletakkannya berhadapan dengan wanita itu. Suara kursi yang digeret membangunkan wanita itu. Perlahan-lahan kelopak mata terbuka, menampakkan netra gelap. Neji duduk di kursi dan menunggu hingga wanita itu selesai menganalisa keadaan.
Neji menatap datar wanita yang kini membelalakkan mata dengan kedua tangan dan kaki yang mulai memberontak diikuti napas yang tidak teratur. Tampak jelas keinginan wanita itu untuk lepas dari jeratan yang membelenggu gerakannya.
"Matsuri. Bekerja sebagai pengasuh Hinata Hyuuga selama 14 atau mungkin 15 tahun." Suara bariton Neji menyentakkan Matsuri. Membawa atensi wanita itu kepadanya. Neji balas menatap tatapan gusar wanita itu. "Benar?"
Bukannya menjawab wanita itu semakin meronta. Berusaha melepaskan diri. Dari sinar matanya, Neji melihat bahwa wanita itu masih tidak paham dengan situasi. Wanita itu berharap dirinya menyelamatkan wanita itu. Idiot. Orang-orang dungu yang tidak tahu-menahu mengenai batasan benar-benar mengganggu bahkan begitu menjijikkan di mata Neji.
Grep
Neji mencengkram kuat rahang Matsuri. Membuat wanita itu tidak bisa bergerak seinci pun. "Diam dan dengarkan aku. Dimana Hyuuga Hinata?"
Tubuh Matsuri bergetar. Melihat tatapan kejam dan dingin dari Neji membuat tubuhnya menggigil. Tak pernah ia rasakan hawa membunuh sebesar ini. Jiwanya begitu ketakutan. Dalam lubuk hati, ia merasa nyawanya terancam. Namun tindakan Neji saat ini terasa ganjil baginya. Ia tidak pernah melihat Neji semarah, sekejam, dan semenakutkan ini. Apa yang terjadi pada pria itu?
"Dimana Hyuuga Hinata? Dimana kau sembunyikan sepupuku?"
Otak Matsuri berpikir cepat. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apakah ini perintah Tuan Hiashi? Atau bahkan ini tindakan Neji sendiri? Lantas mengapa pria itu menyekapnya, mengapa pria itu–?
"Kudengar suamimu bekerja di konstruksi." Neji menyentak kasar rahang Matsuri membuat wanita menggeram kesakitan karena kuku pria itu yang menggores rahangnya. "Apa jadinya jika kau menemukan suamimu cacat dan pengangguran, hm?"
Kedua iris Matsuri membola. Terkejut dengan pernyataan Neji. Apa? Apa yang pria itu katakan? Apakah kini di hadapannya seorang Neji Hyuuga, pria tersohor dan berintergritas kini hendak mencelakai orang?!
"Mmfff! Mmfff! Mmfffffff!" seru Matsuri yang teredam karena lakban yang menutupi mulut, mencegahnya berbicara.
Neji hanya terdiam. Seolah racauan tertahan Matsuri tidak terdengar. Ia tidak peduli walau wanita itu pingsan hanya karena memberontak. Hanya satu yang ia butuhkan. Jawaban. "Apa kau pikir jika kau memohon, akan kukabulkan?"
Matsuri berhenti memberontak dan menatap Neji nanar. Kedua irisnya basah akan air mata. Bayang-bayang buruk sudah menyelinap di otaknya. Ia tidak bisa membayangkan sosok yang ia cintai akan terluka apalagi tersiksa, ia bahkan tidak tahu cara melarikan diri apalagi ada lokasinya saat ini. Keputusasaan menghinggapi. Ia menunduk. Apakah seperti ini hidupnya? Ia bahkan tidak menyangka hidupnya akan seperti ini. Apa yang telah ia lakukan hingga mendapatkan ini semua?
"Hanya satu hal yang perlu kau lakukan." Ujar Neji yang tidak mendapatkan respon dari Matsuri. Neji yakin kali ini wanita itu pasti larut dalam keutusasaan karena memang itulah tujuan Neji. Membuat wanita itu tenggelam dan memberikan satu-satunya solusi untuk membuatnya selamat.
Neji mencengkram rahang Matsuri kuat-kuat. Memaksa netra gelap wanita itu menatap kedua irisnya. "Kau hanya perlu memberitahuku, dimana Hinata?"
"Kak Neji?"
Ah, sudah berapa lama ia tidak mendengar suara lembut ini. Setiap malam ia memimpikan suara ini, membayangkan, menikmatinya. Betapa hanya mendengar suara wanita itu membuat jiwanya berada dalam kedamaian namun di saat bersamaan merasakan gairah yang begitu besar untuk mengurung wanita itu dan hanya menikmati wanita itu sendirian.
Neji tersenyum. Senyum yang sudah tiga minggu tidak pernah ia tunjukkan. "Apa kau merindukanku, Hinata?"
Hinata mengangguk. Kedua irisnya mulai berkaca-kaca. Bibir wanita itu bergetar seolah menahan tangis. "Aku merindukan Hanabi, Kak Neji, dan Ayah."
Walau Neji bukan satu-satunya yang disebut dalam daftar orang yang dirindukan Hinata, ia harus cukup bersabar. Biar bagaimanapun, setelah merusak tendon achilles* Hinata, wanita itu tidak akan pernah bisa berjalan lagi. Saat itu terjadi Hinata hanya akan menjadi pemuasnya. Pemuas segala nafsu dan gairahnya dengan menanamkan banyak benih di rahim wanita itu hingga membengkak dan mengandung darah dagingnya. Ia pastikan tidak akan memberikan jeda kepada wanita itu walau hanya untuk bernapas sebagai bayaran atas tindakan ceroboh dan idiot wanita itu. Untuk mendapatkan itu semua, yang harus ia lakukan hanya satu. Menunggu dengan sabar.
Neji tersenyum tipis dan mencengkram pergelangan tangan Hinata. "Ayo kita pulang." Neji mengambil langkah menuju sedan yang telah menunggu. Jika ia dapat menjemput Hinata lebih cepat daripada tim Kò, ia dapat menculik wanita itu dan menjadikan miliknya seorang. Tinggal beberapa langkah dan Hinata akan menjadi miliknya. Seutuhnya.
"M-maaf." Cicit Hinata menghentikan langkah Neji, menahan tangannya untuk tidak ikut terbawa. Hinata menatap Neji yakin. "S-saya t-tidak bisa p-pulang sekarang, Kak."
Neji mengerutkan dahi. Ucapan Hinata menguji kesabaran hingga tidak mampu menyembunyikan kejengkelannya. Sudah jauh-jauh, susah-susah ia mencari wanita itu hingga menemukannya dan sekarang wanita itu menolaknya? Mengabaikan perjuangannya selama ini?!
Tubuh Hinata bergetar. Ia tak pernah melihat wajah Neji yang jengkel dan menahan amarah. Selama ini pria itu selalu memberikan senyuman dan kesabaran, tak pernah memberikan aura mengintimidasi seperti ini. Tatapan Neji mengingatkan Hinata bagaimana Sasuke Uchiha menatapnya. Dalam, gelap, tak terbaca, dan di saat bersamaan membuat tubuhnya bergejolak tak nyaman. Namun dalam kedua iris perak Neji, Hinata menemukan lebih dari itu. Ia merasakan jika salah langkah, nyawa yang menjadi taruhannya.
"Semua orang sudah menunggu, kita pulang sekarang." Titah Neji mutlak. Meski begitu, ia masih merasakan perlawanan yang diberikan Hinata.
"Ti-tidak bisa. Saya masih ada urusan di sini." Hinata memalingkan wajah ketika mendapati tatapan Neji semakin dingin, membuatnya tak berkutik. "Sa-saya tidak bisa pulang sebelum urusan saya selesai."
"Kau tidak ada urusan di sini." Dengan tenaganya yang lebih kuat, Neji menarik paksa Hinata membuat wanita itu jatuh ke pelukannya. "Kita pergi dari sini."
"Aw!" rintih Hinata. Ia berusaha sekuat mungkin melepaskan diri dari kurungan Neji. Pria itu berusaha membawanya ke mobil sedan yang telah menunggu. Tidak bisa. Tidak bisa begini. Dengan sekuat tenaga Hinata mendorong Neji. "Lepas!"
Walau sedikit, dorongan itu mampu melonggarkan rengkuhan Neji. "Saya tidak bisa pulang ke Kumo!" seru Hinata mantap. Ia tidak bisa lagi. Saat ini kebebasan sedang menunggunya. Ia tidak akan membiarkan rencananya berantakan hanya karena desakan oleh kerabat.
Deg
Sekujur tubuh Hinata menggigil. Kedua iris Neji sedingin es. Membuatnya bergeming. Pria itu menatapnya tajam, amarah begitu kentara. Saat itu untuk pertama kalinya ia merasa langkah yang diambil salah. Bahwa seharusnya ia tidak melawan maupun menolak apalagi berseteru. Namun ia tidak bisa. Walau tubuhnya menolak, namun ia tetap akan maju. Mempertahankan kehidupannya.
"Aw!" pekik Hinata kencang. Ia melihat Neji mencengkram kedua pergelangannya kuat-kuat seolah mencegahnya kabur. "S-sakit, k-kak."
Neji berbisik. Suaranya begitu dingin dan tajam, seolah membekukan seluruh tubuh Hinata. "Berani melawanku, huh?"
Hinata menggigit bibir. Air mata mulai tumpah ketika tangannya mati rasa akibat rasa sakit yang terlalu dalam. Ia merasa jika menarik tangannya sedikit saja, tangannya akan patah. Tenaga Neji begitu kuat seolah memaksanya untuk bungkam tak berkutik.
"L-lepas... kak..." rintih Hinata di sela-sela senggukannya. Saat ini perasaan campur aduk menyanderanya. Ia begitu merindukan keluarganya, apalagi Neji yang selama ini ia anggap sebagai figur seorang kakak dan panutannya. Ajaran dan kasih sayang Neji mampu menambal kesepian yang dirasakan akibat kehilangan ibu di usia muda. Namun ia tak menyangka pria itu mampu menyakitinya sedalam ini. Membuatnya takut hingga sekujur tubuhnya bergetar. Ia tidak tahu. Ia tidak kenal siapa sosok yang berada di hadapannya sekarang.
"Aku akan melepaskanmu di mobil." Neji mengeratkan cengkeramannya membuat pekikan Hinata semakin kencang dan membelah kesunyian. "Jangan berani melawan." Setelah memastikan Hinata tak mampu lagi melawan karena rasa sakit yang dialami, Neji menarik tangan Hinata dan mereka berdua berjalan bersama menuju mobil dengan Hinata yang tertatih-tatih.
Apakah akan seperti akhirnya? Hinata tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Sosok Neji terasa begitu asing. Sosok kejam dan dingin dengan hawa membunuh yang pekat membuatnya tak mampu bergerak apalagi memberi perlawanan. Bukankah Neji adalah sosok yang ramah dan baik? Tak pernah sedikit pun ia dibentak atau dipaksa seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada Neji? Dimana sosok yang ia kenal saat ini? Satu hal yang pasti Hinata tidak mampu melakukan perlawanan lagi. Tubuhnya bergetar hebat dengan tangan mati rasa, ia tak mampu barang sekadar menolak.
Grep
"Apa yang kau lakukan, penculik?"
Suara ini. Aroma ini. hinata mendongak. "S-Shino?!" perasaan ini begitu aneh. Untuk pertama kalinya Hinata bersyukur ada orang yang ia kenal berada di sekitarnya saat ini. Seolah ia sedang berusaha kabur dari keluarga yang seharusnya memberikan perasaan aman.
Neji menatap datar Shino. "Bukan urusanmu." Apa-apaan serangga ini? Berani sekali mennantangnya dengan tubuh kurus kering bak tulang-belulang itu. Apa yakin bisa melawannya yang memiliki otot terlatih?
Shino menatap Neji dari balik kacamata hitamnya. "Kau memaksa Nana pergi. Bukankah wanita itu tidak ingin pergi?"
Nana? Pria itu memanggil wanitanya Nana? Darah Neji mendidih. Berani-beraninya orang rendahan memanggil akrab wanitanya dengan julukan menjijikkan seperti itu. Neji tidak bisa menahannya lagi. Aura untuk membunuh begitu besar dan meluap-luap hingga rasanya ia bisa memutar leher pria itu hingga putus.
Shino seolah tidak merasakan hawa membunuh dari Neji. Ia mencengkram kuat lengan Neji, memaksa pria itu untuk melepaskan cengkramannya. "Lepaskan. Nana tidak ingin pergi."
Neji menatap Shino lurus dan datar. Tatapan yang tidak pernah Hinata lihat sebelumnya. Namun instingnya mengatakan jika lebih dari ini Shino akan dalam bahaya. "Shi-Shino, tidak usah pedulikan aku. Aku–"
"Ada apa ini, Tuan Neji?"
Suara bariton memecah persetuan panas di antara keduanya. Shino dan Hinata menatap ke sumber suara dan Neji hanya mendecih kemudian melepaskan cengkramannya.
"Kò!" seru Hinata. Tak terbendung rasa rindu terhadap pengawal yang setia mendampinginya selama ini. Air matanya bahkan hampir menetes melihat Kò yang menjadi penyelamat dari situasi runyam ini.
Kò menjawab dengan senyuman dan melangkah mendekati mereka. "Bagaimana kabar Nona?"
Hinata tersenyum walau tubuhnya masih bergetar. "B-baik. Orang Konoha memperlakukanku dengan baik."
Kò tersenyum kemudian menatap Neji yang memalingkan wajah. Raut wajahnya kembali serius. "Apa yang terjadi di sini, Tuan?"
Neji menghela napas. Walau berusaha ditutupi, Kò merasakan amarah yang begitu besar terpendam di dalam Neji. "Sedang menjemput Hinata. Ia harus segera pulang."
Dari awal Kò sudah merasakan kejanggalan dari sikap Neji saat ini. Pria itu seolah terkejar-kejar oleh sesuatu yang tidak diketahui. Pagi ini pria itu menghilang dan berkata telah menemukan jejak keberadaan Hinata. Mereka berangkat bersama namun sesampainya di Konoha tiba-tiba mobil Neji menghilang dari pandangan hingga mobilnya bersama ajudan yang ia bawa tidak mampu menyusul. Namun saat ini informasi ini hanya bisa ia simpan sendiri. Tidak baik rasanya langsung menyimpulkan.
"Bagaimana jika kita berbicara dulu di dalam, Nona?" tanya Kò ramah dengan senyumannya.
Hinata mengangguk lemah walau senyum terpatri di wajah ayunya. "Silakan, Kò." Hinata hendak menunjukkan jalan ketika Shino berdiri menghadang Kò.
"Siapa kau? Apa kau hendak menculik Nata?"
Culik? Kò melirik Neji yang tidak berekspresi dan Hinata yang kini menggosok pergelangan tangan yang memerah. Tunggu. Merah? Kò merasakan ada suatu hal yang ia kacaukan atau mungkin selamatkan? Satu hal pasti ia akan mengamati terlebih dahulu.
Kò meletakkan sebelah tangannya di dada dan membungkuk. "Saya Kò, pelayan sekaligus pengawal Nona Hinata sejak Nona masih kecil. Kedatangan saya kemari tidak bermaksud untuk melukai apalagi membahayakan. Terlarang bagi saya melukai Nona."
Walau Shino ingin menyanggah. Namun ia percaya bahwa keberadaan sosok paruh baya ini mampu menetralisir ketegangan yang disebabkan oleh pria kasar yang hendak menculik Nana. Shino mengangguk dan mulai menunjukkan jalan. Mereka bersama memasuki ruko yang ditempati Hinata. Tak sedikitpun iris perak Neji lepas dari sosok Hinata. Melihat bagaimana wanita itu mengabaikan dan justru berbicara pada pria asing yang tidak diketahui asal-usulnya dan seorang rendahan yang tidak tahu sopan santun. Kedua iris Neji terbakar oleh amarah akan keberadaan Kò. Andai ia sampai lebih cepat. Andai ia langsung membius wanita itu. Andai ia langsung membuat wanita itu pingsan. Semua ini tidak akan terjadi. Wanita itu tidak akan berbicara pada pria selain dirinya dan Kò tidak menyadari keganjilan dari tindakannya.
Neji menoleh ke belakang dan menatap tajam para ajudannya yang kini berdiri ketakutan di bawah tatapan mata Neji. Lihat saja nanti. Jika rencananya tidak berjalan lancar, ia pastikan untuk mematahkan kaki setiap ajudannya hingga tidak bisa bekerja lagi. Ia pastikan itu akan terjadi.
Kò duduk di kursi yang telah disediakan sambil mengamati sekitar. Hunian Nona-nya tidak begitu buruk. Melihat bagaimana Nona dikelilingi oleh bunga dan tumbuhan segar, sangat menggambarkan sosok mendiang Nyonya Hyuuga. Hanya berada di tempat yang dipenuhi beragam tumbuhan membuatnya tenang. Aroma tanah dan hawa sejuk pagi hari yang segar menenangkan jiwanya ditambah aroma teh yang diseduh. Ia tak tahu betapa suasana inilah yang selalu ia inginkan di pagi hari.
Melihat wanita itu bisa tersenyum dengan orang lain membuatnya ikut senang. Sebagai pengawal anggota Hyuuga yang juga bertugas menjadi asisten kepala keluarga Hyuuga, sudah menjadi hal lumrah melihat polemik dan permasalahan keluarga inti Hyuuga. Ia tahu persis kehilangan Nyonya Hyuuga begitu berdampak besar bagi keluarga inti, melihat bagaimana Nona Muda hanya dikelilingi oleh Hyuuga membuatnya prihatin. Persona Nona-nya seolah padam seiring berjalannya waktu. Membuat Nona-nya mampu menampilkan senyuman tulus dan bahagia dengan apa yang dilakukan membuatnya ikut senang.
Walau ia yakin Hinata masih merasa takut dengan perubahan Neji, wanita itu masih menampilkan senyuman bahkan menawarkan diri untuk menyajikan minuman. Kedua iris perak Kò melirik sosok pria yang sedari tadi hanya diam tak bersua. Tentu saja Kò tahu apa yang diamati pria itu, namun ia tak tahu apa yang dipikirkan. Sosok Neji yang walau tidak ia lihat sepenuhnya terasa asing. Aura pria itu begitu pekat dan tajam. Tidak menggambarkan kondisi pria itu pada umumnya.
"Silakan, Kò, K-kak Neji." Ujar Hinata meletakkan cangkir teh di hadapan mereka berdua.
Kò tersenyum. "Aroma yang begitu wangi, Nona. Tuan Hiashi pasti senang mencicipinya."
Hinata tersipu. "Terima kasih, Kò." Hinata masih tidak berani menatap Neji walau ia masih merasakan tatapan pria itu mengamati segala gerak-geriknya. "Bagaimana kabar Ayah dan Hanabi?"
Kò mengangguk dan meletakkan cangkir teh setelah menyesapnya. "Kabar Tuan Hiashi dan Nona Hanabi baik. Mereka dalam kondisi sehat, Nona."
Helaan napas lega terdengar dari Hinata. "Ah! Sepertinya saya belum mengenalkan teman saya. Kenalkan dia adalah Shino Aburame, dia yang membantu saya mengurus tanaman-tanaman di sini." Hinata mengenalkan Shino yang duduk di sampingnya kepada Ko dan Neji. Walau terkesan cenderung mengenalkan kepada Ko.
Saat itulah Hinata memberanikan diri menatap Neji. Ingin mengetahui reaksi apa yang akan ditampilkan dan seperti apa pendapat sepupunya terhadap temannya. Namun yang ia dapati kedua iris perak itu tak sedikit pun berpindah darinya. Masih menatapnya lekat dengan pandangan tak terbaca. Hinata memalingkan wajah. Saat ini tatapan Neji membuatnya tidak nyaman. Rasa ganjil yang ia rasakan tadi masih begitu terasa ditambah sikap Neji yang masih terus asing membuatnya semakin tak nyaman hingga enggan untuk menatap sepupu yang seharusnya ia rindukan itu.
Shino menjabat tangan Kò yang terulur namun tidak menjabat tangan Neji melihat pria itu tidak sedikitpun tertarik. "Saya Shino, teman Nana. Maaf atas kelancangan saya yang ikut campur dalam urusan keluarga."
Kò tersenyum. Anak yang cukup baik. "Tidak masalah, Tuan Shino. Terima kasih telah menjadi teman dan membantu Nona selama ini."
Shino mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi." Detik selanjutnya ia keluar dari toko dan menghilang dari pandangan entah kemana.
"Bagaimana kabar Nona Hinata selama ini? Apakah mengalami kendala selama di Konoha?" tanya Kò membuka percakapan. Ia cukup tahu bahwa saat ini Neji enggan berbicara bahkan untuk sekadar berbasa-basi.
Hinata menautkan kedua tangannya di atas meja dan tersenyum. "Sangat baik, Kò. Justru saya menemukan banyak hal baru." Hinata tidak memerhatikan bagaimana ekspresi Neji yang menggelap dengan alis yang bertaut. "Saya senang berada di sini." Ujar Hinata dan tersenyum ke arah Kò.
Kò mengangguk, senyumnya memudar. "Namun Nona tidak bisa selamanya berada di sini. Keberadaan Hyuuga di sini sudah cukup bagi Nona untuk mengetahui kondisi Nona sekarang bukan?"
Hinata tersenyum pahit. "Ya, saya mengetahuinya. Saya akan pulang ke Kumo."
Walau tidak ingin membuat Nona-nya bersedih, Kò tetap harus mengatakan faktanya. Agar situasi lebih baik baik bagi keluarga Hyuuga maupun Hinata. "Tuan Hiashi cukup marah mengetahui tindakan Nona, namun jauh dari lubuk hati yang terdalam, beliau sangat ingin Nona untuk segera kembali. Saya harap Nona paham akan hal itu."
Hinata menggigit bibir. Sudah lama ia memikirkam bagaimana jika Hyuuga telah menemukannya. Namun dengan berbagai kejadian yang ia alami selama beberapa minggu ini membuatnya lupa memikirkan yang seharusnya dikatakan kepada keluarganya ketika ia ditemukan. Ia bahkan belum melakukan rundingan terhadap Sasuke terkait hal ini. Walau terasa berat, sepertinya ia harus menghadapi ini sendiri.
"Saya akan pulang ke Kumo namun tidak untuk menikahi pewaris Klan Sabaku." Ujar Hinata sambil menatap Kò penuh keyakinan. "Saya menolak perjodohan ini."
Kò menatap Hinata bingung dan tidak percaya. "Maaf, apa saya tidak salah dengar Nona?" walau Kò menduga alasan Hinata adalah kabur dari perjodohan namun untuk mengetahui bahwa wanita itu yakin akan keputusan membuatnya tidak percaya.
Neji tidak memberi komentar. Dari awal ia telah menduga bahwa tindakan sosok yang akan menjadi miliknya ini terjadi karena menolak perjodohan. Walau ia tidak menyukai cara wanita itu menolak dengan kabur dan pergi jauh darinya, namun setidaknya ia cukup senang mengetahui bahwa Hinata tidak menginginkan pria Sabaku. Dengan begitu jalan untuk mendapatkan wanita itu ke sisinya lebih mudah.
Sejak awal melihat interaksi Hinata dan bocah udik itu, Neji berusaha mati-matian menahan amarah. Melihat dengan santai Hinata mengumbar senyuman ke sosok selain dirinya membuat darah mendidih dan bergejolak hebat. Jika bukan karena keberadaan Kò yang sedari tadi tidak mengendurkan pengawasan, ia pasti sudah mencekik bahkan mematahkan leher pria itu. Untuk saat ini ia akan bermain aman. Mengamati dengan hati-hati tindak-tanduk Hinata. Memastikan wanita itu tidak melangkah semakin jauh darinya.
Hinata menggeleng tegas. "Tidak Kò. Saya tidak bisa menikah dengan Klan Sabaku."
Kò menghela napas frustrasi mengapa ketika keluarga Sabaku datang, masalah semakin runyam. "Namun tidak bisa, Nona. Hyuuga telah menyetujui perjodohan ini dan tidak bisa ditolak lagi. Perwakilan Sabaku telah datang kemarin dan ingin pernikahan ini segera diwujudkan."
Hinata menggigit bibirnya. Sepertinya ia harus mengatakan yang sejujurnya walau tanpa Sasuke di sampingnya. Bagaimanapun jawabannya saat ini menentukan nasibnya di masa depan nanti. "M-maaf..."
Kò menatap Hinata prihatin. Ia tahu Hinata tidak ingin melakukan perjodohan, namun hanya dengan kabur saja tidak menyelesaikan masalah. "Nona... sudah tidak ada yang bisa Nona laku–"
"Saya mencintai seseorang!" seru Hinata keras-keras.
Kò terkejut. Ia terdiam beberapa saat. Bahkan Neji pun tidak menahan keterkejutannya. "Apa kau bilang? Cinta?" tanya pria bersurai panjang itu.
Hinata menatap kembali sepupunya kemudian menatap Kò. "Saya mencintai seseorang di Konoha. K-kami telah menjalin hubungan s-selama s-satu tahun." Hinata menunduk sambil memainkan jarinya. Malu untuk mengungkapkan cinta walau hanya berkedok kebohongan.
"Kau tidak bisa berbohong." Ujar Neji mutlak. Hinata menengadahkan kepalanya, menatap kedua iris dingin yang seolah hendak mencabiknya berkeping-keping. "Tidak ada pria selain Hyuuga di hidupmu."
Kò mengangguk. Wajahnya serius. "Tuan Neji benar, Nona. Nona tidak bisa berbohong hanya karena ingin membatalkan perjodohan ini."
Ya. Mengenai hal itu Hinata memang tidak bisa membantah. Sejak kecil hanya pria Hyuuga yang berada di sekitarnya. Rasanya tidak mungkin jika ia bisa mencintai orang lain di luar lingkaran Hyuuga. Meski begitu ia tidak bisa berhenti begitu saja. Ia juga harus memperjuangkan masa depannya.
"Namanya Sasuke Uchiha. Dia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang teknologi." Ujar Hinata menatap kedua tangannya yang saling bertaut. Tanpa sadar senyumnya terukir ketika mengingat sosok pria tampan yang memberikannya kebebasan. "Dia baik dan pekerja keras. Pria itu tidak menuntut banyak hal kepada saya."
Hinata menatap wajah Kò dan Neji bergantian. Yakin terhadap pilihannya. Walau ia tahu pernikahan ini tidak akan berjalan selamanya. Walau ia tahu pria itu akan menceraikannya ketika tujuan telah tercapai. Walau ia tahu mungkin suatu saat ia akan terjatuh ke dalam afeksi pria itu. Namun saat ini, satu hal yang ingin ia lakukan adalah agar usaha dan kerja keras pria itu tidak sia-sia.
"Saya ingin bersamanya."
Neji melepaskan jasnya dan meletakkan di atas kursi. Perlahan ia membuka kancing di pergelangan tangan dan dua kancing teratas kemejanya. "Pergilah, Kò. Aku ingin beristirahat."
Kò hanya melihat punggung Neji kemudian mengangguk dan berbalik. "Selamat beristirahat, Tuan." Kò menutup pintu pelan dmeninggalkan Neji sendirian di kamar hotel berbintang itu. Setelah merundingkan baik-baik, ia memutuskan untuk beristirahat di hotel bintang 5.
Hotel itu memberikan kesan berkelas dan begitu mewah. Kasur king size dengan nakas di kanan kiri. Sebuah LED TV yang berada di atas meja dan berhadapan dengan kasur. Sebuah meja rias di samping TV dengan sebuah kursi tempat Neji meletakkan jasnya. Sebuah sofa di sudut ruangan dengan coffee table terbuat dari batu-batuan. Terdapat dua jendela besar yang menampilkan pemandangan siang hari yang padat di kota metropolitan Konoha. Ditambah lantai marmer dan lampu gantung bertahtakan kristal. Menambah suasana mewah kamar hotel itu. Jika saja rencananya berjalan dengan lancar, ia pasti dapat menikmati kamar hotel ini maupun fasilitas yang ada di dalamnya. Bahkan sangat mungkin untuk menikmatinya bersama dengan Hinata.
Neji berjalan menuju meja rias dan menghantamkan tangannya di cermin. "Brengsek!"
Neji membiarkan serpihan-serpihan kaca menusuk, melukai kulit tangannya. Darah menetes membasahi meja dan menodai pecahan-pecahan kaca. Neji tidak peduli. Baginya, melampiaskan kemarahan adalah prioritas. Betapa tubuhnya panas akan amarah dan gairah yang tidak bisa tersalurkan dengan baik. Suara pecahan, bantingan terdengar begitu jelas hingga terdengar sampai di koridor. Menggambarkan pemilik kamar mengalami emosi yang begitu bergejolak hingga mendidih.
Jika saja ia langsung menghajar bahkan membunuh pria kurang ajar yang dungu tidak tahu batasan yang telah dilanggar kepada Hinata-nya, Pengawal Tua Sialan itu tidak akan menemukan dan menghentikannya. Andaikan ia bergerak cepat sesuai naluri, saat ini Hinata pasti telah berada di rengkuhan, pangkuan, atau bahkan mereka telah larut dalam seks yang menggairahkan. Jika saja ia langsung menggunakan obat bius kepada Hinata agar membungkam mulut wanita itu dan segera membawanya ke mobil, ia pasti telah menikmati waktu bersama wanitanya sekarang.
Hanya karena kebaikan hatinya yang rela mendengarkan perlawanan bahkan ocehan omong kosong dari bocah kurang ajar itu, kesempatan satu-satunya hilang. Kesempatan untuk memiliki Hinata seutuhnya. Tubuh Neji bergetar hebat, ia tidak bisa menahannya lagi. Obsesi yang terlalu besar mendorong kewarasannya ke ujung tebing, jika obsesi ini terpendam terlalu lama, ia tidak akan bisa mengontrol tindakannya. Bahkan mungkin jika menyakiti Hinata adalah jalan satu-satunya untuk meraih wanita itu. Walau seluruh pakaian dalam wanita itu telah ia ambil dan hirup dalam-dalam setiap malam, masih belum cukup. Ia butuh wanitanya. Dalam wujud fisik dan hangat seperti yang ia inginkan.
Betapa ia telah gila akan seorang wanita. Bagaimana bisa kau tidak gila jika wanita yang dihadapi adalah seorang Hinata Hyuuga? Wanita berkepribadian lembut dan penyayang, cerdas namun santun, tidak berusaha mendominasi dan menghormati kepentingan orang lain. Seorang wanita berparas ayu bak seorang dewi, hidung mancung, bibir plum yang merah menggoda, kulit seputih salju, wangi bagaikan bunga, dengan kedua iris perak yang memikat. Wanita yang terlihat rapuh bak porselein, menggodanya untuk merusak bahkan memonopoli seluruh kehidupan wanita itu seutuhnya.
Walau paras ayu begitu menggoda, namun Neji tahu lebih dari itu. Tubuh Hinata-nya adalah tubuh seorang pendosa, begitu binal dan lacur. Dengan kedua buah payudara besar yang bulat nan menggoda, seolah meminta untuk dijamah, disentuh, diremas. Jangan lupakan pinggang ramping yang membuatnya ingin melingkarkan kedua tangan di sana, membawanya mendekat dan tak membiarkan wanita itu lepas. Atau pinggang yang akan selalu ia cengkram setiap melakukan penetrasi dengan tempo yang kasar nan brutal, ia dapat membayangkan bagaimana pinggang itu akan memar akibat cengkramannya yang bertenaga. Ditambah panggul yang lebar membuatnya berpikir sebanyak apa benih yang akan ditampung wanita itu nanti. Kaki jenjang dengan paha yang kencang dan akan selalu melingkar di pinggangnya dipadukan dengan pantat montok yang padat. Membayangkan bagaimana pantat itu akan ia tampar hingga kemerahan dan remas sepanjang waktu ketika ia melakukan penetrasi dari belakang.
Ia membayangkan bagaimana membuat perut wanita itu membengkak akibat benih yang ditanamnya setiap waktu, setiap hari, bahkan setiap minggu. Ah, betapa membayangkan Hinata tidak akan pernah beranjak dari kasur membuatnya menegang. Bersenggama dengan wanita itu tidak akan membosankan untuknya. Mereka dapat mencoba berbagai gaya, berbagai cara, ditambah beberapa mainan-mainan kecil, rasanya akan terasa sempurna. Bahkan ia berpikir untuk tidak memberikan wanita itu pakaian dan membiarkannya telanjang sepanjang waktu agar memudahkannya dalam penetrasi kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun. Membayangkan bagaimana vagina wanita itu yang selalu basah dengan sperma yang tak pernah tertampung seutuhnya karena aktivitas mereka setiap hari membuatnya gila. Betapa keindahan fisik wanita itu seolah menjawab seluruh panggilan birahi para pria. Wajah indah bak dewi dipadukan tubuh lacur yang memuaskan birahi, tidak ada yang lebih indah dari itu. Sayang seribu sayang jika ia yang akan membuat wanita bak buah terlarang itu akan menjadi miliknya. Hanya miliknya.
Namun segala rencana indah itu hancur berantakan hanya dalam hitungan menit. Hanya dalam hitungan menit wanita itu terlepas darinya dan saat ini mereka masih tidak bisa menghirup udara yang sama di ruangan yang sama, berbagi peluh bersama, menikmati desahan wanita itu hanya untuknya. Lagi-lagi ia membiarkan keindahan suara wanita itu dirasakan oleh orang lain apalagi pria dungu yang dengan tololnya berusaha menantang dengan menghentikan perbuatannya. Apalagi sekarang? Apa yang wanita itu katakan? Menikah dengan Uchiha Sasuke? Pria antah-berantah yang hanya menjadi budak kapitalis perusahaan yang bahkan tidak akan bisa membahagiakan wanitanya dan Hinata ingin menikahi pria seperti itu?!
Neji mencengkram kedua tangannya, menahan amarah yang hendak meledak-ledak. Berani-beraninya! Berani-beraninya kroco itu mampu membuat Hinata-nya ingin pergi dari sisinya dan memilih untuk tinggal bersama bedebah itu! Ia pastikan pria itu tidak akan hidup tenang. Bahkan sebelum itu terjadi, ia akan menyekap pria itu, mengebiri, mencabut seluruh kuku jari, membiarkan darah tak berhenti mengalir dari tubuh pria itu, hingga mencekiknya sampai mati, dan terakhir memakankan anjing peliharaannya dengan tubuh yang telah ia mutilasi dengan brutal.
Suara berbagai barang yang terbanting dan pecah kian terdengar. Membuat khawatir para pelayan yang melewati koridor. Ingin memastikan keadaan pemilik kamar, namun takut jika menjadi sasaran kemarahan. Akhirnya mereka memutuskan mengabaikan dan melanjutkan pekerjaan. Membiarkan Neji melampiaskan kemarahan yang terpendam.
"Bajingan!" Tunggu saja pembalasanku!
Sasuke mengembuskan asap rokok. Saat ini nikotin adalah kawannya, pelipur segala masalah yang ia alami. Namun di sisi lain pelampiasan dari hasratnya yang terpendam saat ini. Ia tidak menyangka jika wanita yang ia temukan begitu menarik hingga membuatnya terjerat. Tak menyadari wanita itu begitu memikat hingga malam dimana ia mengenalkan Hinata kepada keluarganya. Malam dimana perasaannya campur aduk dan melihat bagaimana wanita itu mendatangi dengan inosen dan tulus, membuat sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Ia tahu itu. Sangat tahu. Bahkan ia tahu cara untuk memadamkan gejolak itu namun saat ini ia masih tidak bisa melakukannya.
Mudah baginya melakukan dengan paksaan, namun akan mengantarkan kepada kehancuran dari rencananya. Ia bukanlah orang sinting yang memaksakan mengikuti nafsu dan merusak rencana yang telah ia usung selama 8 tahun lamanya. Awalnya begitu. Hingga dua hari yang lalu, segalanya menjadi runyam. Ia tak menyangka hanya dengan merengkuh wanita itu memberikan rasa tenang namun di saat bersamaan muncul keposesifan dalam dirinya. Untuk memiliki wanita itu seutuhnya. Membayangkan pekikan kecil dan lenguhan syahdu wanita itu sudah cukup menjungkir-balikkan akalnya. Betapa besar efek yang ditimbulkan wanita itu dalam waktu singkat. Hanya nikotin yang mampu membuat pikirannya menjadi jernih kembali.
Merokok di atap sambil memandangi hiruk-pikuk kota adalah salah satu cara untuk menenangkan dirinya. Angin lembut dan nikotin memberikan kesegaran dan menjernihkan pikirannya yang berkabut. Mungkin ia harus berolahraga jika memiliki waktu agar tubuhnya dapat kembali fit.
"Hei, Sasuke!" tepukan keras Naruto tidak memberikan efek apa pun kepada pria stoic itu. Justru tetap melanjutkan aktivitas merokoknya. Naruto mendengus. "Ayolah sobat, ada apa denganmu?"
Naruto bersandar pada pagar pembatas sambil membuka kaleng jus jeruknya. "Hei, kau tahu jika baru saja akan diadakan sayembara?"
Sasuke melirik Naruto. Berita baru. Ia mematikan rokoknya. "Tentang proyek hoverboard yang gagal?"
Naruto mencebik. "Jika tentang pekerjaan kau tidak mengabaikanku." Naruto meminum jus hingga tandas. "Proyek itu cukup berhasil dan bisa sangat menguntungkan jika ledakan di mesinnya bisa segera diatasi."
Sasuke mengangguk setuju. Anehnya, hanya untuk kali ini ia sependapat dengan Naruto. "Bahan yang digunakan sebagai baterainya tidak mendukung."
"Divisi Perencanaan dan Teknologi kekurangan sumber daya ditambah kepala Divisi yang sering di kantor cabang Kiri. Banyak pihak yang tidak setuju proyek ini tetap dijalankan." Ujar Naruto menjelaskan. "Aku yang ada di divisi itu bahkan tidak bisa membantu banyak."
Sasuke terdiam. Walau kantor yang ia tempati adalah kantor pusat, namun kantor cabang di Kiri tepatnya Negara Mizu yang notabene adalah negara yang maju secara teknologi dan memiliki pasar yang bagus dinilai lebih menguntungkan. Tidak mengherankan jika kepala divisi yang termasuk orang yang cemerlang di bidangnya lebih sering turun tangan di wilayah yang menghasilkan.
"Kepala Divisi Asuma mengatakan sayembara telah dicabut. Proyek itu akan dihentikan." Celetuk Sasuke. Meski begitu ia sangat menyayangkan. Ia tahu jika sayembara itu upaya nekat yang dilakukan karena tidak ada harapan lagi, namun ia yakin jika proyek itu bisa menghasilkan lebih banyak keuntungan jika berhasil dipecahkan.
Naruto berdecak. "Inilah yang membuatmu begitu membosankan. Kau bukan raja gosip rupanya. Aku baru saja mendengar jika Tobirama Senju menyetujuinya."
Sasuke mengernyit heran namun wajar jika Tobirama Senju menyetujuinya. Bagaimanapun pria itu adalah Kepala Divisi Perencanaan dan Teknologi di Konoha, pasti akan turun tangan jika kantor pusat memanggil. Meski begitu bukankah hal itu peluang yang menarik? Jika proposal yang ia ajukan disetujui dan mampu diimplementasikan dengan baik, dirinya akan dipandang begitu bernilai apalagi untuk seorang Senju yang merupakan petinggi dari perusahaan. Naik jabatan rasanya bukan hal yang mustahil jika mampu membuktikan kualitas dengan kemampuannya. Kalau dipikirkan lagi, menikahi Hinata terasa tidak perlu. Namun di sisi lain ia merasakan tidak bisa melepaskan Hinata atas asumsi yang ia canangkan. Wanita itu masih memiliki nilai yang bisa digunakan.
Bzzzt
Sasuke mengeluarkan ponsel dan tidak menyangka melihat nama Hinata tertera di sana. "Kirimkan informasinya padaku." Sasuke kemudian berjalan menjauh dari Naruto.
Naruto berdecak. Inilah yang membuat Sasuke disukai namun tidak banyak yang berani mendekat. Pria itu tampan namun membosankan, tipikal pria yang ia yakin tidak bisa membahagiakan wanita dan tidak hebat di ranjang. Pria-pria membosankan seperti itu harusnya bukan menjadi saingannya. Ia ragu jika ucapan Sasuke mengenai pacar itu benar. Mungkin saja pria itu mengikuti sarannya dan mengambil wanita secara acak. Jika itu benar-benar terjadi, ia akan menjadi orang yang tertawa kencang di akhir.
Hinata menatap jari-jemarinya yang saling bertaut. Rasa gugup menyandera, ia tidak menyangka harus segera menghadapi Sasuke secepat ini. Peristiwa dua hari lalu saja masih membuatnya memerah padam dan sekarang ia harus berhadapan dengan pria itu lagi. Hinata menarik napas dalam-dalam. Saat ini bukan itu yang harus dipikirkan. Ada hal yang lebih mendesak daripada memikirkan hal-hal yang membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Suara dentingan lonceng membuat Hinata mendongak. Di pintu, Sasuke berdiri dengan kemeja dan dua kancing teratas terbuka. Menampakkan betapa bidang dada pria itu dibalik balutan kemeja ditambah lengan yang digulung hingga siku, menampakkan otot lengan pria itu yang membuat Hinata bersemu. Astaga Hinata! Apa yang kau pikirkan?! Bisa-bisanya kau berpikir liar di situasi genting seperti ini.
Hinata berdiri dari kursinya dan menunjuk kursi kosong yang bersebrangan dengan dirinya. "Duduklah S-Sasuke. Saya a-akan membuat teh." Hinata berusaha menenangkan debaran jantungnya, ia tidak tahu bagaimana ekspresi Sasuke saat ini namun ia berharap pria itu tidak kecewa kepadanya.
Sasuke mengangguk. Tubuh jangkungnya dengan cepat sampai di meja dan mengambil kursi lalu memindahkan ke samping meja kemudian mendudukinya. Tubuh Sasuke yang jangkung membuat kursi itu tampak kecil. Sasuke menyandarkan tubuhnya kemudian menatap langit-langit toko. Ini pertama kalinya memasuki tempat tinggal wanita itu. Ia sudah menyangka jika lantai 1 adalah toko dilihat dari desain tampilan bangunan, namun ia tidak menyangka jika berisi bunga dan tumbuhan di berbagai sudut. Bukankah wanita itu hendak mendirikan café?
Mengesampingkan bagaimana Hinata merencanakan masa depan, Sasuke tidak menyangka wanita itu akan secepat ini ditemukan. Sepertinya walau wanita itu dari keluarga biasa yang memiliki sopan santun tinggi, namun ternyata cukup protektif hingga rela jauh-jauh datang dari Kumo ke Konoha. Walau ia yakin hal ini membuat wanita itu terkejut, namun di sisi lain ia senang rencananya dapat berjalan secepat dan semulus ini. Jika mereka bisa melangsungkan pernikahan, baik rencananya maupun rencana hidup wanita itu dapat segera berjalan dengan baik.
Trak
"Silakan dinikmati, S-Sasuke." Walau dipaksakan seperti apa pun Hinata masih kesulitan memanggil Sasuke tanpa marga maupun kata penghormatan. Hinata memutuskan duduk sambil menangkupkan kedua tangannya gugup. Aroma tubuh Sasuke ditambah kedekatan jarak mereka membuatnya pening. Begitu memabukkan dan di saat bersamaan membuatnya panas. Berkali-kali ia merapal doa untuk menyingkirkan pikiran negatif dan berusaha fokus terhadap pembicaraan.
"Jadi, apa yang kau katakan pada keluargamu?" tanya Sasuke memulai pembicaraan. Ia tidak ingin basa-basi agar ia dapat segera tahu tindakan yang harus dilakukan.
Hinata menghela napas lalu menatap Sasuke sebelum kembali menatap kedua tangannya. "Saya berkata bahwa saya hendak menikah dengan Anda, namun keluarga saya tidak percaya." Walau ia ingin mengetahui ekspresi yang ditunjukkan Sasuke saat ini, namun ia tidak ingin melihat tatapan pria itu. Walau berbeda dengan Neji, namun memiliki beberapa kesamaan yang membuatnya tidak ingin mengingat kejadian tadi pagi yang begitu traumatik.
"Apa kau mengatakan tentang agen perjodohan dan sebagainya?"
Hinata menggeleng. "Saya tidak mengatakannya karena mereka ragu bahwa saya bisa menikah dengan orang lain yang tidak dipilihkan oleh keluarga saya."
Sasuke mengernyit. Apa yang salah dari hal itu? Bukankah hal itu hal yang wajar? Sasuke memutuskan diam dan membiarkan Hinata melanjutkan. Walau ia sangat ingin melihat kedua iris perak wanita itu, namun ia tidak bisa mengatakannya. Saat ini wanita itu mungkin bingung dan terguncang atau bahkan terkejut. Ia tidak tahu. Namun sepertinya pertemuan wanita itu tadi pagi cukup bermasalah.
"Keluarga saya cukup kaku. Sejak kecil saya tidak pernah bertemu dengan pria kecuali sepupu, ayah, kakek, t-teman ayah saya." Ia merasa tidak sopan jika memanggil Kò sebagai pengawal atau pelayan karena keberadaan pria itu tidak tergantikan. "Karena hal itu saya tidak mampu mendapat kepercayaan dari mereka."
Sasuke menghela napas kemudian menggenggang tangan Hinata, membuat wanita itu tersentak hingga lututnya menyentuh paha dalam Sasuke membuat wanita itu memerah padam. Jarak mereka begitu dekat, Hinata bahkan tidak menyadari jika pria itu tidak duduk bersebrangan.
"Aku bisa menemanimu." Sasuke merasakan kedua tangan Hinata yang tergenggam oleh satu tangannya yang cukup besar. Seolah menegaskan perbedaan fisik keduanya. Namun yang menjadi perhatian adalah tangan wanita itu yang gemetar. Apa wanita itu takut?
Hinata menggeleng dan menarik tangannya. Tidak ingin terbuai dalam kehangatan pria itu. "Keluarga saya saat ini berada di Konoha, saya telah diminta pulang." Hinata menatap Sasuke teguh. "Keluarga yang menjemput saya tidak percaya dan mungkin walau S-Sasuke menjelaskan, sulit bagi mereka untuk percaya."
Hinata mengepalkan kedua tangannya. "Sepertinya saya harus mendiskusikan dengan ayah saya." walau ia tidak pernah melawan ayahnya, namun melihat bagaimana kehidupan impiannya berada di depan mata membuatnya ingin untuk berjuang. Setidaknya berjuang untuk kehidupannya sendiri.
Walau Sasuke masih ingin merasakan kehangatan tangan wanita itu, namun sepertinya ia harus merelakan. Seperti ia yang harus menyerahkan keputusan kepada Hinata. Walau gerak-gerik wanita itu tidak meyakinkan. "Kau yakin tidak membutuhkan bantuanku?"
Hinata mengangguk yakin dan akhirnya menatap kedua iris Sasuke mantap. "Saya yakin. Saya memiliki rencana yang mungkin dapat membuat ayah saya terbujuk."
Jika wanita itu merasa yakin dan mampu untuk menyelesaikan, ia tak perlu campur tangan karena ia percaya dengan kemampuan wanita itu. Sasuke mengangguk kemudian meraih cangkir dan meneguk tehnya. Menyesapi aroma dan rasa yang menguar dari minuman hangat itu. Kedua iris arangnya tak sekalipun berpindah dari Hinata. Wanita itu benar-benar di luar dugaan. Sedetik gugup, sedetik malu, sedetik kemudian berani, dan bersemangat. Seperti anak anjing. Walau ia menginginkan Hinata namun menikmati waktu bersama seperti ini tidak buruk. Namun ada sesuatu di dalam dirinya yang sulit dideskripsikan.
Hinata merasa canggung, pria itu tidak lagi bertanya seolah yakin atas keputusannya. Ia melirik dan mendapati kedua iris arang itu masih menatapnya. Hinata buru-buru bangkit dan berdeham. "S-sepertinya ada be-berapa kudapan–akh!" sebelum wanita itu pergi, tangannya ditarik membuatnya kehilangan keseimbangan.
Hinata mendongak dan mendapati Sasuke menatapnya. Intens dan pekat. Seolah menelanjanginya. Tanpa sadar ia merapatkan kedua pahanya, rasa tidak nyaman kembali hadir di pangkal pahanya. Ia memalingkan muka dan baru menyadari jika ia berada di pangkuan pria itu. "S-Sasuke, m-maaf telah membebanimu, saya pasti be–"
Hinata berusaha bangkit namun terkejut ketika lengan kekar pria itu melingkari perutnya. "Hinata." suara serak dan dalam Sasuke membakar tubuhnya. Ditambah kedekatan mereka yang menempel begitu erat hingga ia bisa merasakan pahatan otot dada pria itu di lengan dan dadanya. Hinata menggigit bibir. Ia merasakan dirinya dalam bahaya. Kedekatan mereka membuat dirinya gila. Dada mereka saling bersentuhan membuat sesuatu dalam diri Hinata begejolak.
"S-Sasuke, k-kumohon, l-lepaskan..." pinta Hinata dengan kedua irisnya yang berkabut dan sayu. Jarak mereka yang begitu intim tak ayal membuat Hinata merasakan panas dalam tubuhnya. Ia tidak tahu perasaan apa yang ia alami saat ini, namun ia merasa takut akan tingkahnya yang tidak biasa setiap berada di dekat pria itu.
Sasuke menggeram. Awalnya ia ingin menahan Hinata, ia pun tidak tahu mengapa. Tangannya bergerak sendiri, namun melihat wanita itu tidak berdaya di pangkuannya membangkitkan 'adik kecil' yang tersembunyi di balik celana kantor. Dengan jarak sedekat ini, tentu saja Sasuke dapat merasakan lekuk tubuh Hinata yang sempurna. Bagaimana gundukan lembut menekan dada bidangnya dan pantat montok wanita itu yang menekan lembut pahanya membangkitkan hasrat liar dalam dirinya.
Sasuke menunduk. Mengendus perpotongan leher Hinata dalam-dalam. Menghirup aroma lavender wanita itu, begitu menenangkan namun di saat bersamaan menggairahkan. Ia dapat merasakan Hinata yang bereaksi dengan mencengkram kemejanya dan melenguh. Sialan. Hinata yang bergerak dalam pangkuannya tanpa sadar menggesek 'adik kecil'. Jika wanita itu tidak berhenti bergerak, ia tidak mampu mengendalikan dirinya. Namun ia tidak bisa melepaskan Hinata saat ini. aroma wanita itu begitu memabukkan, membuat dirinya yang haus akan sentuhan dapat terobati.
Hinata tidak bisa menahannya lagi. Sasuke menyerang titik sensitifnya membuatnya menggeliat tak nyaman. "Ugh~" ia bahkan tak lagi mengenali suaranya, kedua matanya terpejam berusaha mengenyahkan rasa ini, namun di saat bersamaan menikmati setiap sentuhan pria itu.
"Aku akan menunggumu." Bisik Sasuke provokatif. Bibir tipisnya mengecup daun telinga Hinata dan menggigitnya pelan, membuat pekikan wanita itu semakin kencang. Lidah Sasuke menyusuri daun telinga wanita itu kemudian memasuki gendang telinganya.
"Akh!" pekik Hinata kencang. Sekujur tubuhnya meremang diikuti perutnya yang bergejolak, tanpa sadar ia memeluk pundak lebar pria itu. "Ahh~" desah Hinata ketika pria itu memainkan telinganya yang begitu sensitif. Ia merasa lemas seolah ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuhnya yang tidak ia ketahui.
Wajah Sasuke buram. Ia tidak bisa melihat dengan jelas namun ia dapat merasakan jemari panjang pria itu menyusuri bibirnya. "Aku menunggu kabar baik, Hinata."
Suara desahan menggema di ruang hotel. Derak kasur berdecit ditambah desahan diikuti pekikan menambah panas situasi. Tampak kedua insan sedang memadu kasih dengan begitu liar. Menghentakkan batangnya sekuat tenaga di lubang surgawi sang wanita yang menungging. Seolah berada dalam nirwana, wanita itu meracau dengan bola mata ke atas seolah kenikmatan yang didapatkan tidak mampu ditampung oleh tubuhnya.
"UGHH CEPATHH KAKAKKHHH!" pekik kencang wanita itu ketika sang pria mencengkram pinggul wanita itu dan menariknya sesuai tempo masukan batangnya. Suara kulit yang saling bertabrakan menambah panas situasi. "AKH AKH AKH!"
Sang pria seolah tidak peduli dengan kondisi kacau kawannya saat ini. Ia terus menghentak dengan cepat dan bertenaga. Ia tidak peduli jika wanita di bawahnya ini akan hancur atau rusak. Satu hal yang ia inginkan adalah mampu melampiaskan hasratnya.
Wanita itu mencabik bantal dengan kuku-kuku panjangnya, menyalurkan kenikmatan yang membutakan. Ia merasa dirinya akan segera keluar. Pinggulnya mengikuti pentrasi batang pria itu yang besar dan panas. "ISI AKU DENGAN SPERMAMUUHH! PUASKANHH AKHHHH!" detik berikutnya sang pria menanamkan batangnya dalam-dalam diikuti dengan orgasme yang telah mencapai puncaknya.
Sang pria –Neji Hyuuga–mengeluarkan batangnya dari liang jalang itu kemudian duduk di kasur. Memandang langit-langit. Walau seks kali ini untuk meredam amarah dan gairahnya, namun ia masih merasa belum cukup. Jika tidak bersama dengan Hinata, tidak akan sempurna.
Shion, nama wanita yang ia sewa. Sejak ia memutuskan pergi ke bar dengan pelacur mata perak menghampiri, ia merasa harus meredam amarah ini dengan seks liarnya. Walau Shion jauh berbeda daripada Hinata, namun kedua iris mereka yang sama membuatnya memutuskan bahwa lacur ini yang cocok untuk meredam amarahnya sementara. Esok ia akan pulang bersama dengan Hinata, keputusan sudah bulat bahwa penjelasan Hinata tidak cukup meyakinkan. Walau tak ingin berhubungan dengan wanita lain, namun ia harus melakukannya. Setidaknya saat ini ia tidak ingin lepas kendali dan membuat segala rencananya berantakan ketika mereka pulang.
Shion perlahan bangun. Tubuhnya begitu lengket akibat keringat, sperma, dan cairannya sendiri. Mereka telah melakukan 6 ronde sejak ia menginjakkan kaki di kamar hotel mewah ini. Aroma seks begitu pekat mengisi kamar seolah menegaskan hubungan panas mereka begitu liar tanpa kendali. Untuk pertama kalinya ia disewa oleh pria tampan dengan libido tinggi. Mengingat kembali aktivitas mereka membuatnya bergetar. Betapa kenikmatannya hari ini tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan yang ia rasakan dengan klien lain.
Namun sayangnya, pria itu tampak tidak puas. Shion merangkak mendekat. Jemari lentiknya meraba paha Neji, menggodanya. Walau tubuhnya lelah, selama ia masih bisa merasakan aktivitas mereka kembali, ia tidak peduli berapa banyak waktu terlewat. "Hei, apa kau tidak puas, hm?"
Neji tidak menatapnya sama sekali. Pria itu berdiri dan mengambil jas kemudian mengeluarkan segepok uang dan melemparkannya di kasur. "Ambil dan pergilah." Ujarnya dingin.
Shion mengerucutkan bibir, kecewa godaannya tidak berhasil. "Padahal aku sudah mengikuti perintahmu untuk memanggilmu kakak." Shion berusaha bangkit walau kakinya terasa lemas seperti jeli. Ia berlenggak-lenggok ke arah Neji yang menatapnya datar. "Bagaimana jika kau memberitahu namamu? Pria tampan." Shion membelai dada bidang Neji yang telanjang, mengikuti bentuk otot pria itu dengan jarinya.
Ia menyandarkan kepalanya di dada Neji dengan tangannya yang bergerilya menuju pahatan perut yang sempurna. "Sepertinya kau memiliki ketertarikan dengan adikmu, hu–akh!" detik selanjutnya Shion melayang di udara dengan tangan kekar Neji mencekik lehernya. Kedua kaki Shion menendang-nendang udara, ingin segera dilepaskan.
"Leph-akh!" ia tidak bisa bernapas, saluran napasnya terhambat. Tubuhnya bergidik ngeri, ia bisa merasakan jika nyawanya telah di ujung tanduk.
"Diam jalang." Ujar Neji dingin. Kedua irisnya berkilat penuh amarah dan dendam. "Ambil uangmu dan pergilah." Neji melempar wanita itu ke lantai, mengambil uang dan melemparkan ke tubuh telanjang wanita itu. Ia memerhatikan wanita itu yang terbatuk-batuk dan segera mengambil pakaian dan uang yang diberikan Neji. Neji berjalan ke arah jendela. Tidak peduli dengan kondisinya yang tanpa busana. Ia memerhatikan keadaan malam kota metropolitan itu.
"Hinata, tunggu aku."
Tiga hari kemudian
Tok tok tok
"Masuk."
Seorang pelayan masuk ke ruang keluarga Uchiha. Di sana tampak Fugaku yang duduk di sofa sambil menyesap teh ditemani sang istri yang merajut. Bungsu Uchiha berdiri di dekat jendela ikut teralihkan dengan kedatangan pelayan.
Pelayan itu membungkuk sebelum memberikan informasi. "Pesan telah datang dari daerah Kumo atas nama Klan Hyuuga."
Itachi yang hendak beranjak dari sofa dihentikan oleh Sasuke yang lebih dulu mendatangi pelayan dan mengambil surat yang diberikan. Dengan cepat ia membuka surat dan membaca deretan tulisan di sana. Itachi mengernyit melihat tingkah adiknya yang terdiam tak bergerak sedikitpun, jika adiknya dalam keadaan berbaring, mungkin ia mengira jika adiknya sudah mati.
Itachi bangkit dan menghampiri Sasuke. "Hei, Sasu, ada apa?" ia mengambil surat dan membacanya. Kedua irisnya membola. Ia menatap kedua orang tuanya terkejut. "Keluarga Hyuuga mengundang kita ke Kumo dalam rangka membahas tentang perjodohan."
"Klan Hyuuga menerima lamaran kita." Tambah Sasuke yang sudah kembali ke sedia kala dan memutuskan untuk duduk di sofa. Berhadapan dengan kedua orang tuanya. Ia bisa melihat bahwa baik Fugaku atau Mikoto sama-sama terkejut mengingat mereka tidak tahu satu hal pun mengenai Klan Hyuuga.
Mikoto mengernyit. "Hyuuga? Siapa itu? Siapa yang mengajukan lamaran?" ia tidak pernah mendengar atau tahu menahu tentang klan bernama Hyuuga. Ia tidak ingat pernah mengajukan lamaran kepada Klan bernama Hyuuga.
"Wanita yang akan aku nikahi, Hinata. Berasal dari Klan Hyuuga." Jelas Sasuke, walau wajahnya tenang, namun ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bodohnya dia yang tidak menanyakan asal-usul calon istrinya hingga tidak mengetahui hal sepenting ini. Selama ini ia mengira bahwa Hinata hanyalah gadis desa biasa dengan sopan santun tinggi dilihat dari pakaian sederhana dan tutur kata yang sopan. Namun ia tidak menyangka dapat mengetahui rahasia wanita itu dalam keadaan seperti ini.
"Penguasa Daerah Utara, Desa Kumo."
TBC
*Tendon achilles = tendon terbesar di manusia yang menghubungkan otot belakang betis dengan tumit. Berfungsi untuk berjalan dan berjinjit.
Yak hubungan sudah mulai memanas, saya harap di chapter ini bisa menjelaskan bagaimana perasaan Hinata ke Neji yang berbeda dengan perasaan ke Sasuke. Selamat tahun baru 2021! Saya akan mengusahakan agar ff ini bisa kelar di tahun ini. Saya harap pembaca dalam keadaan sehat di tengah pandemi ini, jangan lupa untuk mengikuti protokol seperti mencuci tangan, mengenakan masker, dan social distancing. Saya akan berusaha sebisa mungkin update untuk menemani WFH kalian. Terima kasih!
