SetsunaZ1 Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
Fate series ©Type-moon
Dan beberapa chara yang di pakai di dalam fic ini adalah milik Author mereka dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Pertarungan datang silih berganti namun pasukanku tetap abadi. Ini bukan lagi sebuah kisah tentang seorang pemuda yang mencari arti dari keluarga dan bukan juga cerita seorang berandalan yang bertindak tanpa pikir panjang. Tapi, ini adalah sebuah kisah tentang darah, keringat dan air mata dalam menegakkan keadilan dan juga membuat dunia kembali aman.
...
...
#StayAtHome
...
...
Chapter 9
24 Desember 2018
Mike O'Challaghan Bridge, Las Vegas, Nevada, United States
Mike O'Challaghan, Jembatan yang memisahkan Nevada dan juga negara bagian Arizona dan juga Florida di Amerika. Malam natal dengan salju yang berguguran menjadi berkah di malam yang penuh dengan rahmat namun, suasana hening di jembatan itu membuat malam natal menjadi sedikit horror. Bukan karena cerita tentang kemunculan makhluk halus melainkan karena desingan peluru yang bertebaran membuat suasana mencekam di jembatan itu sangat terasa.
Hawa dingin yang menyeruak dari pakaian yang berbalut jaket tidak menjadi halangan. Insting bertahan hidup dan juga adrenalin yang menuncak membuat tubuh menjadi hangat hingga jantung memompa darah menjadi lebih cepat dari apapun yang ada.
"Yah, setidaknya semua anggota tim ku sudah selamat." Ujar seorang pemuda yang terduduk dengan pakaian standar tempur miliknya. Di sampingnya tergeletak sebuah Machine gun pabrikan Pindad berwarna hitam dengan Magazine yang sudah kosong dan banyak selongsong peluru yang berhamburan di kakinya. Sedikit tertawa miris karena penyamarannya terbongkar, pemuda itu mencoba untuk tetap sadar.
Terduduk lemah bersandar pada sebuah mobil yang sudah menjadi bantal sasaran orang-orang yang menembakinya. Sebuah tarikan nafas melalui sebuah filter ia lakukan, lalu menghembuskan asap dari mulutnya dengan sebatang rokok di tangan kanan pemuda tersebut. Pemuda itu bangkit dan melihat kebagian lain dari mobil yang ia sandari. Puluhan orang dengan senjata api yang sudah kehabisan amunisi. Senjata api tersebut di ganti menjadi senjata tajam yang siap melayani pemuda tersebut dengan senang hati.
"Hinako, Maafkan aku! Sepertinya tidak ada cara lain untuk pergi. Maafkan aku kalau aku tidak pernah mencapai Safe Point yang sudah kita janjikan." Wajah pemuda itu sangat sedih namun seketika sebuah senyum di wajahnya menghapus kesedihan tersebut. Kedua tangannya melemas dan pemuda itu merengsek maju setelah membuang setengah batang rokok di mulutnya.
"Terabas ae lah, Anjing."
Buagh...
Orang yang paling depan terkena tinju pemuda tersebut. Tinju demi tinju, di lancarkan menghiraukan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Pertarungan itu terus berlangsung selama beberapa jam namun tidak ada tanda-tanda musuh berkurang, seakan-akan semua Mafia di Las Vegas datang dan berniat mengejar anggota timnya.
Sekarang keadaan pemuda tersebut sudah tidak bisa di katakan baik. Luka memar yang membiru di tubuh, tebasan demi tebasan bagaikan lukisan di sebuah kanvas hidup, lalu kedua kaki yang gemetar itu menandakan sudah tidak kuat menopang tubuh tersebut.
"Kurasa ini akhirnya, padahal beberapa minggu ini kamu sudah menjadi anak kesayangan Kukuzu ..." suara tersebut keluar dari barisan paling belakang dan seketika semua Mafia membuka jalan untuk orang tersebut. Seorang pria berambut perak klimiks dengan sebuah pistol di tangannya sedang menatap Pemuda tersebut dengan wajah sedih. "... pada awalnya, aku sangat senang berpartner denganmu tapi..."
Buagh...
"... Kau menghianati kami dengan menjadi mata-mata!"
Cklek... Sret...
Pria itu mengongkang pistol yang ia bawa dan melepaskan Safety pada pistol tersebut. Moncong pistol itu diarahkan pada kening pemuda berambut hitam tadi namun sebelum pelatuk pada pistol itu di tekan, lengan pria itu di genggam dengan erat.
Dor... Buagh...
Pelatuk sudah tertekan dan juga sebuah terjangan menghantam perut pria tersebut membuat arah peluru yang keluar berbelok mengenai pelipis pemuda itu. Terjangan kaki yang pemuda itu lakukan membuat pemuda itu terjatuh dari atas jembatan menuju ngarai di bawah Hoover dam.
...
...
1 tahun yang lalu...
24 Desember 2017
Tokyo, Japan
Puluhan pemuda dan pemudi sedang berkumpul di sebuah bangunan berlantai enam yang terbengkalai. Beberapa lantai di bangunan tersebut tidak memiliki dinding namun tersebar beberapa sofa, Matras dan juga beberapa alat olahraga. Beberapa pemuda sedang beristirahat dan para perempuan sedang memasak makanan di lantai dua, karena tidak adanya dinding membuat aroma masakan keluar hingga membuat semua orang kelaparan.
"Hei, kenapa Pedofil sialan dan para senpai belum kembali ya? Aku bosan." Ujar seorang gadis berambut coklat Auburn yang sedang berbaring di sofa panjang. Gadis itu memakai sebuah kaos yang di rangkap dengan jaket, sebagai Bawahan gadis itu memakai Hotpants dengan stoking yang membalut kaki jenjangnya.
"Hei, Akira bisakah kau diam? Aku sedang berusaha untuk mendapatkan pencerahan disini. Biarkan saja Lio-san, Kiba-san, dan juga Shikamaru-san. Mereka akan kembali membawa mobil milik Taichou dan membawanya kemari." Kata-kata itu keluar dari mulut seorang pemuda yang memiliki ekspresi datar dengan rambut hitam dan pupil mata kuning dengan sebjnhkus camilan yang ada di tangannya. Pemuda itu sedang melihat majalah otomotif yang menampilkan beberapa motor sport dari pabrik BMW di Jerman.
"Ayolah Ryu-chii, apakah kau lupa kalau aku akan menjadi penggerutu saat aku tidak ada kerjaan?" Ucap Akira, Namun seketika emosinya memuncak kala Ryuma hanya diam menikmati 'me time' miliknya. Menghiraukan emosinya, Akira pergi dari lantai tiga menuju lantai empat dimana-semua orang sedang berkumpul.
"Yo, Akira..." gadis itu menolehkan wajahnya ketika namanya di panggil oleh seseorang. Seorang pemuda yang berpakaian serba hitam dengan sarung tangan tanpa jari.
"Oh ternyata itu kau, matsumoto. Oh ya, dimana Taichou sekarang?" Matsumoto hanya menjawab seadanya dan memberi tau pada Akira kalau pemimpin mereka sedang bersama seorang perempuan dari Satuan Khusus yang akan menjalankan misi bersama mereka semua. Mendengar itu, Akira pergi dengan kepala tertunduk meninggalkan Matsumoto yang menatap heran kepergian ya. Namun ada satu hal yang tidak Matsumoto ketahui, Akira mencintai Ketua mereka namun karena keberadaan Leaticia membuat gadis itu mundur karena melihat tidak ada celah untuk dirinya saat itu.
...
...
Lio, Shikamaru, dan juga Kiba sedang berada di dalam Taxi menuju ke kediaman ketua mereka. Kenapa menyewa Taxi? Karena mereka di perintahkan untuk mengambil tiga mobil yang ada di dalam Garasi dan membawanya ke markas mereka. Mereka bertiga hanya diam saat berada di dalam mobil tersebut.
"Hei, kenapa Taichou baru sekarang kembali kesini?" ujar salah seorang di antara mereka. Dia adalah Lio, Orang terakhir dari grup The Thirty yang berusia 19 tahun. Anggota paling muda di antara semua orang namun karena Lio mengambil program kuliah cepat, pemuda itu tidak pernah berkumpul selama tiga tahun lamanya bahkan dirinya sendiri terkejut saat mengetahui kalau Naruto hanyalah ketua sementara.
"Hmm... Itu adalah pertanyaan yang taboo bagi kami untuk menjawabnya. Yah, setidaknya permasalahannya sama seperti kita." Ucap Shikamaru dengan wajah mengantuk yang iconic dengan pemuda bermarga Nara tersebut.
"Souka, Masalah keluarga ya?" gumam Lio.
Perjalanan berlanjut dalam keheningan tanpa terasa taxi yang mereka tumpangi sudah sampai di depan sebuah rumah. Rumah yang tampak sederhana dengan halaman tampak terawat. Rumput yang nyaman untuk tidur siang memandangi langit, cat tembok berwarna hijau yang menyegarkan mata mereka belum lagi beberapa pohon yang menambah kesan sejuk bagi siapa saja yang melihatnya.
Gretttt...
Suara khas pintu garasi yang terbuka mulai memasuki indra pendengaran mereka. Namun, mereka terkejut karena melihat tiga kendaraan berbeda pabrik yang terparkir rapih di dalam garasi itu. Tanpa ragu mereka bertiga masuk, namun ada satu hal yang membuat salah seorang di antara mereka menjadi bingung. Yaitu, sebuah foto yang berisi pemuda pemudi berjumlah tiga belas orang yang berada di dalam garasi rumah itu.
"Hei, Shikamaru-senpai..." Ucap Lio saat memegang sebuah bingkai foto dan menunjukannya pada Shikamaru. "... Aku tau kalau foto adalah foto The Twelve namun aku tidak pernah melihat gadis di dalam foto ini, siapa dia?" jari pemuda itu menuju pada foto seorang gadis berambut pirang dengan senyuman indah pada wajahnya. Foto itu tampak menunjukan kebahagiaan mereka masing-masing sebagai sebuah keluarga.
"Gadis di foto itu adalah sosok pencetus nama Kitsune dan juga aturan nomor 1 yang selalu kita pakai, dia juga pencetusnya." Ujar pemuda berambut coklat yang bersandar di dinding luar garasi dengan mata tertutup.
"Hmm... Aturan nomor 1 'Semua anggota Kitsune adalah Keluarga' jadi dia yang mencetuskan aturan pertama itu? Lalu dimana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengan senpai ini!" Ucap Pemuda itu dengan wajah senang dan senyuman pada wajahnya seperti seorang anak kecil yang bahagia.
"Maaf mengecewakanmu, Lio. Tapi, kami sudah bersumpah untuk tutup mulut tentang keberadaannya. Tapi harus kau tau bahwa dimata kami semua, gadis itu bagaikan Teman, sahabat, dan juga sosok seorang ibu yang selalu memperhatikan kami dan merawat kami."
Sedikit info yang perlu di ketahui tentang Lio. Lio bergabung saat berumur 16 tahun dan merupakan anggota paling muda saat itu. Lio juga jarang berkumpul bersama dengan anggota Kitsune karena mata kuliah dan juga sebuah Coffee Shop yang ia dirikan dengan keringatnya sendiri. Karena kesibukan itulah membuat Lio hanya mengetahui sedikit informasi tentang awal mula Kitsune terbentuk.
"A Ahhh... Sudahlah senpai, Kalau kau tidak ingin menceritakannya kepadaku jangan kau paksakan. Lagipula itu salahku, Karena aku jarang sekali berkumpul makanya saat Taichou memanggil kami semua akupun datang Hehehe~"
"Yah, Walaupun begitu kau adalah orang paling hebat yang ku kenal. Dapat lulus dari dunia perkuliahan selama tiga tahun dan juga memiliki perusahaan sendiri membuatku bangga sebagai Senior mu. Tentu saja, kau tidak seperti orang yang ku kenal." Pemuda itu hanya tersenyum saat melihat Shikamaru menatapnya karena merasa tersinggung. Yah, siapapun akan marah saat merasa kalah saing dari Juniornya belum lagi Shikamaru terkenal dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Tanpa banyak basa basi, Mereka memasuki garasi dan terperangah melihat Garasi tersebut. Maksudku, Garasi yang di tempat Kaito adalah garasi yang digunakan untuk melakukan Tune-up pada mesin kendaraannya namun mereka terperangah saat melihat kalau garasi ini sangat rapih. Alat-alat yang tersusun di tempatnya belum lagi tempat ini cukup bersih untuk ukuran Garasi yang hampir setiap hari digunakan untuk melakukan Tune-up.
"Mitsubishi Lancer Evolution? Nissan Skyline? Toyota Supra? Bagaimana Taichou memiliki mobil-mobil ini?..." Kedua kaki Lio bergetar saat melihatnya, pada awalnya ia hanya menyangka kalau yang akan ia ambil hanyalah mobil keluarga namun dihadapannya adalah mobil sport yang sangat ia minat terutama Nissan Skyline.
"I ini? Aku tidak tahu harus berkata apa... Twin Turbo-charger dengan kombinasi mesin V8? Ini sangat hebat! Taichou juga memasang Stabilizer, Injeksi mesin, dan lagi aku yakin kalau leher dari knalpot itu di perbesar karena itu memaksimalkan pengeluaran energi panas. Tentu saja kalau tidak mesin akan mengalami gagal fungsi dan kemungkinan terburuk akan meledakkan mesin bersama dengan pengemudinya." Kata-kata yang di keluarkan pemuda itu cukup panjang namun secara tidak langsung ia mengatakan kalau Tune-up yang di lakukan Kaito pada ketiga mobil ini sangatlah sempurna.
"Hmm... Tak ku sangka kalu memiliki pandangan yang cukup luas tentang mesin." Ujar Shikamaru dengan wajah malasnya.
"Sudahlah senpai jangan di perpanjang. Kita harus pergi dan jangan membuat Taichou menunggu."
"Kau hanya tidak sabar ingin mengemudikan mobil Skyline itu, kan?" Tanya Kiba dan Lio hanya tertawa hambar dan menggaruk kepala belakangnya.
Skip Time...
Setelah Lio, Kiba dan Shikamaru sampai semua anggota Kitsune berkumpul di Lantai 3 yang menjadi tempat bersantai, kenapa Ruang Santai yang dipilih? Yah, karena Ketua mereka, Kaito adalah seorang pemuda yang memiliki pembawaan santai dan tidak kenal yang namanya keformalan.
"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul. Mari kita mulai sesi perkenalannya. Di mulai dari aku sendiri." Hari sudah mulai larut malam namun semua orang masih terjaga walau sudah memasuki pukul sebelas. Sebagaimana kita tahu, bahwa Tokyo sudah seperti 'New York-nya Jepang'.
"Namaku Kaito Eka Saputra, Kalian mungkin mengenalku dengan nama Sakamoto Kaito dan sebagai pemimpin Kelompok Kitsune. Lahir di Jepang, pada tanggal 27 juni 1995 dan sekarang usiaku 22 tahun. Nah, sekarang mulai dari Matsumoto." Ujar pemuda berumur dua puluh satu tahun tersebut. Kemudian seorang pemuda angkat suara di tempat duduknya.
"Kei Matsumoto, anggota pertama di antara the Thirty. Saat ini aku sudah berusia dua puluh tahun, karena semuanya sudah kenal pada diriku. Aku harap kita dapat bekerja sama dalam misi ini."
"Sekarang giliran ku..." seorang gadis berambut hitam panjang dengan kacamata yang membingkai wajah cantiknya jangan lupakan pupil mata yang terlihat seperti kacang hazel. "... Chihiro Rei, aku adalah anggota ke 13 dari the Thirty. Tidak ada yang ingin aku katakan jadi sekian."
Beberapa orang hanya terdiam mendengar perkenalan yang di lakukan salah satu perempuan dalam kelompok mereka. Terkesan datar namun sebagaimana mereka tau, Chihiro adalah sosok yang sangat pengertian juga peduli dengan sesama anggota di balik kesan dingin yang gadis itu keluarkan.
"Sano Ryuichi, mohon bantuannya, sekian. Tak peduli aku anggota ke berapa." Sekarang giliran pemuda berambut perak yang dengan wajah stoic bagaikan papan triplek yang setara dengan seorang Sasuke.
Semua anggota dari the Twelve dan juga The Thirty hampir menyelesaikan perkenalan mereka namun belum ada tanda-tanda datangnya perlengkapan yang sudah mereka tunggu. Misi yang akan mengubah pandangan masyarakat Jepang pada setiap organisasi pemuda yang ada di negara ini.
Karena belum ada tanda-tanda datangnya pasokan dan juga perlengkapan yang di tunggu dari tadi Kaito dan juga Naruto sepakat untuk memulangkan setiap anggota mereka. Mereka harap bahwa besok akan menjadi hari awal mereka untuk memulai lagi.
Saat ini Hinako sedang berada di depan gerbang dan melihat setiap orang sedang pergi menggunakan kendaraan yang mereka miliki entah itu roda dua ataupun roda empat type APV. Sialnya kendaraan yang ia gunakan mogok dan membuat anggota Kaito melakukan perbaikan.
"Hei, ingin pulang bersama-sama?" saat Hinako sedang menunggu Taxi di trotoar, seorang pemuda dengan motornya berhenti dan menawarkan tumpangan. Pada awalnya ada rasa ingin menolak ajakan tersebut namun, entah kenapa Hinako mengiyakan dan mulai menaiki motor tersebut. Entah apa yang ia pikirkan saat ini, tapi dirinya sendiri terkejut saat merasakan perasaan hangat di dadanya.
'Kenapa ini? Aku tidak mencintainya! Aku adalah Sersan dari Satuan Khusus bagiku cinta hanya akan menghalangi keberhasilan Misi.'
"Pegangan yang erat, kita akan melaju dengan kecepatan tinggi."
Pikiran gadis itu langsung hilang saat merasakan hentakan pertukaran Gluch Gear dan membuat dirinya terkejut hingga memeluk pemuda di depannya dengan erat. Wajahnya memerah dan hatinya berdegub kencang merasakan perasaan aneh yang saat ini ia rasakan. Inilah yang ia benci, Perasaan yang sangat aneh dan tidak karuan namun di dalam hati kecilnya ia ingin waktu berhenti dan menikmati rasa ini bersama seseorang yang berhasil mencuri hatinya.
...
...
Rosario House.
Chiba, Japan.
Setelah pulang dari tempat berkumpul, Naruto bersama dengan Sasuke berangkat menuju Rosario dan berniat untuk tidur di panti asuhan tersebut. Semua anak-anak termasuk Sakura, Eresh dan juga Ishtar menyambut mereka berdua bagaikan keluarga yang tidak pernah mereka miliki namun tidak lama lagi mereka akan berpisah.
"Oh ya, Yui-chan dimana Arthuria?" Yui hanya diam dan juga tidak berkata banyak namun seketika lampu di dalam panti asuhan tersebut mati. Tanpa di duga sebuah cahaya memancar dari dalam dapur dan membuat semua orang dengan wajah yang tidak tau apa-apa menuju ke arah cahaya tersebut.
Di sana tersaji banyak makanan sederhana dengan seekor Kalkun panggang di atas meja. Tempat duduk yang di susun dengan rapih dan juga piring-piring yang di susun bersanding dengan garpu dan beberapa alat makan.
"Marry Christmas, Naruto-kun. Marry Christmas, Sasuke-Kun." Di sana, seorang gadis sedang tersenyum di hadapan kedua pemuda itu. Tak hanya itu, dari tangga atas Shirou datang membawa seloyang kue Tart yang di hiasi lilin. "Mooo... Kenapa kalian berdua diam saja? Kemari dan duduklah." Melihat Arthuria yang sudah mulai gusar karena sikap keduanya, Naruto dan Sasuke beranjak menuju tempat duduk bersama anak-anak yang membuat suasana makin ramai.
"Hmm... Hiro, pimpin do'a." Ujar Naruto menghiraukan ocehan yang keluar dari bocah berumur sepuluh tahun itu, dengan tangan yang saling bergenggaman mereka menundukkan kepala mereka dan dalam Khimat malam kudus, Hiro mulai berdo'a.
"Tuhan, terima kasih kami ucapkan kepadamu. Kami sudah di berikan kesehatan, keselamatan, dan berkumpul bersama dengan keluarga kami. Tuhan, terima kasih atas nikmat yang kau berikan kepada kami. Pakaian yang menutupi tubuh kami, Makanan yang menutupi kelaparan dan Atap yang menutupi kami dari deraian angin malam. Dalam malam yang penuh dengan anugerah mu ini, kami meminta kepadamu agar dapat di pertemuan kembali di tahun berikutnya dalam keadaan sehat. Amin." Seketika semua orang mengucapkan kata 'amin' berharap bahwa mereka dapat bertemu kembali dengan orang-orang yang mereka sayangi di lain hari.
Malam malam yang sangat sederhana, setiap orang di sangat bahagia dengan tawa dan senyuman di wajah mereka sampai malam menjelang.
...
...
Di suatu pemukiman di daerah kota Tokyo. Orang-orang mulai keluar dari rumah mereka, bersama dengan keluarga, kekasih, dan teman-teman merayakan malam kebesaran bagi umat Kristiani. Banyak sekali orang yang datang menuju pusat kota Tokyo dengan berjalan kaki hanya untuk melihat pohon cemara yang di hiasi dengan beraneka ragam lampu-lampu indah dan banyak sekali anak-anak dari gereja yang menyanyikan lagu-lagu dengan alunan nada yang sangat halus. Beberapa orang memberikan sumbangan amal kala mengambil kue-kue kering yang di berikan anak-anak di pinggiran jalan.
"Hei, kenapa berhenti?" Suara itu adalah suara seorang gadis yang saat ini berada di bangku penumpang pada motor bercat hitam metalik. Perempuan itu terheran-heran sesaat karena mereka berhenti di tengah-tengah keramaian kota Tokyo saat malam Natal. Namun, satu hal yang harus gadis itu tau bahwa orang yang ada di depannya sedang menangis dalam diam di tutupi helm full-face milik pemuda itu.
Saat melihat punggung pemuda itu bergetar, ada rasa ingin menenangkan hati pemuda itu namun ia mengenyahkan pikirannya dan memberanikan dirinya.
Hug...
"Tenanglah dan berhentilah menangis karena ada aku disini. Sekarang mari kita turun dan menikmati suasana ini walaupun hanya sebentar." Ujar gadis itu. Perlahan bagi yang bergetar tersebut mulai Relax dan mengendur.
'Yah, ini adalah awalnya... Aku tidak ingin kehilangan masa depan ku dan aku yakin kalau Leaticia juga akan tersenyum di alam sana saat melihatku melangkah maju.'
Saat-saat yang di habiskan Hinako dan juga Kaito membuat sebuah benang merah menyatukan kedua hati mereka walau keduanya tidak mengetahui hal tersebut. Canda tawa, kebahagiaan, apakah akan menjadi air mata di kemudian hari?
"Ne apakah aku akan kehilangan untuk kedua kalinya?"
"Aku berjanji padamu, kalau kita tidak akan pernah berpisah. Mau apapun dan bagaimanapun itu, aku akan selalu mencarimu dan selalu mencintaimu."
"Hah?" Wajah Hinako memerah karena mulutnya berucap demikian. Apakah salah saat seorang gadis menyatakan cintanya? Namun detik berikutnya gadis itu terdiam dan mematung saat sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya.
"Jika kau siap untuk mencintai berarti kau juga siap jika tersakiti."
...
...
"Jadi, Kenapa pasokan persenjataan kami belum dikirimkan? Dan lagi, kemana Fujimaru Ritsuka? Bukankah ia adalah anggota timku juga?"
"Jadi gini, Aku tidak pernah memberikan perintah untuk melakukan pengiriman supply kepada kalian. Kenapa? Aku tidak ingin mengambil resiko dan mengorbankan sekelompok anak-anak untuk mati percuma tanpa persiapan yang matang."
Setelah mengantar Hinako ke rumahnya, Kaito beranjak menuju rumah sang Ayah. Dan sekarang disinilah mereka, di Basement rumah ayahnya Kaito sedang berdebat. Di satu sisi, sang anak percaya dengan kemampuannya dan juga anggota tim yang ia rekrut namun disisi lain, Orangtuanya tidak percaya dengan segala pendapat dari sisi pandang yang berbeda.
"Tenang saja, misi ini akan berjalan sesuai dengan rencana yang ada. Hari minggu besok, tiga orang temanmu sudah dapat keluar dari rumah sakit setelah perawatan yang memakan waktu yang tidak sebentar. Saat kalian semua sudah berkumpul aku percaya kalian dapat melakukan sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Namun, seperti saat kau katakan dihadapan teman-temanmu saat menerima misi ini..." Jendral tua tua itu menatap wajah anaknya dengan rahang yang mengeras dan mata yang menunjukan kalau ia sedang serius. "... Kalian bukan lagi berurusan dengan Preman dan juga anggota geng yang selalu membuat masalah. Mereka adalah Profesional yang tidak akan pandang bulu pada semua rekanmu hanya karena kalian adalah bocah kemarin sore."
Kaito terdiam mendengar itu, sungguh bodoh dirinya melupakan hal tersebut dan langsung pergi tanpa persiapan yang matang.
"Maafkan aku, hampir saja aku membawa anggotaku bunuh diri." Ujar pemuda itu saat ia sadar apa yang ia lakukan.
"Ingatlah ini, Kenali dulu dirimu lalu kenali musuh mu..." Ucapan Kotaro langsung dipotong sang Anak yang melanjutkan perkataannya.
"... Maka kau tidak akan pernah kalah dalam ribuan pertempuran." Ayahnya hanya tersenyum mendengar ucapan sang anak. Akhirnya anaknya dapat berfikir lebih rasional dan merenungi kesalahan yang ia buat.
"Oh iya, Kau sudah mendapatkan info yang cukupkan dari Informanmu?"
"Begitulah, Aku sudah siap dengan semua info yang ku butuhkan dan semua info itu menunjukkan kalau target selanjutnya berada di LAS Vegas, City of Prizepool."
"Kalau begitu, dengan wewenangku. Sakamoto Kaito, pergilah dan dapatkan semua dukungan di Las Vegas. Serahkan urusan timmu kepadaku, karena aku akan melatih mereka di bawah bimbingan anggota JSDF."
"Tunggu... Apa?"
...
...
TuBerCulosis
...
...
