Menjelang malam, Taehyung kembali memasuki ruang rawat Jungkook berniat menemani makan sekaligus mengecek kembali keadaan Jungkook. Hari ini Jimin mengambil cuti seharian full untuk bertemu dengan pengacara perceraiannya, jadi ia mengambil alih tugas Jimin, terutama merawat Jungkook. Taehyung agak terkejut melihat Jungkook yang masih tidak sadarkan diri dengan keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya, panasnya juga masih belum turun bahkan sepertinya makin parah sampai muka Jungkook memerah. Taehyung terburu-buru mengambil stetoskop dan alat pemompa darah. Detak jantung Jungkook masih normal hanya saja tekanan darahnya cukup rendah, namun yang aneh ia sudah memberikan Jungkook obat dan vitamin tetapi belum menunjukkan tanda-tanda penurunan suhu tubuh.
"aahh..h..yung..hyung.." lirih Jungkook masih dengan mata tertutup, alisnya berkerut dengan wajah memucat, seperti ia sedang amat cemas memimpikan sesuatu. Taehyung mengambil handuk hangat dan menyeka keringat yang kembali mengucur deras di wajah dan tubuh Jungkook. Sebelah tangannya, ia gunakan untuk menekan tombol darurat.
"Bawa Jungkook ke ruang ICU sekarang! aku akan memeriksa pasien lebih menyeluruh" perintah Taehyung kepada salah satu suster yang datang ke ruangan. Suster itu mengangguk dan mempersiapkan kasur untuk memindahkan Jungkook.
"Kumohon..jangan terjadi sesuatu yang buruk lagi.." bisik Taehyung lirih memeluk Jungkook erat.
*
"Hei dude! kenapa mukamu pucat sekali?" tanya Jimin heran melihat sahabatnya yang duduk termenung dengan pakaian kusut dan wajah kacau. Ia memperhatikan lebih dekat, kantung mata Taehyung terlihat parah juga baju yang dipakai merupakan baju yang sama dengan kemarin dan bau mulai menyeruak dari badan Taehyung. Taehyung yang setengah sadar, mengusap matanya lelah serta menguap lebar.
"Kau baru datang Jim?" sapa Taehyung kepada sahabatnya. Taehyung berdiri dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku terutama di bagian punggung, tentu saja karena ia tidak pulang dan menunggui dan memeriksa Jungkook di ICU semalaman. Jimin hanya mengangkat bahu dan menyodorkan segelas cappucino dan roti kepada sahabatnya itu, ia tahu dari kondisi Taehyung, pria itu pasti seharian penuh di rumah sakit.
"Lagipula ada apa kau sampai tidak pulang dari kemarin?kalau memang karena pasien, aku akan menggantikanmu hari ini jadi kau lebih baik pulang dan beristirahat" usir Jimin halus karena akan lebih repot lagi jika Taehyung tiba-tiba drop karena terlalu banyak bekerja dan stress. Taehyung memberikan laporan hasil pemeriksaan Jungkook kemarin kepada Jimin yang langsung di baca sahabatnya itu dengan seksama.
"Hmm.. penurunan sel darah putih karena stress?Juga, suhu tubuhnya kian menurun karena demam musim dingin" jelas Jimin menyimpulkan hasil pemeriksaan Jungkook. Taehyung menyeruput cappucinonya sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya..kemarin pagi suhu tubuhnya sangat panas, kukira ia hanya terkena demam biasa jadi ku beri obat dan vitamin tetapi menjelang malam kondisinya tambah parah jadi aku pindahkan ke ruang ICU dan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, sampai saat ini belum ada perkembangan signifikan..aku khawatir kondisinya akan makin menurun jika panasnya tidak kunjung reda" lirih Taehyung, terlihat sekali jika lelaki itu amat stress hingga tidak bisa beristirahat karenanya. Jimin menghela nafas panjang, baru saja kondisi Jungkook stabil tetapi tiba-tiba drop lagi, jika seperti ini terus keluarga Min akan mulai mencari-cari kesalahan mereka lagi.
"Ya sudah..aku akan memantau kondisi Jungkook sampai ia stabil lagi, kau lebih baik pulang! aku tak tahan melihat dirimu yang sudah seperti gelandang" sinis Jimin, yang di respon decakan kesal Taehyung.
"Ingat jangan lupa untuk memeriksa tekanan darah dan memberikannya obat setiap 4 jam sekali" tegas Taehyung yang di tanggapi anggukan malas dari sahabatnya dan ia pun di dorong keluar dari ruangan. Taehyung menyenderkan tubuh lemasnya di mobil, ia memutuskan untuk menelpon supir keluarga Kim untuk mengantarnya pulang. Tubuh dan pikirannya terasa amat lelah, begitu juga perasaan tidak enak yang terus hinggap di benaknya semenjak semalam, seolah akan ada sesuatu yang buruk mungkin terjadi tetapi Taehyung berusaha mengenyahkannya.
*
"Hmm..suhu tubuhnya sudah lumayan menurun tadi siang dan tekanan darahnya juga sudah mulai normal, hanya saja kesadarannya masih rendah, ia sempat terbangun beberapa kali dan tidur kembali" jelas dokter Park di telepon. Tentu saja itu dari sahabatnya yang terlalu overthinking, padahal sudah ia peringatkan untuk beristirahat dengan tenang di rumah. Jimin cukup mengerti sahabatnya itu merasa memiliki tanggung jawab tinggi jika menyangkut tentang pasien, terutama Jungkook hanya saja kekhawatirannya mulai menjengkelkan juga.
"Ya aku mengerti, kau tidak perlu khwatir! istirahat saja sana!" tegas Jimin menutup telepon sepihak, telinganya sudah terasa panas mendengar ceramah Taehyung tentang apa saja yang dirinya harus lakukan kepada Jungkook. Jengkel juga mengurusi ocehan sahabatnya itu, seakan ia sendiri bukan dokter yang tidak mengerti kondisi pasien, padahal ia lebih tahu karena Jimin lah dokter pribadi semenjak Jungkook di rawat di rumah sakit ini. Rasa cemas dan kelelahan sepertinya sudah membuat Taehyung agak konslet, karena tidak biasanya ia bertindak seperti ini. Mungkin memang karena Jungkook bisa di katagorikan pasien spesial di rumah sakit ini, hanya saja sikap sahabatnya itu sepertinya agak berlebihan juga. Jimin jadi teringat pertemuan pertama Taehyung dengan Jungkook yang terkesan agak konyol menurutnya tetapi membuat mereka makin dekat sedikit demi sedikit. Taehyung juga pernah berkata jika Jungkook seperti keluarganya sendiri, mengigat orang tua sahabatnya itu pernah bercerai dan dirinya terpisah dengan adiknya yang sampai saat ini masih samar-samar di ingatan Taehyung. Jimin bisa mengerti perasaan Taehyung yang menginginkan dan merasa dibutuhkan untuk menepis rasa kesepiannya semenjak dulu, tetapi ia tidak bisa mengira apa yang akan terjadi nanti. Terutama jika Taehyung tahu perasaan Jungkook yang mencintainya lebih dari seorang teman ataupun sosok hyung.
"semoga kalian tidak serumit diriku dan Yoongi" lirih Jimin Memandang Jungkook dari kaca ruang ICU, ucapannya mungkin sederhana tetapi penuh dengan harapan tulus kepada keduanya.
*
"Ugh!" lenguh Taehyung memegang kepalanya yang masih terasa sakit pagi ini. Ia memandang sekeliling kamar apartemennya yang kosong, berusaha mengumpulkan kesadaran dan mengigat apa yang terjadi sebelumnya. Ia ingat kemarin sempat pulang dari rumah sakit pagi hari dan seharian di apartemen karena Jimin memaksanya untuk istirahat. Taehyung meminum air di samping nakas tempat tidurnya dan mengambil handphone dan melihat jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, sepertinya terlalu awal bangun membuat sakit kepala kembali menyerangnya terlebih kemarin ia baru tidur sekitar jam 12 malam. Pikiran dan firasatnya tidak enak sedari kemarin, rasa cemas masih melanda bila mengigat kondisi Jungkook, walaupun Jimin memberi laporan kalau Jungkook mulai membaik hanya saja ia masih khawatir. Taehyung menghela nafas dan berniat untuk siap-siap kembali ke rumah sakit, tetapi baru selangkah turun dari tempat tidurnya, pandangannya terasa bergoyang seperti orang mabuk dan berakhir jatuh tersungkur. Sakit kepalanya makin parah hingga rasanya untuk berdiri pun ia masih tidak sanggup. Taehyung lalu kembali merangkak naik ke tempat tidurnya dan mendial nomor Jimin dengan cepat, sepertinya ia memutuskan untuk kembali tidak bekerja hari ini. Taehyung memijit kepalanya lembut dengan tangan kirinya sembari menunggu sahabatnya itu mengangkat telepon.
"Halo..Jim.. sepertinya aku mengambil cuti untuk hari ini, kepalaku terasa amat sakit, migranku kambuh lagi sepertinya" lirih Taehyung lemah. Sahabatnya itu cukup terkejut dan khawatir mendengarnya terutama karena Taehyung tinggal sendirian di apartemennya.
"Tidak apa..aku masih ada sisa obat disini, aku akan beristirahat sedikit sampai besok juga sudah sembuh..kau fokus saja merawat Jungkook" Taehyung berusaha menenangkan Jimin yang terdengar mulai cemas. Taehyung sebenarnya tidak suka merepotkan orang lain saat seperti ini, memang seharusnya ia tidak memaksakan diri tetapi tumbuh bersama ibu yang seorang single parent, membuatnya lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain di kondisi lemah sekalipun. Taehyung lalu menutup telepon setelah merasa Jimin sudah agak tenang dan bisa memulai pekerjaannya. Taehyung mengambil obat di laci dan meminum air dengan cepat, perutnya terasa perih karena belum makan sejak malam kemarin, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk beranjak dari tempat tidur saat ini. Alhasil ia hanya berusaha tidur kembali sampai sakit kepalanya sudah tidak terlalu parah.
*
"Ck..si aneh itu mulai sok kuat lagi di saat seperti ini" decak Jimin kesal dengan kelakuan sahabatnya itu, sejak dulu Taehyung selalu saja begitu menyembunyikan perasaan dan kesakitannya sendiri dengan dalih tidak ingin merepotkan. Padahal kalau di pikir-pikir tingkah yang seperti itulah membuat keadaan Taehyung tambah parah, seperti dulu memaksakan diri masuk sekolah dalam keadaan tipes, yang berakhir dirinya pingsan. Jimin mengalihkan pandangannya ke Jungkook yang sudah mulai membaik, ia sudah bisa makan seperti biasa dan tersadar beberapa jam, panas di tubuhnya juga mulai membaik termasuk daya tahan tubuhnya. Sepertinya besok sudah bisa pindah dari ruang ICU ke ruang rawatnya semula.
"Dokter Park.. pasien Jungkook memanggil anda ke ruangan sepertinya ada yang ingin di bicarakan" tegur seorang suster yang baru saja selesai melakukan tugasnya, memandikan Jungkook. Jimin hanya mengangguk pelan, mengambil alat pemeriksaan dan memasuki ruang ICU.
"Oh.. dokter Park! duduklah" sapa Jungkook menunjuk kursi di samping tempat tidurnya sambil kembali menyantap makan siangnya. Jimin duduk dengan santai sambil menunggu Jungkook menyelesaikan makan siangnya, ia yakin Jungkook pasti akan menanyakan sesuatu tentang Taehyung karena selain itu lelaki manis itu jarang berbicara padanya.
"Dokter Park..aku langsung saja ke inti, aku yakin kau tahu tentang keluarga Kim dan hubungan mereka bukan?Aku ingin kau menceritakan secara lengkap tentang mereka.. tentu saja jika kau bersedia aku akan memberikan informasi yang setimpal tentang keluarga Min, jadi kau tahu cara menghadapi mereka" tawar Jungkook, memang pembicaraan ini terkesan santai karena ia juga tidak memaksa, hanya saja ekspresi Jungkook cukup mengintimidasi yang membuat suasana tegang di antara mereka. Jimin memiringkan kepalanya dan menatap Jungkook tajam, ia berusaha menelisik apa yang menjadi motif Jungkook berusaha mengorek informasi tentang keluarga sahabatnya itu.
"Aku tahu kau pasti ragu untuk mengatakannya.. lagipula, yang ada di pikiranmu aku hanya seorang lelaki malang yang memiliki kondisi fisik tidak stabil sehingga bertahun-tahun tinggal di rumah sakit..hingga jatuh cinta kepada seorang dokter karena mendapat perhatian dan perlakuan hangat bukan?" tanya Jungkook sarkas, seolah membaca apa yang ada di pikiran dokter Park saat ini. Jimin hanya mengangguk pelan, karena memang itulah yang ia lihat pada diri Jungkook sampai saat ini. Jungkook terkekeh garing melihat respon Jimin, yah dari dulu juga semua orang melihatnya seperti itu, seorang lelaki cacat yang malang terlalu terobsesi dengan kakaknya karena keluarganya yang hancur. Nyatanya, semua lebih dari semua pemikiran cetek mereka. Jungkook tidak pernah terobsesi, ia hanya mengambil kembali apa yang menjadi miliknya sejak dulu.
"Biar kuberitahu satu hal dokter Park..hanya aku yang bisa membuat Taehyung merasa utuh, karena semenjak dulu kita saling memiliki..kau boleh anggap aku gila atau apapun tetapi yang kunyatakan ini adalah kebenaran" bisik Jungkook di tengah kekehannya. Jimin menggenggam tangannya erat, sepertinya ini semua akan berakhir dengan kekacauan yang lebih buruk dari kejadian Jung Yerin sebelumnya.
tbc
